The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
196. Dewi Cahaya (1)



Pintu besar ruang perpustakaan terbuka lebar. Xie Ruo masuk ke dalamnya, bersama seekor ular kecil yang melayang di udara sambil melesat melihat-lihat sekitar dengan penasaran.


"Kita kembali lagi ke sini, apa yang akan kau cari?" Long Long bertanya dari dalam alam kesadaran.


Xie Ruo melihat-lihat sekitar, tidak ada siapa pun. Ia berjalan sambil melihat-lihat, berharap ada sesuatu yang baru. "Aku ingin tahu, dari mana masalah ini dimulai."


"Aku pikir kau ingin tahu siapa yang baru saja mencelakaimu."


"Itu sebabnya aku ingin tahu asalnya. Qu Xuanzi tidak bisa menceritakan lebih detail, karena aku sendiri tidak tahu harus menanyakan apa. Lebih baik aku cari saja sendiri."


"Sepertinya bocah itu menemukan sesuatu, lihatlah!" seru Roh Guntur, keluar dari alam kesadaran begitu saja dan melompat-lompat ke bawah tangga.


Xiao Caihong melayang di atas lantai rune dengan pandangan bingung, sedangkan Roh Guntur langsung berdiri di atasnya sambil melompat-lompat.


"Aku pernah akan membukanya, tapi gagal." Xie Ruo ingat rune rumit itu. Tapi ia tidak berhasil membukanya.


"Cobalah sekali lagi, kemungkinan kau akan tahu jawabannya." Roh Guntur berseru sekali lagi dengan girang. Tubuh bundarnya melompat-lompat seperti bola.


Xie Ruo melihat Roh Guntur untuk beberapa saat, kemudian menuruti apa katanya. Sepertinya percobaan waktu itu masih belum cukup sampai Roh Guntur mendesaknya. Sudahlah, bola bulu itu yang paling tahu masalah kedewaan.


"Jangan gunakan sihir, tapi gunakan kekuatan jiwa." Roh Guntur memberi instruksi. Kekuatan jiwa, berarti menggunakan gabungan antara aura naga dan energi murni serta kekuatan Roh Guntur. Ketiga kekuatan mental yang membentuk kekuatan jiwa itu kemungkinan dapat memicu rune tak dikenal dengan alasan tertentu.


Xie Ruo mengikuti instruksi, memfokuskan diri pada kekuatan jiwa. Cahaya perak keluar dari tangannya, disertai bintik biru gelap yang samar menyebar ke permukaan rune. Tiap kekuatan jiwa mengisi tiap celah rune perlahan demi perlahan, menciptakan cahaya perak yang memancar ke langit-langit dan membentuk kolam cahaya.


Proses terjadi cukup cepat hingga Xie Ruo agak terkejut. Ia dapat merasakan kekuatan jiwanya tertarik lebih cepat, seolah memanggilnya masuk ke dalam kolam cahaya.


"Bagaimana bisa?" Xie Ruo masih bingung. Jelas-jelas sebelumnya ia masih tidak bisa membuka rune aneh ini dan berakhir padam.


"Rune ini hanya bisa dibuka oleh dewa utama. Nyonya masih dalam tahap setengah dewa, tidak bisa membukanya. Namun kehidupan kecil di tubuh Nyonya memiliki darah dewa, bukan tidak mungkin bisa membuka rune kecil ini." Roh Guntur bicara dengan riang, merasa hebat telah mengetahui banyak hal.


Sekarang, Xie Ruo baru paham. Ia tidak terpikir sampai sana penyebab ia bisa mengaktifkan rune.


"Semua jawaban ada di dalam, Nyonya tidak perlu terlalu banyak menggunakan kekuatan jiwa, biar sisanya rune itu yang mengatur agar tidak terkena serangan balik."


Xie Ruo kembali tenang dan menarik kembali tangannya, membiarkan kekuatan jiwanya melayang sendiri di udara menyatu dengan cahaya rune yang tersebar.


Cahaya perak yang berkilau di udara memberi visi tidak nyata dan bayangan kehidupan lain. Pandangan Xie Ruo berubah seketika, menjadi sebuah tempat yang dipenuhi dengan tumbuhan indah serta pegunungan besar. Ada terlalu banyak hal fantasi di sekitarnya, sampai Xie Ruo berpikir bahwa ia sudah tidak ada di dunia yang sama.


Ketika memperhatikan sekitarnya yang berubah menjadi padang rumput hijau dengan beberapa taman bunga dan awan-awan mengitari sekitar seolah berada di atas awan, Xie Ruo baru sadar bahwa ia berpindah tempat.


Bukan, ia tidak berpindah tempat, maksudnya pandangannya yang berubah. Seperti ilusi, atau bagian dari memori masa lalu seperti ketika ia berada di dalan ilusi mimpi buruk. Hanya saja, memori ini bukan miliknya.


Sepertinya jawaban yang dimaksud adalah dengan menunjukkan segala yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Xie Ruo ingat, ia berada di bagian lain Dunia Atas.


Di sisi selatan, tempat di mana para dewi utama tinggal. Bukan hanya dewi utama, beberapa dewi alam juga ada di sini bersama para peri pengikut yang setia.


Karena Xie Ruo yang membuka rune, maka hanya ia yang bisa melihat dan terbawa ke dalam memori dunia. Ia tidak lagi melihat Xiao Caihong dan Roh Guntur, juga tidak lagi melihat buku-buku yang bertengger mengelilingi ruangan. Hanya ada tanah lapang.


"Kenapa aku di sini?" Sekarang, pertanyaan itu yang memenuhi pikirannya. Kenapa ia harus ada di tempat yang sepi? Apa pertanyaannya sama sekali tidak ada jawaban selain langit dan bumi?


Ketika tengah memikirkannya, seseorang melintas dengan langkah riang membawa bunga matahari di tangannya sambil bersenandung. Ia adalah seorang wanita, dengan simbol cahaya di dahinya dan dengan iris emas yang indah.


Wanita itu duduk di atas batu, kemudian mengeluarkan sebuah buku dan menulis sesuatu. Tangannya yang lentik memegang kuas dan buku dengan lembut, lalu menuliskannya dengan hati-hati.


"Tahun ke-50, Dunia Atas. Jika di Dunia Dewa, bukankah baru beberapa jam? Atau menit? Aih, kenapa lama sekali hanya menunggu 10 tahun dunia dewa. Apa aku harus benar-benar menunggu selama 10.000 tahun lagi!" Wanita itu marah-marah dengan suara kekanakannya seperti anak kecil merajuk.


Xie Ruo penasaran siapa orang yang bicara hal aneh seperti itu seperti orang gila. Suaranya terasa tidak asing membuatnya sangat penasaran.


Ia mendekat untuk melihatnya. Wajah cantik dan cerah seperti matahari, didukung oleh iris emas indah yang lebih pekat dibandingkan mata emas peri, terlihat penuh kekuatan dan energik. Ia tampak agak pucat, namun itu justru membuatnya terlihat lebih polos dengan wajah kekanakan seperti remaja. Kecantikan tiada tanding yang didukung oleh kecerahan yang tiada batas, bahkan Xie Ruo agak terkejut.


Hanya saja, bukan kecantikannya yang membuat Xie Ruo terkejut. Selain wajah mereka berdua yang memiliki sedikit kemiripan, Xie Ruo jelas sangat mengenal wajah wanita aneh di depannya!


"Xie Ran?" Xie Ruo sangat terkejut. Tunggu dulu, apa ia benar-benar ada di memori dunia? Apa ini bukan ilusi yang disebabkan oleh seseorang?


"Dewi Cahaya, cepat sekali kau berlari, aku sampai tidak bisa mengejarmu ...."


Suara tak asing itu kembali membuat Xie Ruo sangat terkejut. Ia berbalik, melihat sosok wanita cantik berdiri sambil terengah-engah memegang lututnya. Meski begitu, senyum cerah di wajahnya yang memikat sangat sulit dilupakan.


"Ibu ...." Xie Ruo tidak tahu harus berkata apa.


Wanita itu adalah Wen Xi, berjalan ke arah wanita yang disebut sebagai Dewi Cahaya lalu menutup buku yang dipegangnya.


"Sudah kukatakan untuk memanggilku dengan nama." Iris emas itu terlihat malas sambil menyimpan kembali buku dan memainkan kelopak bunga matahari.


Wen Xi terkekeh. "Shu Xin, apa kau akan terus menggerutu seperti ini? 10.000 tahun bukan hal rumit, kau cukup berkultivasi dalam waktu panjang dan tidur, tanpa terasa sudah melewati ratusan ribu tahun lamanya."


"Aku tercipta dari alam, kenapa masih harus belajar? Ketika masih menjadi butiran cahaya, aku sudah banyak belajar dan berevolusi, tapi masih harus menunggu ribuan tahun lagi. Dunia ini membosankan." Shu Xin cemberut seperti anak kecil yang manja.


"Tapi bagi mereka kau itu masih bayi." Wen Xi mengejek membuat Shu Xin tambah cemberut.


"Sudahlah, jangan mengejek lagi. Xi'er, apa ayah masih kurang memberimu tugas sampai berani membolos seperti ini?"


Suara lainnya muncul dari sisi lain. Ia tampak sangat cantik dan memiliki beberapa kemiripan dengan Wen Xi. Senyumnya sangat elegan dan penuh keanggunan.


"Kakak, aku hanya sedikit bermain, apa salahnya?" Wen Xi tidak mau kalah dari kakaknya.


Wanita itu tak lain adalah Wen Ya, saudari Wen Xi. Ia terlihat lebih dewasa daripada saudaranya sendiri yang agak nakal. Sangat kontras perbedaannya.


"Dewi Cahaya, jika tidak keberatan, bisa ikut dengan Xi'er untuk menghabiskan waktu luang. Kebetulan, ada sangat banyak hal yang harus dikerjakan."


"Ah, aku tahu. Pasti pak tua itu menyuruhmu membersihkan kandang naga lagi, 'kan?" Shu Xin bicara asal, namun wajahnya serius.


Wen Xi menatapnya dengan aneh. "Bukan kandang, tapi altar. Juga, perbaiki kosakatamu sebelum pergi ke Dunia Dewa."


"Aku hanya salah sedikit," gerutu Shu Xin.


"Kita pergi sekarang." Wen Ya menarik adiknya yang nakal dan suka mencari masalah dengan paksa—seperti menarik domba. Maklumkan saja, Wen Xi masih terlalu muda untuk disebut sebagai wanita, sama seperti Shu Xin.


Di sisi lain, Xie Ruo masih terdiam dengan semua interaksi itu. Tidak disangka, ibunya akan sangat akrab dengan wanita yang mirip dengan anak masa depannya.


Tidak, sepertinya ia menangkap sesuatu. Seperti yang pernah Qu Xuanzi katakan mengenai Xie Ran, ia curiga bahwa Xie Ran sebenarnya adalah Shu Xin, sang Dewi Cahaya.


Jika itu benar, kenapa Dewi Cahaya melakukan pengkhianatan? Padahal jelas-jelas hubungan antar dewi ini sangat bagus seperti saudara. Apa yang terjadi setelah 10.000 tahun?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kehidupan Dunia Atas bisa dikatakan normal dan tidak saling ikut campur. Bisa dikatakan, tingkat individualisme sangat tinggi sehingga lebih banyak dewa yang kesepian dibandingkan yang memiliki pasangan atau teman.


Karena hal itu, kadang para dewa berkelana untuk mencari pengalaman atau menjernihkan pikiran dengan hal yang mereka suka. Seperti saat ini, Shu Xin pergi menantang diri ke tempat gelap.


Perbatasan antara Dunia Atas dan Dunia Bawah sangat jelas terlihat dan dipisahkan oleh Sungai Styx yang mengerikan. Wanita itu terbang dengan sayapnya yang seperti malaikat di antara kegelapan, melihat banyak monster kegelapan yang berlalu-lalang menghindarinya.


Wen Xi dan Wen Ya sibuk, ia tidak memiliki teman sampai terasa sangat bosan. Ia dengar Sungai Styx mengalami masalah karena ledakan roh yang terjadi akibat monster kegelapan yang lepas dari penjara abadi. Ia mengajukan diri menyelesaikan masalah untuk mengisi waktu luang, sekalian mencoba memasuki daerah kegelapan yang tidak pernah dipijakinya.


Posisinya sebagai dewi alam sangat kuat, apalagi kekuatannya berada di puncak kekuatan para dewi alam. Karena umurnya sudah ratusan tahun—mungkin—maka kekuatannya dapat lebih kuat dibandingkan yang lain.


Monster kegelapan yang berada di penjara abadi termasuk ke dalam kategori monster berbahaya yang dapat mengancam keseimbangan alam. Shu Xin susah payah mengalahkannya, ditambah kekuatan cahayanya ditekan bila di dalam kegelapan sehingga tidak bisa digunakan maksimal.


Karena hal ini, ia terluka. Jika bukan karena mengambil kesempatan akan fungsi dari Sungai Styx yang dapat meledakkan roh, ia mungkin akan mati. Karena monster itu sudah kembali ke segel penjara abadi di tangannya, ia bisa kembali ke Dunia Atas.


Tapi begitu ia akan kembali, luka di sayapnya memburuk sehingga tidak bisa terbang. Ditambah, monster tadi telah meracuninya dengan racun parasit yang perlahan akan mengkorosi tubuhnya.


Karena ia berada di Dunia Bawah, ia tidak bisa kembali untuk sementara dan terpaksa menetap sebentar. Ia pergi menjauhi para iblis, menyamarkan auranya dan menelusuri hutan untuk mencari tempat aman.


Tapi siapa sangka, ia akan bertemu seorang iblis yang sedang berburu dan nyaris memanahnya. Beruntung panahnya meleset, atau Shu Xin akan mati saat itu juga.


"Kau bukan iblis." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Iblis itu menatap Shu Xin dengan waspada, namun sebaliknya, Shu Xin tampak sangat tenang.


"Lalu, apa kau akan membunuhku?" Shu Xin justru mengajukan pertanyaan.


"Tergantung apa yang akan kau lakukan." Iblis itu menyimpan kembali busurnya. Melihat luka yang dialami Shu Xin, ia merasa tidak buruk jika sedikit menyelamatkan ras lain. "Di tempatku juga ada seseorang dari ras lain, aku mungkin bisa membantumu."


"Apa itu tawaran bantuan?"


"Terserah bagaimana penilaianmu."


Shu Xin diam untuk beberapa saat. Mau tidak mau, ia mengikuti pria itu dengan setengah hati. Pria itu membawanya ke suatu tempat yang terpencil, lalu membantunya mengobati luka. Karena Dunia Bawah sudah terbiasa akan hewan berbisa, pria itu tahu ramuan penangkal segala racun dan kebetulan bisa menyembuhkan racun yang mengalir di nadi Shu Xin.


Sejak saat itu, pandangan Shu Xin terhadap iblis berubah. Menurutnya, tidak semua iblis buruk. Meski ada beberapa yang menjengkelkan seperti mengusirnya terang-terangan karena auranya yang terlalu bertolak belakang, tetap saja ada yang membantunya. Terutama pria itu.


"Aku belum tahu namamu." Shu Xin tidak tahu bagaimana memanggilnya dan bagaimana ia akan membalas budi nanti. Setidaknya, ia harus tahu namanya.


"Yue ... Yuwen Yue."


"Shu Xin."


"Kau terlalu mudah mengungkapkan namamu." Yuwen Yue mendengus.


"Kau juga terlalu mudah."


"Aku sudah cukup terkenal." Jadi percuma saja menyembunyikan namanya.


Shu Xin menggedikkan bahu. "Aku juga terkenal." Asal tidak memberitahu identitas aslinya sebagai dewi, ia tidak masalah. Ia tidak suka namanya yang dipilih sendiri diubah begitu saja.


Tidak tahu sejak kapan dan bagaimana, mereka menjadi akrab.


Seperti yang dikatakan seseorang, tidak ada persahabatan antara pria dan wanita yang kekal. Dari yang awalnya orang asing, bisa menjadi teman, lalu berubah menjadi lebih dari teman. Apalagi jika waktu terus berjalan begitu panjang, melebihi panjangnya umur manusia.


Shu Xin dan Yuwen Yue, menjalin hubungan antar-ras yang dilarang oleh dua dunia sekaligus secara diam-diam. Apalagi setelah pernikahan antara Dewi Kehidupan dan Dewa Iblis diumumkan, kesempatan di antara mereka semakin dekat.


Hanya saja, ada saat di mana Shu Xin harus mundur dari langkahnya yang lama dijalankan. Ketika berkunjung di kediaman Dewa Naga untuk bertemu Wen Xi dan Wen Ya, ia mendengar hal yang membuat hatinya goyah.


Wen Xi berlutut di depan pintu ruangan Dewa Naga. Sepertinya ia sudah cukup lama berlutut sampai tubuhnya bergetar, kakinya juga sudah tampak lemah, matanya sembab seperti habis menangis. Ia tidak bergerak seinci pun dari tempatnya.


"Nona, jangan terus seperti ini. Jika Dewa Naga sudah memutuskan, tidak ada yang bisa mengubahnya. Kecuali Kaisar Langit yang memerintahkan langsung, tidak ada yang dapat mengubah semua ini." Pengawal di sisi Dewa Naga mencoba membujuk.


Sejak Wen Ya hengkang dari Dunia Atas mengikuti seorang naga di Dunia Tengah, situasi kediaman sangat rumit. Apalagi Dewa Naga juga tampak lebih keras dari biasanya.


"Kalau begitu, apa aku harus berlutut di depan ruangan Kaisar Langit juga?" Wen Xi bicara dengan nada datar.


"Nona ...."


"Bahkan ayahku sendiri tidak peduli dengan putrinya, bagaimana dengan Kaisar Langit?" Ia ingat bagaimana Dewa Naga mengabaikan kepergian Wen Ya dan memilih menyibukkan diri. Itu membuat hatinya teriris.


"Bukan seperti itu. Nona Wen Ya sudah memutuskan, Dewa Naga juga tidak ingin hal ini terjadi."


"Lalu apa aku hanya perlu menonton?" Wen Xi menatap pengawal itu dengan tajam. Tatapannya membuat pengawal itu agak takut.


"Nona, masalah ini sudah diputuskan. Nona Wen Ya pergi ke Dunia Tengah dan melepas kekuatannya, itu adalah pilihan. Dewa Naga juga tidak bisa mengekang pilihannya."


"Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Apa pendapatku sama sekali tidak penting di mata kalian?" Wen Xi tidak mau tahu dan tetap bersikeras pada pendiriannya. "Dunia sangat luas, tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."


"Tidak akan terjadi hal buruk. Nona jangan menyulitkan diri sendiri, Dewa Naga akan sedih melihatnya."


Wen Xi tetap diam tidak mau bergerak. Ia tidak lagi menanggapi ucapan pengawal itu, membuat pengawal itu menghela napas.


Di sisi lain, Shu Xin menghampiri Wen Xi yang penuh emosi. Pengawal itu mundur, membiarkan Shu Xin sebagai teman membujuk Wen Xi agar tidak terus bertengkar dengan Dewa Naga.


Melihat wajah yang biasanya selalu tersenyum dengan cerah, kini berubah menjadi mendung, Shu Xin menghela napas. "Apa kau akan terus seperti ini? Aku akan marah."


"Kau tidak mengerti," balas Wen Xi.


Benar, Shu Xin memang tidak mengerti, karena ia tidak pernah menjadi makhluk dengan perasaan nyata seperti makhluk lain. Ia tercipta dari cahaya, tanpa keluarga dan kerabat, dan hidup untuk memimpin cahaya.


Tapi itu adalah Shu Xin yang dulu. Shu Xin yang sekarang tahu persis ketakutan macam apa yang akan dialami seseorang hanya karena sebuah perbedaan. Meski perasaannya kaku dan tidak dalam, tetap saja ia memiliki perasaan takut.


"Tidak ada gunanya menangisi hal tidak perlu. Jika ingin bertemu Wen Ya, aku akan membawamu ke Dunia Tengah, lihat apa dia baik-baik saja atau tidak sekalian meminta penjelasan. Apa itu cukup?"


Shu Xin menarik-narik gaun Wen Xi, membujuknya untuk berdiri. Wen Xi enggan melakukannya hingga Shu Xin harus menariknya, memaksanya berdiri.


"Tidak ada yang perlu dikatakan pada Dewa Naga. Apa kau akan terus memohon seperti orang bodoh? Ikuti kataku!" Shu Xin cemberut, kemudian melihat pengawal itu dengan sinis sebelum pergi menarik Wen Xi.


Awalnya pengawal itu ingin menghentikan, tapi apa dayanya di depan Dewi Cahaya? Ia hanya bisa pasrah, dan melaporkan segalanya pada Dewa Naga.


Kejadian itu adalah awal dari pilihan. Pilihan antara kekuatan dan kesepian, atau perasaan batin yang singkat dan kesederhanaan. Sama seperti Wen Ya, Shu Xin juga harus menghadapi kedua pilihan itu.