
Qu Xuanzi dan Xie Ruo kembali ke Dunia Atas untuk menyelesaikan masalah yang tersisa. Sudah beberapa hari sejak Xie Ruo memulihkan diri, Qu Xuanzi sama sekali tidak mau pergi meninggalkannya sendiri meski berada dalam wilayah Dewi Bumi.
Mereka tiba di Dunia Atas untuk melihat akibat dari kekacauan yang sebelumnya terjadi. Korban di mana-mana, kerusakan di mana-mana. Mereka belum sampai di istana, sudah dihadapkan dengan kekacauan perang yang penuh aura kematian.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya sehingga tidak ada keterkejutan di mata Qu Xuanzi. Kekacauan ini bukan apa-apa dibandingkan ketika ia menemukan Dunia Atas yang tersegel.
Sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika kegagalan Dewa Iblis dalam membawa Xie Ruo ke geggamannya, para iblis itu sudah mendapat sinyal berbahaya dan pergi bersembunyi dalam kegelapan. Para dewa sudah mencari mereka selama berhari-hari dan berhasil mengeksekusi beberapa iblis, namun ada pula iblis yang berhasil kabur atau bersembunyi tanpa bisa ditemukan.
Dalam waktu singkat, mereka sampai di istana. Dewi Kehidupan, Xiao Caihong, dan Long Long telah menunggu lama dalam kebingungan. Melihat kehadiran Qu Xuanzi dan Xie Ruo dalam keadaan utuh dan baik-baik saja, mereka semua akhirnya bisa bernapas lega dan melampiaskan semua rasa lelah.
Dewi Kehidupan segera menghampiri, melihat Xie Ruo dengan teliti sambil memasang wajah menyedihkan. Pandangannya teralih pada sosok kecil dalam gendongan Xie Ruo, ia terkejut.
Seingatnya, bukan saatnya Xie Ruo melahirkan. Ia melihat Qu Xuanzi, serta bayi dalam gendongannya. Rautnya menjadi rumit. Ia tidak tahu ingin senang atau sedih.
"Xie Ruo, kau sudah banyak menderita ...." Dewi Kehidupan memilih emosi sedih beepikir ia tidak bisa menjaga Xie Ruo dengan baik sampai terhadi hal tidak terduga. Jika ia bisa lebih kuat dan menemani Xie Ruo pergi, Xie Ruo tidak akan mengalami hari yang menyakitkan. Berpikir bahwa Xie Ruo melahirkan sebelum waktunya, itu terlalu menantang nyawa.
Xiao Caihong tidak peduli bagaimana reaksi Dewi Kehidupan. Ia langsung terbang ke bahu Xie Ruo dan menggulung tubuhnya untuk rebahan. Melihat sepasang mata biru milik bayi kecil di pelukan ibunya, ia tampak bingung sesaat.
Melihat Dewi Kehidupan yang sulit berkata-kata, Xie Ruo terbatuk untuk meringankan suasana. "Apa semua sudah terkendali dengan baik?"
"Ya ...." Pandangan Dewi Kehidupan terarah pada Qu Xuanzi. Ia merasa seperti sedang bermimpi melihat pria dingin yang seperti gunung es itu menggendong bayi mungil yang rapuh. Sulit digambarkan dengan kata-kata. Tapi sekarang bukan saatnya memikirkan hal lain. "Para iblis sudah pergi beberapa hari yang lalu. Dewi ini juga telah mendapat surat dari dewa utama di perbatasan bahwa pembatas alam akan selesai besok."
"Aku akan pergi besok." Qu Xuanzi sebenarnya tidak terlalu memikirkan kapan pembatas alam akan selesai.
Karena Dewa Iblis telah menyatakan perang di Dunia Tengah, ia sudah meminta Naga Azure untuk mempersiapkan segalanya. Para dewa akan dikumpulkan di perbatasan, baik pembatas alam selesai atau tidak. Jika pembatas alam selesai, itu lebih baik lagi, karena iblis tidak akan sembarangan menyusup lagi seperti sebelumnya.
"Aku akan ikut." Xie Ruo melirik Qu Xuanzi, lalu memberi alasannya ikut serta. "Aku ingin lihat lokasi kematian Dewi Cahaya, sekalian memikirkan apa saja yang bisa aku bantu."
"Kita akan pergi bersama." Kali ini Qu Xuanzi tidak melarang.
"Baik."
"Omong-omong, aku tidak dikenalkan pada anggota baru kita, aku sangat sedih." Dewi Kehidupan memasang wajah cemberut. Kenapa pasangan itu malah mengabaikannya?
Xie Ruo menjawab dengan tenang. "Kalau begitu, aku akan mengenalkannya. Namanya Qu Fengxiao, atau Xiao Xiao." Kemudian Xie Ruo menunjuk ke arah bayi yang digendong Qu Xuanzi. "Dia Qu Fengxiu."
Dewi Cahaya berdiri di depan Qu Xuanzi untuk melihat Qu Fengxiu lebih dekat. Melihat wajahnya membuatnya gemas, sangat mungil dan polos. Ia merasa ingin mencubitnya sekarang!
"Ah, dia sangat mirip denganmu!" Dewi Kehidupan kegirangan melihat visual halus dan manis makhluk kecil di depannya.
"Kau tidak pernah melihatku ketika kecil." Qu Xuanzi menyangkal.
Dewi Kehidupan meliriknya dengan jengkel. "Ibumu memberi ingatannya padaku, tentu aku tahu!" Wajah jengkelnya berubah menjadi senyum lebar begitu melihat Qu Fengxiu yang masih asik tidur. Ia mengangkat tangannya untuk menyntuh bocah itu. "Lihatlah dengan baik, dia sangat tampan dan imut! Aku menyukainya! Kedepannya, aku dapat meramalkan bahwa dia akan menjadi lebih populer dibanding ayahnya ...."
Ucapan Dewi Kehidupan terhenti begitu melihat bocah kecil itu membuka mata. Mata merahnya yang terlihat seperti darah mengejutkan Dewi Kehidupan, memaksa wanita itu menarik kembali tangannya dengan perasaan dingin di punggung. Ia baru tahu, seorang bayi memiliki tatapan setajam itu.
Dalam sekejap, Dewi Kehidupan pindah haluan ke arah Qu Fengxiao sambil memuji-mujinya setinggi langit.
"Xiao Xiao, ayo main dengan nenek~" Dewi Kehidupan tertawa gembira seperti idiot. "Fufu, aku suka yang ramah dan manis. Tidak seperti seseorang yang lebih suka mengundang permusuhan."
Qu Xuanzi disindir, begitu pula putranya yang baru bangun dan tidak tahu apa yang terjadi. Bocah itu bahkan terkejut karena suara menyeramkan yang mengganggu tidurnya.
"Ruoruo, akan lebih baik jika kau istirahat sekarang." Qu Xuanzi langsung menuntun tangan Xie Ruo untuk pergi dari dewi aneh dan tidak waras tersebut.
Long Long menghela napas pasrah, bahunya jatuh seketika. "Begitu sulit ...."
༺༻
Sampai di kamar, Xie Ruo meletakkan putri kecilnya di atas tempat tidur. Ia meminta pelayan untuk menyiapkan tempat tidur si kecil yang sebelumnya telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Awalnya akan dikeluarkan dari gudang sebelum kelahiran si kembar, namun kelahiran mereka terlalu cepat sehingga para pelayan harus terburu-buru mengambilnya.
Sebelumnya, Qu Xuanzi menyerahkan putranya ke Dewi Kehidupan untuk dibawa bersama Xie Ruo karena harus pergi ke ruangannya terlebih dahulu. Setelah Dewi Kehidupan pergi untuk memberi Xie Ruo privasi, barulah Xie Ruo bisa tenang membebaskan segala beban pikirannya.
Long Long muncul sambil merajuk dan terus menggerutu mengutuki Dewi Kehidupan yang tidak tahu malu. Xie Ruo tidak bisa membantu, hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Long Long yang kekanakan.
"Ada kabar dari Long Huo?" Xie Ruo menanyakan hal serius. Ia telah mengirim tiga naga itu untuk pergi ke Benua Lava memberi kabar perang. Berdasarkan hitungannya, dengan kecepatan mereka, seharusnya mereka sudah sampai.
"Yaa, baru saja mereka memberitahu bahwa mereka baru saja sampai di Benua Lava dan senang berunding dengan naga lainnya. Long Ying pergi ke laut untuk mengumpulkan bangsa laut sebagai bala bantuan perang. Kemungkinan besar, mereka semua akan sampai beberapa hari lagi setelah perundingan selesai. Ini akan memakan waku sangat banyak."
Xie Ruo mengangguk paham. "Selama itu, pasukan manusia harus bisa bertahan. Ras iblis sangat banyak dan kuat, meski ras di dunia bergabung, tidak akan bisa mengubah keadaan terlalu banyak. Ras dewa hanya akan datang di akhir perang sebagai penentuan, sebisa mungkin agar tidak terlalu banyak korban di pihak kita sampai waktunya tiba."
"Aku betemu kepala terbang itu kemarin, berkata bahwa posisi Zhong Xiaorong di kekaisaran memburuk dan dikabarkan menghilang. Kekaisaran dalam kekacauan besar, Dewa Iblis sudah sepenuhnya bergerak dan akan menginvansi Dunia Tengah secara keseluruhan."
"Bagaimana dengan Klan Xie?"
"Klan Xie saat ini telah selesai membangun jalan rahasia yang disamarkan oleh formasi sesuai rencanamu. Mereka akan datang ke medan perang sesuai rencana untuk membalikkan keadaan. Dengan kekuatan klan saat ini, ditambah bantuan Sekte Bayangan Malam, tidak akan mustahil."
"Kalau begitu, ini adalah kabar baik. Besok aku akan pergi ke perbatasan untuk melihat persiapan, kau dan Xiao Caihong di sini menjaga mereka." Xie Ruo melihat dua anaknya yang masih bergulat masing-masing dengan buntalan yang terlepas.
Qu Fengxiu terlihat sangat tenang dan malas seperti kekurangan energi, berbeda dengan Qu Fengxiao yang tendang sana sini. Anak-anak itu ... sudah menunjukkan karakter masing-masing sejak dini.
"Nyonya, apa ras ular tidak ikut berperang?" Long Long tiba-tiba bertanya demikian.
Xie Ruo melirik Xiao Caihong kecil yang rebahan di bahunya dengan tenang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Ras ular, ya."
Jika ras ular juga ikut, bukankah akan menjadi bantuan tambahan yang menguntungkan? Meski kebanyakan ras ular tidak peduli dan lebih suka mencari masalah di mana-mana, mereka bisa diandalkan ketika dalam pertempuran dan menjadi bagian terpenting dalam pertarungan kelompok.
Sesuatu terlintas di benak Xie Ruo. Sudut bibirnya terangkat membuat Long Long di dekatnya merasa, bahwa tuannya telah memiliki rencana baru yang tidak biasa.
"Long Long, bisakah aku meminta bantuanmu untuk hari ini?" Xie Ruo memandang makhluk mungil itu dengan penuh pertimbangan.
Long Long langsung terkesiap menerima perintah
"Pergilah ke Gunung Wu untuk bertemu Phyton Hijau yang saat ini memimpin. Untuk selanjutnya, kau akan tahu dengan sendirinya."
"Phyton Hijau!" Long Long terkejut.
Xie Ruo mungkin tidak tahu, Long Long memiliki banyak konflik dengan ular jenis Phyton Hijau. Terutama pemimpin Phyton Hijau, wanita ular yang sering menggoda Long Long untuk meracuninya dengan kejam.
Memikirkannya, Long Long merinding sendiri.
"Kenapa? Tidak mau?" Xie Ruo memandangnya dengan tatapan jika-membantah-maka-akan-dihukum!
Long Long mau tidak mau harus setuju, meski dengan setengah hati. Tak apa, ia hanya perlu datang, melempar surat, lalu pergi sambil menjulurkan lidah.
Sayangnya, ketika Long Long memikirkan rencananya adalah yang terbaik dan tak akan gagal, ia tidak tahu bahwa pihak lain tidak akan semudah itu melepaskannya.