The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
31. Jadilah Pacarku



Sekolah Shenyang, Shenyang, China.


Seorang gadis cantik duduk dalam kelas dengan buku di tangannya. Pandangannya dingin menunjukkan kesepian dan ketidakpedulian, rambut cokelat panjangnya tergerai di bahu beserta pita kecil di kepalanya.


Namanya tertulis di seragam sekolah bertuliskan 'Li Xiaoran'. Tidak, itu bukan nama aslinya. Ia memiliki sangat banyak nama sehingga tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Ia adalah Isabella muda. Umurnya baru 15 tahun dan memasuki sekolah di Shenyang tahun ke-2 untuk sebuah tugas penting.


Ketika tengah merasa tenang membaca sebelum melakukan tindakan, sebuah botol susu strawberry mendarat di mejanya dari tangan seorang pria. Dia mendongak, melihat pria tampan yang baru saja berlalu setelah memberinya susu kotak.


Dia mengambilnya dan melihat susu dalam botol pink tersebut. Dia tersenyum kecut. "Sayangnya rasa strawberry." Dia lebih suka susu cokelat. Tapi karena niat baik sang ketua kelas, lebih baik diterima daripada dibuang.


Sedangkan sang ketua kelas pergi ke teman-temannya mulai digoda.


"Wah, dia mengambilnya. Guofeng, kau hebat!" seru salah satu temannya memukul pundaknya sambil cekikikan.


"Kau terus mendekatinya, tapi sepertinya Xiao Ran sama sekali tidak tahu. Cepat buat dia menyadarinya!"


"Atau dia akan direbut pria lain!"


Pria yang ternyata Zhong Guofeng hanya menanggapi mereka dengan dengusan. Teman-temannya ini selalu saja mencari alasan untuk menggodanya.


Sedangkan gadis yang dibicarakan hanya menikmati susu dengan suasana hati baik. Akhirnya dapat susu gratisan ketika sedang haus.


Setelah guru datang, semua murid langsung pergi ke kursi masing-masing dan melanjutkan kelas.


Makan siang telah tiba, di kantin, Isabella membawakan susu strawberry yang sama ke meja Zhong Guofeng begitu saja membuat pria itu menatapnya bingung.


"Aku tidak suka berhutang, maka aku sudah  membayarnya." Ia baru saja akan pergi, Zhong Guofeng segera menghentikannya.


"Tunggu! Kau tidak perlu mengembalikannya."


Isabella menatapnya datar. "Bagiku ini adalah  hutang. Aku harus membayarnya."


Teman-teman Zhong Guofeng yang mendengarkan pembicaraan mereka saling tatap. Dalam hati mereka tertawa, betapa tidak peka Li Xiaoran itu untuk mengerti niat bos mereka.


Sedangkan Zhong Guofeng hanya tersenyum kecut menyadari dirinya menyukai gadis yang lebih tidak peka daripada yang tidak peka sekalipun. Tapi tak apa, dia masih memiliki dada yang sangat lapang.


"Apa kamu tidak mengerti? Jika seseorang  memberimu sesuatu, maka kamu harus membayarnya dengan yang lebih baik."


"Bukankah konyol?" Isabella merasa perkataannya sangat konyol. Jika seseorang  memberinya sesuatu, maka yang benar dia harus membayar harga yang sama. Itu sebabnya dia membeli persis seperti sebelumnya.


"Seperti kebaikan dibalas air susu."


"Bukankah mata dibalas mata?" Isabella merasa pria ini sangat bodoh. Mengapa dia harus menjadi ketua kelas?


"Ini istilah lain." Zhong Guofeng tidak merasa salah. Dia tetap percaya diri di depan Isabella meski gadis itu menatapnya bodoh.


Sang Ran hanya bisa menahan emosi jauh di lubuk hatinya. Ingin sekali dia menjadikan pria ini samsak tinju, tapi dia harus menahan setidaknya untuk saat ini.


Pada akhirnya, gadis itu mengalah. "Katakan apa yang kau mau. Aku akan membelinya."


Zhong Guofeng tersenyum samar dan meraih lengan Isabella. "Ikut aku."


Isabella hanya mengikuti. Dia tidak peduli apa yang ingin dibeli pria ini, yang penting dirinya tidak kehabisan uang. Setelah misi ini selesai, dia benar-benar akan menjadikan pria ini samsak tinju untuk balas dendam.


Sampai di taman sekolah, Isabella masih dengan wajah malasnya dan mengantuk. Dia kurang tidur tadi malam karena harus menyelinap ke sekolah ini untuk mengambil sesuatu. Ditambah dia melupakan earpods yang tertinggal di kelas.


"Sekarang katakan dengan jelas, apa maumu!" Entah kenapa Isabella merasa gelisah dan ingin terburu-buru pergi.


Bukan karena Zhong Guofeng, tapi karena seseorang di kejauhan yang tiba-tiba datang membuatnya harus cepat-cepat kembali ke dalam.


"Kau benar akan mengabulkan?"


"Ya!"


"Janji?


"Ya!" Sekaligus membunuhnya. Isabella sudah sangat kesal sekarang.


Zhong Guofeng tersenyum lebar, senyum yang jarang dia tunjukkan. Namun bagi Isabella itu hal biasa karena pria ini sering tersenyum aneh padanya. Bahkan dia pikir otak Zhong Guofeng bermasalah.


"Li Xiaoran, jadilah pacarku."


Isabella menatapnya kosong. Apa ini pernyataan perasaan seperti dalam film? Ah, ia tidak percaya. Dia pasti sedang mempermainkannya dan membuat video untuk mempermalukannya. Memikirkannya saja membuat Isabella kesal.


"Kau memberiku susu yang tidak kusukai dan memintaku untuk menjadi pacarmu, bukankah itu tidak sepadan?" Isabella bersedekap dada.


"Aku bisa memberimu apa pun."


"Aku tidak kekurangan uang." Isabella menolak dengan tegas.


"Kalau begitu, kau kekurangan satu hal. Teman."


Isabella menatapnya dengan mata menyipit. "Aku tidak membutuhkan teman."


"Maka dari itu, aku tidak berniat menjadikanmu teman. Aku menyukaimu, aku ingin menjadi pacarmu. Melihatmu murung dan kesepian setiap hari, aku tahu kau memiliki banyak beban di pundak. Aku ingin kau membaginya denganku."


Isabella hanya diam menatapnya tidak percaya. Membagikan beban? Apa semudah itu? Bebannya dengan beban murid biasa bukan sesuatu yang dapat disamakan.


Jika dia mengatakan yang sebenarnya, pria itu akan meninggalkannya karena takut. Apalagi target Isabella kali ini adalah Ayah Zhong Guofeng, pemilik sekolah ini sekaligus seorang politikus.


"Tidak."


Zhong Guofeng bukannya kecewa malah terkekeh. "Kau sudah berjanji. Apa kau akan mengingkari janjimu sendiri?"


"Aku tipe pengingkar janji." Isabella berbohong. Dia bukan tipe pengingkar janji, tapi dia bisa membayarnya dengan hal lain. Seperti mengakhiri kontrak dengan membunuh contohnya.


"Lalu aku adalah tipe pemaksa."


"Kau mencari kematianmu sendiri." Isabella tidak ingin apapun lagi selain membunuhnya.


"Aku akan rela jika mati di tanganmu."


Wajah Isabella semakin menggelap dengan candaan tidak lucu pria itu. "Idiot."


Isabella melihat kembali ke arah seorang pria dengan topi hitam yang menutupi wajahnya. Dia harus melaksanakan rencana sekarang dan mengabaikan idiot ini.


Ketika Isabella akan pergi, Zhong Guofeng menarik lengannya dan jatuh ke dekapannya.


"Zhong Guofeng!" Isabella terkejut. Iris hitamnya bertemu dengan tatapan teduh Zhong Guofeng yang berjarak 5 cm.


"Mulai sekarang kau pacarku, terserah bagaimana kau menganggapku. Kau sudah berjanji." Pria itu menampilkan senyum miring.


"Zhong Guofeng," panggil Isabella menyentuh dua bahunya dengan lembut membuat pria itu tersenyum. Namun senyum Isabella yang ditunjukkan adalah senyum mengerikan. "Kamu mengatakan dapat memberikan apa pun?"


Zhong Guofeng mengangguk. Suasana hatinya sedang baik apalagi ketika Isabella menyentuhnya.


"Kau rela jika mati di tanganku?"


Zhong Guofeng mengangguk sekali lagi. Tingkat bucinnya sudah menjuara sepertinya.


"Baiklah." Isabella menekan bahunya dengan keras dan mencengkeramnya hingga Zhong Guofeng mengaduh kesakitan. Tapi bukannya melepas pelukan, dia semakin mempereratnya membuat Sang Ran memaki dalam hati.


"Ran'er, kau sangat kejam."


"Bodoh!" umpat Isabella dan menginjak kaki Zhong Guofeng dengan keras.


Injakanya bukan main-main. Jika dia perempuan pada umumnya, Zhong Guofeng tidak akan terlalu terpengaruh meski merasa nyeri. Tapi Isabella dilatih sejak kecil hingga kekuatannya berada di atas rata-rata wanita sehingga injakan itu terasa seperti tertimpa palu.


Zhong Guofeng mengaduh kesakitan dan melepas pelukannya sehingga Isabella dapat bebas kembali. Ia masih berbelas kasih untuk tidak menendang bagian sensitifnya sekarang. Atau pria itu akan mati konyol saat ini juga.


Melihat kembali pria bertopi hitam yang sudah tidak ada, Isabella segera pergi setelah  memperingati pria itu.


"Jika kau macam-macam, aku akan melakukan yang lebih buruk!" Setelah itu dia pergi mengabaikan Zhong Guofeng yang memasang wajah kecut. Dia dianiaya dua kali oleh seorang gadis!


Setelah hari itu, Isabella menjadikannya samsak tinju di ekstrakurikuler judo. Semua anggota judo hanya bisa menelan ludah melihat betapa sadis gadis satu ini. Terlihat lemah dan rapuh seolah tersenggol saja akan jatuh, tapi siapa sangka dia mengalahkan Zhong Guofeng berkali-kali dengan sadis dan memalukan.


Setelah kejadian memilukan itu, tidak ada yang berani menantangnya. Sedangkan Isabella terus menunjuk Zhong Guofeng untuk menjadi lawannya. Mereka sudah berpikir bahwa gadis cantik ini memiliki dendam kesumat pada Zhong Guofeng.


Sedangkan pria itu masih menganggap bahwa Isabella adalah pacarnya dan rela dipukuli setiap hari. Kondisi itu telah menyebar dengan cepat di sekolah.


Namun setelah beberapa bulan, Zhong Guofeng tidak terlihat lagi di sekolah. Awalnya Isabella merasa senang mendengar pria itu telah pindah ke luar negeri, tapi dia kehilangan samsak tinjunya untuk melampiaskan amarah sehingga anggota lain yang kena sasarannya.


Sang Ran tidak begitu memperhatikan Zhong Guofeng sebenarnya, dia hanya fokus pada misinya. Alasan mengapa Zhong Guofeng pergi ke luar negeri bersama keluarganya adalah ancaman Red Room. Isabella juga telah mengambil tindakan sehari sebelum keberangkatan membuat mereka pergi mendadak.


Misi ini menjadi lebih panjang karena mereka pindah ke Amsterdam. Isabella juga pergi, bertemu dengan Zhong Guofeng lagi tanpa sadar di alun-alun. Tapi Zhong Guofeng hanya bisa melihat karena Sang Ran bersama dengan rekan-rekannya yang menyeramkan.


Setelah saat itu, Sang Ran membantai mereka menyisakan Zhong Guofeng yang ada di luar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menceritakan pengalaman itu pada dua Naga dan Qu Xuanzi, Xie Ran sedikit khawatir kalau Zhong Guofeng berniat balas dendam padanya. Masalahnya kekuatannya saat ini masih rendah dan posisinya tidak memungkinkan. Jika dia ada di dunia modern, dia tidak perlu takut.


Sedangkan dua Naga yang sejak tadi mendengarkan hanya bisa diam tidak berani berkomentar. Mereka takut jika mengatakan sesuatu akan membangkitkan suasana dingin dari Qu Xuanzi yang sejak tadi memiliki wajah gelap.


Bahkan mood-nya masih tidak membaik sampai Xie Ran menerima uang dari Nyonya Hu. Tapi ketika melihat Xie Ran, pria itu hangat kembali. Memang labil.


"Belum tentu itu dia. Meski kamu dari dunia modern, bukan berarti Zhong Guofeng juga memiliki kondisi sepertimu." Ucapan Qu Xuanzi membuat Xie Ran tenang kembali.


Tapi mengingat sikap pria itu sebelumnya ketika minum teh di Istana, Xie Ran kembali gelisah. "Dia bersikap sama seperti di sekolah sebelumnya. Apa dia akan balas dendam dan menjadikanku samsak tinju?"


"Tidak akan." Qu Xuanzi tahu dengan jelas bahwa pria itu tidak berniat mencelakai Xie Ran. Melainkan memiliki minat pada Xie Ran untuk menjadikannya permaisuri atau selir di Istana. Itu yang membuatnya kesal.


"Sudahlah, meskipun dia ingin mencelakaiku, kau juga akan menyelamatkanku." Xie Ran percaya sepenuhnya pada Qu Xuanzi. Dia tidak perlu takut lagi karena ada Qu Xuanzi dan dua Naga. Belum lagi jika Xiao Caihong menjadi ular besar yang menakutkan.


"Master, aku pikir kondisi Master adalah paling khusus. Mungkin Kaisar Zhong hanya kebetulan mirip saja dengan Zhong Guofeng yang Master maksud." Long Huo akhirnya berpendapat serta diangguki oleh Long Yun.


"Benar, lagi pula aku tidak peduli." Xie Ran menopang dagunya di meja.


Sejak masuk ke istana, dia terus memperhatikan gerak-gerik Kaisar itu. Tapi Kaisar itu memang terlihat baru melihatnya sekali. Sampai pada akhirnya pergi dari istana dan kembali ke penginapan, Kaisar itu tidak memiliki reaksi lain selain bersikap datar sekaligus ramah seperti Zhong Guofeng dulu. Xie Ran tidak perlu memikirkannya lagi.


"Sekarang, saatnya bersiap pergi ke Akademi Tianshang." Xie Ran tersenyum miring melihat lencana yang diberi Zhong Guofeng untuknya memasuki Akademi Tianshang sebagai murid baru.


"Master, aku pernah sekali lewat Akademi Tianshang ketika sedang bosan. Di sana terdapat sebuah pagoda yang lebih besar dan penuh qi dibandingkan pagoda teratai Klan Xie. Aku menebak, pagoda itu memiliki harta luar biasa yang bagus untuk kultivasi. Orang biasa tidak diperbolehkan masuk dan termasuk wilayah terlarang."


Long Yun tiba-tiba teringat akan hal itu dan langsung menjelaskan. Sayangnya saat itu dia tidak terlalu tertarik sehingga tidak melanjutkan penyelidikan.


"Apa semua pagoda adalah tempat sakral?" Xie Ran heran. Mengapa tiap pagoda yang ia temui selalu merupakan tempat harta karun dan terlarang? Apa tidak ada tempat lain?


"Master, pagoda ini lebih istimewa dibandingkan pagoda lainnya dan merupakan bentuk pondasi Akademi Tianshang. Namanya adalah Pagoda Kaca. Seperti namanya, didalamnya penuh dengan kaca sehingga mudah tersesat. Itu sebabnya tidak diperbolehkan sembarang masuk. Konon katanya, ada monster penjaga yang berhibernasi di bawah pagoda yang berada tepat di atas danau sebagai pusat Akademi Tianshang."


"Monster? .... Ular atau Naga? Hiu? Paus? Kraken? Mosasaurus?" Xie Ran langsung menyebutkan beberapa kemungkinan hewan yang tinggal di air. Bahkan dinosaurus dan hewan mitologi ia sebut.


"Entahlah, tidak ada yang pernah melihat bagaimana monster itu. Tapi katanya, pagoda kaca telah diberi berkah oleh Dewa Laut atas kehadiran Naga Laut." Long Yun terlihat ragu.


"Naga Laut sudah mati! Yang benar saja. Aku sendiri yang melihatnya." Long Huo tidak setuju.


Naga Laut adalah yang terkuat di Lautan sekaligus penguasa lautan selama Dewa Laut tidak ada. Naga itu telah mati di tangan Hydra ribuan tahun yang lalu sehingga lautan menjadi daerah kekuasaan Hydra.


Melihat sikap Long Huo, dia langsung memukul kepalanya. "Hei, aku hanya mendengar dongeng itu dari manusia. Memangnya kau pikir aku percaya? Paling tidak mereka hanya menyimpan fosilnya saja."


"Fosil?"


Lihatlah Naga kuno ini. Long Yun benar-benar kesal pada Naga di sebelahnya yang terlalu kuno. "Sisa peninggalan makhluk purba seperti tulang. Aku mendapatkannya dari buku Master di perpustakaan."


"Kau bisa membaca tulisan modern?" Long Huo terpana. Naga langit memang tidak ada tandingannya!


"Aku menyerap isinya."


"Apa kalian akan berdebat di sini?" Xie Ran sudah kesal dengan perdebatan dua Naga aneh. Apa mereka benar-benar Naga? Sama sekali tidak mencerminkan seekor Naga yang berwibawa tinggi.


Sayangnya Xie Ran tidak sadar bahwa dua Naga itu telah terkontaminasi oleh Master sendiri sehingga melupakan keagungan mereka.


"Master, kapan kau akan pergi?" Long Huo mengabaikan Long Yun yang pamer dan kembali serius.


Setelah berhasil menenangkan diri, Xie Ran menjawabnya dengan tenang, "Besok. Tapi perjalanan kali ini akan memakan waktu sebulan. Aku tidak memiliki banyak waktu tersisa." Kemudian dia melirik dua Naga bergantian dengan seringaian khasnya.


Dua Naga itu merasakan firasat buruk. Sepertinya gadis ini telah merencanakan sesuatu yang berbahaya bagi mereka.


"Long Yun, apa kamu akan memenuhi segala perintahku?"


"Ya, Master!" Long Yun menjawab dengan sigap. Kenapa Masternya bertanya mengenai hal ini? Perasaannya semakin tidak enak.


"Bagus kalau begitu, aku akan mengandalkanmu sebagai GPS."


"GPS?"


"Global Positioning System."


Dua Naga itu semakin tidak mengerti. Sebenarnya Masternya ini sedang bicara apa?


Mereka tidak tahu bahwa salah satu dari mereka akan dijadikan sarana penyingkat waktu sekaligus peta.