
"Nyonya, akhirnya kamu datang! Lihatlah wanita tua itu, dia menindasku!" Long Long mengibas-ngibaskan ekornya yang dililit dengan erat. Karena ekornya tidak bisa diam, lilitan itu menjeratnya lebih erat hingga membuat makhluk cengeng itu memekik!
Qiong Lin melihat Xie Ruo, bibirnya menekuk senyum lebar. "Kamu tuannya?"
"Tidak, aku tidak memiliki peliharaan yang memalukan wajah tuannya." Xie Ruo memandang Qiong Lin dengan senyum tipis.
"Nyonya ...." Long Long melemaskan bahu sampai terduduk. Semua ini gara-gara wanita tua itu!
"Kalau begitu, berarti tidak akan ada yang keberatan bila aku menahan naga imut ini di sini."
"Apa pemimpin ras ular begitu suka membuat koleksi?" Xie Ruo merasa, Qiong Lin lebih aneh dari perkiraannya.
Qiong Lin terkekeh. "Aku sangat suka sesuatu yang indah. Omong-omong, kau juga terlihat indah."
"Selera pemimpin ras sangat bagus. Tapi sayangnya, aku datang bukan untuk memamerkan keindahan. Long Long sudah memberitahumu segalanya, kau juga tahu siapa aku, kau mengatakan demikian untuk mengalihkan perhatian atau membuat perangkap?"
Qiong Lin tersenyum semakin lebar. Wanita ini menarik. "Memang tidak ada yang bisa disembunyikan dari Ratu Naga."
Xie Ruo melirik Long Long dengan aneh. "Sejak kapan aku menjadi Ratu Naga?"
"Nyonya ... apa kamu lupa? Ketika iblis menginvansi Benua Lava, saat itulah kau menjadi Ratu Naga!"
"Aku tidak tahu, kenapa tidak beritahu?" Xie Ruo keberatan. Julukan itu terdengar berat dan penuh beban. Ia lebih suka dijuluki tiran tak berperasaan.
"Nyonya, apa kamu pernah bertanya? Aku pikir ... Nyonya sudah tahu."
Qiong Lin yang menjadi pengamat interaksi tuan dan bawahan memutar bola matanya. Seharusnya ia yang menjadi pusat perhatian, mengapa mereka berdua malah asik bicara sendiri?
Pandangannya teralih pada sosok tinggi di belakang Xie Ruo. Ia bahkan terkejut karena tidak merasakan kehadiran pria itu sebelumnya. Dari tatapan pria itu ke tuannya Long Long, kemungkinan besar hubungan mereka tidak biasa dan akan sulit dihadapi.
Tapi ... pria itu sangat tampan!
Lupakan bagaimana indahnya Long Long, ia lebih menyukai keindahan pria itu dibanding yang lainnya. Sungguh, ia ingin segera menarik pria itu ke sisinya!
Merasakan emosi tidak benar ular tertentu yang menarget suaminya, Xie Ruo langsung memandangnya dengan tajam. Memang berbahaya membiarkan Qu Xuanzi keluar tanpa topeng.
Long Long benar, ia tidak boleh berlama-lama di tempat ini. Oleh karena itu, Xie Ruo terburu-buru pada inti topik dibandingkan berdebat dengan Long Long. Ia akan menyelesaikan Long Long nanti.
"Karena aku sudah di sini, mari kita bicarakan hal yang lebih penting terlebih dahulu. Dewa Iblis mengajukan perang terhadap berbagai ras, aku harap ras ular kalian dapat membantu kami menghadapi iblis. Tidak perlu khawatir, kalian ras ular bukannya berpihak pada ras naga ataupun manusia, melainkan dewa."
Qiong Lin terkekeh. "Kau adalah Ratu Naga, apa bisa mewakili para dewa untuk mengatakannya?"
"Meskipun aku bukan dewa, kau juga bukan pemimpin ras yang sesungguhnya. Apa menurutmu, kau bisa memutuskan secara pribadi?"
Qiong Lin terdiam. Phyton Tujuh Warna sudah lama menghilang, ia hanya pengganti posisi yang kosong selama ribuan tahun dan masih menunggu Phyton Tujuh Warna terlahir. Untuk hal ini, ia memang harus berunding terlebih dahulu dengan ular lain.
"Jangan berpikir mereka akan setuju berdiri di kubu yang sama dengan naga." Qiong Lin mendengus.
"Tidak perlu menunggu persetujuan mereka, keputusan sudah dibuat. Kalian, harus ikut berperang melawan iblis."
Ucapan Xie Ruo membuat Qiong Lin semakin kesal. Ia baru saja akan mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba seekor ular kecil muncul di bahu Xie Ruo. Ular seputih susu itu melingkar dan duduk sambil menonton, memiringkan kepala dengan bingung ketika melihat Qiong Lin.
Qiong Lin terkejut mengenali ular kecil itu. Dalam sekejap waktu terasa berhenti. Ekornya yang melilit Long Long merenggang, merubahnya menjadi sepasang kaki dan berjalan dengan ragu ke arah Xie Ruo. Ia melihat Xiao Caihong dengan jelas. Rautnya menjadi rumit.
"Ini ...."
"Phyton Tujuh Warna." Xie Ruo menegaskan kalimatnya dengan jelas. Ia melirik ular kecil di bahunya, kemudian mengenalkannya, "Cai Hong, atau Xiao Caihong."
Pengenalan singkat itu berhasil membuat wajah Qiong Lin terlihat kaku dan jelek. Xie Ruo menatapnya datar, kemudian melanjutkan apa yang seharusnya ia katakan sejak awal.
"Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu sekarang, tapi satu hal yang harus kamu tahu, ras ular kalian sudah seharusnya berpindah kubu." Xie Ruo menarik sudut bibirnya dengan rasa puas. Reaksi Qiong Lin sesuai dengan harapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dunia Tengah kini menjadi tempat pertempuran yang tidak bisa dihindari lagi. Pasukan manusia kini berada di sisi barat melakukan penyerangan terhadap ras iblis yang berkumpul.
Sebelumnya, perwakilan tiap ras telah berkumpul untuk melakukan pertemuan dan membahas penyerangan. Tiap-tiap ras akan berpencar ke tiap wilayah untuk mengepung pasukan iblis. Manusia diwakilkan oleh Pei Xi dan Zhong Xiaorong tepat berada di sisi barat, peri diwakilkan oleh Dewi Bulan di sisi timur, hewan suci dengan Li Chen sebagai perwakilan di sisi selatan, dan para dewa dalam kepemimpinan sementara Dewi Kehidupan berada di wilayah utama gerbang kekaisaran yang dipantau oleh Dewa Iblis.
Akademi Tanshang, Klan Yan, dan klan utama lainnya telah datang di medan perang. Mereka langsung bergabung, bertahan dan menekan iblis dengan kekuatan penuh mereka.
Pasukan Kekaisaran Zhongbu membentuk formasi yang telah ditetapkan. Formasi yang terdiri dari perisai baja untuk menangkis serangan iblis serta tombak di tangan mereka yang memancarkan aura sihir yang kuat.
Zhong Xiaorong dengan phoenix es yang ditungganginya melakukan serangan udara dan menciptakan banyak es yang membunuh para iblis. Pedangnya dihunuskan, menebas banyak iblis terbang sehingga terjadi hujan darah yang mengalir dari langit.
Tidak jauh dari Zhong Xiaorong berada, sosok wanita iblis bersayap gagak di udara memandangnya penuh minat. Ia melihat Zhong Xiaorong dengan seringaian. Jika dilihat, Zhong Xiaorong terlihat baru pertama kali bertarung bersama phoenix esnya. "Baiklah adik kecil, kakak ini akan mengajarimu bagaimana cara terbang."
Ucapan itu tersampaikan di telinga Zhong Xiaorong. Ia menyipitkan mata. "Terima kasih ajarannya." Ia pun meminta phoenix es melesat lebih cepat dan menyambar wanita gagak itu.
Pertempuran udara itu berlangsung lama. Xie Wang—yang juga ikut perang—di bawah sana bertarung dengan fokus. Sudah lama ia tidak bertarung, bahkan Xiao Bai dan Su Liu'er juga ikut bersamanya untuk merenggangkan tubuh yang sudah lama tidak bertarung seperti ini.
Kekuatan yang ia keluarkan cukup besar, bahkan manusia biasa tidak akan sanggup dengan tekanannya yang dapat membunuh beberapa iblis dengan satu serangan. Meski hanya iblis-iblis kecil yang hanya merupakan 'prajurit', tetap saja mereka lebih kuat dari kekuatan manusia normal.
Di sisi lain, Pei Xi telah membunuh banyak iblis sampai pedang panjangnya penuh dengan darah hitam, bahkan pakaiannya telah terciprat darah—meski tersamarkan oleh pakaian hitam. Bayangan di tangannya terus meluncur sambil mengayunkan pedang panjang yang terus membelah iblis-iblis yang menghalangi jalannya.
Badai bayangan yang disebabkan oleh Pei Xi mematikan banyak iblis tanpa meninggalkan sisa. Bahkan sampai beberapa iblis yang bersatu melawannya, bayangan itu menjadi perisai terkeras dan meledakkan mereka begitu saja.
Ketika para iblis itu terhempas dan mati karena ledakan bayangan, sosok lainnya muncul tanpa terpengaruh oleh ledakan. Sosok gadis cantik dengan iris ungu yang padam, terlihat seperti teratai hitam yang penuh aura kematian. Wajahnya tidak asing, Pei Xi menyadari hal itu dan langsung bisa mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.
"Xie Nu?" Ia pikir gadis cengeng itu sudah mati ketika lari dengan Xie Chen. Rupanya ia ada di sisi Dewa Iblis dan kini sudah sekuat itu. Meski ia adalah manusia, kekuatannya memiliki kekuatan iblis yang setara dengan kekuatannya saat ini.
"Sangat disayangkan, kakak tiriku tidak ada di sini." Xie Nu tidak pernah melupakan siapa saja yang telah mengacaukan hidupnya dan membunuh ibunya. Jika bukan karena Xie Ran, ia tidak akan jatuh ke posisi tidak menguntungkan dan mengabdi pada Dewa Iblis!
Pei Xi mendengus melihat kehadirannya. Lalu kenapa jika Xie Nu sudah lebih kuat? Ia masih seorang anak remaja yang mudah dimanipulasi. Sudah 10 tahun, Xie Nu masih tidak banyak berubah baik secara tempramental maupun penampilan.
Xie Nu sedikit menoleh ke belakang di mana kegelapan berada, dan berkata dengan suara lantang. "Jangan sisakan mereka!"
Suara raungan dan pekikan terdengar berbarengan dengan beberapa makhluk aneh yang berterbangan dan melesat. Kecepatan mereka sangat cepat, bahkan ukuran mereka sangat besar seperti hewan buas tingkat tinggi. Suara yang dikeluarkan beragam dengan kegilaan dan haus darah yang mengerikan
"Mereka adalah hewan iblis dari Dunia Bawah. Kakak Xi, hati-hatilah!" Mei Liena dari kejauhan berseru melalui trasmisi suara. Ia tengah melawan kerumunan iblis di sudut lain sehingga tidak bisa membantu.
Gelombang hewan iblis yang berdatangan membuat pasukan manusia kewalahan. Jumlah mereka terlalu banyak sehingga menyebabkan banyak prajurit tersingkir akan keganasan mereka dalam pertempuran. Pondasi pasukan mulai retak akan datangnya gelombang hewan iblis.
Teknik pengendalian hewan iblis yang diberikan Huai Mao sangat membantunya mengendalikan banyak hewan iblis dan membuat pasukan. Selama ini ia berlatih di Dunia Bawah, lalu mempelajari teknik itu untuk mendapat posisi penting di antara kepemimpinan Dewa Iblis. Sekarang, sudah saatnya untuk menunjukkan kemampuannya. Ia bukan Xie Nu yang lemah itu lagi!
Di tengah itu, Pei Xi tiba-tiba muncul dalam bayangan meluncurkan serangan padanya. Xie Nu mau tidak mau harus ikut bertarung, menangkis serangan Pei Xi yang begitu ganas dan langsung mengincar titik vitalnya.
Mereka bertarung dengan sengit. Serangan yang masing-masing diluncurkan mengenai banyak hewan iblis yang berperang sampai mati saat itu juga. Kekuatan keduanya yang begitu mengerikan membuat tidak sedikit manusia maupun iblis yang menjauh agar tidak terkena efek serangan mematikan.
Zhou Kui dan Liu Chang di sisi lain berada di tempat yang sama. Mereka melawan beberapa jenderal iblis sekaligus dan memanfaatkan senjata api sampai menciptakan ledakan meriam di berbagai arah. Suara tembakan terus melengking disertai kabut beracun yang membuat para iblis meronta kesakitan dan terbunuh dengan kepala berlubang.
Begitu para hewan iblis mendekat, mereka melemparkan beberapa bom yang meledak tepat di kaki para hewan iblis. Para hewan iblis itu mengaum, beberapa runtuh karena ledakan dan menindih yang lainnya. Murid akademi yang ikut berperang nyaris saja tertiban jika Dekan Bai tidak menarik mereka bersamaan menggunakan jaring spiritual.
Kehadiran hewan iblis membuat keadaan medan perang semakin kacau, terutama di pihak manusia. Bahkan para peri merasa kesulitan menanganinta, ditambah beberapa kloning Dewa Iblis mulai berdatangan khusus menahan para dewa untuk menghancurkan pasukan iblis.
Dewa Iblis melihat pemandangan perang dari ketinggian menara kekaisaran. Ia duduk dengan tenang sambil meluruskan kaki tanpa beban. Selama Asura dan Xie Ruo belum muncul, perang ini tetap berada di pihaknya.
Pandangannya terarah pada Xie Wang yang bertarung dengan penuh semangat. Pria tua itu sangat berenergik, tidak tahu bagaimana reaksinya jika menghadapi kekuatan yang sesungguhnya.
Dewa Iblis menyunggingkan senyum miring. "Akan ada saatnya."
Ia menutup mata menikmati aura kematian dan bau darah yang kental yang menambah energinya. Tempat ini bagaikan surga yang penuh kesenangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xie Nu merasa tertekan akan kekuatan Pei Xi yang semakin kuat seiring berjalannya waktu. Serangan yang diluncurkan terus-menerus persis membuat Xie Nu kewalahan. Sepertinya, ia masih belum cukup untuk mengalahkan Pei Xi dengan mudah saat ini.
Pei Xi mengangkat pedangnya dengan kecepatan tinggi. Ia seperti bayangan yang melesat dan berada di mana saja untuk meluncurkan serangan. Kecepatannya menyerang membuat Xie Nu terkejut berkali-kali akan kehadirannya dari satu sisi ke sisi lain tanpa terlihat.
"Benar-benar merepotkan!" Xie Nu mengutuk. Sihir gelap di tangannya menangkis serangan untuk ke sekian kalinya.
Pei Xi menebaskan pedangnya, lalu melesat lebih cepat untuk menembuskan pedangnya je tubuh Xie Nu. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang menahan pedangnya dan akan melahapnya sehingga mau tidak mau Pei Xi harus melompat ke belakang menjaga jarak.
Tatapan Pei Xi teralih pada sosok pria yang menahan bahu Xie Nu yang terhuyung. Iris pria itu sepenuhnya merah semerah darah dengan aura kematian yang lebih kental. Dihitung dari kekuatannya dengan Xie Nu, pria itu jauh berkali-kali lipat lebih kuat.
Jika teman-temannya yang lain pasti akan terkejut melihatnya, tapi tidak dengan Pei Xi. Ada Xie Nu, maka sudah pasti ada kakaknya, Xie Chen.
"Lama tidak bertemu." Pei Xi akui Xie Chen banyak berubah. Selain penampilannya yang kini lebih dewasa, kekuatannya juga luar biasa lebih kuat. Pei Xi tidak yakin dapat mengalahkannya saat ini, tapi jika hanya menahannya ia cukup mampu.
Xie Chen memandang Pei Xi dengan dingin. Ia tidak memiliki kesan terlalu banyak pada Pei Xi, karena jarang bertemu apalagi ketika di akademi. Selain mengenalnya sebagai salah satu teman 'saudaranya', ia tidak tahu hal lain karena identitas yang tertutup.
"Kau yang melukai Xie Nu?" Xie Chen berkata dengan nada dingin. Ia tidak lagi peduli siapa pria di depannya. Di matanya, pria itu menyerang dan melukai adiknya.
"Tidak, aku ingin membunuhnya." Pei Xi menjawab dengan enteng.
"Kalau begitu, jangan salahkan bila pedangku membunuhmu." Xie Chen langsung menghilang dan tiba di dekat Pei Xi. Ia meluncurkan serangan dan berhasil dihindari Pei Xi.
Pedang ringan Xie Chen berayun dan beradu dengan pedang Pei Xi sehingga cipratan kedua energi menyala. Xie Nu di belakang sana tidak bisa diam saja, ia bergabung dalam pertempuran melawan Pei Xi dengan ganas.
Pertarungan dua lawan satu itu membuat Pei Xi kewalahan, namun sejauh ini pria itu bisa menyimbanginya dengan tepat. Xie Nu yang tergesa-gesa membunuh Pei Xi langsung meluncurkan serangan terbesar yang membuat Xie Chen tidak bisa mengimbanginya. Pada akhirnya, serangan itu meluncur dan meledak di tanah sampai menghamburkan banyak iblis dan manusia bersamaan.
"Sial!" Xie Chen mengumpat. Sampai kapan Xie Nu akan bertindak gegabah dan egois seperti itu? Jika dia terus menggunakan serangan yang sama tanpa mengenai targetnya, pasukan iblis akan mengalami pengurangan jumlah yang lebih besar dibanding bertempur dengan manusia.
Dan benar saja, Pei Xi berhasil menghindar sedangkan serangan itu tidak terkunci padanya. Pei Xi menampilkan wujudnya dari dalam bayangan dan menebas Xie Nu begitu saja sampai gadis itu tersungkur di atas tanah.
Xie Chen segera menangkap Xie Nu, kemudian mendengus kesal. Ia tidak boleh kalah hanya karena seorang manusia. Jika kalah di tangan Xie Ran, barulah ia bisa menerimanya.
"Jangan senang dahulu, kau belum merasakan apa itu kekuatan yang sebenarnya." Iris Xie Chen semakin menajam. Sihir merah bercampur hitam muncul di sekitar tubuhnya seolah telah dilapisi oleh sihir.
Pei Xi merasakan alarm berbahaya dari instingnya. Xie Chen yang sekarang jauh lebih kuat, sebisanya harus menghindari cedera yang dibuat olehnya agar tidak mengalami kekalahan.
Xie Chen melesat dengan cepat. Pei Xi berubah menjadi bayangan dan terbang ke tempat lain untuk menghindari serangan Xie Chen. Xie Chen terus melepaskan sihirnya dan membuat dirinya dalam jumlah yang cukup banyak untuk meluncurkan serangan.
Kecepatan tiap bayangan Xie Chen yang menyerang jauh lebih cepat dan berhasil tiba di depan Pei Xi. Ia langsung menyerang, sedangkan Pei Xi menangkisnya dan menebas bayangan itu dengan pedang sampai berubah menjadi kabut gelap.
Xie Chen tidak menghentikan serangan, ia mengambil kesempatan dan mengayunkan pedangnya disertai kabut hitam yang pekat. Tepat pada saat yang sama, sinar putih meluncur membentur serangannya disertai suara auman harimau yang memekakan telinga.
Xie Chen mundur beberapa langkah setelah menyingkirkan serangan pertahanan itu, kemudian melihat sosok Yan Yao yang datang membantu Pei Xi.
"Kawan, kau tidak bilang membutuhkan bantuan sampai nyawamu hampir melayang." Yan Yao menyindir. Jika ia tidak melihat serangan itu, tidak tahu apa yang akan terjadi.
Pei Xi menggedikkan bahunya. "Aku bisa menanganinya." Suruh siapa pria itu datang menghentikan rencananya menyerang Xie Chen dari dekat?
Yan Yao mengabaikan Pei Xi dan melihat Xie Chen yang jauh berbeda dari terakhir ia bertemu. Kekuatannya memang sangat luar biasa, ia bahkan ragu bisa melawannya sendiri. Tapi karena ada Pei Xi, itu bukan masalah besar.
Xie Nu mendarat setelah lama mengejar. Hal itu membuat wajah Yan Yao menjadi gelap melihat kehadiran pengacau yang pastinya akan merepotkan. Ia paham bagaimana Pei Xi bisa dikejar Xie Chen. Pasti ksrena bocah beban itu.
"Kakak, tunggu apa lagi? Mereka adalah teman Xie Ran, kita harus membunuh mereka!" Xie Nu terburu-buru dan akan menyerang, namun Xie Chen menahan bahunya. Xie Nu memandang kakaknya dengan kesal. "Kakak—"
"Kau bukan lawan mereka," sela Xie Chen. Sudah cukup adiknya membuat masalah.
"Kalau begitu, kita lawan bersama!" Xie Nu tergesa-gesa dan langsung menyambar ke arah mereka. Pei Xi dan Yan Yao bersiap meladeni bocah satu itu untuk bermain.
Namun sebelum sempat bertukar pukulan, sebuah bilah perak muncul dari udara tepat di arah Xie Nu melintas. Gadis itu terkena bilah tersebut dan terhempas jauh. Mulutnya mengeluarkan darah segar selagi tubuhnya melayang. Xie Chen langsung terbang menangkapnya agr tidak terbentur. Bersamaan dengan itu, ia menangkis bilah yang muncul hingga menyebabkan ledakan yang cukup besar memberi celah pada jaraknya dan lawan.
Xie Chen memicingkan matanya. Kekuatan itu terlalu kuat, bahkan dapat menekannya untuk sesaat jika ia tidak siap. Detik berikutnya, raungan besar muncul dari langit disertai angin yang berhembus kencang seperti badai.
Pandangannya terarah pada langit yang penuh dengan awan hitam. Di balik awan, tampak sekelompok naga menyerbu disertai auman mengerikan yang membuat para manusia bergidik mendengarnya.
Seketika pandangan semua orang terarah pada langit, melihat ribuan naga meluncur ke medan perang dipimpin oleh seekor naga putih yang penuh semangat. Di kedua sisinya, tampak naga merah dan naga perak yang terbang dengan bangga. Belum lagi, di atas naga putih itu, tampak sosok wanita cantik berdiri dengan tatapan dingin dan aura yang begitu kuat.
Zhong Xiaorong yang awalnya sibuk bertarung dengan satu iblis kini beralih ke pusat perhatian di langit. Sudut bibirnya membentuk senyum miring, kemudian melihat lawannya dengan penuh ejekan. "Tamatlah ...."
Bukan hanya Zhong Xiaorong Pei Xi, Yan Yao, Mei Liena, Zhou Kui, dan Liu Chang juga menarik sudut bibirnya seolah sudah menantikan kedatangan berskala besar itu.
Yan Yao melihat Xie Chen yang berwajah gelap dengan penuh ejekan. "Sepertinya akan ada reuni 'Xie bersaudara'." Ia melihat Xie Nu yang wajahnya dipenuhi kebencian. Apa lagi masalah yang akan dibuat bocah itu?
Sosok wanita di atas naga menghilang begitu saja, lalu muncul di antara Pei Xi dan Yan Yao melihat Xie Chen dan Xie Nu tidak jauh dari pandangannya.
Melihat kehadiran mereka berdua setelah sekian lama, wanita yang merupakan Xie Ruo tersenyum. "Hallo, kita bertemu kembali."