
Langkah kaki kecil berlari menelusuri kediaman, melalui para pelayan serta anggota kediaman lainnya yang penuh pertanyaan. Mereka tidak pernah melihat anak kecil itu sebelumnya, keluarga mana yang memiliki anak seaktif itu di saat semua orang tengah berduka setelah keluar dari aula?
Mereka tidak mau ambil pusing dan memilih mengabaikannya. Hingga akhirnya langkah kecil itu terhenti ketika menubruk seseorang sampai keduanya termundur.
"Idiot, apa kau buta?" Xie Jianying yang ditabrak langsung marah. Ia telah sangat marah sejak awal, melihat anggota keluarganya sendiri ditangkap dan akan dieksekusi. Setelah tragedi itu, ia bahkan melihat Xie Ran begitu tenang bersama pria tampan yang baru muncul. Ia sangat marah!
Sekarang seseorang mencari masalah padanya, ia akan membuat anak kecil itu pelampiasan amarah!
Anak kecil yang tak lain adalah Xiao Caihong mengerjap mata, melihat Xie Jianying dengan bingung. Ia sedang bermain dan akan pergi menemui ibunya, tapi wanita jahat ini tiba-tiba menghalangi dan melototinya seolah akan menakutinya. Xiao Caihong tidak suka wanita jahat ini.
"Anak kecil, apa kau benar-benar buta seperti wanita itu? Aku beritahu, jika masih mengganggu dan merusak pandangan, aku tidak akan segan-segan mengulitimu!" Xie Jianying tidak peduli anak siapa ini, ia sedang sangat marah dan tidak boleh ada yang mengganggunya.
Xiao Caihong tetap tampak bingung. Wanita jahat ini bisa dimakan olehnya, tapi terlihat tidak enak membuatnya kehilangan selera. Ia lebih baik makan makanan yang diberikan ibunya daripada memakan wanita jahat ini.
"Apa lihat-lihat! Menangis? Mengadu? Lakukanlah! Siapa yang akan mendukungmu ketika iblis itu akan mengeksekusi semua orang! Pada saatnya, giliranmu yang akan dieksekusi!" Xie Jianying mendecih sampai air liurnya muncrat membuat Xiao Caihong jijik.
Meski Xiao Caihong adalah hewan buas, ia adalah makhluk yang terus bersama Xie Ran sejak dilahirkan. Xie Ran dan Qu Xuanzi selalu bersih, tidak pernah jorok seperti wanita jahat itu. Xiao Caihong semakin tidak suka.
Pada akhirnya, ketika Xie Jianying lekas pergi dengan emosi bergebu-gebu, kaki kecil Xiao Caihong dijulurkan tanpa diketahui hingga membuat Xie Jianying jatuh sejadi-jadinya ke tanah sampai mengotori wajahnya.
Xie Jianying tertegun, semua orang juga terdiam melihat pemandangan miris sekaligus lucu itu. Beberapa detik setelahnya, teriakan menggema dari mulut Xie Jianying menyadarkan semua orang dari keterkejutan.
Mereka nyaris tertawa, namun langsung menahannya. Siapa yang tidak kenal Xie Jianying? Jika dipikirkan, Xie Jianying bisa lebih kejam dari Xie Ran dari tahun ke tahun. Ia lolos dari persidangan kali ini sudah merupakan keberuntungan.
Tapi tidak dengan Xiao Caihong yang sudah terkikik seperti menonton komedi. Kebetulan sekali ia dapat melihat wanita jahat itu penuh kotoran di wajahnya. Itu sangat menghibur!
"Kau!" Xie Jianying segera bangun mengabaikan penampilan kotornya akan tanah basah. Ia menghampiri Xiao Caihong dan menarik telinganya dengan kasar.
"Apa orangtuamu tidak mengajarimu untuk hormat pada orang yang lebih tua? Dasar tidak tahu aturan, sampah tidak berguna sepertimu hanya momok keluarga!"
Xiao Caihong merasa kesal telinganya ditarik. Ibunya meski galak tidak pernah sekasar ini sampai menarik telinga kecilnya hingga seperti kelinci. Ia jengkel, menarik tangan Xie Jianying yang menjewernya kemudian menggigit tangannya dengan kuat sampai berdarah.
Xie Jianying berteriak menjadi-jadi. Sejak kapan gigitan anak kecil begitu kuat dan dalam? Ia merasa sangat sakit seperti digigit hewan buas!
"Lepaskan aku! Lepaskan!" Xie Jianying menghentakkan tangannya mencoba melepaskan diri dari gigitan kuat Xiao Caihong. Darah telah menetes dari tangannya, sedangkan mata Xie Jianying sudah mengeluarkan air mata karena rasa sakit tak tertahankan di tangannya. Kenapa harinya harus sial seperti ini?
Keributan yang diciptakan Xie Jianying menyebabkan semua perhatian tertuju padanya. Bahkan Yan Yao dan yang lainnya keluar aula untuk melihat keributan macam apa yang begitu membuat kehebohan sedangkan Xie Ran dan Qu Xuanzi keluar paling terakhir.
Ketika melihat Xiao Caihong yang tanpa henti menggigit tangan Xie Jianying, Xie Ran menghela napas. Sejak kapan Xiao Caihong bermain sendiri tanpa ketiga naga dan hewan suci?
Yan Yao dan yang lainnya langsung melirik Xie Ran. Mereka tahu bahwa Xiao Caihong adalah phyton tujuh warna sekaligus anak angkat Xie Ran yang ditemukan di gunung belakang. Melihat phyton tujuh warna yang terkenal beracun menggigit seseorang, mereka hanya bisa mengucapkan selamat tinggal pada Xie Jianying.
Merasakan keberadaan yang akrab, Xiao Caihong melepas gigitan dan menoleh ke belakang, melihat Xie Ran dan Qu Xuanzi berada. Matanya berkaca-kaca, langsung berlari memeluk kaki Xie Ran seperti anak yang habis ditindas.
"Ibu, telinga Cai Hong ditarik, sakit huhu~"
Semua orang terkejut. Meski suara Xiao Caihong tidak nyaring dan terdengar sendu, tetap saja mereka mendengarnya dengan jelas. Anak kecil itu ... adalah anak ketua mereka! Sejak kapan?
Xie Ran tetap dengan raut datar, melihat Xie Jianying yang duduk menangis kesakitan akan tangannya yang membentuk bekas gigitan serta darah yang tidak mau berhenti. Xie Ran melihat Xiao Caihong yang mengadu, kemudian berkata, "Nakal."
Xiao Caihong terkejut, merasa dimarahi dan menangis dalam diam sambil menunduk. Karena wanita jahat itu, ibunya memarahinya. Ia melirik Qu Xuanzi, memohon pertolongan. Tapi tidak ada tanggapan.
Xie Ran pergi dari sana dengan langkah lebar, seolah tidak peduli keributan apa yang disebabkan oleh Xiao Caihong. Xiao Caihong otomatis mengikut sambil menarik-narik pakaian Qu Xuanzi yang ada di belakang Xie Ran seperti pengawal.
Sampai di depan kamar, Xie Ran berbalik melihat Xiao Caihong bersembunyi di belakang Qu Xuanzi, mengintip takut-takut.
Xie Ran mengerutkan kening. "Ada apa denganmu?"
Xiao Caihong langsung bersembunyi, tidak lagi mengintip. Apa gunanya mengikuti jika hanya bisa bersembunyi? Xie Ran pun menatap Qu Xuanzi meminta jawaban kenapa Xiao Caihong sepert itu.
Qu Xuanzi terkekeh. "Dia salah paham karena ucapanmu."
"Salah paham?" Ia hanya mengatakan satu kata dan anak kecil itu sudah salah paham? Ia melirik Xiao Caihong yang mengintip lagi, kemudian menghela napas. "Keluar."
Xiao Caihong mendongak untuk melihat Qu Xuanzi yang juga menatapnya. Qu Xuanzi memberi isyarat mata agar keluar dari persembunyian, Xiao Caihong tertegun. Kemudian ragu-ragu mengangguk kecil dan keluar dari persembunyian.
"Kenapa?" Xie Ran langsung bertanya sebelum Xiao Caihong siap membuat anak kecil itu terkejut dan menempel lagi pada Qu Xuanzi.
Xiao Caihong ragu-ragu menjawab, "Ibu ... marah."
Wajah datar Xie Ran berubah, kemudian ia kembali berpikir bahwa dirinya memang agak kasar barusan. Sepertinya sikapnya terhadap para bawahannya masih terbawa sampai membuat Xiao Caihong ketakutan.
"Aku tidak bermaksud." Xie Ran mencoba menenangkan Xiao Caihong. Ia tidak pandai menghibur, tapi hanya bisa mencoba meyakinkan seseorang meski ragu.
"Ibu berkata Caihong nakal dan tidak memarahi wanita jahat itu." Xiao Caihong sudah mulai tenang dan berani menatap Xie Ran langsung.
"Itu hanya ... pengalihan. Aku pikir kau mengerti." Xie Ran tidak bermaksud memarahi. Suasana hatinya sedang baik, untuk apa marah-marah pada seseorang? Ia mengatakan itu karena Xiao Caihong dengan ceroboh mengungkapkan dirinya sendiri di depan publik dan bertingkah nakal. Itu hanya sebuah kata, apa begitu besar efeknya?
Tapi Xie Ran langsung sadar, bahwa nada bicara dan ekspresinya masih sangat dingin membuat siapa pun mengira bahwa ia sangat marah. Itu hanya kesalahan sesaat.
"Wanita jahat itu mengejek Ayah Ibu, Caihong tidak suka. Berkata Caihong adalah momok, jadi Caihong menggigitnya." Xiao Caihong menjelaskan dengan nada sendu.
"Bukankah bagus? Kau gigit dia, sama saja membunuhnya. Aku tidak perlu menghukum, jadi aku pergi. Hanya itu." Xie Ran juga langsung meluruskan kesalahpahaman. Bisa gawat jika Xiao Caihong terus salah paham dan menangis seharian membuat telinganya pecah.
Xiao Caihong mengangguk paham. Ekspresinya langsung berubah menjadi ceria lagi dan melompat menempel pada Xie Ran. Seolah mengubah ekspresi semudah membalikkan telapak tangan, bahkan belum ada sedetik setelah Xie Ran menjelaskan.
"Ibu, lapar~"
Seperti biasa, kata legendaris itu keluar membuat Xie Ran tidak tahu harus berkata apa. Ia mengeluarkan botol porselen dari cincin spasial kemudian menberikannya pada Xiao Caihong.
"Isinya makananmu, pergilah." Xie Ran langsung mengusir seolah mengusir kucing sambil terus menggiring Xiao Caihong keluar dari halaman tempat tinggalnya.
Xiao Caihong tidak sedih, ia justru senang mendapat makanan enak lalu melambaikan tangan pada Xie Ran sebelum akhirnya pergi mencari tiga naga bodoh itu.
Xie Ran menghela napas. Untung saja ia sudah membuat stok makanan Xiao Caihong dalam botol porselen sebanyak-banyaknya sebagai bekal. Semakin besar, nafsu makan Xiao Caihong semakin besar sehingga ia harus membuat lebih banyak stok untuk setiap hari satu botol. Itu juga untuk kultivasi Xiao Caihong agar lebih cepat besar dan tidak merepotkannya.
"Sudah kukatakan, kamu ibu yang baik." Qu Xuanzi tiba-tiba memeluknya, seolah akan terasa sangat hampa jika tidak memeluk Xie Ran.
Xie Ran meliriknya intens. "Kau masih di sini?"
"Ya."
"Aku sedang mengusir." Xie Ran menegaskan kata-kata dan menjadi datar lagi. Ia hanya ingin istirahat sebentar, apa salahnya?
"Kau tidak bisa mengusirku." Qu Xuanzi menyahut dengan santai.
Xie Ran mendorong Qu Xuanzi agar mau melepaskannya, kemudian memalingkan wajah seraya bersedekap dada. "Aku masih ada urusan, jangan mengikuti!"
Ia pun pergi, tidak jadi istirahat. Semenjak Xie Ran mengakui bahwa ia sedikit ingat tentang Qu Xuanzi di dunianya dulu, Qu Xuanzi menjadi sangat menempel padanya. Xie Ran heran, sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu?
Waktu berlalu begitu cepat, sedangkan bulan menggantikan pencahayaan langit ditemani bintang-bintang yang berkelip.
Sudah tengah malam, semua orang terlelap di kamar masing-masing dan memadamkan lampu. Klan Xie tanpa cahaya saat ini, begitu sunyi dan sepi.
Xie Ran membuka mata, tidak bisa tidur merasakan perutnya bergejolak minta makan. Ia sudah memaksakan diri untuk tidur sampai meringkuk menahan lapar, tapi pada akhirnya tidak bisa menahannya sehingga harus bergegas turun dari tempat tidur.
Tapi sebelum itu, ia harus terbebas dari lengan kekar yang melingkari pinggangnya sepanjang malam. Melihat Qu Xuanzi menutup mata di sampingnya, Xie Ran tersenyum diam-diam memandangi wajah tampan tanpa celah itu. Ia sempat kesal ketika Qu Xuanzi membawanya tidur karena hampir saja Xie Ran lembur lagi. Sudah dua hari Xie Ran tidak tidur malam, sangat wajar jika Qu Xuanzi kali ini memaksanya.
"Pada akhirnya kamu yang tertidur pulas," gumam Xie Ran, mengambil posisi menghadap Qu Xuanzi.
Jika seperti ini, Qu Xuanzi tidak terlihat seperti kaisar yang mendominasi setiap saat. Andai saja dia tidak terus menjadi gunung es dan bersikap baik seperti sekarang, mungkin Xie Ran sama sekali tidak bisa marah padanya.
"Maaf, beberapa hari mengabaikanmu." Kemudian raut Xie Ran berubah menjadi tampak kesal. "Siapa suruh kau begitu egois? Jika kau bisa egois, aku juga bisa lebih egois. Sudahlah, siapa pun kamu tidak penting lagi. Sean ataupun Qu Xuanzi, saat ini yang aku kenal hanya Qu Xuanzi. Kau mencintaiku, aku juga mencintaimu itu sudah cukup. Benar?"
Kruuuk
Xie Ran berdecak sebal pada perutnya yang malah menyahuti ucapannya. Ia memang bicara sendiri, setidainya tidak perlu ada yang menjawab.
"Karena cacing di perut sudah tidak sabar pergi ke dapur, jangan terkejut jika melihatku menghilang." Xie Ran terkekeh.
Perlahan ia melepas pelukan Qu Xuanzi tanpa membanguninya. Sangat perlahan dan tanpa suara. Karena ia tahu, Qu Xuanzi sensitif, terlebih lagi kepada energi spiritual sehingga harus melepaskan diri perlahan tanpa suara maupun tanpa pergerakan spiritual.
Setelah berhasil turun dari tempat tidur, Xie Ran melangkah diam-diam keluar dari kamar. Ia sempat panik ketika pintu yang ia buka mengeluarkan suara deritan, cepat-cepat ia menyelinap keluar lalu pergi setelah menutup pintu.
Tidak ada siapa pun di kediaman utama, hanya ada angin yang bernyanyi. Ia berjalan dalam diam, dengan langkah tanpa suara lalu berbelok ke arah dapur untuk berburu makanan. Sebenarnya, menyelinap ke dapur adalah rutinitas sehari-hari selama di Klan Xie.
Karena Xie Ran tidak boleh makan sangat banyak secara terang-terangan dan harus menciptakan reputasi berbeda, ia hanya bisa menikmati makanan di malam hari dengan alasan kerja lembur.
Tanpa diketahui, Qu Xuanzi di dalam sana membuka matanya. Ia bangun, tapi tidak keluar dari kamar justru pergi ke arah jendela. Tiba-tiba ia merasa ada beberapa tamu tak diundang berdatangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tengah malam yang sunyi dan gelap, beberapa sosok hitam melesat seperti hantu memasuki kediaman klan tanpa meninggalkan jejak seperti bayangan yang melintas.
Langkah mereka yang tanpa suara seolah melayang di udara, diam-diam menyelinap kediaman utama dan bersembunyi dari penjaga yang berdiri kokoh seperti patung.
"Makan ini, Nona bilang dapat menyembunyikan aura dan kehadiran kita selama dua jam. Target kita tidak boleh diremehkan, kita harus lebih unggul dan tidak boleh membiarkannya bergerak."
"Baik."
Mereka meminum sebuah pil yang diberikan pemimpin mereka. Terdapat enam pria berpakaian ninja, dengan persenjataan yang disangkutkan di pinggang. Mereka tampak seperti seorang ahli, menyelinap dan berjalan tanpa diketahui penjaga.
Hingga akhirnya sampai di depan pintu kamar seseorang. Mereka sedikit membuka pintu untuk mengintip memastikan target benar-benar ada di dalam, tapi tiba-tiba sebuah suara terdengar di belakang mereka.
"Aku kira siapa, ternyata beberapa tamu yang datang tanpa mengetuk pintu. Apa kalian tahu? Itu sangat tidak sopan."