The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
13. Mimpi Buruk (1)



Xie Ran berlari memanggil pelayan pribadinya. Melihat pelayan pribadinya tergeletak di lantai yang dipenuhi api, hatinya merasa hancur.


Perasaan yang sama, kini dia merasakannya lagi. Dia tidak pernah melupakan apa yang terjadi hari itu. Tidak peduli apa ini hanya ingatannya atau bukan. Dia begitu marah hingga ingin membunuh semuanya!


Xie Ran segera membawa Liu Ya keluar dari kobaran api. Ia tidak peduli kulitnya terbakar karena gegabah menembus api asalkan Liu Ya selamat. Setidaknya sekali saja menyelamatkannya, meskipun ini tidak nyata.


"Liu Ya, aku akan mencari bantuan. Kamu bertahanlah!" Xie Ran membawa Liu Ya di punggungnya dengan susah payah. Dia harus menemukan Xie Yao dan pergi dari sini. Dia tidak boleh ada di neraka ini!


"Nona ... pergilah ... tinggalkan Liu Ya ... Nona harus selamat." Liu Ya bicara tertatih-tatih.


"Tidak! Ini perintah!" Xie Ran selalu menekankan kata perintah untuk perintah mutlak.


"Nona ... seumur hidup ... Liu Ya beruntung bisa melayani Nona."


"Jangan bicara!" Xie Ran sangat marah sekarang.


"Di kehidupan selanjutnya, Liu Ya mau melayani Nona lagi .... Tidak ada penyesalan."


Kaki Xie Ran merasa lemas sampai tidak bisa melangkah lagi dan jatuh. Dia baru menyadari bahwa tubuhnya kembali menjadi kecil dan pendek. Itu tidak kuat menahan berat Liu Ya yang dua tahun lebih tua.


Xie Ran memeluk Liu Ya dengan tubuh bergetar. Dia takut Liu Ya pergi lagi. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Namun merasakan napas Liu Ya memendek, dia semakin takut dan tidak bisa menahan air mata. Xie Ran terus bergumam akan menyelamatkan Liu Ya dan mengutuk diri sendiri yang terlalu lemah.


DIa terlalu lemah!


Dia bisa membunuh orang, kenapa tidak bisa menyelamatkan orang!


Xie Ran membenci dirinya sendiri sampai ingin mati. Kenapa dia selalu menjadi penyebab kematian seseorang? Xie Yun dan Wen Xi pergi setelah melihatnya yang terakhir kali. Kenapa Liu Ya juga harus pergi!


"Liu Ya, kau tidak boleh meninggalkanku!" Xie Ran mengerang frustrasi. Memeluk Liu Ya yang sudah menutup mata dengan erat seolah akan menghilang jika dilepaskan. Dia tidak menginginkan ini terjadi. Liu Ya-nya masih hidup!


Xie Ran bingung, Tidak ada siapapun yang dapat diminta pertolongan. Dia tidak berdaya di tubuh lemah ini. Hatinya penuh penyesalan dan kepedihan luar biasa. Dia tidak bisa memaafkan segala nya!


"Ranran!" Suara seorang pria membuatnya menoleh ke belakang. Pakaiannya menyedihkan dan memiliki beberapa goresan di wajah tampannya. Dia cukup terluka, tapi masih cukup menyimpan tenaga untuk lari.


"Kakak Yao ..." lirih Xie Ran yang masih menahan sebagian air matanya. Matanya merah terlihat menyedihkan.


Xie Yao segera menghampiri sepupu kecilnya yang malang dan menarik lengannya mengajaknya pergi. Mereka tidak bisa berlama-lama di sini, mereka harus pergi terutama Ranran-nya.


"Liu Ya ...." Xie Ran melirik Liu Ya yang sudah tidak bernyawa. Xie Yao mengerti maksud Xie Ran dan langsung menggotong Liu Ya.


Namun sesuatu mengejutkan terjadi.


Beberapa panah melesat begitu cepat menghujani mereka berdua. Xie Yao menggunakan perisai pelindung di sekitarnya dan Xie Ran sehingga panah itu menancap di pelindung.


Namun itu tidak bertahan lama. Pelindung hancur sehingga panah mengenai bahu Xie Yao ketika hendak melindungi Xie Ran.


"Ranran, pergilah!"


Xie Ran merasa langkahnya berat. Dia tidak bisa meninggalkan Xie Yao, tapi tidak memiliki pilihan lain. Tubuhnya lemah dan hanya bisa mengambil beberapa panah untuk melindungi diri sementara.


Xie Ran dengan akurat melempar panah-panah itu ke arah para pemberontak yang akan menyerangnya. Itu tepat mengenai titik vital, namun beberapa berhasil menghindar dari panah yang dilemparkan Xie Ran. Meski tubuhnya kecil dan tak bertenaga, akurasinya jauh melampaui orang biasa.


Setidaknya dia bisa sedikit membantu dan menyeret Xie Yao pergi. Liu Ya sudah tidak bisa dibawa dan dia membiarkannya di tempat. Yang terpenting adalah keselamatan yang masih hidup.


Mereka berlari dari para pemberontak. Tapi itu tidak berlangsung lama. Dalam langkah ke depan, mereka sudah terkepung dari berbagai sisi. Tidak ada siapapun lagi di pihak mereka karena sudah terbunuh. Mereka hanya berdua dan menempelkan punggung di dua arah.


"Dalam hitungan ketiga, kau harus pergi apapun yang terjadi. Aku akan mengulur waktu." Xie Yao mengutarakan rencananya.


Xie Ran mengerutkan kening tidak setuju. "Tidak! Kita pergi bersama!"


Xie Yao berbalik menatap Xie Ran yang keras kepala. "Mengertilah, kami semua melindungimu menggunakan nyawa. Liu Ya menggunakan nyawanya melindungimu begitu pula yang lain agar kau bisa hidup dengan baik. Kau harus bisa melarikan diri hidup-hidup!"


Xie Ran menggeleng lemah. Dia tahu niat baik Xie Yao, tapi dia tidak menginginkan itu. Meski sulit membedakan mana asli atau palsu, dia tetap pada pendiriannya. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi dan tidak ingin mengulanginya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak pernah!" Xie Ran menepis genggaman Xie Yao dengan galak melemparkan tatapan tajam dan dingin. Meski dia lemah, dia masih memiliki otak.


Xie Yao tidak menanggapi dan hanya tersenyum tipis. Sepupu kecilnya ini sudah besar dan ingin melindunginya meski tidak bisa. Dia akan mengingatnya.


Para pemberontak mengacungkan senjata mulai menyerang. Xie Yao dengan sekuat tenaga melawan sebisanya dan mendapati beberapa luka karena pengepungan. Meski memiliki sihir, kekuatannya masih rendah dan tidak bisa menahan pengepungan terlalu lama.


Sedangkan Xie Ran melempar beberapa panah yang masih dia pegang ke para pemberontak yang mendekatinya. Dia juga melempar panah dengan tangan kecilnya ke arah pemberontak yang ingin menyerang Xie Yao dari belakang. Meski tidak terlalu cepat, keakuratannya mengerikan.


Ketika merasa tidak bisa menahan lebih banyak, Xie Yao pergi ke arah Xie Ran dan menggunakan sihir untuk membuatnya jauh. Dia berteriak dengan keras. "Pergi! Jangan kembali lagi!"


Xie Ran nyaris saja kehilangan keseimbangan ketika Xie Yao mendorongnya menggunakan sihir. Sihir angin yang kuat membuat Xie Ran terlempar beberapa meter tapi masih bisa melihat kekacauan yang terjadi.


Xie Ran tidak memiliki pilihan lain. Setidaknya dia tidak ingin melihat kematian Xie Yao dan pergi dari sana.


Tapi ketika berlari beberapa langkah, sinar ungu yang pekat muncul melilit lehernya hingga mengambang di udara. Xie Ran kehilangan kendali tubuhnya dan menggantung. Lehernya merasa tercekik oleh sihir yang membuatnya melayang di udara menghadap pertempuran.


Dia dapat melihat Xie Yao yang dihajar dan menumpahkan banyak darah. Hatinya menangis, namun mulutnya bungkam dengan mata memerah seperti kelinci.


Tang Zhi tersenyum ringan mengendalikan tubuh kecil Xie Ran di udara. Dia menatap Xie Yao yang masih memberontak dengan iris licik dan jahat. Di sisinya ada Xie Chen yang hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Lepaskan dia!" Xie Yao meraung marah. Melihat adik kecilnya dicekik di udara dan kesulitan bernapas membuatnya menghentikan pertarungan.


"Jatuhkan senjata!" Tang Zhi berkata dengan ringan dan teduh.


Xie Yao melepas pedang di tangannya dengan marah dan menatap Tang Zhi dengan mata berapi-api. Dia tidak bisa memaafkan wanita iblis ini!


Tang Zhi tersenyum samar dan menurunkan Xie Ran ke tanah, dia memindahkan lilitan yang awalnya di leher menjadi di tubuhnya sehingga tidak bisa bergerak. Bahkan jika Xie Ran ingin, itu sulit.


"Xie Yao, patuhlah! Jika kau memberontak, kami tidak akan memaafkanmu!" Para Tetua berdatangan membujuk Xie Yao. Itu membuat Xie Yao dan Xie Ran menatapnya dengan marah karena para tua bangka itu telah berani mengkhianati Klan.


Xie Yao mendengus. "Patuh? Hanya pecundang yang menyerah pada iblis sepertinya." Xie Yao melirik Tang Zhi dengan penuh niat membunuh. Namun dia hanya bisa berdiri jika tidak ingin terjadi sesuatu pada Xie Ran.


"Dasar tidak tahu terima kasih! Kau hanya anak dari keluarga cabang, masih berani menentang orang tua!" Tetua Wei meraung marah.


"Percuma menasihati bocah ingusan ini," ujar Tetua Zhu. "Bunuh dia!"


Melihat para pemberontak menghunuskan senjata mereka pada Xie Yao, Xie Ran dilanda kebingungan dan memberontak dalam lilitan. "Jangan!"


Xie Ran terus memberontak membuat lilitan semakin erat dan melukai tubuhnya. Darah merembes di pakaian putihnya. Tubuhnya dipenuhi luka membuat Xie Yao tambah marah.


Dia mengambil kembali pedangnya dan menyerang Tang Zhi. Tang Zhi tidak perlu berurusan dengan bocah sepertinya dan membiarkan Xie Chen maju.


Kedua pedang mereka saling bersentuhan, namun karena tenaga Xie Yao telah terkuras dalam pertempuran sebelumnya, dia kalah dari Xie Chen sehingga dipaksa mundur.


Beberapa bawahan memegangi Xie Yao yang ingin mengamuk lagi. Perutnya segera ditinju dengan keras hingga memuntahkan seteguk darah. Tubuh Xie Yao lemas seketika sampai tidak bisa memberontak lagi.


Pukulan demi pukulan terus didaratkan menggunakan senjata tumpul. Mereka mengabaikan raungan Xie Ran yang mencoba memohon agar mereka menghentikannya.


Xie Ran sampai serak, dia hanya bisa sedikit bergerak dengan tubuh penuh luka dan darah. Dia tidak bisa melakukan apapun dan lagi-lagi merasa lemah!


Tang Zhi kesal melihat tingkah Xie Ran dan melepas lilitannya. Xie Ran segera berlari ke arah Xie Yao dan tidak bisa menahan tangisannya lagi. Hatinya melemah jika melihat orang terdekatnya menderita. Xie Ran tidak bisa melakukan banyak.


Dia dalam kondisi berlutut dan begitu lemas sampai tidak bisa bergerak. Tubuhnya dipegang oleh beberapa orang besar yang memukulnya. Dia merasa gagal melindungi Xie Ran dan membiarkannya di tangan orang jahat. Ia belum cukup kuat untuk melindungi adiknya. Sekarang Xie Ran hanya bisa melindungi dirinya sendiri.


"Kakak Yao ...."


Xie Ran ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba sebilah pisau menggores leher Xie Yao dalam satu goresan menyebabkan darah terciprat di wajah manis Xie Ran.


Xie Ran benar-benar mematung dengan mata membulat. Leher Xie Yao digorok begitu saja hingga darah terciprat di mana-mana termasuk tubuh Xie Ran. Pikirannya kosong sejenak.


Xie Ran menekan tinjunya dalam-dalam sampai berdarah. Matanya yang merah seperti kelinci melihat tubuh kaku Xie Yao yang sudah tidak bernyawa. Xie Ran gemetar melihatnya. Apa ini hukuman untuknya yang sering membunuh seseorang di depan orang yang korbannya sayangi? Benar, ini karma untuknya!


Xie Ran menertawai dirinya sendiri dalam hati. Meski dia terlihat terkejut dari dalam, dia sudah tertawa dengan keras akan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dia mengerti rasanya menjadi korban yang pernah menatapnya penuh kebencian.


Jika orang lain tahu apa yang terjadi sebenarnya, orang akan menganggapnya gila!


Xie Ran menunduk dalam-dalam merasakan semua emosi yang melonjak. Semua orang melihatnya dengan puas dan tertawa.


Xie Ran yang menunduk memiliki mata penuh niat membunuh yang kental dengan tubuh bergetar. Meski tubuhnya lemah, dia tidak sepenuhnya lemah!


Tidak ada yang menyadari pergerakan kecilnya. Dalam satu kedipan mata, tangannya sudah memegang belati dari saku salah seorang bawahan dan menancapkannya ke salah satu mata orang yang membunuh Xie Yao.


Orang yang membunuh Xie Yao tidak terlalu tinggi, jadi Xie Ran bisa meraihnya hanya dengan sedikit melompat.


Darah lagi-lagi terciprat di tangannya dan merambat ke pakaiannya. Dia menusuk tanpa mengedipkan mata dan menariknya dengan cepat membiarkan darah mengalir deras seperti air mancur dari mata orang itu.


Orang itu berteriak kesakitan sedangkan yang lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka seorang gadis kecil yang lemah dapat menikam mata seseorang tanpa berkedip. Apa dia adalah Xie Ran yang dimanja itu?


Xie Ran melepas belati di tangannya setelah menyadari apa yang dia lakukan. Dia lagi-lagi melakukan penyerangan naluriah yang tanpa dia sadari.


Ini sering terjadi jika emosinya melonjak dan akan membuat semua orang takut padanya. Namun efeknya setelah sadar, Xie Ran akan mengalami stress berat.


Melihat jasad Xie Yao yang tergenang darah, pikiran Xie Ran tak terkendali dan mulai sakit kepala. Dia berjongkok dan memegangi kepalanya karena kontraksi depresi yang ia derita sejak lama.


Dia mengerang kesakitan seperti orang gila. Suaranya membuat siapa pun merasakan jejak pembunuh yang kuat dan tidak berani mendekat meski itu hanya anak kecil.


Xie Ran tidak dapat menahan rasa sakit di kepala lebih lama. Pandangannya menjadi gelap dan hitam. Namun rasa sakit terus ada membenturkannya berkali-kali lipat.


Setelah beberapa lama, dia melihat cahaya. Cahaya datang dari kegelapan yang menghangatkannya. Tubuhnya terasa hangat dan nyaman.


Kepalanya tidak lagi sesakit sebelumnya, tapi dia merasa ada ingatan lainnya yang menekannya membuatnya tidak nyaman.


Semakin lama, cahaya itu kian pudar. Xie Ran dalam wujud yang menyedihkan dalam keadaan kesakitan, tidak sadar bahwa liontin mengeluarkan sinar. Kabut keluar dari sana membentuk sosok tinggi dan ramping menangkap Xie Ran yang akan jatuh.


Tangannya dengan mudah menangkap tubuh mungil gadis yang sedang tersiksa itu. Dia mengerutkan kening, kemudian menyadari akan ada seseorang yang datang.


Tanpa banyak berpikir, tubuhnya menghilang bersamaan dengan Xie Ran menjadi kabut dan masuk ke dalam liontin. Liontin itu jatuh ke lantai dan menyamarkan diri.


Beberapa detik kemudian, Tang Zhi datang dengan wajah tegang melihat kekacauan yang terjadi. Dia menaiki satu per satu tangga dan menemukan hilangnya liontin yang baru saja dia segel menggunakan segel mimpi buruk.


Dia tidak menduga ini akan terjadi. Segelnya hancur dan liontin menghilang. Dia menghentakkan tangannya dan mengeluarkan aura menekan sehingga orang-orang di luar pagoda merasakan kekuatannya menggigil ketakutan.


Wajah Tang Zhi gelap dan marah. Dia keluar dari pagoda mengutus orang untuk menggeledah semua bangunan dalam kediaman termasuk tempat di mana Xie Ran dikurung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xie Ran terbangun dari tidur panjangnya. Menyadari tempat di mana dia berada, Xie Ran tidak banyak berpikir dan beranjak dari ranjang.


Melihat matahari menunjukkan sinar cerah dari balik gorden putih bersih. Membukanya dan melihat pemandangan taman yang indah di halaman rumah.


Xie Ran menghirup udara segar, detik berikutnya, dia baru menyadari sesuatu. Dia melihat ke belakang dimana kamarnya berada. Kamar berukuran besar disertai ranjang besar dan kelambu. Sofa di sudut ruangan, tv besar, lemari ganda, dan mainan ....


Xie Ran nyaris menjatuhkan rahang melihat mainan barbie yang tersusun bersama dengan rumah-rumahan. Ada banyak boneka di ranjangnya. Boneka beruang dan binatang lain tersusun rapi sesuai irama.


Foto-foto anak kecil dan sebuah keluarga tergantung di dinding. Ada juga foto keluarga beranggotakan tiga tergeletak dalam bingkai di atas nakas.


"Apa ini?" Xie Ran tahu persis bahwa itu adalah dirinya ketika masih kecil. Tapi pasangan dalam foto itu seharusnya ....


Makin lama memikirkannya, makin bingung Xie Ran. Dia tidak memiliki ingatan tentang keluarganya. Dia hanya tahu bahwa dia telah tiba di sebuah organisasi tertutup dan tidak pernah melihat dunia luar sampai keterampilannya di atas rata-rata. Itu pun hanya untuk sebuah tugas dan selalu ditugaskan di negara berbeda.


Semakin dia memikirkannya, semakin menyadari bahwa ada yang salah selama ini.


Bukankah dia sedang di pagoda teratai?


Dia ingin mengambil liontin tapi malah di sini.


Apa dia mati dan bertransmigrasi kembali ke dunia modern sebagai anak kecil dengan identitas baru? Sayang sekali! Padahal Xie Ran belum tahu nama Gunung Es, dia sudah mati duluan. Dia merasa bersalah tidak dapat memenuhi kesepakatan karena mati duluan. Ini semua karena segel sialan!


Xie Ran mendengus kesal. Dia juga merasakan lapar yang membuatnya semakin kesal. Apalagi mendengar suara perut yang menjengkelkan.


Xie Ran melangkah ke luar kamar dengan santai seolah sudah menghafal seluk beluk tempat. Mungkin karena ingatan pemilik tubuh asli walau belum sepenuhnya tercerna. Dia tidak terkejut lagi mengetahui dirinya berpindah tubuh seperti sebelumnya.


Kaki kecilnya yang sekiranya berumur 7 tahun melangkah ke luar dan melihat banyak barang mewah yang sangat dirindukan. Dia sudah mabuk dengan barang kuno sebelumnya dan sekarang bisa bersantai dengan teknologi.


Ketika melangkah ke dapur, tanpa sengaja mendengar suara pecahan kaca yang keras juga suara ribut seseorang yang bertengkar.


Xie Ran menjadi serius, memutuskan mengurungkan niat ke dapur dan memilih ke ruang tamu. Dia mengintip dari balik dinding, melihat sepasang suami-istri bertengkar entah masalah apa. Xie Ran merasa familiar dengan keduanya, tapi di mana?


"Kau akan membawa Ranran pergi? Aku tidak tidak akan membiarkannya!"


"Aku tidak memiliki pilihan lain. Kau pikir aku juga ingin Ranran pergi ikut dengan mereka? Jika kita tidak melaksanakan perjanjian, maka kita tidak aman. Kau ingin menjadi buronan mereka!" Pria itu menggertak dengan marah. Dia sudah frustrasi dengan berbagai hal menyangkut pekerjaan dan keluarganya. Segalanya menjadi jauh lebih rumit semenjak perjanjian telah tiba.


"Kalau begitu cari anak lain. Aku tidak ingin Ranran ikut dengan mereka. Ranran polos dan naif, aku tidak tega melihatnya bergabung dengan penjahat!" Wanita itu meninggikan suaranya dan melotot tajam.


"Penjahat kau bilang? Lalu kau bukan penjahat? Ingatlah, sudah berapa banyak orang yang kau bunuh dengan tanganmu sendiri. Kau bisa mendapatkan kesempatan merawat Ranran tapi ini balasanmu?" Pria itu terlanjur emosi dan mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan.


Wanita itu terdiam menatapnya tajam. Dia menekan amarahnya dalam hati dan mengepalkan tangan sampai berdarah. Dia terlalu marah!


"Kau lihat bagaimana pendapatnya!" Wanita itu mengancam dan akan pergi. Tapi ketika berbalik, ia menghentikan langkah melihat sosok anak kecil yang dengan polos menatap mereka dari balik dinding.


Pria itu juga menyadarinya. Melihat anak kecil yang seharusnya tidak mendengarkan pertengkaran mereka kini sudah ada di depan mereka. Dia menjadi merasa bersalah.


"Ayah, Ibu ...." Xie Ran telah mengenalnya dengan jelas. Mereka adalah ayah dan ibunya. Bagaimana mungkin mereka yang mengirimnya ke kelompok penjahat itu? Ini tidak bisa dipercaya!


Xie Ran mundur beberapa langkah merasakan kakinya melemas. Apa ini ingatan masa lalunya? Ingatan yang dia lupakan?


Tidak!


Ini pasti ilusi!


Sebelumnya dia telah memasuki ilusi mimpi buruk yang membuatnya harus melihat kembali kejadian yang tidak ingin dia lihat. Sekarang dia telah melihat ilusi masa lalunya sebagai Sang Ran yang tidak ia ingat lagi.


Benar, ini pasti ilusi!