
Jian Wu memasang ekspresi menyedihkan membuat Pei Xi terdiam, berpura-pura tidak mengenalinya.
"Maaf, aku tidak mengenalmu."
"Aiya, sepertinya bertahun-tahun tidak bertemu membuatmu melupakanku, ini salahku. Seharusnya aku tidak membuatmu pergi begitu jauh dan tidak kembali." Jian Wu tampak menyesal, kemudian tersenyum layaknya seorang 'kakak' yang baik.
Ia melanjutkan, "Bao Jun mengatakan segalanya padaku. Aku yang mengutusnya di akademi untuk memantaumu. Lalu, dia menjelaskan segalanya secara rinci sebelum kematiannya di tangan Asura. Xie Ran, Yan Yao, Zhou Kui, Zhong Xiaorong, Liu Chang, dan Mei Liena, tujuh peserta turnamen yang memenangkan juara pertama. Maksudku, Xie Ran memenangkan juara pertama berkat pukulannya terhadap Keluarga Ye. Aku heran, kenapa tidak kau saja yang melakukannya dibandingkan seorang gadis. Tapi ternyata, dia adalah gadis yang cukup menarik, bahkan Istana Lingyue menginginkannya."
Pei Xi menatapnya dengan tajam, penuh permusuhan. "Jika kau menyentuhnya, aku akan membunuhmu."
"Xi'er, kau adikku, aku melihatmu sejak dilahirkan, tidak mungkin kau tega membunuhku. Apa kau tidak ingat siapa yang merawatmu ketika ayah dan ibu terlalu sibuk pada sekte? Jangan katakan kau bukan seseorang yang tidak tahu hutang budi."
Pei Xi ingin membantah, tapi Jian Wu mengatakan sebenarnya. Meski ia sangat membenci Jian Wu karena telah berkhianat, bagaimanapun mereka pernah menjadi kakak-adik walau tidak sedarah. Meski begitu, ia tidak bisa membiarkan Jian Wu menyakiti Xie Ran.
"Xi'er, pertimbangkanlah. Kau menyukai seseorang yang tidak dapat diraih, itu tidak sepadan. Xie Ran ... atau apakah aku harus menyebutnya Bai Long'er di sini?"
Pei Xi tidak terkejut, ia sudah menduga Jian Wu telah mengetahui identitas Xie Ran karenanya. Jika saja ia bisa lebih berhati-hati, Xie Ran tidak akan ketahuan.
"Bai Long'er, atau Xie Ran ditakdirkan mati, meski memiliki perlindungan Asura sekalipun."
"Siapa Asura?" Pei Xi bingung. Ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya sedangkan Jian Wu telah menyebutnya sebanyak dua kali.
"Aku tidak yakin kau tidak mengenalnya ketika kalian menepuh jalan bersama. Tuan Muda Qu, Qu Xuanzi yang kalian tahu, nama lainnya adalah Asura, atau dikenal sebagai Kaisar Langit saat ini, bisa juga disebut sebagai Kaisar Iblis."
Pei Xi merasa jantungnya mengalami kejutan luar biasa. Kaisar Langit? Kaisar Iblis? Bagaimana mungkin! Apalagi dia adalah orang yang sama, seseorang yang selalu mengikuti Xie Ran. Apa Jian Wu sedang mempermainkannya?
Jian Wu menghela napas. "Sangat disayangkan, kau tidak mengetahuinya. Xie Ran tidak menganggapmu penting, jadi tidak memberitahu. Bahkan jika kau mengakui perasaanmu, kau hanya akan berakhir saat itu juga. Apa gunanya mementingkan seseorang yang akan mati? Hidupnya juga sangat pendek. Jika bukan mati karena dibunuh oleh pemburu energi murni, maka mati karena harapan hidup yang ditukar dengan kekuatan. Tidak memiliki masa depan, tidak cocok untukmu."
Lagi-lagi Pei Xi dibuat terkejut. Menukar harapan hidup dengan kekuatan? Apa itu alasan mengapa tiba-tiba Xie Ran menjadi sangat kuat ketika melawan Huai Mao? Selain pengorbanan Long Long, dia juga mengorbankan rentang hidupnya sendiri.
Memang benar, segala sesuatu memiliki bayaran. Ingin mendapat kekuatan dengan cepat, maka harus mengorbankan nyawa sendiri sebagai bayarannya. Xie Ran sudah menderita terlalu banyak.
"Terima kasih sudah memberitahuku. Tapi untuk kembali, maaf, aku tidak bisa. Meski aku tidak bisa meraihnya, dia tetaplah adikku."
"Xi'er, kau masih saja keras kepala. Apa kau lupa bagaimana ayah dan ibumu meninggal? Jika Xie Ran tetap hidup, kau tidak pernah bisa membalaskan dendammu—"
"Aku tahu yang aku lakukan. Seharusnya aku yang bertanya, ketika mereka membunuh ayah dan ibu, kau ada di mana?" Pei Xi membalikkan kalimat Jian Wu membuat wanita itu terdiam tidak bisa menjawab.
Jian Wu tidak bisa menjawab, itu sudah masuk perhitungan Pei Xi. Peri yang terlihat baik itu selalu meninggikan diri sebagai yang terbaik dan merendahkan semua orang. Semakin lama ia semakin mengerti, Jian Wu hanya memanfaatkan sekte untuk pengaruhnya sendiri terhadap orang lain. Tapi ketika sekte dalam masalah seperti ketika penyerangan iblis muncul, Jian Wu menghilang seperti ditelan bumi.
Sebelumnya Pei Xi berniat mencarinya sampai tiba di Tianshang. Sampai akhirnya sadar bahwa ia hanya membodohi diri sendiri. Sekte telah dikuasai Bao Jun ketika ia pergi sehingga harus tinggal di Tianshang dan belajar. Ia tidak berminat kembali karena hanya akan mengulang semua kenangan buruk itu.
Tapi melihat Xie Ran yang memiliki posisi hampir mirip, berniat merebut kembali rumahnya, ia mendapat motivasi dan berinisiatif mengambil kembali Sekte Bayangan Malam. Setelah kematian Bao Jun, ia cukup dipermudah meski memiliki banyak halangan. Mungkin ia bisa berterimakasih pada Asura untuk hal itu.
"Kakak Peri ... tidak, Jian Wu, Bao Jun adalah suruhanmu, juga memiliki posisi kaki tangan raja iblis. Jika saja kau tidak mengatakan bahwa Bao Jun telah memantauku untukmu, aku akan berpikir Kaisar Iblis yang mengutus Bao Jun melalui Raja Iblis untuk menghancurkan Sekte Bayangan Malam."
"Bao Jun hanyalah semut yang dengan mudah aku injak, kenapa aku tidak bisa memerintahnya hanya untuk memantaumu di Tianshang? Meski dia kaki tangan raja iblis, itu tidak ada hubungannya denganku." Jian Wu menyangkal.
"Tapi kau berada di pihak iblis, maksudku di pihak seseorang yang tidak diketahui dan mengaduk seluruh ras di tiga dunia untuk saling berperang. Kau mengkhianati ras peri, kaki tangan raja iblis mengkhianati ras iblis, beberapa pejabat kekaisaran Zhongbu mengkhianati manusia. Tidak tahu siapa yang berkhianat di antara ras naga, sedangkan ras dewa terancam punah."
Jian Wu memandang Pei Xi, ia tersenyum miring. "Jadi kau sedang menyalahkanku atas kematian orangtuamu? Salah mereka sendiri yang tidak kompeten. Mereka tidak kompeten sebagai orangtua, juga tidak kompeten sebagai penguasa. Apa yang bisa dilakukan manusia tidak berguna selain membuang-buang sumber daya? Xi'er, aku sudah mengingatkan padamu berkali-kali, tidak ada keluarga. Ibumu melahirkanmu, lalu menyerahkanmu padaku yang berstatus anak angkat. Dia berpikir, dengan bantuan seorang peri, kau bisa sedikit berguna. Ayahmu hanya tahu bagaimana mendidikmu seolah kau adalah prajuritnya, dia sama sekali bukan seorang ayah. Kau ingin membalas kematian orang seperti mereka? Apa nasihatku selama bertahun-tahun hanya dianggap sebagai lelucon olehmu?"
Pei Xi menurunkan pandangan, pandangannya menjadi redup. Ucapan Jian Wu tidak salah, mereka sama sekali tidak terlihat seperti orangtua melainkan atasan. Sedangkan Jian Wu adalah kakak yang merawatnya sejak kecil. Ia tidak bisa membenci Jian Wu seperti ia membenci orangtuanya. Tapi, apa dia harus mengabaikan banyak kematian dalam sekte?
"Xi'er, kau adalah anak baik, tidak ada orang lain yang lebih mengenalmu selain diriku. Aku salah meninggalkanmu, seharusnya saat itu aku membawamu pergi dan menjadi adik kecilku yang baik."
Pei Xi melihat Jian Wu yang mengulurkan tangannya untuk berdiri di sisinya. Ia memang tidak bisa membenci Jian Wu, tapi ia tidak suka Jian Wu mempermainkan hidup orang lain sebagai bonekanya. Ia tidak masalah menjadi boneka Jian Wu, tapi bagaimana dengan sekte dan teman-temannya?
Jika ia pergi, semua usahanya akan sia-sia. Itu sama saja ia mengkhianati teman-temannya yang selama ini selalu ada memecah kehidupannya yang suram.
Tapi di sisi lain adalah kakaknya. Meski ia tidak suka pada Jian Wu, tetap saja Jian Wu berkontribusi besar padanya. Ia bukan seseorang yang tidak tahu diri.
"Xi'er, kau tidak ingin menjadi musuhku, 'kan?" Raut Jian Wu menjadi sangat serius. Ia tidak pernah melihat Pei Xi yang ragu-ragu dan tidak pernah melatih Pei Xi yang tidak patuh padanya. Ia yang mendidiknya, atas dasar apa adik yang ia didik begitu meragukannya?
Pei Xi menatap Jian Wu untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Aku akan pergi," ucap Pei Xi membuat senyum cantik Jian Wu merekah.
Sudah ia duga, Pei Xi akan luluh jika ia telah menyentuh kelemahan fatal Pei Xi. Pei Xi hidup tanpa kasih sayang keluarga, hanya Jian Wu yang selalu ada yang membuat keuntungan sendiri bagi Jian Wu untuk menjadikan hal tersebut sebagai senjata terampuh. Kedepannya, ia bisa menggunakan Pei Xi untuk membunuh Xie Ran.
"Tapi, dengan satu syarat." Pei Xi tiba-tiba melanjutkan ucapannya membuat Jian Wu menatapnya penuh pertanyaan.
"Apa?"
Ucapan Pei Xi membuat Jian Wu tidak senang. Kenapa Pei Xi menjadi begitu keras kepala? Terakhir mereka berpisah, Pei Xi masih merupakan anak penurut yang selalu ia banggakan. Kenapa sekarang berubah? Apa lingkungan Tianshang dan teman-temannya yang membuatnya berubah?
"Akan ada saatnya kau tahu. Untuk saat ini, kau tidak perlu memikirkannya. Kau hanya tahu, 'dia' bukan seseorang yang dapat siapa pun singgung, bahkan Asura sekalipun." Jian Wu menegaskan kalimatnya.
Ia bisa membeberkan rencananya, tapi tidak membeberkan identitas 'dia' yang sangat dirahasiakan. Di tiga dunia, hanya Asura yang tahu. Jian Wu hanya tahu sekilas, tidak sepenuhnya karena itu merupakan hal sakral. Siapa pun yang mengetahuinya tidak memiliki banyak kesempatan untuk hidup.
"Oh? Seberapa hebat 'dia'?" Pei Xi bicara acuh tak acuh membuat Jian Wu tambah kesal.
"Pei Xi, sebenarnya kau ingin ikut denganku atau tidak?"
"Aku sudah mengatakannya."
Jian Wu benar-benar kesal sekarang. Bukankah itu berarti Pei Xi menolaknya? Pei Xi memang tidak menolak terang-terangan, tapi dia membuat syarat yang tidak mungkin Jian Wu lakukan sehingga sudah jelas bagaimana hasilnya.
Wanita itu tertawa merasa dipermainkan. Pei Xi benar-benar berubah karena anak-anak itu. Ia bersumpah akan mencabik-cabik anak-anak itu setelah membunuh Xie Ran!
"Bagus, kau sudah bisa membantahku." Jian Wu benar-benar menyesal. Kenapa tidak ia buang saja ketika diserahkan padanya? Ia hanya mendidik seorang pembangkang yang memilih menjadi musuhnya dibandingkan melanjutkan hidup yang sudah ia atur sedemikian rupa. Benar-benar tidak tahu diri!
"Aku tidak membantah. Aku hanya memberi satu syarat. Kau yang menolaknya." Pei Xi pergi saat itu juga ke dalam aula untuk mengambil barang yang tertinggal.
Setelah mengambil barang yang tertinggal dan keluar dari aula, ia tidak lagi menemukan Jian Wu. Wanita itu sepertinya memang sangat marah dan memutuskan untuk tetap menjadi musuh. Pei Xi juga tidak masalah.
Meski Pei Xi memiliki hutang pada Jian Wu, ia akan membayarnya segera. Jika Jian Wu ingin membunuhnya, ia tidak akan melawan. Tapi ia tidak akan membela jika suatu hari seseorang akan membunuh Jian Wu, baik Xie Ran maupun Asura.
Jian Wu memang tidak salah dalam kata-katanya, tapi ada beberapa hal yang tidak diketahuinya. Jian Wu tidak mengenal Pei Xi lebih baik. Walaupun Pei Xi sangat patuh, saat itu ia hanya tahu bergantung pada Jian Wu tanpa tahu. Setelah mengalami tantangan hidup dan mati di Hutan Bintang sampai tiba di Tianshang, ia telah menjadi Pei Xi yang berbeda.
Selama bertahun-tahun Jian Wu memanipulasi cara berpikirnya sehingga menjadi seseorang yang tak berperasaan dan tidak tahu yang mana yang benar dan salah, hanya tahu bahwa ia wajib menuruti semua perkataan Jian Wu. Sampai akhirnya ia pergi dari sekte karena serangan iblis, ia mulai belajar banyak emosi dengan cepat.
Jika ia kembali bersama Jian Wu, selain mengkhianati teman-temannya, ia hanya akan hidup dalam kehidupan neraka. Akan lebih baik jika mereka menjalani hidup masing-masing serta tidak saling mengenal daripada hidup dengan penuh kepalsuan.
Pei Xi kembali berkumpul dengan teman-temannya di kediaman khusus. Mereka semua tengah makan bersama, tampak sangat senang seolah tidak terjadi apa pun di luar sana. Ini kehidupan yang ia inginkan.
"Kakak Xi, kau telah kembali." Mei Liena langsung memanggil begitu melihat kehadiran Pei Xi.
"Eh, tebak, kejutan apa yang diberikan Ranran pada Yu Zainan yang bodoh itu?" Yan Yao langsung mengajukan pertanyaan ketika Pei Xi hendak duduk di kursi yang tersedia.
"Apa?"
Mereka semua memandang Xie Ran dengan senyum jahil, sedangkan Xie Ran memasang tampang tidak bersalah. Ia tidak melakukan kesalahan, hanya sedikit trik untuk bersenang-senang sebentar sebelum mulai bekerja.
Sebelumnya, Xie Ran telah mengirimkan 'hadiah' pertemuan untuk Yu Zainan. Kali ini sangat spesial karena hanya ada satu di dunia dengan mekanis yang berasal dari dunia modern. Tentu mereka tidak akan pernah menyangkanya.
Dalam sebuah kota yang dikirim ke kediaman Yu Zainan, terdapat sebuah bola berduri yang Xie Ran ambil langsung dari lahar. Hanya dengan sedikit trik, ia dapat membuat kotak kejutan yang menyebabkan bola duri itu meninju wajah Yu Zainan sampai hitam seperti arang.
Mereka semua melihatnya ketika Pei Xi kembali ke aula. Sangat disayangkan Pei Xi tidak melihat secara langsung pemandangan menakjubkan tersebut. Mereka masih ingat betapa hitam wajah Yu Zainan sampai bawahannya pun tidak mengenali.
Memang kekanakan, tapi itu hanya trik kecil untuk menghilangkan kebosanan akan pesta yang membuat jiwa miskin mereka berkobar. Akan lebih baik mencari hiburan sendiri.
Mereka tertawa terbahak-bahak, Xie Ran hanya tersenyum. Sebelumnya ia tertawa ketika melihat wajah Yu Zainan, tapi sekarang ia hanya tersenyum melihat teman-temannya merasa sangat puas. Hari ini tidak sepenuhnya buruk.
Pei Xi tetap tenang seperti sedia kala, melihat Xie Ran dengan perhatian. Mengingat kembali perkataan Jian Wu, ia tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya sendiri ketika mendengar bahwa Xie Ran telah kehilangan banyak hal yang sangat penting. Itu sangat berat. Umur Xie Ran tidak dapat lebih dari 30 tahun.
Sadar telah diperhatikan, Xie Ran mengalihkan pandangan. Iris birunya mendapati Pei Xi yang tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa mengatakannya.
"Apa ada sesuatu di wajahku?"
Pei Xi menggeleng. "Ranran, apa pun yang terjadi, kau tetap adikku. Aku akan melindungimu."
Xie Ran tersenyum, kemudian mengangguk. Memangnya apa lagi? Bukankah mereka bertujuh sudah seperti saudara? Ia tidak memiliki saudara, menganggap mereka saudara juga tidak buruk.
"Kenapa tiba-tiba mengatakan itu?" tanya Xie Ran.
"Aku hanya ingin kau tahu dan bisa terus bahagia."
"Aku bahagia."
Xie Ran tidak tahu kenapa Pei Xi tiba-tiba bersikap aneh. Dilihat dari tatapannya, sepertinya pria itu khawatir. Apa dia telah mengetahui sesuatu? Tapi Xie Ran tidak memikirkannya lagi. Ia juga tidak mempertanyakannya. Biarlah semua pemikiran itu terpendam untuk diri sendiri.