
"Sayang, apa kamu akan pergi begitu saja tanpa menemaniku yang cantik ini? Ayolah, jangan malu-malu anak muda~"
"Tidaaaaak!" Long Long berteriak sangat keras. Auman naganya menggema di seluruh hutan menyebabkan burung-burung terkejut dan berterbangan.
Sejak ia diperintahkan Xie Ruo menemui Pemimpin ras ular, ia memperlambat perjalanan untuk mempersiapkan mental. Segala kekacauan telah ia ketahui, tapi tidak ada yang bisa dilakukan.
Sekarang, ketika ia pergi ke tempat di mana ras ular berada, ia segera memberitahu informasi penting mengenai aliansi untuk melawan Dewa Iblis. Ditambah, Ratu ras naga memiliki Phyton Tujuh Warna yang seharusnya menjadi pemimpin ras ular.
Long Long baru saja ingin buru-buru kabur sebelum bertemu nenek tua dan jelek itu, tapi ekor si nenek tua melilit di ekornya dan menariknya ke kedalaman wilayah ular, yakni Hutan Batu.
Disebut Hutan Batu karena wilayahnya hanya berupa batu besar yang diliputi akar dan dedaunan menjalar. Itu adalah tempat di mana berbagai jenis ular berkembang selama ribuan tahun lamanya. Udara di sana juga diliputi racun, sehingga manusia tidak ada yang dapat datang ke tempat itu.
Long Long kini berusaha melepaskan lilitan 'tali' besar di ekornya. Ia sudah menginjak 'tali' itu berulang kali dan akan membakarnya, tapi pemilik 'tali' tersebut malah mendekat dan mengikat kekuatan spiritualnya.
Sosok wanita cantik dan tampak muda bersandar dengan tenang di bebatuan. Tubuh bagian atas yang terkesan seksi namun penuh sisik terlihat seperti manusia dengan rambut merah beegelombang, namun bagian bawahnya adalah ekor panjang yang melilit dan besar. Ekornya itu melilit ekor Long Long hingga pemiliknya menangis tak karuan.
Seekor leluhur naga dibuat nangis oleh seorang wanita ular yang tampak jahat, jika seluruh ras naga mengetahuinya ... Long Long tidak akan pernah memiliki wajah untuk kembali ke Benua Lava. Ia lebih baik menjadi sanksi setia perjalanan Xie Ruo dan menjadi roh dibanding menjadi lelucon besar di kalangan naga!
"Lepaskan aku!" Long Long mengaum dengan keras. Kakinya meronta seperti anak kecil yang ditahan sedangkan pelaku di balik semua ini hanya bersandar dengan senyuman tak bersalah.
"Hihi, aku tidak tahu bagaimana reaksi tuanmu ketika melihatnya." Ia tertawa seperti melihat lelucon luar biasa. Irisnya yang runcing dengan pupil khas ular melihat sosok berbadan besar di depannya kini menangis seperti bayi.
"Kau menindasku!" Long Long mengutuk berulang kali. Ia tidak peduli lagi dengan reputasinya, yang terpenting bisa lepas dari wanita genit dan menjijikkan itu.
"Adik Long Long, apa aku pernah menindas dan berbuat hal tidak baik padamu? Aku hanya ingin menyapa, seharusnya kamu bersyukur bisa dekat denganku. Lihatlah pria-pria di sana, mereka sangat iri padamu."
Wajah Long Long semakin jelek. Apa wanita tua itu buta? Jelas-jelas pria yang berjejeran di sana hanya mainannya yang tidak berguna, sedangkan ia adalah naga agung di Benua Lava! Ia adalah bawahan langsung Ratu Naga!
"Qiong Lin, kau tidak bisa menahanku seperti ini. Jika tuanku tahu kau menindasku, dia akan membunuhmu dengan cara mengenaskan! Kau tidak tahu betapa kejinya ia membunuh musuh-musuhnya meski dalam keadaan sekarat sekalipun. Aku adalah sanksi mata! Kuperingatkan padamu sebagai teman lama, jika tidak maka terima balasannya!"
"Oh? Adik Long Long sedang mengkhawatirkanku? Aku jadi terharu~" Wanita bernama Qiong Lin itu memasang wajah senang dan malu-malu, namun tatapannya penuh ejekan.
"Aku tidak mengkhawatirkanmu, aku sedang memperingati dengan keras! Tuanku, tidak peduli siapa lawannya, siapa pun yang menyentuh orangnya akan dibunuh! Kalau tidak percaya, datanglah ke Dunia Atas dan tantang dia. Aku akan membantumu menyalakan lilin dari jauh dan mendoakan yang terbaik."
"Kau pikir aku akan menelan mentah-mentah omong kosongmu itu? Meski tuanmu memiliki Phyton Tujuh Warna, apa menurutmu Phyton Tujuh Warna akan dengan mudah menerima seseorang?" Menurutnya, Phyton Tujuh Warna lebih keras kepala dan licik dari yang diperkirakan. Ia saja yang sudah ribuan tahun masih takut.
"Kurasa kau tidak pernah mendengar berita manusia, dasar tertinggal jaman." Long Long mencibir.
"Oh? Aku ingin lihat, apa tuanmu bisa menaklukan Phyton Tujuh Warna setelah melihat keberadaanku di sini. Jika Phyton Tujuh Warna tidak memilih memihakku sebagai sesama ular, aku akan membentur kepalaku ke dinding gua seratus kali dan memanggilmu kakak!"
"Menjijikan! Siapa yang mau jadi kakakmu!" Long Long meraung kesal.
"Kalau begitu, aku akan bersujud padanya seratus kali dan merangkak di depan rakyat ras ular. Apa kau puas?"
Long Long tersenyum misterius. "Benar, kupegang omonganmu. Jika kau kalah, kau harus melakukan semua yang kau katakan tanpa keringanan!"
"Baik! Jika aku menang, bersiaplah tinggal di Hutan Batu menjadi budakku selama-lamanya, hahaha!"
"Hahaha ...." Long Long tertawa diam-diam memikirkan bagaimana wanita tua itu akan menjilat ludahnya sendiri.
Bersiaplah, pertunjukan akan segera dimulai ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pasukan Dunia Atas telah berkumpul, berdiri di atas awan di mana perkemahan mereka berada.
Di bawah sana adalah medan perang yang penuh dengan kesuraman. Pasukan iblis muncul dari bawah tanah dan berkumpul secara terorganisir ke satu tempat untuk mempertahankan benteng kekaisaran yang telah mereka rebut.
Di sisi lain, beberapa mill dari wilayah peperangan, Zhong Xiaorong memimpin pasukan kekaisaran yang kini berkumpul dalam perkemahan yang mereka buat.
Ketika keluar dari kekaisaran menggunakan artefak Klan Yan, mereka langsung bergegas mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh Zhong Xiaorong untuk merencanakan pergerakan militer. Karena pengetahuan Zhong Xiaorong tentang militer tidak cukup, ia hanya bisa hadir untuk memberi pendapat dan mengambil keputusan untuk tiap kondisi.
Yan Yao kini tengah menangani Klan Yan yang cukup besar untuk sebuah klan. Ia membawa seluruh pasukan klan untuk pergi ke medan perang dan beegabung dengan pasukan kekaisaran.
Kekuatan mereka pada umumnya tidak seperti prajurit, karena mereka lebih terarah pada pelatihan sihir atau kultivator. Kultivator berjumlah lebih dari 100.000 itu cukup untuk bergabung dengan pasukan kekaisaran dan membalikkan keadaan untuk sementara. Meski begitu, mereka masih membutuhkan lebih banyak kultivator untuk melawan iblis yang jumlahnya telah mencapai jutaan.
Sedangkan Akademi Tianshang, hanya memiliki kurang dari 100.000 murid yang tersisa dan bisa pergi ke medan perang. Senjata yang mereka gunakan memang sudah cukup untuk membunuh beberapa iblis, namun lagi-lagi jumlah yang ditempuh masih kurang dari kata cukup.
Liu Chang berdiri di garis depan dalam perjalanan ke medan perang sambil menyingkirkan gangguan iblis yang berkeliaran. Dalam perjalanan itu, mereka berbeda dari Klan Yan yang menggunakan kendaraan kapal terbang untuk semua pasukan. Mereka yang pada dasarnya telah terserang iblis terlebih dahulu harus menempuh perjalanan menggunakan hewan buas yang tersisa untuk menyingkat waktu.
Sedangkan Klan Xie, jalan yang mereka tempuh adalah jalan tikus yang dibuat sendiri selama beberapa hari terakhir selama penyeranga iblis terjadi. Dengan bantuan Mei Liena, rencana berjalan lebih cepat dan tiba di perkemahan kekaisaran tepat waktu.
Mei Liena bertemu Zhong Xiaorong ketika baru sampai, memeluknya untuk melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Mereka hanya berkomunikasi menggunakan teknologi untuk bertukar informasi.
"Apa Kakak Xi dan yang lainnya sudah siap?" Zhong Xiaorong gelisah. Ini adalah perang pertama yang terjadi seumur hidupnya—terlepas dari perang di Pagoda Kaca.
"Liu Chang dan Kakak Yao sedang dalam perjalanan. Namun untuk Kakak Xi dan Kakak Kui, aku belum menerima kabar. Ruoruo juga tidak dapat dihubungi, tapi aku yakin mereka memiliki rencana." Mei Liena berniat menenangkan Zhong Xiaorong untuk saat ini, meski ia sendiri agak kacau sepanjang hari memikirkan perang.
"Aku harap mereka sampai tepat waktu." Zhong Xiaorong memandang kejauhan medan perang yang begitu luas. Ia tidak bisa membayangkan, tanah kering dan luas itu akan dipenuhi mayat berserakan serta darah yang tergenang.
"Yeah ...." Mei Liena menghela napas. Ia melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 12 siang. Tiba-tiba saja, ia melihat tanda-tanda keaktifan Xie Ruo ketika sedang melihat-lihat untuk memeriksa pesan masuk. Xie Ruo aktif, menandakan bahwa wanita itu ada di Dunia Tengah.
"Kakak Xi!" Zhong Xiaorong tiba-tiba berteriak memanggil Pei Xi yang datang. Di sebelahnya ada Zhou Kui yang berjalan dengan wajah poker tanpa minat yang jelas.
Mei Liena yang awalnya ingin memberitahu mengenai Xie Ruo, tidak jadi memberitahu karena pengalihan Zhong Xiaorong. Wanita itu langsung pergi ke arah Pei Xi dan Zhou Kui, mau tidak mau Mei Liena mengikuti.
"Aku tidak bisa berada di kamp militer kekaisaran, jadi aku membawa pasukanku di kamp pribadi." Pei Xi memberi masukan.
"Jadi, apa hasil peetemuan militer dalam kekaisaran?" Zhou Kui bertanya.
"Aku sudah memutuskan untuk menggunakan formasi yang pernah kuceritakan sebelumnya. Meski agak rumit, tapi cocok untuk para peajurit tanpa harus menggunakan terlalu banyak sihir. Peletakan formasi juga sudah kukumpulkan. Untuk sisanya, harus merepotkan Kakak Xi dan Kakak Kui."
"Untuk masalah ini, bisa aku bicara dengan jenderal?" Pei Xi pikir mengkombinasikan rencananya dengan rencana Zhong Xiaorong tidak buruk.
"Aku akan mengenalkanmu padanya." Zhong Xiaorong mengantar Pei Xi bertemu Jenderal Fu untuk membicarakan selengkapnga mengenai masalah militer.
Siaanya hanya diam di tempat. Mei Liena melirik Zhou Kui, kemudian berbisik. "Ruoruo ada di Dunia Tengah."
Zhou Kui menatapnya balik, kemudian tersenyum. "Aku sudah tahu hal itu."
Pada akhirnya, Mei Liena tidak perlu memberitahu apa pun mengenai masalah umum seperti ini, kecuali untuk Zhong Xiaorong yang mudah teralih dan lupa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti yang dikatakan Mei Liena, Xie Ruo telah tiba di Dunia Tengah bersama Qu Xuanzi untuk sebuah urusan. Kedatangan mereka sehari lebih cepat dari notifikasi yang diketahui teman-temannya, sehingga tidak ada yang tahu apa saja yang dilakukannya selama seharian ini.
Xie Ruo telah menghubungi Long Huo dan Long Ying untuk masalah ras naga dan bangsa laut, namun mereka masih dalam perjalanan panjang yang tidak bisa dipercepat lagi. Paling tidak Long Ying akan datang terlebih dahulu di tengah perang.
Untuk saat ini, selain peri dan manusia, Xie Ruo membutuhkan bantuan ras lain untuk mendukung peperangan. Ras ular adalah salah satunya, dan Long Long sudah pergi ke Hutan Batu untuk memberi informasi.
Anggap Xiao Caihong adalah jaminan agar mereka bersedia berada di pihak Xie Ruo. Karena biasanya ras ular terlalu sombong dan licik, mereka selalu memiliki niat buruk dan selalu berada di sisi iblis. Kini, Xie Ruo ingin mencoba peruntungan untuk mendapatkan keberpihakan ras ular.
"Berapa lama waktu yang diperlukan untuk ke Hutan Batu?" Xie Ruo bertanya pada Qu Xuanzi di sebelahnya. Mereka telah berkeliling Hutan Bintang untuk mencari perbatasan Hutan Batu, namun mereka masih di tengah jalan.
Qu Xuanzi memandang Xie Ruo untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Kau yakin ingin ke Hutan Batu?"
"Ya." Xie Ruo menjawab dengan mantap. Apa pun rumor yang diberikan mengenai Hutan Batu, ia tidak peduli.
Tapi sayangnya, Qu Xuanzi jujur saja keberatan. Bukan karena Hutan Batu itu berbahaya, tapi karena Hutan Batu berisikan makhluk-makhluk menyebalkan yang malas ia temui.
Seperti contohnya ular-ular yang gila pada sesuatu yang cantik dan selalu manipulatif untuk menarik perhatian. Mereka sangat gila, lebih tepatnya begitu gila seperti idiot sejak Phyton Tujuh Warna menghilang. Ia tidak ingin mata Xie Ruo dikotori oleh makhluk-makhluk itu.
"Xuanzi, jangan katakan padaku bahwa kau hanya berputar-putar." Xie Ruo memandangnya curiga. Pria satu ini benar-benar gentong cuka, apa pun bisa dicemburuinya. Jangan-jangan, ia akan cemburu pada putranya sendiri setelah ini!
Qu Xuanzi akhirnya menyerah. Memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Xie Ruo. "Aku akan menunjukkan jalannya."
Qu Xuanzi berjalan sambil memalingkan wajah agar wajah cemburu itu tidak terlihat Xie Ruo. Namun sebagai pewaris Dewi Memori, Xie Ruo jelas tahu apa yang dirasakan Qu Xuanzi sekarang.
Sayangnya ia telat menyadari karena Qu Xuanzi selalu menghindari berbagai macam emosi agar tujuannya berputar-putar tidak terbaca. Benar-benar pria yang perhitungan.
Qu Xuanzi menunjukkan jalannya, kali ini jauh lebih cepat dibandingkan berputar-putar tidak jelas menelusuri tiap sudut Hutan Bintang. Mereka sampai di hutan yang jauh lebih rindang dan gelap meski hari masih tergolong siang.
Ular-ular kecil mulai terlihat, memantau di semak-semak dalam diam. Mereka berdua berjalan dengan tenang menelusuri hutan sampai memasuki wilayah lebih dalam.
Kabut mulai muncul, disertai udara pengap dan sesak yang tidak nyaman. Xie Ruo mengerutkan kening ketika memasukinya. Udara yang terasa sangat beracun, tapi karena kemampuanya, ia tidak terkena racun itu dengan mudah. Apalagi dengan racun darah di tubuhnya menolak semua racun yang masuk.
"Jika tidak nyaman, katakan padaku." Qu Xuanzi mengingatkan. Kadang Xie Ruo terlalu mandiri untuk meminta bantuan padanya.
"Tidak apa." Toh, ia akan sering menghadapi hal seperti ini. Jadi Xie Ruo tidak perlu bantuan untuk membuat dirinya sendiri merasa nyaman. Ia tidak semanja itu.
Semakin memasuki hutan, pepohonan semakin mengering dan jauh dari jangkauan. Hanya ada bebatuan besar seperti prasasti yang dipenuhi lumut dan daun merambat.
Wilayah ini tertutupi awan dengan sempurna sampai matahari tidak dapat masuk. Benar-benar terasa seperti berada di Dunia Bawah.
Semakin masuk ke dalam, Xie Ruo dapat merasakan berbagai macam emosi dari berbagai macam ular memenuhi pikirannya. Tiap emosi bisa mempengaruhi karakternya. Semakin kuat emosi seseorang, Xie Ruo dapat mudah terbawa emosi orang itu dan lepas kendali.
Ada sangat banyak emosi negatif dan tidak membuatnya nyaman. Ini adalah salah satu alasan mengapa Qu Xuanzi berat hati membawanya ke sini. Emosi ular sangat ekstrim dan aneh. Mereka dipenuhi hasrat dan keinginan gila setiap saat.
Hal itu membuat Xie Ruo harus memutuskan persepsinya dan menurunkan semua auranya ke tahap paling dasar agar tidak terkena pengaruh. Setelah menurunkan semua aura dan persepsinya, barulah Xie Ruo merasa tenang.
Tapi begitu Xie Ruo merasa tenang untuk sesaat, ia merasakan napas seseorang serta emosi spesifik yang begitu menyedihkan. Ada perasaan jijik dan kesal, sekaligus senang dan merasa ingin mengutuk. Meski ia tidak dapat menebak emosi siapa itu, tapi ia tahu napas siapa itu.
"Long Long ... pantas saja dia tidak kembali, ternyata keasikan bermain." Xie Ruo tidak habis pikir. Bukankah sebelumnya Long Long dengan jelas menunjukkan penolakan?
"Aku rasa bukan bermain." Qu Xuanzi dapat dengan jelas mendengar raungan Long Long yang merasa dirinya telah ditindas.
Xie Ruo baru mendengar hal yang sama pula. Mereka saling tatap untuk sesaat, kemudian pergi ke arah yang dituju.
Kehadiran mereka berdua membuat para ular tidak berani menunjukkan diri. Meski mereka sombong, tetap saja akan jatuh bila dihadapkan dengan kekuatan dewa.
Tepat di depan sebuah gua, suara raungan naga terdengar. Xie Ruo dapat mendengar bahwa Long Long mengutuk berkali-kali seperti bocah. Entah siapa yang ia kutuk, pasti bukan hal baik.
Karena kehadiran Qu Xuanzi yang menutupi aura mereka, Long Long dan siapa pun yang bersamanya itu tidak mengetahui kehadiran Xie Ruo sehingga mereka masih bebas 'berbincang' sambil saling 'memuji' dengan nada tinggi dan arogan. Benar-benar menunjukkan semangat anak muda—meski mereka sudah tidak muda lagi.
Apalagi setelah melihat situasi Long Long yang menyedihkan serta wanita aneh yang melilit Long Long sambil menyinyir berkali-kali dengan nada menyebalkan. Pemandangan luar biasa itu benar-benar membuat Xie Ruo tidak bisa berkata-kata.
"Aku baru tahu, lidah Long Long cukup beracun." Xie Ruo tersenyum bangga. Benar-benar peliharaannya yang baik!
Tepat pada saat itu, barulah dua makhluk aneh itu menyadari siapa yang baru saja datang. Begitu menoleh, wajah mereka menjadi pucat saat itu juga.
Terutama bagi Long Long, apalagi setelah mengingat taruhan Qiong Lin, ia tiba-tiba menjadi sangat bersemangat.
Pertunjukan sudah di depan mata!