The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
206. Tenang Sebelum Badai



Musim dingin yang lebih panjang dari sebelumnya telah usai. Bunga-bunga merah muda mulai bermekaran, memberi keceriaan dan kehangatan pada alam yang sunyi.


Di bawah bulan, Xie Ruo duduk di tepi jendela menghadap luar. Kakinya menggantung tanpa alas, menghadapi ketinggian istana di mana di bawahnya terdiri dari kumpulan awan putih.


Suasana hatinya buruk. Iris biru itu memandang langit gelap dipenuhi bintang serta aurora yang bergerak di angkasa dengan tatapan kosong.


Pikirannya bercabang, dipenuhi masalah tak berujung yang terus menerornya. Sebelumnya ia gelisah sejak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, lalu baru saja ia mengetahui rencana Dewa Iblis lagi dan lagi membuatnya harus berpikir cepat sampai sakit kepala.


Tidak bisakah hidupnya tenang setidaknya hanya sekali?


Selain dua hal itu, sekarang, ia dihadapi dengan bayang-bayang kematian yang pernah ia temui di kehidupan pertama. Umurnya menginjak 29 tahun, tahun di mana kematiannya di kehidupan pertama. Meski ia tidak terlalu peduli, tapi ia terpikirkan akan sisa hidupnya sendiri yang mulai menipis.


Tersisa satu tahun, apa itu cukup? Waktu mengejarnya, masalah terus berdatangan tanpa penyelesaikan singkat. Andai saja ia cukup kuat untuk mengakhiri segalanya, ia tidak perlu berada di posisi berbahaya setiap saat. Perang kehidupan ini, tidak lebih baik dari kehidupan pertama.


Xie Ruo menghela napas panjang. Ia sangat lelah secara mental.


Ketika tengah melamun sendirian sambil melihat bintang-bintang dan pemandangan bunga yang bermekaran, Qu Xuanzi datang memeluknya dari belakang. Ia tidak tahu apa yang baru saja Xie Ruo ketahui, tapi ia tahu bahwa suasana hati istrinya sedang tidak baik. Jika boleh, Xie Ruo pasti sudah minum anggur sekarang.


"Sudah terlalu malam, apa kamu tidak bisa tidur?" Qu Xuanzi mencoba meringankan beban pikiran Xie Ruo dengan sedikit basa-basi. Meski ia tidak pandai, ia bisa mencoba.


Xie Ruo mengubah rautnya senormal mungkin, lalu tersenyum sambil menggenggam lengan Qu Xuanzi yang memeluknya. "Bagaimana kau bisa datang tiba-tiba? Aku tidak merasakannya."


"Jika kamu sudah tahu aku akan datang, aku tidak bisa memberi kejutan," balas Qu Xuanzi. "Apa aku terlalu lama kembali?"


Xie Ruo menggeleng. Malah biasanya Qu Xuanzi akan menghilang berbulan-bulan. Ini hanya beberapa hari, tentu tidak lama. "Aku justru terkejut kau kembali begitu cepat."


"Aku tidak bisa pergi terlalu lama." Bagaimanapun, Dunia Atas juga tidak sepenuhnya aman. Dunia Tengah justru lebih buruk lagi. Ia sampai tidak bisa membiarkan Xie Ruo sendiri terlalu lama.


Xie Ruo paham, tapi itu justru membuatnya merasa menjadi beban. Ia kembali teringat dengan masalahnya dan menjadi murung. Karena merasa sendu, ia sedikit berbalik dan memeluk Qu Xuanzi.


"Waktu sudah berganti, hari ini adalah ulang tahunku, tapi aku membenci tahun ini," gumam Xie Ruo.


Qu Xuanzi tahu maksudnya. Apa yang dialami Xie Ruo di dua kehidupan terlalu membekas. Terutama untuk hari kematiannya sendiri di kehidupan pertama, itu adalah hari terburuk di mana saat itu juga ia harus menerima semua yang nantinya dipaksa menyaksikan hal terburuk dalam hidupnya.


"Itu tidak akan terulang." Qu Xuanzi mengusap rambut Xie Ruo dengan lembut. Jika ada hari itu, ia akan mencegah untuk tidak membuatnya menjadi kenyataan.


"Aku harap begitu," balas Xie Ruo. "Tadi aku mendapat 'tamu'. Aku sudah tahu rencana Dewa Iblis hampir secara keseluruhan."


"Aku dengar kau bertemu mata-mata Dewa Iblis." Qu Xuanzi baru-baru ini mendengarnya dari hewan suci ketika melihat Xie Ruo kembali ke istana dengan aroma darah yang kental. Itu sebabnya ia buru-buru menemui Xie Ruo.


"Sebenarnya, Dewa Iblis akan mulai mengaktifkan altar pengorbanan dan memcariku setelah melahirkan," kata Xie Ruo. Dia diam untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Dia menginginkan darah campuran lain, selain kau dan aku."


Qu Xuanzi dalam sekejap paham. Sebenarnya, ia sudah menduga, itu alasannya ia bersikeras membawa Xie Ruo ke Dunia Atas, agar sementara dapat menjauh dari Dewa Iblis. Tapi ia tahu, itu tidak akan bertahan lama. Dewa Iblis tetap bisa ke Dunia Atas secara langsung.


Tapi meskipun telah menduganya, ia tetap agak terkejut. Di masa lalu, Dewa Iblis mengincarnya sebagai darah campuran. Ia tahu persis tujuan Dewa Iblis. Sekarang, Dewa Iblis justru mengincar anaknya.


"Xuanzi ... bagaimana jika aku gagal?" Xie Ruo merasa takut, tapi tidak bisa mengatakannya.


"Dewa Iblis tidak akan mengincar secara langsung. Selama itu, aku yang akan melindungimu, dan anak kita." Qu Xuanzi mengatakannya penuh arti. Ia tidak akan membiarkan Xie Ruo dalam bahaya sekali lagi, meski bayarannya akan mahal.


"Aku tidak ingin jika anak kita mengalami hal yang sama, bencana yang sama. Aku ingin menyelesaikannya." Qu Xuanzi tidak ingin hanya berdiri di belakang, juga tidak menolak perlindungan Qu Xuanzi. Ia akan menghalalkan segala cara, meski harus mengorbankan ribuan darah.


"Baik."


"Ketika kecil, aku kehilangan keluarga, tidak ada kasih sayang, dan dipenuhi kepalsuan. Terlalu banyak kehilangan sangat menyakitkan. Aku tidak ingin ... mereka mengalami hal yang sama."


"Semua ini akan selesai. Selama ada kamu, mereka baik-baik saja. Aku juga tidak akan membiarkan hal buruk terjadi."


Qu Xuanzi diam untuk beberapa saat, menangkap maksud dari ucapan Xie Ruo. Diam-diam ia mengepalkan tangan, lalu berkata, "Tidak ada 'jika', kau akan baik-baik saja."


"Itu hanya perumpamaan." Xie Ruo berdecak, seolah yang dikatakannya hanya main-main.


"Bagiku, tidak ada perumpamaan atau apa pun itu." Qu Xuanzi memasang wajah cemberut.


Xie Ruo mengangguk mengiyakan, lalu tersenyum. "Jangan cemberut seperti itu, terlihat jelek." Xie Ruo mengejek sambil menarik-narik pipi Qu Xuanzi. "Kau akan menjadi seorang ayah, tapi sikapmu masih kekanakan. Hei, ingat umurmu!"


"Aku hanya kekanakan di depanmu, itu bukan masalah." Ia tetap terlihat datar meski terlihat lebih lembut. Xie Ruo jadi merasa, di depannya bukanlah Qu Xuanzi melainkan seekor kelinci tanpa ekspresi.


Qu Xuanzi membiarkan Xie Ruo mencubit kedua pipinya dengan gemas. Sebenarnya, ia bersikap menyebalkan agar Xie Ruo melupakan apa yang baru saja dikatakan. Karena emosi Xie Ruo mudah berubah, mengalihkannya tidak sulit.


Meski sudah menjawab ucapan Xie Ruo dalam hati, ia tetap tidak ingin hal itu terjadi. Jika terjadi sesuatu pada Xie Ruo, ia tidak akan memaafkan diri sendiri. Baginya, Xie Ruo adalah satu-satunya alasan ia berdiri di dunia ini.


"Sudahlah, sepertinya cubitanku hanya terasa seperti usapan." Xie Ruo bersandar di pinggir jendela.


Qu Xuanzi tersenyum. "Jika lebih keras, mungkin akan merah."


"Jangan mengejekku ...." Xie Ruo memutar bola mata. Ia tahu, ia tidak sekuat Qu Xuanzi, ia hanya butiran debu.


Tepat pada saat itu, Xie Ruo merasakan pergerakan yang cukup keras dari dalam perutnya. Ia sampai terkejut. Cepat-cepat ia meraih tangan Qu Xuanzi dan meletakkannya di perut buncitnya.


"Dia sedang memarahimu," seru Xie Ruo.


"Kenapa?"


"Kau mengejekku."


Qu Xuanzi terkekeh, kemudian berjongkok di depan Xie Ruo. Ia mengusap perut Xie Ruo dengan lembut, sampai akhirnya merasakan pergerakan yang menonjol di telapak tangannya.


Entah bagaimana, ada rasa bahagia dalam hatinya meski tidak bisa diungkapkan. Ia berkata, "Ternyata aku memang sedang dimarahi."


"Benar, 'kan? Oleh karena itu, jangan bersikap sombong."


"Aku tidak sombong."


"Baru saja kau mengatakan cubitanku terlalu lemah." Xie Ruo cemberut sampai keningnya berkerut.


"Tidak, aku merasa sakit. Hanya saja, jika sedikit lebih keras, rasa sakitnya akan membuat kulitku merah."


"Sama saja."


Qu Xuanzi tersenyum kecut. "Baik, sama saja." Ia menyerah. Daripada membuat Xie Ruo emosi dan semakin serba salah, ia tidak lagi memperpanjang perdebatan hanya karena masalah cubitan sakit atau tidak.


...----------------...


Sudah dulu untuk bab ini, tugasku sedang numpuk dan sekarang aku ngantuk. Baru selesai malam jam 9 kurang, lho. Karena tadi pagi ngampus, terus kerjain tugas semua matkul yang seabrek. BTW, aku didaftarin dua kampus sekaligus dengan jurusan itung-itungan, jadi nih otak kudu banyak rileks supaya nggak kayak di artikel baru-baru ini—tentang mahasiswa U*M bundir.


Jadi sorry kalau semakin lama bab semakin pendek. Tapi kalau jumkat makin pendek, bab makin banyak, jadi sebenarnya nggak ada bedanya. Kan kalau jumkat banyak, bab sedikit. Lebih ke sorry kalau telat update atau ada bolong update sih, karena kerjaanku bukan cuma nulis. (apalagi kalau tiba-tiba diajak mabar sama temen, penyakit gamer nob kambuh :v)


Sekian note dariku,


Terima gaji eh terima kasih..