The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
178. Benang Merah



Tanpa terasa, hari yang ditunggu telah tiba. Istana Langit penuh dengan dekorasi disertai para peri yang berkeliaran membawa bunga merah muda. Sihir yang berasal dari peri menciptakan kelompat bunga merah muda dari langit, menyirami halaman dengan angin bunga yang bertebaran.


Para dewa berdatangan, menaiki tangga menuju Istana Langit bersama teman atau pasangan yang mereka bawa, untuk melihat pernikahan seorang dewa utama sekaligus Kaisar Langit yang agung.


Semua orang penasaran, wanita mana yang berhasil menarik perhatian dewa berhati dingin itu. Kabarnya adalah wanita itu adalah cucu dewa naga, tentu mereka sangat penasaran mengingat betapa terkenal kedua putri dewa naga saat itu.


Pei Xi, Yan Yao, Zhou Kui, dan Liu Chang mendapati tugas menjaga Xiao Caihong. Itu dikarenakan Su Liu'er sibuk mengurus cucunya sendiri, sedangkan Xie Wang entah pergi ke mana. Di tengah kerumunan para dewa dan peri, mereka diam seperti sekelompok tikus di kerumunan gajah.


Para dewa itu, terasa sangat kuat sehingga membuat mereka sesak. Mereka telah bergabung dengan anggota utama klan, serta para hewan suci, tapi tetap saja terasa sesak.


Ini kali pertama manusia masuk Dunia Atas, wajar jika para dewa itu bersikap dingin dan menunjukkan kewibawaan mereka dengan bangga. Meski mereka hanya dewa biasa, tetap saja terasa sesak bagi para manusia.


Sedangkan para dewa utama dan dewa alam tidak berkutik di tempat lain. Mereka hanya diam dengan wajah poker, selagi para pelayan melayani.


Dewi Kehidupan memimpin acara dengan sepenuh hati dan menyambut para tamu di bawah kursi kaisar. Dewa pernikahan yang nantinya akan memandu, pria yang tampak cantik itu sudah berdiri di ujung telah menyelesaikan persiapan.


"Yang Mulia Kaisar Langit dan Pewaris Dewa Naga memasuki aula!"


Kelopak bunga merah muda ditebar sekali lagi, menjadikan jalan dipenuhi dengan bunga sebagai pijakan. Dua sosok muncul dari luar aula, saling bertautan tangan dan melangkah secara perlahan.


Semua pandangan tertuju pada pemeran utama dalam pesta. Dua sosok berjubah putih yang penuh kharisma, dengan mahkota yang diletakkan di kepala keduanya menambah rasa keagungan.


Xie Ruo, tanpa penutup kepala menunjukkan wajah cantiknya yang menggemparkan dunia. Riasan wajahnya tidak terlalu besar sehingga tidak menutupi wajah cantik alaminya. Justru, ia tampak lebih anggun dan elegan dengan iris biru yang tampak sangat tenang.


Pakaian putihnya menjuntai ke bawah, dengan jubah di belakangnya yang menyapu bunga-bunga yang bertebaran. Rambutnya dibiarkan terurai panjang, dengan riasan kepala indah dan berkharisma sehingga penampilannya melebihi dari kata sempurna.


Qu Xuanzi tampak sama dinginnya, namun ada ketenangan dan kehangatan ketika melihat wanita yang berjalan di sisinya. Mahkota di kepalanya menunjukkan martabat yang tak tergoyahkan dengan jubah besar yang penuh keagungan.


Tiap langkah yang diambil, tidak akan pernah ada kata mundur selagi mereka bersama. Ini adalah awal perjalanan, bukan akhir.


Sampai di ujung aula, Dewa Pernikahan segera memandu acara. Suaranya yang keras memandu pernikahan dengan sepenuh hati.


"Hormat pertama, untuk langit dan bumi!"


Mereka menghadap pintu aula, kemudian membungkuk melakukan penghormatan bersama. Langit dan bumi akan menjadi saksi perjalanan mereka.


"Hormat kedua, untuk orang tua!"


Mereka membungkuk ke arah Xie Wang dan Su Liu'er sebagai satu-satunya orang tua. Baik Xie Ruo maupun Qu Xuanzi, tidak ada dicantara mereka yang memiliki orang tua utuh. Mati demi keluarga dan kejayaan, tidak ada penyesalan akan hal itu. Xie Ruo harap, orang tuanya melihatnya sekarang, dan menerima penghormatannya.


Dewi Kehidupan di sisi lain tersenyum dengan suasana sendu. Akan sangat baik jika seniornya ada di sini, bukan ia yang hanya sebagai pengganti.


"Hormat ketiga, untuk satu sama lain!"


Qu Xuanzi dan Xie Ruo saling berhadapan, kemudian saling membungkuk. Penghormatan untuk saling menghormati dan percaya. Itu adalah sebuah janji suci yang dilontarkan dalam hati, saling mendukung dan menyayangi, baik sakit maupun sehat. Hanya kematian yang bisa memisahkan.


Namun, bagi Qu Xuanzi, meski adanya kematian, ia akan mencari jiwa Xie Ruo di manapun ia berada. Tidak ada yang katanya berpisah. Ia akan melindungi Xie Ruo dengan nyawanya.


Di sisi lain, di barisan paling jauh, sepasang iris emas melihat dengan tatapan lega. Ia tersenyum getir, kemudian pergi.


"Upacara selesai!"


Bagian pertama upacara pernikahan selesai. Sesuai dengan urutan dan tradisi Dunia Atas, mereka harus meminum arak yang diikat dengan benang merah Dewa Perjodohan untuk ditanamkan di jiwa. Itu dilakukan karena mereka bukan manusia yang takdirnya sudah ditentukan. Agar keduanya terikat, maka harus terhubung dengan benang merah.


Salah seorang peri membawakan dua cangkir kecil arak dan diberikan pada mereka. Mereka menenggak arak tersebut. Benang merah yang terlilit di cangkir menghilang begitu selesai diminum, tanda bahwa benang merah telah mengikat mereka secara resmi sebagai sepasang suami dan istri.


Setelah upacara tersebut, para tamu menikmati perjamuan dan pertunjukan. Qu Xuanzi menuntun Xie Ruo ke singgasananya, kemudian duduk berdampingan.


Untuk saat ini, status Xie Ruo belum bisa dianggap sebagai permaisuri karena ia masih belum menjadi dewi. Para dewa hanya bisa memanggilnya dengan sebutan Istri Kaisar, Xie Ruo tidak terbebani oleh hal itu. Wanita itu justru senang karena hari santainya diperpanjang.


Hanya saja ... suasana hatinya sedang tidak baik karena lapar ....


Melihat orang lain makan makanan enak, perut Xie Ruo keroncongan. Tapi ia tidak bisa makan daging sekarang, hanya bisa memakan anggur yang disiapkan oleh pelayan yang berdiri memegang nampan. Sama sekali tidak kenyang.


"Apa tidak ada yang memberimu makanan sejak tadi?" Qu Xuanzi bertanya. Meski Xie Ruo rakus, gadis itu tidak akan mengeluh jika sudah makan setidaknya sekali.


Xie Ruo menggeleng. "Aku ... kesiangan."


Qu Xuanzi tertawa kecil. Xie Ruo sudah terbiasa bangun siang karena nganggur, ditambah rentang waktu di Dunia Atas beda dengan Dunia Bawah. Sudah pasti Xie Ruo tidak bisa hanya sekadar tidur 8 jam sehari.


"Jangan tertawa." Xie Ruo malu mengatakannya, tapi ia menebalkan wajah dengan berpura-pura tidak peduli. Betapa enak menjadi dewa, tidak perlu merasakan lapar dan hanya makan sesukanya.


Banyak tamu yang memberi hadiah selama itu. Xie Ruo mulai bosan, berbeda dengan Qu Xuanzi yang sudah biasa dan tetap bertampang dingin setiap saat, kecuali ketika bicara dengan Xie Ruo.


Melihat Xie Ruo yang terlihat malas sambil meregangkan otot ke sana ke mari tanpa mengubah posisi, jelas wanita itu sudah sangat pegal. Bahkan kakinya saja tidak bisa diam sejak tadi.


"Kita pergi." Qu Xuanzi meraih lengan Xie Ruo dan membawanya keluar aula melalui jalan lain.


Xie Ruo hanya mengikuti, sambil menarik gaunnya yang ribet. Saking kesalnya, Xie Ruo sampai berpikir ingin memotong rok yang terlalu panjang ini. Tapi jika dipotong, sangat disayangkan gaun semahal ini rusak karenanya. Ia tidak bisa ganti rugi.


Mereka pergi bersama ke arah bangunan istana lain. Xie Ruo lapar, pas sekali Qu Xuanzi membawanya ke tempat yang dipenuhi makanan. Tapi begitu sampai, Dewi Kehidupan muncul di depan mereka berdua.


"Xiao Zi, tidak perlu terburu-buru. Aku pinjam istrimu sebentar karena ada sebuah urusan mendesak."


"Sebenarnya, Su Liu'er yang sedang mencari Ruoruo. Ada beberapa hal yang harus dikatakan." Dewi Kehidupan langsung menyambar lengan Xie Ruo, kemudian melambaikan tangan. "Akan kukembalikan nanti malam." Ia mengedipkan sebelah mata setelah mengatakannya.


"Tidak."


"Xiao Zi, kau adalah pemeran utama dalam pesta, jangan pergi begitu saja. Bagaimana jika para dewa merasa tidak disambut dengan baik?"


"Aku tidak pernah menyambut mereka." Qu Xuanzi tidak pernah merasa mengundang orang-orang itu. Semua itu dilakukan oleh Dewi Kehidupan.


"Jangan seperti itu. Setidaknya, sekali saja menjadi anak patuh. Lagipula, besok aku tidak lagi mengganggu, kalian bebas melakukan apa pun." Dewi Kehidupan merasa emosinya naik. Kenapa anak ini sulit sekali diajak bicara?


"Sudahlah, telingaku berdengung. Aku baik-baik saja." Xie Ruo menyerah dengan makanan. Ia menarik Dewi Kehidupan pergi ke arah lain dengan lesu. Ia hanya bisa menyerah akan nasib, menerima kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan berubah menjadi tengkorak berkulit.


Dewi Kehidupan tersenyum lebar sambil melihat Qu Xuanzi, seolah mengatakan bahwa ia pemenangnya. Qu Xuanzi hanya memasang wajah gelap.


Ia ingin ikut, tapi Dewi Kehidupan melarangnya habis-habisan dan pergi begitu saja membawa Xie Ruo seolah Xie Ruo adalah boneka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Yang Mulia, segalanya sudah siap. Apa kita ...." Seorang kasim tua berkata dengan seorang pria. Pria itu mengenakan jubah naga yang terlihat mewah, dengan penampilan tampan yang dapat membuat wanita manapun meleleh.


Pria itu melihat ke arah kasim yang berdiri di belakangnya, kemudian berkata, "Perjalanan ke Menara Suci membutuhkan waktu lama dan berbahaya, kita undur waktu perjalanan."


"Baik, Yang Mulia." Kasim itu mundur dengan hormat.


Pria yang tak lain adalah Zhong Guofeng melihat ke arah langit cerah. Pandangannya redup, seolah memikirkan sesuatu yang hanya diketahui olehnya.


Ketika merasakan seseorang mendekat, ia langsung meluruskan pandangan. "Kenapa?"


"Kau benar akan pergi ke Menara Suci?" Zhong Wenyue bertanya dengan nada tanpa emosi.


"Aku pergi ke mana, apa ada hubungannya denganmu?" Zhong Guofeng tidak mau terlalu terbuka terhadap berbagai hal.


"Sama sekali tidak ada." Zhong Wenyue menghela napas. "Belakangan ini aku mencoba menghubungi Rongrong, tapi tidak ada kabar darinya. Sepertinya dia sedang marah."


"Apa hubungannya denganku?" Zhong Guofeng tidak peduli.


"Memang tidak ada hubungannya denganmu. Tapi, Rongrong adalah teman Xie Ran. Kau cukup dekat dengan Xie Ran, apa tidak penasaran bagaimana dia bisa mati semudah itu?"


"Kau ingin aku bertanya pada Rongrong?" Zhong Guofeng mendengus.


"Tidak. Aku hanya merasa ada sesuatu yang salah. Xie Ran meninggal dan kehadiran Xie Ruo diumumkan di dunia. Kebetulan seperti itu, benar-benar membuat seseorang tertarik."


"Itu urusan mereka, tidak ada hubungannya denganmu." Zhong Guofeng bicara acuh tak acuh.


Zhong Wenyue terkekeh. "Hanya saja, temanku menanyakannya."


Zhong Guofeng meliriknya dengan intens. "Aku baru tahu kau punya teman."


"Tentu saja, aku bukan seseorang yang terlalu anti-sosial dan malas bertemu orang lain." Zhong Wenyue menyindir secara halus.


"Kau datang hanya untuk ini?" Zhong Guofeng mendengus kesal. Ia tidak memiliki kesan baik terhadap Zhong Wenyue. Pria bertampang baik dan perhatian, tapi sebenarnya adalah rubah licik.


"Aku datang untuk mengenalkanmu pada seseorang." Zhong Wenyue minggir ke samping, membiarkan seorang wanita cantik muncul dengan penampilan anggun dan tenang.


Ia tampak sangat tenang, pandangannya redup dengan wajah poker tanpa ekspresi. Posturnya tegap dan terlihat seperti ahli bela diri, ia tampak indah bersamaan dengan wajah cantik yang tidak ada duanya.


Zhong Guofeng melihat wanita cantik tak dikenal itu, kemudian mendengus. "Kau ingin menjualnya padaku seperti tempo hari?"


"Sayangnya, dia tidak untuk dijual meski Yang Mulia menginginkannya."


"Aku tidak tertarik." Zhong Guofeng membuang muka.


"Namanya adalah Shu Xin, aku membawanya sebagai hadiah untuk Yang Mulia. Shu Xin sangat berbakat dan pandai, dia akan menjadi penasihat yang telaten, tidak akan melakukan hal semberono."


"Kenapa aku harus menerimanya?" Jangan dikira Zhong Guofeng tidak mengetahui rencana Zhong Wenyue. Ia terlalu malas menambah orang ke dalam istana.


Zhong Wenyue tersenyum. "Bukankah Yang Mulia sedang mencari calon permaisuri? Shu Xin bisa menjadi andalan yang baik untuk memberi saran dan membantu Yang Mulia dalam segala hal. Latar belakangnya tidak biasa, bersekolah di Akademi Tianshang dan merupakan murid terbaik. Yang Mulia tidak akan menyesal menerimanya."


Zhong Guofeng melihat Zhong Wenyue dengan mata menyipit. Ia melihat kembali ke arah Shu Xin, entah bagaimana ia merasa wanita itu tidak asing, tapi tidak bisa mengingatnya.


Masalah ini adalah masalah politik kerajaan, ia terlalu malas meladeni. Tapi karena Zhong Wenyue terus saja mencari masalah dengannya, ia harus sedikit memberi pelajaran.


"Baik." Zhong Guofeng sepertinya telah memikirkan sesuatu. Ia memerintahkan kasim, "Antarkan dia."


Shu Xin pergi diantar kasim. Pandangannya yang redup menjadi cerah ketika melihat pintu gerbang istana. Ia menoleh ke belakang, melihat Zhong Guofeng. Sekilas, ada senyum di baliknya sebelum akhirnya pergi.


...----------------...


Bab besok adalah bab malam pertama, kira-kira apa yang akan terjadi di malam pertama berdasarkan sifat Xie Ruo?


Ayo tebak biar seru~