
Kelompok itu mendekat dan berhenti di depan pagoda. Pandangan mereka terarah pada sekelompok pemuda dan para gadis yang berdiri memperhatikan mereka dengan raut waspada.
Salah satunya turun dari monster terbang, menghadap mereka dengan tatapan teliti. "Kalian masih muda, dari pada aku memeriksa dengan paksa, akan lebih baik jika salah satu dari kalian mengakui keberadaan tubuh murni."
"Kau berani bicara omong kosong di depan putri ini? Aku sarankan, kalian pergi dari tempat ini sebelum aku menuntut kalian di pengadilan istana." Zhong Xiaorong bicara sebagai Putri kesembilan. Ia tidak suka dengan seseorang yang tidak tahu malu memaksa ia dan teman-temannya dengan nada merendahkan seperti itu.
"Oh, Putri, maaf mengganggumu. Tapi pemimpin sekte ingin merekrut seseorang, ini di luar kepemimpinan Kekaisaran."
"Semua orang di sini adalah rakyat Kekaisaran Zhongbu, kau berani menentang Kekaisaran?"
Pria itu tersenyum kecut. "Tidak berani. Tapi rakyat kalian terdiri dari jutaan penduduk. Hanya mengambil satu orang, tidak akan keberatan, 'kan? Lagi pula, Putri kesembilan tidak memiliki hak mempertahankan salah satu rakyatnya."
"Kau!"
"Hanya utusan dari Sekte kecil, sudah berani menentang Tuan Putri yang terhormat?" Seorang pria lainnya turun dari monster terbang dan menatap pria itu dengan tatapan merendahkan. Kemudian menatap Zhong Xiaorong dengan senyuman. "Tuan Putri, apa mereka teman-temanmu? Sebuah kehormatan bila dapat mengundang Putri Kekaisaran Zhongbu dan teman-temannya."
"Sudah kukatakan, aku tidak menerima undangan dan kalian bisa pergi. Kami sedang berlatih, apa kalian tidak memiliki rasa malu telah mengganggu pelatihan sekelompok murid?" Zhong Xiaorong bicara dengan sarkas. Meski begitu, pria itu tetap tersenyum walau dipaksakan.
"Tuan Putri mohon dipertimbangkan. Kami akan menyambut Tuan Putri dan yang lain secara terhormat."
Zhong Xiaorong tidak menjawab, malah berbalik pergi menjauhi mereka dengan wajah angkuh dan melipatkan kedua tangannya di dada. Pria itu hanya bisa menahan emosi jauh di lubuh hatinya.
"Tuan Putri—"
"Eh, apa kau begitu luang?" Yan Yao menyela membuat pria itu kesal.
Baru saja pria itu akan bicara lagi, suara seorang gadis terdengar membuat mereka semua menoleh ke arahnya. "Kalian datang ingin mencari tubuh murni?" Xie Ran bertanya sambil berdiri dengan santai melihat kelompok anjing itu. Gadis itu tersenyum. "Bagaimana jika sudah menemukannya? Apa kalian akan berebut? Satahuku, orang itu hanya ada satu, tidak bisa dibelah."
Mereka saling tatap seperti orang bodoh dan kembali mendiskusikan. Jika mereka menemukannya, tentu mereka akan berebut. Tapi dengan ini, target mereka bisa lari terlebih dahulu.
Jika dipikirkan kembali, gadis itu sepertinya mengetahui target mereka dan mereka tidak boleh melakukan kesalahan. Orang itu hanya ada satu, hanya bisa dibawa oleh salah satu kelompok.
"Bagaimana jika kalian berunding siapa yang akan mendapatkannya atau pulang? Jika aku menjadi kalian, aku akan menyingkirkan semua penghalangku, baru bersikap berbakti pada atasanku."
Xie Ran bicara dengan senyum jahatnya yang terlihat sangat manis. Orang yang tidak mengenalnya akan berpikir bahwa gadis itu sangat manis dan cantik ketika senyum. Namun justru teman-temannya yang sudah mengenalnya lama merinding melihat senyuman itu.
Sekelompok anjing itu kembali berunding dan berdesakan di langit. Ucapan Xie Ran benar, namun mereka tidak mungkin menyingkirkan kelompok lain dengan mudah.
"Aku adalah Tuan Muda Sekte Xing, Sekte terbesar setelah Sekte Bayangan Malam. Lebih baik kalian menyerah sebelum aku menjadikan kalian makanan peliharaanku!"
"Sekteku tidak akan berlutut dengan sekte seperti itu!"
"Kau pikir aku bodoh? Aku bahkan bisa membeli seluruh asetmu! Lebih baik aku yang merekrutnya!"
"Kau!"
"Jadi begini rasanya diperebutkan." Xie Ran tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia bersandar di batu melihat perdebatan orang-orang bodoh yang berakhir pada pertempuran di langit. "Ck, merusak pandangan."
"Xie Ran, kau sangat pintar mengadu mereka." Liu Chang memuji. Ia harus lebih banyak belajar dari gadis satu itu.
"Hal biasa." Xie Ran bersikap tenang. Kemudian ia menyadari seseorang yang terlupakan. Ia menoleh ke arah di mana Bao Jun berada memperhatikan sekelompok idiot itu dengan pandangan merendahkan. "Pak tua, kau tidak ikut? Bagaimana jika aku direbut?"
Bao Jun terkekeh. "Sekelompok idiot itu terpancing provokasimu, aku tidak sama seperti mereka."
"Sepertinya kita akan dalam masalah." Pei Xi segera bersiap begitu melihat sebuah kapal terbang di udara mendekat.
Bendera bertuliskan 'Istana Lingyue' tercantum. Di atasnya terdapat beberapa pria dan wanita yang terlihat elegan layaknya bangsawan. Bahkan kapal mereka terbuat dari emas menunjukkan seberapa kuat kelompok mereka.
"Asal kalian tahu, makanan mereka sangat enak. Aku mendapat gratis dari Luo Jin kecil waktu itu." Xie Ran tersenyum lebar. Mendadak perutnya terasa lapar.
"Kau hanya tahu makan! Mereka datang bukan untuk memberimu makan, tapi menangkapmu!" Mei Liena gemas dengan foodie satu ini.
"Tapi makanan di kapal sepertinya enak." Xie Ran masih tidak fokus dan malah memikirkan makanan.
Kapal emas itu berhenti di udara. Seorang pria tua berdiri di ujung kapal melihat kekacauan di depannya dengan wajah gelap. Ia melihat ke arah pulau lalu mengeluarkan sebuah benda aneh berbentuk kerucut di tangannya.
Kerucut itu melayang di udara tepatnya di atas pulau di mana anak-anak itu berada. Sinar muncul di ujung kerucut membentuk beberapa sebuah pola di sekitar pulau dengan sinar emas cerah. Sinar itu bergerak di arah yang berbeda seperti garis formasi dan berhenti di tengah-tengah. Sinar lainnya yang lebih besar muncul di pusat garis, tepat ke arah Xie Ran.
Xie Ran yang tidak tahu apa pun merasakan tubuhnya begitu ringan sampai melayang. "Apa gravitasi menurun? Ada ufo menangkapku?"
Xie Ran memikirkan hal itu dengan bodohnya dan mendongak ke atas di mana sinar emas itu menyala. Tubuhnya terus melayang ke atas membuat teman-temannya khawatir dan berteriak memanggilnya.
"Xie Ran!"
"Apa yang kau lakukan!"
"Lepaskan dia!"
Mereka ingin menolong Xie Ran, namun sinar itu menolak mereka sehingga mereka terkena serangan balik. Mereka tidak tahu harus melakukan apa, hanya bisa berharap bahwa Xie Ran baik-baik saja.
Tubuh Xie Ran semakin terangkat sampai di ketinggian yang sama dengan ketinggian kapal. Ia tersenyum miring melihat orang-orang di atas kapal.
"Kau menggunakan cara paksa, itu tidak baik," katanya.
"Kau telah memprovokasi mereka untuk saling bertarung. Benar-benar tidak bisa diremehkan. Kau tidak bisa melepaskan diri, seluruh merindianmu terblokir di dalam sana dan tidak akan bisa bergerak." Pria tua itu cukup menganggumi keterampilan bicara Xie Ran, kemampuannya pasti tidak biasa
"Apa ini alat pendeteksi?" Xie Ran melihat benda di atas kepalanya dengan teliti.
"Itu adalah piramida yang dibuat oleh leluhur kami yang memiliki tubuh murni sepertimu. Fungsinya untuk melacak keberadaan tubuh murni lainnya agar Istana Lingyue dapat mengembalikan kejayaannya."
Xe Ran menarik alisnya. "Oh? Menarik."
Beberapa orang di sebelah pria tua itu termasuk Luo Jin tekejut melihat Xie Ran adalah orang yang mereka cari. Itu membuat Luo Jin kesal setengah mati sekaligus iri pada keberuntungan gadis itu.
"Xiao Ran, rupanya itu kamu. Baik, aku tidak akan melepaskanmu setelah sampai di Istana Lingyue!" teriak Luo Jin.
"Luo Jin, jaga bicaramu!"
Xie Ran tersenyum miring. "Sepertinya ada yang tidak menyukai keberadaanku. Aku tidak ingin tinggal dengan seekor anjing yang terus menggonggong. Telingaku bisa pecah."
Luo Jin mengepalkan tinjunya marah. "Xiao Ran, kau!"
"Nona, jika kamu tidak ingin ikut dengan kami, kami hanya bisa menggunakan cara paksa." Pria muda di sebelah Luo Jin segera menutup mulut Luo Jin dan mengancam Xie Ran.
Xie Ran tertawa ringan. Apa saat ini ia sedang diancam? "Bukankah kalian sudah menangkapku?" Kemudian ia meninggikan suaranya. "Kalian! Sekelompok idiot ini ingin mencuri tubuh murni dari tangan kalian selagi kalian bertarung. Apa kalian akan diam saja?"
Pertempuran yang mengakibatkan korban itu terhenti dan terarah pada kapal emas beserta seorang gadis yang terperangkap dalam sinar emas. Pandangan mereka terarah kembali pada sekelompok penumpang kapal emas dengan tatapan tajam.
Pada saat ini, mereka baru sadar bahwa mereka telah tertipu dan menyadari bahwa gadis yang menipu mereka adalah orang yang mereka cari. Namun gadis itu telah tertangkap! Sayangnya mereka tidak bisa memberi pelajaran pada gadis itu sekarang.
"Rubah tua! Lepaskan dia!"
"Kita bertarung dengan adil. Siapa yang menang akan mendapatkan tubuh murni!"
"Ya! Cepat lepaskan dia!"
"Kalian telah terprovokasi oleh gadis ini. Kalian berani menentang Istana Lingyue!" Wanita cantik di sisi pria tua itu meraung marah.
"Istana Lingyue atau apa pun itu, selama mendapatkan tubuh murni, bahkan kekaisaran bukan apa-apa!"
"Cepat serang mereka!"
Manusia itu seperti bunglon. Baru saja saling bertarung hidup-mati, sekarang bekerja sama melawan Istana Lingyue. Xie Ran mencibir mereka dalam diam dan berfokus pada cara melepaskan diri.
"Nona, terdapat bagian yang memiliki sebuah kecacatan. Alat ini tidak sempurna dan dapat hancur kapan pun," jelas Sarah.
Xie Ran tersenyum puas. "Bagus, Sarah. Kau bisa membantuku menghancurkannya?"
"Peluncur diaktifkan."
Sebuah jarum kecil muncul dari anting Xie Ran, meluncur dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam satu tembakan, jarum itu meledak menyebabkan kerusakan pada piramida.
Piramida itu meledak bersamaan dengan hilangnya sinar dan jatuhnya Xie Ran. Xie Ran mendarat dengan aman lalu kembali pada teman-temannya melihat pertempuran sengit di atas kapal emas.
Di atas kapal, orang-orang Istana Lingyue begitu marah melihat piramida hancur berkeping-keping dan meledak seperti bom. Itu adalah peninggalan leluhur mereka, hancur begitu saja oleh seorang gadis kecil yang hanya tahu cara makan.
"Kalian para anjing idiot! Lebih baik segera menangkapnya, baru menentukan siapa yang membawanya pulang. Gadis itu sangat licik memecah belah kita agar bisa kabur, jika kita bersatu, dia akan mudah di kalahkan." Pak tua Istana Lingyue memberi solusi setelah melihat banyak anak buahnya gugur. Ia harus mencari cara agar menang.
"Kau pikir kami bodoh? Ini adalah pulau dalam Akademi Tianshang. Siapa yang bisa kabur?"
"Kalian yang bodoh! Di sana ada dekannya, mereka akan kabur dengan mudah!" Wanita itu menunjuk ke arah Bao Jun yang sedari tadi anteng menonton.
Kali ini, mereka yang seperti bunglon mulai setuju dengan usulan Istana Lingyue satu per satu. Mereka menghadap pulau dengan perasaan bergebu-gebu telah dipermainkan.
"Jadilah gadis baik, atau aku bisa saja membunuhmu!" Salah satu dari mereka menantang Xie Ran.
"Kenapa? Sudah selesai bermain?" Xie Ran menyahuti dengan tenang.
"Dia sudah tidak bisa diajari dengan cara halus. Cepat tangkap dia!"
Mereka semua kini menyerbu pulau seperti pasukan aneh yang serang sana-sini. Bahkan mata keenam manusia itu berkedut. Mereka benar-benar bunglon sejati
Pei Xi dan yang lain segera mengeluarkan senjata masing-masing dan berdiri di depan Xie Ran yang sejak tadi diam tidak merespon.
"Xie Ran, kami akan melindungimu." Pei Xi menoleh sedikit ke arah Xie Ran dan fokus pada musuh di depan.
"Ya, simpan energimu untuk melawan iblis itu." Mei Liena menunjuk begitu saja ke arah Bao Jun yang sejak tadi diam.
"Sisanya serahkan pada kami." Yan Yao berkata dengan percaya diri meski ia tidak yakin akan menang melawan sekelompok orang yang lebih kuat itu.
"Setelah menang, kita akan pergi berlibur. Berjanjilah!" Zhong Xiaorong tersenyum pada Xie Ran. Ia harap bantuan segera datang sebelum telambat.
"Percayalah." Zhou Kui mengusap kepala Xie Ran seperti anak kucing. Ia tidak boleh kehilangan adiknya sekali lagi.
Xie Ran tersenyum melihat tatapan percaya diri teman-temannya. Padahal di sini ialah yang lebih kuat diantara mereka, tapi mereka masih melindunginya seperti anak kecil. Kapan lagi bisa memiliki teman setia seperti mereka?
"Tidak mungkin aku tidak membantu." Xie Ran mengeluarkan pedangnya dan bersiap menyerang.
"Xie—"
"Kalian kekurangan seorang profesional lanjutan." Xie Ran tidak menatap teman-temannya melainkan pada musuh yang sedang menyerang. Mereka benar-benar mengabaikan keberadaan Sang Putri dan tidak memberi wajah pada kekaisaran maupun akademi.
Tanpa sempat berdiskusi kembali, mereka menerima serangan dari musuh dan harus mempertahankan diri lebih baik. Kekuatan musuh lebih kuat dari mereka, oleh sebab itu mereka harus merencanakannya dengan matang dan menggunakan teknologi Xie Ran sebagai dukungan.
Begitu pandangan mereka terarah pada arena yang dikuasai Xie Ran, mereka tertegun sejenak melihat para musuh berterbangan di udara dan terlempar begitu jauh tanpa perlawanan seolah telah pasrah dilempar seperti bola.
Xie Ran memang berbeda ....
Mereka kembali fokus pada pertarungan yang kini menjadi sengit. Beberapa kelompok yang bersatu melawan sekelompok murid yang kekuatannya di bawah profesional lanjutan. Kesenggangan kekuatan itu begitu terlihat hingga tidak diragukan lagi siapa pemenangnya.
Mereka semakin semangat. Melawan sekelompok anak-anak adalah hal biasa dan bukan masalah besar. Apalagi melihat Dekan tertentu yang hanya menonton tanpa kepedulian, mereka pikir anak-anak ini begitu tidak penting sehingga tidak peduli hidup atau mati.
Pertarungan menjadi semakin sengit begitu anak-anak itu mengeluarkan kekuatan tingkat tinggi mereka yang baru saja dilatih di pagoda.
Pei Xi menguasai sihir bayangan tingkat surgawi yang langka dan hanya ada satu di dunia. Itu berhasil meratakan beberapa kultivator tingkat profesional akhir dalam beberapa serangan defensif dari tombak yang mengeluarkan aura pekat dan gelap. Bayangannya begitu kuat menyebabkan korbannya mati mengenaskan tanpa berdarah ataupun menyisakan daging.
Sedangkan Zhong Xiaorong meningkatkan sihir esnya menjadi sihir surgawi pula. Ia menjadikan arena begitu dingin seperti musim salju serta es yang membeku di mana-mana. Pedang yang dihadiahkan oleh Dekan departemen tempa sebagai hadiah turnamen ada di tangannya membuat serangannya semakin ganas dan penuh aura dingin seperti phoenix es yang menyerang di udara.
Yan Yao meningkatkan sihir bawaannya yang merupakan sihir temurun keluarganya—Harimau Putih. Ia berhasil mencapai sihir peringkat surgawi yang membuat bayangan harimau yang begitu besar dan nyata muncul menyerang semua orang. Di tambah kipasnya yang runcing dan mematikan telah menyayat banyak kulit penuh darah tanpa menodai kipas putih tersebut.
Di belakang Mei Liena terdapat sosok ular hijau yang begitu besar. Phyton giok hijau yang merupakan sihir tingkat surgawi menyebabkan banyak orang keracunan tidak berdaya di medannya. Ular hijau itu melata dengan cepat dan melahap serta menyemburkan banyak racun hingga udara begitu sesak dan dipenuhi dengan racun mematikan.
Pedang ganda berbentuk sabit milik Zhou Kui membelah udara dan memutar begitu cepat serta membingungkan banyak orang. Teknik pedangnya yang juga tingkat surgawi berhasil ia latih meski belum sempurna, namun dapat meruntuhnya banyak orang hanya dengan tebasan pedang sabitnya yang begitu berat dan tajam. Ia hanya perlu sedikit bergerak ke arah musuh dan musuh itu langsung mati di tempat tanpa menyadari bahwa bagian tubuhnya telah terpotong dengan mudah.
Terakhir Liu Chang. Pedangnya memunculkan sinar dan bilah angin yang begitu tinggi. Ia yang selama ini terlihat pengecut dan ragu-ragu kini dilanda semangat bertarung yang tinggi karena sihir angin surgawinya. Angin topan keluar dari tangannya disertai pisau-pisau kecil dan tajam menyayat banyak orang yang terperangkap di dalam topan. Itu membuatnya semakin bersemangat dan percaya diri dengan kekuatannya.
Melihat pertarungan tidak imbang itu kini telah berbalik akibat sihir surgawi, Istana Lingyue tidak bisa diam saja dan mengirim beberapa kultivator profesional lanjutan beserta para nona dan tuan muda mereka untuk menghadapi Xie Ran serta teman-temannya langsung. Mereka tidak boleh kalah dan harus mendapatkan tubuh murni itu apa pun yang terjadi meski harus berperang melawan kekaisaran.
Para profesional lanjutan segera bergabung dalam pertempuran. Kedatangan mereka membawa tekanan besar dan kesenjangan kekuatan lagi-lagi terlihat.
Meski anak-anak itu memiliki sihir surgawi, tetap saja mereka belum menyempurnakannya dan tidak bisa melawan lawan yang jauh lebih kuat. Kesenjangan antara profesional akhir dan profesional lanjutan terlalu besar meski hanya satu tingkat. Jika hanya melukai dan lari bisa saja, sayangnya ini pertarungan hidup dan mati!
Keenamnya mulai tertekan begitu beberapa profesional lanjutan muncul. Jika hanya satu atau dua, mereka bisa menanganinya. Tapi ini lebih dari lima atau bahkan sepuluh! Ini benar-benar penindasan!
Xie Ran mengalihkan perhatian melihat teman-temannya terpojok akan beberapa profesional lanjutan. Meski ia juga berada di tahap profesional lanjutan, ia tentu juga akan kualahan jika melawan profesional lanjutan sebanyak itu sendiri. Ia butuh bantuan lebih.
Xie Ran ingin mengeluarkan Long Huo dan Long Yun, tapi itu akan membuat semua rahasianya terungkap sebelum melakukan hal besar lainnya. Perjalanannya masih panjang. Tapi ia tidak bisa melihat teman-temannya terluka.
Semakin lama Xie Ran berpikir, teman-temannya semakin terpojok dan terlempar karena kehabisan tenaga. Mereka berhasil membunuh beberapa profesional lanjutan juga termasuk prestasi besar, namun akibatnya mereka kehilangan banyak tenaga.
Begitu mereka semua terpojok dan tidak bisa bertarung lagi akan cedera parah, kelompok-kelompok itu mulai mengerumuni Xie Ran yang masih berdiri menahan serangan musuh. Xie Ran melihat orang-orang yang menatapnya seolah ia adalah mangsa selanjutnya.
Tatapan beragam mereka ....
Tiba-tiba bayangan masa lalu terulang kembali di benaknya. Masa di mana ia dengan terpaksa harus membunuh banyak orang ketika dalam kondisi terpojok dan terkepung kala masih kecil. Masa di mana niat membunuh itu berasal yang menyebabkannya sulit dikendalikan.
"Kita bekerja sama ...."
"Sebelum dia membunuh kita, kita bunuh dia!"
"Bella, kau sudah lama berada di sini, mengalalah sesekali."
"Berapa banyak yang kau bunuh? Aku penasaran bagaimana sensasi darahmu di tanganku."
Xie Ran mengepalkan tinjunya sampai kukunya memutih. Ia tidak tahu kenapa kenangan itu lagi-lagi terbayang dan ia sedang berada dalam posisi yang sama saat ini.
"Jangan berpikir kau yang terkuat. Pada akhirnya kau akan mati cepat atau lambat."
"Kau sudah terlalu lama di sini, lebih baik keluar saja."
"Bella ...."
"Bella ...."
Xie Ran menahan niat membunuhnya yang terus memicu sekuat mungkin. Ia menunduk dan menancapkan ujung pedangnya ke tanah sambil menahannya. Kenapa harus merepotkannya di saat seperti ini? Jika niat membunuh itu keluar sekarang, ia bisa mati sebelum itu berhenti.
Ia hanya berharap seseorang datang membantunya. Hanya itu ....
"Cepatlah ...."