The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
132. Altar Pengorbanan Jiwa (1)



Beberapa hari semenjak pesta diadakan, Yu Zainan terus mengalami hari sial yang menimpa hidupnya. Dari wajahnya yang dibuat gosong sampai rambutnya terbakar, sayangnya ia tidak berhasil menemukan si pelaku yang terus usil. Setiap hari, wajahnya terus suram, bahkan ketika pertemuan antar pemimpin wilayah.


Sebagai Raja Ras Naga, ia tidak boleh menunjukkan hal yang memalukan. Tapi kesialan berturut-turut itu terus menghujaninya sampai harus berdiri dengan tampilan menyedihkan di depan para pemimpin wilayah.


Siapa yang melakukan trik menjijikkan seperti ini, tidak ada yang tahu jelasnya. Mereka hanya tahu, hampir setiap hari selalu ada 'hadiah' yang dikirim melalui berbagai media. Yu Zainan telah menghindar, berpikir dirinya cukup cerdik untuk menghindari semua jebakan dan menangkap pelaku, tapi hasilnya dirinyalah yang terkena jebakan sendiri.


Sekarang ia berdiri di depan para pemimpin wilayah, wajahnya masih sangat gelap.


"Siapa pun yang menemukan pelaku kejahatan ini, Tuan Yu akan memberinya hadiah besar!" Pria berjubah hitam mengumumkan apa yang ingin dikatakan Yu Zainan yang malang.


Semua naga mulai ribut akan pengumuman dadakan tersebut. Mereka mulai saling mencari cara untuk menangkap pelaku yang membuat Tuan Yu mereka menghadapi kesulitan yang menyedihkan.


Jian Wu hanya diam, terlalu malas menanggapi kebodohan Yu Zainan. Siapa lagi yang bisa melakukannya tanpa ketahuan selain Xie Ran dan teman-temannya? Anak-anak itu benar-benar kekanakan. Memikirkan bahwa Pei Xi juga ikut andil dalam kekanakan ini, ia tambah kesal.


Pandangannya terarah pada Xie Ran yang kelewat santai dengan seekor naga kecil di bahu sambil memakan camilan di tangannya tanpa mempedulikan keributan yang ia ciptakan sendiri. Jian Wu menyipitkan matanya, apa yang bagus dari gadis tukang makan itu? Ia bahkan jarang bicara seolah tidak tahu bagaimana caranya bicara, hanya tahu cara makan dan bersenang-senang.


"Tetua Bai mungkin memiliki pendapat. Masalah ini, bila dibiarkan akan menyulitkan seluruh ras. Tuan Yu mendapat banyak jebakan kecil saat ini, mungkin saja kedepannya akan mendapat jebakan yang dapat mengancam nyawa. Itu artinya, ada pengkhianat di puncak lava."


Xie Ran menatap Jian Wu, kemudian tersenyum. "Oh? Aku baru mendengarmu bicara, ternyata Penasihat Jian cukup mampu memikirkan kemungkinan ini dan mengungkapnya secara umum. Jika pembuat masalah ini tidak segera tertangkap, memang akan menyebabkan masalah."


Entah kenapa Jian Wu merasa Xie Ran sedang menyindirinya terang-terangan, mengatakan bahwa ia bisu karena baru kali ini bicara di depan umum. Tapi ia tidak bisa menunjukkan permusuhan begitu terbuka.


Ia menarik napas menahan emosi diam-diam. "Lalu, apa Tetua Bai memiliki solusi?"


"Penasihat Jian terlalu melebihkan kemampuanku, aku hanya Tetua dan tidak ikut campur masalah kecil seperti ini. Aku hanya akan keluar, jika masalah kecil menjadi masalah besar. Kenapa tidak Penasihat Jian saja yang memberikan solusi pada Tuan Yu?"


"Tetua Bai memang sangat mementingkan harga diri." Jian Wu berkata dengan sinis. Berani sekali gadis kecil itu membalikkan kata-katanya tanpa tahu malu. Atas dasar apa?


Xie Ran mengabaikan ketidaksukaan Jian Wu terhadapnya. Itu wajar saja. Posisinya di Benua Lava lebih tinggi dari Jian Wu, masuk akal jika Jian Wu iri. Ia sudah terbiasa menghadapi makhluk seperti itu.


Pandangan Xie Ran terarah pada Yu Zainan yang sedang frustrasi, takut jika kembali ke kediaman maka akan mendapat kejutan lagi yang—mungkin—kali ini akan membakar seluruh rumahnya.


"Dia tampak sangat frustrasi." Long Yun di bahu Xie Ran nyaris melolong penuh rasa bahagia.


Jian Wu tidak dapat memahami ucapan naga sehinga hanya tahu bahwa naga di bahu Xie Ran tampak menggeram bodoh. Ia hanya bisa mencibir dalam hati.


Sambil memindahkan Long Yun ke lengannya, Xie Ran bicara, "Sudahlah, tidak main-main lagi."


"Apa Master kasihan?"


"Hanya merasa bosan."


Pandangan Xie Ran menjadi serius ketika melihat Yu Zainan. Sepertinya ia akan melanjutkan rencananya setelah bertindak tenang selama beberapa hari. Yu Zainan tidak lagi curiga, ia bisa bereaksi. Hanya saja tetap harus berhati-hati akan kehadiran Jian Wu.


"Tuan Yu, mengenai masalah yang kukatakan sebelumnya, apa sudah siap?"


Yu Zainan menoleh ke arah Xie Ran, kemudian mengangguk pelan. "Tetua Bai tenang saja, semua sudah siap."


"Untuk sisanya, lebih baik aku yang mengambil alih sebagai bantuan pertama yang kuberikan." Jian Wu tidak mau kalah sehingga menyela Xie Ran yang ingin bicara. Persiapan kali ini tidak boleh gagal karena Xie Ran, ia harus sangat berhati-hati.


"Kalau begitu, aku serahkan padamu." Yu Zainan hanya bisa menghela napas. Kekuatannya tidak seberapa dibanding dua makhluk di depannya yang sebanding dengan Raja Iblis. Andai saja ia memiliki kekuatan seperti Raja Iblis, ia tidak perlu khawatir.


"Ngomong-ngomong, apa Tetua Bai tahu di mana lokasi altar pengorbanan jiwa berada? Jika tidak, kita bisa pergi bersama." Jian Wu memasang senyum tipis yang terlihat tulus.


"Baik." Xie Ran tidak memiliki pilihan lain. Lokasi altar pengorbanan jiwa yang digunakan Yu Zainan untuk membumihanguskan Benua Lava sangat disembunyikan. Jika bisa berada lebih dekat dengan Jian Wu, ia bisa lebih mempertimbangkan apa Jian Wu pantas diwaspadai atau tidak.


Sedangkan di belakang Xie Ran, Pei Xi mengerutkan kening. Sikap Jian Wu agak aneh, berbeda dengan Jian Wu yang begitu mengerikan beberapa hari yang lalu.


Jian Wu membenci Xie Ran, pasti tidak akan membuat segalanya menjadi lebih mudah. Apalagi, Jian Wu sama sekali tidak membocorkan identitas mereka, malah memilih bersama Xie Ran seolah akan menjadi dekat. Apa motifnya melakukan ini?


Xie Ran dan Jian Wu pergi ke altar bersama setelah pertemuan di aula. Hanya mereka berdua, serta satu pengawal iblis yang menunjukkan jalan. Tidak ada percakapan ataupun 'keramahan' yang diperlihatkan di aula barusan.


Hingga akhirnya mereka sampai, pengawal iblis itu pamit pergi menyisakan manusia dan peri di tempat yang sama.


Xie Ran memperhatikan altar dengan saksama. Terdapat sebuah panggung bundar sebesar arena berlantaikan ukiran rune. Rune-rune itu memberi perasaan yang akrab.


Xie Ran sepertinya pernah merasakannya ketika bertarung melawan Huai Mao. Saat itu Huai Mao memasang formasi pengorbanan, apa rune ini adalah rune yang sama seperti yang dibuat Huai Mao? Namun bedanya, rune tersebut bukan dijadikan sebagai formasi biasa melainkan altar besar untuk pengorbanan.


Tidak tahu apa tujuan 'dia' menginginkan jiwa para naga. Semua hal di dunia ada alasan. Seperti Xie Ran yang mengorbankan nyawanya sendiri untuk kekuatan, seseorang menginginkan jiwa makhluk lain juga pasti memiliki tujuan yang tidak jauh dari kekuatan dan kekuasaan. Tapi apa tujuannya sebenarnya?


"Bai Long'er ... atau aku memanggilmu saja dengan sebutan Xie Ran?"


Xie Ran diam untuk beberapa saat. Ia sudah menduga, tidak mudah menyembunyikan diri dari seorang peri, apalagi peri tersebut bukan peri biasa. Rupanya Jian Wu sudah mengetahui identitasnya dan tetap diam tanpa membuat kecurigaan. Sepertinya, Jian Wu akan menjadi sosok yang berbahaya.


Melihat Xie Ran yang tidak terkejut, Jian Wu terkekeh. "Memang pantas disebut Nona Klan Xie, pasti sudah menduga hal ini akan terjadi. Sayangnya, kamu berada di tempat yang salah. Entah apa tujuanmu sebenarnya datang ke Benua Lava, seharusnya kau tidak ada di sini dan mengetahui terlalu banyak. Kau tahu? Lebih baik tidak tahu daripada mengorbankan nyawamu sendiri."


"Memang, seharusnya aku sudah pergi," balas Xie Ran, kemudian menatapnya dengan senyuman. "Hanya saja tiba-tiba aku tertarik, bagaimana seorang peri yang tak berpihak tiba-tiba muncul di pihak seseorang. Aku bahkan penasaran, bagaimana kau dan temanku bisa saling mengenal."


"Kau sudah tahu?" Jian Wu merasa Xie Ran benar-benar sesuatu. Ia sudah lama tidak berinteraksi dengan Pei Xi sejak bocah itu menolaknya, lalu ia juga yakin ketika bicara dengan Pei Xi, tidak ada seorang pun yang menguping.


"Hanya menebak." Xie Ran mengerjap mata. Ternyata itu benar, benar-benar sebuah kejutan.


"Lalu, apa kau membencinya karena telah menyembunyikan sesuatu darimu?"


"Semua orang memiliki rahasia, aku juga begitu. Lagipula, hubungan kalian tidak baik, kenapa harus mempermasalahkannya? Seharusnya aku yang kasihan padamu, frustrasi karena tidak bisa meraih sesuatu yang sudah ada di depan mata."


"Xie Ran, terlalu pintar tidak akan menyelamatkanmu. Kau tahu maksudku?" Jian Wu menarik sebelah alisnya, berniat mengancam.


"Aku tahu sangat jelas. Karena aku memang tidak memiliki kesempatan untuk hidup dengan tenang, kenapa tidak sekalian saja mengumpulkan semua orang yang ingin membunuhku?"


Jian Wu semakin mengerutkan kening. Wanita satu ini benar-benar tidak tahu apa yang baik untuknya. Andai ia bisa membunuh bocah ini sekarang.


"Jika tidak ada yang dibicarakan, Penasihat Jian bisa melanjutkan tugasnya. Pastikan tidak ada kesalahan, atau akan sangat merugikan Tuan Yu." Xie Ran mempersilahkan Jian Wu pergi ke altar.


Jian Wu merasa telah diejek berkali-kali, tapi ia tidak bisa menyentuh Xie Ran sekarang, hanya bisa menelan kepahitan dan melakukan apa yang harus dilakukan. Pada saat yang tepat, dia pasti akan membalas.


Ketika Jian Wu melalui Xie Ran, memasuki altar untuk melakukan pemeriksaan, ia teringat sesuatu. Iris amber itu melirik Xie Ran yang masih tersenyum padanya, ia juga tersenyum seolah membalas senyuman Xie Ran.


Ia bergumam, "Bai Long'er, ya. Aku ingin lihat sampai kapan kau akan terus menggunakan nama itu."


Xie Ran otomatis tidak mendengar gumaman Jian Wu, tapi ia merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan wanita itu. Untuk detailnya, ia akan tahu sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selain melihat-lihat altar pengorbanan jiwa, Xie Ran tidak menemukan hal menarik lain. Altar itu memang kuat seperti milik Huai Mao, sangat cocok untuk mengorbankan seluruh ras naga. Tapi ia tidak memiliki hal lain yang membuatnya semakin curiga.


Jian Wu sangat waspada. Ia bahkan tidak bisa disandingkan dengan Yu Zainan yang kikuk dan malas. Jian Wu sudah tahu identitasnya, sudah pasti memiliki rencana yang sangat disayangkan bahwa Xie Ran tidak bisa menebak rencananya. Jika ingin mengungkapnya, pasti juga tidak akan sesederhana itu.


"Ranran, apa dia melakukan sesuatu padamu?" Pei Xi tiba-tiba datang dengan raut cemas. Meski ia tahu Xie Ran sangat kuat, tapi tetap saja akan sulit jika melawan Jian Wu.


Xie Ran menggeleng. "Di mana yang lain? Ada beberapa hal yang harus dibahas mengenai altar pengorbanan jiwa."


"Mereka di dalam." Pei Xi berjalan bersisian dengan Xie Ran ke dalam kediaman.


"Kau sudah menemukan sesuatu?" Yan Yao bertanya.


Xie Ran melihat Pei Xi sekilas kemudian menjawab pertanyaan Yan Yao. "Jian Wu sudah mengetahui identitas kita."


Semua orang terdiam. Kecuali Pei Xi, mereka semua tampak sangat terkejut dan mulai khawatir jika keberadaan mereka terungkap sehingga tidak bisa melanjutkan rencana dengan lurus.


"Tenang saja, Jian Wu cukup baik untuk tidak membeberkannya, setidaknya untuk saat ini." Xie Ran bersedekap dada dengan enteng, tampak tidak mempermasalahkannya. Berbeda dengan yang lain yang begitu cemas.


"Ranran, apa yang harus kita lakukan? Jian Wu menyembunyikannya tidak mungkin tidak memiliki motif lain. Dia pasti memiliki rencana." Zhong Xiaorong mulai gelisah.


"Kalian sebelumnya bertemu secara pribadi, apa dia mengancammu?" Yan Yao pikir Jian Wu mungkin saja mengancam Xie Ran yang keras kepala ini. Jika tidak, kenapa repot-repot menyembunyikan musuh di sisinya?


"Aku tidak semudah itu diancam." Xie Ran mendengus. "Sebelumnya berada di altar pengorbanan jiwa, aku pikir Jian Wu tidak benar-benar membawaku ke altar pengorbanan jiwa. Tidak ada hal lain selain rune yang pernah dipakai Huai Mao, aku yakin altar pengorbanan jiwa asli ada di tempat lain."


"Di mana itu?"


Xie Ran tersenyum misterius. "Perut gunung berapi."


Tiba-tiba udara dingin mengguyur mereka semua setelah kalimat Xie Ran memasuki telinga. Bagaimana bisa seekstrem itu? Meletakkan sebuah formasi dan altar di perut gunung merapi penuh dengan lahar, apa mereka ingin membuat kiamat!


Berbeda dari reaksi teman-temannya, Xie Ran justru terkekeh. "Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku pernah mendengar bahwa dinosaurus punah karena ledakan gunung vulkanik serta hantaman asteorid yang menyebabkan seluruh dunia berevolusi. Sepertinya 'dia' ingin membuat evolusi baru sambil mengorbankan jiwa-jiwa itu, dan menjadi dewa sesungguhnya."


Tapi yang menjadi pertanyaan, jika kekuatan itu untuk menjadi dewa, kenapa bisa menekan Qu Xuanzi dan Kaisar Iblis? Tapi bisa saja sosok ini benar-benar dewa, namun ingin pergi ke dunia yang pernah Xie Jin katakan padanya di mana puncak para dewa berada. Itu masuk akal.


"Dinosaurus? Makhluk apa itu?" Mereka berenam memandangnya bingung. Apa ada nama makhluk yang begitu aneh dan asing seolah dari dunia lain? Kenapa mereka tidak pernah mendengarnya?


"Naga dan kadal besar." Xie Ran tidak tahu harus bagaimana menejelaskannya, jadi dia sebut saja hewan yang memiliki kemiripan. Sejenak ia lupa bahwa dirinya sudah pindah dunia.


Mereka hanya mengangguk-angguk paham, tidak lagi bertanya. Meski penasaran, Xie Ran terlihat malas menjelaskan, jadi mereka memilih berada di posisi aman.


"Kau akan menggagalkan formasi? Jika formasi aktif, gunung akan meletus lebih buruk dan mengorbankan banyak nyawa. Tidak ada yang bisa menghentikannya," ujar Pei Xi.


"Jika aku membuat masalah pada formasi, apa gunung akan meletus?"


"Kau akan masuk ke perut gunung?"


"Aku naga, kenapa tidak bisa?"


Mereka lagi-lagi dibuat diam. Benar, Xie Ran bisa menjadi naga, tapi bukan berarti dia benar-benar naga, 'kan? Meski dia tahan terhadap panas, perut gunung berapi bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng!


"Kalian lakukan sesuatu untukku." Xie Ran mulai membagikan tugas.


Xie Ran menjelaskan bahwa, masing-masing dari mereka semua akan berpencar di tiga wilayah Benua Lava untuk memastikan keadaan tiap lereng gunung berapi. Ada banyak gunung berapi di Benua Lava, yang paling besar merupakan puncak lava, seharusnya di sanalah lokasi Altar yang sebenarnya.


Xie Ran akan pergi ke puncak lava bersama Zhong Xiaorong. Zhong Xiaorong memiliki sihir surgawi es yang dapat membuat masalah di pusat formasi terkuat agar Yu Zainan menerima bantuannya tanpa diketahui Jian Wu. Setelah itu, Xie Ran bisa mengendalikan pusat altar.


Sedangkan sisanya berpencar melakukan hal yang sama pada altar lain di tiap daerah termasuk daerah yang baru saja Xie Ran kunjungi. Tiap cabang altar berada di kaki gunung dan memiliki lokasi terlarang paling dijaga. Dengan arahan Xie Ran, mereka akan masuk dengan mudah tanpa halangan iblis.


Kurang dari dua hari sebelum waktu pengorbanan tiba, seluruh altar telah dirusak tanpa diketahui. Tidak ada yang curiga karena sangat hampir tidak ada yang memeriksa altar, yakin bahwa pengamanan mereka sangat ketat. Bahkan iblis yang memeriksa tidak dapat menemukan sesuatu yang salah.


Hingga akhirnya di puncak lava, Yu Zainan pergi ke perut gunung berapi. Ketika ia akan meletakkan inti formasi untuk pengorbanan besok, ia merasa sesuatu yang salah.


Melihat kembali ke altar yang dikelilingi lahar, ia mengerutkan kening. Ada udara dingin di altar yang membuat energi di sekitar kacau. Ia ingin mengabaikannya, hendak meletakkan inti formasi untuk pemasangan besok, namun tiba-tiba sebuah kilatan cahaya putih melintas menepis tangannya sampai inti formasi jatuh ke tepi, nyaris tercebur lahar.


Yu Zainan mengeram marah kemudian berbalik untuk melihat. Namun amarahnya tertahan ketika melihat keberadaan gadis cantik yang bersandar di dinding gunung dengan tenang. Iris birunya memandang Yu Zainan tanpa emosi.


"Kenapa kau melakukan itu?" Yu Zainan tidak mengerti. Apa Bai Long'er berubah pikiran?


"Apa kau tidak merasa ada udara dingin di sekitar altar? Jika kau melakukannya, hanya akan ada badai es, para naga tidak akan hancur, melainkan membeku. Formasi gagal."


Yu Zainan agak terkejut. Ia agak ceroboh hari ini dan merasa sangat malu. Untung saja Bai Long'er memberitahu, nyawanya terselamatkan.


Ia langsung pergi ke altar untuk memeriksa. Melihat rune-rune yang terukir di lantai batu, kemudian merasakan batu yang dingin seolah tidak berada dalam perut gunung berapi, ia mengerutkan kening. Memang benar, untung saja ia tidak meletakkan inti formasi secara langsung.


"Bagaimana bisa terjadi?" Yu Zainan mengerutkan kening.


"Bawahanmu tidak kompeten memeriksa, hampir saja hal tidak diinginkan terjadi. Jika formasi gagal, kau tahu apa yang akan terjadi." Xie Ran bicara dengan nada mengancam.


Yu Zainan menghela napas, kemudian melihat Xie Ran yang berdiri tegak memandangnya. "Mereka pantas dihukum. Untuk masalah ini, kau tahu penyebabnya?"


"Ketika formasi dipasangkan, suhu panas di dalam tidak beraturan dan mengambang di udara, tidak sampai pada rune formasi. Jika itu terjadi, Benua Lava mengalami musim dingin ketika formasi diaktifkan. Untuk mengatur suhu panas ini, harus dikontrol dengan baik dengan unsur api. Kebetulan, aku memiliki unsur api. Tapi aku tidak bisa menggunakannya begitu saja."


"Apa pun syaratnya, aku akan melakukannya asal tidak melanggar batas selama kau membantuku."


"Kenapa tidak meminta Jian Wu saja?" Xie Ran menyipitkan mata. Yu Zainan ini antara bodoh dan tidak bodoh.


"Jian Wu tidak bisa dipercaya. Dia melakukan sesuatu sesuai kemauannya, bahkan tidak bisa menjaga altar dengan baik sampai seperti ini. Selama beberapa hari ini, hanya tahu cara mengatur dan menghukum, sama sekali tidak terlihat seperti peri."


"Kau sangat membencinya?"


"Sedikit waspada bukan hal buruk, tidak boleh mempercayai orang lain dengan mudah. Kau juga harus menjaga ucapanmu sendiri, jangan mengecewakan 'dia'."


Xie Ran tersenyum semakin dalam. "Aku tidak akan mengecewakan 'dia'."


"Kalau begitu, altar ini aku serahkan padamu."


"Ini semua untuk 'dia', aku akan melakukan yang terbaik."


Yu Zainan tersenyum puas lalu pergi. Ia terlalu malas melakukan hal rumit, lebih baik menyerahkan pada mereka yang lebih kompeten. Untuk para bawahannya itu, ia akan memberi mereka pelajaran.


Di dalam, Xie Ran mendengus penuh cibiran pada Yu Zainan. Ia hanya mengatakan hal asal sudah dipercaya, memang sangat bodoh. Tapi dengan ini, pekerjaannya akan semakin cepat. Sebentar lagi, dia akan kembali bersama kakek dan neneknya.


"Kakek, nenek, tunggu aku."


***


Daerah Gelap menjadi begitu sepi sejak kedatangan iblis. Para naga bersembunyi dalam kegelapan, tidak berani keluar jika tidak ingin dijadikan budak iblis. Mereka hanya bisa diam dan menetap di satu tempat sampai tiba waktunya pergi ke Hutan Roh.


Jian Wu berjalan menelusuri jalan, mengabaikan banyak pasang mata di balik semak-semak yang memperhatikan. Ia terus berjalan tanpa menoleh, fokus pada apa yang menunggu di depan sana.


Sampai kabut tipis mulai terasa, ia telah mencapai perbatasan sehingga harus menghentikan langkah. Pandangannya tetap teduh dan tanpa emosi ketika melihat siluet seseorang muncul di balik kabut.


"Kau sudah datang." Senyum tipis muncul di wajah Jian Wu.


Pria di balik kabut tidak menjawab, hanya terus maju hingga sosok rampingnya terlihat sangat jelas. Rambut peraknya terkibar angin. Iris biru cerah itu begitu tegas, sedingin es dan sedalam laut membuat siapa lun terpesona dalam pandangan pertama.


"Besok adalah waktunya melakukan pengorbanan jiwa, aku sudah menjelaskannya padamu secara detail. Kau tahu apa yang harus dilakukan."


Pria itu melirik Jian Wu dengan tidak suka. "Kenapa aku harus mematuhimu?"


"Karena, aku memiliki sesuatu yang menarik untuk disampaikan padamu." Senyum Jian Wu semakin dalam, semakin terlihat misterius dan penuh niat jahat. Ia tidak akan melepaskan siapa pun yang menghalangi jalannya.