The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
15. Mimpi Buruk (3)



Isabella hanya menatapnya datar. Dia tidak takut dengan ancaman dan langsung menembakkan peluru ke kepala pria tua itu.


Orang-orang di belakangnya berteriak dan menangis memanggil pria itu berkali-kali dan memapahnya. Mereka gemetar melihat Isabella tidak jauh di depan mereka dan menyuruh para wanita dan anak-anak untuk lari.


"Kau tidak bisa melakukan ini. Apapun keinginanmu, kami akan memenuhinya. Kami bisa memberimu uang dan kekuasaan." Salah satu pria memohon dan berlutut di depan. Mereka adalah orang kaya, tapi di mata Isabella mereka hanyalah hama tidak berguna yang harus disingkirkan.


"Aku bukan seseorang yang tunduk pada orang sepertimu," sahut Isabella dan menembak dua pria yang tersisa dengan salah satu pistol di tangannya. Baginya itu terlalu mudah, bahkan dia tidak harus bertarung habis-habisan seperti sedia kala.


Langkahnya yang elegan berjalan ke arah di mana wanita tadi pergi. Dia tidak akan melepaskan siapapun, pria dan wanita sama di matanya.


Dia tidak menghentikan langkahnya ketika melihat lima wanita yang bergetar ketakutan sambil memohon-mohon untuk dilepaskan. Ada juga yang marah dan mencacinya, tapi Isabella tidak peduli dan langsung menembaknya satu per satu.


Delapan peluru terakhir telah dihabiskan. Dia menyimpan kembali kedua pistolnya dan akan pergi. Namun suara tangisan anak kecil menghentikan langkahnya.


Kepalanya menoleh ke anak kecil itu. Anak perempuan 6 tahun penuh air mata terduduk di balik gorden melihat keluarganya dibunuh di depan matanya. Itu tidak baik untuk dilihat anak kecil, namun tidak bagi Isabella.


Isabella menghampirinya. Masih berwajah datar dengan niat membunuh yang membuat anak kecil itu takut. Tapi anak kecil itu memberanikan diri menatapnya dengan kebencian.


"Pembunuh! Orang jahat!"


Serangkaian cacian tentang tindakan Isabella dilontarkan. Namun Isabella tidak bereaksi dan beranggap itu adalah pujian nyata. Dia suka dipanggil pembunuh dan jahat karena memang itu kepribadiannya.


"Hidup atau mati? Kau hanya memiliki dua pilihan itu." Isabella memberinya pilihan. Dia mengeluarkan pisau lipat dari saku pakaiannya dan memaksa gadis kecil itu memegangnya. "Jika ingin balas dendam, kau bisa melakukannya di masa depan. Menurutmu, dengan kekuatanmu saat ini bisa melakukannya? Akan lebih baik mati, itu lebih mudah dan berkumpul dengan keluargamu. Pilih satu dan lakukan."


Anak kecil itu gemetar ketakutan melihat pisau lipat yang bersih di tangannya. Itu bersih tanpa noda sampai menunjukkan pencerminannya serta sangat tipis sehingga dapat menggores kulitnya dengan mudah.


Anak itu sekali lagi melihat Isabella yang menunggunya. Isabella menggerakkan matanya ke pisau sekilas dan menatapnya lagi memberinya isyarat untuk segera mengambil keputusan.


Setelah beberapa pertimbangan, anak itu menatap Isabella dengan ragu kemudian kembali ke pisau. Dia mengangkat pisau dan menusuk paha Isabella begitu saja tanpa ragu karena marah.


Isabella mendesis sakit dan mencabut pisau di pahanya hingga mengeluarkan darah segar. Dia sudah tahu hal ini akan terjadi yang artinya gadis kecil ini telah memilih membalas dendam. Dia tidak marah tapi tersenyum ringan. "Pilihan bagus."


Detik berikutnya, cincin Isabella terbuka mengeluarkan asap putih yang masuk ke pernapasan anak itu sehingga membiusnya tertidur. Ia menutup cincinnya kembali dan membawa anak itu pergi.


Ketika sampai di helikopter, meletakkan anak kecil ke kursi dan menuju rekannya yang juga mengendalikan helikopter, dia tanpa sengaja membaca sesuatu.


Data adopsi Sang Ran dan kelahiran Isabella Ellard. Kediaman Keluarga Ellard yang baru saja dia bunuh. Xie Ran tiba-tiba memiliki wajah gelap membaca halaman yang sedang diperiksa rekannya. Daftar anggota dan lain sebagainya.


Nordh, rekan di depannya menyadari kehadiran Isabella dan langsung menutup berkas di tangannya. Dia mengenakan sabuk dan bersiap terbang. "Kau sudah selesai, mari kita kembali."


Xie Ran tidak menyahut dan duduk di kursi kemudi sebelahnya lalu mengenakan sabuk. Dia tetap dingin seperti biasanya.


Jadi bagaimana jika dia ternyata membunuh keluarganya sendiri? Dia tidak peduli akan hal itu. Namun hal yang disesali adalah bahwa dia baru mengetahuinya sekarang. Mereka menyembunyikannya.


Sepanjang jalan Xie Ran hanya diam dan kosong. Bahkan sampai kembali ke ruangannya, dia hanya diam duduk di sofa dan menggigit jarinya merasa gelisah. Meskipun dia tidak merasa bersalah, dia merasakan keraguan dalam hatinya yang tidak pernah ditunjukkan.


Semakin lama, dia semakin gelisah dan tidak dapat mengendalikan diri. Dia menutup matanya, menggigit bibirnya sampai berdarah.


Memikirkan tentang keluarganya yang ia bunuh sendiri, dia merasa itu sangat disayangkan. Bila saja dia datang pada mereka lebih awal, dia akan memiliki kehidupan seperti wanita-wanita itu. Tidak menjadi pembunuh seperti ini dan tidak dibenci saudaranya sendiri.


Seumur hidup dia hanya tahu cara membunuh. Sekarang dia telah mengetahui bahwa dia memiliki saudara kecil yang lucu di tempat terkutuk ini. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Semakin memikirkannya, semakin sakit kepala. Dia beranjak dari sofa menuju dapur dan mengambil obat depresi dan menenggaknya. Dia pernah mengalami depresi dan akan sakit kepala sesekali jika beban dalam pikirannya menumpuk. Dia tidak pernah memberitahu itu kepada orang lain.


Hatinya semakin gelisah dan dia menahannya. Mengepalkan tinjunya dengan erat dan menggigit bibirnya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam menekan meja dapur. Dia mengerang kesakitan dan memegangi kepalanya sambil menunduk. Dia merasa tekanan di kepalanya terlalu berat hingga membuatnya menggila.


Meski kepalanya sakit dan perasaannya kacau, telinganya tetap sensitif dan mendengar seseorang mendekat secara tiba-tiba. Dia mengambil pistol dari saku celananya dan berbalik dengan pistol yang ditodongkan ke wajah seorang pria. Pria tampan dan dingin, terasa familiar tapi tidak bisa mengingatnya. Tapi dia yakin pria itu bukan dari Red Room. Bahkan pakaiannya aneh.


"Siapa kau?" Tatapannya menajam penuh niat membunuh. Jika itu orang lain, dia bisa saja langsung menembak tanpa berkedip. Tapi entah dorongan dari mana dia tidak menekan pelatuk seperti biasa. Seolah jarinya menjadi berat dan hanya bisa menodong sambil menekan kegelisahannya.


"Masih ada hal lain yang belum kau selesaikan." Pria itu mengingatkannya dengan nada dingin. Pandangannya tetap terarah pada gadis di depannya tanpa takut pada benda yang ditodongkan ke arahnya.


"Apa?" Isabella merasa segalanya telah selesai. Apa pria itu suruhan Red Room lainnya?


Pandangan pria itu terarah pada lengan seputih salju yang memiliki sayatan serta cairan merah kental yang keluar. Jelas, itu baru saja terbuka dan berdarah. Tapi sepertinya ia tidak menyadari bahwa dirinya sendiri telah mencoba menyayat tangannya.


"Apa kau begitu tidak memiliki pekerjaan?" Pria itu memprotes dengan dingin.


Isabella mengerutkan kening dan baru merasakan cairan hangat yang menjalar di tangannya. Dia melihat darah di tangannya mulai merambat segera menurunkan tondongannya secara spontan untuk melihat tangannya. Dia baru merasakan sakit saat itu juga.


"Bagaimana?" gumam Isabella tidak mengerti mengapa tangannya berdarah tiba-tiba. Apa saking gelisahnya sampai menyakiti diri sendiri? Bukankah konyol?


Fokus Isabella teralih seketika mengabaikan pria misterius yang tiba-tiba datang. Dia tidak merasa pria itu memiliki niat buruk, oleh karena itu tidak terlalu waspada dan melilit lengannya yang berdarah dengan tenang.


Isabella melirik pria tampan itu sekilas dan fokus lagi pada lukanya kemudian menarik kain dengan giginya. Dia menatap pria itu lagi dengan mata menyipit. "Aku bahkan tidak mengenalmu. Jika kau mengenalku, itu tidak lebih dari sekedar nama."


Pria itu merasa gadis ini lebih sulit diajak bicara. Xie Ran kali ini lebih dingin dan cuek dari biasanya. Dia memasuki pikiran Xie Ran untuk membantunya keluar tapi tidak disangka otak Xie Ran benar-benar diperas sampai tahap ini oleh ilusi.


"Aku memang tidak mengenal banyak. Tapi aku tahu siapa kamu. Isabella, tidak, Sang Ran, aku tidak berpikir kau memiliki masa lalu seperti ini."


Xie Ran menyipitkan matanya. Bagaimana pria ini tahu nama aslinya? Meski pada kenyataannya Isabella adalah nama asli yang dibuat keluarga kandungnya, tapi dia menggunakan Sang Ran sebagai nama sesungguhnya. Tidak ada yang tahu hal ini selain kepala Red Room dan dirinya sendiri. Bagaimana pria ini tahu?


Semakin lama Xie Ran melihatnya, semakin yakin Xie Ran merasa pernah melihatnya atau bahkan mengenalnya walau tidak banyak. Wajah tampan sedingin es dan aura raja yang tidak dapat dibantah.


Xie Ran semakin ragu dan mengerutkan keningnya. "Apa kita pernah bertemu? Siapa kau sebenarnya?"


Pria itu terdiam sejenak menimbang jawaban yang akan dia berikan. Kemudian dia menatap netra cokelat gadis di depannya dengan serius. "Xuanzi."


"Xuanzi ...." Xie Ran berpikir sejenak. Dia tidak pernah mendengar nama ini tapi dia tahu asal nama ini. "Kau dari Tiongkok?"


"Apapun itu yang kau katakan." Jelas pria itu tidak mengerti. Benua Zhongbu mana ada kata 'Tiongkok'? Dunia ini dan dunianya jauh berbeda dari banyak aspek. Untungnya dia mudah mengerti cara hidup manusia di sini.


"Benar, kau harus dari Tiongkok. Jadi, bagaimana kau bisa di sini?" Xie Ran melepas ketidakramahannya. Dia juga dari Tiongkok, tidak perlu bersikap dingin dengan seseorang yang familiar apalagi seseorang yang memiliki kampung halaman sama.


Pria itu tidak menjawabnya lagi. Dia pada akhirnya memberitahu namanya meski tidak lengkap. Namanya adalah Qu Xuanzi, itu adalah nama yang selalu disembunyikan selama ribuan tahun. Semua orang hanya tahu julukannya.


"Jelaskan padaku!" Xie Ran mendesak. Pertahanan di asramanya begitu ketat. Tidak mungkin pria ini adalah orang biasa. "Lalu, apa tujuanmu?"


"Membawamu kembali." Qu Xuanzi tidak menyembunyikannya. Dia tidak bisa membuatkan Xie Ran terjebak terlalu lama.


"Kau benar mengenalku?" Xie Ran masih ragu. Pria ini ingin membawanya pulang, tapi tidak memberitahu detailnya. Anehnya dia memiliki kepercayaan tinggi padanya yang tidak pernah dia miliki seumur hidup. Dia selalu menyimpan curiga pada orang asing, bagaimana dengan Xuanzi bisa berbeda?


"Lebih dari itu," katanya sedikit mengangguk. "Kau bisa pergi menjauh."


"Aku akan lepas dari mereka?" Xie Ran penuh harap. Impiannya adalah melepas belenggu Red Room sebagai mesin pembunuh dan hidup bebas. Dia tidak ingin diatur lagi dan dipaksa membunuh. Apalagi membunuh saudaranya yang baru saja datang.


Qu Xuanzi mengangguk pelan tanpa mengucapkan apapun. Baginya, itu saja sudah cukup. Dia dapat melihat Xie Ran mulai mempercayainya lagi dan akan kembali secepatnya. Dia tidak perlu banyak bicara.


"Kapan aku bisa kembali?" Xie Ran mulai bersemangat. Senyum yang lama hilang merekah menatap Qu Xuanzi berapi-api.


"Secepatnya."


Xie Ran tidak menyembunyikan betapa bahagia ia sekarang. Dia percaya Qu Xuanzi, hanya itu motivasinya. Tidak tahu dorongan dari mana, dia hanya tahu bahwa Qu Xuanzi dapat dipercaya dan dia telah lama mengenalnya. Hanya saja sedikit melupakannya. Mungkin karena serum pencuci saraf.


Pikirannya mudah berubah-ubah dalam ilusi. Dia tiba-tiba saja melupakan masalahnya terhadap Red Room dan berpikir bahwa dia akan bebas.


Tepat setelah berpikir tentang kebebasan, dia menatap Qu Xuanzi kembali dengan serius dan alis terangkat. "Meskipun naluriku mengatakan untuk tidak meragukanmu, logikaku meragukanmu. Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mempercayaimu?"


"Jika tidak mau kembali, maka tidak perlu kembali."


Apa pria ini kesal? Oh ayolah, gadis ini hanya sedikit meragukannya dan pria itu sudah marah. Betapa buruk tempramen itu. Secara tidak langsung dia memaksa Xie Ran untuk tidak banyak tanya dan mengikuti ucapannya tanpa bantahan.


"Baiklah," pasrah Xie Ran menghela napas. "Tapi aku ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu."


"Lakukan."


Xie Ran menatap Qu Xuanzi dengan teliti seolah menilainya dengan baik. Wajahnya memang tampan diatas rata-rata. Mau dilihat dari segi manapun juga tetap tampan. Meski dia merasa tidak asing, dia tetap mengagumi ketampanannya dan sedikit gugup ketika di dekatnya.


Oh ayolah, ada banyak pria tampan di dunia ini dan dia telah melihat semuanya. Pria mana yang tidak naksir padanya? Hanya orang tidak normal yang tidak menyukainya pada pandangan pertama. Tapi melihat pria di depannya tidak ada tanda-tanda menyukainya dan terus bersikap dingin, Xie Ran mulai ragu bahwa pria di depannya normal.


Pikiran absurd mulai muncul.


Apa dia harus mengujinya? Sejujurnya, dia takut pada pria abnormal. Xie Ran adalah salah satu dari sekian manusia yang membenci hubungan homoseksual. Menurutnya terlalu menggelikan meskipun tidak semua orang berpikir seperti itu.


"Diam di sana!" Xie Ran memberi perintah mutlak. Qu Xuanzi hanya diam tanpa menanggapi dan menatapnya penuh pertanyaan. Apa yang akan dilakukan gadis konyol ini?


Xie Ran ragu ketika sampai di depan Qu Xuanzi. Wajah tampan itu melemahkan mentalnya dalam sekejap dan membuat niat membunuhnya hilang. Biasanya dia tidak suka dekat-dekat pada siapapun atau dia akan secara naluri menyakiti orang itu. Tapi kali ini berbeda.


Entah apa yang mendorongnya, Xie Ran mendongak dan berjinjit meraih wajahnya dan menyatukan bibirnya pada bibir Qu Xuanzi. Dia tidak banyak bicara, tapi langsung melakukannya.


Merasakan benda lembut menyentuh bibirnya, Qu Xuanzi menegang seketika bersamaan dengan kobaran api di tubuhnya. Seumur hidup ia tidak pernah melakukan hal ini. Berdekatan dengan wanita saja tidak pernah.


Tapi sekarang, gadis konyol ini ... berani menciumnya?