
Angin malam berhembus membunyikan gemerisik daun di Dunia Liontin yang tenang.
Qu Xuanzi duduk menutup mata memusatkan qi dalam tubuhnya dan mengontrolnya ke seluruh meridian untuk memperbaiki beberapa dantiannya yang rusak karena cedera masa lalu.
Sepanjang hari dia melakukan hal yang sama tanpa peduli lingkungan sekitar. Dia juga harus memeriksa Xie Ran sesekali memastikan gadis itu baik-baik saja. Dia tidak bisa mempercayakannya pada dua pria yang tak bisa diandalkan itu.
Ketika Qu Xuanzi membuka mata mengakhiri penyembuhannya sementara, lalu mendengar suara berisik yang tidak asing di sekitar Dunia Liontin.
Siapa yang menyangka, asal suara berisik itu adalah seorang gadis yang sedang bersenang-senang kala mabuk dan mempermainkan dua Naga yang jauh lebih besar. Sedangkan dua Naga itu hanya bisa memasang wajah gelap merasa kodratnya sebagai Naga terkuat jatuh sampai hancur berkeping-keping.
"Ayo kita terbang! Go go go!" Xie Ran berteriak seperti anak gembala yang menunggangi sapi. Dia duduk di punggung Long Huo dengan semangat membara meski pada kenyataannya tubuhnya sempoyongan.
Dua Naga sangat ingin menangis saat itu juga. Belum cukup Xie Ran mengetuk Long Yun dan memainkan tanduknya, sekarang Long Huo dijadikan odong-odong untuk memuaskan masa kecilnya yang tidak bahagia.
"Ayo! Ayo! Ayo!" Xie Ran menyemangati Naga yang ditungganginya sedangkan Long Huo hanya bisa berjalan dengan lemah terpaksa menurut.
Menyadari Xie Ran tidak lagi di punggungnya, Long Huo terkapar malu saat itu juga. Derajatnya hancur!
Xie Ran mendaki batu besar dengan susah payah dan kadang terpeleset. Tapi dia tetap keras kepala mendaki dan berdiri di ujung batu besar sambil melompat-lompat.
"Master!" Long Yun dan Long Huo lelah. Untuk pertama kalinya mereka melihat Xie Ran mabuk dan tak terkendali. Sifat ini lebih buruk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mereka bersumpah tidak membiarkan Xie Ran mabuk lagi!
"Kuajak kau! Melayang tinggi! Dan kuhempaskan ke bumi!" Xie Ran bernyanyi dengan suara mabuknya dan nada tak beraturan sambil melompat-lompat. Dua Naga itu sudah takut Xie Ran jatuh dan kepalanya terbentur sehingga tambah gila. "Kumainkan sesuka hati! Lalu kau kutinggal pergi~"
"Kuajak kau melayang tinggi ...."
"Dan kuhempaskan ke bumi!"
"Kumainkan sesuka hati ...."
"Lalu kau kutinggal pergi~"
Xie Ran terus bernyanyi diulang-ulang hingga membuat dua Naga benar-benar menangis sekarang. Lagunya saja terasa sangat kejam ketika mereka mendengarnya.
Begitu Xie Ran melompat sekali lagi, kakinya terpeleset hingga tidak lagi menapak batu besar. Tidak ada teriakan, dia hanya terdiam merasakan tubuhnya yang sudah melayang semakin melayang dan terhempas ke bawah.
Sosok putih segera menangkap Xie Ran yang melayang dan mendarat dengan aman di tanah. Pandangan tajamnya terarah pada dua Naga sedangkan yang ditatap segera meringkuk tidak berdaya.
"Zizi ... kok kamu ada dua?"
Suara kekanakan itu membuat Qu Xuanzi menoleh. Dilihatnya Xie Ran di gendongannya, gadis itu benar-benar mabuk berat sampai tidak terkendali.
"1... 2 ... 4 ...." Xie Ran menghitung jumlah Qu Xuanzi yang berbayang di matanya dan menggeleng-geleng merasa hitungannya salah.
Qu Xuanzi mengerutkan dahi. "Dari mana kau mendengar lagu aneh itu?"
"Oh, itu. Ketika bertugas di Indonesia, aku tidak sengaja mendengarnya dan menyukainya meski tidak tahu artinya." Xie Ran bicara sambil tertawa. Kakinya yang menggantung digerak-gerakkan dengan riang dan bersenandung.
"Lain kali jangan minum."
Xie Ran tidak langsung menanggapi. Dia menatap Qu Xuanzi dengan mata menyipit. Dengan tidak sopan, ia mencubit kedua pipi Qu Xuanzi dengan gemas. "Zizi ... aku menangkapmu!"
Gadis ini ... benar-benar berbahaya jika mabuk. Qu Xuanzi menghela napas dan membiarkan gadis itu terus bernyanyi-nyanyi lagu bintang kecil sambil mengayunkan kaki dan tangannya sedangkan Qu Xuanzi membawanya pulang.
"Yīshǎn yīshǎn liàngjīngjīng
(Kelap kelip gemerlapan)
mǎn tiān doū shì xiǎo xīngxīng
(Langit penuh dengan bintang-bintang kecil)
guà zài tiānshàng fàng guāngmíng
(Bergelantung di langit bersinar terang)
hǎoxiàng xǔduō xiǎo yǎnjīng"
(Seperti mata kecil yang banyak)
Xie Ran sangat tidak bisa diam. Jika saja Qu Xuanzi tidak mengeratkan pegangannya, gadis itu akan jatuh dan berguling. Sepanjang jalan hanya tahu bernyanyi seperti anak kecil dan melambaikan tangan seperti berada di konser.
"Aaaaa, aku tidak bisa bergerak!" Xie Ran semakin menjadi-jadi. Pegangan Qu Xuanzi sangat erat sehingga ia sulit bergerak.
Qu Xuanzi menghentikan langkahnya. "Ranran, nanti jatuh."
"Jatuh itu ke bawah, bukan ke atas. Kalau kau mau tahu, itu disebabkan oleh gaya gravitasi bumi. Kau tahu gravitasi?" Xie Ran menyahut dengan tatapan polosnya tepat di hadapan Qu Xuanzi, posisi mereka sangat dekat sekarang.
Sedangkan Qu Xuanzi hanya bisa terdiam, dia mengiyakan apa yang dikatakan Xie Ran tanpa banyak bicara. Jika dia bicara, Xie Ran akan semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba Xie Ran mengalungkan tangannya ke leher Qu Xuanzi dan memeluknya. "Belakangan ini aku bermimpi tentang laut. Aku takut laut."
Keheningan menyelimuti keduanya. Qu Xuanzi tidak memiliki tanggapan lain dan bersedia mendengarkan keluhan Xie Ran.
Xie Ran tertawa. "Aku suka melompat dari jet, terjun menggunakan parasut. Tiba-tiba dadaku berdarah ... aku jatuh ke laut, darahku tergenang di atas air. Kakiku sakit seperti tertusuk sesuatu sehingga tidak bisa berenang. Tidak ... aku tidak tertusuk. Hiu nakal membuat kakiku patah dan aku membunuhnya. Aku pikir aku akan mati, tapi justru terbangun di rumah sakit. Ekspektasi selalu tidak sesuai dengan realitas."
Qu Xuanzi diam untuk beberapa saat lalu berkata, "Kau sudah mengalami banyak hal berat."
"Tidak ... aku tidak bersyukur aku hidup saat itu karena gajiku terpotong biaya rumah sakit. Aku koma beberapa bulan. Banyak sekali yang dikeluarkan~" Xie Ran cemberut. Dia lebih menghargai uangnya dibanding nyawanya karena tanpa uang, dia tidak bisa mempertahankan nyawanya. Jika tidak ada nyawa, dia tidak perlu memikirkan uang dan bekerja seperti itu.
"Sekarang sudah berbeda."
Mereka sampai di kamar Xie Ran. Qu Xuanzi meletakkan Xie Ran yang mabuk ke atas ranjang tidak mempedulikan protes apa pun. Xie Ran menolak tidur meski Qu Xuanzi bergeming dan tetap menyelimutinya.
"Kau sudah mabuk berat, tidak boleh keluar. Bagaimana jika terjadi sesuatu?" Qu Xuanzi berniat mengancamnya, tapi terasa kaku jika yang diancam adalah Xie Ran.
Xie Ran menatapnya dengan polos. "Bukankah ada kamu?" Ia tersenyum lebar. "Kau bahkan menangkapku ketika jatuh tadi."
Butuh beberapa saat untuk Qu Xuanzi menyahut. "Kau sangat mempercayaiku." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
"Lebih dari itu ... aku harap kau tidak meninggalkanku seperti yang lain ... terlepas bagaimana caramu memandangku."
"Aku bersamamu."
"Tapi kau akan pergi suatu hari ... entah kemana kau akan pergi ... kapan pun itu ... selagi masih bersama, aku ingin mempercayaimu sepenuhnya."
"Aku tidak akan pergi," sahut Qu Xuanzi serius. "Kapan pun atau kemana pun," lanjutnya kemudian mengusap wajah Xie Ran. "Meski aku harus pergi, aku akan kembali."
"Kau akan kembali?"
Qu Xuanzi mengangguk pelan. "Di mana pun kau berada, di sana tempatku."
Xie Ran terhenyak sebentar. Meski dia mabuk, dia cukup sadar untuk menyadari situasi walau sedikit. Dia masih sedikit sadar dan sudah mencoba mengendalikan diri sebaik mungkin agar tidak melakukan kesalahan. Itu sebabnya dia nyambung jika diajak bicara karena sebagian kesadarannya masih ada.
Sekarang, mendengar perkataan Qu Xuanzi, dia benar-benar terdiam dan nyaris tidak sadar lagi. Meski sulit mencernanya dengan benar, dia sudah berusaha.
"Aku tidak pernah mengatakan keraguan."
"Lalu, siapa aku di matamu?"
"Xie Ran," jawab Qu Xuanzi. "Kau adalah Xie Ran, bukan orang lain. Bukan Isabella atau Sang Ran yang dipenuhi kegelapan. Meski dulunya kamu Isabella, sekarang sudah berbeda. Kehidupanmu sudah berbeda." Qu Xuanzi tahu jelas ke arah mana Xie Ran bicara. Selama ini Xie Ran tidak pernah melepas identitasnya sebagai Isabella, sang pembunuh berantai atau mesin pembunuh yang dikendalikan dan dipenuhi hal buruk sampai kematiannya. Qu Xuanzi ingin Xie Ran hidup tanpa kekhawatiran masa lalunya sebagai Isabella.
Xie Ran mengangguk canggung. "Ya, aku Xie Ran." Kemudian dia mengerjap mata dan memegang kepalanya. "Kepalaku sakit."
"Tidurlah, jangan memaksakan diri untuk sadar."
Xie Ran menahan lengan Qu Xuanzi ketika pria itu akan pergi. "Kakak Xuanzi, bisakah kau menemaniku?" katanya kemudian menggigit bibir. "Aku takut ... jika sadar nanti, semuanya hanya ilusi."
Qu Xuanzi melihat mata berair Xie Ran tidak tega dan mengangguk. "Baik."
Xie Ran memeluk lengan Qu Xuanzi dan menggunakannya sebagai bantalan. Pegangannya begitu erat seolah jika terlepas, segalanya akan hilang.
Qu Xuanzi melihatnya dengan tatapan lembut yang tidak pernah dilihat siapapun. Dia memberi kecupan singkat di puncak kepala Xie Ran dan memeluknya.
Xie Ran telah mengalami banyak rasa sakit dan sulit melepasnya sampai sekarang. Qu Xuanzi tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya sehelai rambut pun. Jika ada yang berani, ia akan membunuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari menunjukkan sinarnya disertai taburan salju dari langit biru. Pepohonan dilingkupi salju putih begitu pula hamparan rumput yang memutih.
Xie Ran membuka mata setelah merasakan nyenyaknya tidur. Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata hitam jernih tepat di depannya.
Hening seketika. Xie Ran tersentak kaget menyadari situasi dan berbalik ke belakang sesegera mungkin menghindari kontak mata lebih lama.
Ada apa ini? Xie Ran berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, namun yang dia ingat terakhir adalah percakapannya dengan Qu Xuanzi. Setelah itu dia benar-benar tidak sadar.
Xie Ran menggigiti kukunya gelisah. Merasakan jantungnya berdegup kencang seakan akan bocor, Xie Ran lebih panik lagi berpikir telah memiliki penyakit jantung. Oh tidak, jantungnya akan bocor!
"Ranran bodoh, hanya seperti itu apa yang harus ditakutkan?" gumam Xie Ran memukul kepalanya sendiri. Dia menghela napas menenangkan jantungnya yang tidak terkendali kemudian berbalik kembali.
Begitu Xie Ran meluruskan tubuhnya, sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya hingga membuat Xie Ran benar-benar kosong. Mata Xie Ran bertemu dengan iris hitam teduh yang menatapnya terlihat sama terkejutnya. Xie Ran benar-benar bingung.
Kondisi macam apa ini!
Qu Xuanzi menjauhkan tubuhnya dengan cepat dan duduk dengan kaku. Awalnya ia ingin mengatakan sesuatu pada Xie Ran karena gadis itu tiba-tiba memalingkan wajah, tapi siapa sangka akan menjadi seperti ini.
"Teman-temanmu mencarimu. Lebih baik segera temui mereka dan pakai pakaian hangat. Di luar dingin." Qu Xuanzi segera pergi dari sana setelah mengatakannya. Wajahnya tetap datar seperti biasa.
Sedangkan Xie Ran hanya terdiam di tempat tanpa merubah posisi. Dia mengerjap mata, menyentuh bibirnya, ia teringat ciuman panas waktu itu dan dia segera menutup mata membuang semua pemikiran kotor itu.
Xie Ran meneguk saliva. Dia merasakan jantungnya lagi-lagi ingin meledak, mendadak menjadi khawatir. Dia menyentuh dada kirinya dan menepuknya berusaha menetralkan, tapi justru semakin keras hingga membuatnya gila. Dia tidak ingin jantungnya sampai bocor!
Setelah beberapa lama bersiap dan mengenakan jubah, Xie Ran pergi menemui teman-temannya yang sudah menunggu. Qu Xuanzi benar, udaranya lebih dingin karena sudah memulai musim dingin. Salju bertaburan di tanah memberi warna putih pada tanah cokelat dan dedaunan.
"Xiao Ran, kenapa wajahmu merah? Kau demam?" Mei Liena yang melihat Xie Ran segera menyentuh dahinya, tapi tidak terasa hangat.
"Mungkin karena kemarin aku mabuk jadi masih merah." Xie Ran berpikir demikian. Sampai sekarang dia masih merasa jantungnya akan meledak membuatnya tidak nyaman.
Mei Liena mengangguk-angguk percaya dan menarik Xie Ran pergi mengikuti yang lainnya. Xie Ran bangun agak telat, itu sebabnya dia muncul terakhir entah dari mana. Padahal sejak kemarin mereka mencari Xie Ran yang tiba-tiba hilang.
"Kau ke mana saja kemarin?" Zhong Xiaorong menanyainya.
"Aku ... mencari tempat aman. Aku takut membuat keributan ketika mabuk, itu sebabnya aku langsung membangun tenda sendiri dan tidur," dusta Xie Ran dan untungnya mereka semua percaya. Lagipula tidak ada alasan lain lagi apalagi salju mulai turun semalam.
"Setelah sampai akademi, kita akan fokus pada arena dan meraih peringkat langit. Jangan sia-siakan pelatihan." ujar Pei Xi.
Mei Liena mendesah. "Beberapa bulan lalu aku sangat ingin kembali ke akademi, entah kenapa sekarang aku malah ingin tetap di sini. Akademi membosankan."
Yan Yao mengangguk setuju. "Benar, di sini kita berlatih dan bermain sepuasnya. Tidak perlu bergelut dengan teori ketika dalam kelas."
Zhou Kui melanjutkan, "Aku juga berpikir begitu. Waktu berlalu begitu cepat."
"Akademi maupun hutan sama saja. Kita harus berjuang di arena setelah kelas dan meraih 10 besar." Zhong Xiaorong menyemangati. Selama ini, dia telah merubah sikapnya menjadi tidak dingin dan lebih bersahabat pada yang lain. Sikap tuan putrinya juga tertinggal entah ke mana.
"Kita akan masuk turnamen setelahnya." Liu Chang semangat memikirkannya. Dia tidak akan diremehkan dan diasingkan keluarganya lagi setelah ini.
Mereka semua terlihat begitu semangat dan bersenda gurau di jalan. Hanya saja Xie Ran yang terlihat canggung selama beberapa saat.
Xie Ran masih saja terpikir akan kejadian tadi pagi ditambah takut terkena penyakit jantung. Itu berbahaya.
Setelah beberapa lama berjalan ke arah akademi, Xie Ran dapat menormalkan kondisinya dan ikut bersenang-senang. Pada akhirnya, sampai di gerbang akademi. Mereka sudah merindukan rumah mereka satu ini.
Perjalanan ke akademi membutuhkan waktu seharian penuh. Jadi, ketika sampai, langit sudah gelap sehingga mereka harus berpisah ke tempat masing-masing.
Pagi harinya, Xie Ran pergi ke perpustakaan setelah kelas berakhir. Dia telah memasuki kelas langit hari ini dan banyak yang tertinggal. Jadi dia memutuskan untuk membaca beberapa agar tidak tertinggal sekalian mencari buku teknik lain yang mungkin cocok untuknya.
Pengetahuan tentang logam spiritual sudah tercetak di kepalanya. Dia hanya perlu mencari informasi lain tentang logam spiritual dan dapat membuat senjata spiritual secepatnya.
Setelah lama mencari, Xie Ran mendapat satu buku tentang logam spiritual yang terlihat usang. Jelas tidak ada yang menyentuh buku itu sebelumnya sehingga terlihat begitu jelek dan tidak terurus. Berbeda dari buku yang Long Huo berikan.
Ketika Xie Ran mencari buku lainnya yang mungkin bisa membantu, bahunya bertemu dengan bahu orang lain membuatnya menoleh. Mata Xie Ran membulat seketika.
"Yang Mulia, maaf tidak mengenali lebih cepat." Xie Ran segera bersikap sopan di depan Kaisar satu itu. Ayolah, dia masih sayang nyawa. Jika ini adalah Xie Ran yang dulu, dia tidak akan peduli.
"Tidak perlu sopan. Tidak disangka, Nona Xiao begitu mudah mengenaliku."
Bukankah memang jelas bahwa dia Zhong Guofeng? Meski pakaiannya hitam polos, tetap saja wajahnya terlihat. Jika dia mengenakan topeng, mungkin Xie Ran sudah mengabaikannya sejak awal. Apa di dunia ini seseorang dapat tersamarkan hanya dengan mengubah cara berpakaian?
"Yang Mulia datang ke Akademi Tianshang, bukan hanya ingin berkunjung, 'kan?"
"Kedepannya, lebih baik kau tidak memanggilku seperti orang lain agar tidak canggung. Bicaralah dengan santai."
"Apa tidak masalah?" Xie Ran takut jika dia memanggil pria ini dengan sebutan pria tak tahu malu, lalu dia kehilangan kepala saat itu juga.
"Tidak masalah. Lalu, aku juga akan memanggilmu dengan sebutan Ranran. Sama seperti aku memanggil adikku dengan sebutan Rongrong."
Apa mereka sedekat itu? Xie Ran tidak pernah berpikir dirinya dengan sang Kaisar cukup dekat sehingga bersikap santai dan memanggil dengan nama dekat. Tapi dia tidak bisa menolak sehingga dia tersenyum agak canggung.
"Kalau begitu, sesuai yang kau inginkan." Xie Ran tidak perlu sungkan lagi. Ia juga tidak ingin terbebani hanya karena embel-embel kaisar itu.
Xie Ran kembali mencari buku dengan serius di setiap sisi, tapi kehadiran Zhong Guofeng membuatnya tidak nyaman dan sangat ingin cepat-cepat pergi. Kenapa pria itu terus disana?
"Zhong Guofeng, tadi aku mengatakan kau datang tidak hanya sekedar berkunjung, kalau boleh tahu, ada apa kau datang? Mungkin aku bisa bantu." Xie Ran berpura-pura menawarkan bantuan. Persetan dengan menawarkan bantuan dan membebani diri, dia lebih suka Kaisar satu ini pergi jauh-jauh menghilangkan udara pengap.
"Sebelumnya aku ada urusan dengan Dekan Akademi, sekalian ingin membicarakan sesuatu dengan Rongrong." Zhong Guofeng beralasan. Sebenarnya, alasan pertamanya selain urusan dengan Dekan adalah Xie Ran sendiri. Dia ingin lihat bagaimana perkembangan gadis itu. Sesuai dugaan, gadis itu tumbuh lebih kuat dan justru sekarang lebih cantik.
"Rongrong dan aku berada di paviliun yang sama. Apa kau ingin bertemu dengannya? Aku bisa mengantar."
"Sudah merepotkan Ranran." Zhong Guofeng tidak menolak justru tersenyum. Senyum yang tidak pernah ditunjukkan pada siapapun terkecuali gadis di depannya.