
Pagi-pagi sekali Xie Ran sudah berada di arena. Duduk di podium sambil melihat pertandingan antar murid yang terus mendapat sorakan dari penonton.
Semalam, Xie Ran dan Zhong Xiaorong mabuk bersama membuat Xie Ran nyaris bangun kesiangan. Dia masih mengantuk sekarang, tapi pertandingannya akan dimulai.
Mengenai pertunangan Zhong Xiaorong dan Yan Yao, itu sudah direncanakan sejak lama oleh Kaisar terdahulu antara Kaisar dengan Klan Yan. Mereka akan menjalin hubungan melalui putra tertua mereka dengan putri kesembilan yang saat itu akan lahir. Ketika Zhong Xiaorong mengetahuinya, dia tentu tidak setuju dan marah besar sampai kabur dari Istana, tapi kontrak pernikahan itu tidak bisa dibatalkan apalagi sudah menjadi wasiat Kaisar terdahulu.
Itu mengapa Zhong Xiaorong selalu bersikap tidak baik pada Yan Yao. Agar Yan Yao memutuskan kontrak pernikahan dan dia akan bebas. Tapi itu tidak pernah terjadi. Awalnya Yan Yao setuju memutuskan kontrak, tapi keluarganya menentang dan terus menekannya. Apalagi Yan Yao juga dipaksa setuju dengan alasan wasiat kakek tersayangnya. Yan Yao tidak memiliki alasan lain lagi untuk membatalkan.
Zhong Xiaorong bercerita sambil menangis bahwa dia tertekan dengan aturan Istana. Permaisuri dan Selir tidak menyayanginya dan terus direndahkan oleh Putri maupun Pangeran sehingga dia termasuk putri terbuang semenjak ibunya meninggal. Dia juga dipaksa setuju dengan kontrak tersebut demi mendiang ibunya. Selain itu, banyak yang ingin membunuhnya dengan beberapa alasan baik dari Selir maupun Putri lain.
Hanya Pangeran Mingfeng yang ada untuknya. Tapi Pangeran satu itu juga tidak mengerti perasaannya dan selalu sibuk sehingga Zhong Xiaorong selalu memendam masalahnya sendiri.
Sedangkan hubungan Zhong Xiaorong dan Zhong Guofeng bisa terbilang biasa saja, tidak ada yang spesial. Selain karena Zhong Guofeng adalah orang yang dihormati Zhong Xiaorong dan tidak pernah merundrungnya, Zhong Xiaorong tidak dekat dengan Kaisar itu selain jika ada sesuatu yang dapat saling memanfaatkan. Bisa dibilang, hubungan mereka sebagai adik-kakak sangat kaku dan terasa seperti hubungan bisnis.
Xie Ran tidak habis pikir dengan putri arogan itu. Sifat arogan dan reputasi buruknya dibuat sebagai topeng untuk menutupi semua masalah sehingga tidak ada yang dapat menebak bagaimana kehidupan sesungguhnya. Tidak akan ada musuh yang menyentuhnya jika seperti itu.
Entah berapa banyak lagi rahasia kelam teman-temannya yang akan terungkap. Pei Xi benar, mereka semua memiliki masa lalu kelam masing-masing. Termasuk Xie Ran.
"Kau benar akan melawan Tang Yueha?" Liu Chang tiba-tiba hadir disisinya. Untung saja Xie Ran sudah menemukan kehadirannya terlebih dahulu sehingga tidak terkejut.
"Cepat atau lambat aku akan melawannya jika ingin masuk turnamen."
Sebenarnya Xie Ran enggan bertarung dengan Tang Yueha. Mereka tidak memiliki dendam dan dia tidak mau repot, tapi dia harus melakukannya untuk mendapatkan posisi. Itu juga demi teman-temannya. Jika dilihat diantara teman-temannya, tidak ada lagi yang bisa mengalahkan Tang Yueha selain Pei Xi. Apalagi setelah tantangan ini, Tang Yueha akan menantang Yan Yao.
"Aku yakin kau bisa mengalahkannya." Liu Chang percaya. Tinju Xie Ran sangat menyakitkan ditambah pelatihan gilanya. Usaha tidak akan menghianati hasil.
"Di mana Zhou Kui, dan dua anak manja itu?" Untuk Pei Xi dan Yan Yao, dia ingat keduanya telah mengambil misi di lembah Tianyun.
"Rongrong mabuk berat dan belum bangun. Liena dan Zhou Kui akan datang sebentar lagi."
Xie Ran mengangguk paham. Rupanya dia terlalu pagi datang ke arena hingga meninggalkan mereka semua yang masih bergelut dengan selimut.
Setelah kedatangan Zhou Kui dan Mei Liena, nama Xie Ran dan Tang Yueha terpanggil di atas arena membuatnya harus bergegas.
"Xiao Ran, semangat!" Ketiganya menyemangati sedangkan Xie Ran hanya tersenyum. Mereka percaya Xie Ran akan menang.
Xie Ran menginjakkan kaki ke atas arena. Melihat kehadiran Tang Yueha yang terlihat elegan dan anggun dengan pakaian putihnya, semua orang mulai bersorak gembira terutama untuk para pria.
Di akademi, Xie Ran dan Tang Yueha terkenal akan kecantikan dan kekuatannya. Mereka berada di arena kali ini sangat menarik perhatian banyak orang sehingga tribun dipenuhi penonton. Banyak yang bersorak mendukung kubu masing-masing.
Tang Yueha yang selalu memiliki reputasi terbaik memiliki lebih banyak pendukung. Meski Xie Ran lebih cantik, Xie Ran dikenal sebagai gadis gagah yang tidak seperti wanita sama sekali. Kebanyakan pria menyukai wanita lembut seperti Tang Yueha dan akan takut pada wanita galak seperti Xie Ran. Itu sebabnya lebih banyak yang mendukung Tang Yueha.
Justru dengan ini, Xie Ran memiliki banyak kesempatan mendapatkan uang taruhan.
Wasit segera mengumumkan bahwa pertandingan telah dibuka. Keduanya tidak banyak bicara, langsung mengayunkan tangan mereka dengan halus mempersiapkan aura yang membuat semua orang terpana.
Pedang di tangan Tang Yueha muncul terlihat indah dan dipenuhi kristal. Itu sama seperti pedang Xie Chen sebelumnya, terbuat dari batu spiritual menengah dan merupakan artefak langka. Bukan pertama kali Xie Ran melihatnya karena tiap kali bertarung, Tang Yueha selalu menggunakan pedangnya itu sedangkan Xie Ran telah menilai kemampuan Tang Yueha dari pertandingan sebelumnya.
"Kita tidak memiliki dendam sebelumnya, jangan salahkan aku karena pedang tidak memiliki mata." Tang Yueha memperingati. Ah, lebih tepatnya dia sangat ingin menghancurkan Xiao Ran yang telah merebut Kaisar darinya. Dia akan merusak wajah Xiao Ran dengan alasan kecelakaan dalam arena.
Xie Ran yang tidak tahu niat Tang Yueha hanya tersenyum. "Kau benar." Meski dia tidak tahu niat aslinya, dia tahu Tang Yueha tidak memiliki niat baik padanya. Xie Ran akan memainkan permainannya dengan baik.
Tang Yueha mengayunkan pedangnya dengan lincah dan gesit. Tiap ayunan pedang memiliki tekanan dan jejak ungu cerah yang berkelip dengan cepat membuatnya terlihat semakin indah.
Xie Ran dapat mengakui, teknik pedang Tang Yueha sangat bagus. Namun bukan berarti Xie Ran tidak tahu teknik pedang meski tidak pernah menggunakan pedang.
Jika teknik Tang Yueha terbilang halus dan indah, maka teknik Xie Ran termasuk ke dalam brutal dan kejam. Tiba-tiba sebilah pedang muncul di tangan Xie Ran yang sejak tadi menghindar dan berbenturan dengan pedang Tang Yueha. Pedang Xie Ran memang pedang biasa, namun cara dia menggunakan termasuk kuat dan dapat menahan pedang kuat Tang Yueha.
Xie Ran pernah berlatih anggar dan kendo -- pedang samurai dari jepang -- dulu sampai ahli. Dia bahkan pernah menjadi pelatih kendo di Red Room sehingga semua pedang di matanya hanya mainan. Di tambah dengan kecepatan dan kekuatannya yang meningkat, teknik pedangnya semakin mengerikan.
"Ini kali pertama aku melihat Xiao Ran menggunakan pedang." Mei Liena tepana. Teknik pedang Xie Ran aneh, tapi sangat kuat!
"Benar, teknik apa yang ia pelajari? Aku tidak pernah melihatnya." Liu Chang sebagai pengguna pedang tidak bisa tidak bertanya-tanya. Ada banyak teknik pedang di dunia ini, namun Xie Ran yang paling tidak pernah ia lihat.
"Mungkin itu diajari oleh masternya dulu saat kecil. Xiao Ran pernah mengatakan dia dari sebuah kelompok misterius yang melatih anak-anak menjadi kuat." Zhou Kui tetap tenang meski penasaran. Biarlah itu menjadi rahasia Xie Ran sendiri. Dia sendiri juga memiliki rahasia.
"Xiao Ran telah menggunakan kartu trufnya, itu berarti Tang Yueha memang sulit dihadapi." Liu Chang semakin ngeri dengan Tang Yueha.
Bukan hanya mereka saja yang penasaran dengan teknik pedang aneh Xie Ran, yang lainnya juga penasaran hingga fokus mereka hanya terhadap pada Xie Ran.
Tang Yueha sedikit terkejut akan Xie Ran yang menggunakan pedang. Selama ini gadis itu tidak pernah menggunakan pedang selama pertarungan. Dia bahkan tidak tahu apa teknik pedang aneh yang terlihat kejam dan keras itu. Awalnya dia pikir itu hanya gerakan acak, namun dia salah. Bahkan itu sangat kuat meski tanpa aura.
Merasa tidak dapat bertahan lebih lama, Tang Yueha menggunakan teknik selanjutnya dari pedang langit ungu dan sihir teratai malam. Kekuatan pedangnya meningkat drastis. Tiap kali menebaskan pedangnya, bilah energi ungu cerah keluar menyilaukan mata dan dapat membelah apapun seperti laser.
Xie Ran menunduk menghindarinya. Pedangnya diliputi api yang berkobar dan menyamarkan sihir pesona yang dikombinasikan. Ketika menebaskan pedangnya, kobaran api merebak keluar mengelilingi arena hingga membuat barrier arena diperkuat agar tidak pecah.
"Xiao Ran, sebenarnya apa saja yang ada dalam lengan bajumu," gumam Tang Yueha menggertakkan giginya. Dia nyaris saja terbakar jika tidak cepat membuat pertahanan dan menghindari api yang akan melahapnya. Api itu, meski tingkat rendah masih terlalu kuat. Mustahil!
Melihat Tang Yueha terlihat kesal, Xie Ran tersenyum. "Tang Yueha, pedang tidak memiliki mata. Jangan salahkan aku bila melukaimu."
Tang Yueha semakin dibuat kesal menyadari kalimatnya dibalikkan. Dia melesat dengan sangat cepat membuat bilah energi sedangkan tubuhnya melayang di udara. Xie Ran menggunakan perpindahan bumi untuk menghindarinya sehingga tubuhnya berkelip dari satu tempat ke tempat lain. Tiap kali dia menghilang, bilah energi selalu meledak di tempatnya berada.
Semakin lama, Xie Ran semakin melesat jauh ke arah Tang Yueha. Pedangnya menghantam bilah energi Tang Yueha dan merobeknya hingga aura yang dikeluarkan Tang Yueha berbalik menyerang. Tang Yueha kembali ke lantai arena memegangi dadanya yang sakit. Bisa-bisanya terkena serangan balik kekuatannya sendiri.
"Xiao Ran, sudah cukup. Kau akan merebut segalanya dariku," gumamnya kemudian berdiri tegak. Tubuhnya diliputi sinar ungu cerah yang membentuk seperti teratai dengan 9 kelopak. Alisnya bersinar memunculkan simbol teratai yang membuat semua orang terpana.
"Apa dia menerobos?" Zhou Kui bingung. Disaat seperti ini, bukan saatnya untuk menerobos. Apalagi Tang Yueha tidak sepenuhnya ditekan.
Sedangkan di arena, Xie Ran hanya menatapnya santai tanpa minat. Jika dia menggunakan ilusi sekarang, takutnya Tang Yueha sudah lama mati meski dia telah menerobos.
Tapi perubahan Tang Yueha kali ini bukan karena terobosan. Itu membuat Xie Ran terkekeh. "Dia meminjam kekuatan seseorang. Bosan hidup dan cari mati."
Tang Yueha telah menyelesaikan perubahannya. Dia terlihat lebih hidup dan mata ungunya bercahaya. Simbol teratai di dahinya terus mengeluarkan keagungan yang membuat semua orang terpesona. Sedangkan Xie Ran memiliki wajah gelap ketika melihatnya lebih jelas.
"Kau membuatku marah." Awalnya Xie Ran tidak memiliki dendam pada Tang Yueha, tapi sekarang berbeda. Dia sangat ingin membunuhnya melebihi membunuh Xie Chen.
Tang Yueha melihat Xie Ran yang berwajah suram tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin dapat memenangkan pertempuran dengan kekuatan ini dan merusak wajah gadis itu. Dia akan mendapat apa yang diinginkan.
Pedang di tangannya berayun bagai bayangan. Kecepatannya melebihi sebelumnya membuat siapapun yang melihat merasa pusing. Melihat Xie Ran yang tidak fokus, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Tiap serangan selalu terarah pada wajah Xie Ran sedangkan Xie Ran terus menghindar dengan tatapan tidak bersahabatnya. Penuh amarah, namun tidak melakukan apapun seolah ingin melihat seberapa jauh Tang Yueha melangkah. Namun di mata Tang Yueha, gadis itu kewalahan menghadapinya.
"Hmph, masih berani menentangku?" Tang Yueha mencibir dan menebaskan pedangnya lagi secara brutal hingga Xie Ran termundur beberapa meter.
Dia menggerakkan pedangnya lagi seolah akan membunuh gadis itu. Gerakan pedangnya membentuk sebuah simbol yang terbentuk di udara. Kemudian terdorong dengan keras seperti dinding. Angin berhembus begitu kencang membuat semua orang bergidik melihatnya.
Simbol itu bergerak dengan cepat meninggalkan jejak sihir ungu cerah di udara dan membentur tepat ke arah Xie Ran. Xie Ran menyilangkan tangannya di depan dada menerima tekanan dan terlempar jauh. Tubuhnya terguling, namun dia segera menahan tubuhnya agar tidak jatuh dari arena menggunakan pedangnya.
Semua orang berpikir Xie Ran telah kalah. Melihat gadis itu hanya diam menerima serangan, sudah jelas tidak ada yang bisa dilakukan. Bahkan Xie Ran mengeluarkan darah dari mulutnya membuat senyum Tang Yueha merekah. Hatinya dipenuhi kegilaan bahwa dia telah mengalahkan saingannya. Kaisar tidak akan tertarik pada gadis itu apalagi jika dibuat cacat.
Tang Yueha tidak ingin melepaskannya dan segera meluncurkan pedang ke arah Xie Ran. Meski Xie Ran sudah tertunduk di ujung arena, dia hanya ingin sedikit menggores wajahnya agar masa depannya hilang. Wajah adalah masa depan wanita. Dia benci kenyataan Xie Ran lebih cantik darinya sampai menarik perhatian Kaisar dan ingin merusaknya.
Semua orang terkejut, termasuk tiga manusia yang sudah mencengkram tinju erat-erat dan bangkit dari kursi. Mereka ingin menghentikan pertarungan, tapi tidak berdaya sampai membenci diri sendiri. Bagaimana Tang Yueha biaa begitu kejam!
Kecepatan Tang Yueha sangat cepat hingga sosoknya sampai di depan Xie Ran dengan pedang di tangannya. Namun, begitu pedang menggores pipi Xie Ran sampai berdarah, dia merasakan cengkraman kuat hingga membuat lengannya perih. Dia terkejut ketika melihat Xie Ran menatapnya dengan tatapan mengejek.
Xie Ran mendengus. "Bodoh."
Xie Ran semakin mengeratkan genggamannya seolah akan mematahkan tulangnya. Tang Yueha merintih kesakitan. Dia menggunakan pedangnya akan memotong tangan Xie Ran namun Xie Ran langsung menangkap ujung pedang sampai telapak tangannya meneteskan berdarah. Saat itu juga, Xie Ran memelintir lengan Tang Yueha dan keras hingga suara patah tulang terdengar begitu mengerikan.
Suara rintihan Tang Yueha membuat satu tribun bergidik ngeri. Mereka menatap Xie Ran yang terluka dengan horor dan meneguk saliva tidak berani berkomentar. Gadis itu terlihat seperti iblis sekarang.
"Tulangmu sangat rapuh seperti bayi." Xie Ran bicara tanpa ekspresi mendekati Tang Yueha yang memegangi tangannya yang sakit. Langkahnya perlahan, namun berhasil membuat Tang Yueha bergetar. Tang Yueha sendiri tidak tahu mengapa ia takut melihat Xie Ran seperti ini.
Xie Ran mengusap luka di wajahnya dan melihat darah yang menempel. "Aku pernah mendapatkan luka yang sama. Justru lebih mengerikan," kata Xie Ran terdengar sangat tenang. "Benar, luka bakar. Seseorang membakar tempatku dan membunuh orangku. Bahkan menghancurkan wajahku." Xie Ran menatap Tang Yueha penuh ejekan meski berwajah datar. "Apa kau pernah mendengarnya?"
"Xiao Ran, kau--"
"Aku tidak menyalahkanmu karena pedang tidak memiliki mata. Kau juga tidak harus menyalahkanku." Xie Ran melesat begitu cepat nyaris tidak ada yang bisa menyadarinya dan tiba-tiba sudah ada di belakang Tang Yueha.
Tang Yueha segera menebas pedangnya ke belakang, namun Xie Ran tidak ditemukan keberadaannya. Ketika menyadari Xie Ran di belakangnya, dia menebas lagi tapi tidak menemukan apapun selain sebuah sayatan yang tiba-tiba muncul di lengannya membuat darah mengalir deras.
"Ini arena, kenapa kau malah merenung?" Xie Ran mencibir di telinganya namun menghilang lagi.
Sekali lagi sayatan muncul begitu dalam di kaki Tang Yueha hingga gadis itu berlutut sambil menahan sakit. Masalahnya langkah Xie Ran sulit terprediksi hingga dia tidak bisa menahan serangan.
Xie Ran muncul di depannya tiba-tiba. "Aku akan berhenti jika kau menyerah, meski aku berharap kau tidak menyerah sampai mati."
Tang Yueha menatapnya penuh kebencian dan segera melancarkan serangan. Mengabaikan kakinya yang terluka parah, beberapa bilah energi muncul menyerang Xie Ran secara gila.
Xie Ran mendengus, gerakannya sangat cepat dan tidak tertebak. Tiap bilah energi selalu dipecahkan oleh satu pedang di tangannya dengan kecepatan kilat. Dalam satu kedipan mata, wujudnya sudah ada di depan Tang Yueha dan menendang wajahnya hingga terpelanting jauh.
Tendangan Xie Ran sangat kuat hingga membuat Tang Yueha memuntahkan darah. Rahangnya terluka dan terasa sangat perih. Dia sangat marah!
Baru saja Tang Yueha akan bangkit dan menyerang lagi, suara seseorang terdengar membuatnya berhenti.
"Kami mengaku kalah!" Xie Chen tiba-tiba muncul di arena dan memapah saudaranya. Dia menatap Xie Ran penuh kebencian karena telah membuat mereka terlihat malu dua kali.
"Aku bertarung dengan Tang Yueha, bukan denganmu." Xie Ran tidak puas.
"Sepupuku tidak sanggup bertarung lagi, aku mewakilinya mengaku kalah." Xie Chen tetap pada pendirian mengabaikan tatapan tidak setuju Tang Yueha.
Xie Ran menaikkan sebelah alis. "Aku tidak suka diwakilkan." Dia sangat ingin membunuh wanita sialan itu!
Xie Chen menatap wasit mencoba mengakhiri pertarungan tapi wasit hanya diam. Dia menatap Xie Ran kembali. "Jika pertarungan terus dilanjutkan, akan ada kematian. Ini bukan pertarungan hidup dan mati."
"Akademi memiliki terlalu banyak murid sehingga tidak mempermasalahkan pihak tertentu mati dalam arena. Apa kau paham?" Xie Ran merasa tangannya gatal untuk memukul mereka sekarang.
"Kau!"
"Xie Chen, kau melanggar aturan akademi menerobos arena tanpa izin." Xie Ran menegaskan kemudian menatap wasit tajam. "Kenapa kau diam saja?"
Wasit segera tersadar dan membujuk Xie Chen. "Xie Chen, kau tidak memiliki hak ikut campur atau akan didiskualifikasi dari peringkat langit. Ikut campur ketika pertarungan berlangsung adalah pelanggaran berat. Untuk saat ini, koin kacamu akan dipotong 50%. Tidak akan ada pertimbangan lagi jika mengulangi kesalahan yang sama."
Xie Chen mendengus mendengarnya dan pergi dari sana setelah membiarkan Tang Yueha berdiri tegak. Dia tahu Xiao Ran itu ingin membunuh Tang Yueha sama seperti ketika ingin membunuhnya. Dia merasa Xiao Ran itu memiliki dendam terhadap Klan Xie sehingga menarget mereka. Sayangnya dia tidak bisa berbuat banyak.
Melihat Xie Chen pergi, Tang Yueha menghela napas. Sepertinya dia memang harus menyerah untuk saat ini apalagi dia telah kehilangan banyak energi. Lukanya juga memburuk.
"Aku mengaku kalah."