
(Potret Xie Ruo mode Dewi Naga)
Aku baru-baru ini mencoba gambar AI sendiri dan inilah hasilnya setelah beberapa kali percobaan. Meskipun mata naganya jadi oranye, tapi masih gapapa, lah. Sebenarnya ada dua lagi, tapi pakaiannya terlalu sexy 🤭
Jangan tanya karakter lainnya, karena aku sudah pusing akan hasil yang cacat, terutama karakter laki-laki. Kalau benar-benar ingin lihat gambarannya, aku sudah upload dari jauh hari di instagram aku @chintyaboo.
...----------------...
10.000 tahun kemudian ....
Benua Zhongbu berubah sedemikian rupa setelah ribuan tahun berlalu. Tanpa terasa, segalanya berlalu dalam sekejap mata. Kekaisaran yang sebelumnya hanya satu, kini terpecah belah menjadi beberapa negara yang saling bersaing dan berperang.
Semua peristiwa itu terukir dengan jelas dalam ingatan. Sosok wanita berdiri di puncak bukit sambil melihat beberapa bagian negara yang penuh dengan konflik. Wajar saja, zaman telah berubah.
Iris abu-abunya melihat dalam diam. Ia dapat mengetahui segala sesuatu yang terjadi di sana dimulai dari hal sepele sampai puncak. Namun tidak ada yang membuatnya tertarik selama bertahun-tahun.
"Dewi, seseorang datang berkunjung." Seorang wanita yang tampak masih muda membungkuk di belakangnya.
Wanita itu berbalik, melihat lawan bicaranya tanpa ekspresi. Wanita muda itu dibuat gugup akan sikap atasannya yang selalu berubah-ubah dan sulit ditebak.
Wanita berambut perak itu memandang langit dengan teduh, tampak ada rasa kesunyian di matanya. "Sudah 10.000 tahun berlalu, apa menurutmu, aku akan masih sama seperti hari itu?"
Wanita muda itu agak takut mendengarnya. Ia diam untuk beberapa saat, kemudian menjawab, "Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan berjalan, begitu pula perasaan, dewiku."
Wanita itu menghela napas panjang, tampak melemaskan bahunya. Ia terlihat lelah. "Aku memgantuk."
"Tapi ... seseorang datang berkunjung." Wanita muda itu berkata dengan ragu. Ia tidak terkejut akan perubahan sikap yang ekstrem seperti itu.
"Aku tahu, aku tahu ... aku akan menemuinya." Wanita itu berjalan dengan langkah tenang tanpa ekspresi yang terbentuk. Ia melangkah ke arah yang dituju dengan cepat.
Lokasinya saat ini adalah sebuah istana yang dibangun olehnya sendiri menggunakan kekuatan memori. Bila ia menginginkan sesuatu, keinginannya akan terwujud dengan sendirinya. Kecuali satu hal, kembali ke masa di mana ia sangat ingin waktu dihentikan.
Ia memasuki aula utama. Iris abu-abunya melihat sosok pria tua dengan janggut putih yang berdiri membelakanginya. Hanya dengan merasakan aura sosok itu, wanita itu tahu siapa yang datang berkunjung. Hanya saja, tidak ada rasa bersahabat di matanya.
"Xie Ruo memberi hormat pada Tetua Dewa."
Wanita itu adalah Xie Ruo. Ia sedikit melekukkan lututnya, kemudian kembali tegak dan melihat pria itu secara langsung.
"Ini adalah pertama kalinya aku menemuimu, aku penasaran apa aku begitu familiar di matamu?" Pria tua itu menanyakan hal tidak penting membuat Xie Ruo memutar bola mata dalam hatinya.
Sayangnya, Xie Ruo hanya bisa menampilkan senyum paksa. "Saat ini aku adalah Dewi Memori, apa yang tidak bisa aku ketahui?"
"Itu berarti kau tahu maksud kedatanganku?"
Ini adalah ujian. Xie Ruo diam untuk beberapa saat, lalu berkata, "Sebagai Dewi Memori, aku tahu tiap perasaan yang sedang dialami seseorang dan dapat merasakannya, kemungkinan juga bisa mengetahui isi pikiran dan hatinya. Menurut Tetua Dewa, apa aku mengetahui apa yang sedang Tetua Dewa pikirkan?" Xie Ruo malah bertanya balik.
"Itu hanya bisa diketahui oleh Dewi Memori sendiri." Tetua Dewa terkekeh. Sifat wanita itu persis seperti Dewa Naga yang blak-blakkan. Sekarang ia yakin, wanita itu tidak memiliki kesan baik terhadapnya.
"Karena Tetua Dewa telah datang berkunjung, tentu saja Dewi ini akan menyambut dengan baik. Apa Tetua Dewa ingin sedikit lebih lama di istana kecilku ini?"
Tetua Dewa awalnya mengangguk pelan membuat senyum Xie Ruo semakin lebar dan dipaksakan. Hingga akhirnya Tetua Dewa berkata, "Sebenarnya aku datang untuk melihat wanita yang dipilih cucuku. Apa kau tidak ingin kembali?"
Senyum paksa Xie Ruo pudar seketika. Itu adalah pertanyaan yang ia tunggu, tapi tidak tahu jawabannya. Selama 10.000 tahun hidup sendiri, semakin lama ia semakin terbiasa. Meski kadang ia merasa kesepian, ia menghibur diri dengan makanan gratis dan berkultivasi sampai gila. Memang tidak mudah.
Tapi di sisi lain, ia juga sangat merindukan mereka. Ia bahkan nyaris lupa bahwa ia memiliki dua anak kembar yang sangat imut. Serta orang yang ia cintai ... ia tidak ingin memikirkannya karena hal itu hanya akan membuatnya sangat sedih.
Melihat Xie Ruo yang hanya diam, Tetua Dewa mendekat. "Aku mengingatkanmu satu hal. Semua keputusan ada di tanganmu. Ketika kau pergi ke Dunia Dewa, kau hanya bisa mengambil salah satu identitas. Dewi Memori yang sekarang, atau Dewi Naga."
"Jika aku melepas salah satu identitas, apa gunanya aku yang sekarang? Apa gunanya semua usahaku bila pada akhirnya disia-siakan?"
Tetua Dewa justru tertawa karena ucapan Xie Ruo. "Kamu benar-benar wanita yang berambisi. Terlihat rapuh tapi sebenarnya keras, terlihat keras tapi sebenarnya rapuh. Xie Ruo, tidak segalanya bisa berjalan sesuai dengan harapan."
"Lalu bagaimana dengan perhitunganmu? Bukankah kau sudah tahu pada akhirnya aku hanya bisa mengalah?" Xie Ruo tidak menyembunyikan ketidaksenangannya lagi. Pria ini yang mempermainkan jiwanya dari satu dunia ke dunia lain lalu memperalatnya.
"Kau salah paham, Xie Ruo, kau salah paham. Ketika Qu Xuanzi memilih untuk kembali ke Tiga Dunia untukmu, segala perhitunganku sudah hancur."
"Lalu kau datang dengan dalih membantu?" Xie Ruo mendengus. "Maaf, tapi aku bisa melakukan segalanya sendiri. Aku tidak akan jatuh ke dalam skemamu lagi."
Tetua Dewa tidak terlihat tersinggung meski Xie Ruo dengan jelas menentang dan memusuhinya. Ia pikir itu pantas. Sangat wajar bila Xie Ruo tidak mempercayainya.
"Xie Ruo, apa kau tidak ingin kembali?"
Xie Ruo tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menunduk dalam diam, memikirkan semua yang telah ia saksikan selama ribuan tahun. Hanya melihat, namun tidak bisa melakukan apa pun.
Tetua Dewa menghela napas. Sudah pasti Xie Ruo akan keras kepala tidak mau menerima bantuannya. Ia juga tidak bisa mengatakan apa pun selain satu hal.
"Kekuatanmu sudah bisa mencapai tahap Dewi di Dunia Dewa, selamat."
Xie Ruo tidak terlihat senang. Ia masih tampak gelisah dan muram.
"Akan lebih baik bila aku tidak mengingatnya." Xie Ruo berkata dengan nada rendah.
Tetua Dewa menghela napas pasrah. "Baik."
Pria tua itu pergi setelah menyampaikan segala yang ingin ia sampaikan. Sisanya, Xie Ruo sudah mengetahuinya sendiri.
Saat ini, Xie Ruo seorang diri diam di tempat sambil memandang bintang yang bersinar melalui celah atap kaca yang menunjukkan luasnya langit malam.
Pada saat itulah, Xie Ruo bertekad tidak akan melepaskan salah satu identitasnya. Ia tetap akan menjadi Xie Ruo. Tidak peduli apa ia akan hilang ingatan atau tidak, tapi ia lebih suka bila ia kehilangan ingatannya. Ia tidak ingin mengingat 10.000 tahun terburuk dalam hidupnya.
Kesepian, kesepian, dan kesepian. Semua itu terasa horor baginya. Ia dipenuhi ketakutan ketika melihat anak-anaknya dalam bahaya, tapi tidak bisa melakukan apa pun. Ia sedih melihat putrinya terpuruk, tapi tidak bisa membujuknya. Ia sedih melihat segala yang terjadi pada dunia, tapi tidak bisa melakukan apa pun. Ia ingin melupakannya.
Saat ini, pikiran Xie Ruo terarah pada seseorang. Seseorang yang sangat ingin ia temui, tapi tidak bisa menghadapinya. Ia yang sekarang dipenuhi darah lebih banyak dari yang dulu, ia jauh lebih buruk sehingga tidak berani menemuinya. Sekarang, ia sangat merindukannya. Dengan meluapkan segalanya, ia bisa lari dari kenyataan dan kembali.
"Xuanzi, apa kau juga merindukanku?" Xie Ruo memandang bintang di langit dengan pandangan sendu. Kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum simpul. "Tunggu aku sebentar lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dunia Dewa terasa hening setiap saat. Terutama Istana utama yang begitu sepi dan sunyi, seolah tidak ada kehidupan.
Selama 10.000 tahun, para pelayan diarahkan hanya untui bersih-bersih dan merawat tanaman, tidak melakukan hal lain. Selama itu pula istana tidak kedatangan tamu ataupun dewa lain yang melintas sehingga suasana semakin sepi.
Di dalam ruangan khusus yang dipenuhi dengan rasa sunyi dan sejuk, sosok wanita terbaring di atas tempat tidur tunggal dalam diam. Wanita cantik itu terlihat tengah tertidur pulas. Tapi semua orang tahu, bahwa ia sebenarnya bukanlah tidur biasa. Tidurnya yang panjang nyaris dilupakan banyak orang.
Cahaya perak jatuh dari langit ke tubuhnya bagai jiwa yang merasuk. Tubuhnya dilingkupi cahaya perak samar, namun kulit pucatnya tetap tertahan tanpa perubahan. Cahaya perak yang masuk mulai menyebar, kemudian memperbaiki bagian internal tubuh yang terlalu lama membeku.
Detik berikutnya, semburat merah mulai terlihat menunjukkan vitalitas kehidupan di wajah cantiknya. Bulu mata panjangnya bergerak mengikuti pergerakan kelopak mata. Kelopak mata indah itu terangkat perlahan, menunjukkan iris biru cerah yang selama ini ditunggu-tunggu.
Ketika matanya terbuka sempurna, ia diam untuk beberapa saat memperhatika langit-langit di atas kepalanya. Iris birunya sama sekali tidak bergerak, seolah merasakan kejutan luar biasa yang membuat napasnya memburu.
Pikirannya kosong sesaat. Ia mencoba menggerakkan tubuh yang terlalu kaku. Dimulai dari jari-jarinya yang membunyikan suara retakan. Kemudian melekukkan telapak tangannya dan mengangkat kedua tangannya ke depan mata. Ia melihat kedua tangannya dengan bingung.
Tidak tahu apa yang dipikirkannya, ia menggerakkan kakinya perlahan dan mengangkat tubuhnya. Kepalanya sedikit diputar untui diregangkan. Suara tulang yang bergeser terus terdengar, sedangkan ia menahan rasa sakit pada tulangnya yang kaku. Benar-benar menyebalkan.
Ia duduk di tepi tempat tidur, melihat ruangan sunyi dengan linglung. Ia tidak tahu di mana ia berada, kesunyian itu masih meneror membuatnya takut.
Ia beranjak dari tempat tidur, berjalan keluar ruangan. Ia mendapati air mancur disertai kolam besar di depan ruangannya, kemudian menghampiri air mancur tersebut. Ia melihat pantulannya dalam air. Sosok itu adalah sosok yang dikenalnya, tapi ia merasa aneh. Ia tertidur terlalu lama sampai merasa tidak tahu apa pun.
Ia melihat ke arah pantulan air mancur yang menunjukkan sosok dirinya. Ketika memperhatikan lebib jelas, ia agak terkejut melihat sosok lain tiba-tiba muncul dalam pantulan air mancur hingga membuatnya spontan berbalik.
Tatapannya bertemu dengan iris emas yang tampak menawan dan dingin. Rasa dingin itu berubah menjadi kejutan. Ia bingung untuk sesaat dan mengerutkan kening. Ia merasa familiar dengan sosok di depannya, tapi merasa sulit mengingatnya. Ia seperti pernah melihatnya dalam mimpi panjang itu.
"Ruoruo?" Qu Xuanzi yang hadir tepat di depan Xie Ruo sangat terkejut. Ia langsung menghampiri dan akan meraihnya, namun wanita itu justru mundur sampai nyaris jatuh ke kolam seolah takut padanya.
"Siapa kau?" Wanita itu terlihat sangat terkejut. Ia berlari kecil ke balik kolam untuk bersembunyi, kemudian melihat Qu Xuanzi dengan tatapan waspada.
Qu Xuanzi agak kecewa menyadari Xie Ruo tidak mengingatnya. Wajar saja, 10.000 tahun bukan waktu yang sebentar. Ia tetap sabar menghadapi Xie Ruo yang kini memandangnya dengan asing.
"Jangan takut, tidak akan ada yang melukaimu lagi." Qu Xuanzi mencoba mendekat, namun Xie Ruo justru semakin mundur menjauhinya.
"Apa maksudmu? Siapa yang melukaiku?" Xie Ruo terus mundur sampai punggungnya menabrak dinding.
Qu Xuanzi menghentikan langkahnya, kemudian menunduk. "Maaf, aku yang melukaimu sampai seperti ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu, aku sangat minta maaf. Tapi aku senang, kamu kembali hidup. Tak apa kau tidak mengingatku, aku senang dapat melihatmu baik-baik saja."
Xie Ruo terdiam. Ia dapat merasakan emosi besar yang mempengaruhi perasaannya. Pria di depannya sangat sedih, dia mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Itu membuat Xie Ruo menurunkan kewaspadaannya dan melunak.
Ia melangkah mendekati Qu Xuanzi yang tertunduk dalam diam. Tidak tahu dorongan dari mana, tangan Xie Ruo menyentuh rahang pria itu dan mengusapnya dengan lembut. Ketika menyentuhnya, emosi itu semakin terasa dan membuat Xie Ruo emosional.
"Bukan salahmu ...." Xie Ruo berkata dengan nada serak.
Ketika menyentuhnya, ada banyak kenangan yang terlintas di pikirannya hingga air mata menetes dari tempatnya. Ia memandang iris emas itu dengan rasa rindu yang dalam.
"Bukan salahmu ... Xuanzi." Xie Ruo akhirnya menyebut nama itu setelah lama merasa kelu. Dalam sekejap, ingatan itu kembali. Meski berakhir di mana ia mengalami kematian 10.000 tahun yang lalu, ia sudah sangat senang. Itulah yang ia inginkan.
Qu Xuanzi langsung membawa Xie Ruo ke dalam pelukannya. Ia memeluk wanitanya dengan sangat erat, seolah bila diregangkan sedikit, ia akan kembali kehilangan. Rasa rindu dan kehilangan yang dalam kini telah terlunaskan.
"Aku merindukanmu." Qu Xuanzi sangat merindukannya. Ada saat ia merasa putus asa ketika melihat Xie Ruo tidak kunjung bangun. Ia sangat frustrasi dan terlarut dalam kesedihan selama ribuan tahun.
"Aku lebih merindukanmu." Xie Ruo tidak bisa menahan air mata kebahagiaan yang menerobos. Ia merasa sangat kosong sebelumnya dan tidak mengetahui apa pun. Ia sangat ketakutan sebelum Qu Xuanzi datang. Qu Xuanzi adalah penyelamatnya.
Pasangan yang sebelumnya terpisah oleh kematian, kini bersatu kembali oleh waktu. Tidak akan ada yang bisa menghancurkan mereka, tidak ada yang bisa, meski itu adalah dewa terkuat sekalipun.
...----------------...
Hiks, aku terhura. Akhirnya sampai di akhir, aku speechless sama diri sendiri. #lebay
Cukup sampai di sini, kalau ada yang mau aku buatkan extra chapter tentang Isabella dan Sean di Dunia Modern seperti pertemuan pertama mereka (secara resmi) sampai menjalin hubungan, aku akan buatkan mulai besok.
Sekian, terima kasih..