
Proses penyerapan roh guntur berlangsung selama seharian penuh. Batu sebesar kepalan tangan itu diletakkan di telapak tangan Xie Ruo, sedangkan energinya terus meluap, mengalir ke seluruh meridian.
Tidak seperti penyerapan lainnya, penyerapan roh guntur tidak menyakitkan dan terasa hangat di jiwa. Itu juga berkat cahaya emas yang pernah diserapnya ketika membuka segel liontin, melindungi jiwanya dari tekanan.
Setelah beberapa waktu, akhirnya proses penyerapan selesai. Energi yang lembut mengalir di seluruh meridian dan jiwanya, sedangkan batu hitam di tangan sepenuhnya menghilang tanpa menyisakan jejak.
Efek roh guntur langsung bekerja ke kekuatan ilahinya. Kekuatan ilahi naga menjadi lebih murni, kekuatan jiwa Xie Ruo bertambah dan memberinya kesempatan untuk menguasai seluruh keilahian naga. Ditambah, ia merasa kelima inderanya lebih tajam, persepsinya telah menempuh kejauhan kurang lebih 2 kilometer.
Ketika Xie Ruo membuka mata tanda telah selesai, Qu Xuanzi tiba-tiba memeluk dari belakang, menempatkan kepalanya di leher Xie Ruo dan menghirup aromanya.
"Aku harus pergi untuk sementara, tapi tidak bisa meninggalkanmu." Qu Xuanzi berbisik. Ia tampak tidak bersemangat ketika mendengar pesan para bawahannya yang begitu mengganggu.
"Kalau begitu, bawa saja aku." Xie Ruo menanggapinya dengan enteng. Paling tidak hanya sebagai pengamat, ia tidak masalah asal diberi camilan. Jika kembali ke Menara Suci, ia harus menghadapi Senior Jun sialan lagi.
"Terlalu berbahaya, aku tidak ingin kamu terluka karena lokasinya ada di Dunia Bawah. Aku tidak bisa membiarkanmu ke sana lagi." Lebih tepatnya, tidak ingin Xie Ruo jatuh ke tangan Kaisar Iblis lagi. Meski Kaisar Iblis juga dirinya sendiri, tetap saja Kaisar Iblis adalah dirinya yang lain, bukan yang asli.
Xie Ruo mengerti, jadi dia hanya bisa kembali ke Menara Suci. Tak apa, ia bisa sedikit berlatih di sana dan melakukan uji coba kekuatan barunya.
"Cepat selesaikan agar bisa bertemu lagi," ujar Xie Ruo.
"Tapi sebelum itu, beri aku sebuah pelukan dan ciuman."
Tubuh Xie Ruo terangkat ke pangkuan Qu Xuanzi, sedangkan Xie Ruo memutar tubuhnya lalu memberi ciuman di bibir. Berniat ciuman itu hanya terjadi secara singkat, Qu Xuanzi menekan tengkuknya dan memperdalam permainan.
Seolah waktu berhenti, terlarut dalam gairah panas tanpa terpacu pada waktu. Sampai saatnya waktu kembali berjalan, mereka harus berpisah untuk sementara.
Qu Xuanzi mengantar Xie Ruo ke Menara Suci setelah perjalanan jauh. Hari sudah malam, puncak gunung di mana Menara Suci berada tampak begitu indah diterangi oleh sinar rembulan.
Begitu Qu Xuanzi menuntun tangan Xie Ruo untuk pergi ke atas sana, Xie Ruo menahannya di tempat, sama sekali tidak bergerak.
"Tunggu!" Ucapan Xie Ruo membuat Qu Xuanzi menoleh melihatnya. Xie Ruo bicara dengan perlahan. "Sepertinya, aku tidak bisa langsung kembali. Karena penutupan masih lama, aku berpikir kembali ketika hari terakhir penutupan untuk bicara dengan Ratu. Aku akan pergi sendiri."
Qu Xuanzi memandang Xie Ruo dalam diam, kemudian memastikan, "Kau yakin?"
Xie Ruo mengangguk yakin. "Tidak perlu dikhawatirkan. Serahkan padaku."
Setelah beberapa saat berpikir dan mempertimbangkan segala hal, barulah Qu Xuanzi setuju. "Setelah pergi dari Dunia Bawah, aku akan mencarimu."
Qu Xuanzi memberi kecupan lembut di kening Xie Ruo, kemudian melangkah menjauhi kaki gunung. Ketika jaraknya sudah beberapa meter, ia melihat ke arah Xie Ruo lagi, sedangkan gadis itu hanya melambaikan tangan dengan senyuman.
Melihat ke arah pegunungan, perasaannya menjadi tidak nyaman, tapi ia percaya pada penilaian Xie Ruo. Setelah menghela napas, ia pun menghilang ke udara.
Senyum Xie Ruo turun, berganti menjadi dingin begitu cahaya emas tidak lagi terlihat. Ia berbalik ke arah pegunungan yang diliputi pepohonan rindang, ia tersenyum dingin sekilas.
Berjalan menuju puncak gunung melalui perhutanan yang sunyi dan gelap, semakin lama suasana semakin mencekam akan beberapa pandangan yang mengikuti arah gadis muda yang berjalan seorang diri.
Hingga akhirnya sampai di tempat yang cukup luas, barulah beberapa sosok memunculkan diri. Berjatuhan dari pohon dan melesat membentuk lingkaran di sekitar Xie Ruo, menutup jalannya pergi.
Orang-orang itu berseragam serba hitam dan memegang pedang ganda di masing-masing tangan. Wajah mereka ditutupi dengan kain, selain itu mereka juga memiliki perlengkapan yang cukup lengkap di saku. Sepertinya mereka telah merencanakannya.
"Aku, Xie Ruo, tidak ingat pernah berurusan dengan seseorang, tidak ada dendam. Tidak tahu siapa yang tersinggung akan kehadiranku, sehingga mengirim banyak pembunuh hanya untuk menargetku."
Xie Ruo tetap tenang. Selain orang-orang yang mengepungnya, beberapa kultivator profesional lanjutan masih bersembunyi di sepanjang jalan keluar. Mereka benar-benar berniat.
Seorang pemuda muncul dari kegelapan. Pakaiannya putih bersih tanpa noda, tampak elegan dan tampan. Melihatnya, Xie Ruo jadi teringat pada Yan Yao yang picik itu.
"Seperti yang Nona katakan, tidak ada dendam. Bawahanku sedikit kasar, perlu dididik dengan baik, maaf telah membuat Nona tersinggung."
"Tidak menyebutkan identitas, apa kau meremehkanku?" Xie Ruo tersenyum dingin. Xie Ruo merasa tidak asing pada pria di depannya. Di mana ia pernah bertemu?
Pria itu terkekeh. "Maaf atas ketidaknyamanannya, tapi identitasku tidak pantas disebutkan. Aku hanya utusan dari sebuah istana, mengundang Nona untuk datang sebagai tamu kehormatan."
"Karena kamu dari sebuah istana, bukankah seharusnya meminta izin pada guruku untuk memberinya wajah? Guruku adalah Ratu Menara Suci, keputusannya yang terpenting. Tidak meminta izin padanya, tidak menghormatinya. Atasanmu tahu akan hal itu."
Xie Ruo mendengus. Pria itu ingin menekannya dengan menyebutkan sebuah istana kecil, tentu ia harus menggunakan Menara Suci untuk menekannya balik.
Xie Ruo berniat memprovokasi balik, tapi ternyata pria itu masih sangat tenang. Dia bukan orang bodoh.
"Nona, tujuan kedatangan kami adalah untuk mengundang Nona. Sebelumnya ingin meminta izin pada Ratu Menara Suci, siapa sangka kita akan bertemu."
"Oh? Apa begini cara istanamu memperlakukan tamu?" Xie Ruo menyindir para pengepung yang berdiri seperti patung mengitarinya.
"Itu adalah 'sambutan'."
"Sambutan?" Xie Ruo menarik alisnya. Sangat jelas ini adalah ancaman. "Cara istanamu sangat unik, aku tetarik. Sayangnya, aku merasa lelah dan ingin pulang, tidak tertarik bermain di istana. Sampaikan salamku pada ratu atau raja kalian, bahwa Xie Ruo tidak tertarik pada undangan manapun."
"Nona, apa itu pantas? Tidak datang, sama saja tidak menghormati Rajaku. Apa Nona ingin membawa seluruh Menara Suci ke dalam masalah?" Pria itu menyipitkan matanya, merasa Xie Ruo sulit dihadapi.
"Hanya sebuah istana kecil, apa layak diakui Menara Suci?" Xie Ruo tertawa dingin. Kesannya terhadap orang-orang pemaksa ini tidak baik, untuk apa ia bersikap sopan?
Sebelumnya, ia dan Qu Xuanzi sudah menyadari kehadiran orang-orang ini. Untung saja Qu Xuanzi mudah diajak bicara dan berhasil membuatnya pergi, atau orang-orang ini tidak akan memiliki kesempatan bicara sampai sekarang, Xie Ruo juga tidak akan tahu apa tujuan mereka.
Sayangnya, mereka ditakdirkan tidak bisa lagi melihat esok hari, karena telah menyinggung orang yang salah.
"Xie Ruo, Rajaku mengundangmu, apa kau ingin pergi?" Peia itu sepertinya mulai geram akan provokasi Xie Ruo yang merendahkan istananya.
"Sejak tadi kau mengatakan tentang istanamu, sebenarnya istana yang mana?" Xie Ruo mencoba mencaritahu. Seingatnya, ia tidak pernah menyinggung istana manapun, kecuali satu.
Pria itu mendengus, memiliki kesempatan untuk bersikap arogan. "Luo Heng, Tuan Muda Keluarga Luo dari Istana Lingyue."
Setelah menyebutkan itu, Luo Heng yakin gadis di depannya tidak akan bersikap arogan lagi. Ia adalah pria terkenal dan berpotensi menjadi Raja selanjutnya. Bahkan Kaisar harus menyambut kedatangannya. Tidak ada yang berani menentangnya.
Tapi sikap Xie Ruo bertolak belakang dengan ekspetasinya.
"Lingyue? Bukankah salah satu murid mereka yang bernama Luo Jin pernah memberiku makan sebagai kompensasi sesekali?" gumam Xie Ruo.
Setelah beberapa detik berpikir, ia baru ingat bahwa pria di depannya adalah kakak Luo Jin, pria yang pernah ikut andil dalam perburuan di Akademi Tianshang.
Saat itu, anggota penting Istana Lingyue terluka dan hampir mati karena serangan Qu Xuanzi. Jika saja mereka tidak bersembunyi di belakang para dekan, Xie Ruo akan membiarkan Qu Xuanzi membunuh mereka.
"Aku tidak kenal siapa kamu, tapi aku kenal salah satu keluargamu. Hanya dengan menyebut itu, sudah cukup bagiku untuk memberi alasan mengapa aku tidak bersedia datang meski hanya untuk menghormati Raja Istana Lingyue."
"Kenapa?"
"Tidak ada yang tahu semua itu, bagaimana kau bisa tahu?" Luo Heng agak terkejut.
Xie Ruo menarik pemikirannya bahwa pria ini sedikit pintar. "Sepertinya kamu masih perlu banyak belajar. Hal yang tidak diketahui banyak orang, guruku mengetahui semua dan menjadi rahasia umum Menara Suci untuk mengakhiri perang."
Luo Heng nyaris tidak bisa berkata-kata. Ia telah kalah bersilat lidah dan sekarang mulai kehilangan kesabaran. Ia menatap Xie Ruo dengan tajam, mulai bersiap akan pertempuran.
"Xie Ruo, jadi kamu menolak undangan Istana Lingyue?"
"Ya."
"Meski untuk kedamaian?"
"Ya." Menurut Xie Ruo, tidak ada dalam kamusnya berdamai dengan musuh. Musuh tetaplah musuh, tidak bisa menjadi kawan, atau hanya akan ada pengkhianatan.
"Bagus, kau menolak anggur hadiah, hanya bisa menerima anggur hukuman."
"Aku akan meminumnya dengan senang hati."
Tepat setelah mengatakannya, para pengepung itu mengacungkan senjata dan membuat sebuah formasi agar Xie Ruo dapat ditahan. Mereka telah mempersiapkannya dengan teliti, juga tidak meremehkan kekuatan Xie Ruo sehingga harus menggunakan pusaka Istana Lingyue untuk menangkapnya.
Cahaya biru muncul di sekitar pembuat formasi mengelilingi Xie Ruo. Sedangkan para penyerang mulai meluncurkan serangan untuk melumpuhkan Xie Ruo.
Xie Ruo memandang mereka dengan remeh. Tanpa senjata, ia menebaskan tangannya. Hanya dengan satu tebasan, semua penyerang terlempar, menyisakan beberapa penyerang yang sempat menghindar.
Formasi segera selesai ketika para penyerang itu terhempas. Sebuah hujan pedang muncul tepat di atas kepala Xie Ruo hingga gadis itu harus menghindari tiap pedang yang jatuh seperti hujan.
Formasi hujan pedang Istana Lingyue cukup kuat. Selagi menjebak Xie Ruo dengan formasi hujan pedang, para penyerang menyiapkan sebuah benda untuk mengurung Xie Ruo di dalamnya. Benda itu mirip sebuah pagoda kecil, di letakkan di udara hingga memancarkan sinar cerah.
Luo Heng di luar jangkauan pertarungan tersenyum penuh kemenangan. "Hanya itu saja?Ternyata sangat lemah."
Tapi ketika pagoda itu berhasil diaktifkan di udara, pengguna pagoda itu terbelah begitu saja di bagian perut oleh sayatan bilah energi Xie Ruo. Hanya salah satu detik, para pemegang pagoda runtuh menyebabkan pagoda di udara gagal.
Senyum Luo Heng membeku seketika. Gerakan Xie Ruo sangat cepat seperti sambaran petir, menyapu semua penyerang dalam satu serangan tanpa meninggalkan noda darah di pakaiannya.
Sudah lama Xie Ruo tidak membunuh. Perasaan ketika ia membunuh kembali, apalagi ketika mencium aroma darah yang pekat di sekitarnya membuatnya bertambah semangat. Ia pikir ini akan membosankan, tapi caranya membunuh tidak buruk.
"Hanya ini?" Xie Ruo tersenyum lebar. Ia lebih mirip seperti iblis berdarah dingin yang berdiri di atas tumpukan mayat dibandingkan wanita cantik yang tampak sangat lembut dan tidak berbahaya.
Luo Heng sangat terkejut. Belum ada satu menit, semuanya sudah dilumuri darah. Ia mengepalkan tinju. Kali ini, demi mewarisi posisi raja, ia harus membawa Xie Ruo ke Istana Lingyue apa pun keadaannya.
"Xie Ruo, kau yang memaksaku." Luo Heng geram. Ia meminta para profesional lanjutan di belakangnya keluar dan membuat formasi berbahaya demi menangkap Xie Ruo.
Xie Ruo tidak mengatakan apa pun. Ia menunggu, harta apa lagi yang akan dikeluarkan Istana Lingyue untuknya. Selagi menunggu, ia mengaktifkan panggilan batin kepada Xiao Caihong.
Di Menara Suci, Xiao Caihong langsung merespon. Ia menjadi phyton besar dan membawa kepala satan pergi bersamanya untuk bersenang-senang.
Tidak ada yang menyadari bahwa kepala satan ada pada Xiao Caihong. Semua orang tahu siapa itu Xiao Caihong, jadi tidak ada yang menghentikannya pergi keluar Menara Suci dengan kecepatan tinggi di langit.
Formasi terbentuk begitu cepat sebelum Xiao Caihong datang. Sebuah cahaya membentuk jaring besar muncul dengan tekanan penuh tepat di atas Xie Ruo. Sedangkan Xie Ruo hanya diam membuat Luo Heng tertawa berpikir gadis itu telah ditekan sampai tidak bisa bergerak.
Jaring besar dijatuhkan, menekan Xie Ruo di bawah sedangkan Xie Ruo menahannya. Pemandangan itu membuat Luo Heng semakin bersemangat. Jaring itu khusus digunakan untuk hewan iblis tingkat tertinggi, tentu akan ampuh jika hanya untuk mengurung Xie Ruo yang hanya manusia.
"Cepat buka pagodanya!" Luo Heng memerintahkan, tidak mau menunggu lebih lama akan hasil kerjanya.
Para profesional lanjutan bersatu untuk membuat perangkap lain. Pagoda yang digunakan khusus untuk mengurung Xie Ruo baru saja jatuh. Mereka mengambil itu dan menggunakannya di atas jaring untuk membawa Xie Ruo ke dalamnya.
Pagoda yang awalnya kecil, menjadi besar dan mulai menyerap Xie Ruo beserta jaring di bawahnya. Cahaya emas yang berasal dari pagoda bersinar begitu cerah, menarik Xie Ruo ke dalam secara perlahan.
"Percepat!" Luo Heng semakin tidak sabar. Xie Ruo harus cepat masuk ke dalam sebelum anggota Menara Suci lainnya datang.
Xiao Caihong di kejauhan merasakan insting berbahaya. Ia mempercepat kelajuan dan terkejut ketika melihat 'ibunya' tertarik ke sebuay pagoda. Ia mulai bingung.
"Cepat bantu dia sebelum diculik manusia-manusia itu!" Satan di punggungnya langsung memberi peringatan.
Xiao Caihong bergerak sangat cepat. Teriakannya menggema di sekitar hutan, mengejutkan anggota Istana Lingyue. Mereka semakin mempercepat proses.
Tepat ketika Xiao Caihong akan menarik Xie Ruo, sedangkan satan sudah masuk ke dalam cincin ruang terlebih dahulu, Xie Ruo telah sepenuhnya menghilang bersamaan dengan cahaya emas yang redup.
Pagoda kembali menjadi kecil, dan jatuh ke tangan Luo Heng. Sedangkan para profesional lanjutan mulai memasang reaksi waspada, akan kehadiran seekor phyton besar di depan mereka.
Xiao Caihong memandang mereka dengan tajam, penuh niat membunuh. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi, dia tetap tahu bahwa orang-orang jahat ini telah menculik ibunya. Ia harus memberi pelajaran!
Melihat ke arah pagoda kecil di tangan Luo Heng, Xiao Caihong langsung menyambarnya. Cepat-cepat Luo Heng mengeluarkan seekor elang es dan pergi membawa pagoda. Sayap elang es yang mencoba mempertahankan diri menyerbu Xiao Caihong seperti duri beracun. Xieo Caihong menghancurkan serangan itu, lalu berniat terbang mengejarnya.
"Tahan dia!" Luo Heng meminta para profesional lanjutan menahan Xiao Caihong selagi ia terbang dengan elang es menghindari Xiao Caihong.
Para profesional lanjutan segera memanggil hewan buas mereka masing-masing. Terjadi pertempuran antara hewan buas saat itu juga, sedangkan para peofesional lanjutan membantu hewan buasnya membunuh phyton besar yang mengganggu.
Xiao Caihong tidak memiliki waktu berurusan dengan mereka. Menggunakan kekuatan hewan suci, mulutnya mengeluarkan cahaya perak yang menyebar ke seluruh hutan dengan suhu panas yang menyakitkan.
Para hewan buas serta rekan mereka mati saat itu juga akan satu serangan mematikan yang menyebabkan medan pertempuran rata seketika. Tidak ada yang tersisa selain abu yang menyatu dengan tanah, bahkan pepohonan ikut terbakar dan menjadi abu.
Xiao Caihong mengabaikan kekacauan dan terbang mengejar elang es. Kecepatannya jauh lebih cepat dari elang es hingga dapat melihatnya di antara awan-awan.
Tepat ketika Xiao Caihong akan menyerang, sebuah suara menggema di telinganya.
"Ikuti dia."
Xiao Caihong agak terkejut. Tidak ada orang lain yang bisa bicara melalui komunikasi batin selain Xie Ruo. Karena ibunya telah memerintah, ia hanya bisa menurut dan merubah diri menjadi kecil. Auranya juga disamarkan.
Meski kecil, kecepatannya tetap sangat cepat. Ia terbang seperti kilatan petir yang melintas, kemudian menyelinap memasuki kantung Luo Heng yang sedang bersuka cita.
Setelah kembali ke Istaa Lingyue, ia akan mendapat posisi secara resmi!
Juga, jika wanita itu membiarkan Xie Ruo hidup, ia akan meminta kecantikan itu untuk bermain dengannya.
Ia sangat menantikannya!
...----------------...
Kira-kira apa rencana Xie Ruo?