The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
54. Ann Rou (1)



Hari dimana kompetisi dimulai, semua murid memenuhi tribun untuk menonton pertandingan dimana hanya akan ada 7 anggota yang berdiri kokoh di atas arena.


Xie Ran dan yang lainnya sudah hadir tepat waktu. Di sore yang sejuk ini, mereka benar-benar bersemangat akan menghadiri kompetisi pemilihan anggota perwakilan akademi.


Aturannya adalah, murid yang ikut tidak diperbolehkan memegang senjata apapun. Mereka diharuskan menggunakan sihir pribadi untuk melawan banyak murid tingkat langit secara acak dan menyisakan 7 anggota. Aturan ini memberi kelemahan bagi beberapa orang, namun tidak dengan kelompok Xie Ran yang sudah ahli meski tanpa senjata.


Para murid peringkat 20 besar telah berada di atas arena dalam bentuk formasi acak. Instruktur Zhu Yan telah memberitahu peraturannya dan berdiri di luar arena untuk melihat hasil dari pemilihan ini. Dua puluh murid itu akan bertarung satu sama lain tanpa kecuali.


Xie Ran di tengah arena memperhatikan suasana juga barrier yang terbentuk mengelilingi arena. Dia merasa seperti kembali ke masa lalu dimana ia harus membunuh puluhan anggota dalam satu ruangan dengan satu belati dan berakhir berlumuran darah.


Mengingat masa-masa itu, Xie Ran tersenyum miris. Pada akhirnya dia harus melakukannya lagi meski harus menyisakan 6 orang dari mereka.


Ketika pertandingan dimulai, kabut muncul -- entah dari mana -- menutupi pandangan mereka. Xie Ran dapat mendengar suara bilah sihir dari berbagai sisi dan mengetahui dia telah terpisah dari teman-temannya. Mereka hanya bisa bertahan sendiri dan mengandalkan diri sendiri.


Karena dia tidak bisa melihat apa yang terjadi dari balik kabut, dia hanya bisa mengandalkan persepsinya. Dia menutup mata, merasakan udara dingin yang menembus kulitnya dan beberapa angin halus hasil pertarungan.


Sesuatu yang panas mendekati punggungnya dengan sangat cepat, Xie Ran membuka mata dan melompat menghindari bilah energi yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Dia tidak langsung menyerang, melainkan berbaur dengan kabut dan melihat siapa yang menyerangnya.


Ketika melihat kehadiran Xie Chen disana, Xie Ran tersenyum miring. Ternyata pria itu masih menargetnya dan ingin balas dendam.


Iris Xie Ran memunculkan kilatan licik dan berubah menjadi merah. Tangannya memancarkan sinar merah dan menghilang seperti bayangan seolah wujudnya hanya ilusi.


Xie Chen masih berdiri dengan waspada, merasakan insting berbahaya, dia segera menghindar ke samping dan melihat sinar merah halus yang meluncur sangat cepat seperti kilat. Xir Chen tidak sempat menghindar, terkena sinar merah itu hingga menembus tubuhnya. Pria itu terpental begitu jauh dan berusaha mengendalikan diri di udara.


Sinar lain muncul ketika tubuhnya terpental, Xie Chen segera mengambil alih tubuhnya dan menghindar sinar biru yang muncul akibat serangan murid lain. Dengan satu serangan dan kecepatan tinggi, dia berhasil memukul pria yang baru saja mengambil kesempatan menyerangnya. Pria itu runtuh seketika tidak sadarkan diri.


Serangan tidak berhenti sampai sana, sinar merah kembali muncul ke arahnya di udara dan membentuk sosok gadis yang menendang kepalanya seperti bola. Xie Chen terpelanting, menahan tubuhnya sebisa mungkin dan melihat kehadiran Xie Ran di depannya.


"Jika aku membunuhmu sekarang, maka tidak akan ada yang mencurigaiku termasuk Klan Xie." Xie Ran tersenyum sambil memainkan bola api kecil di tangannya yang melayang-layang.


"Klan Xie dan kau tidak memiliki dendam. Kenapa kau menarget kami?" Xie Chen selalu merasa alasan Xie Ran menargetnya bukan hanya karena peringkat akademi.


"Jika aku mengatakan kalian yang mencari masalah denganku dan membiarkanku berkembang begitu saja sehingga menjadi boomerang tindakan kalian, apa kau akan percaya?" Xie Ran tidak perlu berbohong dengan calon mayat. Lagipula Xie Chen juga akan mati di tangannya suatu hari.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku...." Xie Ran melangkahkan kakinya ke arah Xie Chen. "Aku akan melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan dulu."


"Xiao Ran, kau...." Kemudian Xie Chen teringat sesuatu yang membuat jantungnya berpacu cepat. "Kau Xie Ran!" Mengucapkan itu membuatnya bergetar. Bukankah Xie Ran sudah mati? "Tidak, Xie Ran sudah mati."


"Benar, Xie Ran sudah mati dan aku akan rohnya. Kau tidak bisa membunuh orang yang sudah mati apalagi membunuh roh," ledek Xie Ran membuat Xie Chen tambah geram.


"Jangan menipuku! Meskipun Xie Ran masih hidup, dia tidak akan membunuhku."


"Percaya diri sekali," kekeh Xie Ran nyaris tertawa. "Apa yang membuatmu menjadi pengecualian?"


"Meskipun perlakuanku dingin padanya, kami pernah menjadi saudara ... jika kau benar Xie Ran, kau pasti tahu hal itu."


Xie Ran menatapnya tak minat dan bersedekap dada. Dia tentu ingat bagaimana mereka 'bersaudara' atau lebih tepatnya dirinya yang bodoh menerima pria itu sebagai adik. Xie Chen bahkan tidak pernah memanggilnya kakak.


"Kau bahkan tidak pernah memanggilku kakak meski kita sedarah. Aku memperlakukanmu dengan baik dulu dan menganggapmu saudara secara sepihak, kau juga mengirim tabib untuk mempertahankan nyawaku sebagai mainan Xie Nu. Anggap sudah impas. Aku tidak memiliki beban dalam membunuhmu. Aku bahkan bisa membunuh keluargaku sendiri, kenapa aku tidak bisa membunuh penghianat sepertimu? Kau mengambil barangku tanpa izin, maka aku bisa mengambil nyawamu tanpa izin sebagai bayarannya."


Xie Chen sudah menduga Xie Ran akan mengatakannya. Siapa yang mengatakan bahwa dia adalah gadis bodoh? Selama ini gadis itu menyembunyikan diri lebih baik dan dia tidak terlalu mencurigainya. Padahal jelas-jelas Xie Ran mengambil tindakan di bawah hidungnya.


"Kau tidak bisa membunuhku." Xie Chen tetap percaya diri Xie Ran tidak akan membunuhnya.


"Beri aku alasan yang dapat kuterima."


"Ibuku memberi tanda di tubuhku dan akan membuat kutukan pada seseorang ketika orang itu menyentuh darahku. Kutukan itu juga bisa menandai sihir dan meledakkan dalam hitungan detik."


"Benarkah?" Xie Ran merasa Tang Zhi begitu kejam. Menaruh kutukan pada putranya, Xie Chen seharusnya juga menerima dampaknya. Sayangnya dia tidak peduli.


"Aku sudah memberitahumu kebenarannya, kau tidak bisa membunuhku."


"Kenapa kau memberitahu? Bukankah kau sangat ingin aku mati?"


Xie Chen diam beberapa saat terlihat memikirkan sesuatu. Kemudian dia kembali serius. "Bagaimanapun, kita adalah saudara."


"Pfft, saudara?" Xie Ran merasa perutnya telah tergelitik. Alasan yang dibuat Xie Chen begitu konyol baginya. "Jika kita saudara, lalu siapa Xie Nu? Apa dia menganggapku sebagai saudara? Kau bahkan tidak segan-segan menunjukkan kebencianmu padaku ketika aku menghancurkan ramuan mu. Jangan membuat alasan 'karena kita saudara'! Katakan, apa tujuanmu?"


"Aku sudah mengatakannya." Xie Chen tetap datar.


Xie Ran memutar bola nata malas. "Kalau begitu, maka tidak ada pilihan lain. Karena kamu tidak memberitahuku, juga karena kamu telah mengenaliku sebagai Xie Ran. Aku tidak memiliki alasan untuk membuatmu tetap disini. Kau tahu, pada dasarnya kau lebih lemah dariku."


Xie Chen segera waspada, namun ketika kewaspadaan muncul, itu segera berakhir begitu tendangan yang begitu keras menimpanya hingga terpental dan memuntahkan seteguk darah.


Xie Ran menekan dada Xie Chen dengan kaki membuat pria itu kesakitan sampai tidak bisa berkata-kata meski sudah menggunakan sihir pelindung. Tanpa banyak bicara lagi, Xie Ran menendang kepalanya begitu keras sampai pelindung yang dibuat Xie Chen pecah seperti kaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kondisi arena makin kacau. Selain kabut, tiba-tiba angin berhembus begitu kencang menyebabkan pertarungan terganggu dan membuat beberapa orang tereliminasi. Yang awalnya 20 menjadi 17 kemudian menjadi 13.


Xie Ran masih bertahan di pusaran angin kencang yang membuat tubuh ringannya nyaris terbang. Dia segera berteleportasi mencari teman-temannya. Beberapa sihir melesat begitu cepat menghalangi jalannya hingga Xie Ran harus mengulur waktu kembali.


Beberapa orang sudah jatuh di tangannya, tapi masih tidak menemukan teman-temannya. Ketika seseorang melancarkan serangan ke arahnya, sebuah tangan menariknya hingga tubuhnya melayang dan melewati bilah energi yang terbang ke arahnya.


Xie Ran mendarat dan melepas bola api ke arah orang yang menyerangnya. Bola api itu langsung membakar tempat menyebabkan ledakan yang membuat Xie Ran harus mundur beberapa langkah.


"Sepertinya kau memang tidak memerlukan bantuan." Pei Xi rupanya telah ada di sebelahnya. Dialah yang menarik lengan Xie Ran barusan ketika seseorang menyerang.


"Hanya sekelompok semut," gumam Xie Ran mengedikkan bahu. "Kau sudah menemukan yang lain?" Xie Ran bertanya, namun Pei Xi hanya tersenyum sebagai jawaban bahwa dia telah menemukan merek duluan. Xie Ran mendengus. "Sepertinya hanya aku yang terpisah begitu jauh."


"Aku hanya sedikit berkonfrontasi dengan kenalan lama." Xie Ran bicara acuh tak acuh.


Pei Xi segera memikirkan seseorang yang bisa menjadi kemungkinan. "Xie Chen?"


Perbincangan mereka terpotong begitu barrier terbuka dan kabut serta angin sepenuhnya menghilang membiarkan mereka melihat 5 temannya dan Instruktur Zhu Yan.


Mereka bertujuh segera turun dari arena dan berbaris menghadap Instruktur Zhu Yan. Instruktur Zhu Yan melihat 7 murid itu dengan datar kemudian mengangguk puas setelah mengenali mereka. Sesuai harapannya, mereka bertujuh murid dengan perkembangan tercepat dan pantas mengikuti turnamen. Sangat disayangkan Xie Chen harus gugur.


Para petugas segera membawa 13 murid yang pingsan di arena termasuk Xie Chen yang babak belur. Murid-murid itu selain Xie Chen sudah dapat menebak siapa yang membuat pria itu begitu buruk sampai nyaris tidak dikenali. Bahkan Instruktur Zhu Yan menghela napas melihatnya. Murid kesayangannya dipukuli begitu mengerikan.


"Selamat atas kemenangan kalian. Awalnya aku berpikir bahwa kalian saling bekerja sama dan menempatkan kalian di tempat yang terpisah. Namun, rupanya kalian memang pantas berpartisipasi dalam turnamen bulan depan. Meski sekarang kalian telah menang, belum tentu kalian akan menang pada saat turnamen nanti. Akan ada banyak murid yang lebih berbakat dari kalian, kalian tidak boleh terlalu sombong karena peraihan kecil ini." Kemudian pandangannya terarah pada Zhong Xiaorong, Yan Yao, dan Liu Chang. "Kalian bertiga adalah bangsawan, mewakili keluarga kalian, jangan membuat malu dengan sikap putri dan tuan muda kalian."


Instruktur Zhu Yan tahu jelas bagaimana reputasi Zhong Xiaorong yang arogan, Yan Yao yang narsis, dan Liu Chang yang pengecut. Liu Chang berasal dari keluarga perdana menteri yang dikirim ke akademi untuk berlatih, lebih tepatnya dibuang karena Liu Chang terkenal sebagai Tuan Muda yang malas dan tidak berguna di kediaman.


Instruktur Zhu Yan tidak memiliki masalah lain dengan Pei Xi, Zhou Kui, dan Mei Liena. Hanya saja Xie Ran berbeda. Murid kesayangannya dipukuli begitu buruk olehnya, temperamen gadis ini sangat buruk dan harus diberi ajaran yang lebih baik.


Tapi sebelum itu, dia harus mengedepankan hal yang lebih penting terlebih dahulu.


"Pei Xi, aku percayakan kamu menjadi pemimpin tim. Kau harus bisa memimpin segalanya dengan adil dan bertanggung jawab atas anggotamu."


"Baik."


"Kamu Xiao Ran?" Instruktur Zhu Yan melirik ke arah Xie Ran.


Xie Ran mengangguk polos. "Ya."


"Aku telah memeriksa laporan tentangmu sebelumnya. Meski perempuan, kamu sangat cocok dalam menentukan strategi dengan analisis yang pas. Aku ingin kamu menjadi otak tim dalam pertarungan dan merencanakan formasi pertempuran untuk menghasilkan kemenangan."


"Aku?" Xie Ran tidak percaya. Bukankah dia akan menjadi wakil tim? Itu sangat merepotkan. Dia hanya ingin membuat senjata untuk beberapa hari kedepan tanpa pusing memikirkan strategi pertempuran.


"Apa keberatan?" Zhu Yan menaikkan sebelah alis seolah mengatakan bahwa dia akan menghukum jika Xie Ran tidak menerimanya.


Pada akhirnya, Xie Ran terpaksa menerima. "Tidak. Aku tidak keberatan."


Zhu Yan mengangguk puas. "Baiklah, kalian segera kembali beristirahat. Besok akan diadakan pelatihan. Untuk kalian, kelas digantikan dengan pelatihan kelompok selama 3 minggu kedepan. Jangan berpikir untuk bolos, jika tidak kalian akan didiskualifikasi."


"Baik, Instruktur Zhu." Mereka menyahut bersamaan dan membungkuk sebelum akhirnya pergi dari sana.


Tidak ada percakapan diantara mereka sampai akhirnya berdiri di depan gedung arena. Melihat sosok wanita yang tidak asing bersandar di pagar membuat mereka heran dan menghampirinya.


Itu adalah wanita yang membela nama Xie Ran tadi pagi, Ann Rou. Entah apa yang ia lakukan disini sendiri.


Mereka ingin mengabaikannya, tapi tiba-tiba Ann Rou menghadang jalan mereka dan berjalan ke arah Xie Ran dengan tatapan meneliti.


Xie Ran berpikir bahwa Ann Rou mungkin mengetahui identitasnya dan mundur beberapa langkah ketika Ann Rou semakin dekat. Kenapa wanita ini suka sekali dekat-dekat?


"Hei, apa kau tidak memiliki pekerjaan?" Zhong Xiaorong segera menghadang arah Ann Rou dan menatapnya tajam. Apa wanita itu ingin menindas Xie Ran sama seperti ketika menindas Xie Chen dan Tang Yueha?


Ann Rou menghentikan langkah menatap Zhong Xiaorong dengan alis dinaikkan. Kemudian pandangannya terarah pada Xie Ran kembali. "Liontinmu bagus, dapat dari mana?"


"Pemberian ibuku." Xie Ran tidak perlu bohong. Lagipula siapa yang mengenal ibunya disini? Bahkan mereka tidak tahu nama aslinya.


"Benarkah? Boleh aku melihatnya?"


"Apa kau begitu menginginkan benda milik orang lain?" Zhong Xiaorong lebih sensitif dan langsung melawannya.


"Aku tidak menginginkannya, aku hanya ingin melihat sebentar. Apa ada yang salah?" Ann Rou menatap Zhong Xiaorong seolah akan mencabiknya membuat gadis itu menciut. Aura ini begitu dingin dan penuh penindasan. Apa dia benar hanya murid baru?


"Bukankah kau Ann Rou?" Xie Ran tetap tenang menghampirinya dan membiarkan wanita itu melihat kalungnya. "Anggap sebagai imbalan telah membungkam dua manusia menyebalkan tadi pagi."


Ann Rou tersenyum manis. "Aku hanya bersenang-senang." Dia kemudian memeriksa liontin dengan teliti. Dia merasakan energi yang tidak asing sebelumnya dari liontin, namun sekarang dia tidak merasakan apapun lagi selain aroma Xie Ran. Ia tidak menemukan hal lain.


"Apa kau tertarik dengan kalungku?" Xie Ran menatapnya penuh arti.


Ann Rou segera menatap Xie Ran, dia tersenyum dan mengembalikan kalungnya. "Aku hanya penasaran. Aku pikir itu adalah sebuah artefak langka atau batu spiritual tingkat tinggi, jadi aku sangat ingin melihatnya. Aku bisa menilai kualitas barang dari hanya melihatnya, tentu aku selalu merasa penasaran. Maafkan bila lancang."


"Aku mengerti." Xie Ran tidak masalah. Untungnya dia sudah berhasil menutup aura liontin terlebih dahulu walau hanya sementara. Wanita ini sangat sensitif.


"Kalian adalah tim peserta turnamen bulan depan, berlatihlah giat dan raih kejuaraan!" Ann Rou memberi semangat dan pergi dengan langkah riang. Meski hatinya gelisah, dia tetap bisa bersikap riang seolah tidak terjadi apapun.


Ketujuh manusia itu melihatnya dengan berbagai tatapan. Hanya Xie Ran yang memiliki wajah datar entah apa yang dipikirkannya.


"Menurutmu dia punya tujuan lain?" Pei Xi bertanya pada Xie Ran.


"Entahlah," sahut Xie Ran menggenggam liontin di tangannya. "Aku tidak memiliki kewaspadaan terhadapnya, tapi dia aneh."


"Tentu saja aneh. Tiba-tiba menanyakan peninggalan ibumu dan mengatakan itu adalah artefak langka dan ingin melihatnya. Aku khawatir, dia akan mengambilnya jika memang itu artefak langka." Zhong Xiaorong masih kesal dan bersedekap dada melihat kepergian Ann Rou.


"Tapi menurutku dia cukup lucu," kata Liu Chang tersenyum mengingat senyum menawan Ann Rou dan cara bicaranya yang manis.


"Apanya yang lucu? Tiba-tiba datang dan menagih, aku rasa itu menyeramkan." Mei Liena sejak tadi menatap horor Ann Rou yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.


"Tidak baik membicarakan keburukan orang." Zhou Kui menasihati.


"Xiao Ran, dia datang kali ini, pasti akan datang lain kali." Yan Yao telah memperhatikan dengan seksama. Gerak-gerik Ann Rou seolah mengatakan bahwa dia tidak akan melepaskan Xie Ran sampai tujuannya tercapai.


Xie Ran tersenyum miring. "Aku akan menyambut." Xie Ran tidak takut dengan bahaya apapun. Jika Ann Rou berniat buruk, dia bisa membunuhnya. Jika sebaliknya, dia tidak perlu khawatir. Tapi sejauh ini dia tidak merasakan niat buruk meski wanita itu bersikap aneh.