
"Xiao Caihong, sekarang!"
Tubuh mungil Xiao Caihong melayang di udara. Begitu mendarat di kulit Boa, mulutnya yang tanpa gigi terbuka seolah menggigit kulit Boa.
Xie Ran memiliki wajah gelap melihatnya.
Namun, tidak dengan Boa. Setelah melihat sosok putih dengan tidak tahu malu menggigit kulitnya yang tebal, Boa meraung keras ke arah sosok putih tersebut. Seolah energinya tersedot saat itu juga menyebabkan tubuhnya meronta. Lilitannya terhadap Xie Ran terlepas membuat gadis itu jatuh ke tanah sedangkan Boa meronta dan merambat di dinding gua berusaha menyingkirkan sosok putih yang bagai parasit di tubuhnya.
Xie Ran segera mengambil kesempatan. Pertama, dia mengangkat batu-batu yang menindih temannya dengan sihirnya kemudian berteleportasi ke arah perginya Boa.
"Xiao Ran!" Yan Yao dan Liu Chang tidak habis pikir. Sudah seperti ini, Xie Ran masih berani mengejarnya? Mereka sendiri tidak mengerti mengapa Boa itu meronta.
"Aku harus menjemput sesuatu!" Suara Xie Ran menggema di gua selagi sosoknya pergi begitu jauh. Mereka tidak melihatnya lagi.
"Sial, cepat ikuti!" Yan Yao sudah panik dan segera menepuk Liu Chang yang termenung untuk ikut pergi menyusul.
Sedangkan Xie Ran semakin memasuki gua gelap. Dia menggunakan pencahayaan dari api di tangannya dan mendengarkan suara melengking dari Boa. Dia mengikuti asal suara dan melihat dari balik bebatuan. Boa itu masih berguling di tanah berharap sosok putih itu tergiling. Sayangnya itu tidak terjadi seolah sosok putih itu menyatu dengan kulitnya.
"Jadi itu rencanamu." Xie Ran akhirnya paham. Xiao Caihong menyerap energi serta racun dari Boa sebagai makanannya. Itu akan mempercepat pertumbuhan ditambah makan energi murni setiap hari. Dia bisa tumbuh besar kurang dari 10 tahun jika terus menyerap energi dan racun ular lain serta energi murni.
Boa tidak berhenti berusaha melepas Xiao Caihong. Ia membuat tubuhnya sendiri terbentur bebatuan dan dinding sampai terluka. Melihat Xiao Caihong bisa terluka, Xie Ran segera memberikan barrier yang terbuat dari energi murni agar ular kecil itu tidak terluka.
Melihat ular kecil itu terlindungi, Boa semakin marah dan melihat kehadiran Xie Ran. Ia segera menarget Xie Ran kembali seolah meminta pertanggung jawaban atas trik sialan yang digunakan. Dia sudah menduga bahwa parasit kecil ini gadis itu yang mengirim.
Xie Ran melakukan teleportasi berkali-kali menghindari tiap serangan Boa. Mata Boa sudah merah karena marah dan tidak bisa mengeluarkan racun karena terserap. Xie Ran pergi ke sebuah celah dan meluncur ke bawah menyelinap ke sela-sela. Boa itu telah kehilangan, berniat memperbesar celah dan terus menabraknya dengan keras. Namun, karena kecerobohannya, reruntuhan di atasnya jatuh menimpa tubuhnya berkali-kali lipat sampai jatuh dan pingsan.
Xie Ran mengintip di celah tempatnya berada. Dia tidak bisa keluar dari sini karena reruntuhan akibat Boa. Dia mengutuk si Boa 7 turunan dan berusaha menggunakan sihirnya mendorong bebatuan itu dari lubang celah agar ia bisa keluar.
Setelah bebatuan berhasil tersingkirkan, dengan susah payah Xie Ran keluar dari celah sempit tersebut dan melihat Boa besar yang pingsan. Ia tersenyum miris. Boa ini begitu malang karena telah menjadi makanan Xiao Caihong.
"Sudah selesai?" Xie Ran menghampiri ular kecil itu yang masih menyerap energi dan racun Boa.
Xiao Caihong menggoyangkan ekornya tanda belum selesai. Maka dari itu, Xie Ran harus menunggu sedikit lebih lama.
Beberapa saat kemudian, Boa menunjukkan kesadarannya kembali. Matanya terbuka menunjukkan mata kuning cerah yang penuh ketajaman. Ia menarik tubuhnya yang menjadi lemah dan melihat Xie Ran dengan penuh amarah. Dia melihat ular kecil yang masih 'makan' dengan amarah membara, ia langsung menggigit tubuhnya sendiri tepat di bagian Xiao Caihong berada.
Xie Ran tersentak. Dia baru saja ketiduran karena menunggu dan telah dikejutkan oleh Boa yang melahap Xiao Caihong. Darah merembes keluar dari kulit Boa membanjiri tanah seperti sungai. Boa itu sudah gila!
Xie Ran mengeluarkan belatinya sebelum melesat memberi sayatan pada kepala Boa. Ekor ular besar itu menebas dengan cepat tubuh Xie Ran sampai terpental jauh. Xie Ran menendang dinding di belakangnya dan melesat kembali melancarkan serangan yang dikombinasikan dengan sihir.
Tubuh Xie Ran seperti bayangan yang melesat begitu cepat disertai sinar merah yang ditinggalkan menyerang saraf Boa. Boa itu termenung sejenak, melepas gigitannya dan menunduk seolah terkena dampak dari hipnotis.
Di kulit Boa yang berdarah, Xiao Caihong masih pada posisi sebelumnya tanpa goyah sedikit pun. Ia melepas gigitan dan kembali pada Xie Ran dengan senang hati disertai mata bundar yang semakin jernih.
Xie Ran dapat merasakan Xiao Caihong menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan Xiao Caihong sudah menumbuhkan gigi begitu cepat.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama begitu Boa terlepas dari sihir Xie Ran dan menatap mereka tajam. Ular itu segera menyerang kembali merasa seluruh kultivasinya hancur dan dia semakin marah. Meski Boa kehilangan kultivasi, ia tetaplah ular besar yang ditakuti. Serangannya tetap kuat meski tanpa sihir.
Boa dengan sangat marah menyerang Xie Ran secara langsung menyebabkan Xie Ran dan Xiao Caihong harus berpisah sementara. Xie Ran menghindar ke ujung sedangkan Boa mengabaikan ular kecil di belakangnya.
Xie Ran menggunakan bola api di tangannya yang diluncurkan pada Boa sehingga kulitnya terbakar. Bola api terus menghujaninya, namun kulit Boa yang tebal tidak cukup hanya dengan dibakar. Kulit Boa sudah menghitam, tapi tidak cukup membuatnya mati atau terkelupas.
Boa yang penuh dengan api terus mengejar Xie Ran. Tubuhnya yang panjang mengitari gua sehingga menyebabkan jejak gosong di tanah. Ia mengitari Xie Ran yang berada di tengah arena dan menatap Xie Ran di bawah sana dengan sangat marah.
Xie Ran tidak pernah bertarung dengan ular besar selama ini sehingga tidak tahu bagaimana menghadapinya. Berdasarkan yang ia tahu, ular takut api. Tapi Boa satu ini justru diliputi api dan terus menyerangnya meski kekuatannya telah terkuras. Ia telah menjadi hewan buas biasa seperti di Dunia Modern, tapi masih terlalu kuat karena identitasnya sebagai ular besar dan musuh Phyton.
Terpaksa Xie Ran menggunakan serangan utamanya. Ketika ia akan mengeluarkan sihir pesona tahap akhir, seekor Phyton putih besar menghantam tubuh Boa dan menggigitnya dengan keras. Ular putih itu memiliki ukuran sedikit lebih kecil namun lebih kuat dan bergulat dengan Boa penuh api. Xie Ran melompat menghindari pertarungan antar ular dan bersembunyi di balik batu sambil menonton.
Xie Ran tidak pernah berharap dapat melihat dua ular besar bertarung. Apalagi antara Boa dan Python.
Tunggu dulu....
Phyton?
"Xiao Caihong?" Xie Ran terkejut. Tidak disangka Xiao Caihong akan menjadi ular besar dan kuat.
Phyton Tujuh Warna memiliki kulit seputih giok dan bercak tujuh warna di tubuhnya yang indah. Kepalanya lebar seperti kobra dan giginya besar menyamai Boa. Panjangnya sebesar puluhan meter sehingga terlihat sangat besar.
Pertarungan antar dua ular cukup membuat reruntuhan gua memburuk. Xie Ran harus menghindari reruntuhan dengan cepat dan tepat sekaligus menghindari efek pertarungan dua ular tersebut yang begitu besar.
Phyton tujuh warna dan Boa lautan timur saling beradu. Kedua tubuh mereka terlilit satu sama lain seolah bertaruh lilitan siapa yang paling kuat. Xiao Caihong menggigit dalam-dalam tubuh Boa lagi hingga luka memburuk. Ia menarik gigitan dengan ganas hingga kulit Boa terkelupas dan memperlihatkan daging yang disertai darah membuat kulit putih Xiao Caihong memiliki cipratan darah.
Lilitan Boa melemah sehingga Xiao Caihong dengan bebas mencabik-cabik Boa dengan ganas dan brutal. Ah, itu tidak cocok untuk anak kecil sepertinya. Tapi yang dipikiran Xiao Caihong sekarang hanyalah memberi pelajaran ular yang menyakiti ibunya.
Setelah puas memberi pelajaran pada Boa, Xiao Caihong melepas penyiksaannya membiarkan Boa terkapar lemah dengan vitalitas lemah.
Xiao Caihong kembali pada Xie Ran. Tubuhnya terlalu besar hingga harus menunduk ke arah Xie Ran dan memasang ekspresi sedih seperti bayi karena kulitnya tergores dan lecet.
Xie Ran yang telah tersadar dari keterkejutan tersenyum, mengusap kepala besar Xiao Caihong yang menunduk sebelum akhirnya ular besar itu kembali mengecil seperti bayi lalu duduk di tangan Xie Ran dengan polos. Seolah penindasan Boa barusan bukan ulahnya.
"Kerja bagus." Xie Ran tidak pelit dalam memuji. Namun, dia masih heran mengapa Xiao Caihong bisa memiliki tubuh yang begitu besar meski tidak sebesar Boa.
Perjalanan ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Setelah mengambil inti hewan buas tingkat tinggi, dia mencari jalan keluar gua. Tapi sebelum itu dia harus menemukan Yan Yao dan Liu Chang terlebih dahulu. Sepertinya dua pria cerewet itu tersesat dan sedang frustrasi. Memikirkannya saja begitu miris.
Xie Ran pergi mencari dua pria malang di gua besar ini. Sebenarnya gua ini tidak terlalu besar, hanya saja membingungkan. Ujungnya adalah arena pertarungan dua makhluk sebelumnya sehingga Xie Ran dengan mudah menemukan dua pria yang tersesat itu.
Setelah menemukan mereka, keduanya segera menanyakan keadaan Xie Ran secara terperinci. Jika mereka bukan pria, sudah pasti akan memeriksa Xie Ran apa ada luka atau tidak. Karena mereka pria, mereka hanya bisa bertanya dan meminta jawaban detail.
Xie Ran menenangkan kekhawatiran mereka dan menunjukkan inti hewan buas Boa barusan. Mereka sempat terkejut dan bertanya bagaimana Xie Ran membunuhnya. Namun Xie Ran mengatakan bahwa dia hanya menjebak Boa itu sampai mati. Bagaimanapun, bukan ia yang membunuh.
Dia bisa saja membunuh, tapi penampilan Xiao Caihong membuatnya terkejut terlebih dahulu dan memberinya kesempatan untuk tidak membuang-buang kekuatan. Tahap akhir sihir pesona sangat menguras energi apalagi jika digunakan untuk hewan buas tingkat tinggi. Xie Ran bisa pingsan kehabisan tenaga.
Untungnya mereka percaya dengan karangan Xie Ran. Xie Ran tidak mungkin mengungkap tentang kehadiran Xiao Caihong secepat itu pada teman-temannya.
"Sekarang kita keluar. Di depan sana ada mata air yang penuh energi qi sehingga dapat meningkatkan kecepatan kultivasi. Kalian bisa meminumnya dan membuat stok untuk yang lain." Xie Ran mengalihkan topik ke arah yang lebih penting. Mereka harus segera cepat keluar dari sini karena gua ini tidak bisa bertahan lebih lama karena pertarungan barusan.
"Baik."
Mereka bertiga segera mengambil mata air tersebut. Xie Ran menyebutnya air suci karena air itu memiliki fungsi sama seperti energi murninya. Jika seseorang meminum itu, kecepatan kultivasi meningkat dan kotoran dalam tubuh akan keluar seperti meminum pembersih sumsum. Itu juga bagus untuk Xie Ran karena energi murni tidak menolaknya.
Setelah selesai, mereka bermalam di bibir gua. Di dalam sana tidak terlalu aman karena terdapat batu-batu berjatuhan. Itu sebabnya mereka memilih tinggal di bibir gua sekalian menghirup udara segar.
Malam ini begitu damai. Setelah memanggang daging rusa untuk makan malam dan menghabiskannya, mereka tertidur.
Terkecuali Xie Ran, ia masih termenung di luar melihat bulan yang bersinar terang. Meskipun ia terlihat tenang selama ini, dia tetap murung sepanjang waktu. Dendamnya belum terpenuhi, itu yang membuatnya gelisah apa dia akan menyelesaikan dendamnya atau mati mengenaskan.
Mengingat kejadian barusan, dia hampir saja mati jika Xiao Caihong tidak membantunya. Ia masih merasa terlalu lemah. Hanya membunuh seekor ular tanpa tingkatan saja sulit apalagi membunuh Tang Zhi?
Xie Ran meraih liontin yang tergantung di lehernya. Memori tentang ibunya terngiang kembali sebelum kematiannya yang memberikan liontin ini. Xie Ran masih penasaran, apa ibunya sudah tahu hal seperti ini akan terjadi dan mengurung diri setelah memberikan liontin? Bagaimana dengan Xie Yun? Mengapa Xie Ran masih tidak tahu sampai sekarang meski telah mematai selama lebih dari 4 tahun sebagai idiot?
"Entah kapan aku bisa memecahkan teka-teki ini," gumamnya menghela napas. Dia sangat letih dan bersandar di dinding gua sambil melihat bulan dalam diam.
"Ingin kuberitahu satu hal?"
Xie Ran tersentak kaget. Melihat Qu Xuanzi yang begitu tinggi seperti gunung di matanya, dia menghela napas. Kenapa pria ini selalu saja datang tiba-tiba? Membuat orang jantungan saja.
"Apa yang ingin kau beritahu?" Xie Ran membiarkan Qu Xuanzi duduk di sebelahnya dan memandangi bulan sekali lagi.
"Tang Zhi bukan manusia."
Lagi-lagi Xie Ran terkejut dan menatapnya spontan dengan mata membulat. "Kau tidak bercanda, 'kan?"
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Qu Xuanzi menatap mata Xie Ran dalam.
Memang, dia tidak pernah bercanda dengan wajah datar dan dinginnya itu. Xie Ran hanya bisa menertawakan diri sendiri karena begitu bodoh.
Xie Ran menggigit bibir bawahnya. "Kau tahu siapa sebenarnya Tang Zhi?"
Qu Xuanzi diam sejenak sebelum mengatakan sebuah kata, "Iblis."
Xie Ran dibuat terkejut lagi. Jadi selama ini ia tinggal dengan Iblis? Keluarganya dibunuh oleh Iblis? "Kenapa kau tidak memberitahu?"
"Tang Zhi termasuk Iblis yang lebih kuat dari yang kau kalahkan sebelumnya, bahkan lebih kuat dari Iblis di Akademi. Dia menyamarkan diri dengan baik. Sebelum pergi dari Klan Xie, aku tidak bisa melacaknya karena kekuatanku yang tertahan segel."
"Lalu ... kapan kau mengetahuinya?" Xie Ran penasaran. Bagaimana masalah keluarganya bisa berhubungan dengan Iblis?
"Di Istana, ketika perayaan ulang tahun."
Xie Ran seketika teringat tragedi itu, di mana mangsanya terbelah begitu saja di depan matanya. "Apa dia yang membunuh Huli Dong'er?"
Qu Xuanzi terdiam sejenak, menghadapi dilema apa akan mengatakannya dengan jelas atau tidak. Pada akhirnya, ia menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Xie Ran.
Xie Ran melemaskan bahu. "Sudahlah, itu tidak penting. Yang terpenting sekarang, bagaimana bisa menghadapi Tang Zhi di masa depan. Aku juga harus giat berlatih untuk memenangkan turnamen 3 bulan lagi. Memasuki Pagoda Kaca, mengembalikan kekuatanmu serta membebaskan Naga Laut. Kemudian mengungkap Dekan Departemen Sihir untuk mencari keberadaan Tujuh Raja Iblis."
"Meski begitu, kesehatanmu lebih penting." Qu Xuanzi mengingatkan.
Xie Ran mengangguk mengerti. Dia memang kadang terlalu ambisius sehingga tidak memperhatikan diri sendiri. Dia bahkan berlatih tanpa istirahat dan terus mengolah energi murni tiap malam. Xie Ran tidak pernah tidur dengan benar sejak di hutan.
"Istirahatlah."
Xie Ran jelas menolak. Apalagi yang lebih penting selain mengolah energi murni? "Tapi—"
Ucapan Xie Ran terhenti begitu Qu Xuanzi menariknya. Kepalanya menjadikan paha Qu Xuanzi sebagai bantal dan selimut muncul menutupi tubuhnya. Xie Ran dapat melihat wajah tampan Qu Xuanzi dengan jelas dari bawah membuatnya tertegun.
"Tidur."
Suara teduhnya jatuh ke telinga Xie Ran membuatnya menghangat. Xie Ran tidak memiliki alasan lain selain menurut apalagi dirinya juga sudah sangat lelah. Pada akhirnya Xie Ran mengangguk patuh.
"Selamat malam," ucap Xie Ran sebelum menutup mata.
Entah angin dari mana, Xie Ran langsung tertidur pulas sambil memeluk selimut. Padahal sebelumnya hanya ingin berpura-pura tidur, tapi dia terlalu nyaman sampai benar-benar tertidur begitu menutup mata.