The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
191. Kebohongan Untuk Kebaikan



Setelah kepergian Zhong Xiaorong yang baru saja disembuhkan Mei Liena, Xie Ruo lagi-lagi dikabarkan sakit. Terbaring di atas tempat tidur, para pelayan bolak-balik membawakan air hangat dan lainnya atas permintaan Mei Liena.


Xu Ziyan berdiri di samping tempat tidur dalam diam, melihat wajah pucat Xie Ruo yang menutup mata. Ia sebenarnya agak merasa bersalah, tapi ia tidak menyesal. Salahkan takdir yang begitu kejam.


Pasti Xie Ruo sudah meminum teh yang sudah dicampurkan dengan obat penggugur kandungan. Sekarang ia yakin akan pemeriksaannya sendiri. Jika ia bisa menggunakan hal ini sebagai tameng, ia bisa mendapat posisi yang lebih tinggi dan mengendalikan permaisuri kekaisaran.


Awalnya ia agak gelisah ketika melihat Zhong Xiaorong begitu heboh berlari ke kamar kecil setelah dari ruangan Xie Ruo. Tapi Mei Liena mengatakan, Putri Youmei salah makan sebelum datang ke istana karena terburu-buru, itu sebabnya ia terkena diare.


Mei Liena melihat Xie Ruo untuk beberapa saat setelah 'merawatnya' setelah sekian lama. Ia melihat ke arah Xu Ziyan, kemudian berkata, "Jaga dia dengan baik, aku akan kembali nanti untuk pemeriksaan rutin. Sebelum itu, tolong buatkan obat dari resep ini."


"Baik." Xu Ziyan menerimanya, kemudian mengantar Mei Liena keluar kamar sekalian membuat obat.


Tersisa Xie Ruo seorang diri. Ia membuka mata, melihat ke arah pintu di mana semua orang sudah pergi, hanya ia sendirian di dalam ruangan.


Satu orang yang mengetahui bahwa ia tengah mengandung, ia sudah dijadikan target, apalagi jika banyak yang tahu? Apalagi jika musuh mengetahuinya, itu akan menjadi bahaya terbesar.


Xie Ruo sebenarnya takut, tapi ia tidak boleh merasakan rasa takut untuk sekarang. Tidak segalanya dapat diselesaikan dengan kekuatan, apalagi penggunaan kekuatannya saat ini terbatas. Ia hanya bisa mengandalkan pemikiran mendalamnya, untuk menghindari masalah sebisa mungkin.


Memegang perut ratanya dengan halus, ia bergumam, "Maaf, aku harus sedikit menggunakanmu."


"Kenapa tidak langsung bunuh saja? Dia hanya pelayan!" Roh Guntur sudah sangat kesal. Kenapa tidak langsung bunuh saja pelakunya agar masalah selesai? Setidaknya, biarlah ia sedikit bertindak dan menyambar wanita sialan itu sampai menjadi daging panggang.


"Jika aku membunuhnya, hanya akan ada banyak pertanyaan. Lebih baik diungkapkan segera," sahut Xie Ruo.


Roh Guntur tidak mengerti maksud Xie Ruo dan ingin membantah lagi, namun Long Long langsung menendang tubuh bolanya sampai mental dalam kegelapan.


"Bisakah kau tidak diam menonton saja?" Long Long sangat kesal. Sudah dibuat kesal oleh wanita sial satu itu, sekarang Roh Guntur menambah tingkat kekesalannya dengan semua pertanyaan itu.


"Aku hanya tidak mengerti ...." Roh Guntur ingin marah-marah, namun ia menahannya dan memilih berpura-pura menangis. Setidaknya, ia ingin dikasihani oleh nyonyanya.


Long Long memutar bola mata. Ia jadi penasaran bagaimana dengan reaksi tiga naga bodoh di luar sana jika tahu apa yang terjadi di sini. Serta bagaimana reaksi Xiao Caihong mengetahui ibunya dicelakai.


Xiao Caihong selama ini tidak pernah lepas dari pergelangan tangan Xie Ruo dan menyamar sebagai gelang ular. Ia jelas tahu semuanya, namun hanya bisa diam. Bukannya tidak marah, tapi ... ia tidak mengerti urusan orang dewasa.


Jika Long Long tahu, mungkin ia akan muntah darah.


Beberapa saat setelah pertengkaran singkat itu terjadi, Xu Ziyan kembali dengan semangkuk obat resep Mei Liena di tangannya.


"Yang Mulia, Anda sudah bangun." Xu Ziyan langsung meletakkan nampan dan membantu Xie Ruo duduk.


Xu Ziyan mengambilkan obat dari nampan, kemudian memberikannya pada Xie Ruo. Xie Ruo mengambilnya, tapi tidak langsung diminum melainkan hanya diam. Itu membuat Xu Ziyan cemas.


"Yang Mulia, apa ada sesuatu?" tanya Xu Ziyan.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa lagi yang kau masukkan?" Xie Ruo menatap mata Xu Ziyan dengan pandangan dingin.


Xu Ziyan ini tidak sebodoh yang ia pikirkan. Obat yang diresepkan Mei Liena, ia tahu semua kandungannya dan kegunaannya dan berfungsi sebagai vitamin saja. Tapi ada campuran lain, dan ia tidak terlalu bisa mengidentifikasinya karena keterbatasan kemampuan medis.


"Yang Mulia, ini adalah obat yang diresepkan Nona Mei, Ziyan tidak mengerti maksud Yang Mulia."


"Obat yang diresepkan Mei Liena, aku tahu pasti. Kau menambahkan sesuatu yang lain, apa aku pernah menyakitimu?"


Xu Ziyan terkejut bahwa Xie Ruo mengetahuinya. Ia langsung berlutut dan menunduk, berharap rencananya masih berjalan sebagaimana mestinya. "Yang Mulia, saya hanya menambahkan obat yang diresepkan tabib, untuk ... memperkuat rahim agar tidak terjadi masalah."


"Jadi benar, kau sudah tahu dan mengambil keputusan sendiri untuk mencelakaiku."


"Yang Mulia, Ziyan hanya menyelamatkan Yang Mulia. Jika Kaisar mengetahuinya, akibatnya akan buruk, apalagi Yang Mulia sedang mengalami konflik dengan Kaisar."


"Jadi aku harus berterimakasih? Karena telah membunuh anakku?" Xie Ruo menarik alisnya tajam, kemudian beranjak dari tempat tidur membawa cawan obat di tangannya. Ia berdiri di depan Xu Ziyan yang berlutut, kemudian menuangkan cairan obat di tangannya tepat ke atas kepala Xu Ziyan. "Asal kamu tahu, jika obat Mei Liena dan obatmu disatukan, akan menjadi racun yang dapat merusak organ secara langsung."


Xu Ziyan sangat terkejut. Cairan obat itu tersiram ke kepalanya dan menetes ke pakaiannya. Ia tidak akan menyangka, bahwa ia baru saja memberikan sebuah racun. Apalagi racun itu disiram ke arahnya, membuat tubuhnya menggigil dan mulai merasa takut. Kulitnya juga mulai merasakan gatal.


"Aku lupa mengatakan, jika obat Mei Liena dicampurkan dengan obat lain tanpa takaran yang pas, akan menjadi racun berbahaya, juga dapat merusak kulit. Entah bagaimana jika masuk ke tubuhku, bukankah sama saja kau ingin membunuhku?"


Setelah cawan habis, ia melemparnya begitu saja kemudian duduk di atas tempat tidur sambil melihat Xu Ziyan yang tertegun.


Xie Ruo tersenyum. "Bagaimana? Kau merasakannya?"


Xu Ziyan melihat ke arah Xie Ruo. Tubuhnya menggigil sedangkan kulitnya memerah dan terkelupas. Ia merasa kulitnya gatal, tapi hanya bisa menahannya sekuat mungkin.


"Yang Mulia, jika bukan karena aku ... Kaisar sudah membunuhmu. Kau tahu hukuman mengkhianati Kaisar? Aku sudah membantumu agar berada di posisi aman, kenapa kau menyalahkanku?"


"Apa aku menyuruhmu? Tindakan di luar perintah majikan, merupakan pengkhianat. Aku membenci pengkhianat. Bersyukurlah kau masih hidup, karena biasanya aku tidak membiarkan siapa pun yang membuatku kesal hidup. Lalu, kau benar berpikir Kaisar akan membunuhku? Justru aku berpikir, dia akan membunuhmu tanpa banyak berpikir karena masalah ini."


Xu Ziyan tercegang akan ucapan berani Xie Ruo. Ia tidak menyangka, wanita yang ia pikir naif dan kekanakan menjadi begitu mengerikan. Ia harus mencari cara melindungi diri. "Tapi tidak menutup kemungkinan, kau mengandung anak selain anak Kaisar."


"Bukankah kau sudah membunuhnya?" Wajah Xie Ruo menjadi datar. "Kau membunuhnya, lalu berusaha membunuhku juga ketika aku sedang lengah, itu saja sudah cukup untuk membuatmu dihukum mati."


"Aku tidak-"


"Ingin bertaruh? Apa pun yang kukatakan, Kaisar akan mempercayainya tanpa sebab. Maka pada saat itu, kau akan dibunuh. Jika tidak, seperti yang kau katakan, aku yang akan dibunuh."


"Nyonya, apa layak bertaruh dengan pelayan rendahan ini?" Roh Guntur di dalam sana masih saja kesal.


Xie Ruo tetap tampak tenang. "Ini caraku bertahan."


"Kaisar bukan orang tidak masuk akal seperti yang kau katakan. Dia akan membunuh siapa pun yang mengkhianatinya."


"Aku tidak mengkhianatinya, ataupun membohonginya. Dia tidak akan membunuhku apa pun alasannya. Jika ya, dia akan menyesalinya." Bahkan Zhong Guofeng tahu ia sebenarnya sudah menikah, malah berani menculiknya seperti ini.


"Baik, kau tidak menerima saranku. Kau akan menyesalinya." Xu Ziyan pergi dengan perasaan kesal. Rencananya mendalikan Xie Ruo gagal total, ditambah ia terkena racun buatannya sendiri. Tidak, sepertinya ini adalah jebakan. Xie Ruo dan Mei Liena sengaja menjebaknya!


Xie Ruo melihat kepergian Xu Ziyan, kemudian menghela napas dan bersandar. Awalnya ia ingin membunuh wanita itu, tapi tiba-tiba ia tidak bisa melakukannya sehingga harus mengajukan taruhan bodoh itu. Tak apa, ini sudah sesuai rencana.


"Kenapa tidak membunuhnya langsung? Itu bukan gayamu." Mei Liena muncul dari kegelapan, menghampiri Xie Ruo kemudian memeriksa denyut nadinya.


"Entahlah, mungkin sedang malas. Memikirkan bau darah membuatku mual."


Mei Liena menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nadimu bagus, kedepannya jangan terlalu banyak emosi, itu akan mempengaruhi bayimu."


Xie Ruo menghela napas malas dan merebahkan tubuh secara acak. Bagaimana emosinya bisa stabil jika setiap hari selalu disapa masalah?


Ia telah mengatakan secara tidak langsung pada Xu Ziyan, bahwa ia telah keguguran. Wanita itu pasti akan mengatakannya pada seseorang. Ia tidak peduli.


Yang ia pedulikan adalah, reaksi Zhong Guofeng atau Kaisar Iblis. Ia ingin lihat, apa pria itu masih mengurungnya atau tidak. Ia masih harus akting untuk kedepannya.


"Aku tidak akan menyangka, kau akan mengajak anakmu akting sejak dini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan." Mei Liena terkekeh.


"Itu hal biasa. Bukankah kau juga berakting barusan?"


"Aku ini belajar darimu." Mei Liena tertawa. "Omong-omong, apa kau tidak merindukan suamimu?"


"Kenapa harus rindu? Dia lebih menyukai dunia perbatasan sampai melupakanku, aku juga akan melupakannya."


Mei Liena bicara dengan nada mengejek. "Apa sulitnya mengatakan 'dia terlalu lama pergi, aku jadi kesal' sambil merajuk?"


"Aku tidak kesal."


"Lain di mulut, lain di hati." Mei Liena tertawa terbahak-bahak.


"Pergilah, kau menggangguku!" Xie Ruo langsung mengusirnya secara paksa.


"Ruoruo, jangan terlalu emosi ...." Mei Liena tertawa semakin keras membuat Xie Ruo semakin kesal.


"Aku akan terus emosi jika kau masih di sini." Xie Ruo langsung beranjak dari tempat tidur dan menyeret Mei Liena secara paksa ke pintu kamar.


Mei Liena masih saja mengejeknya habis-habisan sampai Xie Ruo muak dan menyeretnya seperti menyeret domba yang akan disembelih. Sampai ia membuka pintu dan mendorong Mei Liena keluar, sosok tak diundang muncul membuat mood Xie Ruo semakin jatuh.


Sungguh, bagaimana pria itu bisa datang begitu cepat?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xu Ziyan terburu-buru pergi sambil menggaruk tubuhnya yang begitu gatal. Kulitnya terkelupas dan merah sampai terasa begitu perih dan menyakitkan, namun rasa gatal terus memancingnya untuk terus menggaruk tanpa henti.


Ia pergi menuruni anak tangga dengan jubah yang menutupi kulit gatalnya yang mulai iritasi. Ia berlari sebisa mungkin, pergi ke balai pengobatan untuk diperiksa.


Langkahnya tidak berhenti, tapi begitu seseorang menahan bahunya begitu kuat, kakinya terpaksa berhenti dan ia dipaksa berlutut begitu saja. Jubahnya dilepas, terbang ke sisi lain membiarkan kulit kasarnya yang iritasi dan merah terungkap.


"Kau ...." Xu Ziyan menghentikan kalimatnya ketika melihat sosok yang membuat lututnya sakit. Tiba-tiba napasnya tercekat, tubuhnya begetar dan bahunya yang dipegang orang itu sakit akan cengkraman.


"Kamu pelayan pribadi Xie Ruo, 'kan?" Dia adalah Shu Xin. Baru saja datang ke istana, sudah akan ditabrak Xu Ziyan.


Pikiran Xu Ziyan dipenuhi hal negatif mengingat perkataan Xie Ruo barusan. Ia mundur ketakutan, tidak berani melihat Shu Xin.


Shu Xin mengerutkan kening melihat tingkah aneh Xu Ziyan. Karena pihak lain adalah orang di dekat Xie Ruo, tidak seharusnya menderita kerugian seperti ini. Pasti telah terjadi sesuatu.


Selain Xie Ruo, siapa lagi yang bisa melakukan hal seperti ini pada Xu Ziyan yang memiliki posisi penting di menara kaisar? Bahkan pejabat harus memandang wajahnya demi menghormati Xie Ruo.


"Sepertinya kamu mengalami hari buruk." Shu Xin tersenyum, namun senyum yang membuat seseorang memiliki pemikiran buruk.


Ia tidak pernah tersenyum selama ini, bahkan ketika berhadapan dengan Kaisar. Ia meraih lengan Xu Ziyan, kemudian mengidentifikasi apa yang terjadi. Setelah mengetahuinya, senyumnya makin lebar.


"Mungkin aku bisa membantu. Tentunya, semua itu tidak gratis."


Mereka tidak tahu, sepasang mata dalam kegelapan melihat dalam diam dengan penuh aura dingin. Jubah hitamnya menyamarkan sosoknya di kegelapan, dan menghilang dalam bayangan.


Bayangan hitam memunculkan sosoknya di tengah kerumunan, bertemu dengan seorang wanita cantik dengan kunciran kuda dan tampak dipenuhi aura dingin.


"Yang Mulia sudah memberitahu rencananya, menyerahkan penyelidikan pada kita selama Yang Mulia dalam masa kurungan. Sekiranya, itu yang bisa kuberitahu padamu." Wanita itu adalah Ann Rou, baru tiba di Ibu Kota setelah mendengar bahwa Xie Ruo juga pergi ke Ibu Kota dari hewan suci lain.


Di sisinya adalah Pei Xi. Pria itu juga baru tiba setelah menerima kabar dan menyelesaikan masalah internal sekte.


"'Yang Mulia' yang mana?" 'Yang Mulia' Ann Rou ada dua, tentu ia bertanya.


"Nyonya Xie."


"Rongrong dan Liena belum memberitahu."


"Ini misi rahasia. Yang Mulia baru memberitahuku, lalu memintaku menyampaikannya padamu." Ia melihat Pei Xi dengan teliti, kemudian bertanya, "Apa yang baru saja kau lihat?"


"Apa begitu terbaca?"


"Ya."


"Penasihat Kaisar, Shu Xin, sepertinya memiliki niat buruk. Ia sedang memanfaatkan pelayan pribadi Ruoruo untuk tujuan tertentu. Tidak tahu siapa dan dari mana dia, tapi dia terlihat mencurigakan." Pei Xi menjelaskan dengan penuh pertimbangan.


"Berdasarkan pengamatanku, Shu Xin dikirim oleh Zhong Wenyue. Aku tidak bisa memastikan kekuatannya, akan lebih baik jika kita juga mewaspadainya. Selain fakta bahwa Kaisar Zhong adalah Kaisar Iblis, kita harus mencari fakta lain mengenai orang-orang ini. Yang Mulia sudah mengirimkannya padaku secara rahasia melalui Long Yun."


Ann Rou menyerahkan sebuah surat pada Pei Xi. Pei Xi langsung menerima, kemudian membacanya. Semua itu adalah hasil perhitungan Xie Ruo selama membaca semua arsip kekaisaran dan disimpulkan seringkas mungkin hingga hanya terdiri dari satu perkamen. Satu kata mengandung banyak arti dan kemungkinan.


"Jadi, semuanya terkumpul di ibu kota," gumam Pei Xi. Kesimpulan yang begitu singkat seperti ini, hanya Xie Ruo yang dapat membuatnya. Orang biasa tidak akan memahaminya, tapi mereka yang sudah mengalami banyak hal hidup dan mati bisa.


"Benar, cepat atau lambat akan terjadi perang." Ann Rou benar-benar kagum akan prediksi semacam itu. Ia juga mempertimbangkan rencana Qu Xuanzi.


Meski kedua rencana itu tidak saling bertolak belakang, atau bahkan bisa dibilang saling berpengaruh satu sama lain, tetap saja tidak tahu bagaimana hasil yang didapat.


Intinya, semua rencana itu, memiliki ujung yang belum bisa ditentukan secara jelas baik dan buruknya. Itu hanya membawa pihak mereka ke posisi menguntungkan, tapi bagaimana dengan pembuat rencana?


"Kalau begitu, aku akan mencari Liu Chang. Kebetulan dia memiliki hubungan dengan orang yang terlibat." Pei Xi segera pergi dalam bentuk bayangan, meninggalkan Ann Rou sendirian di tengah keramaian.


Sekarang, tujuan Ann Rou adalah Klan Yan. Ia harus memperingati Zhong Xiaorong dan Yan Yao untuk masalah ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ruoruo, apa kau tidak ingin menjelaskan apa pun padaku?" Zhong Guofeng alias Kaisar Iblis mengetuk pintu kamar Xie Ruo dengan sabar. Wanita itu mengabaikannya sejak mengusir Mei Liena, sedangkan Mei Liena sudah kabur duluan tidak mau tahu urusan mereka.


Sebelumnya, ia mendengar dari Raja Iblis bahwa Xu Ziyan mengetahui tentang kehamilan Xie Ruo. Ia ingin hal itu datang dari mulut Xie Ruo sendiri, bukan orang lain.


"Ruoruo, jika kau tidak menjawab, aku akan memaksa masuk." Zhong Guofeng mengancam.


"Jangan mendobrak pintu jika tidak mau aku celaka. Aku di depan pintu!" Xie Ruo berkata dengan nada sarkas. Sampai kapan pun, ia tidak mau bicara tatap muka dengan Zhong Guofeng.


"Ruoruo ...."


Suara kacau di dalam membuat Zhong Guofeng terdiam. Sepertinya Xie Ruo benar-benar sangat marah. Ia dapat merasakan, bahwa wanita itu melapisi seluruh kamarnya dengan api dingin yang dibekukan, mencegahnya masuk dari sisi lain.


"Baik, aku akan bicara dari luar." Zhong Guofeng pasrah. Daripada membuat Xie Ruo membakar seluruh istana, lebih baik bersabar. "Aku ingin penjelasanmu."


"Apa masih ada yang perlu dijelaskan? Apa mengerankan jika aku yang sudah menikah hamil?"


"Jadi benar." Zhong Guofeng justru tersenyum. "Tak apa, aku tidak akan menekanmu, oke?"


"Aku tertekan karena tidak bisa keluar." Xie Ruo menggerutu.


"Justru karena sedang mengandung, kau tidak boleh keluar."


"Aku ... keguguran." Xie Ruo terpaksa mengatakan demikian. Tak apa, toh ia juga membohongi Xu Ziyan. Jika tidak melakukan ini, apa Zhong Guofeng akan tetap menahannya?


Zhong Guofeng justru terdiam. Rautnya menjadi rumit, kemudian menghela napas. Pantas saja suasana hati Xie Ruo sangat buruk dan dilampiaskan pada semua orang, bahkan Mei Liena terkena imbasnya.


"Siapa yang melakukannya?"


"Apa?"


"Siapa yang menyakitimu?"


Xie Ruo diam untuk beberapa saat. Entah kenapa, ia berat mengatakannya. Sudahlah, ini demi rencana. "Tidak ada."


"Masih ingin menyembunyikannya?"


Suara dingin Zhong Guofeng menyebabkan Xie Ruo agak terkejut dan tanpa sadar berkata, "Xu Ziyan ...."


Xie Ruo sadar dan langsung menepuk mulutnya yang tidak mau diam. Padahal jelas-jelas ia ingin membuat serangan mental terlebih dahulu pada bocah itu, tapi sekarang ... ia malah menyerahkan nyawa Xu Ziyan ke Zhong Guofeng secara langsung.


Zhong Guofeng mendengus. "Hanya seorang pelayan rendahan," gumamnya. Tatapannya dipenuhi niat membunuh.


Xie Ruo tidak tahu, Kaisar Iblis yang merupakan bagian dari Qu Xuanzi, pada dasarnya memiliki perasaan yang sama bagaikan pencerminan ketika menghadapi sesuatu. Meski cara yang dilakukan berbeda, sebenarnya tidak berbeda jauh. Untuk kasus satu ini, secara tidak langsung Kaisar Iblis menganggap bahwa anak yang dikandung Xie Ruo adalah anaknya, meski mereka tidak pernah berhubungan sekalipun.


Itu sebabnya kenapa ia senang ketika mendengar Xie Ruo hamil, dan marah ketika mendengar Xie Ruo keguguran. Apalagi keguguran yang disebabkan oleh seorang pelayan tak penting dan disengaja.


Xie Ruo dengan jelas merasakan niat membunuh yang kental dari luar. Tanpa sadar ia merinding, tapi memilih tidak peduli. Toh, bukan urusanmya.


"Kamu istirahatlah, jangan banyak bergerak." Zhong Guofeng akan pergi, namun suara Xie Ruo yang terdengar lesu mencairkan suasana hatinya.


"Keluarkan aku."


"Aku akan memanggil Mei Liena untuk memeriksamu kembali. Setelah keadaanmu sudah membaik ... terserah apa yang ingin kau lakukan." Zhong Guofeng pergi saat itu juga dengan wajah dingin yang membuat siapa pun takut. Ia akan mencari Xu Ziyan dan membunuhnya!


Zhong Guofeng tidak tahu, di dalam kamar, Xie Ruo melompat-lompat kegirangan akan rencananya yang berhasil. Meski agak kejam dan ia tidak terlalu menyukainya, setidaknya ia tidak lagi terkurung dalam sangkar emas ini.


Ia sudah bebas!


Karena Kaisar Iblis sudah tidak mengekangnya kembali, ia bisa dengan bebas menyelidiki Dewa Iblis. Ia telah mengirim surat pada Ann Rou sebelumnya, tinggal tunggu balasan dan ia akan melancarkan rencana selanjutnya.