
Sepergi Xie Ran dari restoran, Liu Chang diam bergelut dalam pikirannya sedangkan Xie Ran asik bersenandung. Tangan gatal Xie Ran terpenuhi, tapi dia masih belum cukup puas karena uangnya berkurang.
Liu Chang meliriknya takut-takut dan menunduk kembali. Mengingat bagaimana gadis di sebelahnya membuat Zhang Xin dan kawan-kawan terlihat 'baik' dalam satu pukulan, dia tidak bisa membayangkan betapa sakit rasanya bila di posisi mereka.
"Junior, maaf atas kejadian tadi. Aku akan membayar uangmu setelah gajian."
Xie Ran berhenti melangkah dan meliriknya. "Aku sendiri yang akan meminta ganti rugi pada mereka. Siapa namanya? Jiang Sin?"
"Zhang Xin."
"Ah, itu! Jika dia tidak mau, aku akan membuatnya semakin terlihat semakin 'baik' sampai tidak bisa dikenali ibunya." Xie Ran membentuk seringai menyeramkan membuat pria di sebelahnya merinding.
"Zhang Xin berasal dari Keluarga terpandang di Kekaisaran Zhongbu. Takutnya ...."
"Takutnya apa? Aku bahkan tidak takut pada Klan Xie. Kenapa harus takut pada keluarga kecil yang mengasuh bajingan seperti itu?" Xie Ran mendengus. Mengapa pria ini sangat penakut dan feminim? Pantas saja kekuatannya tidak meningkat.
Ucapan Xie Ran semakin membuat Liu Chang yakin bahwa latar belakang Xie Ran memiliki status yang tidak biasa. Melihat kekuatannya barusan, hanya dengan menggunakan satu teknik tingkat ksatria sudah bisa meruntuhkan lima orang tingkat lanjutan sekaligus pelatih tingkat raja. Itu hanya akan terjadi pada seorang yang begitu terlatih dengan sumber daya tinggi.
Xie Ran mengutak-atik kristal kacanya yang berfungsi seperti ponsel dan melihat banyak tag menyebut namanya. Apa nama Xiao Ran begitu pasaran sehingga begitu banyak? Mungkin saja begitu.
Xie Ran lebih tertarik memeriksa informasi mengenai Pagoda Kaca. Sejauh ini dia belum bertemu dengan Dekan Departemen Sihir. Di Akademi terbagi menjadi tiga departemen. Departemen sihir, departemen tempa, dan departemen apoteker. Xie Ran hanya masuk Departemen Sihir karena pertarungan adalah jalan ninjanya sejak lahir.
Tidak ada informasi lain mengenai Pagoda Kaca selain rumor yang tersebar. Xie Ran sudah mencari sampai begitu lama, tapi tidak ditemukan perkembangan informasi lainnya hingga mereka sampai di depan Asrama Langit.
Asrama Langit adalah gerbang menuju Paviliun Bulan. Di sana bukan hanya ada Paviliun Bulan, melainkan paviliun elit lainnya yang ditinggali oleh murid-murid peringkat tinggi dan murid bangsawan. Itu seperti kawasan huni dunia modern.
Xie Ran berpisah dengan Liu Chang dan memasuki kawasan elit itu. Selama perjalanan, Xie Ran hanya dapat melihat gerbang paviliun yang memiliki jarak ratusan meter dari paviliun lain. Jalanan terbilang sepi dan sunyi, hanya ada burung-burung berterbangan yang lewat tanpa ada manusia yang hadir. Ini sesuai kebutuhan Xie Ran yang suka ketenangan.
Xie Ran dengan cepat pergi ke arah paviliunnya yang ada di kejauhan utara. Dia berjalan beberapa kilometer sebelum akhirnya sampai di tempatnya. Tulisan paviliun bulan terukir jelas di atas gerbang. Xie Ran masuk ke dalam menggunakan kunci gerbang dan melihat halaman paviliun yang besar.
Paviliun ini sangat besar. Cocok untuk sebuah kelompok tertentu dibandingkan Xie Ran seorang diri. Kapasitas qi juga tebal dan sangat segar. Banyak tanaman hias serta air mancur di kolam paviliun dengan ikan yang berenang riang. Kaisar itu benar-benar teliti memilihkan tempat.
Dua Naga keluar dari liontin dalam ukuran kecil membawa Xiao Caihong yang merengek lapar. Qu Xuanzi menyerahkan anak ular itu pada dua Naga karena baginya mengurus anak ular yang merengek itu merepotkan. Pada akhirnya, dua Naga yang harus terkena getahnya.
Xie Ran memberi energi murninya pada anak ular itu sedangkan dua Naga berkeliling di sekitar Paviliun Bulan untuk menghindari anak ular. Mereka tidak mau mengurus Ular yang merupakan musuh Naga. Hanya demi Xie Ran dan Qu Xuanzi mereka melakukannya. Jika tidak, sudah lama mereka membuang ular manja itu.
Setelah sering memakan energi murni, Xiao Caihong menjadi lebih besar dengan cepat melebihi ekspektasi Xie Ran. Ukuran yang awalnya hanya sebesar jari menjadi lebih besar beberapa centi. Matanya sangat jernih disertai sisik seputih giok yang nyaris bercahaya. Itu menunjukkan bahwa asupannya memenuhi kebutuhan, bahkan lebih bergizi.
Xie Ran meletakkan Xiao Caihong di atas ranjangnya sedangkan dirinya akan membersihkan diri. Setelah membersihkan diri dan melanjutkan kultivasi, dia pergi dari paviliun untuk makan malam.
Malam hari Akademi masih ramai. Lampu-lampu menyala dengan indah menerangi jalan. Xie Ran mengenakan pakaian putih sederhana dan tidak menonjol berada di kerumunan serta Xiao Caihong bersembunyi di lengannya sambil melihat kota. Mata hitamnya sedikit terlihat di ujung lengan pakaian terlihat senang.
Memasuki salah satu restoran dan memesan makanan dengan jumlah normal. Dia bisa saja memakan masakan Qu Xuanzi malam ini, tapi dia masih ingin mencari sesuatu yang bisa membantunya menyelesaikan misi dengan cepat. Jika hanya diam di paviliun, dia akan ketinggalan informasi.
Ketika sedang asik makan, seorang gadis menegurnya membuat Xie Ran menoleh menghentikan makan sejenak.
"Bisakah aku duduk di sini? Semua meja sudah penuh." Gadis itu terlihat imut dengan mata bundar jernihnya. Dia terlihat seumuran dengan Xie Ran disertai wajah ceria dan kekanakan.
Xie Ran mengangguk dan makan tanpa mempedulikan gadis itu. Gadis itu berterima kasih sambil duduk di depannya dengan makanan di atas nampan. Ketika gadis itu akan memakan makanannya, dia berhenti sejenak menyadari sesuatu.
"Apa kau Xiao Ran?"
Xie Ran meliriknya sekilas dan mengangguk singkat sebelum akhirnya kembali makan. Apa dia seterkenal itu sampai ada yang mengenalnya selain Liu Chang?
Gadis itu tersenyum lebar setelah mendapat pengakuan Xie Ran. "Aku dengar kamu menghajar kelompok cabul itu. Sangat hebat!"
"Cabul?" Xie Ran tidak tahu kenapa Zhang Xin disebut cabul. Dia hanya tahu pria itu jorok dan menyebabkan makanannya terkontaminasi sehingga Xie Ran tidak nafsu makan.
"Ya, dia selalu menggoda banyak perempuan dan memaksa tidur bersama. Aku pernah dipaksanya, untung saja Senior Pei Xi membantuku." Gadis itu terlihat semangat dan tersipu ketika menyebut nama senior itu.
"Aku hanya merasa kesal dan 'sedikit' menghajarnya." Xie Ran tidak peduli terhadap provokasi apapun dari Zhang Xin. Yang dia pedulikan adalah makanan dan uangnya yang sia-sia.
"Namaku Mei Liena, murid pemula tahun pertama. Senang bisa bicara langsung denganmu. Ketika beberapa murid bercerita tentang aksimu tadi siang, kau langsung populer diantara para pemula. Aku sangat kagum!"
"Apa itu bagus?" Xie Ran tidak berpikir kepopulerannya bagus untuk misinya.
Aksinya barusan adalah tindakan spontan. Untung Xie Ran langsung sadar dan menahan diri sehingga hanya memukuli orang-orang itu atau benar-benar akan ada pertumpahan darah. Posisinya juga terancam.
"Sangat bagus. Dengan menunjukkan kekuatanmu, peringkatmu akan meningkat dari pemula ke tingkat bumi. Peringkat 10 besar kategori pemula saja sudah sangat luar biasa. Mendadak kamu mendapat peringkat 50 dalam kategori pemula serta peringkat 2950 di akademi. Ada total 3000 murid di akademi dan 1000 murid masing-masing tingkat. Kamu sangat hebat!"
Xie Ran tetap tidak tertarik. Hanya peringkat 2000 besar dari 3000, apa bagusnya? Dia terbiasa menjadi yang pertama sejak awal. Tapi untuk saat ini, lebih baik tidak terlebih dahulu jika tidak ingin identitasnya terbuka secara umum.
"Aku tidak mengharapkannya."
"Ck, kamu harus meraihnya. Dalam setengah tahun akan ada turnamen Akademi. Jika kamu dapat meraih tingkat langit setidaknya 10 besar, kamu dapat bergabung dalam turnamen dan akan mendapat penghargaan langsung dari Dekan."
"Dekan yang mana?"
"Tentu saja 4 Dekan Akademi. Dekan utama Akademi, dekan departemen sihir, dekan departemen penempaan, dan dekan departemen apoteker. Jika menang, kamu akan mendapat penghargaan sesuai departemen yang kamu tempati sekaligus mendapat penghargaan dari Dekan utama. Kamu bisa lulus dengan cepat!" Mei Liena berkata dengan gembira.
Untuk berpartisipasi dalam turnamen sangat sulit. Seseorang harus masuk ke peringkat langit dan akan diadu satu sama lain. Meskipun kekuatan Xie Ran saat ini terbilang masih jauh, dia tetap percaya diri merekomendasikan Xie Ran. Biasanya gadis seperti ini memiliki banyak rahasia dan kartu truf. Baru saja masuk sudah dapat mengalahkan si cabul.
"Kenapa kau memberitahuku?" Xie Ran tidak bisa tidak bertanya-tanya. Gadis ini terlalu terbuka dan mudah dimanfaatkan.
"Aku merasa kamu harus mengetahuinya. Semua murid sudah tahu hal ini sejak bulan lalu dan berbondong-bondong meningkatkan peringkat. Jika kamu melewatkannya, akan sangat disayangkan karena pengumuman ini tidak lagi diberitakan seperti bulan lalu. Itulah aturan Akademi."
Xie Ran mengangguk paham. Menurutnya, turnamen ini cukup menggoda. Selain dapat mengekspos Dekan departemen sihir secara terbuka dan mengakhirinya, dia bisa meningkatkan kekuatan dan membandingkannya sekaligus. Sumber daya ini tidak boleh disia-siakan.
"Baiklah, terima kasih informasinya." Xie Ran tersenyum dan melanjutkan makan dengan tenang.
Dia sudah memutuskan untuk 'bermain' di arena selama setengah tahun ini. Dia dengar murid yang mati di arena sudah biasa dan tidak mengurangi poin atau uang. Dia bisa memanfaatkan kekuatannya secara maksimal melawan yang lebih kuat antara hidup dan mati.
"Xiao Ran, di mana kamu tinggal? Mengapa aku tidak melihatmu di penginapan manapun?"
"Paviliun Bulan."
Tiba-tiba Mei Liena tersedak minumannya sendiri sampai terbatuk. Dia menatap Xie Ran penasaran sama seperti Liu Chang tadi. "Xiao Ran, apa kamu sepupu Xiao bersaudara di Asrama Langit?"
"Jika aku sepupu mereka, aku mungkin bersama mereka saat ini atau tidak akan tinggal terpisah." Xie Ran tidak tahu siapa Xiao bersaudara itu. Yang dia tahu Xiao bersaudara itu harus bukan orang biasa.
"Benar juga. Aku berpikir terlalu dangkal. Klan Xiao selalu mendominasi sehingga banyak keluarga cabang dari berbagai daerah setelah Klan Xie dan Klan Yan. Jika kamu dari Klan Xiao, seharusnya tinggal bersama mereka."
Mengingat kembali tentang turnamen yang akan datang, Xie Ran mencoba mencari informasi yang lebih mendalam. "Kira-kira, apa hadiah yang diberikan Dekan Akademi jika menang?"
"Dari Turnamen sebelumnya, Dekan Akademi membiarkan pemenang menentukan satu permintaan apapun sebagai hadiah utama. Sedangkan hadiah lainnya berupa artefak langka akademi. Hadiah itu sangat besar, kesulitannya juga sangat besar. Aku sendiri tidak berani membayangkannya."
"Satu permintaan ... itu cukup," gumam Xie Ran. "Aku akan ikut turnamen!"
"Apa kamu tidak ingin ikut?"
Gadis itu menertawai diri sendiri. "Apalah aku? Hanya seorang apoteker, apa bisa dibandingkan dengan kultivator sebenarnya?"
"Meski begitu, kamu tetap bisa bertarung. Apa bedanya? Peserta turnamen harus dilengkapi apoteker untuk pertandingan kelompok."
Mei Liena terdiam menatap Xie Ran dengan mata bundarnya. Apa gadis itu sedang mengajaknya? "Xiao Ran, apa kau mengajakku? Membantuku? Sejujurnya, keluargaku merupakan keluarga apoteker yang membutuhkan petarung hebat untuk melindungi keluarga. Aku adalah harapan satu-satunya karena kakakku telah lumpuh."
Xie Ran tidak memiliki banyak reaksi. Dia acuh tak acuh melanjutkan makan tidak memberi gadis itu jawaban. Siapa yang ingin membantunya? Dia tidak peduli apa gadis itu membutuhkannya untuk meningkatkan reputasi keluarga.
Mei Liena segera pindah tempat ke sisi Xie Ran. "Xiao Ran, apa kau sungguh membantuku? Terima kasih!" Dia pikir diamnya Xie Ran berarti Xie Ran setuju dengan permintaannya. Apalagi Xie Ran lah yang menawarkan.
Sedangkan Xie Ran yang menyadari bahwa gadis ini memiliki pemikiran berbeda dengannya segera menoleh dengan kening berkerut. Kenapa dia dipertemukan oleh gadis yang lebih bodoh melebihi dirinya?
"Xiao Ran, bagaimana jika aku menjadi muridmu? Meski aku sedikit sulit diatur, aku bisa menurut padamu."
"Tidak!" Xie Ran tidak tahu bagaimana jalan pikir dangkal Mei Liena. Tiba-tiba saja mendekat dan berterima kasih kemudian melamar sebagai murid, itu membuat Xie Ran merinding.
Mei Liena terdiam mendengar gertakan Xie Ran. Dia yang tidak biasa digertak mulai bergetar dan menunduk patuh seperti anjing jinak yang sedih.
Xie Ran yang melihat gadis periang di sebelahnya menjadi ciut semakin kesal. Dia selalu saja membuat anak kecil menangis tidak dimana-mana. Jika Mei Liena menangis, Xie Ran akan repot dan merasa telah menyakiti gadis kecil ini.
"Maksudku, jangan anggap aku guru. Aku tidak menerima murid di umur remaja," ujar Xie Ran menurunkan nadanya menjadi normal. Dia telah belajar sabar belakangan ini dan itu berhasil melepas niat membunuhnya. "Karena kau ingin aku membantumu, maka jadi teman saja."
Mendengar itu Mei Liena kembali jernih menatap Xie Ran seolah tatapannya yang jernih berbinar seperti kucing. Ingin sekali Xie Ran mencungkil matanya dan membuat koleksi.
Ketika Mei Liena ingin heboh kembali, Xie Ran segera menyelanya. "Tapi ada syaratnya!" Xie Ran tidak ingin telinganya berdengung. Setidaknya untuk saat ini. "Jangan berisik di dekatku."
Mei Liena mengangguk setuju dan langsung memeluk Xie Ran dari samping. "Ah, aku pikir kau marah padaku. Aku sangat takut tadi."
Xie Ran sangat marah sekarang sehingga wajahnya menggelap. Seharusnya dia tidak berniat membujuk gadis ini dan membiarkannya menangis minta perlindungan ibu. Xie Ran tidak menyangka dia mau berteman dengan gadis seperti ini. Apa ini karma untuknya?
"Tapi, aku bukan orang baik. Apa kamu tetap ingin berteman denganku?" Xie Ran mencoba membuatnya ragu.
"Aku juga bukan orang baik. Aku apoteker tapi hanya bisa membuat racun dan penawarnya. Itu sebabnya, tidak ada murid di departemen apoteker yang menganggapku. Jika mereka membutuhkan penawar racun ketika seorang murid gagal membuat obat sampai keracunan, mereka mendatangiku tanpa membayar. Aku tidak suka orang seperti mereka sehingga aku sering menolak permintaan penawar racun dari mereka. Mereka tidak menganggapku apoteker tapi ular!"
Xie Ran yang mendengarkannya hanya bisa menangkap bagian akhir bahwa gadis ini sama sepertinya. Diperalat dan dibuang untuk kepuasan pelanggan. Xie Ran tersenyum miris padanya. Bagaimana gadis sepolos ini bisa memiliki takdir suram? Xie Ran yang awalnya ingin menolaknya menjadi perlahan menerimanya karena merasa mereka mirip. Tapi Xie Ran tidak ingin gadis ini semakin terjerumus karenanya.
"Aku memiliki banyak musuh. Jangan melibatkan dirimu."
"Aku juga punya banyak musuh. Sudah kubilang, jika ada sesuatu panggil aku. Aku akan meracuni musuhmu dengan menyedihkan." Mei Liena begitu yakin bisa membantu Xie Ran.
"Bagaimana jika musuhku adalah orang yang lebih kuat? Seperti Xie Chen dan Tang Yueha misalnya." Xie Ran mencoba meyakinkan sekaligus menguji. Dia tidak suka pada seseorang yang penakut karena jalan kedepannya begitu rumit. Dia tidak ingin jika temannya berkhianat hanya karena dia memusuhi seseorang yang berpengaruh. Xie Ran paling membenci orang berkhianat dibandingkan terang-terangan membencinya.
"Sejujurnya, aku pernah menyukai Xie Chen pada pandangan pertama. Tapi... Dia menolakku."
Xie Ran tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Bukankah itu di luar topik? Bagaimana gadis ini malah curhat padanya?
"Dia mengatakan, bahwa aku bahkan tidak sebaik sepupunya, Tang Yueha—"
"Jadi kau belatih untuk menarik perhatiannya? Tidak masuk akal!" sela Xie Ran.
"Dengar dulu. Aku belum selesai cerita," sahut Mei Liena. "Setelah kejadian itu aku memang berusaha keras. Tapi Xie Chen terus menolak secara tegas mengatakan aku adalah sampah sampai menyuruh orang untuk menyingkirkan hama sepertiku. Aku tidak terima. Bukan karena ditolak, tapi dia menyebutku sampah sampai ingin menyingkirkanku. Ketika aku protes padanya, dia justru mengungkit kakakku yang lumpuh dan mengatakan aku dan keluargaku sampah. Aku sangat membencinya! Aku ingin menunjukkan bahwa keluargaku dan aku bukan sampah seperti yang dia katakan. Aku ingin menyangkal ucapannya. Tidak masalah jika aku dihina, tapi jangan keluargaku ...." Mei Liena menjelaskan panjang lebar dengan emosi melanda di wajah kekanakannya.
Xie Ran hanya sedikit menyimak dongeng pengantar tidur ini dan menguap bosan. Gadis ini sangat pandai bicara tanpa minum. Apa dia tidak haus? Bahkan Xie Ran sudah selesai dengan makanannya, gadis itu masih bicara tentang Xie Chen yang menindasnya sampai menjadi lelucon akademi. Padahal Mei Liena tidak lagi mendekati Xie Chen, tapi selalu dikambing hitamkan orang lain agar Xie Chen bodoh marah padanya.
Drama ini ... sangat membosankan.
Bolehkah Xie Ran menjahit mulutnya? Baru saja Xie Ran mengatakan bahwa dia tidak suka berisik. Tapi Mei Liena malah mendongengkan drama anak sekolah antar pria dingin dan wanita cupu yang teraniaya.
"Aku sudah bertekad, aku akan balas dendam pada mereka semua!"
Hanya itu yang Xie Ran pahami dari panjangnya drama yang diceritakan. Gadis ini akan sangat berpotensi menjadi pengacara atau pendongeng.
Xie Ran menguap. "Jadi, kau ingin balas dendam?"
"Bisa dibilang begitu."
"Terima kasih atas konsultasinya, tapi aku tidak tertarik dengan drama yang kau alami." Xie Ran bicara acuh tak acuh.
Mei Liena menghela napas. "Apa tidak menarik bagimu? Biasanya, jika seseorang memiliki kisah cinta rumit dan tidak berakhir baik, banyak yang tertarik untuk ikut campur atau mendukung salah satu."
"Aku bahkan tidak tahu cinta, kenapa dia mengatakan istilah aneh itu padaku? Sama saja seperti bunga patah hati," gumam Xie Ran hendak pergi namun Mei Liena segera menariknya kembali ke kursi.
"Xiao Ran, sebenarnya apa masalahmu? Tidak mungkin kau sebagai wanita tidak tertarik. Mungkin kau ingin mengatakan sesuatu untukku atau untuk Xie Chen. Setidaknya satu kata."
Xie Ran dengan wajah gelap berkata, "Bodoh."
Dia benar mengatakan satu kata saja? Betapa tak berperasaannya. Dia tahu dia memang bodoh telah tertarik pada Xie Chen sampai bernasib malang, tapi dia tidak berharap temannya ini mengatainya bodoh terang-terangan.
"Xiao Ran, apa kau tidak kasihan padaku?" Mei Liena memasang wajah kasihan.
"Aku turut berduka cita, tapi aku tidak mengerti seberapa bodohnya kamu menganggap Xie Chen sebagai idola. Idola dari mana? Lubang WC?"
"Ah, apa kamu tidak mengerti yang namanya perasaan antara pria dan wanita? Ayolah Xiao Ran, umurmu sudah cukup untuk menikah tapi kau sama sekali tidak mengerti?"
"Aku masih 16." Bahkan di umur sebenarnya dia tidak tertarik atau mengetahui tentang hubungan pria dan wanita.
"Oh? Kalau begitu satu atau dua tahun lagi. Tapi setidaknya kamu harus tahu supaya di masa depan tidak ditertawakan."
"Kenapa ditertawakan? Menjadi lebih kuat adalah hal pertama. Jika kamu kuat, siapa yang berani menertawakan? Bahkan hidup sendiri dalam kenyamanan sudah cukup lebih baik." Xie Ran bicara enteng tanpa dosa. Itu memang mimpinya sejak lama tapi sulit diraih.
Mei Liena tidak pernah tahu apa benar-benar ada wanita lain yang memiliki pikiran tidak berperasaan seperti Xie Ran. Menurutnya, Xie Ran sangat kaku dan bodoh dalam hubungan. Pantas saja banyak musuhnya.
Sebenarnya, di mana gadis ini dilahirkan? Apa makanan ibunya ketika mengandung dulu?
Melihat Mei Liena yang heran, Xie Ran menghela napas. "Aku mengatakan realitas. Jika tidak kuat dan pintar, kamu tidak memiliki uang. Jika tidak memiliki uang, kamu akan kelaparan. Jika kelaparan, kamu akan mati. Hidup itu mahal. Untuk apa memikirkan hal tidak perlu?"
"Apa menurutmu hubungan itu tidak perlu? Bagaimana jika kau kesepian? Jika kau kuat, memiliki uang, dan makanan tapi hidup sendiri ribuan tahun. Bukankah menyedihkan?" Mei Liena tidak tahu ajaran dari mana perkataan Xie Ran.
Xie Ran berpikir sejenak selama beberapa saat. Wajahnya tetap acuh tak acuh selama memikirkannya kemudian melirik Mei Liena kembali dan dengan santai berkata, "Kalau bosan hidup ya ... bunuh diri."
Mei Liena ingin menangis dalam hatinya. Mengapa gadis ini sangat tidak berperasaan?
Sedangkan Xie Ran tidak tahu kalau perkataannya menyebabkan hati Mei Liena sakit memikirkan nasib Xie Ran. Ia hanya berpikir tentang masa lalunya yang bosan hidup dan muak akan dunia lalu berencana bunuh diri dengan baik dan elegan di bawah laut. Apa salah?