The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
56. Berperut Hitam



Kabut putih seperti laser melesat dengan cepat memenuhi arena di setiap arah menyebabkan fluktuasi energi yang kuat hingga membuat 7 manusia yang berdiri di arena termundur beberapa langkah.


Suara hentakan tombak mendendang keras. Kibasan angin berpusar di udara menghalau pandangan disertai tombak yang berputar mengeluarkan energi yang mengebabkan 7 murid itu harus menghindari tiap pergerakan tombak yang melayang di udara dan berputar seperti gangsing bersiap menebas mereka.


Liu Chang dan Zhou Kui bersamaan menghentakkan senjata mereka menangkis tombak tersebut bergantian. Namun bukannya terhempas, tombak itu berhasil membuat mereka termundur beberapa meter karena tekanan yang terlalu kuat.


"Memang layak disebut profesional lanjutan," gumam Pei Xi yang habis menerima serangan kabut putih kemudian tubuhnya menjadi bayangan hitam yang melesat cepat menangkis pedang yang muncul di depan Mei Liena.


"Terima kasih." Mei Liena nyaris saja jantungnya copot. Para senior itu terlalu sadis!


Ketika pedang Mei Lin'er melayang kembali ke arah mereka, sebuah sinar merah melintas dengan cepat memutar balik arah pedang tersebut hingga Mei Lin'er harus melompat mundur beberapa meter menghindari pisau terbang yang tiba-tiba muncul.


Mei Lin'er menggertakkan gigi melihat Xie Ran tersenyum miring padanya. Ia baru saja akan melanjutkan serangan, kipas Yan Yao menghalangi jalannya hingga Mei Lin'er harus mengubah haluan.


Yan Yao mengangguk pada Xie Ran yang masih berdiri menonton pertarungan. Kemudian pandangannya terarah pada Zhong Xiaorong tangannya berayun memunculkan dinding es runcing dan menjulang tinggi ke atas memberi batas antara mereka dan para senior itu.


"Rongrong, berapa lama esmu dapat bertahan?" Yan Yao bertanya.


"Tidak lama." Pandangan Zhong Xiaorong fokus ke depan denga  tangannya yang di angkat mempertahankan dinding es.


"Untuk melawan 7 profesional lanjutan, paling lama dia hanya bisa bertahan kurang dari 1 menit." Xie Ran memberi penjelasan detail. Ia telah memeriksa sebelumnya. Es Zhong Xiaorong kuat, tapi masih terlalu tipis karena kekuatannya yang masih rendah.


"Satu menit sudah cukup." Pei Xi menyanggupi begitu pula Yan Yao.


"Xiao Ran, sisanya terserah padamu." Yan Yao menanggapi dengan percaya diri. Sebagai pengatur strategi sekaligus pengontol pertarungan, Xie Ran mengambil peran penting dalam arena.


Pei Xi dan Yan Yao segera melesat ke dua arah tepatnya ke arah dinding es yang telah retak itu. Liu Chang dan Zhou Kui berada di tengah area melihat dinding es yang makin lama makin retak hingga akhirnya suara pecahan terdengar keras.


Mei Liena segera memberi pil pada Zhong Xiaorong yang kelelahan. Setelah itu, keduanya bergabung di sisi Xie Ran membuat Xie Ran di tengah-tengah.


Setelah melihat keberadaan 7 senior tersebut, sinar warna-warni muncul di tangan ketujuhnya melonjak ke langit-langit.


Biru, hijau, kuning, ungu, putih, dan kelabu melonjak memusatkan sinar merah yang muncul seperti laser. Ketujuh sihir itu dengan cepat membentuk sebuah pola rumit di udara menyebabkan suasana sesak dan penuh tekanan.


Tujuh senior itu tertegun melihat bayangan besar warna-warni berpola aneh tersebut berada di depan mereka. Zhu Que segera menyadari sesuatu yang salah begitu melihat Xie Ran yang berdiri di ujung dan melihat beberapa pisau terbang melesat seperti hujan di sekitar pola.


Pria itu berteriak, "Buat barrier gabungan!"


Keenamnya segera menyadari hal yang sama dan langsung mengikuti arahan Zhu Que. Masing-masing dari mereka mengeluarkan barrier selagi pola terbentuk sehingga kabut memejuhi arena dengan lonjakan energi drastis.


Keadaan semakin sesak begitu barrier besar terbentuk. Bersamaan dengan itu, pola rumit yang terbentuk bergerak seperti bayangan diikuti oleh kumpulan pisau terbang yang meluncur dengan cepat menghujani barrier yang baru menutup.


Suara benturan keras menggelegar begitu kuat tepat pada barrier gabungan yang penuh dengan kabut. Seluruh arena tertutupi sehingga Instruktur Zhu dan Dekan Akademi yang menonton tidak dapat melihatnya dengan jelas.


Hening....


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dalam kabut seolah tidak terjadi apapun di dalam sana.


"Apa yang terjadi?" Instruktur Zhu terperangah. Ia pikir anak-anak itu akan dipukul dengan berat karena kekejaman para alumni.


"Aku pikir seseorang telah melakukan sesuatu." Dekan Akademi—Fang Tianzhi—mengambil kesimpulan. Ia tidak bisa melihat di dalam, tapi ia dapat merasakan melalui persepsinya apa yang terjadi di dalam sana.


Detik berikutnya, beberapa tubuh terpental begitu saja keluar arena seolah telah terkena serangan kuat sehingga dikirim terbang keluar dari area kabut.


Tiga tubuh terpental dengan begitu keras sebelum akhirnya kabut menyusut memberi kedua penonton itu pengelihatan yang lebih jelas. Yang paling terkejut di sini adalah Instruktur Zhu.


"Bagaimana mungkin?" Bola mata wanita itu hampir keluar melihat kondisi arena yang menyedihkan.


Para senior itu tertunduk begitu saja di atas arena — selain 3 senior yang dikirim terbang — dalam keadaan menyedihkan akan kekalahan telak. Mei Lin'er, Zhu Que, Qin Zhangye, dan Yuwen Yue sama-sama berlutut setengah kaki dan terlihat lemas di atas arena dengan kepala tertunduk karena malu.


Sisanya ada Xie Ran dan kawan-kawan yang berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan.


Fang Tianzhi tiba-tiba berdiri disertai tepuk tangan penuh kegembiraan. Ia telah melihat jenius langka yang telah mengalahkan kelompok profesional lanjutan dengan perbedaan kekuatan yang sangat besar. Kerja sama mereka patut diapresiasi.


"Bagus, bagus, kalian adalah generasi emas Akademi Tianshang. Dengan adanya kalian, turnamen kali ini, Tianshang memiliki kesempatan dalam memenangkan juara pertama." Fang Tianzhi tidak pelit dalam memuji. Mereka memang pantas disebut generasi emas yang merupakan jenius langka yang pernah ada.


"Terima kasih, Dekan Fang." Mereka bertujuh mengungkapkan terima kasih bersamaan dan membungkuk.


Instruktur Zhu berdiri dengan senyuman puas pada mereka. Meski ia sedikit miris dengan 3 pria yang dikirim terbang, ia tetap mengagumi 7 anak itu. "Kalian sudah bekerja keras, pelatihan hari ini diakhiri. Kalian bisa kembali ke paviliun."


"Terima kasih Instruktur Zhu, Dekan Fang, kami pamit undur diri." Pei Xi mewakili teman-temannya dan pergi bersamaan dengan mereka.


Tapi ketika mereka berbalik, suara Fang Tianzhi menghentikan langkah mereka. "Sebentar, apa kamu bernama Xiao Ran?"


Xie Ran menoleh. Setelah menatap semua temannya satu per satu, ia berjalan menghampiri Fang Tianzhi yang memanggilnya.


"Kalau boleh tahu, ada apa Dekan memanggilku?" Xie Ran tetap tenang tanpa memikirkan banyak hal. Ia sudah lelah dan sangat ingin istirahat hari ini sehingga tidak ada semangat lain.


Fang Tianzhi melirik banyak pasang mata yang melihatnya. Kemudian pandangannya jatuh kembali pada Xie Ran. "Apa kamu yang menjadi pengontrol tim?"


"Ya."


"Baik." Pei Xi mengangguk sebelum akhirnya membawa teman-temannya keluar gedung arena.


Xie Ran dan Fang Tianzhi pergi ke tempat lain membiarkan Instruktur Zhu mengurus para senior malang itu yang telah dipukuli. Banyak petugas yang membawa mereka yang lemah segera dirawat.


Xie Ran dan Fang Tianzhi sampai di ruangan Dekan Akademi. Ruangan yang begitu sejuk dan tenang dengan nuansa klasik ala kerajaan. Ada banyak ornamen terpajang di berbagai sisi juga lukisan-lukisan indah terpapar di dinding. Pasti mahal.


Fang Tianzhi menghentikan langkahnya. Berbalik melihat Xie Ran yang lebih pendek darinya sebelum akhirnya wajahnya menjadi serius.


"Xiao Ran, apa itu benar nama aslimu?"


Ucapan Fang Tianzhi membuat Xie Ran menyipitkan mata. "Apa ini alasan Dekan memanggilku?"


"Tidak juga. Ada beberapa hal yang harus dikatakan. Salah satunya adalah hal ini. Mengenai latar belakangmu, aku sudah memeriksanya sejak kamu terpilih. Bukan hanya kamu, yang lain juga sama. Itu sebabnya aku memanggilmu."


"Dekan sudah tahu latar belakangku?" Xie Ran tidak bermaksud mengaku. Ia hanya ingin menguji apa Dekan satu ini benar-benar mengetahui latar belakangnya.


"Berdasarkan apa yang kudapatkan, kamu seharusnya bukan dari keluarga biasa. Kedatanganmu ke klub hiburan untuk menjadi penari magang bertepatan dengan sehari setelah diumumkan kematian Nona Muda Klan Xie. Dalam waktu itu juga waktu yang tepat memulihkan diri dari beberapa hari sebelumnya kematian Nona Muda Klan Xie."


"Dekan tidak berpikir bahwa aku Nona Muda Klan Xie, 'kan?" Xie Ran tetap tenang tanpa kekhawatiran. Ia justru membuat Dekan satu itu goyah.


"Tentu saja tidak. Tapi itu awalnya. Sekarang setelah melihatmu, pendapatku berbeda," katanya mengusap janggut putih panjangnya. "Kamu harus menjadi Nona Xie yang merupakan ahli waris itu. Wajahmu sangat mirip dengan ibumu, tempramenmu juga mirip dengan ayahmu, teliti dan bijaksana. Tidak salah lagi."


"Maaf jika menyinggung, tapi itu bukan alasan yang tepat bahwa aku adalah Nona Xie. Mungkin semua kesamaan itu adalah kebetulan. Lagipula, murid hanya ingin fokus belajar." Xie Ran tidak panik sama sekali, melainkan bersikap seolah itu semua tidak ada hubungan dengannya. Ia sendiri sudah lelah dan ingin istirahat, jadi tidak ingin banyak berpikir.


"Baik jika kamu tidak ingin mengakui. Tapi, apa kamu bisa menjelaskan bagaimana liontin leluhur Klan Xie ada padamu?"


Bagaimana ia bisa lihat? Xie Ran mengerutkan kening dan menunduk untuk memastikan bahwa liontinya tidak terlihat. Ia memang selalu mengenakannya, tapi itu di sembunyikan dengan baik di balik kerah. Hanya Ann Rou yang menyadarinya sebelumnya. Apa ini kekuatan saint?


Xie Ran merasa tidak bisa menyangkal. Peninggalan leluhur klan Xie hanya ketua atau ahli waris sah yang dapat memakainya. Sisanya akan mendapat penolakan langsung seperti yang terjadi pada Tang Zhi.


"Sepertinya memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Dekan Fang. Benar, aku adalah Xie Ran. Dekan Fang berpikiran terbuka, aku percaya Dekan bersikap adil seperti yang dirumorkan."


Fang Tianzhi merasa gadis kecil ini benar-benar mirip dengan orang tuanya. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ia terkekeh dan mengangguk pelan. "Nona Xie, aku memanggilmu karena ingin membahas strategi turnamen."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah beberapa lama bicara dengan Dekan Akademi, Xie Ran berpapasan dengan Pei Xi ketika di akhir pembicaraan dan keluar dari ruangan setelah menyapanya. Seperti yang dikatakan Dekan, Pei Xi juga memiliki masalah yang sama ditambah posisinya sebagai pemimpin tim yang harus menerima arahan Dekan.


Xie Ran menghela napas dan duduk di ujung tangga sambil melihat halaman depan yang ramai akan murid. Ia lelah, tapi malas ke paviliun. Turnamen juga semakin dekat sehingga banyak beberapa orang yang berkumpul di akademi untuk menantikan hari turnamen.


Turnamen akan diadakan di Kota Ye, kota kelahiran Mei Liena. Kota Ye juga merupakan Kota besar dimana banyak keluarga apoteker ternama berada. Butuh waktu beberapa minggu untuk sampai di sana.


"Xiao Ran, kenapa kau di sini?" Zhong Xiaorong datang dan langsung duduk di sisinya sambil memakan camilan.


Xie Ran melirik camilan tersebut dan langsung mengambil beberapa tanpa izin serta menyela protes Zhong Xiaorong. "Hanya bosan."


Zhong Xiaorong berdecak sebal. "Ngomong-ngomong, trik yang kau gunakan selama pertandingan tadi, inspirasi dari mana?"


Xie Ran menaikkan sebelah alis dan menatap Zhong Xiaorong. "Trik?"


"Menggunakan sedikit racun Mei Liena untuk melumpuhkan mereka ketika angin Liu Chang berhembus di saat tidak waspada. Kemudian memadukan 2 sihir sekaligus untuk satu pisau terbangmu, bayangan dan es. Lalu serangan transformasi Yan Yao pada pola juga sihir kabut Zhou Kui pada serangan akhir untuk menutupi pandangan sekaligus ledakan buatan seakan telah terjadi fluktuasi energi yang tinggi. Kau juga terlihat memiliki dendam pada 3 lainnya yang kau kirim terbang."


Xie Ran menatapnya kosong dengan mata polosnya kemudian mengunyah camilan kembali. "Terlintas begitu saja. Itu namanya kerja sama, bukan trik. Dekan juga pasti sudah tahu. Dia tidak menyalahkanku, justru mengatakan strategiku bagus."


Zhong Xiaorong tertawa. "Aku tersanjung. Jika senior tahu rencanamu yang membuat mereka berpikir akan terjadi ledakan besar hingga harus membuat barrier, entah apa yang akan terjadi."


"Itu namanya pintar." Xie Ran tetap tidak mau disalahkan telah menggunakan trik licik. "Lagipula, menggunakan semua kekuatan itu untuk mengendalikan sihir kalian agar tidak merusak segalanya, aku telah banyak menguras kekuatan mental. Itu sepadan dengan kemenangan."


"Baiklah, aku tahu. Kau yang terbaik." Zhong Xiaorong tetap tertawa dan merangkul Xie Ran. Temannya ini sangat licik dan tidak tahu malu. Sangat luar biasa.


"Sekarang traktir aku agar darahku meningkat. Aku masih ingin hidup." Xie Ran mengatakannya sedikit keras tepat ketika Pei Xi keluar dari ruangan membuat peia itu tertegun. Apa Xie Ran bicara padanya? Gadis itu ingin di traktir?


Zhong Xiaorong melirik ke arah Pei Xi kemudian menyadari pola pikir Xie Ran yang pelit dan *berperut hitam. Ia tersenyum 'manis' pada pria itu.


(*Tak tahu malu)


Pei Xi menghela napas. "Kalian benar-benar...."


Pada akhrinya, Pei Xi harus mentraktir 2 gadis kelaparan itu. Keduanya sama-sama seperti tidak makan bertahun-tahun dan langsung menguras dompet Pei Xi.


Kata Xie Ran; tiap pertempuran darahnya akan berkurang dan harus diisi dengan makanan. Jadi, tiap kali selesai pertempuran tim, Pei Xi harus membiayainya makan sampai darahnya dianggap penuh.


Setelah merasa darahnya telah penuh, Xie Ran bersenang-senang kembali di Kota Tianshang dengan berbagai logam serta kembali membuat senjata spiritual. Ia berpikir untuk membuatkan teman-temannya senjata spiritual tingkat tinggi suatu hari nanti. Jadi, ia harus terus belajar sampai bisa.


Jika bertanya di mana senjata spiritual gagal yang pernah ia buat, semua itu ia jual dengan harga memuaskan. Meski gagal, itu tetaplah senjata yang kuat dan berguna. Senjata spiritual gagal sama saja seperti senjata para prajurit istana yang terkenal kuat sehingga harga yang ditawarkan relatif tinggi.


Sekali lagi Xie Ran kaya tanpa mengeluarkan banyak uang....