The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
14. Mimpi Buruk (2)



"Sang Ran, dengarkan Ayah!" Sang Yu, Ayah Sang Ran yang juga bekerja di organisasi yang pernah Sang Ran tempati.


Red Room, itulah nama organisasi raksasa yang menampung banyak agen rahasia. Sang Yu bekerja sebagai pimpinan para assassin yang berlatih dan mengatur segala tugas mereka. Sedangkan istrinya, Jane Austen, adalah orang Jerman yang bekerja sebagai informan internasional.


Awalnya segalanya terasa baik-baik saja. Sampai pemilik Red Room mengatakan pada Sang Yu dan Jane bahwa mereka harus membawa putri mereka yang diadopsi untuk kembali ke Red Room esok hari.


Itu memicu perdebatan antara keduanya yang mengakibatkan Sang Ran mengetahui segalanya bahwa mereka bukan orang tua kandungnya, sekaligus dia dibesarkan untuk dijadikan pembunuh.


Sekarang melihat Sang Ran merajuk dan mengunci pintu seharian membuat pasangan itu bingung setengah mati.


Sang Yu mengetuk pintu Sang Ran berkali-kali tapi gadis itu tidak merespon. Begitu pula Jane dan itu terus bergantian. Bahkan Sang Ran tidak mau makan.


"Ranran sayang, dengarkan penjelasan Ibu. Semua demi kebaikanmu." Jane berkata untuk sekian kalinya. Hari sudah sore dan Sang Ran masih belum keluar membuatnya cemas.


Sang Ran atau Xie Ran masih diam dalam kamar. Dia tidak bisa membenci orang tuanya dan hanya bisa membenci diri sendiri karena terkena ilusi yang membuat ingatan ini harus kembali. Dia tidak suka ini. Apanya yang mimpi buruk? Ini terlalu menjengkelkan!


Sang Yu dan Jane hampir pasrah bersamaan. Jika putri angkat mereka sudah marah, itu akan sulit dipulihkan jika sumber kemarahannya tidak disingkirkan. Tapi sumber kemarahan kali ini benar-benar tidak bisa dianggap enteng.


Jika mereka mengabaikan perintah atasan mereka, pemilik Red Room akan mengutus assassin untuk membantai mereka. Itu yang membuat mereka bingung setengah mati dan tidak tahu harus bagaimana. Kuncinya ada pada Sang Ran.


"Ranran tidak menginginkannya, kita harus mencari anak lain yang lebih berpotensi," ujar Jane. Dia juga tidak rela membiarkan Sang Ran mengikuti jejaknya sebagai pembunuh.


Meskipun pekerjaannya adalah informan, itu adalah hasil dari pekerjaannya di masa lalu di mana tangannya penuh dengan darah dan kehancuran.


"Red Room akan segera mengetahuinya," total Sang Yu.


"Tapi kita tidak memiliki solusi lain. Aku juga tidak ingin Ranran mengikuti jejakku! Aku ingin dia hidup normal." Jane bersikeras. Dia tidak ingin masa depan Sang Ran terikat pada Red Room yang kejam. Sang Ran tidak akan kuat berdasarkan mental. Dia juga takut jika terjadi sesuatu pada Sang Ran.


"Tidak akan terjadi sesuatu." Sang Yu meyakinkan. Dia tahu persis bakat Sang Ran. Dapat memanah dengan akurat di umur 5 tahun sudah cukup membuktikan potensinya. Bahkan bela dirinya juga bisa diakui di umur 7 tahun. Tidak akan terjadi masalah.


Jane mengusap wajah frustrasi dan memeriksa ponselnya. Notifikasi terus memperingatinya untuk membawa Sang Ran besok pagi di Hangzhou. Mau tidak mau, Sang Ran harus pergi.


Xie Ran menatap dirinya sendiri di cermin beberapa lama. Meskipun dia sudah melampiaskan segala emosi dengan makanan, hatinya tetap tidak tenang.


Dia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum berada di Red Room. Tapi dia sama sekali tidak mengingatnya. Dia tahu pekerjaan Jane dan Sang Yu karena pernah sesekali bertemu mereka ketika dalam misi. Namun, saat itu Sang Ran terlalu sibuk dan hanya melihat mereka dari jauh. Terakhir bertemu di misi terakhir. Dia juga hanya tahu tentang pangkat mereka di Red Room saat itu dan tidak tahu kalau mereka adalah orang tua asuhnya. Satu lagi, kematian mereka ....


Xie Ran mengacak-acak rambutnya frustrasi. Bagaimana dia bisa kembali ke masa lalu? Bagaimana dia bisa ada di tempat ini ketika dalam masa genting? Dia tidak mau kembali!


Dia terus menggumamkan hal yang sama bahwa dia ingin kembali menjadi Xie Ran. Dia tidak ingin melihat sesuatu yang tidak ingin dia lihat. Dia tahu bahwa ini bukan hal baik. Sehari sebelum kepergiannya ke Red Room harus memiliki sebuah insiden seperti anggota lainnya.


Tepat ketika memikirkannya, dia merasa segalanya berubah menjadi cerah. Kamarnya bertebar menjadi abu menampakkan langit biru cerah di pagi hari.


Xie Ran berdiri di aspal abu-abu dan angin berhembus menebarkan rambut cokelatnya. Jauh ratusan meter di depan, terdapat pemandangan perkotaan.


"Hangzhou ...." Xie Ran masih berusaha mengingat dengan perasaan gelisah.


"Ranran!" panggil seseorang dari belakang Xie Ran. Sang Yu datang dan berjongkok menyamakan tingginya dengan Xie Ran.


"Ayah, apa aku akan pergi?" Xie Ran merasa sedih. Kenapa dia harus berpisah tanpa persiapan?


Sang Yu mengusap kepala putrinya dengan kelembutan. Dia juga tidak tega, tapi dia harus melakukannya. Jika saja Sang Ran dapat digantikan, dia sudah melakukannya sejak awal.


Setelah beberapa lama terdiam, Sang Yu akhirnya bicara, "Namamu akan menjadi Isabella."


"Kenapa namaku Isabella?"


"Sang Ran hanyalah nama sementara yang mengikuti namaku. Kamu adalah Isabella."


Xie Ran menggeleng cepat. "Aku tidak suka. Ranran tidak mau menjadi Isabella." Dia jelas tentang nama itu. Nama masa depannya yang tersebar luas sebagai penjahat dunia. Xie Ran membencinya.


"Kamu harus," tegas Sang Yu.


Xie Ran tidak berkata apapun lagi. Dia membungkam mulutnya sendiri kemudian memandang Jane yang sedang bicara dengan beberapa orang. Entah apa yang mereka bicarakan.


"Kita akan bertemu lagi," kata Sang Yu menepuk kepala putrinya dan berdiri.


Ada beberapa pesawat jet dan helikopter di sini. Beberapa orang mulai berdatangan hendak membawa Sang Ran kecil memasuki salah satu jet.


Xie Ran menoleh kembali ke arah Jane yang menangis sedangkan Sang Yu menariknya ke helikopter. Xie Ran mengepalkan tinjunya, dia tidak menyangka di kehidupan ini memiliki orang yang dia sayangi. Tapi dia harus melupakan mereka sebelum datang.


Isabella ....


Dia membenci nama itu!


Memperhatikan beberapa alat dalam jet serta sebuah kotak berisi cairan merah yang terbuka. Itu diambil dan dibawakan ke arah Xie Ran.


Serum pencuci saraf!


Xie Ran tahu itu. Tiap kali dia membawa anak lain dan berharap anak itu akan menjadi kuat sepertinya, mereka disuntikkan cairan yang diketahui akan membuat anak itu setia pada Red Room serta kehilangan semua kenangan dan perasaan.


Hanya Sang Ran yang tidak terlalu terpengaruh suntikan selain kehilangan ingatan, namun tidak ada yang mengetahuinya. Itu sebabnya dia sering mengalami depresi sendirian.


Mendadak Xie Ran kehilangan kendali. Dia mengambil pisau lipat dari saku salah seorang petugas dan dengan cekatan menendang beberapa petugas yang membawanya.


Xie Ran tidak dipegangi sebelumnya, itu sebabnya dia bisa bergerak bebas dan menikam beberapa petugas di sisinya dengan pisau lipat.


Kericuhan itu membuat pandangan Jane dan Sang Yu teralih. Mereka ingin pergi ke arah putri mereka tapi dihalangi petugas lain dan membiarkan orang-orang itu menangani Sang Ran.


Xie Ran tidak tahu menggapai tubuhnya sulit dikendalikan. Apa ini benar ingatannya? Dia yang melakukan ini semua di masa lalu?


Tangannya penuh darah. Tubuhnya bergetar dan itu sampai pada Xie Ran. Perasaan itu bukan miliknya, itu ingatan. Dia sangat takut dan mengacungkan pisau ke orang-orang yang mulai menodongkan pistol.


"Berhenti!" tegas Xie Ran.


Xie Ran hanya melihat para petugas yang menodongkan pistol. Dia tidak tahu bahwa yang dia todong dengan pisau adalah pria yang baru saja membawanya ke dalam Dunia Liontin.


Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Xie Ran, tapi dia tahu bahwa Xie Ran terpengaruh ilusi. Entah masa lalu apa yang membuatnya takut seperti ini.


Ketika melihat Xie Ran menempelkan pisau ke lehernya sendiri, pria itu menahan lengannya. Xie Ran tampak kesal dan mencoba melepas pegangan.


Karena kecerobohannya, pisau lipat itu menggores tangannya sendiri hingga membuat Xie Ran terkejut dan melepas pisau lipat.


Darah keluar dari lengannya, dia meringis kesakitan dan menatap para petugas yang ingin menangkapnya dengan tajam.


Beberapa petugas mulai maju akan menangkapnya lagi. Kekuatan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan Xie Ran yang masih kecil. Itu sebabnya Xie Ran tidak berdaya.


Xie Ran terus mundur menjauhi mereka. Semakin menjauh dengan langkah gemetar hingga akhirnya sampai di ujung tebing.


Dataran yang mereka tempati untuk meletakkan beberapa pesawat dan heli adalah dataran tinggi. Angin berhembus kencang mengibarkan rambut panjang Xie Ran yang tergerai seolah dia akan melayang bersama angin.


Xie Ran merasa dia tidak melakukan apapun, itu secara alami bergerak ke belakang dan berhenti ketika tubuhnya terhuyung hendak jatuh ke bawah. Dia semakin gemetar dan menggigit bibirnya dengan keras.


"Berhentilah dan turuti atau kami akan menembakmu!" Salah satu petugas mengancam dengan pistol di tangannya dan menembakkan peluru ke arah tanah dekat Xie Ran. Tentu Sang Ran kecil semakin takut dan gemetar tapi dia juga tidak memiliki keberanian melangkah ke depan.


Para petugas semakin geram dengan anak keras kepala ini. Mereka telah banyak membawa anak keras kepala, tapi semua merasa takut ketika di todong senjata dan diancam. Hanya satu ini yang paling keras kepala.


Merasa gadis kecil itu tidak memiliki pilihan lain dan akan menyerah, salah satu dari mereka segera maju diam-diam dan menancapkan suntikan tepat pada leher Sang Ran.


Xie Ran terkejut. Tubuhnya secara spontan menendang petugas itu tepat pada bagian terlemahnya dengan keras dan menarik suntikan yang menempel di lehernya. Dia merasa pandangannya kabur.


Beberapa petugas segera mengambil tindakan mendekatinya, tapi sebelum mereka meraih gadis kecil itu, tubuh gadis kecil itu sudah melayang ke bawah tebing dengan pandangan kabur.


Mereka tidak mengejar, hanya melihat dari atas seolah yang jatuh adalah barang tidak berguna. Hanya anak kecil, itu tidak terlalu berharga bagi mereka sehingga tidak ada yang mengambil inisiatif menyelamatkannya.


Lagipula jika gadis itu tetap keras kepala, mereka juga akan menembaknya. Sedangkan Jane sudah ingin memberontak di sana tapi helikopter terbang lebih dahulu tepat ketika Sang Ran jatuh.


Xie Ran tidak tahu apa yang dipikirkannya ketika masih kecil. Betapa konyolnya ini! Menjatuhkan diri ketika semua orang mengepungnya. Itu menjatuhkan harga dirinya!


Tapi dia sendiri tidak bisa mengendalikan tubuhnya dengan benar. Dia hanya menatap langit biru dengan pandangan kabur sedangkan tubuhnya jatuh ke ketinggian ratusan meter.


Tepat setelah berpikir bahwa dia akan mati dengan bodoh, seseorang muncul mengikutinya dari atas. Apa ada orang bodoh lain yang ikut jatuh? Bukankah konyol?


Dia pasti berhalusinasi. Orang-orang Red Room tidak sebodoh itu menjatuhkan diri ketika sedang misi. Dia sendiri bunuh diri ketika senjang.


Pandangan Xie Ran sudah redup dan gelap ketika seorang pria menangkapnya. Xie Ran telah menjatuhkan diri dari ujung pulau Dunia Liontin, siapa yang tidak akan khawatir?


Pria yang bertampang dingin itu menangkap Xie Ran dengan cepat ketika jatuh bebas ke bawah. Dia sebelumnya telah melihat apa yang Xie Ran lihat, dia tentu tahu apa langkah selanjutnya yang akan diambil gadis konyol ini dan akan menangkapnya sebelum jatuh. Namun Xie Ran jatuh lebih cepat.


Pria itu tidak memiliki pilihan lain selain terjun ke bawah untuk menyelamatkannya. Dia bisa terbang, sehingga tidak khawatir akan jatuh ke dunia hampa liontin.


Ketika menangkap gadis konyol itu, tubuhnya berhenti jatuh dan melayang di udara. Dia melambung ke atas tanpa banyak berpikir atau memperhatikan Xie Ran yang sudah pingsan. Dia hanya tahu bahwa dia harus menyelamatkan gadis konyol ini. Bagaimanapun, Xie Ran terkena ilusi mimpi buruk karenanya.


Ketika sampai di pulau, ia meletakkan Xie Ran di atas tanah dengan lembut agar tidak menyakitinya. Xie Ran masih tidak sadar, tapi keringat dingin membasahinya dan dia masih terlihat takut. Tubuhnya bergetar dan meremas telapak tangan pria itu dengan perasaan gelisah dan takut.


Pria itu mengerutkan kening. Berapa banyak mimpi buruk yang dialami Xie Ran? Dia harus mengeluarkan Xie Ran dari sihir agar tidak terus terjebak di sana. Meski kekuatan mentalnya tinggi, Xie Ran tidak akan bisa membedakan mana asli atau palsu jika mimpi buruknya berlanjut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wilayah Xie Ran penuh dengan darah. Bau darah memenuhi hidungnya serta tubuh sampai wajahnya berlumuran darah. Dia sudah seperti iblis yang keluar dari tumpukan mayat.


Mayat berserakan di bawah kakinya. Mayat para rekan seperjuangannya yang memiliki nasib tragis dan kalah olehnya.


Atasan mereka membagi beberapa kelompok untuk saling bertarung. Tidak ada yang namanya kawan, semuanya adalah lawan. Mereka bertarung dalam satu ruangan bersamaan dalam satu kelompok.


Setiap kelompok memiliki ruangan berbeda dan akan berlatih bersama, namun mereka juga harus saling bertarung serempak untuk menentukan siapa yang terkuat. Sekarang, hanya Sang Ran atau dikenal sebagai Isabella di Red Room yang tersisa.


Pandangan Isabella yang awalnya penuh niat membunuh menjadi melunak. Melihat tangannya berlumuran darah manusia, dia tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya bergetar dipenuhi rasa takut dan bersalah.


"Maaf ...." Sang Ran yang umurnya baru 12 tahun nyaris menangis. Melihat semua temannya mati di tangannya sendiri, dia merasa sangat bersalah.


Ia melepas jaketnya yang dipenuhi darah mengungkap tank top yang ia kenakan. Mengelap tangannya yang penuh darah dengan perasaan campur aduk. Dia keluar dari ruangan sebagai orang pertama yang keluar dari total sepuluh ruangan.


Suara tepuk tangan terdengar dari arah lorong. Sosok pria jakung yang terlihat berumur 40-an dan memiliki wajah tampan khas orang Asia-Eropa. Dia adalah Guru Sang Ran, Jing Lanshi atau biasa dipanggil Petter di Red Room.


"Bagus, kamu melakukannya dengan baik, Bella." Dia tidak pelit dalam hal memuji. Dia selalu menyukai pekerjaan Isabella yang sempurna.


Melihat gadis itu hanya diam dan terlihat gelisah, Jing Lanshi menepuk bahunya menenangkan. Ini kali pertama Isabella bertarung melawan sekelompok anggota Red Room dalam satu ruangan. Biasanya Isabella hanya berlatih selama beberapa tahun dan bertanding dengan Jing Lanshi untuk menunjukkan kekuatannya. Ini kali pertamanya diuji sungguhan.


Jing Lanshi tentu tahu apa yang dipikirkan Isabella. Dia sangat mengenal temperamen gadis kecil ini selama beberapa tahun terakhir. "Jangan merasa bersalah. Jika bukan kau yang membunuh, maka kau yang terbunuh."


"Aku tahu." Isabella tetap tanpa ekspresi. Pandangannya kosong dan tubuhnya yang bergetar tidak menutupi rasa takutnya meski dia tidak memiliki ekspresi.


"Dengarkan aku baik-baik," ujar Jing Lanshi memutar tubuh Isabella ke hadapannya. "Tidak ada teman di dunia ini. Pada suatu hari, mungkin kau akan membunuhku. Kau adalah Isabella, takdirmu ditentukan Red Room apa kau akan hidup atau tidak. Jika ingin hidup, kau harus menyingkirkan penghalang hidupmu. Ini prinsip."


Isabella hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Orang bisa melihat seberapa dingin matanya yang penuh dengan aura pembunuh, namun di mata Jing Lanshi, gadis itu hanya gadis yang rapuh.


Setelah kepergian Jing Lanshi, Isabella seolah kehilangan semangatnya dan jatuh ke lantai. Melihat tubuhnya berlumuran darah membuatnya sangat ingin membersihkan itu semua.


Dia pergi ke kamar dengan cepat dan mengunci pintu. Membuang jaketnya dan mencuci tangannya dengan bersih berkali-kali. Walau sudah bersih dan seputih salju, dia tetap mencucinya dengan kasar seolah masih memiliki bekas darah di tangannya.


Merasakan kehadiran seseorang, Isabella berbalik dengan cepat melihat sosok pria asing di depannya menatapnya datar. Gadis kecil itu mulai berpikir bahwa itu adalah petugas yang terus memaksanya berlatih.


"Bella akan berlatih, tidak akan malas! Aku hanya sedang membersihkan diri." Isabella segera mengambil alasan dan pergi mengambil pakaian hitamnya yang lain dengan cepat. Langkahnya terus bergerak dengan cepat keluar-masuk ruangan membiarkan pria itu memperhatikannya.


"Tidak perlu dipaksakan." Suara pria itu sedingin es membuat langkah Isabella terhenti secara alami dan menatapnya.


"Tidak bisa!" Isabella menegaskan dengan tajam dan pergi ke kamar mandi mengabaikan pria itu. Dia tidak mengenalnya, namun merasa tidak asing. Mungkin dia pernah melihatnya di pelatihan sebelumnya. Entahlah.


Ia pergi mandi. Mengurung diri dalam kamar mandi dan membiarkan tubuhnya tetap di dalam bak mandi yang penuh busa putih.


Jika dia masih melihat air yang memiliki bekas darah, dia akan membuangnya dan menggantinya dengan yang baru. Setelah itu, dia tidak berani keluar dari bak mandi. Dia terlalu takut.


Isabella atau Xie Ran saat itu masih kecil dan naif. Dia takut melihat darah di tubuhnya. Dia takut mencium bau amis darah jauh dalam lubuk hatinya. Meski dari luar tampak kejam tak berperasaan, itu hanya topeng agar terlihat kuat. Hatinya jauh lebih lemah sampai dia terus mengutuk diri sendiri.


Mimpi buruk ini ....


Xie Ran tidak ingin berada di sini!


Ini semua adalah kenangan lamanya yang menyedihkan.


Melihat banyak anak kecil menangis ditinggal keluarga yang telah dibunuh olehnya. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika dia ada di posisi anak itu, tapi dia tidak bisa memikirkannya.


Pandangannya terus berganti. Dia merasa rentang waktu lebih cepat dan dia telah dewasa. Tubuhnya menjadi tinggi dan ramping. Rambut kemerahannya berkibar panjang tertiup angin akibat helikopter.


Tempat ini ....


Manchester ....


Isabella mendengar beberapa langkah berat di belakang. Ada banyak orang menyerangnya dengan senjata api di tangan. Itu diarahkan ke Isabella dan pelatuk ditekan.


Peluru-peluru kecil yang panas keluar berturut-turut dari beberapa senapan diarahkan padanya. Ia berlari dengan cepat selagi peluru-peluru itu menembaki jejak kakinya di belakang dan melompat menendang tangki minyak dengan keras.


Isabella mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan tangki minyak yang berputar ke arah orang-orang itu. Tubuhnya masih melayang di udara dan akan jatuh selagi menekan pistol dan menembakkan peluru tepat ke arah tangki minyak.


Ledakan disertai api berkobar. Isabella berguling di tanah dan memasuki pintu masuk dengan cepat serta berlindung di baliknya. Api terus melalap membuat pintu besi di belakang Isabella memanas.


Ia segera melangkah ke bawah tangga di depan pintu dengan pistol di tangannya. Menembaki beberapa orang yang menghalanginya dengan dua pistol di tangannya.


Langkahnya tenang dan wajahnya tanpa ekspresi, pikirannya dipenuhi dengan segala macam cara menghabisi musuh dan kehilangan kemanusiaannya.


Sampai di sebuah ruangan, dia menemukan beberapa orang di dalamnya. Tiga pria berjas melindungi lima wanita termasuk anak-anak yang terlihat takut di belakang. Tiga pria itu juga menggunakan pistol untuk mengancam Isabella.


"Jangan mendekat!" Salah satu pria yang terlihat berumur 60-an menodongkan pistol dengan tangan bergetar.