The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
238. Eksplosif Mental



Dua kesadaran yang terhubung berguncang akibat dua kekuatan mental yang dikerahkan. Tanah bergerak dan terangkat di udara seolah gravitasi menghilang. Pilar-pilar istana yang semula kokoh menjadi putus dan melayang di udara dengan bebas.


Kabut abu-abu di sekitar Xie Ruo berterbangan. Iris abu-abunya melihat Shu Xin dengan tajam, sebeluk akhirnya kekuatan mental yang dipadatkan di kedua tangannya terbentuk. Ia menghindari dengan tepat tiap serangan cahaya yang muncul, tangannya berayun menggerakkan puing-puing bangunan yang terangkat dan melemparnya ke Shu Xin.


Shu Xin menyipitkan matanya begitu melihat tumpukan puing melayang ke arahnya. Ia melompat tinggi menghindar, kemudian mengendalikan dunia kesadaran hingga seluruh bangunan menjadi semakin tak terkendali.


Dunia seolah berputar seperti komedi putar, tergelincir dalam ilusi, serta mengubah gambaran realitas menjadi gambaran acak dan tak beraturan yang mengerikan. Tanah terus terangkat dan berputar, menyebabkan langit yang seharusnya di atas menjadi di bawah.


Xie Ruo terkejut melihat kekacauan ini. Ia menutup mata, iris abu-abunya memancar lebih terang dan mengayunkan tangannya yang diliputih sinar abu-abu. Perputaran dunia berhenti dalam keadaan miring, kemudian hancur dalam ledakan tanpa gravitasi.


Shu Xin nyaris tertimpa ledakan yang diarahkan kepadanya. Ia menghilang, kemudian muncul di sisi lain dan menggunakan matahari di langit untuk memancarkan energinya menyerang Xie Ruo.


"Xie Ruo, ingatlah siapa yang kau lawan." Ia tersenyum, kemudian mengendalikan panasnya matahari dalam gerakan tangannya. Seluruh wilayah dilanda kekeringan dan kebakaran, matahari tak hentinya memancar dengan terik dan meluncurkan sinarnya yang terpusat pada Xie Ruo.


Xie Ruo mendengus melihat cara kekanakan Shu Xin. Bakar saja, toh ia sudah menyatu dengan unsur api. Hanya saja, tiba-tiba sesuatu melintas di pikirannya. "Apa kau pernah mendengar mengenai antartika yang hilang? Aku akan membawanya ke sini untuk dipanaskan sekali lagi."


Shu Xin tidak tahu apa itu antartika, tapi karena terucap oleh Xie Ruo, pasti bukan hal baik. Dan benar saja, seluruh kesadaran berubah menjadi antartika dalam sekejap. Es mengitari segalanya, mengubur tanah dan menutup danau yang terbentuk.


Matahari di atas sana begitu terik dan masuk ke dalam wilayah es. Itu membuat Shu Xin mencibirnya. "Ternyata hanya segini. Xie Ruo, kekuatan mental berasal dari jiwa, jiwaku telah hidup selama lebih dari 10.000 tahun, kau tidak akan bisa menandinginya meski hidup 1000 tahun lagi."


"Kalau begitu, kau masih harus berlatih selama lebih dari 10.000 tahun lagi jika kalah." Xie Ruo tersenyum. Detik berikutnya, es di kakinya mencair karena panas sinar matahari dan memciptakan gelombang air yang besar.


Seluruh wilayah yang dipenuhi es semakin lama semakin mencair, membuat seluruh wilayah banjir. Xie Ruo langsung mengendalikan gelombang air dengan kekuatan mentalnya dan menyerbu ke arah Shu Xin.


Shu Xin tidak bisa menghindar karena seluruh wilayah telah dipenuhi air. Ditambah, ia hanya bisa menggunakan kekuatan mentalnya, bukan sihir, sehingga harus menahan gelombang air yang sama sekali tidak dalam unsur kendalinya sehingga harus tenggelam.


"Bagaimana pemandiannya? Segar?"


Shu Xin melompat dari dalam air dengan susah payah, kemudian berdiri di atasnya. Ia melihat Xie Ruo penuh kebencian. "Aku, Dewi Alam, tidak akan kalah hanya karena seorang bocah!"


Mata Shu Xin bercahaya, membalikkan dunia kesadaran dan menjatuhkan seluruh air yang banjir ke langit. Dunia menjadi terbalik, membuat keuntungan penuh pada Shu Xin yang berdiri di atas langit.


Xie Ruo menggunakan air yang 'jatuh' sebagai tumpuan, kemudian meraih bebatuan untuk bertahan agar tidak jatuh. Ia tidak bisa terbang seperti Shu Xin, sehingga tubuhnya bergelantung dengan bebatuan yang tersisa.


"Sudah kukatakan, kau tidak biaa mengalahkanku." Shu Xin tertawa dengan senang. Ia mengayunkan kedua tangannya dengan lembut dan cepat, hingga sebuah cahaya yang besar muncul. Ia melepaskannya, cahaya itu menyebar ke seluruh dunia kesadaran dan terhubung ke tiap wilayah seperti jaringan.


Xie Ruo, kau akan mati! Shu Xin mengguncang dunia kesadaran sekali lagi dengan menarik semua bebatuan runcing hingga menyebabkan gempa terjadi antara langit dan bumi. Ia menggunakan bebatuan runcing itu untuk menyerbu, kemudian menghilangkah tanah sehingga Xie Ruo melayang di udara dan jatuh lepas.


Xie Ruo kehilangan kendali kekuatannya sendiri dan jatuh bebas, tidak tahu mana ujungnya. Ia meraih sekua batu runcing yang mengejarnya, kemhdian digunakan untuk menumpu kakinya mompat ke arah Shu Xin. Karena tidak ada apa pun di sekitar, serta cahaya emas menguasai seluruh wilayah dunia kesadaran tanpa membeirnya kesempatan, ia hanya bisa menggunakan cara lain.


Ia melompat di tiap bebatuan yang terbang, kemudian hendak meraih bahu Shu Xin. Namun wanita itu menjauh dengan tepat sebelum Xie Ruo sempat menyentuhnya.


Hal itu terus terjadi, sampai akhirnya iris abu-abu Xie Ruo mengeluarkan cahaya yang melintas dan mematahkan jaringan cahaya yang menguasai dunia, kemudian menciptakan kegelapan tanpa ujung menyebabkan pukulan terhadap kekuatan mental Shu Xin. Terasa seperti mati lampu.


"Sungguh, aku tidak akan berlama-lama melayanimu." Xie Ruo berbisik tepat di belakang Shu Xin.


Shu Xin baru saja menoleh, namun tiba-tiba cahaya yang menyilaukan melesat ke arahnya dan memberi guncangan menyakitkan. Tidak sampai satu detik setelah kejutan itu, seluruh wilayah menjadi sangat cerah sehingga Shu Xin merasa matanya telah buta.


"Sayang sekali, kau bukan lagi dewi cahaya yang menggunakan cahaya sebagai keuatan utama." Xie Rui mencibir. Hanya kejutan seperti itu, Shu Xin sudah merasa sangat terkejut. Sebagai dewi cahaya, ia sangat mebgecewakan bila terkejut oleh cahaya.


"Kau!" Shu Xin baru saja akan menyerang, namun dunia kembali berubah membuat tubuhnya oleng sekali lagi.


Tanah bergerak dengan cepat. Seluruh wilayah menyempit dan menghimpit wanita itu seakan akan terlalap dalam dinding. Shu Xin merentangkan tangan, menahan himpitan dinding yang menjeratnya. Ia ingin menghancurkannya, tapi kekuatannya terkunci.


"Terima hukumanmu—mantan—Dewi Cahaya."


Xie Ruo menjentikkan jarinya. Dua dinding itu langsung menyatu, menyisakan serbuk cahaya yang berterbangan. Xie Ruo mengerutkan kening begitu cahaya emas yang berterbangan mulai memunculkan tekanan kuat yang menyebabkan ledakan besar.


Ketika ledakan terjadi, Xie Ruo terlambat menyadarinya. Ledakan besar itu mengakibatkan seluruh dunia kesadaran hancur. Mereka pun kembali ke realitas masing-masing.


Shu Xin tersungkur di lantai. Ia merasa sesak napas untuk sesaat, sebelum akhirnya beberapa luka muncul di kulitnya sampai berdarah. Ia menahan semua rasa sakit itu dalam diam sambil menekan roknya dengan erat.


Melihat ke arah pusat altar, tampak altar kehilangan kekuatannya dan mati dalam sekejap. Wajah Shu Xin semakin menggelap. "Xie Ruo ...."


Di sisi lain, Xie Ruo yang kembali ke kesadarannya sendiri harus terbatuk keras akan ledakan yang terjadi. Ia merasa kekuatan mentalnya terkuras. Namun hal yang membuatnya senang, altar pengorbanan berhenti menyerap energi murninya yang selama ini ia coba pertahankan.


"Bagus ...." Xie Ruo tersenyum senang.


Ia mengedarkan pandangan mencari Qu Xuanzi. Rautnya berubah menjadi terkejut ketika melihat sosok yang ia cari tengah sekarat di kejauhan. Sangat jauh, membuat Xie Ruo sangat takut.


"Xuanzi ... tidak ...." Ia langsung berdiri dan menerobos paksa dari barrier yang dibentuk Qu Xuanzi. Ia dapat melihat, Dewa Iblis tengah bersiap menyerang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rasa sakit itu terus menjalar dan mengganggu seluruh kinerja organnya. Pembuluh darahnya terasa terbakar, jantungnya berdegup melebihi rata-rata hingga terasa akan meledak. Urat-urat hitam timbul dan menjalar kian melebar.


Meski penyerapam altar pengorbanan terhenti, racun darah sama sekali tidak berhenti menggerogotinya. Qu Xuanzi tidak bisa lagi fokus pada perlawanan. Bahkan visinya sudah kabur.


"Asura, sudah kukatakan kau tidak akan hidup lama. Energi murni yang terlahap kekuatan iblis akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum racun darah menyelesaikannya." Ia membentuk kembali tombaknya yang hancur semudah menjentikkan jari ketika kekuatannya pulih.


Berkat altar, ia dapat memulihkan kekuatan. Entah bagaimana altar mati secara mendadak. Pasti naga kecil itu yang berulah. Ia harap Shu Xin baik-baik saja.


"Tidak ada permintaan terakhir?" Dewa Iblis tersenyum sumringah melihat Qu Xuanzi menahan rasa sakit dalam diam. Ia bahkan menutup matanya untuk tetap stabil.


Dewa Iblis terkekeh, kemudian mengangkat tombaknya. Gelombang energi gelap muncul tepat di mana tombak diarahkan, sebelum akhirnya tombak hitam legam tersebut melesat membelah udara.


Qu Xuanzi cepat menyadari. Ia menahan serangan tombak dengan sihirnya, namun ia justru termundur karena rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Tombak Dewa Iblis kembali ke pemiliknya, sedangkan Dewa Iblis langsung melompat dan meluncurkan tombak sekali lagi dengan lebih keras. Kekuatan biasa memang tidak dapat membunuh pria itu meski telah sekarat.


Hanya dalam beberapa jarak saja, ia dapat membunuh Qu Xuanzi dan mengerahkan seluruh tenaganya ke dalam tombak untuk membunuh. Namun tiba-tiba sebuah bilah pedang muncul menangkis bagian punggung tombaknya yang tanpa perlindungan. Dewa Iblis mau tidak mau mundur dan mempertahankan tombak di tangannya agar tidak patah, kemudian menghadang pedang yang sangat cepat dihunuskan dengan gerakan unik.


Kecepatan pedang perak yang berayun begitu cepat dan sulit ditebak. Dewa Iblis menahan serangannya berkali-kali, kemudian menghentakkan tombaknya beserta energi gelap yang menggerakkan tanah dan memberi jarak pada pemegang pedang.


Sosok perak itu berputar, kemudian menyimpan pedangnya dengan cepat. Tangannya berganti senjata dengan senjata yang tidak pernah dilihat Dewa Iblis. Ketika melihat sosok itu dengan jelas, Dewa Iblis menyerinyit. Ia kalah teknik senjata tanpa sihir hanya dengan seorang gadis kecil!


Sosok yang tidak lain adalah Xie Ruo, mengangkat pistolnya tepat ke arah Dewa Iblis yang tampak heran dengan senjatanya. Itu memberi keuntungan bagi Xie Ruo.


"Aku mungkin tidak bisa membunuhmu, tapi aku bisa menahanmu." Tepat setelah mengatakannya, ia menekan pelatuk pistol hingga menyuarakan suara yang begitu keras dan nyaring.


Dor!


...----------------...


Bersiaplah untuk bab besok .... (tersenyum misterius sambil mengusap mata)