
Dengan kecepatan Qu Xuanzi, tidak membutuhkan waktu lama untuk pergi ke Dunia Atas. Mereka melewati perbatasan alam ketika pergi dari klan sehingga dalam sekejap, mereka sudah berada di Dunia Atas.
Perbatasan Dunia Atas tidak ditentukan letak tepatnya. Seseorang hanya harus menggunakan teknik tertentu untuk membuka pembatas alam, lalu memilih akan pergi ke Dunia Atas atau Dunia Bawah. Dunia Atas menghadap langit, sedangkan Dunia Bawah berada di bawah tanah. Itu hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu.
Untuk dewa biasa, mereka membutuhkan portal untuk pergi ke Dunia Tengah, sama seperti manusia lainnya. Tapi dewa utama seperti Qu Xuanzi tidak perlu repot menggunakan portal.
Hanya dalam beberapa menit, Xie Ruo di pelukan Qu Xuanzi dapat melihat langit biru yang cerah disertai awan putih yang indah. Di bawahnya adalah hamparan pegunungan dan bercelah, ditutupi oleh hijaunya dedaunan.
Sangat berbeda dari Dunia Tengah, segala hal menyangkut Dunia Atas terdiri dari keindahan. Air terjun besar mengalir deras, diiringi dengan kicauan burung raksasa yang berterbangan dengan sayap warna-warni.
Selain air terjun dan pegunungan yang dipenuhi tebing curam, ada pula beberapa hewan terbang tak diketahui melintas, peri-peri kecil berjalan di tanah tanpa sayap dan bermain bersama hewan kecil, membentuk istana-istana kecil yang tersembunyi. Terlihat seperti di negeri dongeng.
Suasana damai ini terasa seolah Dunia Atas sama sekali tidak pernah mengalami bencana. Tidak ada kerusakan, hanya ada kedamaian dan suka cita.
"Kau suka?" Qu Xuanzi menatapnya dengan senyum.
"Terasa seperti di pedesaan." Xie Ruo selalu suka desa yang dipenuhi alam dan sunyi.
Qu Xuanzi terkekeh. "Ini hanya bagian perbatasan. Wajar jika hanya ada sedikit kehidupan."
"Kalau begitu, mari pergi ke rumahmu." Xie Ruo penasaran bagaimana Dunia Atas yang sebenarnya. Apa lebih bagus dari dunia kecil yang sudah terbengkalai itu?
Mereka terus melakukan perjalanan di udara. Rentang waktu di Dunia Tengah dan Dunia Atas jauh berbeda. Malam di tempat ini hanya lebih sebentar dibandingkan Dunia Tengah. Mungkin, siang bisa mencapai 48 jam sedangkan malam hanya sebatas 12 jam.
Tak sampai sepuluh menit, berbagai bangunan tinggi terlihat dan saling berkoneksi dengan bangunan lain melalui jembatan layang yang begitu tinggi.
Itu adalah sebuah istana, terlihat dekat namun sebenarnya jauh. Terlihat kecil namun sebenarnya sangat besar dengan halaman di atas perhutanan yang dipenuhi kabut saking tingginya. Bahkan Xie Ruo tidak bisa mengukur, akan sebesar apa istana itu.
Hewan-hewan suci berterbangan dan berlari di sekitar halaman istana. Ada berbagai wilayah di istana, bahkan satu perpustakaan saja mencangkup satu bangunan di sayap lain. Tiap bangunan mmiliki fungsi masing-masing dan terlihat ramai akan hewan suci dalam bentuk aslinya.
Mereka mendarat di bagian terdepan istana. Para hewan suci langsung sadar, buru-buru berkumpul untuk menyambut. Jumlah mereka sangat banyak dan sangat besar, berlutut seperti raksaksa patuh dan indah bersamaan.
Xie Ruo terperangah. Apa mereka semua adalah hewan-hewan yang dipungut Qu Xuanzi selama ribuan tahun? Mereka terlihat lebih mengerikan dari Xiao Caihong.
Naga Azure muncul dalam wujud manusia, berlutut di depan Qu Xuanzi dan Xie Ruo sambil menunduk dan mengepalkan salah satu tangan di dada. "Yang Mulia, Nona Xie, selamat datang!"
"Semua sudah selesai?" Qu Xuanzi bertanya.
"Tinggal menunggu keluarga Nona Xie dan teman-teman datang, Ann Rou dan Dou Dou sudah menyiapkan keberangkatan."
"Kalian bisa pergi."
Naga Azure mundur, diikuti oleh hewan suci lainnya. Kerumunan akhirnya reda, istana menjadi sepi dalam sekejap.
"Apa selalu sesepi ini ketika kau datang?" Xie Ruo melihat ke sana ke mari, sama sekali tidak ada makhluk apa pun.
"Tidak juga. Biasanya, beberapa dewa akan datang memberi laporan."
Xie Ruo mengangguk paham. Ia nyaris lupa kalau pria di depannya adalah Kaisar. Tidak mungkin istana terus sepi tanpa penghuni. Tapi setidaknya, apa tidak ada pelayan?
Ketika Xie Ruo akan bertanya lagi, suara wanita yang begitu girang datang nyaris memecah gendang telinganya.
"Xiao Zi!"
Xie Ruo menoleh ke belakang, melihat sosok wanita cantik dengan gaun putih yang sangat elegan. Terdapat tanda dewa di kepalanya, menunjukkan posisinya di Dunia Atas.
Ia mendarat ke atas lantai, gaunnya berkibar terbawa angin ketika berjalan dengan langkah ... cepat.
Jauh berbeda dari harapan Xie Ruo.
Qu Xuanzi sama sekali tidak berbalik, mungkin malas. Oleh karena itu, wanita aneh itu menyambar Xie Ruo dan menariknya menjauh dari Qu Xuanzi untuk melihat lebih dekat.
Sambil melihat seluk beluk wajah Xie Ruo, ia bicara, "Kau sangat mirip dengan Dewa Naga! Tua bangka itu tidak memberitahu bahwa dia memiliki cucu yang sangat cantik. Oh yaampun, aku jadi merindukan Wen Xi ...."
Xie Ruo tercegang. Hanya ada beberapa orang yang berani bertingkah di depan Qu Xuanzi. Sedangkan untuk kalangan dewa, hanya ada satu. Itu adalah Dewi Kehidupan!
"Tunggu dulu, melihatmu, aku jadi teringat dengan Dewi Cahaya. Sudahlah, dia sudah mati, tidak perlu dipikirkan." Ini kali pertama Dewi Kehidupan melihat Xie Ruo secara langsung. Biasanya Naga Azure hanya menjelaskan ciri-ciri tanpa mau menunjukkan rupanya.
"Memang, ada apa dengan Dewi Cahaya?"
"Kau ingin tahu?"
"Aku akan bertanya pada Xuanzi." Xie Ruo merasa telah bertemu dengan Mei Liena kedua. Ia harus menghindar.
"Jangan bertanya padanya, dia tidak tahu apa pun." Dewi Kehidupan bicara dengan nada meremehkan. Kemudian melanjutkan, "Jika Dewi Cahaya masih hidup sekarang, kalian mungkin akan menjadi saingan. Meski skandalnya banyak, tapi dia tidak buruk dalam hal penampilan. Tapi, aku tetap akan mendukungmu, karena Dewa Naga dan Dewi Cahaya tidak akur!"
"Apa kau akan terus di sana?" Qu Xuanzi tidak ingin membuat Xie Ruo terbebani dengan sikap Dewi Kehidupan yang kacau. Wanita itu bahkan bicara omong kosong. Ia bahkan tidak kenal Dewi Cahaya atau siapa pun itu.
Dewi Kehidupan mendengus. "Xiao Zi, seharusnya kau memanggilku Ibu! Aku membawa menantu kecilku, apa aku salah?" Kemudian wanita itu menghadap Xie Ruo dengan raut menyedihkan. "Katakan padanya untuk menerimaku, aku sangat menyedihkan ...."
"Ya, akan kusampaikan." Xie Ruo benar-benar tidak habis pikir dengan dewi satu ini. Pantas saja Qu Xuanzi kewalahan. "Aku masih ada urusan, aku harus pergi."
Xie Ruo menjauh ke arah Qu Xuanzi. Dewi Kehidupan sangat kuat, ia bahkan terkejut akan kekuatan tarikannya sampai Xie Ruo benar-benar tidak bisa melawan. Jika orang biasa, tidak ada yang bisa menarik Xie Ruo semudah itu seolah menarik boneka. Kesenjangan kekuatan ini mengerikan.
"Apa selalu seperti ini?" Xie Ruo masih agak terkejut. Apa Dewi Kehidupan mengidap keterbelakangan mental?
"Dia seperti itu karena berjanji pada seseorang. Tidak perlu dipikirkan." Pandangan Qu Xuanzi tampak redup, kemudian menggenggam tangan Xie Ruo mengajaknya berkeliling.
Xie Ruo sadar, tapi tidak banyak tanya. Mungkin Dewi Kehidupan membuat janji dengan Dewi Kehidupan sebelumnya ketika mewarisi keilahian. Itu sebabnya Qu Xuanzi tidak melawan Dewi Kehidupan seperti ia melawan dewa lainnya.
Sama seperti ketika melihat wanita yang seperti ibunya, tapi wanita itu sama sekali bukan ibunya. Xie Ruo tidak tahu bagaimana Dewi Kehidupan bisa meninggal dan bagaimana kehidupan Qu Xuanzi ketika kecil, tapi selama Qu Xuanzi belum memberitahu, ia tidak akan mencari tahu.
Mereka berkeliling di seluk beluk istana. Tiap sudut istana selalu memiliki barang berharga yang membuat Xie Ruo terpana. Meski tampak sederana, tetap saja terasa mewah bagi yang memahami seberapa berharga dan penting harta itu.
Ada beberapa hewan suci dalam wujud manusia membungkuk ketika bertemu mereka, lalu pergi setelah mereka pergi. Itu terus terulang, seolah para hewan suci itu adalah pengganti pelayan.
Selain berkeliling istana, Qu Xuanzi juga mengajak Xie Ruo berkeliling di sekitar kota. Jarak dari istana ke kota memang agak jauh meski terlihat dekat. Ada banyak peri dan dewa tingkat rendah berlatih demi kelangsungan hidup. Para hewan suci lainnya juga mengambil bentuk manusia untuk berbaur. Gaya hidup mereka sangat jauh berbeda dengan manusia.
Beberapa dewa akan berlatih di istana masing-masing, atau pegunungan terasingi sehingga kota terkesan sepi. Mereka semua hidup untuk diri sendiri dan secara bebas menentukan pilihan, tidak ada aturan yang terlalu menuntut.
Para peri berada di posisi yang sedikit lebih rendah dari dewa. Mereka harus berlatih untuk mendapat posisi dan menjadi dewa, namun itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Kebanyakan dari mereka memilih menjadi pelayan karena kondisi masing-masing. Itu semua dilakukan tanpa paksaan.
Jika peri belatih untuk menjadi dewa, dewa berlatih untuk mencapai posisi tinggi. Posisi Qu Xuanzi adalah hal yang rentan, sama seperti di Dunia Dewa. Karena tiap posisi Kaisar di Dunia Atas, sudah pasti akan pergi ke Dunia Dewa untuk mencapai kekuatan yang lebih tinggi.
Apa yang dikatakan Qu Xuanzi benar, cara hidup seperti ini berbahaya. Meski ada beberapa yang setia di posisinya, tetap saja ada pula yang tidak puas. Itu adalah hal lumrah, karena kehidupan adalah peperangan.
Tanpa terasa mereka telah melewati beberapa jam, meski begitu langit tetap cerah. Xie Ruo dan Qu Xuanzi memutuskan kembali ke istana setelah belanja banyak makanan. Ada banyak makanan baru dan terlihat enak, Xie Ruo tidak bisa melewati kuliner luar biasa itu.
Sesampai di Istana Langit dan memasuki salah satu bangunan, mereka disambut oleh Dewi Kehidupan lagi. Kali ini wanita itu tidak sendiri, melainkan ada seorang anak laki-laki yang tampak suram duduk di sebelahnya.
Anak itu memiliki iris hitam yang redup, terlihat dingin dan tidak memiliki emosi. Pakiannya gelap sehingga tampak misterius. Meski ukuran tubuhnya kecil, auranya sangat besar, lebih besar dari Dewi Kehidupan sehingga membuat Xie Ruo pikir anak itu seharusnya adalah seorang dewa utama. Pasalnya, tidak mungkin seorang dewa biasa mengalahkan aura dewa utama seperti dewi kehidupan.
"Kita betemu lagi." Dewi Kehidupan menyambut, kemudian membungkuk untuk menunjukkan penghormatan. Ia nyaris saja melupakan hal itu saking gembiranya.
Qu Xuanzi melihat anak laki-laki itu dengan datar. "Kenapa kau membawanya?"
"Tentu saja aku sebagai Dewi Kehidupan tidak boleh menelantarkan seorang anak kecil."
"Dia bukan anak kecil."
"Xiao Zi, kau bahkan masih bisa disebut anak-anak." Dewi Kehidupan jengkel. Bocah yang dibawanya jauh lebih muda dari Qu Xuanzi, sangat pantas bila disebut anak kecil.
"Kau bahkan lebih muda dariku." Qu Xuanzi tidak mau kalah. Wanita yang lebih muda darinya memintanya memanggil ibu? Yang benar saja!
Dewi Kehidupan mendengus kesal. "Ketika kau masih sekecil Xiao Zheng, aku sudah sebesar sekarang tahu!"
Nama bocah itu adalah Huo Yuzheng, sang Dewa Hukum. Jangan remehkan hanya karena tubuhnya yang kecil, ia bahkan sering membuat dewa utama lainnya babak belur. Meski temperamennya terlihat tenang dan lugu, sekali mengangkat tangan, bahkan Dewi Kehidupan takut. Hanya Qu Xuanzi yang bisa mengalahkannya.
Dewi Kehidupan berbalik melihat Xie Ruo. "Apa kamu sudah selesai berkeliling? Kalau begitu, biarkan wanita cantik ini yang akan mengenalkanmu dengan dewa lain."
"Tidak perlu."
"Tentu saja menantu tidak akan menolak, haha."
Xie Ruo merasa sangat ingin berteriak. Sejak kapan ia setuju? Ia sudah mengatakannya dengan jelas, lho!
"Xiao Zheng, perkenalkan dirimu, jadilah anak baik~"
Huo Yuzheng hanya diam melihat Dewi Kehidupan dengan tatapan polosnya. Ia tidak mengatakan apa pun walau hanya sebuah kata.
Dewi Kehidupan tertawa canggung. "Xiao Zheng memiliki masalah sosialisasi akut, kosa katanya tidak banyak. Namanya Huo Yuzheng, Dewa Hukum. Jangan heran mengapa seorang Dewa Hukum adalah seorang bocah, sebenarnya dia bukan bocah. Bahkan, dia seribu tahun lebih muda dari Xiao Zi. Dia bukan dewa utama, melainkan dewa yang tercipta melalui api neraka di Dunia Dewa."
"Api neraka?" Xie Ruo tiba-tiba menjadi tertarik. Ia melihat Huo Yuzheng yang berpandangan kosong, kemudian berpikir bahwa seharusnya seseorang yang tercipta dari api harus aktif dan meledak-ledak. Kenapa yang satu ini ....
"Api neraka adalah api terkuat di Dunia Dewa, bahkan api dinginmu tidak mampu."
Entah kenapa, Xie Ruo merasa ada seseorang menamparnya.
Dewi Kehidupan melanjutkan, "Karena perang beberapa waktu lalu, Xiao Zheng mengalami cedera yang lebih buruk dariku, mempengaruhi kestabilan pertumbuhannya sehingga ia menyusut menjadi anak-anak. Sudah sepuluh tahun, kau lihat 'kan dia terlihat seperti bocah 10 tahun? Ketika Dunia Atas terlepas dari segel, Xiao Zheng bahkan terlihat seperti bayi baru lahir dengan umur ribuan tahun. Jadi sebagai Dewi Kehidupan, aku memutuskan mengasuhnya."
"Lalu, kenapa kau membawanya ke sini?" Xie Ruo bertanya-tanya.
"Tentu saja mengenalkan adik iparmu! Selain itu, mungkin saja bisa menjadi anak keduamu selain ular imut itu." Dewi Kehidupan menunjuk ke arah Xiao Caihong bersembunyi di lenga Xie Ruo.
Xiao Caihong merasa wanita aneh itu sedang menargetnya sehingga hanya bisa memendam diri lebih jauh. Ditambah ketika melihat Huo Yuzheng, ia semakin menciut.
"Tidak, terima kasih." Qu Xuanzi menarik Xie Ruo pergi. Kenapa wanita itu terus saja menggangu? Membuatnya kesal saja.
"Xiao Zi, aku bicara dengan menantuku, bukan padamu!" Dewi Kehidupan tidak terima. Bisa-bisanya mengambil keputusan sendiri sedangkan yang tua diabaikan.