The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
198. Dewi Cahaya (3)



Permaisuri Langit menjatuhkan hukuman pada Shu Xin secara langsung atas percobaan pembunuhan yang dilakukannya. Wanita itu terikat seperti tawanan dengan dua pilar di kedua sisi. Tangan dan tubuhnya dipenuhi rantai bergerigi, menggores kulitnya sampai berlumuran darah.


Karena berada di posisi yang tidak memungkinkan untuk melarikan diri, Shu Xin sama sekali tidak bisa melawan. Ia mengakui, bahwa strateginya sudah salah di awal dengan meremehkan iblis kecil yang ia pikir hanya anak biasa. Ia melupakan fakta mengenai kelemahannya akan kegelapan.


Sekarang, ia terikat di atas altar yang dipenuhi awan mendung dan terisolasi dari dunia luar. Bersama rantai yang melilit tubuh, serta sambaran petir yang akan muncul tiap satu jam sekali selama masa tahanan.


Buruknya, Permaisuri Langit memberinya masa tahanan 10.000 tahun. Itu setara dengan kurang lebih 87 juta sambaran petir!


Permaisuri Langit melihat dari luar penjara dengan pandangan dingin. Ia biasanya terlihat lembut dan setenang air, tapi perbuatan Shu Xin membuat air yang tenang mulai menunjukkan bahayanya.


Jika Shu Xin adalah dewi biasa, pasti dia sudah habis sejak awal. Hukumannya bukanlah sambaran dan kurungan lagi, melainkan kematian!


"Perbuatanmu akan menyebabkan cahaya dalam dirimu redup, apa kau tahu itu?" Permaisuri Langit dapat melihat tanda cahaya pada Shu Xin mulai padam sedikit demi sedikit.


Cahaya adalah kekuatannya, jika ia melakukan kejahatan untuk keuntungan diri sendiri, cahayanya akan meredup dan kekuatannya akan menghilang. Begitu kekuatan menghilang, pangkatnya sebagai dewi terhapus, ia akan menghilang dari dunia.


"Bukankah kalian menginginkan ini?" Shu Xin sama sekali tidak merasa bersalah. Jika mereka semua tidak menekannya, ia tidak akan memiliki pemikiran mengerikan. Alangkah baik jika ia menjadi Wen Xi yang tetap netral dari awal sampai sekarang.


"Terlalu banyak kesalahpahaman dalam dirimu, aku harap kau bisa intropeksi diri. Tugasmu adalah menjaga cahaya, menetapkan keadilan tanpa keberpihakan, melindungi yang lemah dan membrantas kegelapan. Jika hatimu dipenuhi kegelapan, cahaya itu akan musnah."


"Lebih baik kau ucapankan hal itu untuk putrimu. Siapa yang pergi ke kegelapan mengkhianati langit, lalu meninggalkan parasit setelah kematiannya. Kau pikir, para dewa akan menerima kehadiran darah campuran?"


"Darah campuran bukan masalah, namun hatinya. Terima kasih sudah mengkhawatirkan cucuku, aku sendiri yang akan mendidik moralnya. Dewi Cahaya tidak perlu repot menasihati, aku tidak akan mengurangi hukuman sebagai bayaran dan tidak bisa membayar."


"Konsultasi berakhir?" Shu Xin mendengus. "Lalukan sesukamu, aku juga tidak ingin uangmu."


Permaisuri Langit tidak bisa memberi peringatan apa pun lagi karena kesabarannya hampir habis. Ia pergi dari penjara langit, membiarkan wanita itu merasakan obatnya sendiri.


Shu Xin melihat kedua tangannya, ia dapat merasakan cahaya dalan dirinya meredup. Jika terus seperti ini, ia bisa mati. Ia harus mencari cara agar kekuatannya tidak menghilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ribuan tahun dilalui dengan cepat bagai hanya dalam satu kedipan mata. Masa tahanan Shu Xin berakhir, tubuhnya menjadi sangat kaku dan terkapar lemah di atas altar begitu rantai dilepaskan.


Wen Xi yang sudah menunggu dilepasnya Shu Xin langsung berlari memapah temannya yang malang. Ia begitu khawatir, sampai terus berkunjung selama 10.000 tahun terakhir secara diam-diam agar Dewa Naga tidak mengetahuinya.


"Shu Xin ...." Wen Xi membawa tubuh Shu Xin dengan hati-hati untuk dibawa ke kediaman.


Kondisi Shu Xin sangat buruk. Luka internalnya sangat parah, apalagi luka eksternalnya. Pakaian putihnya penuh dengan darah merah dan lubang, penampilannya nyaris tidak dikenali sebagai Dewi Cahaya.


Shu Xin sadar dari pingsannya, melihat Wen Xi dengan sendu. "Selama 10.000 tahun ... hanya kamu yang peduli padaku ...."


"Diamlah, jangan banyak bicara dan memperburuk lukamu." Wen Xi berjalan menuruni tangga altar dengan perlahan sambil memapah Shu Xin di bahunya.


"Padahal kau akan dimarahi." Shu Xin tidak mau dengar. Ia hanya heran, kenapa Wen Xin masih saja dekat-dekat dengannya di saat semua orang memandangnya dengan rendah. Itu bisa memperburuk reputasi Wen Xi.


Wen Xi diam untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Jika kamu tidak ingin mendapat perhatian dariku, jangan membuatku khawatir. Wen Ya sudah pergi, aku hanya memilikimu."


Raut Shu Xin menjadi rumit. "Wen Ya ...."


Wen Xi tidak menjawab apa pun lagi. Ia membawa Shu Xin dengan susah payah, sambil menahan gejolak di hatinya mengingat berita yang baru saja ia dapatkan.


"Apa yang terjadi?" Shu Xin mendesaknya, namun Wen Xi mengabaikan membuatnya kesal. "Wen Xi, ada apa dengannya? Jawablah!"


Wen Xi tidak menjawab sampai mereka sampai di kediaman. Ia membantu Shu Xin duduk di atas kursi. Namun detik berikutnya, lututnya merasa lemas sampai terduduk di lantai. Ia pun menangis.


"Kamu ...." Shu Xin bingung. Ia tidak pernah mendengar berita apa pun, juga pertama kali melihat Wen Xi begitu sedih. Wen Xi sering datang untuk memberinya makan dan bercerita mengenai kunjungannya menemui Wen Ya, lalu menceritakan kondisinya setiap saat.


Tapi melihat Wen Xi yang seperti ini, sepertinya ia sudah dapat menebak apa yang terjadi. Wen Ya sudah mati.


"Kenapa? Bagaimana bisa?" Shu Xin merasa tubuhnya semakin lemas. Mereka bertiga sudah seperti saudara, apalagi Shu Xin tidak memiliki keluarga. Mendengar berita seperti itu, persis memukulnya sampai jatuh ke dasar jurang.


"Setelah melahirkan, Wen Ya tidak memberitahu bahwa dia mengalami penyimpangan energi. Energinya tidak cocok dengan energi suaminya yang merupakan naga biasa. Meski kekuatannya dihilangkan, darahnya masih memiliki darah dewa sehingga anaknya kemungkinan tidak bisa selamat. Tapi Wen Ya justru mengorbankan nyawanya ... untuk membuat anaknya tetap hidup. Itu mengikis seluruh energinya secara perlahan dan ... meracuninya ...."


Wen Xi menjelaskan sambil terisak. Itu sebabnya pernikahan antar-ras dilarang karena perbedaan energi dan dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. Ia baru mengetahui hal ini sehingga sangat menyesal tidak dapat menyelamatkan Wen Ya.


Shu Xin hanya diam mendengarkan. Jadi itu alasannya. Tapi kenapa tidak ada yang memberitahu? Jika Wen Ya diberitahu, apa dia akan tetap memilih jalan yang sama? Apa dia tetap akan mati?


Pada akhirnya, apa semua ini sepadan?


Shu Xin menenangkan Wen Xi yang terus menangis dan membiarkannya kembali ke kediaman Dewa Naga. Sebelumnya, Wen Xi telah membawakan seorang peri untuk merawat luka Shu Xin.


Setelah menyembuhkan diri sendiri selama beberapa waktu, Shu Xin akhirnya dapat kembali beraktivitas. Hanya saja, hatinya telah mati sejak lama. Selain untuk Wen Xi dan Wen Ya, baginya tidak ada yang hidup di dunia ini.


Permaisuri Langit, atau Dewi Air pasti tidak akan suka dengannya ketika kembali ke istana. Wanita itu akan menjadi penghalang pertama, apalagi sejak kejadian 10.000 tahun yang lalu.


Oleh karena itu, ia harus menyingkirkannya terlebih dahulu. Kebetulan ia membutuhkan kekuatan sebagai cadangan jika kekuatan cahaya menghilang. Ia sudah bersumpah tidak akan berhenti dan diperdaya seperti anjing peliharaan oleh anggota kekaisaran.


Permaisuri Langit tengah melukis dengan tenang. Kaisar Langit sepenuhnya mengambil alih perawatan Qu Xuanzi, ia tidak bisa ikut campur sehingga hanya bisa mengurus masalah para dewi selama bertahun-tahun. Sekarang ia sedang senggang, menghabiskan waktu dengan hobinya setelah bekerja.


Tapi tiba-tiba tangannya yang memegang kuas berhenti, merasakan kehadiran seseorang tak diundang. Ia meletakkan kuas, lalu berdiri dan berbalik untuk melihat.


"Sepertinya, Dewi Cahaya melupakan semua etika sejak keluar dari penjara langit."


Ia melihat Shu Xin yang berdiri dengan tenang sambil tersenyum ke arahnya. Melihat wanita itu, ia merasa sangat kesal.


"Yang Mulia sangat pengertian, aku cukup tersanjung." Shu Xin menyahut dengan senyuman lebar.


"Apa kamu datang untuk memberi peringatan?" Permaisuri Langit memandangnya dengan dingin. Shu Xin pasti tidak memiliki niat baik.


Shu Xin tertawa, lalu berjalan di sekitar ruangan sambil berkata, "Sudah sangat lama kita tidak bertemu, aku tentu sangan merindukan Yang Mulia. Sayangnya, sepertinya Yang Mulia tidak merindukan Shu Xin. Shu Xin sangat sedih."


"Tidak ada Kaisar Langit saat ini, aku sepenuhnya memiliki wewenang menghukummu lagi bila melakukan hal kotor untuk kedua kalinya."


Shu Xin memiringkan kepala. "Apa kau akan memberiku hukuman yang lebih buruk sampai kematianku tiba?" Ia menaikkan sebelah alis. "Lakukan saja, jika kau bisa."


Jlepp


Belum sempat Permaisuri Langit bereaksi, sesuatu yang tajam menembus dadanya dari belakang. Ia melihat Shu Xin di depan sana dengan mata melebar. Siapa yang berani menusuknya?


"Ini yang dinamakan, menusuk dari belakang." Suara Shu Xin terdengar tepat di telinganya. Entah sejak kapan, ternyata Shu Xin ada di belakangnya, menarik tikaman sampai darah mengalir bebas dari dada Permaisuri Langit.


Sosok Shu Xin yang berdiri di depan Permaisuri Langit berubah menjadi serbuk cahaya. Permaisuri Langit akhirnya paham, bahwa ia telah dijebak. Shu Xin di depannya hanya pengalihan, sedangkan yang asli ada di belakangnya.


"Bukankah terlalu mudah?" kata Shu Xin.


Permaisuri Langit dengan segera mengeluarkan kekuatannya untuk menyerang Shu Xin, namun Shu Xin dengan mudah membalikkan serangan hingga membuat Permaisuri Langit terhempas ke lantai.


"Aku lupa mengatakan, pisauku memiliki racun api. Bukankah api adalah kelemahanmu?" Shu Xin menyeringai. Ia mendekati Permaisuri Langit perlahan, lalu berjongkok, menatap mata Permaisuri Langit yang melotot padanya. "Sekarang aku tahu bagaimana perasaan Dewa Iblis ketika membunuh menantu dan putrimu."


"Kamu ... kamu bukan dewa, kamu iblis!" Permaisuri Langit mengutuk. Ia ingin bergerak, tapi Shu Xin membuatnya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa merasakan rasa sakit luar biasa yang menyebar ke jantungnya.


"Jangan salah paham, aku diciptakan dari cahaya, tentu lebih kuat darimu yang dilahirkan oleh seorang dewi. Salahmu sendiri menyinggungku. Jangan keberatan jika terpaksa meneruskan kekuatanmu padaku." Shu Xin mengarahkan tangannya ke arah Permaisuri Langit, siap mengambil kekuatan ilahinya untuk dialihkan kepemilikan.


Permaisuri Langit berteriak kesakitan tanpa daya. Suara rintihannya tidak terdengar sampai ke luar karena pembatas yang dibuat Shu Xin. Tubuhnya menjadi sangat kaku dan pucat seperti mayat selama kekuatannya ditarik secara paksa.


"Shu Xin ... kau akan mati oleh bagian dari dirimu sendiri! Kau akan menyesal!"


"Baik, aku akan menyesalinya." Shu Xin mengayunkan tangannya, mencabut nyawa Permaisuri Langit saat itu juga.


Tidak ada darah, hanya ada cahaya biru samar yang mengalir ke tubuh Shu Xin. Cahaya biru itu seolah bagian dari tubuh Permaisuri Langit yang berlahan menghilang menjadi seberkas bola cahaya.


Setelah puas akan apa yang didapatkan, Shu Xin pergi, membiarkan bola cahaya itu melayang di udara seperti bola tersesat. Hingga akhirnya seorang pelayan memasuki ruangan, lalu menyadari bahwa majikannya sudah berubah menjadi bola roh mati.


Kematian Permaisuri Langit menyebabkan keterkejutan luar biasa di Dunia Atas. Duka panjang menyertai, kertas kematian ditebar di udara.


Para dewa mengenakan pakaian putih polos sebagai bentuk berkabung, Kaisar Langit tidak terkecuali. Pemakaman Permaisuri Langit diadakan dan dihadiri oleh seluruh dewa di Dunia Atas.


Kaisar Langit mengalami pukulan keras akan kematian istrinya yang begitu tiba-tiba. Ia segera memerintahkan beberapa dewa untuk menyelidiki masalah ini sampai tuntas. Bersamaan dengan itu, ia membiarkan Qu Xuanzi keluar dari pengasingan.


Qu Xuanzi dengan penampilannya yang cukup mencolok dan berbeda dari dewa lainnya, hadir di tengah upacara pemakaman untuk pertama kali setelah sekian lama. Penampilannya menyebabkan banyak tanda tanya di kepala para dewa, karena kebanyakan dari mereka tidak pernah melihat Qu Xuanzi yang kini tumbuh sangat tinggi dan dewasa.


Beberapa dewa yang mengenalnya, mengenali dengan sebutan Asura. Julukan itu datang atas kekejamannya, betapa tiran dan mengerikan pria itu disertai dengan gelar dewanya dan prestasi yang membuat dewa mana pun memasang jarak aman.


Rumor itu menyebar begitu cepat, sampai ke telinga Shu Xin. Bersama Wen Xi, ia pergi ke pemakaman Permaisuri Langit sebagai Dewi Cahaya yang diagungi banyak orang, terlepas dari skandalnya yang mendunia.


Begitu melihat Qu Xuanzi secara langsung, Shu Xin tidak langsung mengenali dan sekilas mengagumi penampilan dan rumornya yang gila itu. Tapi begitu tahu bahwa Asura adalah cucu Kaisar Langit yang pernah ingin ia bunuh, Shu Xin merasa keputusannya di masa lalu sangat kekanakan.


Asura bahkan membunuh Hydra yang pernah menyulitkannya dan Dewa Laut. Shu Xin pernah gagal mengurung Hydra dalam segel sebelum dikurung oleh Permaisuri Langit. Siapa sangka monster genit yang pernah membuatnya jengkel setengah mati itu dicincang habis oleh satu orang?


Saat ini, sebuah pemikiran terlintas di benak Shu Xin. Daripada membiarkan pria seperti itu menjadi musuh dan mati sebelum mencapai semua mimpinya, lebih baik membuat Asura berada di pihaknya. Masalahnya, Shu Xin ragu apa Asura ingat bahwa ia pernah mengunuskan belati saat itu atau tidak.


Untuk memastikannya, Shu Xin mencoba menghampiri Asura. Jika Asura mengenalinya, itu berarti mereka ditakdirkan sebagai musuh. Jika tidak, Shu Xin memiliki kesempatan mendapat dukungan darinya untuk mencapai posisi tinggi. Hanya perlu menunggu Kaisar Langit turun tahta dan menyerahkannya ke Asura, itu masalah waktu.


Tapi ... belum sampai Shu Xin menunjukkan niatnya, para dewi lain sudah menghalanginya gila-gilaan dan mengerubungi pria itu seperti semut yang melihat gula. Shu Xin hanya bisa bersabar demi keberhasilan rencananya.


Qu Xuanzi jelas terganggu akan para wanita gila yang terang-terangan mendekatinya. Pada akhirnya, ia menyerahkan para wanita itu pada Naga Azure yang selalu mengawalnya.


Pada saat itulah, kesempatan bagi Shu Xin dimulai. Kekuatan Shu Xin jelas lebih tinggi dibandingkan dewi lain, sehingga ia melewati Naga Azure lebih mudah dari yang dibayangkan karena identitasnya yang istimewa dapat keluar-masuk istana.


Ketika sampai di tempat di mana Asura seharusnya berada, ia melihat bercak darah segar di lantai dalam jumlah yang cukup banyak. Ketika mengikuti asal bercak darah itu, ia melihat darah yang mengalir deras dari leher seorang pelayan wanita. Terlihat seperti sayatan, mengartikan bahwa pelayan itu dibunuh oleh benda tajam.


Peri itu memang terlihat seperti pelayan, namun bila dilihat lebih jelas lagi oleh mata tajam Shu Xin, pelayan itu tidak biasa. Auranya terasa seperti peri yang terlatih, serta memiliki sisa napas dewa yang belakangan ini menjadi sensasional di Dunia Atas—selain Asura. Intinya, peri ini tidak biasa. Selain itu, ada juga napas Asura.


Seseorang yang berani seenaknya membunuh di istana, orang itu benar-benar memiliki nyali.


Shu Xin mengalihkan pandangan ke sosok pria yang baru saja menggunakan sihirnya untuk membunuh seorang pelayan. Dan tebakannya benar, itu adalah Asura.


"Aku terkejut ada seseorang yang berani menumpahkan darah di istana secara terang-terangan." Shu Xin tetap tenang, memandang Qu Xuanzi dengan senyuman tipis.


Qu Xuanzi hanya melihatnya sebentar, tatapannya tetap dingin. Ia mengayunkan tangannya, dalam sekejap mayat itu menghilang disertai darah yang tersisa. Ia pun berbalik pergi mengabaikan Shu Xin.


"Tidak tahu siapa yang berani mengirim pengalih untuk membunuhmu, sepertinya kehidupanmu cukup rumit." Shu Xin telah menebak dengan benar. Peri itu dikirim seseorang untuk mengalihkan perhatian Qu Xuanzi dan membunuhnya. Trik seperti itu terlalu konyol untuk digunakan oleh iblis seperti Asura.


Qu Xuanzi mengabaikan Shu Xin dan terus berjalan menjauh. Shu Xin menghela napas, berusaha sabar, kemudian melangkah mengikuti Qu Xuanzi.


"Kau tidak bertanya kenapa aku mengetahuinya? Trik kecil seperti itu, sudah biasa terjadi di dunia ini. Tapi sayangnya, beberapa orang begitu pengecut untuk melakukan sesuatu di belakang untuk melindungi diri sendiri tanpa mau menunjukkan wajah. Jika itu aku, aku pasti akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku tidak suka pekerjaanku dicampuri tangan orang lain, apalagi jika menjadi gagal. Bukankah kau juga sama?"


Qu Xuanzi menghentikan langkah, menatap Shu Xin tanpa merubah ekspresinya. "Apa urusanmu?"


Shu Xin tersenyum tenang. "Apa kau tidak mengenalku?"


"Tidak ada waktu." Qu Xuanzi menjawab seenaknya, lalu pergi.


Shu Xin lega untuk sesaat. Asura tidak mengenalinya, itu berarti ia memiliki kesempatan. Ia mengikuti arah Qu Xuanzi pergi dan berusaha menyamakan langkah. "Kaisar Langit mengutus beberapa dewa untuk menyelidiki kematian Permaisuri Langit, hal ini akan sangat berat. Jika kau mau, aku bisa membantumu mencari penyebab kematian Permaisuri Langit. Aku memiliki banyak mata-mata, cahaya adalah areaku. Asal ada cahaya, aku bisa mengetahui apa pun."


Qu Xuanzi tetap mengabaikan. Shu Xin menghela napas, berusaha tetap sabar semaksimal mungkin.


"Kau bisa tidak mempercayaiku, itu adalah hal wajar." Shu Xin nyaris menyerah akan sikap Qu Xuanzi yang sama sekali tidak menghiraukannya.


Tiba-tiba Qu Xuanzi menghentikan langkah, membuat Shu Xin berpikir bahwa pria itu telah mempertimbangkan tawarannya.


"Keluar!"


"Apa?" Shu Xin agak bingung. Apa Asura bicara padanya? Pria itu mengusirnya begitu saja?


Ketika Shu Xin akan menjawab, sosok lain muncul membuatnya menelan kembali semua kalimat. Sosok dengan wajah poker yang tak kalah tampan, namun auranya sangat panas seperti api yang membara. Wajahnya tampannya tak tertandingi disertai aura dingin yang mengerikan.


Terlepas dari Qu Xuanzi, ia adalah pria tertampan di Dunia Atas dan menjadi idaman para wanita. Ketika mereka berdua ada di tempat yang sama, tidak ada yang bisa menilai siapa yang paling tampan di antara keduanya.


Shu Xin mengenalnya. Di Dunia Dewa, dia adalah Dewa Api, dewa yang tercipta dari api neraka terpanas. Namun di sini, dia adalah Dewa Hukum dan Dewa Perang, Huo Yuzheng.


Pria jakung itu berdiri tepat di belakang Shu Xi hingga wania itu merasa sangat pendek. Belum lagi akan keberadaan Asura yang sama tingginya dengan Huo Yuzheng. Shu Xin benar-benar terabaikan.


Huo Yuzheng sedikit membungkuk pada Qu Xuanzi, kemudian berkata, "Kaisar Langit memintamu pergi ke utara untuk melakukan sesuatu. Sebelum itu, dia ingin bertemu denganmu."


Qu Xuanzi melirik Shu Xin yang berdiam diri dengan wajah tertekan, kemudian melihat Huo Yuzheng. Dua dewa alam ada di tempat yang sama, ini benar-benar merepotkan.


Tanpa mengatakan apa pun, ia pergi ke arah yang dituju. Biarlah dua orang itu menyelesaikan masalah sendiri, tidak ada hubungan dengannya.


Setelah kepergian Qu Xuanzi, Huo Yuzheng melirik Shu Xin dengan dingin, begitu pula sebaliknya.


"Jangan berpikir untuk bersikap tidak tahu malu, api yang bergerak di dunia ini, aku tahu semua." Huo Yuzheng pergi setelahnya.


Shu Xin melihat kepergiannya, tangannya dikepalkan dengan erat. Sebenarnya, dewa kecil yang baru beberapa tahun berani mengancamnya?


Jangan hanya karena tubuhnya lebih besar, bisa memperingatinya mengenai api yang ia gunakan untuk membunuh Permaisuri Langit. Ia juga diciptakan dari alam, tidak takut dengan api kecil seperti itu!


...----------------...


Ekhem ... Ngomong apa yak?


Oh, iya, sorry kalau update suka terlambat. Jadwal kuliahku dari senin sampai jumat, pagi sampai sore, belum lagi tugas yang bejibun. Sabtu, sore juga ikut kegiatan kampus, belum lagi kerja kelompok yang dadakan. Jadi suka nggak sempet bikin bab baru apalagi stok bab.


Aku kalau nulis butuh ketenangan, nggak bisa nulis sambil makan di cafetaria atau dengerin dosen ceramah apalagi ngerjain tugas. Karena nulis itu butuh waktu panjang, bisa lebih dari sejam—karena tiap bab > 2000 kata—bisa juga seharian bikin satu bab—khususnya scene battle.


Satu lagi, tugas rumah jagain duo bocil tk biang kerok penyebab diomelin ibu negara tiap hari (ini aja ngetik sambil bikin susu, baru pulang kegiatan yang batal dateng)


Pengen jadi oksigen sebenernya :v


#canda


Pokoknya begitu keseharianku yang seperti lingkaran ⭕


NB : Novel sebelah juga belum upload karena alasan yang sama.


...See U Tomorow~...