
Terjadi pertarungan antara Xie Ruo dan Shu Xin. Meski Shu Xin mengalami cedera yang membuat seluruh kekuatannya menurun drastis, ia tetap tidak boleh diremehkan. Ia masih memegang keilahian cahaya dan memiliki pengendalian yang kuat serta pengalaman selama ribuan tahun, jelas dapat menekan Xie Ruo.
Namun Xie Ruo juga tidak boleh diremehkan. Ia telah memegang dua keilahian, kemungkinan akan seimbang melawan Shu Xin yang merupakan dewi yang jatuh. Ditambah dengan kekuatan bawaan naga, serangan Shu Xin tidak akan terlalu menekan untuk memaksanya menghabiskan seluruh tenaga.
Qu Xuanzi di sisi lain menahan Dewa Iblis. Kehadiran Shu Xin sama saja memberinya isyarat, bahwa altar pengorbanan sudah benar-benar siap digunakan. Dewa Iblis hanya memerlukan pengaktifan energi murni dan darah campuran untuk meningkatkan kekuatannya dan membunuh Qu Xuanzi.
Serangan demi serangan diluncurkan. Sihir saling menyerang dan menciptakan badai besar di medan perang. Tidak ada yang berani berada di dekat pertempuran berbahaya itu, atau mereka akan mati saat itu juga terkena serangan yang meleset.
Pedang Xie Ruo diayunkan, berdentangan dengan pedang emas Shu Xin. Sayap malaikat tumbuh di bahu Shu Xin dan menekan Xie Ruo dari udara untuk menguburnya dengan sihir.
Jika Shu Xin ada di udara, akan sulit bagi Xie Ruo untuk membunuhnya dan ia akan berada di posisi tidak menguntungkan. Oleh sebab itu, Xie Ruo pun berubah menjadi naga dan melakukan pertempuran langit dengan Shu Xin.
Tubuh naga Xie Ruo jelas lebih kuat dari tubuh manusianya. Ia terbang di langit dan melepaskan api dingin, menyebabkan langit dipenuhi hujan api dingin yang besar. Shu Xin mengayunkan pedangnya dengan cepat untuk menangkis, lalu menggunakan sayapnya, melindungi diri sendiri dari api dingin yang menghantam.
Shu Xin tidak akan diam saja selama ia diserang bertubi-tubi. Ia menghindari serangan dan terbang dengan cepat. Sayapnya yang besar mengepak, memberi tekanan sihir yang kuat disertai serangan ke arah Xie Ruo. Ia pun menghunuskan pedangnya, menyerang Xie Ruo dari jarak dekat.
"Hari ini, aku akan mengakhiri kutukan itu." Shu Xin menarik sudut bibirnya dengan tatapan yang menajam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Darah hitam menetes di sebuah bilah pedang ramping di tangan sosok anak lelaki. Tatapannya terlihat dingin melihat mayat-mayat iblis di bawah kakinya yang terkapar penuh noda hitam.
Bola bulu di bahunya hanya melihat dalam diam, kemudian melirik dengan hati-hati. "Sebenarnya ada berapa banyak?"
Huo Yuzheng menghela napas, menyimpan kembali pedang tersebut ke dalam sarung pedang. "Entahlah."
"Situasi sangat gawat, kita harus menyembunyikan mereka selama perang berlangsung." Roh Guntur cemas. Ia tidak boleh membiarkan anak-anak itu jatuh ke tangan Dewa Iblis.
Tepat pada saat keresahan Roh Guntur diungkapkan, sosok putih melesat dengan kecepatan tinggi dan berdiri di depan mereka dengan tubuh besar yang membuat siapa pun waspada. Namun mereka berdua jelas mengenal sosok besar itu, yang tidak lain adalah Long Long.
"Nyonya tidak bisa datang karena Dewi Cahaya, Yang Mulia juga, jadi memintaku mengamankan mereka." Long Long langsung pada intinya. Ia masuk ke dalam ruangan, melihat dua bocah itu yang tertidur pulas. Enaknya menjadi bayi kecil.
"Ada banyak iblis yang menyusup, sepertinya penjaga pembatas alam telah dibunuh." Huo Yuzheng memberitahu dengan nada datar. Ia melihat ke arah luar, kemudian berkata, "Kalian bawa mereka."
"Lukamu ...." Roh Guntur cemas.
"Bukan masalah." Huo Yuzheng melempar bola bulu itu ke punggung Long Long, kemudian menghilang bagai tertelan cahaya.
Roh Guntur tertegun, kemudian mendengus kesal. "Aku mengkhawatirkannya tapi dia bersikap sombong. Menyebalkan!"
"Diamlah, bantu aku membawa mereka menggunakan kekuatanmu. Ingat, jangan sampai mereka tersengat." Long Long memtar bola matanya.
Roh Guntur melompat ke atas kepala Long Long, kemudian menggunakan kekuatannya untuk mengangkat kedua bayi itu ke dalam keranjang empuk yang memang dikhususkan untuk situasi darurat. Mereka tidak bisa meminta dewa lain untuk membantu karena sibuk. Istana langit perlu dipertahankan.
Setelah memasukkan mereka dengan hati-hati, Long Long membawa keranjang tersebut dengan giginya lalu terbang ke langit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di langit, Xie Ruo melesat dengan kecepatan tinggi dan terus menggunakan sihirnya untuk menyerang Shu Xin. Shu Xin tak kalah gesit, tubuh kecilnya melompat dengan cepat menghindari tiap serangan, lalu menebaskan pedangnya untuk memberi sayatan besar pada Xie Ruo.
Xie Ruo bergerak sangat cepat. Tiba-tiba sosoknya menghilang begitu saja membuat Shu Xin semakin waspada. Sebuah cahaya perak melesat melewatinya sampai akhirnya Shu Xin merasa sesuatu mendekati punggungnya.
Wanita itu berbalik sambil menahan pedang yang tiba-tiba muncul hendak menebasnya. Xie Ruo yang kembali ke wujud manusia, menggunakan pedangnya untuk menyerang sedangkan api dingin berkumpul di belakangnya untuk meluncurkan serangan lanjutan.
Shu Xin dengan sigap melompat dan mengayunkan pedang untuk menangkis tiap serangan. Sayapnya dikepakkan dengan keras hingga Xie Ruo termundur seolah jatuh dari udara. Namun, tiba-tiba Xie Ruo menghilang lagi, membuatnya sangat kesal.
"Xie Ruo, permainanmu akan segera berakhir." Shu Xin menggeram sambil mengeratkan pegangan pedangnya.
"Oh ya?"
Shu Xin berbalik dan melihat Xie Ruo yang menghunuskan pedangnya dengan cepat. Ia mengangkat pedangnya, melawan tekanan yang diberikan Xie Ruo. Pedang Xie Ruo tampak bersinar dengan berbagai cahaya yang membuat kekuatannya bertambah. Shu Xin merasakan tekanan yang sangat kuat hingga ia mundur sejauh beberapa meter dan melihat Xie Ruo yang melayang dengan seimbang.
"Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi bila semua unsur menyatu untuk melawan cahaya?" Xie Ruo mengangkat tangannya, memperlihatkan api putih berbentuk kobaran kecil yang menari-nari di jarinya.
Shu Xin menatapnya tidak suka. "Langit adalah medanku, kau tidak bisa mengalahkanku di sini."
"Tapi langit adalah tempat tinggal naga surgawi, apalagi sekarang mendung." Tidak ada cahaya di langit, maka kekuatan Shu Xin tidak mendapat dukungan.
Shu Xin melihat ke langit yang dipenuhi awan hitam mendung. Tetesan hujan es mulau turun, mendukung posisi Xie Ruo untuk pertempuran langit. Jika ia terlalu lama di udara dan terus terkena tetesan air es, ia akan membeku.
Tapi Shu Xin tidak sepenuhnya tidak memiliki rencana. "Ingin melawan cahaya dengan gabungan unsur dan menutup cahaya? Sayangnya, aku adalah pemanggil cahaya."
Shu Xin mengangkat pedangnya ke langit. Cahaya emas muncul di ujung pedang dan mencuat tinggi ke angkasa. Ia ingin lihat, sampai kapan Xie Ruo akan mempertahankan awan untuk menutupi cahaya.
Raut Xie Ruo menjadi dingin. Ia memandang langit, pedang di tangannya bersinar dengan warna abu-abu gelap untuk mempertahankan awan mendung di langit dan menambah kapasitas tetesan air es. Tetesan itu jatuh ke daerah pertempuran, menyebabkan para iblis terkorosi seperti terkena cairan asam.
Petir menggelegar, menyambar tiap daerah dan menghancurkan es-es di tanah menjadi serpihan runcing yang menusuk para iblis yang mulai meleleh. Hal itu membuat perhatian Shu Xin teralih, dan berniat membuka cahaya lebih cepat agar rencananya tidak berantakan.
"Kau tidak akan berhasil." Shu Xin menggertakkan giginya dan terus mencoba memanggil cahaya untuk mendukung kekuatannya. Proses itu membuat tenaganya perlahan habis lebih cepat.
Xie Ruo mengumpulkan semua unsur dengan cepat. Air, es, api, angin, petir, serta tanah terkumpul dari pedang dan terintegrasi dengan tubuhnya. Iris birunya menyala dengan tajam, sebelum akhirnya ia mengangkat tangannya setelah memadatkan semua unsur di tubuh dengan kekuatan psikis.
Cahaya warna-warni terserap dalam cahaya abu-abu, meluncur dengan cepat ke arah Shu Xin yang berusaha keras memanggil cahaya. Shu Xin dengan cepat bereaksi ketika menyadari bahwa gabungan unsur telah menyatu dan menyerangnya. Ia membuat perlindungan di sekitar.
"Tidak mungkin ...." Shu Xin sangat terkejut. Kenapa cahaya tidak menuruti keinginannya!
Pranggg
Gabungan unsur memecah pelindung, merasuki tubuhnya, lalu menembus hingga menciptakan kerusakan fatal pada tubuh Shu Xin. Guncangan, sengatan, dan rasa korosif terus meneror. Sayap Shu Xin rusak akan lahapan api dingin sehingga terlihat seperti sayap api. Ia jatuh akan tekanan serangan dengan kecepatan yang melebihi dari kecepatan normal.
Dewa Iblis yang bertarung dengan Qu Xuanzi langsung sadar. Ia menghilang begitu saja, lalu menangkap Shu Xin san menghancurkan serangan gabungan unsur dengan satu tangannya.
Hancurnya gabungan unsur akan energi gelap membuat serangan balik yang membuat Xie Ruo tidak bisa menghindar. Qu Xuanzi melesat sebelum akhirnya serangan tersebut meledak tepat ketika Qu Xuanzi memindahkan posisi Xie Ruo ke pelukannya. Perisai yang muncul menghalangi ledakan mengenai mereka. Xie Ruo yang melihat ledakan itu terkejut. Nyaris saja ia mati tercincang.
"Ada yang terluka?" Qu Xuanzi merasa khawatir. Dewa Iblis hampir saja membunuh Xie Ruo.
Xie Ruo menggeleng, kemudian melihat Shu Xin yang tampak terluka parah di pelukan Dewa Iblis. Dewa Iblis terlihat sama khawatirnya seperti Qu Xuanzi yang mengkhawatirkan Xie Ruo.
"Aku baik-baik saja." Pandangan Shu Xin tidak terlepas dari Xie Ruo dengan penuh kebencian. Ia merasa tubuhnya sangat sakit, apalagi sayapnya terbakar.
"Pergilah, aku akan menangani sisanya." Dewa Iblis berkata dengan serius. Jangan sampai Shu Xin mati di depan matanya apalagi di tangan seekor naga kecil, itu tidak lucu.
Shu Xin mengangguk. Ia pun pergi dari medan perang setelah melihat ke arah Xie Ruo sekali lagi. Ia berjanji akan menghancurkan Xie Ruo berkeping-keping!
Xie Ruo menarik semua kekuatannya dan turun dari langit bersama Qu Xuanzi. Tenaganya banyak terkuras, beruntung energi murni memulihkannya dengan cepat sehingga masih bisa melanjutkan pertempuran.
"Xie Ruo, apa kau melupakan sesuatu? Bagaimana Kaisar Iblis yang membunuh kakekmu?" Dewa Iblis tiba-tiba mengungkit demikian membuat wajah Xie Ruo menggelap.
"Aku tidak sebodoh itu mempercayai seseorang. Nyatanya, Jian Wu berbohong." Meski tidak sepenuhnya berbohong, Xie Ruo sebenarnya tidak tahu mana yang bohong dan tidak. Mungkin saja Kaisar Iblis hanya mengantar Jian Wu dan menyingkirkan hewan suci.
Dewa Iblis tersenyum misterius. "Bagaimana jika Kaisar Iblis akan membunuhmu sekarang?"
Xie Ruo dan Qu Xuanzi saling bertukar pandang. Mereka tahu Kaisar Iblis dikendalikan, tapi tidak tahu apa pengendaliannya akan sangat kuat sampai berani membunuh Xie Ruo. Tapi jika Dewa Iblis membawa Kaisar Iblis sekarang, sudah pasti akan sangat merepotkan. Takutnya, masa lalu akan terulang.
Dewa Iblis mendengus melihat keduanya hanya diam. "Kalau begitu, akan kutunjukkan teman lama kalian."
Benar saja, kabut hitam muncul saat itu juga membentuk sosok pria dengan iris merah yang dipenuhi aura dingin. Ia berdiri di sebelah Dewa Iblis dengan aura pembunuh yang kuat. Tapi ketika melihat Xie Ruo, ia menunduk dan mencoba mempertahankan wajah datarnya.
Kekuatan Kaisar Iblis pada dasarnya seimbang dengan Qu Xuanzi. Sekarang Kaisar Iblis dikendalikan Dewa Iblis untuk menyerang mereka, ini akan menjadi masalah besar.
Ini adalah perang penentuan. Hanya ada kalah dan menang, hidup dan mati!