
Kabut yang diakibatkan benturan kristal masih menutupi pandangan begitu pekat tanpa bisa ditembus. Ling Yi memandangnya dengan tenang, berpikir Xie Ruo telah terluka cukup parah.
Hanya saja, ia tidak menemukan gadis itu yang membuat keningnya berkerut. Sampai akhirnya kabut hilang sepenuhnya, ia masih tidak bisa menemukan Xie Ruo.
"Mencariku?"
Belum sempat Ling Yi menoleh, bilah pedang yang dipenuhi api dingin menebas tubuhnya hingga Ling Yi terhempas ke bawah. Xie Ruo rupanya telah berhasil berdiri di atas pilar tepat di belakang Ling Yi. Wajahnya tetap datar memandang wanita itu.
Ling Yi yang jatuh, menahan berat tubuhnya dan melambung ke udara, melihat Xie Ruo yang berdiri kokoh. Ia salah perhitungan. Sepertinya Xie Ruo mengambil kesempatan untuk melambung lebih jauh menggunakan serpihan kristal, sampai akhirnya didorong oleh ledakan. Ia sengaja membuat kristal itu mengarah padanya secara bersamaan.
"Bagus, kamu memang layak menjadi murid Menara Suci." Ling Yi mendengus. Sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan cara yang lebih ekstrem.
Cahaya biru terang memancar di seluruh tubuhnya. Energi murni di tubuhnya terintegrasi, menciptakan wujud besar di belakang Ling Yi. Wujud itu mirip dengan Ling Yi, dengan tongkat kristal di tangannya, namun seluruh matanya putih seperti sinar yang menyala.
Sosok itu begitu besar, bahkan sampai menginjak reruntuhan aula seperti raksasa. Tongkatnya mengeluarkan sinar biru seperti kilatan cahaya membuat suasana malam hari menjadi lebih terang.
Namun, cahaya dari tingkat itu memberi penekanan luar biasa. Pilar yang ditempati Xie Ruo runtuh, hingga Xie Ruo harus melompat ke tanah dan menerima tekanan.
Tekanan wujud besar itu cukup membuat Xie Ruo tidak bisa bergerak. Cahaya di ujung tongkat melambung ke atas, kemudian bergerak ke arah Xie Ruo seperti tembakan laser. Itu adalah tekanan energi murni dengan kekuatan tertinggi, dipadukan dengan kristal abadi, siapa pun akan mati dengan mudah.
Cepat-cepat Xie Ruo membuat barrier, lalu menahan serangan tersebut dengan energi murni miliknya. Karena energi murni miliknya tidak sempurna, kekuatannya jelas terlihat sangat jauh.
Langkah Xie Ruo termundur beberapa langkah karena tekanan tembakan cahaya energi murni. Karena tidak bisa menahan, Xie Ruo memilih melompat ke belakang membiarkan serangan itu meledak tepat di depannya hingga Xie Ruo terhempas cukup jauh.
Ledakan itu sangat kuat, bahkan para murid yang bertarung cukup jauh dengan Xiao Caihong langsung mati. Sedangkan Xiao Caihong dengan cepat terbang ke udara menghindari ledakan.
Ledakan itu menyebabkan gempa yang cukup parah dan keluar dari Istana Lingyue. Terjadi kehebohan, terutama beberapa tempat yang berdekatan dengan Istana Lingyue.
Di sebuah tempat, di mana gempa yang sedikit terasa terjadi, seorang pria berdiri memandang jendela di luar. Pandangannya terarah pada arah di mana Istana Lingyue berada. Keningnya berkerut.
Ada dua aura yang sangat kuat bertarung, ini bukan hal baik. Apalagi belakangan ini Istana Lingyue sangat aktif dan terus mencari masalah. Apa yang Istana Lingyue rencanakan?
Seseorang berseragam hitam datang, berlutut di dekatnya untuk menerima perintah setelah dipanggil.
"Bawahan ini menunggu perintah."
Pria itu tetap berwajah datar, tanpa melihat bawahannya. "Kita akan pergi ke Istana Lingyue."
"Bawahan ini menerima perintah!" orang itu segera berdiri dan pergi mengumpulkan pasukan. Jika berurusan dengan Istana Lingyue, itu bukan hal baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ling Yi tidak menurunkan kewaspadaan, mengingat Xie Ruo yang tidak semudah itu dikalahkan. Jika tidak terluka, seharusnya Xie Ruo memiliki kesempatan lain untuk melakukan serangan balik. Maka dari itu, ia berniat meluncurkan serangan lanjutan ke arah di mana Xie Ruo terlempar.
Arah di mana Xie Ruo terlempar memancarkan sinar begitu tiba-tiba. Ling Yi yang sudah siap menyerang berhenti begitu melihatnya. Kilatan-kilatan cahaya perak di kejauhan terlihat mendekat ke arahnya melalui lintasan rumit membuat Ling Yi bingung ke arah mana ia akan melepaskan serangan.
"Ling Yi, kau belum lihat siapa Xie Ruo sebenarnya." Suara sedingin es itu sampai di telinga Ling Yi, membuat Ling Yi tanpa sadar mengeraskan rahangnya.
Kilatan itu seperti sambaran petir yang begitu cepat. Tiba-tiba saja sudah melewati Ling Yi dengan aura dingin yang begitu mencekat. Tiap langkahnya berubah menjadi percikan api yang membeku memberi jejak yang sangat jelas.
Energi wujud raksasa di belakang Ling Yi tiba-tiba menjadi sangat kacau. Kilatan perak itu melintas seolah sedang mencabik-cabik wujud besar itu dari berbagai sisi. Kecepatannya tidak terlihat oleh mata biasa, ia tampak seperti memiliki banyak sosok.
Ketika kilatan perak itu menghilang, wujud besar yang mendominasi itu hancur berkeping-keping seolah telah termutilasi. Bentuk kristal bertebaran di mana-mana menggantikan daging raksasa, berjatuhan dan menghilang tanpa jejak.
"Sekarang, lihatlah baik-baik. Xie Ruo yang sebenarnya sudah muncul." Xie Ruo bicara dengan nada angkuh dan dingin. Ia memandang Ling Yi penuh hinaan.
Ling Yi sendiri agak terkejut dengan penampilan yang jauh lebih unggul dari sebelumnya. Ia benar-benar tampak seperti dewi dengan aura naga yang kuat. Itu membuat Ling Yi sangat iri, sekaligus semangat merebut semua miliknya.
"Memang benar, kau benar-benar keturunan Dewa Naga." Ling Yi tersenyum penuh kegilaan. Ia tidak akan melepaskan harta berharga seperti itu. Kapan lagi bisa menemukan keturunan dewa untuk dijadikan sumber kekuatan?
Xie Ruo menurunkan senyum, menjadi lebih dingin dari biasanya. Wujudnya menjadi kilatan cahaya perak yang melintas, menyambar Ling Yi dengan penuh kekuatan. Ia tidak perlu menggunakan segala macam teknik untuk membunuh ulung kecil seperti itu.
Awalnya ia hanya ingin tahu seberapa besar kekuatan Ling Yi. Tapi ternyata ia hanya buang-buang waktu.
Ling Yi terbang menghindari tiap serangan Xie Ruo. Kilatan perak itu terus menggunakan keuntungan tubuh ringannya dan menendang angin untuk melambung lebih tinggi, meraih Ling Yi yang terbang.
Tiap serangan diarahkan pada titik vital tanpa diberikan kesempatan. Ling Yi terus menghindar, dan menggunakan tongkatnya untuk menahan pedang Xie Ruo yang sangat keras hingga tangannya bergetar.
Memang pantas disebut naga, Ling Yi mengakuinya. Ia melapiskan tubuh menggunakan kristal dan melakukan serangan dengan kecepatan tinggi. Wujud sinar mereka membentur di udara, lalu melambung ke wilayah lain untuk melakukan serangan.
Berbagai macam kristal bertebaran tiap kali kedua sinar saling bertukar pukulan. Kristal itu berasal dari lapisan di tubuh Ling Yi yang melindunginya. Serangan perlahan Xie Ruo membuat lapisan krsital retak dan hancur menjadi serpihan.
Xie Ruo kali ini bermain serius, tanpa menahan diri seperti sebelumnya. Ia meraih leher Ling Yi, kemudian melesat ke arah bangunan hingga menembus bangunan lainnya. Tubuh Ling Yi yang dilapisi kristal terus menghancurkan dinding satu ke dinding lain.
Hingga akhirnya krsital hancur, Ling Yi merasa harus cepat bertindak. Kumpulan kristal berkumpul akan akan menyerbu Xie Ruo di belakangnya. Mereka langsung meluncur, namun tiba-tiba terpasang sebuah barrier yang menyebabkan ribuan kristal tersebut menancap ke barrier hingga tampak seperti landak.
"Apa hanya itu kartu trufmu?" Xie Ruo tersenyum miring, sambil menekan cekikannya.
Ling Yi terlalu lelah, nyaris tidak bisa menahannya lagi. Ia telah kehilangan banyak tenaga karena serangan besar-besaran sebelumnya. Ia telah masuk banyak jebakan sampai menguras banyak tenaga.
Tapi bukannya menyerah, Ling Yi justru tertawa. "Xie Ruo, kau ingin tahu siapa yang memberi informasi mengenaimu?"
Xie Ruo mendengarkan dengan seksama. "Siapa?"
"Kau tidak akan menyangkanya," kata Ling Yi sambil terkekeh. Ia memuntahkan seteguk darah karena cedera dalam akibat benturan berturut-turut, tubuhnya melemas. Ia tahu ia akan mati, tidak salahnya memberitahu. "Kamu yakin tidak akan menyesal?"
"Jangan bertele-tele!" Xie Ruo terlalu malas terus menekan orang sekarat. Lebih baik langsung membunuhnya, tapi ia masih butuh informasi.
Ling Yi tertawa semakin keras. Ia semakin terlihat menyedihkan, sekaligus mengerikan karena tawanya disertai darah yang mengalir dari mulut.
Hingga akhirnya ia memberitahu dengan suara penuh tekanan. "Dia adalah Xie Ran, kembaranmu, Xie Ran."
Xie Ruo terdiam memandangnya penuh rasa tidak percaya. Ia tidak begitu saja percaya dengan mudah, pasti Ling Yi sedang berusaha menyesatkannya.
Ia menekan leher Ling Yi semakin keras, kemudian menyalurkan api dingin ke tangannya sampai mengeluarkan asap hingga Ling Yi berteriak kesakitan. Api dingin itu tidak akan membunuhnya, tapi akan memberinya rasa sakit tak terduga.
"Jangan berbohong!"
Xie Ruo menarik kembali api dingin untuk membiarkan Ling Yi bicara. Wanita itu bicara dengan terengah-engah. "Menurutmu, siapa lagi yang bisa mengetahui semua detail itu? Siapa lagi yang mengetahui semua rahasiamu secara lengkap? Namamu di dunia lain adalah Isabella, anak pungut yang diadopsi keluarga ternama sebagai pengganti. Tapi tiba-tiba menghilang karena diculik organisasi besar, tidak pernah ada yang mencarimu karena kau sama sekali tidak berharga—"
Xie Ruo menyalurkan api dingin lagi ke leher Ling Yi hingga wanita itu kembali berteriak kesakitan. Teriakannya sangat memekakkan telinga dan membut siapa pun merasa ngeri, hingga akhirnya suaranya menjadi serak dan hampir habis.
Xie Ran sudah mati, ia menyaksikannya sendiri. Xie Ruo tidak percaya perkataan Ling Yi, tapi mengingat kembali apa yang ia bicara dengan Qu Xuanzi sebelumnya, ia menjadi ragu apa benar Xie Ran telah mati. Apa dia benar-benar bangkit dari kubur?