The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
46. Mabuk (1)



Sebilah pisau mendarat di depan leher seorang gadis yang tengah duduk di kemudi helikopter. Mata tajamnya menunjukkan ketidak pedulian meski pisau tajam di lehernya akan menggores kapan pun.


"Ada permintaan terakhir, Isabella Ellard?"


Gadis yang dipanggil Isabella tersebut menyunggingkan senyum jahat. "Apa aku harus mengatakannya? Kalau begitu, aku ingin nyawamu."


Isabella dengan cepat membalik kursi menyebabkan tubuhnya berputar ke belakang sedangkan pisau di tangan gadis sebelumnya telah dia ambil alih. Kepala gadis pirang itu terkena tendangan keras Isabella sampai harus termundur dan menodongkan pistolnya.


"Arahkah ke laut!" Isabella memberi perintah pada rekan kemudinya.


"Kau gila!"


Isabella tidak menghiraukannya dan berjalan ke arah gadis pirang itu dengan berani tanpa mempedulikan todongan pistol yang kapan pun akan menembus kepalanya.


Isabella tersenyum miring. "Kau ingin membunuhku? Pikiran baik-baik, Gwen Ellard."


"Kau membunuh keluargaku hari itu. Aku datang atas undanganmu antara hidup atau mati. Kau tidak ingat?"


"Aku ingat." Isabella tetap tenang dan melepas pisau di tangannya dan menendang pisau itu ke arah Gwen. "Itu jika kau mampu."


Gwen mendengus. "Kau selalu seperti itu."


Ketika Gwen akan menekan pistol, tangan lain menghentikannya dan memutar lengannya kemudian menendang kakinya hingga berlutut. Isabella sangat cepat dalam bertindak, dia telah membuat Gwen berlutut sedangkan pistol itu ada di tangannya.


"Kau menggunakan cara curang." Isabella membuang pistol tersebut ke luar secara sembarang dan melepaskan Gwen.


"Tidak ada aturan dalam membunuh." Gwen bangkit dan mengambil pisau dari sakunya. Dengan cepat mengarahkannya ke arah Isabella, namun Isabella segera meninju wajahnya hingga Gwen termundur merasakan kepalanya pusing.


Isabella tersenyum, nyaris tertawa. "Kau benar, tidak ada aturan."


"Kau ... Isabella Ellard ... tidak ... kau tidak pantas menyandang nama Ellard. Keluarga yang kau bunuh dengan tanganmu sendiri .... Andai kau memiliki sedikit penyesalan ...."


"Aku tetap mengambil jalan yang sama meski waktu terulang." Isabella menyipitkan matanya dan menendang kepala Gwen hingga gadis pirang itu terbaring setengah pingsan. "Jangan mengharapkanku."


Ia dan Gwen adalah saudara, tapi Isabella tidak melihatnya sebagai saudara. Meski memiliki darah yang sama dari keluarga Ellard, Isabella telah membunuh semua keluarga Ellard dan menyisakan Gwen kecil beberapa tahun lalu untuk memberinya kesempatan.


"Kau masih terlalu lemah dan mudah kubunuh." Isabella tidak peduli lagi dan kembali duduk di kemudi helikopter. Dia mengarahkannya ke arah laut membuat pria di sebelahnya menatapnya tajam.


"Kenapa laut?"


Isabella tersenyum miring. "Sayangku menunggu."


Helikopter melaju cepat ke arah laut di San Diego. Ada banyak turis yang jalan-jalan di sekitar pantai, namun Isabella tetap mengemudikan helikopter ke kejauhan lautan sampai kerumunan pantai tidak lagi terlihat.


Segalanya menjadi hening terkecuali suara bising helikopter di udara yang terus melayang.


Isabella menekan alat komunikasi di telinganya. Mendengar suara pria yang membuat wajahnya semakin dingin dan datar. Detik berikutnya, senyum licik muncul di bibirnya.


"Turun jika ingin hidup." Isabella mengusir pria di sebelahnya begitu saja.


"Kau ingin membunuhku? Bagaimana aku bisa turun?!"


Isabella memutar bola matanya dan mengeluarkan perahu karet ke bawah sana lengkap dengan talinya. Perahu itu mengembang begitu sampai di atas air. "Sudah?"


Pria itu mendengus sambil melepas alat-alat kemudi dan pergi ke arah pintu. Sebelum benar-benar keluar, ia menoleh. "Bella!"


Isabella menoleh ke arah pria itu dengan wajah malas.


"Senang bekerja denganmu." Pria itu menyengir dan menjatuhkan diri ke perahu karet. Dia tahu apa yang ingin diselesaikan Isabella, tapi tidak menyangka gadis itu akan seekstrem ini. Dia tahu Isabella memiliki phobia laut.


"Jangan sampai aku melihatmu lagi." Setelah menyelesaikan kalimatnya, dia terus melajukan helikopternya sendiri semakin jauh ke tengah laut.


"Kau ingin membuatku mati bersamamu?" Gadis pirang di belakangnya telah sadar dan merawat lukanya.


Isabella mendengus. "Bukan aku yang mengajakmu."


"Siapa lagi yang akan kau bunuh? Mereka menawarkan harga besar?" Gwen bersandar di dinding helikopter dan bersedekap dada.


"Louis Somerhalder"


"Aku semakin yakin otakmu kemasukan sesuatu. Tidak mungkin Red Room menyuruh seseorang membunuh Somerhalder. Kau membuat misi sendiri."


Somehander adalah pemilik Red Room yang telah menguasai segalanya sampai saat ini sedangkan Louis adalah putra satu-satunya Tuan Somerhalder. Tidak ada yang berani menyentuhnya atau bahkan berpikir membelot. Tentu Isabella terkecuali.


"Benar. Jika aku tidak bisa membunuh keseluruhan, maka aku bisa membunuh harapannya." Isabella tersenyum, namun senyum mengerikan yang dapat dirasakan Gwen.


"Kau berniat balas dendam?"


Isabella tidak menjawab. Semenjak kematian Jane dan Sang Yu beberapa hari lalu, dia merasakan sesuatu yang janggal. Kematian mereka dibiarkan begitu saja seolah tidak pernah ada, itu yang membuatnya sangat kesal dan semakin menumpuk kebencian. Sekarang, dia ingin menuangkannya.


"Kau bisa pergi menyusul Finn—yang barusan lompat—jika mau."


Gwen terdiam beberapa saat memperhatikan saudaranya yang tidak dianggap. "Kebetulan tanganku gatal. Jika kau ingin mati, harus mati di hadapanku."


"Bodoh."


Helikopter dihentikan di udara ketika melihat helikopter lainnya muncul. Dia mengalihkan kemudi pada Gwen secara paksa. Untung gadis pirang itu ingin menurut walau harus dipaksa mati-matian sehingga Isabella dapat pergi ke pintu helikopter.


"Kabar baik Somerhalder?" Isabella menyapa sambil bersandar di pintu helikopter.


Pria tampan seumuran dengannya di helikopter seberang menyahutinya dan memerintahkan Isabella menaiki helikopternya.


Isabella tidak keberatan. Dia melompat ke helikopter seberang membuat Gwen di dalam ingin berteriak kesal. Bisa-bisanya gadis sialan itu meninggalkannya.


"Bella, urusan kita belum selesai!"


Isabella mengabaikan teriakannya dan berfokus pada rencana di kepala. Dia melihat beberapa bagian helikopter dengan teliti. Beberapa senjata dan peledak seperti ingin berperang.


"Kau pikir aku tidak tahu rencanamu?" Louis menodongkan pistol ke kepala Isabella dengan tatapan tajam. Gadis licik ini selalu menjadi hal yang diwaspadainya dan kini terjadi.


Isabella mengangkat kedua tangannya dan berbalik melihat Louis yang terlihat sangat serius. "Kau bicara denganku?"


"Menurutmu kenapa aku membawamu ke sini?"


"Jebakan? Aku sudah menduganya." Isabella tersenyum semakin lebar dan menendang dinding helikopter hingga lapisannya terbuka. Di baliknya menampakkan sebuah benda disertai angka perhitungan mundur. Baiklah, seseorang ingin melakukan bom bunuh diri di sini.


"Kau lebih pintar dari yang kuharapkan." Louis memuji. Dia terlihat tenang seolah tidak akan terjadi sesuatu kedepannya.


"Kau yang bodoh." Isabella mengedikkan bahu acuh tak acuh dan bersandar melihat jendela. Helikopter telah dijalankan saat ini sedangkan Gwen tertinggal.


"Aku sudah tahu sejak lama bahwa serum itu tidak mempengaruhimu. Kau tahu mengapa?"


"Tidak. Kau adalah bahan uji coba sebenarnya. Kau satu-satunya yang paling kebal sehingga tidak mudah dikendalikan," ujar Louis menangkat dagu Isabella dengan jarinya. "Mari kita lihat, apa kau bisa lulus percobaan atau mati." Louis menutup bom waktu tersebut yang berada di samping Isabella.


Isabella tersenyum miring. "Kau terlalu meremehkanku."


Isabella menarik kabel pada bom sehingga bom tersebut terus terpacu tanpa henti. Suara detakan waktu terus berjalan membuat seisi helikopter panik.


"Tuan Somehander, apa lagi yang kau pikirkan?" Isabella tetap terlihat santai meski bom di sebelahnya akan meledak dalam hitungan beberapa detik.


"Sialan!"


Louis menarik kerah Isabella dan memutarnya hingga Isabella terpelanting ke lantai helikopter. Isabella tidak jatuh sepenuhnya. Tubuhnya seperti tanpa tulang mencekal Louis dengan erat di punggungnya.


Louis mendorong dinding helikopter di depannya dan melayang ke belakang sehingga tubuh Isabella terbentur. Kemudian memutarnya kembali hingga Isabella kehilangan koordinasi dan terguling di lantai.


"Matikan!" Louis menggertak dengan keras dan menginjak lengan Isabella.


Isabella menahan sakit. Dia meraih kaki Louis dan mengangkat tubuhnya menendang punggung Louis. Dia melompat berdiri kemudian menghindari tinju yang tiba-tiba melayang ke arahnya. Isabella menghindari tiap tinju kemudian memutar lengan Louis ketika ada kesempatan dan menendang lututnya kemudian menekan bahunya dengan siku. Louis kesakitan, namun diabaikan Isabella.


"Dengar aku baik-baik. Bukan hanya aku yang tidak terpengaruh oleh serum," bisik Isabella.


Louis meraih lengan Isabella dan membantingnya ke depan. Helikopter bergoyang karena pertempuran hingga tidak stabil, namun mereka tidak peduli.


"Kau ingin tahu sebelum kematianmu?" Isabella masih mengejek meski merasakan punggungnya sangat sakit karena benturan.


"Beritahu dan aku akan membunuhnya." Louis memutar lengan Isabella ke punggung hingga tidak bisa bergerak.


"Gwen. Aku memberinya darahku sebagai percobaan dan berhasil. Menurutmu, kau bisa mengalahkannya?" Isabella masih berkata tanpa beban.


"Jadi saudaramu itu, pantas saja. Sepertinya memang tidak perlu melakukan percobaan lagi. Kalian memang harus mati." Louis mendengus dan menekan lengan Isabella membuat Isabella kesakitan.


"Aku berkesan, tapi sayangnya kau akan mati."


Louis baru menyadari bahwa tinggal 10 detik lagi bom akan meledak. Dia melepas jeratannya dan mengambil pistol kemudian ditodongkan ke arah pilot. "Jangan lepaskan sebelum aku keluar!"


Pilot itu hanya bisa mengangguk sambil gemetar. Dia terus memfokuskan diri pada kemudi meski tahu akan mati sekarang.


Ketika akan keluar, Louis menembak Isabella hingga mengenai lengannya. Isabella mengerang, namun dia menahan sakitnya dan menyambar pistol Louis.


Louis begitu kesal. Dia terpacu pada waktu namun Isabella tidak melepaskannya. Begitu Isabella menyambarnya, dia terbanting dan bersalto untuk menjauhi gadis itu. Mengambil pisau dari sakunya, dia menyerang Isabella lagi.


Isabella menahan pisau di depan matanya kemudian memutarnya dan menusuk punggung Louis. Louis sudah mengerang, namun tidak membuat Isabella puas. Dia menikam pria itu lagi, tapi ketika tikaman yang ketiga kalinya akan diluncurkan, lengannya tertahan dan dia terbanting membentur dinding.


Louis mengabaikan Isabella. Dia segera melompat ke bawah, tepatnya ke arah perahu karet begitu hitungan selesai. Isabella mengikut hingga ledakan terjadi dan terasa panas di kakinya.


Tubuhnya jatuh lebih cepat ke bawah kemudian menendang Louis dengan keras. Dia mengeluarkan pisau dari saku dan menyayat perahu karet di bawahnya hingga tercebur. Begitu Louis sampai, dia melepas bom yang tersisa tepat di depan Louis.


Duarrr


Ledakan terjadi menyebabkan tubuh Isabella semakin jatuh ke dasar laut lebih cepat. Darah menggenang di permukaan laut akibat bom. Sedangkan Isabella memandang dasar laut tanpa ekspresi melihat air yang menjadi merah.


Semakin lama Isabella semakin jatuh ke dalam kegelapan lautan. Tidak ada hal lagi yang terdengar meski dia tahu di luar sana Gwen sudah datang. Dia tidak mengharapkan apa pun lagi. Perlahan mata indahnya tertutup disertai napasnya yang diakhiri gelembung dan terbawa arus.


Begitu membuka mata, dia terkejut seolah telah terjatuh dari ketinggian menyebabkan jantungnya tidak karuan. Napasnya kembali lancar dan melihat sinar matahari menusuk matanya hingga dia harus menyipitkan mata.


"Xiao Ran, kau sudah bangun."


Gadis itu baru sadar setelah mendengar suara Liu Chang yang menusuk telinganya. Dia menoleh, mendapati dua pria yang terlihat segar berolahraga di depan gua.


"Hei, kau tidur sangat nyenyak. Apa yang kau mimpikan?" tanya Liu Chang.


Xie Ran termangu sejenak dan tersenyum. "Mimpi yang indah."


"Apa terlalu indah sampai kau terkejut?" Yan Yao meledek. Dia jelas melihat Xie Ran yang terlalu terkejut seperti habis bermimpi buruk dan akan mati.


Xie Ran terkekeh dan bangun dari tidurnya. Dia baru sadar bahwa selimut ini masih menempel di tubuhnya sedangkan dia tidur di atas jerami dengan bantalan jerami yang lebih tebal. Es batu itu benar-benar memperhatikannya.


"Kenapa kau merenung?" Liu Chang menatapnya curiga.


Xie Ran menggeleng cepat, "Tidak."


Kemudian merapikan selimut dan memasukkannya ke dalam liontin tanda dia mengembalikan selimut itu ke pemiliknya. Dua pria itu tidak melihat bahwa Xie Ran memasukkan selimut ke dalam liontin dan berpikir Xie Ran memasukkannya ke cincin spasial.


Mereka melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini tidak begitu berbahaya seperti sebelumnya dan kemampuan bertarung mereka telah meningkat sampai minggu berikutnya. Kali ini, dua pria itu tidak melarang Xie Ran bertarung. Xie Ran ikut bertarung sehingga buruan selesai lebih cepat dan singkat.


Tak terasa, waktu sebulan terpenuhi dengan cepat. Xie Ran, Liu Chang, dan Yan Yao pergi ke tempat pertemuan yang telah diterapkan sebelumnya dengan begitu gembira akan reuni kembali.


Di ujung sana, sudah terdapat 4 manusia yang tengah menunggu dengan makan malam. Sekarang sudah malam dan 3 orang itu belum kunjung kembali. Itu membuat mereka resah.


Tapi ketika melihat siluet seorang gadis yang merangkul dua pria di sisinya, mereka kembali bersemangat.


Xie Ran melihat kumpulan manusia itu segera melepas rangkulan dan melesat cepat menyebabkan dua pria itu terpelanting dan berputar. Gadis itu ... terlalu ganas!


Mei Liena awalnya berpikir bahwa Xie Ran datang begitu cepat karena rindu dan ingin memeluknya. Dia melompat girang dan merentangkan tangan. Namun, hasil berkata lain ....


Xie Ran melewatinya begitu saja seolah dia hanya angin lalu dan menembus kerumunan menuju makanan yang sudah disajikan. Ah, dia begitu lapar sampai lemas dan dipapah dua pria itu. Melihat makanan enak, dia tidak bisa tidak bersemangat!


Berbeda dengan Mei Liena yang memiliki wajah sedih seolah akan menangis keras. Temannya hanya menyukai makanannya dan tidak merindukannya. Zhong Xiaorong yang melihatnya tidak bisa membantu, hanya bisa menahan tawa begitu pula yang lain.


"Sudah tahu Xiao Ran lebih suka makanan." Zhong Xiaorong menyenggol Mei Liena dan terkekeh sambil berlari ke arah Xie Ran. Dia malas melihat Yan Yao.


Yan Yao dan Liu Chang datang dan saling tegur sapa pada yang lain. Berbeda dengan Xie Ran yang bersiap menghabiskan semua makanan dalam satu mangkuk membuat semua orang menggeleng-geleng. Foodie kecil ini terlalu rakus.


Mereka berbagi cerita dan pengalaman selama sebulan berkelana di hutan. Liu Chang dan Yan Yao bercerita tentang Boa Lautan Timur membuat mereka berempat terkejut. Namun Xie Ran segera meluruskan bahwa Boa itu mati karena jebakannya, bukan dia yang membunuhnya.


Tapi tetap saja mereka berpikir Xie Ran terlalu pintar untuk menjebak Boa sampai mati. Padahal Xie Ran tidak ingin mengakuinya. Dia lebih suka mengakui bahwa dirinya masih lemah tak berdaya.


Mereka juga cerita tentang Beruang Pemakan Otak dan hewan buas menyeramkan lainnya. Serta cerita mengenai sihir peri Zhong Xiaorong serta kombinasi sihir Zhong Xiaorong, Pei Xi, dan Mei Liena yang mengerikan. Tidak sia-sia mereka berada di hutan selama 3 bulan lamanya.


"Karena besok kita akan mengakhiri pelatihan ini dan kembali ke akademi, mari bersulang untuk peraihan kita selama 3 bulan terakhir!" Yan Yao berkata dengan semangat sambil mengangkat segelas arak di tangannya.


Yang lain ikut bersulang sedangkan Xie Ran melihat arak di tangannya dengan ragu. Di kehidupan lalu, dia tahan dengan minuman alkohol karena sudah terbiasa. Tapi tidak tahu kalau sekarang. Tapi tidak tahu kalau tidak dicoba hingga Xie Ran ikut bersulang dan menenggak segelas arak dengan satu tenggakan.


"Xiao Ran, kau sangat hebat!" Zhou Kui memuji keberanian Xie Ran. Di tangan Xie Ran adalah gelas yang cukup besar, berbeda dengan mereka tapi Xie Ran menenggak begitu saja seperti minum air putih.


Xie Ran menyengir, detik berikutnya dia cegukan dan mulai mual serta wajah yang memerah. "Aku pergi dulu."


Xie Ran berdiri perlahan dan merasakan kepalanya melayang di udara hingga keseimbangannya terganggu. Ketika melangkah, dia nyaris jatuh dan membuat kepanikan massal akibat teman-temannya.


"Aku baik-baik saja ... tidak masalah." Xie Ran memperingati mereka dan berjalan dengan langkah gontai sambil berpegangan pada pohon menuju tenda. Ah, dia tidak bisa minum lagi dengan tubuh ini. Dia harus terbiasa minum mulai sekarang agar tidak terlihat memalukan.