
Pagi ini Xie Ruo diberi jadwal kegiatan harian melalui sebuah perkamen yang diberikan Guru Negara Ming ketika tengah sarapan pagi. Ia belum sempat makan sudah disodorin beberapa buku, gulungan, dan perkamen seperti orang kerja.
Meski Xie Ruo tidak muak dengan buku karena sudah terbiasa ketika di Menara Suci, ia merasa mengantuk ketika melihat judul buku tatakrama serta tradisi kekaisaran.
Apa-apaan itu?
Mendadak Xie Ruo tidak berselera makan.
"Bukankah aku hanya perlu belajar urusan negara?"
Guru Negara Ming tersenyum, tampak sabar menghadapi nada bicara Xie Ruo yang terdengar kesal. "Tugas permaisuri berada dalam lingkup internal kekaisaran. Jadi, kemungkinan akan berbeda dari apa yang Yang Mulia pelajari selama ini."
Xie Ruo menghela napas, kemudian melihat buku lain sambil mencoba makan dengan tenang. Tapi begitu membaca judul buku "cara menjadi istri yang baik", Xie Ruo nyaris memuntahkan makanannya. Apa ada buku semacam itu? Ia baru tahu.
"Apa aku harus belajar hal seperti ini?" Xie Ruo pikir itu tidak perlu.
"Menjadi permaisuri adalah hal penting, tentu tidak boleh bersikap sembarangan. Apalagi, suami Yang Mulia adalah seorang Kaisar."
Xie Ruo tidak ingat ia dipaksa membaca buku-buku mengesalkan seperti ini sebelum menikah. Untuk apa membaca buku yang tidak ada kaitannya dengan kultivasi untuk menyelamatkan nyawanya? Membuang waktu.
Xie Ruo tidak mau menanggapi ocehan Guru Negara Ming lagi dan melanjutkan makan. Ia baru sadar, makanannya hambar. Sangat tidak sesuai seleranya.
Tapi demi mengisi perut, ia harus makan daripada menjadi tengkorak hidup. Ia mengangkat sumpit, begitu makanan masuk ke mulutnya, rasa tidak enak kembali meneror tepat saat makanan masuk ke lehernya. Perutnya menolak makanan membuatnya mual.
Sungguh, ia tidak pernah mual seperti ini. Rasanya sangat tidak enak!
Buru-buru Xie Ruo beranjak dari kursi dan pergi. Guru Negara Ming hanya melihat dalam diam, tidak tahu mengapa tiba-tiba wanita itu pergi dengan wajah datar, namun gerakannya terburu-buru seolah sedang menghindarinya.
Wanita ini, sulit dimengerti.
Setelah cukup jauh dari pandangan Guru Negara Ming, Xie Ruo berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
Ia hanya sedikit makan makanan tidak enak itu, tapi ia merasa sangat mual dan muntah berkali-kali sampai dadanya sakit. Apa ia diracuni?
Tidak, ia tidak menemukan racun apa pun dalam makanan. Jika iya, apa racun biasa dapat mempengaruhinya? Bahkan racun tulang kering tidak berpengaruh terhadapnya.
Jadi satu-satunya alasan adalah makanan yang tidak enak. Mungkin, ia terbiasa makan camilan kering setiap saat dan makan makanan enak sepanjang waktu. Sehingga ketika menyicipi rasa hambar, ia menjadi mual.
Xie Ruo keluar dari kamar mandi, kemudian menghela napas. Beberapa pelayan berdiri di hadapannya menunggu perintah tanpa tahu apa yang terjadi.
Xie Ruo berkata, "Ganti makanannya!"
"Baik."
Para pelayan itu buru-buru mengganti makanan sesuai perintah tanpa bisa menolak. Xie Ruo kembali ke tempat sebelumnya, tapi tiba-tiba Guru Negara Ming telah mengadakan 'kelas' pertama dan mengarahkannya ke ruangan lain.
Mau tidak mau Xie Ruo harus ikut. Selama masih ada Guru Negara Ming, ia tidak bisa melakukan hal mencurigakan yang akan membuat Zhong Guofeng semakin mewaspadainya. Guru Negara Ming sudah pasti akan melaporkan tiap kegiatannya secara rinci.
Pria tua itu berceramah sepanjang hari dalam keheningan dengan buku di tangannya seperti guru yang sedang menjelaskan sebuah teori. Xie Ruo sebagai 'murid yang baik' duduk 'manis' dengan buku besar yang terbuka lebar di depan matanya. Ia mendirikan buku terbuka itu di atas meja sehingga wajahnya tertutup.
Guru Negara Ming yang melihatnya hanya bisa menghela napas. Selama bertahun-tahun mengajar, ia pernah menemukan satu atau dua murid yang melakukan hal sama seperti Xie Ruo. Terlihat serius namun sebenarnya tidur. Hal seperti itu, ia sangat tidak suka. Tapi bocah di depannya saat ini adalah Xie Ruo. Apa yang harus ia lakukan?
"Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Jika Yang Mulia ada pertanyaan, kapan pun bisa ditanyakan." Ia diam untuk beberapa saat, melihat Xie Ruo yang tidak merespon. "Kalau Yang Mulia masih bersemangat belajar, orang tua ini tidak akan melarang. Kita bisa melanjutkan kelas."
"Sudah selesai, 'kan? Aku pergi." Xie Ruo secara spontan berdiri dan membereskan buku-bukunya. Masa bodo dengan pelajaran. Berjam-jam duduk membuat pinggangnya pegal, ditambah ia sangat lapar.
Setelah selesai membereskan barang, ia berjalan keluar ruangan. Sebelum itu, ia berbalik untuk sedikit membungkuk agar tidak terlalu membuat pria tua tertentu marah. Ia tidak ingin mendengar ocehan lagi hari ini.
Guru Negara Ming hanya bisa menghela napas menahan gejolak emosi. Wanita kasar seperti itu harus dididik dengan ketat. Apa semua murid Menara Suci bertindak tanpa aturan?
Xie Ruo mengabaikan betapa kesal Guru Negara Ming kepadanya. Ia membuka pintu, kemudian menemukan sosok wanita cantik yang berlarian ke arahnya dengan raut heboh.
"Ruoruo, aku salah dengar, 'kan? Kau tidak berniat membuat harem sendiri, 'kan!"
Xie Ruo mencubit pergelangan tangan Zhong Xiaorong yang berceloteh membeberkan segalanya. Zhong Xiaorong otomatis diam karena merasakan sakit, kemudian sadar akan ucapannya sendiri.
Wanita itu melirik ke arah Guru Negara Ming yang masih berdiri dengan raut tenang namun dengan suasana hati buruk. Sudah ada Xie Ruo yang membuatnya kacau, sekarang putri arogan yang pernah membakar janggutnya.
"Eh, ternyata Guru Negara ada di sini, maaf karena putri ini tidak melihat." Zhong Xiaorong dengan cepat mengubah sikap layaknya putri.
"Putri Youmei sepertinya sangat akrab dengan Yang Mulia."
"Yang Mulia adalah temanku, tentu kami sangat akrab. Guru Negara Ming, tidak masalah jika aku meminjam Yang Mulia sebentar, 'kan?"
"Kalau begitu, orang tua ini tidak akan mengganggu." Guru Negara Ming pergi setelah sedikit membungkuk.
Setelah memastikan pria tua itu telah menjauh dan hilang, barulah Zhong Xiaorong menyeret Xie Ruo ke dalam ruangan dan menutup pintu agar tidak ada yang mendengar.
"Ruoruo, jelaskan padaku! Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Zhong Xiaorong sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Xie Ruo ada di istana kaisar.
Ditambah, ketika ia mencaritahu alasannya, para pelayan mengatakan bahwa Xie Ruo adalah calon permaisuri mereka. Ini ... apa otak semua orang sedang bermasalah atau ia yang berpikir berlebihan?
Meski kedatangan Xie Ruo disembunyikan, tetap saja banyak pelayan yang bergosip menyebarkan rumor. Zhong Xiaorong dan Yan Yao bergegas ke istana, namun Yan Yao ditahan di luar tidak diperbolehkan masuk. Alhasil, hanya Zhong Xiaorong yang masuk dan menemukan Xie Ruo begitu sampai.
"Ada sangat banyak rumor di luar, mengatakan Kaisar akan menikahi murid Ratu Menara Suci. Ruoruo, tidak mungkin kau sungguh-sungguh menduakan seorang dewa dan membuat harem, 'kan!"
Xie Ruo baru tahu, wajahnya di mata teman-temannya ternyata sangat buruk. Apanya membuat harem? Apa bocah satu ini sudah tertular penyakit Mei Liena?
Xie Ruo menoyorkan dahi Zhong Xiaorong dengan gemas. Zhong Xiaorong mengaduh akan dorongan yang membuat tubuhnya nyaris terjungkal, kemudian mengusap dahinya dengan wajah cemberut.
"Kamu ya, aku belum menjelaskan rapi sudah disalahpahami. Apa aku seburuk itu? Apa kau tidak khawatir kalau ternyata aku diculik?"
Zhong Xiaorong menatapnya dengan tatapan aneh. "Memangnya kau diculik?"
Zhong Xiaorong pikir itu sangat tidak masuk akal. Xie Ruo diculik? Mungkin ia akan percaya jika yang menculik adalah Kaisar Iblis atau Dewa Iblis, tapi yang menculiknya manusia, lho!
Zhong Xiaorong terdiam.
Xie Ruo mendengus kesal. "Mungkin kau berpikir bahwa aku bisa saja pergi, tapi semua itu tidak semudah yang kau pikir. Baik diculik atau tidak, aku sengaja mengalah karena ada satu hal yang harus aku pastikan, identitas Zhong Guofeng."
"Kenapa dia?" Zhong Xiaorong penasaran.
"Ketika di menara suci, aku berduel dengan Zhong Guofeng."
"Apa!" Zhong Xiaorong terkejut. Mereka berduel? Itu pasti sesuatu yang langka, ia sangat menyesal tidak bisa melihatnya. "Siapa yang menang?"
"Jika guruku tidak datang, aku mungkin akan mati." Xie Ruo tersenyum miris.
"Kau ... tidak mungkin! Bagaimana kau bisa kalah? Kau adalah pewaris Dewa Naga, bagaimana bisa kalah dengan manusia?"
"Kecuali orang itu bukan manusia biasa, baru bisa mengalahkanku."
Zhong Xiaorong merasa bingung. Jika bukan manusia, lalu apa? Apa Zhong Guofeng menemukan harta surgawi langka dan berhasil mendapatkan kekuatan luar biasa? Meski ia tahu kekuatan Zhong Guofeng tidak biasa, ia tidak akan menduga akan sekuat itu.
Bahkan Xie Ruo yang sudah membunuh banyak iblis dan Ratu Istana Lingyue bukan lawan Zhong Guofeng. Ini memang sulit dipercaya.
"Ruoruo, aku pikir ini terlalu—"
"Tidak masuk akal? Memang, tidak ada yang masuk akal di dunia ini. Bahkan kau juga tidak masuk akal telah menuduhku selingkuh!"
Zhong Xiaorong merasa ingin menenggelamkan lehernya untuk bersembunyi. Ia terkekeh merasa malu, namun tidak ada rasa bersalah. "Itu ... bukankah kau pernah mengatakan ingin membuat harem?"
"Saat itu aku tidak peduli pada siapa pun, berpikir kenapa harus khawatir kalau aku mengoleksi pria? Jika aku melakukannya sekarang, bukankah sama saja menumbalkan seseorang ke dalam neraka?"
Zhong Xiaorong tiba-tiba menangkap sesuatu dari ucapan Xie Ruo. "Bukankah sekarang kau sama saja menumbalkan Kaisar? Kau ingin ... suamimu membunuhnya langsung?" Semakin dipikirkan, Zhong Xiaorong semakin bergidik.
"Qu Xuanzi adalah kartu chip ketika aku terdesak, aku tidak boleh terlalu mengandalkan pria. Maka dari itu, aku harus menyelesaikan segalanya sebelum dia datang. Kau tahu apa yang akan terjadi jika terlambat."
Ucapan Xie Ruo sangat santai sehingga semakin terdengar menyesakkan. Zhong Xiaorong tiba-tiba saja merasakan hawa dingin menusuk tulang sumsumnya.
Mengingat kembali ketika penyerangan di Pagoda Kaca, Zhong Xiaorong merasa lebih baik ia bersembunyi di Klan Xie untuk sementara waktu. Setidaknya, Klan Xie adalah tempat teraman dan dilindungi sekaligus.
"Maka dari itu, kau harus membantuku." Xie Ruo berkata dengan serius. Hanya Zhong Xiaorong yang memiliki banyak askes memasuki berbagai tempat di istana dan segala hal rahasia dalam istana.
Posisi Xie Ruo saat ini cukup kuat, tapi juga rentan terhadap masalah karena latar belakangnya sebagai orang asing tanpa dukungan orang dalam. Hanya Zhong Xiaorong yang bisa diandalkan. Jika Liu Chang juga bisa mengendalikan Perdana Menteri, itu adalah nilai tambah untuk dukungannya.
"Apa yang harus kulakukan?" Zhong Xiaorong tidak tahu harus apa. Apa ia harus mematai Kaisar? Bukankah sama saja cari mati?
"Bukankah kau memiliki simpanan arsip rahasia? Aku ingin arsip mengenai Zhong Guofeng secara lengkap."
"Baiklah, aku akan mengirimkannya besok pagi." Zhong Xiaorong curiga Xie Ruo menggunakan arsip tidak berguna itu untuk mencari identitas Zhong Guofeng.
Dulu ia menggunakannya untuk mencari pelaku pembunuhan ibunya, tapi arsip itu hanyalah potongan sampah yang tidak memiliki satu pun kegunaan. Tapi mungkin akan berbeda jika berada di tangan Xie Ruo.
"Ruoruo, apa kau curiga Kaisar adalah Dewa Iblis?"
Xie Ruo diam untuk beberapa saat. Meski ia agak kesal pada pria satu itu, tapi Zhong Guofeng tidak pernah melukainya. Yah, anggap saja Zhong Guofeng adalah salah satu manusia yang sulit diatur dan semaunya sampai membuat orang sangat marah, tapi ia tidak melakukan kejahatan. Entah kenapa, Xie Ruo tidak memiliki dendam padanya.
"Aku tidak tahu." Menurut Xie Ruo, Zhong Guofeng bukan Dewa Iblis. Tapi logika mengatakan bahwa itu bisa saja terjadi. Itu membuatnya bingung.
"Jika benar, apa yang harus kita lakukan?" Zhong Xiaorong juga gelisah. Dewa Iblis adalah pelopor kematian ibunya, ia tidak bisa memaafkan iblis seperti itu.
Tapi di sisi lain, Dewa Iblis sudah jelas bukan tandingannya, bahkan bukan tandingan Xie Ruo. Jika mereka mengetahui identitasnya lebih cepat sebelum Qu Xuanzi datang, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Untuk masalah ini, aku sudah memikirkannya." Sejak bicara dengan Sheng Xian, ia sudah memikirkannya. Pertanyaan itu pernah terlintas. Setelah mengetahui semuanya, apa yang bisa ia lakukan?
Tapi bukankah Xie Ruo memilik ikut andil karena tidak bisa lepas begitu saja dari masalah ini? Lebih baik melanjutkan apa yang seharusnya dilakukan daripada mundur di tengah jalan. Toh, ia tidak bisa mundur. Atau hanya akan ada kematian.
"Sebenarnya, aku sudah curiga sejak lama, tapi tidak berani mengakuinya." Zhong Xiaorong akhirnya memutuskan untuk mengatakan apa yang selama ini mengganggunya mengenai kematian ibunya.
"Kenapa?"
"Ketika ibuku pergi, tidak ada lagi yang mengungkitnya. Sampai akhirnya di Kabupaten Xia, aku memiliki kontribusi menangkap pelaku penyebaran racun dan diberi gelar. Namun kasus itu ditutup begitu saja. Aku pernah sesekali meminta pada Kaisar untuk memeriksa secara tersembunyi, tapi dia menolak."
Saat itu, ia meminta untuk menyelidiki kasus ibunya tepat ketika akan pergi ke Klan Yan dan setelah mendengar ucapan Zhong Wenyue. Tapi Zhong Guofeng menolaknya dengan dingin, mengatakan bahwa itu membuang waktu.
Sejak saat itu, komunikasi mereka benar-benar terputus. Jika bukan karena Xie Ruo, Zhong Xiaorong bahkan tidak akan menginjakkan kaki ke istana ini lagi.
Tapi saat itu Zhong Xiaorong berasumsi bahwa alasan Kaisar menolaknya karena memang terlalu membuang waktu. Ibunya bukan ibu kaisar, mana mungkin pria itu peduli. Jadi ia memendam semua itu sendiri.
"Selain itu, kakak kedua juga mengatakan bahwa ia ... akan menarik Zhong Guofeng dari posisi kaisar." Zhong Xiaorong tidak memiliki pilihan lain selain mengatakannya.
Xie Ruo sama sekali tidak terkejut. "Itu hal biasa."
"Ya, tapi jika Kaisar saat ini adalah Dewa Iblis, bukankah kakakku dalam bahaya?" Zhong Xiaorong semakin gelisah.
"Tidak akan. Aku akan memastikannya." Xie Ruo tidak bisa berjanji akan melindungi lebih banyak, tapi jika hanya satu, ia bisa.
Masalah ini akan sangat rumit, akan lebih baik jika tidak banyak yang terlibat. Ia harus meminimalisir semua orang yang terlibat.
"Malam ini, aku akan pergi ke Klan Xie." Xie Ruo sudah memutuskannya.
"Apa?"
"Kau lakukan tugasmu, aku melakukan tugasku. Tenang saja, aku biasa berjalan di malam hari dan akan kembali tepat waktu." Xie Ruo tersenyum, sangat tenang seolah ia hanya akan pergi ke rumah tetangga untuk menyapa.
Zhong Xiaorong tidak bisa memberi saran lain, tahu Xie Ruo tidak akan mendengarkan. Setelah perbincangan mereka berakhir, Zhong Xiaorong pergi untuk menyiapkan apa yang harus disiapkan. Tidak lupa juga memberitahu Yan Yao dan yang lainnya mengenai apa yang ia temukan hari ini.
Hingga malam hari tiba, saat itulah Xie Ruo melaksanakan rencana pertamanya.