The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
181. Pemimpi



Qu Xuanzi melihat Xie Ruo yang menghampirinya, kemudian duduk di kursi tampak sangat serius. Jika sudah seperti ini, ia dapat menebak, kedatangan Xie Ruo seharusnya memiliki hal penting yang ingin dibicarakan.


Karena tidak ada yang bisa mengganggu Xie Ruo di sini, maka harus masalah Dunia Tengah. Qu Xuanzi sudah berpiki tidak akan menyembunyikan apa pun yang ditanyakan Xie Ruo lagi.


"Sepertinya kau sudah menebak." Melihat ekspresi serius Qu Xuanzi, Xie Ruo merasa tidak ada gunanya berbasa-basi. Pria di depannya terlalu peka sampai ia tidak bisa menyembunyikan niatnya.


"Tergantung apa tebakanku benar atau tidak." Qu Xuanzi tersenyum.


"Aku tidak memintamu mengatakan semuanya secara detail, ini akan rumit."


Xie Ruo sudah berpikir Qu Xuanzi tidak akan mengatakannya secara lengkap seperti yang dikatakan Dewi Kehidupan. Jadi, ia harus memulai dari hal paling dasar dan poin pentingnya saja.


"Orang itu, maksudku 'dia' atau siapa pun itu dan bagaimana kau menyebutnya, kau sangat mengenalnya?"


"Ya."


Itu hanya pertanyaan paling dasar yang seharusnya Xie Ruo sudah menebak. Xie Ruo melanjutkan, "Lalu, apa 'dia' seorang pria atau wanita?"


"Pria."


Xie Ruo tidak terkejut ketika menggambarkan bagaimana karakternya secara dasar. Karena Qu Xuanzi mengatakan bahwa 'dia' adalah pria, maka dewi yang mengkhianati Dunia Atas bukan pelakunya. Mungkin itu ada hubungannya dengan Dunia Bawah, atau lebih tepatnya Dewa Iblis saat ini yang pernah membunuh Dewa Iblis sebelumnya.


Hanya dengan satu informasi itu, ia sudah bisa membayangkan bagaimana kekuatan lawan dan betapa rumitnya dunia.


"Apa hanya itu?" Qu Xuanzi tidak berpikir Xie Ruo akan mempertanyakan hal tidak penting.


Xie Ruo terkekeh bangga. "Jangan remehkan aku. Hanya dengan beberapa informasi, aku sudah tahu siapa pelakunya."


"Karena kau sudah tahu, maka aku tidak perlu memberitahu lagi."


"Lalu, apa kau tahu kalau 'dia' tinggal di istana kekaisaran? Sebagai siapa?" Xie Ruo mencoba mencari tahu sebagai siapa dewa sialan itu menyamar.


"Jika aku tahu, tidak mungkin aku ada di sini." Jika Qu Xuanzi tahu, mungkin sudah terjadi perang sekarang.


Pada dasarnya, Dewa Iblis akan membunuh siapa pun yang mengetahui identitasnya meski hanya sedikit. Mata-matanya terlalu banyak. Itu sebabnya di masa lalu ia tidak memberitahu Xie Ruo.


"Sebenarnya, ada beberapa hal yang membuatku bingung. Berdasarkan identitas dan kekuatan, seharusnya kau bisa mengalahkannya. Apalagi 'dia' baru saja menjadi dewa. Kecuali memiliki sesuatu yang berbahaya, 'dia' sama sekali bukan lawanmu."


Xie Ruo merasa hal ini agak aneh. Bukankah Qu Xuanzi sangat kuat karena darah campurannya? Pihak lain hanyalah iblis yang memiliki kekuatan dewa, seharusnya tidak perlu repot.


Qu Xuanzi yang tidak lagi berniat menyembunyikannya, langsung menjelaskan, "'Dia' sama sepertiku, berdarah campuran. Ibunya adalah iblis di bawah Dewa Iblis, sedangkan ayahnya adalah dewa yang baru saja datang ke Dunia Atas, tidak termasuk dewa utama ataupun dewa alam. Karena hal itu, kekuatan iblisnya lebih mendominasi, dia lebih diakui sebagai iblis."


"Apa kau mengetahuinya dari ayahmu atau iblis lain?" Xie Ruo ingin tahu.


"Dia sendiri yang mengatakannya."


Xie Ruo merasa sangat tertarik. "Kalian dekat?"


"Ketika aku kecil, dia adalah kesatria yang dipilih Dewa Iblis untuk menjagaku."


Betapa sempit dunia ini. Xie Ruo tidak pernah berpikir hubungan mereka akan menjadi majikan dan bawahan terdekat. Sekarang ia tahu bagaimana 'dia' bisa membuat Qu Xuanzi repot. Orang terdekat adalah yang paling berbahaya karena dapat melihat kelemahan dan kelebihan seseorang secara spesifik.


"Apa saja yang dia katakan?" Xie Ruo sangat penasaran. Biasanya orang jahat berasal dari orang baik yang tersakiti.


"Dia menyukai seorang dewi sejak lama, tapi baik iblis atau dewa melarangnya, mengatakan bahwa dia tidak boleh mengikuti jejak orang tuanya. Dia tidak menyukai Dewa Iblis karena berhasil mendapatkan seorang dewi hanya karena identitas dewanya. Itu sebabnya, dia ingin menjadi dewa." Qu Xuanzi diam untuk beberapa saat. "Dia melakukannya sekarang."


Xie Ruo merasa telah mengajukan pertanyaan sensitif. Ia tahu artinya. Selain menerima warisan, cara lain menjadi dewa adalah membunuh dewa itu sendiri dan menyerap kekuatan ilahinya.


Orang ini ingin menjadi dewa dan merebut keilahian Dewa Iblis dengan cara membunuhnya. Sedangkan Dewa Iblis saat itu adalah ayah Qu Xuanzi.


Kekacauan itu menjadi sebuah pukulan besar dan mengubah Dunia Bawah secara substansial. Kepemimpinan beralih, Dewi Kehidupan juga harus mati dan Qu Xuanzi yang masih kecil harus bertahan hidup.


"Tidak perlu dilanjutkan, aku tidak bertanya lagi." Xie Ruo takut Qu Xuanzi sedih dan langsung memeluknya.


Bagaimanapun, itu adalah masa lalu kelam yang mengerikan. Xie Ruo bahkan tidak ingin mengungkit masalah kematian Klan Xie kala itu.


"Aku tak apa." Qu Xuanzi tersenyum, membalas pelukannya dengan hangat. Ruoruo-nya sedang khawatir ia akan sedih, padahal ia sama sekali tidak merasa sedih.


"Bagaimanapun aku menanyakan hal sensitif yang bahkan orang lain tidak berani menanyakannya. Tidak perlu diingat lagi untuk menjelaskannya, aku sudah tahu." Xie Ruo tahu seberapa menyakitkan hal itu. Ia tidak ingin membuka luka lama Qu Xuanzi.


"Jika itu aku yang dulu, mungkin aku akan seperti yang kau pikirkan. Tapi sekarang sudah berbeda. Aku tidak ingin terikat bayang-bayang masa lalu, hanya ingin fokus pada apa yang di hadapanku, juga yang akan datang. Aku akan melakukan apa pun hanya untukmu."


"Apa hanya untukku? Bagaimana kau bisa egois pada dirimu sendiri?"


"Kamu sendiri, terlalu keras pada diri sendiri, terus memaksa untuk melindungi orang lain. Tidak masalah jika itu orang terdekatmu, tapi bagaimana dengan orang yang tidak mengenalmu?"


"Sejak kecil aku membunuh orang, baik dikenal maupun tidak. Ketika aku melihat tatapan orang-orang yang aku bunuh, terlalu banyak emosi dan harapan. Aku memang tidak luluh, tapi aku berpikir, bagaimana jika semua itu terjadi padaku. Aku mengalaminya, sangat tidak menyenangkan. Bisa dibilang apa pun yang kulakukan bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi untuk menghibur diri sendiri."


Seperti halnya Shi Yang. Ia terlalu malas membantu, tapi Shi Yang sangat mirip dengannya di masa lalu. Xie Ruo ingin menyingkirkan semua celah itu sehingga memilih membantu Shi Yang agar tidak lagi melihat sisinya yang menyedihkan.


"Alangkah baik jika aku dilahirkan sebagai manusia biasa. Di kehidupan lalu, sebelum kau pergi, aku bermimpi menjalani hidup dengan tenang. Aku akan keluar dari organisasi, kita menikah dan pergi ke luar negeri, tinggal di villa dan menjalani hidup dengan tenang sampai tua lalu mati tanpa penyesalan. Sayangnya, aku mati muda."


Jika dipikirkan, Xie Ruo sama sekali tidak memikirkan mimpinya itu ketika bunuh diri. Yang ia tahu, ia tidak memiliki hal lain yang harus dilakukan selain mati. Lagipula helikopter sudah meledak, sekalian saja mati tenggelam.


"Sudahlah, saat itu aku mengira bahwa aku adalah manusia biasa yang bisa menua dan mati karena usia. Sekarang, aku sama sekali tidak bisa menua. Bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi tua, membuang waktu." Lagi pula Xie Ruo senang dengan wajahnya yang terus muda.


Qu Xuanzi hanya mendengarkan dalam diam, membiarkan Xie Ruo menumpahkan semua kalimatnya.


"Jika aku boleh egois, aku ingin hidup dengan tenang lagi. Seperti yang pernah kukatakan, tinggal di pengasingan dan bersantai sepanjang hari. Meski akan bosan karena aku tidak bisa mati karena umur, itu bukan masalah. Aku bisa bermain game, lalu makan enak. Lalu, mungkin bisa mencoba hal baru." Xie Ruo berpikir. "Mungkin ... memiliki satu atau dua anak, lalu mencari menantu untuk menjadi teman baru. Tidak buruk."


Xie Ruo melihat Qu Xuanzi yang hanya memandangnya. Ia jadi malu sendiri mengingat semua perkataannya yang sangat aneh dan tidak bermoral. Semua dipenuhi dengan senang-senang.


"Kau tidak menertawakanku?" Xie Ruo bersyukur tidak ada teman-temannya yang mendengar, atau mereka pasti akan menertawakannya karena kalimat terakhir. Lagi pula itu hanya pemikirannya sendiri. Sulit menjadi kenyataan.


"Jika kamu menginginkannya, aku bisa membantumu mewujudkan semua itu."


Xie Ruo menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa? Qu Xuanzi adalah kaisar, bagaimana bisa tinggal di pengasingan? Setiap hari pasti selalu ada musuh. Belum lagi dewa yang haus kekuasaan dan menginginkan posisinya. Jika itu Xie Ruo, ia tidak akan merelakan miliknya direbut orang lain.


Masalah posisi kaisar, itu adalah urusan Qu Xuanzi sendiri dan Xie Ruo tidak terlalu memikirkannya. Tapi bagaimana dengan umur Xie Ruo? Meski ia tidak bisa mati karena menua, hutangnya masih sangat banyak. Ia belum menjadi dewi, 'bayaran' yang ia terima di masa lalu masih berlaku.


Mengingat tentang 'bayaran', tiba-tiba Xie Ruo menjadi sedih.


"Dunia ini bukan game, nyawaku juga hanya satu. Anggap kau tidak mendengarnya dan aku hanya bercerita tentang or—"


Xie Ruo sepenuhnya diam ketika Qu Xuanzi menyatukan bibirnya untuk bungkam. Xie Ruo tidak lagi mengatakan apa pun setelah ciuman berakhir. Xie Ruo merasa, seharusnya ia tidak banyak bicara hari ini.


"Setelah masalah ini berakhir, aku akan mewujudkannya. Kita akan pergi ke tempat jauh dan hidup dengan tenang. Ini bukan hanya tentang keinginanmu, tapi juga keinginanku. Kau baru saja mengatakan, aku juga harus egois untuk diriku sendiri."


"Xuanzi ...." Xie Ruo ingin mengatakan sesuatu, tapi Qu Xuanzi tidak memberinya kesempatan. Ciumannya diperdalam, melarang Xie Ruo mengungkapkannya.


Qu Xuanzi tahu apa yang ingin dikatakan Xie Ruo, tapi ia tidak ingin kalimat itu terdengar dari mulut Xie Ruo. Ia akan mencari cara menyelesaikan masalahnya, meski bayarannya akan mahal.


Xie Ruo akhirnya dapat bernapas setelah tautan terlepas. Benar-benar ... ia hanya ingin mengatakan kenyataan, apa salahnya?


Hanya saja, kenyataan itulah yang merupakan masalah.


"Aku tidak mengizinkanmu mengatakan hal buruk untuk dirimu sendiri."


Xie Ruo tersenyum kecut, kemudian mengusap kening Qu Xuanzi agar tidak terus berkerut. "Tidak lagi."


"Apa pun yang terjadi kedepannya, aku akan melindungimu."


"Aku tahu." Itu sebabnya Xie Ruo berani melakukan berbagai macam kegiatan ekstrem. Seperti bermain 'petasan' ketika di Keluarga Shi contohnya.


Xie Ruo tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Ia melihat Qu Xuanzi sambil berpikir sejenak. Tampak agak ragu sambil menyentuh dagunya seperti seseorang yang sedang berpikir keras.


"Ada sesuatu?" Qu Xuanzi bertanya. Apa ada pertanyaan lagi?


"Aku ingin menanyakan satu hal. Apa kau ... akan membalas jika aku melakukan sesuatu padamu?"


Qu Xuanzi tidak berpikir Xie Ruo akan menanyakan hal aneh lain. Kenapa ia harus membalas? Memang apa yang ingin dilakukan Xie Ruo? Apa ini semacam ujian?


"Tidak." Qu Xuanzi menjawab dengan enteng. Meski Xie Ruo ingin membunuhnya, ia tidak akan membalas.


Xie Ruo tampak sudah menduganya. Ia tersenyum misterius. Posisi yang awalnya berada di sebelah Qu Xuanzi, ia berpindah duduk melebarkan kaki di pangkuan pria itu dan mengalungkan tangannya di leher. "Kau akan menyesalinya."


Qu Xuanzi benar-benar terpana dengan perubahan sikap yang begitu cepat. Ia ingat, bukankah kedatangan Xie Ruo untuk menanyakan hal serius? Tahu begitu, ia tidak akan memberi jawaban 'tidak' atas pertanyaan menjebak Xie Ruo.


"Kau tidak ingin melakukannya di kamar?"


Xie Ruo melihat sekeliling di mana hanya ada sofa di sisi ruangan. "Di sini tidak buruk." Jika di kamar, ia tidak yakin tidak akan jatuh ke kondisi semalam.


"Kalau begitu, aku ingin lihat apa keterampilanmu lebih bagus dariku atau sebaliknya."


Xie Ruo tersenyum nakal. "Jika kamu ikut campur, aku yang menang karena berhasil menggodamu."


Qu Xuanzi tersenyum kecut, merasakan tubuhnya mulai panas ketika tangan nakal itu menyentuh dadanya secara sensual sebelum melepas jubahnya. "Kalau begitu aturannya, aku tidak yakin bisa menang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mei Liena mondar-mandir tidak jelas sepanjang waktu di depan kamarnya sendiri. Sejak Xie Ruo pergi, ia merasa suasana hatinya berubah-ubah. Perkataan Dewi Kehidupan membuatnya gelisah, ditambah ia akan mendapat informasi lain yang pastinya lebih mengejutkan dari Xie Ruo.


Ia melihat Liu Chang melintas, kemudian langsung menyambar tangannya, menyeretnya pergi.


"Liu Chang, kau masih saja bersikap santai seperti ini ketika kami semua merasa khawatir?" Mei Liena mengoceh sambil menyeret pria malang itu seolah sedang menyeret karung.


"Katakan saja apa maumu." Liu Chang menyerah akan Mei Liena yang aneh setiap saat.


"Hei, aku lebih tua darimu, seharusnya kau sedikit merasa sopan." Mei Liena menggertak.


"Perasaan—"


"Apa!" Mei Liena memelototinya dengan tajam.


Liu Chang hanya bisa terdiam. Perasaan Liu Chang sedikit lebih tua dari Mei Liena, kenapa wanita itu memutar balikkan fakta?


"Sudah cukup lama sejak Ruoruo pergi. Berdasarkan hitunganku, dalam kondisi normal seharusnya dia sudah keluar. Bagaimana jika ada sesuatu yang mengejutkan dan menyebabkan Ruoruo mengamuk? Kau tahu sendiri jika Ruoruo mengamuk, jantung seseorang menghilang."


"Setidaknya, dia tidak akan menarik jantung suaminya sendiri." Liu Chang heran dengan bocah satu ini.


"Benar juga ...." Mei Liena kembali berpikir, kemudian langsung menyerah begitu saja. "Sudahlah, aku tidak tenang!"


Mei Liena terus menyeret Liu Chang ke istana utama. Langkah Mei Liena termasuk cepat dan membuat Liu Chang merasa lebih baik ditarik seekor naga daripada seorang wanita. Setidaknya, tiga naga imut itu masih memiliki hati dibandingkan wanita yang tidak peduli apa ia menabrak sesuatu atau tidak.


Sampai akhirnya di depan ruangan, tanpa mengatakan apa pun Mei Liena langsung membuka pintu. Toh, ia hanya perlu minta maaf nanti. Jika memang terjadi sesuatu, ia bisa langsung menjadi penyelamat seperti dalam teater.


Tapi, begitu pintu terbuka, wajah Mei Liena memucat seketika. Ia menarik kembali raungannya dan mendorong Liu Chang di belakangnya keluar, baru menutup pintu rapat-rapat.


Liu Chang tidak tahu apa pun. Begitu dipaksa masuk sampai tangannya terpelintir, ia diterbangkan begitu saja sampai berguling di tanah. Wanita ini ... ia mengutuknya tujuh turunan!


"Liena, apa kau sudah gila?" Liu Chang berdiri sambil membenarkan sendi lengannya yang terbalik. Suara pergeseran tulang terdengar, bahkan Liu Chang harus menahan rasa sakitnya sambil mengutuk dalam hati.


"Itu ... itu ...." Mei Liena sulit menjelaskannya. "Aku tidak lihat apa pun."


"Apa yang kau lihat?" Jika seperti ini, sudah pasti wanita busuk ini melihat sesuatu. Apa Xie Ruo benar-benar menarik jantung seseorang? Wajar jika Mei Liena takut.


"Tidak ada siapa pun di dalam." Mei Liena bicara dengan malu.


Sudut mata Liu Chang berkedut. Tidak masuk akal jika Mei Liema tiba-tiba meledak seolah habis melihat hantu, tapi dia bilang tidak ada siapa pun di dalam.


"Aku jadi penasaran." Liu Chang baru akan pergi ke arah ruangan, namun Mei Liena menarik rambutnya dengan keras.


"Jangan! Aku masih sayang kepala!" Mei Liena bertindak histeris sambil memegang jantungnya seolah takut akan menghilang. Padahal jelas-jelas ia mengatakan bahwa ia takut kepalanya hilang.


Liu Chang memandangnya dengan wajah gelap. Benar-benar, wanita ini sudah gila terlalu lama bergelut dalam berbagai macam obat. Sepertinya Mei Liena sedang mabuk.


"Jelaskan padaku!" Liu Chang terlalu malas berbasa-basi lagi. Ia sudah sangat kesal terus dijadikan korban.


"Sebaiknya tidak mencari Ruoruo terlebih dahulu, dia sedang sibuk."


"Sibuk?"


"Ya ... sibuk ... sibuk ...." Mei Liena tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi tiba-tiba saja ia berkata dengan lancar. "Apa yang harus dilakukan pasangan setelah menikah?"


Liu Chang berpikir sejenak, kemudian mengangguk paham. "Aku paham, ayo kita pergi."


"Memangnya apa?" Mei Liena malah bertanya membuat Liu Chang kesal.


"Sebenarnya ada banyak. Perlu aku sebutkan satu per satu atau memilih antara satu, dua, atau tiga?"


"Tiga."


"Diskusi politik rumah tangga."


Mei Liena mengerutkan kening. Sebenarnya apa ia yang bodoh atau Liu Chang?


Melihat reaksi aneh Mei Liena yang seorang mengatainya bodoh, Liu Chang menghela napas. "Apa perlu aku tunjukkan?"


"Tidak perlu!" Mei Liena terburu-buru pergi. Sepertinya Liu Chang sengaja mempermainkannya, ia harus berhati-hati.


Sedangkan Liu Chang hanya melihat Mei Liena dengan aneh. Sebenarnya wanita busuk itu kenapa? Bukankah hanya diskusi masalah keuangan, rumah, dan sebagainya?


Apa jangan-jangan, yang Mei Liena lihat barusan bukan diskusi biasa? Mendadak, Liu Chang bersyukur tidak mengetahui apa pun.


Mei Liena melihat Liu Chang seolah pria itu adalah pria cabul yang membuat Liu Chang frustrasi. Baru saja Liu Chang akan protes habis-habisan akan intimidasi Mei Liena, sosok bocah yang terasa suram lewat begitu saja ke arah ruangan belajar kaisar.


Spontan Mei Liena menghalangi jalannya, tanpa peduli siapa yang baru saja ia hadang. Yang ia tahu, ia hanya sedang menyelamatkan seorang anak kecil.


"Hei, apa kamu mencari Yang Mulia? Yang Mulia sedang sibuk, tidak bisa diganggu. Jika ada sesuatu, kau bisa datang lain waktu."


Anak lelaki itu tidak menatap Mei Liena, hanya mengucapkan sebuah kata. "Guru."


"Guru?" Mei Liena bingung. Sejak kapan Kaisar Langit memiliki murid? Bukankah Xie Ruo mengatakan, gunung es itu tidak menerima murid meski dipaksa?


Selagi Mei Liena berpikir, Liu Chang justru berkeringat dingin. Ia tidak mau mengakui bahwa wanita itu adalah temannya, tapi ia tidak bisa membiarkan temannya jatuh ke dalam kondisi menyedihkan di tangan dewa lain!


Mei Liena mungkin tidak tahu, atau lupa siapa anak itu. Tapi Liu Chang tentu saja ingat. Di Dunia Atas, siapa lagi yang menyebut Xie Ruo sebagai guru? Anak itu adalah Huo Yuzheng!


"Adik kecil, tidak seharusnya kamu di sini. Jika ingin bertemu Yang Mulia, aku akan membantumu bicara dengan temanku. Tapi tidak sekarang." Mei Liena masih berusaha bersikap manis untuk memberi kesan baik.


Liu Chang semakin gemas. Ia langsung menghampiri dan membisiki Mei Liena mengenai siapa anak yang baru saja diajak bicara.


Dalam sekejap, senyum Mei Liena membeku. Sungguh, ia merasa kepalanya akan hilang sekarang, jauh lebih ngeri daripada sebelumnya. Bagaimana ia memanggil sang Dewa Hukum dengan sebutan adik kecil!


"Kenapa tidak mengatakannya?" Mei Liena merasa ingin menangis. Siapa pun, tolong wanita ini!


"Kau terlalu terburu-buru." Liu Chang menghela napas. Akhirnya temannya mendapat pencerahan. Ia pun bicara mewakili Mei Liena "Dewa Hukum, maafkan kelancanganku dan temanku. Hanya saja, Ruoruo sedang tidak bisa dikunjungi."


Huo Yuzheng menatapnya tanpa emosi, kemudian mengatakan sebuah kalimat yang membuat Liu Chang membeku. "Kaisar Iblis."


"Kaisar Iblis?" Liu Chang dan Mei Liena saling pandang.


Huo Yuzheng melanjutkan, "Dalam beberapa bulan, Menara Suci akan ditutup."


Kalau itu mereka memang sudah tahu. Tapi apa hubungannya dengan Kaisar Iblis?


"Dewa Hukum bisa mengatakannya pada kami untuk disampaikan." Entah kenapa, Liu Chang merasa ada yang tidak beres.


"Lupakan, kalian tidak mendengar apa pun." Huo Yuzheng pergi begitu saja membuat dua manusia itu termenung memandangnya.


Mei Liena dan Liu Chang sama-sama bingung. Sebenarnya, apa yang ingin dikatakan Huo Yuzheng? Jika yang bicara dengannya adalah Xie Ruo, apa Xie Ruo akan mengerti?