
Seorang pria berpakaian pelayan membawa nampan berisikan cangkir teh ke arah sebuah aula yang sepi. Aula itu besar, namun terlalu sunyi seperti bangunan kosong.
Ia masuk ke dalam, disambut oleh beberapa peri yang bertampang dingin berjaga di sekitar. Begitu sampai di ujung lorong, ia mengangkat tangannya, mengeluarkan setitik cahaya yang memantul ke dinding dan memberinya jalan lain berupa lorong gelap.
Peri itu masuk ke dalam. Tepat ketika ia masuk, pintu lorong itu menutup dengan sendirinya, kembali menjadi bagian dari dinding tak mencolok.
Di balik pintu rahasia yang penuh kegelapan, beberapa pasang mata emas dan merah terlihat dalam kegelapan. Mereka seperti hewan buas yang kapan pun akan muncul untuk memangsa.
Peri itu meletakkan nampan ke atas meja, kemudian mengambil sesuatu dari balik teko teh. Itu adalah sebuah batu kristal bermata merah, ia memegangnya dengan hati-hati lalu pergi ke pusat aula besar yang ia tempati.
Di pusat aula, terdapat sebuah bingkai lingkaran patah yang berdiri. Ukurannya besar seperti sebuah layar, dengan bahan dasar bebatuan yang keras dan tidak mudah hancur.
Peri itu mengatahkan batu di tangannya ke arah bingkai. Batu melayang di udara, lalu terbang dengan perlahan dan tertanam di bagian atas bingkai seperti mahkota.
Setelah batu tertanam, kabut hitam muncul mengelilingi bingkai lingkaran tersebut seolah ada sesuatu di dalamnya. Peri itu tersenyum, tidak sabar melaporkan pada tuannya dan mendapat hadiah. Perasaan gugu dan bersemangatnya naik turun selagi batu tersebut memproses pembukaan layar.
Ketika tengah menunggu dengan perasaan luar biasa, tiba-tiba aura di sekitar berubah. Padahal peri itu sangat familiar dengan berbagai napas dua ras di ruang dimensi ini, tapi bagaimana semua napas itu hilang dalam sekejap mata? Selain itu, ia tidak merasakan hal lain. Hanya keheningan.
Sepertinya telah terjadi sesuatu.
Peri itu perlahan menoleh ke belakang dengan perasaan gelisah. Ketika ia merasa kakinya menginjak sesuatu, ia menahan napas melihat cairan merah dan kental mengalir memenuhi aula dan membanjiri kakinya. Tubuhnya bergetar seketika, kemudian melihat dengan hati-hati ke arah yang seharusnya dituju di mana terdapat sosok di balik semua genangan merah yang membanjiri aula.
"Sudah lama aku tidak bermain, jadi sedikit kelewatan. Maaf jika menakutimu." Sosok itu tersenyum lebar, terlihat seperti iblis pembantai. Pakaian putihnya bersih tanpa noda Rambut peraknya yang dikuncir kuda, menampilkan wajah cantiknya yang lebih terlihat dengan jelas memiliki sedikit bercak merah yang tentu bukan miliknya.
"Yang Mulia ...." Peri itu berlutut seketika dengan tubuh yang bergetar.
Siapa yang tidak kenal wanita berdarah dingin yang tidak akan ragu membunuh siapa pun? Meski dalam keadaan mengandung, ia tetap tidak memiliki keraguan dalam menumpahkan darah!
Xie Ruo memandang peri itu dengan senyuman yang cantik. Jika ini ada di situasi lain, ia akan terlihat cantik dan siapa pun akan meleleh melihatnya. Tapi sekarang, hanya akan ada ketakutan. Senyum itu terlihat jauh lebih mengerikan dibanding kesehariannya yang terlihat tidak berbahaya.
Xie Ruo melangkah mendekati peri itu. Ia tidak perlu menggunakan banyak tenaga untuk membunuh semua makhluk di sini. Hanya dengan satu bulu phoenix, ia sudah bisa membunuh semuanya dalam sekali serangan.
Peri itu sangat ketakutan, menunduk tidak berani memandang Xie Ruo secara langsung. Ia sudah merasa, bahwa nyawanya akan berakhir sekarang. Ia telah tertangkap basah sebagai mata-mata.
"Aku tidak ingin berlama-lama di sini, terlalu menjijikkan." Xie Ruo memandang genangan darah di bawah kakinya dengan jijik. Meski ada perasaan euforia di dalam hatinya, tetap saja ia merasa tidak nyaman. "Sekarang katakan padaku, aku akan melepaskanmu sebagai imbalan."
"Yang ... Yang Mulia ... re-rendahan ini t-tidak tahu apa p-pun ...."
"Aku suka orang yang setia pada majikan, tapi aku tidak suka dibohongi. Kuberi kau pilihan, ingin melindungi tuanmu atau melindungi dirimu sendiri? Tuanmu tidak bisa melindungimu setelah kau melindunginya, jadi semua pilihan ada di tanganmu." Xie Ruo langsung pada intinya. Jika masih tidak mau, maka dengan terpaksa ia akan menggunakan cara yang sudah ia nantikan. Kebetulan, ia membunuhkan kelinci percobaan.
Peri itu menjadi bingung. Jika ia memberitahu, ia mungkin akan terlepas dari Xie Ruo, namun ia akan mati di tangan Dewa Iblis! Jika ia tidak memberitahu, ia akan mati di tangan Xie Ruo. Lebih baik jika ia tetap mempertahankan kesetiaan daripada mati dalam keadaan berkhianat!
"Rendahan ini benar-benar tidak tahu ... rendahan ini hanya bawahan tidak berguna, tidak tahu apa pun ... rendahan ini hanya dipaksa!"
Raut Xie Ruo menjadi datar seketika. "Oh? Dipaksa? Kalau begitu, bagaimana jika aku juga memaksamu? Aku ingin lihat, paksaan siapa yang lebih ampuh. Aku atau dia?"
Cepat-cepat peri itu bersujud berkali-kali sambil memohon. "Yang Mulia! Rendahan ini tidak tahu apa pun! Yang Mulia bijaksana, mohon belas kasih!"
"Sayangnya, aku tidak bijaksana seperti yang kau katakan, karena aku tidak tumbuh di kuil suci. Aku tumbuh di penangkaran pembunuh, apa yang harus aku lakukan?" Xie Ruo memasang wajah berpikir.
Orang yang tidak tahu situasi akan berpikir bahwa ia tampak imut, tapi tidak dengan peri di depannya yang semakin takut. Masalahnya, ia membicarakan hidup dan mati seolah membicarakan cuaca!
"Sudahlah, kamu jangan membuang waktuku. Katakan saja tidak mau memberitahu, aku tidak masalah."
Justru itu masalahnya. Tidak masalah versi Xie Ruo adalah masalah besar! Peri itu menutup mata, mencoba menerima rasa sakit yang akan datang.
Namun, sudah beberapa menit dilalui, tidak ada rasa sakit yang dirasakannya. Peri itu membuka mata, kemudian melihat Xie Ruo yang masih berdiri di tempat sambil menopang dagu dengan bosan.
"Kamu kelamaan." Xie Ruo menguap.
Tidak ada yang terjadi? Peri itu bingung. Bukankah seharusnya ia sudah mati?
Karena kewaspadaan Xie Ruo melemah, peri itu berpikir bahwa ia memiliki kesempatan. Toh, Xie Ruo tidak boleh menggunakan kekuatannya secara berlebihan. Ia hanya perlu sedikit menyerang untuk pembelaan dan kabur, Xie Ruo tidak akan bisa mengejar kecepatan peri.
Peri itu diam-diam mengeluarkan kekuatannya sambil menunduk. Ia mengangkat tangannya dengan cepat, akan meluncurkan sihir ke arah Xie Ruo.
Namun begitu sihir terbentuk di tangannya, tiba-tiba rasa sakit luar biasa seolah menghancurkan jiwanya berkeping-keping terasa seperti terjadi ledakan internal.
Peri itu memuntahkan seteguk darah, menurunkan tangannya dan mencoba menyembuhkan diri, tapi kondisinya memburuk. Ia berteriak kesakitan seolah organnya telah tercabuti dan dihancurkan berulang kali.
"Seharusnya sejak tadi." Xie Ruo tersenyum. Ternyata kekuatannya ampuh. Awalnya ia pikir kekuatan psikisnya masih belum cukup untuk melukai jiwa seseorang secara perlahan tanpa membiarkannya mati, ternyata jauh lebih memuaskan dari harapannya.
Pengendalian jiwa yang dilakukan Xie Ruo sebenarnya masih belum cukup tinggi untuk melakukan serangan langsung. Peri itu harus menggunakan sihirnya terlebih dahulu agar kekuatan psikis yang merusak jiwanya berkerja. Perasaan itu akan jauh lebih buruk dari kematian.
Bayangkan jika seseorang mengalami operasi tanpa menerima suntik bius. Perasaan itu akan terlalu menyakitkan, apalagi melakukan cangkok organ. Sedangkan peri pelayan itu mengalami rasa sakit 10 kali lipat dibandingkan operasi cangkok tanpa obat bius. Ia tidak akan mati, dan akan terus muntah darah karena cedera internal yang buruk. Karena jiwanya terluka seperti dicincang-cincang, organnya akan membusuk perlahan.
Xie Ruo tahu bagaimana rasanya berkat kemampuannya mengetahui emosi seseorang secara mendalam. Ia tidak lagi mau membaca emosi mengerikan peri itu.
Karena ia butuh informasi, Xie Ruo menurunkan tingkat serangan psikis pada peri itu. Peri itu tenang untuk beberapa saat sambil terengah-engah kelelahan.
"Sekarang, kau bisa katakan. Apa rencana Dewa Iblis yang sebenarnya?" Meski Xie Ruo sudah menebak, ia masih butuh sesuatu yang lebih spesifik untuk membuat rencana cadangan bila rencana utama gagal.
"Aku ... tidak tahu ...."
Xie Ruo tetap tidak puas. Ia kembali meningkatkan serangan psikis hingga mencapai tingkat mengerikan. Peri itu kembali berteriak seperti berada di neraka. Ia merintih kesakitan, lalu memberontak di lantai yang penuh darah hingga seluruh tubuhnya ternoda oleh darah. Pemandangan itu terlalu mengerikan untuk dilihat.
Selama beberapa menit kedepan, peri itu mulai lelah dan hanya bisa merintih kesakitan. Ia tidak lagi bergerak untuk memberontak, hanya pasrah dengan rasa sakit sambil menangis dan merintih.
Ia meminta Xiao Caihong membersihkan genangan darah di sekitar agar tidak membuatnya mual.
Karena sudah terlalu lama, ia menghentikan penyiksaan untuk sementara membiarkan peri itu bicara. Jika masih tidak mau, ia tinggal menyiksanya lagi.
"Aku tidak senggang seperti yang kau pikirkan, jadi katakanlah dengan jujur, tidak ada lagi yang bisa menolongmu."
"Tidak ... aku tidak—"
"Baiklah, ini kali terakhir." Xie Ruo kembali menggunakan kekuatan psikis untuk mengendalikan jiwa peri itu. Karena jiwanya sudah lemah dan terluka parah, ia dapat dengan mudah mengendalikannya.
Suara patah tulang terdengar disertai tulang tangan yang berputar melawan arah seharusnya. Peri itu kembali berteriak kesakitan. Tadi sudah organ dan jiwanya, sekarang tinggal tulangnya yang dipatahkan Xie Ruo semudah menggerakkan jari.
Posisi tulangnya menjadi tidak menentu. Peri itu berteriak kesakitan sampai tidak bisa bergerak. Ia tampak aneh dengan tulang-tulang yang bergeser tidak pada tempatnya, bahkan kakinya sudah terangkat ke belakang, sedangkan tangannya melilit tubuhnya sendiri dari arah belakang. Punggungnya juga memutar dan bengkok seperti sedang kayang. Itu membuat peri tertentu tidak bisa melakukan aksi bunuh diri.
"Katakan, selagi aku masih menahan diri." Xie Ruo masih 'berbaik hati' memberinya kesempatan.
"Dewa Iblis ...."
"Aku tidak memotong lidahmu, jadi katakan dengan jelas!" Xie Ruo semakin tidak sabar. Peri itu sangat ketakutan, tapi masih saja membangkang.
"Dewa Iblis ... sedang mengumpulkan ribuan darah beberapa ras di tiga dunia untuk pergi ke Dunia Dewa dan menjadi kuat ... kau pasti tahu, energi murni adalah media keberhasilan altar pengorbanan ... tapi selain itu ... ada satu hal yang masih perlu dilakukan."
Xie Ruo mengerutkan kening. "Apa itu?"
"Darah campuran dewa dan iblis," lirihnya, kemudian berusaha bicara lagi. "Dewa Iblis ingin menggunakan Kaisar Langit, tapi kemungkinannya terlalu kecil karena harus membunuhnya terlebih dahulu. Maka dari itu ... Dewa Iblis ingin bayi berdarah campuran ... yang ada di kandunganmu ...."
Wajah Xie Ruo menggelap. Ia terlalu terkejut, melainkan marah. Seseorang berani menarget anaknya?
"Kau mengatakan yang sebenarnya?" Xie Ruo merasa emosinya bergejolak. Ia sangat marah sekarang.
Memikirkan Dewi Cahaya yang ingin membunuh anaknya saja membuatnya sangat marah, tapi sekarang Dewa Iblis justru ingin menggunakan anaknya sebagai puncak keberhasilan altar pengorbanan!
"Yang Mulia ... tolong aku ... aku sudah mengatakannya, Dewa Iblis tidak akan melepaskanku ...." Peri itu nyaris menangis kejar jika tidak mengingat kondisinya yang begitu menyedihkan dan telah membuat Xie Ruo marah. "Dewa Iblis akan melakukan rencananya setelah Yang Mulia melahirkan. Dia akan mengutus banyak orang sesuai kondisi Dunia Atas!"
Raut Xie Ruo yang dingin berubah menjadi tenang kembali. Ia tersenyum miring, tampak lebih mengerikan dari sebelumnya. "Utus saja, aku tidak takut."
Xie Ruo melepaskan kekuatan psikisnya yang menyebabkan peri itu tampak menyedihkan. Peri itu terkapar, namun tidak bisa bergerak karena semua tulangnya bergeser. Jika saja ia tidak menguji kesabaran Xie Ruo, semua tulangnya tidak akan patah dan bergeser.
Masalah darah campuran harus diselesaikan dengan darah campuran juga. Xie Ruo pada dasarnya juga merupakan darah campuran antara manusia dan naga, tapi tidak sekuat campuran antara dewa dan iblis. Anak dalam kandungannya adalah campuran antara keempat ras, meski lebih dominan antara iblis dan dewa. Tentu akan menarik perhatian Dewa Iblis.
Karena tidak ada yang bisa ditanyakan lagi, Xie Ruo mengakhiri penderitaan peri tersebut yang sama sekali tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa mengobati, daripada tersiksa seperti itu dan diburu Dewa Iblis yang kurang kerjaan, lebih baik mati saja sekalian. Itu caranya melepaskan seorang pengkhianat.
Dengan satu sayatan bilah energi di leher, peri itu mati dengan cepat setelah kehabisan banyak kekuatan.
Xie Ruo baru saja akan pergi, namun batu kristal yang membuat layar yang terhubung dengan Dewi Iblis aktif seketika. Sosok hitam penuh rasa misterius muncul di antara bingkai lingkaran patah, seperti layar video panggilan.
"Lama tidak bicara, Kakak Ipar."
Xie Ruo memandang sosok itu dengan wajah datar. Ia agak kesal dengan sebutan itu.
"Tidak perlu menutupi wajah, aku tahu itu kau, Zhong Wenyue." Xie Ruo bicara dengan nada dingin. Melihat sosok itu, rasa ingin membunuh dalam hatinya kembali muncul.
Sosok Zhong Wenyue muncul dari dalam kegelapan. Meski matanya tidak merah, senyum tak bersalah itu tetap ada seperti Yuwen Yue di masa lalu.
"Kau tahu, terlalu pintar tidak akan memperpanjang umurmu."
"Umurku memang tidak panjang, terima kasih pujiannya." Xie Ruo menjawab dengan enteng. "Tapi, seseorang yang terlalu licik juga tidak akan berumur panjang. Ketika kecil, aku disebut spider lily, sebut saja bunga kematian. Beracun dan indah, tapi berumur pendek hanya demi menumbuhkan daun."
"Julukan itu cocok untukmu."
"Aku tahu. Aku harap kau tidak marah ketika kujuluki raflesia. Indah, tapi beracun dan menjijikkan. Menarik perhatian serangga dan membunuhnya untuk tumbuh dan berkembang. Sepertimu, mengorbankan banyak nyawa untuk kepentingan pribadi."
"Pandanganmu terhadapku sangat buruk. Sebenarnya, aku tidak seburuk itu."
Xie Ruo menyipitkan mata. "Memangnya siapa yang bisa menyukaimu?" Xie Ruo mengejek.
"Aku tidak butuh itu."
"Bukankah kau baru saja mengakui bahwa Dewi Cahaya tidak menyukaimu? Betapa kasihan dirimu." Xie Ruo berdecak perihatin.
Hal itu membuat wajah Dewa Iblis menggelap. Dewi Cahaya tidak memiliki perasaan yang jelas terhadap apa pun di sekitarnya, karena dia adalah dewi alam dan bersifat netral. Itu bukan masalah, asalkan Dewi Cahaya bersedia bersamanya.
"Kakak Ipar, akan lebih baik jika kau mengurangi batasan pemakaian kekuatan, itu akan membahayakan anakmu. Kau tahu, aku membutuhkannya."
Xie Ruo memandangnya dengan dingin. "Maka peringati Dewi Cahaya untuk tidak menyentuhnya. Kau tidak ingin dia menghancurkan rencanamu, 'kan?"
"Dia melakukan itu karena tidak ingin dikalahkan. Lagi pula, dia tahu siapa yang harus dibunuh." Dewa Iblis tersenyum. Ia sudah tahu semuanya dan tidak perlu memastikannya. Yang ia perlukan hanyalah salah satu anak Xie Ruo.
Xie Ruo tersenyum, menahan rasa emosi berlebih. "Aku akan menunggu hari itu." Ia pun menghancurkan batu kristal di atas layar sampai hancur. Koneksi antara dia dan Dewa Iblis putus saat itu juga.
Senyum Xie Ruo menghilang begitu batu dan bingkai hancur secara bersamaan. Ia telah melampiaskan amarah pada benda itu, tapi itu tidak cukup. Seharusnya ia sisakan saja beberapa peri dan iblis di sini untuk pelampiasan akhir.
Dewa Iblis berani mengancamnya terang-terangan? Ia akan menunggu hari itu dan menunjukkan, bahwa ancamannya tidak berlaku!
Meski harus mati, ia tidak akan membiarkan rencana Dewa Iblis berjalan dengan lancar.