
Kekacauan yang terjadi di Dunia Atas, menyebabkan pukulan besar dan luka besar yang sulit disembuhkan. Tidak tahu bagaimana reaksi Dewa Iblis mengetahui kematian Dewi Cahaya, segalanya berakhir dalam cahaya yang terlalap oleh kegelapan.
Kegelapan memenuhi dunia, menyesatkan semua orang dalam lubang kematian.
Pengelihatan dari dunia memori berakhir disertai kegelapan yang melahap dunia. Semua memori itu terpantul dalam iris biru cerah yang memandang ilusi di depannya yang berakhir. Ia kembali ke tempat di mana seharusnya berada, Perpustakaan Langit.
Xie Ruo nyaris tidak bisa berkata-kata. Hanya ia yang bisa melihat apa yang diperlihatkan memori dunia, baik Roh Guntur ataupun Xiao Caihong di sisinya tidak bisa.
Mengambil dalam sudut pandang Shu Xin, semua itu juga bukan sepenuhnya salah Shu Xin. Ia menjadi seperti itu karena tekanan psikologis yang terlalu membuatnya gila sampai memilih mengambil jalan bertahan hidup yang lain. Memang benar, kekuatan adalah cara bertahan hidup terampuh. Jika Xie Ruo menjadi Shu Xin, ia juga akan mengambil langkah yang sama.
Shu Xin adalah Xie Ran, Xie Ran adalah Shu Xin atau Dewi Cahaya. Sekarang Xie Ruo paham mengatakan Xie Ran memaksa untuk tidak pergi dari tubuhnya. Meski Xie Ran atau Shu Xin memiliki hubungan dengan Dewa Iblis, ia juga terobsesi pada posisi Permaisuri Langit.
"Kau tahu, seharusnya aku tidak melihat semua itu. Benar, 'kan?" Xie Ruo berbalik, melihat Qu Xuanzi yang ternyata ada di belakangnya.
Bahkan Xiao Caihong terkejut akan kehadiran Qu Xuanzi yang begitu tiba-tiba. Ia langsung duduk manis di bahu Xie Ruo sambil menggulung tubuhnya untuk merebahkan diri.
Xie Ruo berkata dengan khawatir, "Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak ada yang terjadi padaku." Qu Xuanzi tersenyum, mengusap rambut Xie Ruo dengan kasih sayang. "Apa pun yang kamu lihat, itu semua sudah berlalu."
Xie Ruo tetap mengerutkan keningnya dan pergi ke sisi lain untuk duduk. Ia menyilangkan kaki sambil berkata, "Dewa Iblis belum mati, bagaimana bisa baik-baik saja?"
Qu Xuanzi terkekeh sambil berjalan ke arah Xie Ruo. "Memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Ruoruo. Tapi selama ada kamu, aku akan baik-baik saja." Ia berjongkok di depan Xe Ruo, lalu menangkupkan kedua tangannya.
"Benarkah?" Xie Ruo ragu. Entah bagaimana, ia terpikirkan sesuatu. Ia menyentuh perut ratanya, kemudian berkata, "Bahkan jiwa Dewi Air menyakitimu. Bagaimana dengan mereka yang meneruskan garis darahmu? Apa kau ... kesakitan?"
Qu Xuanzi menggeleng. "Selama ada kamu, aku baik-baik saja. Kau adalah penyelamatku."
Xie Ruo semakin mengerutkan kening. "Kenapa begitu?"
"Ketika di Shuiyang, aku baru tahu bahwa energi murni dapat menekan aktivasi racun. Sebenarnya, ini bukan racun, tapi kutukan. Itu sebabnya energi murni dapat menekannya untuk sementara."
"Ada apa di Shuiyang? Aku ingat ... kita di sana 10 tahun yang lalu."
"Dewa Iblis memiliki cara untuk mengaktifkan racun menjadi agresif. Dia memberi itu pada Di Yushi untuk berjaga-jaga. Siapa sangka, orang itu malah menggunakannya untuk coba-coba dan diberikan pada wanita yang mengganggumu."
"Li Ningzhi? Dia?" Xie Ruo nyaris tidak percaya wanita bodoh itu bisa memiliki barang penting yang dapat membunuh Qu Xuanzi kapan saja. Ia ingat, wanita genit itu bersikeras mengintili Qu Xuanzi seperti semut melihat gula.
"Sudah tidak ada padanya, mungkin hilang atau kembali pada Di Yushi." Qu Xuanzi tidak lagi peduli, toh, Di Yushi sudah mati.
Xie Ruo akhirnya paham mengapa tiba-tiba Qu Xuanzi menghilang dan menyendiri begitu lama. Bukan hanya marah karena Xie Ruo pergi ke rumah bordil untuk bertemu 'pria tampan', tapi juga mengalami masalah pribadi yang sulit dijelaskan. (Bab 80-83)
"Kalau begitu, benar tidak ada masalah?" Xie Ruo memastikan.
Qu Xuanzi mengangguk cepat. Terlihat sangat jujur membuat Xie Ruo gemas ingin mencubitnya.
Tapi perhatian mereka teralih ketika sebuah bayangan melintas di sekitar altar. Roh Guntur yang diabaikan kembali melompat-lompat seolah ingin memberitahu sesuatu.
"Nyonya!" Bola bulu itu terus melompat, lalu berguling ke arah Xie Ruo dan menduduki kepalanya sambil melihat ke arah altar.
Cahaya di atas altar kembali terbentuk, membentuh sesosok bayangan wanita yang yang tampak transparan seperti hantu. Matanya abu-abu, tampak tidak hidup namun berdiri dengan kokoh menatap Xie Ruo dengan senyuman samar.
Xie Ruo dan Qu Xuanzi berdiri, berjalan ke arah sosok itu. Xie Ruo pikir wanita transparan yang akan menghilang kapan saja itu adalah sebuah jiwa dari seorang dewi. Tapi kenapa ada di sini?
Melihat keberadaan Qu Xuanzi, wanita transparan itu membungkuk. "Yang Mulia." Suaranya juga terdengar transparan, arau terawang seperti dalam gua.
"Siapa dia?" Xie Ruo berbisik ke arah Qu Xuanzi. Ia tidak ingat memiliki indera keenam sampai bisa melihat hantu yang melayang seperti itu. Kakinya tidak menginjak tanah, atau bisa disebut tidak punya kaki karena hanya gaunnya saja yang terlihat menggantung.
"Dewi Memori," jawab Qu Xuanzi.
"Memori ada dewinya juga?" Xie Ruo terperangah. Ia baru tahu hal itu.
"Aku adalah Dewi Memori. Memang tidak terkenal, karena aku tinggal dalam bayangan sebagai pengamat tanpa ikut campur." Suaranya yang terawang terdengar agak seram, tapi juga lembut bersamaan. "Kali ini, kedatanganku untuk memberi Istri Kaisar Langit sesuatu."
Cahaya abu-abu muncul dari jari-jari Dewi Memori, membentuk sebuah kelereng kecil yang melayang di udara, pergi ke hadapan Xie Ruo.
"Dunia Memori telah memilihmu untuk menjadi penerus setelah kematianku. Saat ini, aku adalah sisa kesadaran yang akan membimbingmu untuk menerima keilahian," tururnya.
Xie Ruo terkejut sampai ia mundur beberapa langkah. Apa ia tidak salah dengar? Apa boleh menerima keilahian lain selagi ia sudah menjadi penerus Dewa Naga? Kehidupan ini sungguh lelucon!
"Seharusnya kau sudah tahu posisiku." Ia tidak bisa menerima dua keilahian sekaligus. Bagaimanapun, ia masih manusia dan memiliki batasan dalam tubuhnya.
"Itu bukan masalah, keilahian memori tidak bertolak belakang dengan energi lain. Keliahian memori berdasarkan kekuatan psikis atau pikiran, sedangkan keilahian naga adalah kekuatan fisik dan sihir, hal itu saling melengkapi. Kamu telah melihat memori dunia begitu detail, itu artinya kau telah dipilih oleh Dunia Memori untuk memiliki Dunia Memori sepenuhnya."
"Dunia Memori ... kekuatan psikis ...." Xie Ruo memiliki ekspresi rumit saat ini. Kekuatan psikis adalah kekuatan yang ia butuhkan untuk saat ini.
Karena kehamilannya yang bermasalah, ia membutuhkan kekuatan psikis untuk mengendalikan kekuatan jiwanya secara maksimal. Itu juga berfungsi untuk mengendalikan racun dingin agar efeknya dapat berubah. Racun dingin tidak dapat disembuhkan dengan mudah, satu-satunya cara untuk menekannya adalah dengan mengubah racun dingin itu menjadi diri sendiri.
Ia melirik Qu Xuanzi, meminta pendapatnya.
Qu Xuanzi paham kebimbangan Xie Ruo dan membantunya menjelaskan, "Menerima dua kekuatan ilahi sekaligus sangat beresiko akan benturan dua energi yang bertolak belakang, tapi keilahian memori berbeda. Jadi, dua pilihan yang diambil tidak akan memiliki efek samping."
Xie Ruo mengangguk paham. Karena semua pilihan ada di tangannya, ia hanya bisa memutuskan apa yang terbaik. Dunia Memori memilihnya, Dewa Naga juga memilihnya karena hanya ia satu-satunya penerus. Ia hanya memiliki pilihan untuk menerima atau membuang.
Karena ia butuh kekuatan psikis yang kuat, dengan ragu Xie Ruo meraih kelereng kecil yang bersinar itu. Tapi sebelum benar-benar mengambil benda kecil itu, ia diam untuk beberapa saat.
Pandangannya menatap Dewi Memori dengan penuh pertanyaan. "Kenapa Dunia Memori memilihku? Kau penyendiri, tidak peduli dengan urusan dunia, sedangkan aku berbeda."
"Karena Dunia Memori tidak hanya melihat apa yang kau pikirkan saat ini, tapi juga masa lalu dan masa depan."
"Dia tahu masa depanku?"
Dewi Memori tersenyum. "Ya."
Bahkan tidak ragu mengatakan 'ya'. Xie Ruo tidak habis pikir. Itu membuatnya sangat penasaran apa yang akan terjadi kedepannya.
"Kamu akan tahu setelah menerima keilahian." Dewi Memori seolah membaca pikirannya.
"Aku bisa melihat masa depanku sendiri?" Xie Ruo nyaris tidak percaya. Bukankah itu adalah pantangan terbesar?
"Kau akan melihatnya sebagai hadiah. Itu juga jawaban atas pertanyaanmu barusan, alasan mengapa kau terpilih."
Apa semudah itu? Xie Ruo tidak yakin, tapi ia bisa saja mencoba. Toh, Qu Xuanzi juga tidak memperingati apa pun, justru mendukungnya. Pada akhirnya, Xie Ruo kembali mengangkat tangannya menerima keilahian.
Berbeda dari keilahian naga, keliahian memori terasa samar dan langsung mengalir ke dalam pikirannya. Ia menutup mata selagi kelereng cahaya di tangannya mulai menyerap masuk, mengukir simbol waktu di antara alisnya yang bersinar.
Menutup mata, Xie Ruo melihat sebuah pintu dengan cahaya abu-abu yang menyala. Pintu itu terbuka, menunjukkan dunia lain yang jauh berbeda dari dunia yang ia kenal.
Di dalam sana, hanya ada cahaya. Ia seolah berdiri di udara, atau bisa disebut melayang selagi pintu di belakangnya menghilang setelah masuk.
Dunia yang penuh dengan cahaya kekosongan, jauh berbeda dari dunia kesadarannya sendiri yang gelap gulita.
"Ini adalah dunia memori yang baru terbentuk di dalam kesadaranmu. Kamu bisa berlatih di sini untuk meningkatkan kekuatan psikis. Tidak ada perbedaan waktu antara dunia memori dan dunia luar, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal lain." Dewi Memori tiba-tiba muncul di depan Xie Ruo. Wujudnya masih dalam bentuk bayangan, namun lebih hidup.
"Ketika memasuki Dunia Memori, wujudmu akan berubah, tanda bahwa kamu dapat menggunakan keilahian. Sama seperti ketika menggunakan kekuatan naga, kamu harus kembali ke wujud asli untuk menggunakannya."
Xie Ruo mengedarkan pandangan, kemudian menemukan sebuah kolam yang begitu saja muncul. Kolam itu bukan sepenuhnya kolam, lebih seperti lantai berair, bahkan Xie Ruo tidak tenggelam ketika menginjaknya. Ia benar-benar ada di dunia fantasi.
Satu hal yang membuat Xie Ruo terperangah, ketika melihat pantulan di dalam air, ia melihat wanita beriris abu-abu yang terlihat aneh. Itu bukan Dewi Memori melainkan dirinya!
Meski penampilannya tidak berbeda, hanya saja matanya berubah drastis.
"Kau bisa menggunakan dunia memori sesuai keinginan. Semakin kuat kekuatan psikis, dunia memori akan berkembang dan membentuk segala hal yang kau inginkan, kecuali makhluk hidup."
"Mataku ...."
"Itu adalah wujud sementara untuk menggunakan kekuatan psikis. Kau harus memahami kekuatanmu sendiri, baru bisa menggunakannya. Aku tidak bisa membantu, kau yang melakukannya sendiri untuk menguji seberapa banyak kau memahami keilahian memori. Itu adalah ujian, untuk mendapat kualifikasi menjadi Dewi Memori."
"Hanya itu?"
Dewi Memori tersenyum, membuat perasaan Xie Ruo tidak enak. Wanita itu berkata, "Kau akan mengetahuinya sendiri. Aku tidak bisa berlama-lama lagi untuk memandu, sisanya kuserahkan padamu."
Dewi Memori menghilang begitu saja, menjadi butiran abu yang terbang. Xie Ruo ingin menghentikannya, tapi Dewi Memori sudah menghilang terlebih dahulu membuat Xie Ruo pusing sendiri.
Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya keluar dari sini? Apa kekuatannya?
Terlalu banyak pertanyaan sampai Xie Ruo merasa bahwa ia memilih keputusan yang salah. Ia tidak merasakan perubahan apa pun dalam tubuhnya, hanya ada rasa bingung sampai mondar-mandir seperti orang bodoh.
Masalahnya, ia tidak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan psikis. Meski sudah ditanamkan di pikirannya, tetap saja tidak tahu kegunaannya. Kenapa Dewi Memori sangat pelit!
Xie Ruo menghela napas untuk menenangkan diri. Ia terlalu panik sampai melupakan bahwa ia hanya perlu memahami kekuatan psikis secara sederhana.
Ia duduk dalam posisi lotus, kemudian menutup mata. Ia mencoba mengalirkan energi seperti biasa, kemudian mengaturnya untuk berkumpul di dantian.
Beberapa waktu dilalui, sialnya ia masih tidak bisa menemukan kekuatan psikis yang dimaksud.
Ini akan sulit, Xie Ruo memilih membuka mata dan kembali ke kenyataan agar tidak mengkhawatirkan Qu Xuanzi. Karena ini hanya dunia memori yang ada dalam dunia kesadarannya, ia pikir akan mudah keluar seperti ketika di dunia kesadaran.
Ia menutup mata, lalu membiarkan jiwanya berjalan dengan sendirinya untuk keluar dari dunia memori. Namun begitu membuka mata, ia melihat dunia lain yang jauh berbeda dari harapan.
Xie Ruo tidak tahu di mana tepatnya ia berada, tapi ia yakin bahwa ia masih ada di sekitar dunia memori. Seperti ketika melihat memori dunia dalam altar, hal ini sangat persis terjadi demikian.
Hanya saja, tempat ini bukan Dunia Atas, melainkan Dunia Tengah.
Ia sedikit berkeliling untuk mengenali di mana ia berada. Pepohonan di sekitar yang berjarak beberapa meter menunjukkan bahwa ia ada di tepi hutan, tepatnya jalan setapak yang entah menuju kemana. Xie Ruo hanya berjalan tanpa arah, sambil memikirkan hal apa yang sedang ditunjukkan Dunia Memori.
Di tengah berkeliling, ia melihat sosok wanita berpakaian putih tengah berdiri di ujung tebing. Rambut peraknya terkibar angin, dengan punggung lurus yang membelakanginya.
Xie Ruo memperhatikan, sampai akhirnya wanita itu menoleh. Wajah wanita itu tampak terkejut. Bukan hanya wanita itu, Xie Ruo jug terkejut.
Mata abu-abu yang penuh dengan kesepian dan rambut perak panjang tanpa dikuncir, pakaiannya polos tanpa hiasan disertai wajah pucat seperti hantu. Ia lebih terlihat seperti jiwa, hanya saja ... kenapa wajahnya mirip dengan Xie Ruo?
"Siapa kau?" tanya wanita itu. Ia memasang sikap waspada, sebelum akhirnya sebuah pedang muncul di tangannya penuh dengan aura pembunuh.
Xie Ruo sendiri bingung. Ia sama sekali tidak waspada, melainkan linglung untuk sesaat. Ketika ia memikirkannya lagi, ia paham, bahwa ia ada di masa depan. Dewi Memori menjanjikannya untuk melihat masa depannya sendiri, ini adalah masa depan yang tidak tahu kapan tepatnya terjadi.
"Kenapa kita sama?" Wanita itu bertanya lagi.
"Ada apa denganmu?" Xie Ruo bertanya. Kenapa dirinya di masa depan merupakan sebuah jiwa? Ia dapat merasakan, kekuatannya jauh lebih kuat dan penuh dengan aura membunuh yang lebih kental dari biasanya.
Wanita itu menyipitkan mata melihat Xie Ruo. Ia tampak berpikir sejenak, kemudian raut penuh permusuhan itu berubah. Ia pun menaikkan sebelah alis dan menyimpan kembali pedangnya.
"Ternyata itu kau." Ia tampak mengenali Xie Ruo, kemudian tertawa hampa. "Kau datang untuk melihat, tapi tidak bisa mengubah."
"Apa maksudmu?"
'Xie Ruo' di masa depan melihat Xie Ruo dengan datar. Auranya jauh berbeda dari Xie Ruo yang saat ini sehingga nyaris tidak dikenali. "Sudah ribuan tahun, pada akhirnya aku menjadi bayangan tak dikenali. Tidak bisa dilihat, tidak bisa diraih. Kau mengerti maksudku?"
Xie Ruo memandangnya tanpa ekspresi apa pun, mengerti apa maksud perkataannya. "Kau sudah mati?"
Wanita itu berbalik melihat apa yang terjadi di bawah tebing. "Bisa dibilang ya, juga bisa dibilang tidak. Sebagai Dewi Memori, aku hanya bisa diam mengamati dari kejauhan. Tapi sebagai Dewi Naga, aku menjadi bayangan yang bergerak seperti hantu. Aku sendiri tidak tahu apa aku hidup atau tidak. Hanya waktu yang bisa menjawab."
"Di mana Qu Xuanzi?" tanya Xie Ruo.
"Di sana ... tapi tidak bisa bertemu." Tampak ada kesedihan di matanya, namun wajah datarnya menutupi semua kesedihan itu.
"Bagaimana dengan anak kami?" Xie Ruo bertanya lagi.
"Menjalani hidup sendiri. Aku tidak berharap mereka menemukanku, juga tidak berharap Qu Xuanzi melihatku."
"Kenapa?"
Wanita itu menoleh ke arah Xie Ruo. "Aku butuh waktu." Ia pun tersenyum. "Tidak ada penyesalan, kau juga akan memilih jalan yang sama suatu saat. Jangan berpikir untuk mengubah apa pun karena inilah yang terbaik. Ini adalah keinginan, juga harapan."
Xie Ruo tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya di masa depan, tapi ia bisa menebak satu hal, ia akan mati. Ia tidak tahu apa bisa mengubahnya atau tidak, tapi dirinya di masa depan tidak menyesali apa pun. Ini akan menjadi ujian yang rumit.
"Kau sudah mengetahui apa yang ingin kau ketahui." Wanita itu kembali mengalihkan pandangan dalam diam. "Kembalilah, dia menunggumu."
Xie Ruo mundur beberapa langkah untuk pergi. Tidak ada lagi yang perlu ia ketahui. Sudah ia duga, segalanya tidak akan baik-baik saja. Dewi Memori ditakdirkan hidup sendiri, seharusnya ia tidak mengetahui semua ini.
Xie Ruo melakukan hal yang sama seperti sebelumnya untuk kembali. Ketika membuka mata, ia sudah berada di tempat sebelumnya, perpustakaan.
Ia berbalik, melihat Qu Xuanzi yang masih setia menunggunya. Mengingat apa yang ia lihat barusan, tiba-tiba Xie Ruo merasa emosional. Apa benar ia akan mati?
Dewi Memori sudah tidak ada, perpustakaan menjadi kosong. Xie Ruo memeluk Qu Xuanzi begitu saja, merasa apa yang ia lihat barusan membuatnya takut. Tidak seharusnya ia setuju untuk melihat masa depannya sendiri. Ia membenci itu.
"Terjadi masalah?" Qu Xuanzi tidak tahu apa yang terjadi pada Xie Ruo hingga merasa cemas tanpa alasan. Apa Dewi Memori menindasnya? Tapi dengan sifat Xie Ruo, itu tidak mungkin.
Xie Ruo menggeleng pelan, kemudian melepas pelukan. "Aku hanya ... merasa sedikit emosional karena melihat masa depan." Xie Ruo tidak ingin memberitahu apa yang ia lihat, tapi ia tidak bisa membohongi Qu Xuanzi. Oleh karena itu, ia langsung mengubah topik. "Dewi Memori mengatakan, aku harus melatih kekuatan psikisku sendiri tanpa bantuannya, ini akan rumit. Kedepannya, aku akan sibuk."
"Tidak perlu keras pada diri sendiri, aku akan membantumu."
"Kau bisa?"
"Hanya kekuatan psikis." Qu Xuanzi pikir itu tidak rumit. Meski kekuatan psikis Dewi Memori jauh lebih kuat dari yang biasa ia ketahui, tapi pada dasarnya tidak beda jauh.
Tapi ....
Mungkin akan berbeda dengan pendapat Xie Ruo secara pribadi yang membenci hal rumit.
Jika kekuatan psikis semudah itu, semua orang tidak perlu repot-repot saling curiga dan menyelesaikan kasus begitu rumit sampai kepala ingin pecah.
Tidak ada yang 'mudah' di dunia ini.