The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
53. Rumor



"Xiao Ran, kau hebat!"


"Aku tahu Tang Yueha bukan apa-apa!"


"Teknik pedangmu sangat keren!"


"Kita mendapat banyak koin kaca hari ini berkatmu."


"Hei, kenapa kau diam saja?"


"Xiao Ran, kau tidak seru!"


"Ayo kita berpesta!"


"Makan gratis!"


"Xiao Ran traktir!"


Brakk


Empat manusia itu terdiam seketika melihat Xie Ran menutup pintu dengan keras di depan mata mereka. Ketiganya jelas tidak tahu apa yang terjadi pada Xie Ran apalagi Zhong Xiaorong yang baru bangun. Dia hanya mendengar bahwa Xie Ran memenangkan banyak koin kaca hasil pertandingan.


"Ada apa dengannya?" Zhong Xiaorong menatap tiga manusia itu penuh tanda tanya.


Sedangkan di dalam, Xie Ran mengusap wajahnya frustrasi dan menggigit bibirnya. Dia telah menahan gejolak emosi sejak tadi dan sangat ingin sendiri. Dia tidak ingin menyakiti siapapun untuk saat ini karena niat membunuhnya yang muncul tiba-tiba.


"Tang Yueha, aku akan membunuhmu!" Xie Ran mengerang marah dan meninju dinding sampai retak. Tangannya yang halus menjadi lecet seketika. Belum lagi luka di tangan yang membesar. Dia bahkan tidak merasakan sakit pada tubuhnya akibat serangan barusan atau tangan yang berdarah akibat memegang ujung pedang.


"Kau mengambil milik ibuku, aku akan membunuhmu. Menggunakan darahmu untuk menghibur ibuku." Xie Ran menggertakkan giginya. Dia terlalu marah ketika melihat perubahan Tang Yueha menggunakan kekuatan Wen Xi.


Teratai Malam di tubuh Tang Yueha mengandung seluruh kekuatan mental Wen Xi. Kekuatan mental yang tertelan teratai malam dapat digunakan oleh seseorang yang memakannya dan menjadikan kekuatan mental itu sebagai kekuatan pribadi. Meskipun merupakan kekuatan pribadi, auranya tetap dapat dirasakan.


Alasan mengapa Xie Ran diam ketika diserang, dia merasakan keberadaan Wen Xi yang membuat pikirannya kacau. Bayangan tentang bagaimana kekuatan mental Wen Xi yang terserap terbayang membuat amarahnya memuncak.


Manusia yang kekuatan mentalnya terserap selalu merasakan penderitaan tak berujung seolah jiwanya terkikis perlahan demi perlahan. Xie Ran yakin, alasan mengapa Wen Xi tidak keluar kamar sejak hari itu adalah karena hal ini.


Teknik itu adalah teknik terlarang yang tidak sembarang orang dapat menggunakannya. Teratai bayangan malam sangat berbahaya. Jika Xie Ran tidak akrab dengan energi Wen Xi, dia akan berpikir bahwa Tang Yueha telah menerobos sama seperti pemikiran orang lain.


Siapa lagi yang bisa melakukannya selain Tang Zhi? Tang Yueha juga seharusnya sudah mengetahui hal itu sehingga dapat mengendalikannya dengan mudah setelah menyerapnya tanpa efek samping


Xie Ran sangat marah hingga sangat ingin menghancurkan sesuatu. Jika marah, emosinya sulit terkontrol dan harus ada pelampiasan amarah. Baik dirinya sendiri maupun orang lain. Tapi dia tidak lagi ingin menyakiti orang lain secara naluriah.


Kepala Xie Ran terasa sakit kembali. Jika ini di dunia modern, dia sudah meminum banyak obat sakit kepala atau obat tidur untuk menahan gelolak emosi dalam tubuhnya yang tak tertahankan. Tapi sekarang, dia tidak memiliki obat apapun dan hanya bisa menahannya sendiri.


Xie Ran memegangi kepalanya yang sakit dan mengatupkan mulutnya agar tidak berteriak. Irisnya mendapati Qu Xuanzi yang muncul, dia kembali takut. Dia takut niat membunuhnya muncul lagi dan menyakitinya.


Xie Ran mundur menjauhi Qu Xuanzi seolah takut padanya, namun pergerakan Qu Xuanzi lebih cepat menariknya ke dekapannya.


"Xuanzi, menjauhlah dariku. Aku tidak bisa mengontrolnya lagi...." Xie Ran mencengkram tinjunya dan berusaha mendorong Qu Xuanzi. Tapi pria itu lebih kuat dan mengeratkan pelukan lebih kuat.


"Diamlah, kau bisa mengontrolnya."


"Aku ... tidak...." Xie Ran sudah sangat takut. Untungnya dia tidak memegang senjata atau ... dia tidak ingin lagi memikirkannya.


"Kau hanya perlu tenangkan pikiranmu." Qu Xuanzi tahu apa yang terjadi pada Xie Ran. Dalam keadaan seperti ini, jika tidak membunuh seseorang atau menerima pukulan keras atau pingsan, Xie Ran akan tetap menggila. Ini disebabkan oleh masa lalunya yang terus membunuh tanpa henti sejak kecil hingga jiwanya menjadi haus darah. Apalagi ketika emosi.


Xie Ran memejamkan matanya, berusaha menenangkan pikiran dan hatinya. Ketika akan tenang, ingatan tentang kematian Wen Xi kembali terngiang membuat amarahnya tidak reda dan dia kembali bergetar lagi.


"Tidak bisa...." Xie Ran ingin melepas dekapan pria itu lagi tapi Qu Xuanzi tetap mendekapnya tanpa memberi kelonggaran.


"Tetap seperti ini."


Xie Ran tidak lagi mendorong dan diam meski hatinya gelisah. Dia meneguk saliva memikirkan apa yang harus dilakukan. "Xuanzi, pukul aku."


"Tidak." Dia tidak akan pernah memukul Xie Ran apapun alasannya meski Xie Ran memukulnya ataupun memintanya.


"Jika kau tidak memukulku, aku tidak bisa lepas dari situasi ini. Tidak mungkin kau terus menahanku seperti ini. Kau juga masih memiliki hal lain."


"Tak apa."


Xie Ran merasa semakin gelisah. Kesal, marah, takut, semua emosi negatif menjadi satu. Dia tidak berharap kondisinya menjadi seburuk ini. Dia sudah berusaha tetap sadar dan tidak melakukan hal bodoh. Jika diteruskan, dia bisa gila!


Qu Xuanzi tidak tega lagi melihat Xie Ran terus gelisah dan takut. Tatapannya masih penuh amarah dan dia bisa melakukan hal bodoh dengan cara apapun. Dia bisa menghancurkan tempat ini kalau mau. Maka dari itu, memang tidak ada jalan lain.


"Jangan takut. Ketika bangun, kau akan kembali tenang," bisik Qu Xuanzi di telinga Xie Ran. Tangannya mengusap kepala Xie Ran dan mengeluarkan sinar redup.


Seakan terbius, Xie Ran menutup mata dengan cepat dan tertidur di dada bidang Qu Xuanzi. Memang tidak ada jalan lain selain membuatnya pingsan.


"Xiao Ran!" Pintu tiba-tiba terbuka menampakkan Mei Liena dan Zhong Xiaorong menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Seketika langkahnya berhenti mendadak begitu melihat Qu Xuanzi yang menatapnya datar.


Mereka meneguk saliva, namun ketika melihat Xie Ran yang pingsan di pelukan Qu Xuanzi, mereka mulai panik berpikir telah terjadi sesuatu yang buruk.


"Xiao—"


"Jangan mengganggunya!" Suara dingin Qu Xuanzi menusuk dua gadis itu sampai ke tulang. Mendadak keduanya terdiam dan menunduk seolah ada yang menekan mereka.


"Baik... baik." Zhong Xiaorong meneguk saliva dan menarik Mei Liena keluar dari kamar. Temperamen pria itu menakutkan hingga membuat mereka tegang. Ditambah pemandangan barusan.... "Aku tidak melihat apapun."


Zhong Xiaorong membungkuk disertai senyum paksa dan menyeret Mei Liena yang mematung kemudian menutup pintu. Entah apa yang Mei Liena pikirkan saat ini.


Setelah keduanya berhasil terbebas dari aura dingin, mereka menghela napas dan melemaskan kaki mereka.


"Apa seharusnya kita tidak masuk barusan?" Pada akhirnya Mei Liena tersadar dari renungannya.


"Ini karenamu!" Zhong Xiaorong menyalahi Mei Liena yang mengajaknya masuk ke kamar Xie Ran. Jika saja gadis itu tidak membujuknya, dia tidak akan menemukan hal yang seharusnya tidak ditemukan. Ah, dia juga tidak akan berpikir telah terjadi sesuatu yang buruk pada Xie Ran. Jelas-jelas Qu Xuanzi ada di sana, mana mungkin Xie Ran terluka.


"Tapi tadi... Kita tidak melihat hal yang aneh selain Xiao Ran yang pingsan, 'kan?" Mei Liena bertanya dengan bodohnya.


"Jangan membahasnya! Xiao Ran pingsan saja sudah aneh." Zhong Xiaorong terlanjur kesal dan meninggalkan gadis yang sedang bergelut dengan pikiran anehnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu setelah pertandingan antara Xie Ran dan Tang Yueha, teman-temannya yang lain menyusul peringkat 10 besar akademi demi mengikuti turnamen yang akan diadakan e Minggu lagi.


Xie Ran sendiri telah mendapat bijih logam langka hasil perburuan Pei Xi dan Yan Yao yang baru pulang. Ia begitu senang sampai mengurung diri untuk membuat senjata. Kamarnya begitu terisolasi.


Belakangan ini mereka menghadapi Xie Ran yang menjadi dingin entah karena sebab apa. Xie Ran yang mereka kenal selalu ceria dan polos, hanya mengetahui makan dan berduel. Entah apa yang membuatnya sulit bicara banyak dan omong kosong seperti biasanya.


Namun ketika bijih logam datang, mata ceria Xie Ran kembali, tapi gadis itu langsung mengisolasi diri untuk membuat senjata spiritual. Mereka yang melihatnya hanya bisa memendam pertanyaan.


Setelah beberapa hari kemudian, pengumuman pemilihan anggota turnamen diadakan. Murid-murid menyambutnya dengan semangat terutama bagi murid peringkat langit. Mereka segera berbondong-bondong pergi ke aula utama akademi untuk menerima penyuluhan tentang turnamen tiga minggu yang akan datang.


Xie Ran juga ikut pergi setelah mengetahuinya dari batu kristal. Dia meninggalkan pekerjaannya sebentar dan pergi disaat-saat terakhir pengumuman.


Keenam temannya sudah ada di aula, langsung menyambutnya dengan antusias dan rindu dari dua gadis. Selama ini Xie Ran tidak keluar dan terus bolos kelas tanpa mempedulikan instruktur yang terus protes padanya. Untungnya Xie Ran pintar, jadi instruktur tidak memberinya hukuman yang terlalu berat selain memotong koin kaca.


Itu sebenarnya termasuk berat bagi Xie Ran, si pecinta uang.


"Dekan akan mengadu murid peringkat 20 besar satu sama lain untuk membentuk 7 anggota. Apa kamu punya rencana?" Zhou Kui menanyai Xie Ran. Bisa dibilang, Xie Ran adalah otak kelompok mereka yang selalu memikirkan berbagai rencana dengan matang dan tepat.


"Lakukan apa yang ingin dilakukan." Xie Ran menyahut dengan santai. Suasana hatinya sedang baik sekarang karena berhasil membuat satu senjata spiritual yang benar-benar sulit.


"Bagaimana jika aku kalah? Kita akan diadu bersamaan di arena. Siapapun akan terluka dan akan banyak yang gugur." Mei Liena khawatir. Meski sudah mencapai peringkat 10, dia tetap khawatir jika dipukul keras oleh murid di atasnya dan mengecewakan mereka.


"Percayalah." Yan Yao menyengir.


Xir Ran hanya memperhatikan, kemudian pandangannya terarah pada Dekan yang turun dari podium. Pria tua yang pernah ia lihat sebelumnya ternyata memang Dekan akademi. Kemudian melihat dua dekan lainnya. Salah satunya adalah wanita yang merupakan dekan departemen apoteker. Salah satu dari dua dekan itu harus menjadi Kaki tangan tujuh raja iblis.


Setelah 4 dekan itu pergi, pandangannya terarah pada pria dan wanita di depan sana yang menjadi pusat perhatian, Tang Yueha dan Xie Chen.


Xie Ran menyipitkan matanya. Tang Yueha terlihat baik-baik saja setelah lama memulihkan diri dan tidak tampil di arena sejak pukulan itu. Lukanya tidak lebih cepat seperti Xie Ran, namun Xie Ran jauh lebih cepat. Jika Qu Xuanzi tidak memaksa mengobatinya, akan terdapat bekas luka di wajah dan tangan Xie Ran saat ini.


"Ada apa?" Pei Xi bertanya kemudian melihat Tang Yueha dan Xie Chen di kerumunan sedang dikagum-kagumi. Dia melihat Xie Ran yang memiliki tatapan dingin tidak bisa tidak bertanya-tanya. Xie Ran menjadi dingin semenjak pertarungan dengan Tang Yueha.


Xie Ran mengalihkan pandangan. "Bukan apa-apa." Dia tidak ingin memberitahu dan tidak ingin mengungkitnya. Mengingat kondisinya saat itu, dia harus lebih bisa mengendalikan diri lebih baik dan tidak memperdulikan siapapun.


Xie Ran sudah mulai bicara pada teman-temannya dengan santai meski tidak banyak. Itu membuatnya menjadi lebih baik dan menutupi masalahnya dengan sempurna. Dia akan baik-baik saja.


Tang Yueha mendapati Xie Ran sedang bersenda gurau dengan teman-temannya memasang wajah gelap. Dia terbaring di ranjang berhari-hari dan baru bangun sekarang karena gadis itu, tapi gadis itu baik-baik saja. Bahkan tidak ada bekas luka di wajahnya, justru lebih cantik. Tang Yueha semakin kesal sampai meremas roknya sendiri. Dia tidak akan melupakan penghinaan hari itu. Untungnya banyak yang mendukungnya, dia bisa lebih tenang jika ingin menyerang Xiao Ran secara tidak langsung.


"Senior Tang, apa kau akan ikut kompetisi pemilihan anggota? Kau berada di 20 besar dan pernah berada di 3 besar, pasti menang dengan mudah."


Tang Yueha tersenyum lembut. "Kondisiku masih belum pulih, tidak bisa bertarung untuk saat ini."


"Ini karena Xiao Ran itu yang ingin membunuh Kakak Yueha. Atas dasar apa dia menyakiti Kakak Yueha seburuk itu. Jika bukan karena Kakak Yueha menerobos dan Xiao Ran menggunakan serangan menyelinap, Kakak Yueha masih berada di 3 besar."


"Cai'er, peringkat tidak penting. Jangan seperti itu." Tang Yueha menyangkal dan mengerutkan kening tidak setuju.


"Kakak Yueha, kamu terlalu baik membelanya. Dia ingin membunuhmu! Untuk apa membela seseorang yang menggunakan aturan arena untuk membunuh?" Lin Cai'er sengaja mengeraskan suaranya sampai terdengar oleh kelompok Xie Ran.


Tapi dia tidak tahu, itu hiburan bagi Xie Ran karena disebut pembunuh. Dia sudah lama tidak mendengar pujian itu.


Berbeda dengan teman-temannya yang kesal, tapi tidak bisa melawan karena Xie Ran tidak mengizinkan. Mereka hanya bisa memendam dalam hati dan memilih mengabaikan mereka.


"Oh iya, Xie Chen, aku dengar sepupumu Xie Ran telah meninggal. Apa itu benar?" Salah seorang murid bertanya pada Xie Chen yang sejak tadi diam mengamati Xie Ran.


Xie Chen hanya mengangguk sebagai jawaban. Itu yang dikatakan ibunya, dia juga tidak tahu pasti.


"Ah, sayang sekali. Aku dengar dia sangat cantik dan pintar seperti ibunya."


"Ya, sangat disayangkan."


"Senior Tang, apa kau dekat dengan Xie Ran?"


Tang Yueha hanya tersenyum. "Tidak terlalu. Dia terlalu pendiam dan kami jarang berinteraksi." Jelas jarang berinteraksi, si bodoh itu diasingkan di rumah pelosok dan baru bertemu dengannya ketika ingin mati.


"Kenapa kau menanyakan hal itu? Selama ini Senior Tang tinggal di Keluarga Tang di Utara, mana mungkin melihatnya setiap hari."


"Seharusnya Xie Chen dekat dengannya, 'kan?"


Xie Chen menatapnya intens dan bicara dengan malas. "Tidak ada gunanya membicarakan orang mati."


"Aku merasa kasihan," kata seorang wanita cantik berubah biru langit dengan ukiran simbol es tiba-tiba datang membelah kerumunan. Pesonanya membuat banyak murid kagum seketika. "Xie Ran mengalami hal buruk beberapa tahun lalu, kehilangan orang tua dan beberapa orang terdekat karena penyerangan. Menurutku, ada beberapa hal yang mengganjal. Xie Ran juga seharusnya menjadi Ketua Klan yang baru, namun karena masih kecil harus diwakilkan oleh ibu tirinya. Tapi ternyata dia mati di usia muda, sangat disayangkan. Dia seharusnya tumbuh lebih baik dari kalian."


Lin Cai'er melihat raut Tang Yueha dan Xie Chen berubah masam. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia merasa perkataan senior itu telah menyinggung mereka.


"Senior, kamu tidak seharusnya membuat mereka sedih. Kakak Yueha dan Kakak Chen pasti sangat sedih dengan kepergian Xie Ran. Lebih baik tidak mengungkitnya." Lin Cai'er menekan emosinya.


Wanita itu menaikkan sebelah alis. "Kenapa tidak? Aku sangat penasaran bagaimana Xie Ran bisa mati semudah itu. Bukankah Klan Xie sangat melindunginya? Atau jangan-jangan kalian Keluarga Tang telah menyabotase Klan Xie dan melakukan sesuatu pada Xie Ran yang sudah tidak memiliki dukungan. Bagaimanapun, Tang Zhi hanyalah ibu tiri yang tidak memiliki hubungan dengannya."


"Senior, aku tidak tahu maksudmu mengatakannya. Urusan klan kami, tidak perlu repot memikirkannya. Kematian Xie Ran adalah karena kecerobohannya sendiri ketika membuka wasiat leluhur dan mengalami serangan balik karena tidak terlalu kuat. Tidak ada hubungannya dengan ibuku." Xie Chen melawannya dengan sorot tajam. Dia merasa wanita itu sangat menentangnya dan mengetahui banyak hal.


Wanita itu tersenyum manis. "Aku hanya menebak. Kenapa begitu tegang dan langsung menjelaskan? Bukankah kematiannya dirahasiakan dari publik agar tidak menimbulkan kecemasan? Tentang penyerangan beberapa tahun yang lalu juga banyak yang mengganjal, apa perkataanku menyentuh sesuatu yang kontroversial?"


"Kenapa kau memojokkan mereka? Siapa kau berani menentang Klan Xie?" Lin Cai'er sudah muak dan sangat ingin menampar mulut wanita itu.


Wanita itu tetap tersenyum di wajah cantiknya. "Ann Rou. Aku murid baru akademi, tidak sengaja mendengar berita tentang Klan Xie dan aku tertarik mengevaluasinya. Senang bicara dengan kalian." Dia melambaikan tangan seputih saljunya dan pergi berkeliling dengan langkah riang. Ah, dia sangat senang memojokkan orang.


Sedangkan kelompok Xie Ran yang sejak tadi mendengarkan hanya diam memperhatikan wanita cantik itu. Sangat cantik ditambah senyum manisnya sampai para pria tidak bisa memalingkan tatapan. Kecantikan itu sama seperti Xie Ran.


"Mereka membicarakanku," gumam Xie Ran tertawa dalam hatinya. Dia senang diperlakukan sebagai mayat. Dia juga senang ketika wanita itu dengan berani menentang mereka dan nyaris membongkar segalanya di depan umum. Sayangnya orang di sini bodoh-bodoh.


"Menurutku, Xie Ran hanyalah seorang pengecut! Hanya menerima warisan saja sudah mati. Kakak Yueha, Kakak Chen, jangan hiraukan perkataannya." Lin Cai'er menambah bumbu dengan mencibir Xie Ran yang sudah mati.


Xie Chen mendengus kesal. Kemudian pandangannya terarah pada Xie Ran yang terlihat menahan tawa. Ah, dia sudah terlihat sedikit tersenyum dan menutupi mulutnya agar tidak tertawa sedangkan teman-temannya sibuk memperhatikan Ann Rou yang mencolok. Xie Chen semakin heran. Apa ada yang lucu?


Di sisi Ann Rou, baru saja dia akan keluar aula, langkahnya terhenti setelah menyadari sesuatu. Dia menoleh ke belakang dimana banyak pria yang awalnya memandangnya mengalihkan perhatian ke arah lain.


Dia mengerutkan kening. "Apa hanya perasaanku?" Dia jelas merasakan aura yang sangat akrab barusan, namun hilang begitu saja. Sudahlah, tidak penting.


Baru saja dia datang sebagai murid di akademi setelah mendengar pengumuman tentang turnamen. Dia ingin tetap di akademi untuk memantau turnamen yang akan datang karena menurut pendengarannya waktu itu, beberapa iblis akan datang menangkap Energi murni. Meski Qu Xuanzi mengatakan untuk tidak mengurusnya, dia tidak punya pekerjaan sedangkan yang lain sibuk. Jadi dia mengambil tugas sendiri.


Kemudian melihat orang-orang Klan Xie mengatakan tentang Xie Ran. Dia ingat tentang penyerangan Klan Xie yang disebabkan seorang iblis bernama Tang Zhi. Dia tertarik dan mengikuti perkembangan cerita sampai memojokkan mereka. Ah, dia sangat bangga pada kelincahan mulutnya.


Yang dia harapkan sekarang, jangan sampai Qu Xuanzi dan rekannya tahu kalau dia ada disini untuk mencari hiburan dengan para iblis. Dia hanya ingin bersenang-senang, oke.