
Pertempuran pertama menghasilkan mundurnya pasukan iblis untuk mempertahankan benteng pertama sejak Xie Ruo menerobos secara langsung dan membuka jalan bagi pasukan manusia untuk mengambil alih. Para iblis segera mundur ke wilayah pusat atas perintah pertahanan.
Wilayah lainnya juga mengalami perkembangan substansial setelah ras naga, ular, dan hewan lautan yang meratakan tanah sampai menghancurkan benteng. Beberapa murid Klan Xie dan klan lainnya kembali ke kamp untuk memulihkan diri selagi iblis mundur ke tempat di mana Dewa Iblis berada. Seharusnya mereka meneruskan perang, tapi kondisi tidak memungkinkan apalagi jika melawan Dewa Iblis langsung.
Pada akhirnya, setelah perang yang memakan waktu berhari-hari itu, mereka dapat mengambil jeda sementara untuk mempersiapkan persiapan perang berikutnya.
Di wilayah pusat, perwakilan pasukan iblis dari berbagai wilayah berbondong-bondong memasuki istana untuk menghadap Dewa Iblis dan memberi laporan. Istana kekaisaran kini telah berubah sepenuhnya. Dari yang semula merupakan tempat yang indah dan penuh kehidupan, kini menjadi suram dan penuh aroma darah. Tanah di bahwa kaki mereka menghitam, tanaman-tanaman telah mati menyisakan kegelapan dan kelayuan. Bahkan, hewan iblis dengan santainya melintas untuk berburu.
Di dalam aula istana yang besar dan megah, seorang pria duduk di kursi kebesarannya sambil menopang kepalanya dengan salah satu tangan dan menutup mata. Ia telah melihat perang yang terjadi melalui menara, siapa sangka wanita itu akan datang lebih cepat dari perkiraan dan membuat pasukannya mundur.
Para perwakilan pasukan itu saling melapor berbagai situasi membuat Dewa Iblis di atas kursi kebesaran mengerutkan wajah. Ia membuka mata, menampakkan iris merahnya yang pekat, melihat para perwakilan itu dengan tidak senang.
Tapi ... akan aneh jika wanita itu tidak menunjukkan sisi keras kepala dan membuat idiot-idiot ini takut dan mundur. Hal ini pasti akan terjadi jika Xie Ruo telah datang ke medan perang secara langsung.
Di luar perkiraan para perwakilan tersebut, Dewa Iblis tampak tidak marah dan hanya menghela napas. Itu tidak terlihat seperti Dewa Iblis yang mereka kenal.
"Ratusan telah iblis mati, lalu apakah kalian ingin menyusul mereka yang telah mati?" Suasana hati Dewa Iblis sedang buruk sekarang.
Hal itu membuat para perwakilan menarii kembali pemikiran mereka mengenai Dewa Iblis yang tidak marah. Justru, Dewa Iblis saat ini terlihat lebih menyeramkan.
Mereka semua menunduk, tidak ada yang berani menjawab. Dewa Iblis melihatnya sekilas, kemudian berdecak. "Sangat mudah teralih dan lari seperti pengecut. Memang tidak bisa diandalkan." Untungnya ia tidak mengutus seluruh pasukan, atau ia benar-benar akan kalah dengan cara memalukan karena para idiot yang bodoh.
"Yang Mulia, hamba pikir akan lebih baik menyerang di waktu senyap dan menargetkan sisi terlemah terlebih dahulu. Seperti contohnya beberapa kelompok ras manusia, ataupun ras ular."
"Benar Yang Mulia, hamba lihat Akademi Tianshang memiliki jumlah pasukan terendah dan keamanan terendah, kita bisa menyusup diam-diam dan menyelesaikan mereka sekaligus."
Dewa Iblis mendengus. "Jangankan akademi yang tengah sekarat, aku lebih menyukai penyerangan putus asa untuk meruntuhkan pilar pasukan."
Para perwakilan itu saling tatap, tidak mengerti apa yang direncanakan Dewa Iblis. Tapi tidak ada yang berani bertanya.
Dewa Iblis tersebut misterius. "Sampaikan pada Kaisar Iblis, waktunya sudah dimulai."
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Klan Xie saat ini penuh dengan tabib yang mondar-mandir memberi perawatan. Luka mereka tidak kecil sehingga harus dirawat dengan baik sampai kamp penuh dengan murid klan yang terluka.
Shi Yang dipesankan oleh Mei Liena—yang diculik Qiong Lin—untuk merawat luka di tubuh Xie Wang dan Su Liu'er dengan baik. Meski hanya luka ringan, tetap tidak ada yang ringan bagi mereka—anggota klan—dalam cedera pondasi klan mereka.
Xie Wang di dalam tenda klan tampak murung memandangi tanah di bawah kakinya sambil menopang dagu. Su Liu'er yang datang bersama Shi Yang pun menghela napas.
Sejak perang pertama berakhir, Xie Wang terus murung memikirkan Xie Ruo. Ketika mereka mengetahui bahwa Xie Ruo telah melahirkan, mereka sangat terkejut. Perasaan baru saja mereka mendengar kabar bahwa Xie Ruo tengah hamil. Sayangnya, mereka tidak bisa bertemu cicit mereka karena berada dalam medan perang. Xie Ruo juga banyak urusan sehingga tidak bisa menginap sebentar di kamp klan.
Itulah yang membuat Xie Wang muram berat. Ia sangat merindukan cucunya, tapi cucunya pergi setelah perang berakhir dan mengatakan banyak hal rumit padanya. Tidak ada ungkapan rindu atau sejenisnya, ia sampai ragu apa ia diakui cucunya sendiri atau tidak.
"Sudahlah, tidak perlu mencemaskannya, Ruoruo akan baik-baik saja di luar sana. Kau lihat, kan? Kekuatannya bahkan melampauimu." Su Liu'er bicara dengan nada geli.
Hal itu membuat Xie Wang semakin murung. "Dia tidak membutuhkanku lagi." Pria itu mendengus, kemudian memasang wajah sedih.
Su Liu'er jadi merasa bersalah. "Ruoruo masih membutuhkanmu, kau saja yang berpikir berlebihan. Buktinya, dia mempercayakan pengaturan perang padamu sepenuhnya. Ruoruo membutuhkanmu sebagai orang yang paling dipercayai."
"Apa begitu?" Xie Wang ingat wajah datar dan dingin Xie Ruo ketika mereka bertemu. Ia bahkan takut.
"Sudahlah, tidak perlu kekanakan seperti ini. Kau seharusnya malu di depan Yangyang yang jauh lebih pengertian darimu." Su Liu'er mendengus kesal. Shi Yang di sebelahnya hanya diam tanpa berkata apa pun.
Xie Wang melihat Shi Yang, kemudian menghela napas. "Liena memintamu merawatku?"
Shi Yang mengangguk pelan, kemudian tersenyum. "Sebenarnya, Guru yang meminta Nona Mei. Tapi Nona Mei ada urusan sehingga membiarkanku mengurusnya."
Xie Wang mengangguk pasrah. Di dalam hatinya merasa sangat senang cucu kesayangannya masih perhatian.
"Lakukanlah dengan cepat, aku harus mengadakan pertemuan." Xie Wang berpura-pura enggan demi melindungi wajahnya.
Hal itu diketahui oleh Su Liu'er dan Shi Yang sendiri. Mereka hanya diam-diam tertawa sebelum akhirnya Shi Yang mengobati pria tua kekanakan itu dibantu oleh Su Liu'er.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Shi Yang telah menyelesaikan perawatan dan membiarkan Xie Wang mengadakan pertemuan dengan para petinggi klan. Su Liu'er tentu ikut bersama Xie Wang, sedangkan Shi Yang bersama Xiao Bai memantau keadaan di luar kamp.
Meski tidak bisa melihat, persepsinya sangat luas jangkauannya dan setajam harimau putih di sisinya. Kondisi medan perang masih sama buruknya, serta masih ada beberapa prajurit yang masih membersihkan medan dari iblis yang tersisa.
Dalam perang ini, mereka tidak boleh kalah, karena ini juga menyangkut keberlangsungan hidup ras manusia.
Ketika tengah memperhatikan sekitar, suasana sunyi dan sepi mengganggu Shi Yang dan Xiao Bai sekaligus. Shi Yang tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi firasat buruk terus menghantuinya.
Setelah lama hening, tiba-tiba Xiao Bai menunjukkan pergerakan aneh dan gelisah. Bau darah yang sangat terasa pekat mulai muncul disertai hembusan angin yang menerpa wajah Shi Yang.
Xiao Bai menarik-narik Shi Yang seolah mengisyaratkannya sesuatu. Shi Yang tidak mengerti maksudnya sehingga Xiao Bai merasa gemas dan membawa gadis itu ke punggungnya begitu saja.
"Hei!" Shi Yang terkejut. Ia merasa tubuhnya terjungkal dan jatuh ke sesuatu yang hangat dan berbulu.
Xiao Bai berlari dengan kecepatan tinggi. Shi Yang duduk dan berpegangan dengan erat agar tidak terjungkal. Bau darah yang semula terasa jauh kini semakin pekat dan menyengat. Seolah darah itu bukan hanya milik satu atau dua orang, tapi ratusan orang seperti yang ada pada medan perang.
Awalnya Shi Yang pikir itu adalah bau darah dari medan perang, tapi rupanya itu berasal dari kamp Klan Xie.
Xiao Bai berhenti dalam kondisi waspada, sedangkan Shi Yang segera turun dari punggungnya dan menginjakkan kaki di tanah yang basah akan cairan merah. Kakinya menyentuh sebuah benda berbulu, kemudian ia menunduk dan menyentuhnya.
Itu adalah seekor hewan yang mati. Tapi satu hal yang membuat Shi Yang bingung, jumlahnya terlalu banyak dan berada di dekat klan, atau lebih tepatnya depan kamp Klan Xie. Ini aneh ....
"Sudah selesai? Aku harap kau tidak mengganggu seperti mereka."
Suara tersebut mengalihkan perhatiannya. Suara pria yang acuh tak acuh dan terkesan datar penuh ancaman. Shi Yang waspada ketika merasakan aura berbahaya yang pekat di sekitar pria itu. Suara pria itu ... sepertinya ia mengenalinya.
Xiao Bai di sebelahnya yang awalnya menggerak, kini menciut bersembunyi di belakang Shi Yang yang bingung. Setelah mencaritahu lebih dalam menggunakan persepsinya untuk menggambarkan sosok pria yang kemungkinan membuat kekacauan ini, tinjunya terkepal erat setelah mengetahuinya.
Di dunia ini, hanya ada beberapa yang memiliki kekuatan tinggi melebihi gurunya. Suara itu mirip suami gurunya, yakni Kaisar Langit. Tapi auranya penuh dengan aura iblis yang kental hingga membuatnya takut. Jika seperti itu, maka hanya Kaisar Iblis seorang yang bisa menyamai kekuatan dan aura tersebut.
Benar, dia adalah Kaisar Iblis!
Shi Yang menelusuri lebih lanjut mengenai apa saja yang mengalami nasib yang sama seperti hewan di dekatnya. Ketika ia mencaritahu, Kaisar Iblis sama sekali tidak menghentikan, melainkan menonton rasa cemas itu seperti melihat pertunjukan.
Wajah Shi Yang semakin pucat. Semua darah itu milik hewan suci yang selama ini menjaga Klan Xie dalam bayangan!
"Apa yang kau lakukan?" Shi Yang sangat ketakutan dan gelisah, tapi ia tidak bisa mundur. Ia harus mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kaisar Iblis menggedikkan bahu. "Lihat saja sendiri," katanya dengan enteng, kemudian teringat sesuatu. "Oh, aku lupa, kau tidak bisa melihat. Jadi, rasakan saja sendiri."
Xiao Bai melesat ke arah kamp begitu Kaisar Iblis berkata demikian. Shi Yang mengikut dengan perasaan kacau, ia harap tidak terjadi sesuatu yang besar di dalam sana.
Tapi pemikiran itu berhenti sampai ia tiba di kamp. Tempat yang seharusnya tenang dan penuh semangat kini berubah dalam satu waktu. Ia hanya meninggalkan kamp sebentar untuk tugas, tapi tiba-tiba saja klan sudah berubah total.
Darah di mana-mana, mayat di mana-mana. Percikan api pertempuran membara begitu besar disertai sihir pekat yang menyambar dari berbagai arah. Ia dapat merasakan banyaknya kematian seseorang yang seharusnya kembali ke keluarga mereka dengan selamat.
Tinju Shi Yang terkepal erat. Xiao Bai mengaum dengan keras mengeluarkan ledakan spiritual yang meluncur seperti meteor ke arah sosok wanita yang menyerang Xie Wang habis-habisan. Bahkan Su Liu'er sudah cedera.
Wanita itu teralih, menangkis serangan Xiao Bai dan mengembalikannya ke arah harimau putih itu. Shi Yang dengan sigap menahan serangan yang berbalik sampai serangan itu meledak tepat di depannya. Shi Yang termundur, sedangkan wanita asing itu hanya menampilkan senyum dingin.
"Yangyang, bawa Liu'er pergi!" Xie Wang berteriak dengan keras. Wanita peri yang menjadi lawannya kini sangat kuat, ia bahkan tidak bisa menahan kekuatannya terlalu lama. Su Liu'er sudah cedera dan pingsan, ia harus melindunginya dengan menahan wanita peri itu untuk mengulur waktu.
Shi Yang berteleportasi ke arah Su Liu'er yang pingsan, kemudian memapahnya untuk berdiri. Ia diam dan terarah pada Xie Wang dengan ragu.
"Cepat!" teriak Xie Wang untuk kesekian kalinya.
Shi Yang bingung. Ia ingin membantu, tapi Su Liu'ee juga membutuhkan pertolongan. Andai saja gurunya ada di sini, atau Mei Liena tidak dibawa oleh wanita ular itu, apa semua akan baik-baik saja?
"Berisik," decak wanita peri itu, kemudian menghunuskan pedangnya ke arah Shi Yang.
Xie Wang dan Xiao Bai dengan cepat berlari ke arahnya untuk menolong. Tepat ketika bilah pedang itu akan mendarat di tubuh Shi Yang, wujudnya langsung menghilang bersama Su Liu'er. Mereka lenyap di depan mata wanita peri itu hingga membuatnya sangat kesal.
Pada saat yang sama, Xie Wang sampai dan menebaskan tombak besarnya dengan cepat. Reaksi wanita itu sangat baik sehingga mudah menghindarinya, ditambah serangan Xiao Bai yang ia tahan dan mengayunkan pedangnya menyayat tubuh harimau putih itu.
Xiao Bai termundur, namun tidak menurunkan niat membunuhnya untuk menghancurkan wanita sialan yang melukai tuannya.
"Pada akhirnya kita bertarung bersama lagi." Xie Wang tersenyum penuh arti pada Xiao Bai. Ia merasa seperti bernostalgia. "Aku menantikan ini sejak lama."
Melihat lawannya yang jauh lebih kuat, Xie Wang hanya bisa mencoba mengulur waktu untuk Shi Yang dan Su Liu'er pergi sejauh mungkin dan menemukan Xie Ruo. Ia akan bertarung dengan nyawanya.
"Xiao Bai, kau bisa bantu aku, untuk terakhir kali?" Xie Wang melihat ke arah Xiao Bai dengan tatapan penuh arti.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Xie Ruo!"
Xie Ruo terbangun dari lamunannya. Ia melihat Zhou Kui datang padanya dengan senyum gembira. Jika bukan karena ide cemerlang Xie Ruo yang merekomendasikan senjata-senjata bagus untuknya dan pasukan, ia takut perang ini akan menghasilkan hasil sebaliknya.
Xie Ruo menghela napas melihat pria itu menghampiri. Ia memijit kening, kemudian menutup buku militer yang benar-benar membuat kepalanya pusing. Ia melihat Zhou Kui dengan senyumannya yang lebar, kemudian mendengus.
"Apa?"
"Aku dengar Liena pergi ke perkemahan ras ular, apa itu benar?"
"Kau lihat saja sendiri." Xie Ruo menjawab dengan malas.
"Ada apa denganmu?" Zhou Kui melihat, sepertinya Xie Ruo dalam suasana hati buruk.
"Aku curiga, ada sesuatu yang direncanakan Dewa Iblis. Kemunduran iblis sama sekali bukan rencanaku, itu hanya akan membuat pihak kita meregangkan kewaspadaan."
"Lalu, kau berniat melanjutkan perang sekarang juga?"
"Sudah terlambat. Lebih baik memantau pergerakan Dewa Iblis, lihat apa yang dia rencanakan. Aku sudah mengirim satan untuk pergi ke istana, dia akan segera kembali memberi laporan sebelum aku memutuskan apa yang harus dilakukan."
Zhou Kui mengangguk setuju. "Kau tidak tinggal di kamp Klan Xie?"
Xie Ruo diam untuk beberapa saat. "Aku takut ...."
Ini pertama kali Zhou Kui mendengar kalimat itu. Meski tidak tahu apa yang ditakuti Xie Ruo, ia tidak menanyakan lebih jauh.
Dilihat dari raut Xie Ruo, wanita itu sedang sangat murung membuat Zhou Kui tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin menghibur wanita itu, tapi situasi perang saat ini tidak tepat untuk membuat lelucon atau sesuatu yang menyenangkan.
"Tidak perlu dipikirkan. Ingatlah, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk." Zhou Kui mencoba mencairkan suasana hati Xie Ruo menjadi lebih tenang.
"Kau tahu, aku bahkan tidak bisa mengetahui siapa saja yang mati dalam peperangan. Terlalu banyak, rasanya seperti aku akan terhanyut ke dalamnya." Xie Ruo menghela napas. Ia melihat Zhou Kui yang terdiam, kemudian mendengus. "Kau tidak akan mengerti."
Zhou Kui tersenyum kecut. Ia bukan si jenius Pei Xi yang selalu peka terhadap perasaan Xie Ruo. Sayangnya, pria itu sedang sibuk dengan sekte.
Ia melihat sosok yang hadir tiba-tiba di belakang Xie Ruo. Melihat tatapan itu, seolah mengusirnya. Zhou Kui hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian berpamitan pergi.
"Aku teringat ada satu hal yang harus diurus, aku pergi dahulu!" Zhou Kui langsung berlari pergi begitu saja, tidak peduli bagaimana Xie Ruo hendak memanggilnya.
Xie Ruo mendecih kesal. Sebelumnya Zhong Xiaorong dan Yan Yao menemuinya, tapi mereka berdua sudah pergi karena harus mengurus kekaisaran. Kemudian Liu Chang juga berkunjung, tapi pria itu pergi setelah dipanggil Dekan Bai secara langsung. Pei Xi? Baru saja dia berpamitan untuk mengatur pasukan setelah membicarakan militer. Sekarang, Zhou Kui pergi tanpa alasan yang jelas.
"Dasar!" Xie Ruo mendengus kesal. Ia ditinggal sendirian, tidak ada yang mau menghiburnya yang sedang suram ini.
Ia tidak sadar, semua perkataannya hanya tentang perang yang menyebabkan semua temannya dipaksa sibuk dengan perang.
Ia membuka buku lain untuk menghabiskan waktu, tapi tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang membuat Xie Ruo sedikit tersentak. Sekarang ia kesal karena terus dikejutkan oleh orang yang sama setiap saat. Siapa lagi kalau bukan Qu Xuanzi? Yang datang dan pergi tiba-tiba itu.
Sayangnya, Xie Ruo tidak bisa menunjukkan kekesalannya karena pikirannya dipenuhi emosi yang tercampur aduk hingga tidak fokus. Ia bahkan tidak tahu suasana hatinya sendiri bagaimana. Itu sebabnya, ia terus membicarakan perang dan perang setiap saat untuk mengalihkan semua emosi itu.
"Emosi itu mempengaruhimu?" Qu Xuanzi sepertinya telah mengetahui apa dialami Xie Ruo.
Xie Ruo mengangguk pelan dalam keadaan murung. Ia senang ada yang mengerti kondisinya sekarang.
Qu Xuanzi melihat wajah Xie Ruo yang murung, kemudian menutup sebagian kekuatan psikis untuk menutup kemampuan pembaca emosi untuk sementara dengan sihirnya. Ia tidak bisa menutup sepenuhnya karena sudah berkaitan dengan keilahian dewi utama.
"Untuk sementara kamu bisa tenang." Qu Xuanzi tahu persis kondisi Xie Ruo. Pengaruh emosi negatif medan perang untuk seseorang yang baru menerima kekuatan psikis terlalu berat.
Tidak seharusnya Xie Ruo ada di medan perang dan menghadapi emosi negatif yang mempengaruhi pikirannya. Itu dapat mengubah kepribadian dan menutup kesadarannya, sepenuhnya dikendalikan emosi negatif yang dapat membahayakan semua orang. Apalagi kekuatan Xie Ruo cukup membunuh ribuan pasukan bila digunakan sepenuhnya, terlalu berbahaya bila emosi negatif mengendalikannya.
Bila di situasi lain, Xie Ruo mungkin bisa tenang dan bebas. Tapi situasi saat ini, ia masih merasa tertekan dan gelisah. Meski beban pikirannya berkurang dan emosi yang tidak lagi meneror, tetap saja ia merasa cemas.
"Aku merindukan nenek dan kakek." Entah bagaimana tiba-tiba terpikirkan mengenai mereka.
"Ingin berkunjung?"
Xie Ruo menggeleng. "Aku takut ... kehadiranku akan membuat mereka dalam bahaya."
"Mereka justru akan aman dalam perlindunganmu."
Xie Ruo menggeleng pelan. "Seharusnya mereka tidak ikut perang. Terlalu banyak orang yang mati. Aku ingat apa yang dirasakan mereka—yang mati."
"Mereka mati untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Itu adalah pilihan."
"Pilihan, ya ...." Xie Ruo tahu itu pilihan, sebenarnya ia tidak terlalu memikirkannya, tapi itu sebelum ia membaca semua emosi para korban di medan perang. Ia jadi ragu, apa pilihannya saat ini salah atau benar?
Qu Xuanzi duduk di sebelah Xie Ruo dan mendekapnya dengan hangat. Dulu Xie Ruo sama sekali tidak peduli pada siapa pun karena tidak bisa membaca dan ikut merasakan emosi mereka. Tapi ketika kemampuan itu ada padanya, Xie Ruo menjadi tidak terbiasa dan sering kali tersesat. Meski Xie Ruo telah menarik kemampuannya itu, ia tetap bisa merasakan sebagian emosi yang paling kuat. Sayangnya, itu hanya bisa dilewati oleh Xie Ruo sendiri.
"Apa pun yang terjadi, kau harus bertahan. Aku akan melindungimu."
"Aku tahu," balas Xie Ruo, memeluk Qu Xuanzi dengan erat. "Jika aku tak terkendali, kau harus mengingatkanku."
Qu Xuanzi diam untuk beberapa saat, kemudian mengangguk pelan. "Baik. Aku pastikan kamu baik-baik saja."
Xie Ruo tersenyum. Meski pikirannya bercabang, setidaknya ia sudah menemukan ketenangan dalam batinnya dan bersandar dengan seseorang yang tepat. Ia tidak akan sendiri, bagaimana pun takdir berjalan.
----------------
Prediksiku berdasarkan ouline cerita, bulan ini TEGWIN akan tamat, horeeee 🎉
Kira-kira endingnya akan seperti apa?
Penasaran?
Ikutin terus ceritanya sampai akhir, yaaa~
Cerita ini akan ada spin off (gajadi sekuel karena beberapa alasan), jadi buat kalian yang nggak mau ketinggalan, ayo follow supaya dapat notifikasi spin off dari TEGWIN!
BTW, aku lagi UTS dan bentar lagi UAS, jadi mungkin akan upload agak lama, belum lagi review bab, wkwk.
Dah lah, belum belajar aku (biasaa sukanya pake sistem kebut semalam)
Yang semangat menjalani hari! Jangan lupa olahraga, makan teratur, dan tetap produktif 💪
Sampai jumpa besook~