The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
153. Bahaya Istana



Bertahun-tahun dilalui, kekaisaran Zhongbu berkembang pesat. Penemuan demi psnemuan berkembang dan menciptakan negara yang lebih maju dari sebelumnya dalam waktu singkat. Kota yang awalnya tampak sederhana, kini dipenuhi hewan buas yang berlalu lalang menarik kereta dengan berbagai macam penampilan.


Beberapa tahun lalu, kekaisaran mengadakan perburuan hewan buas di Hutan Bintang. Bukan untuk dijadikan makanan, melainkan untuk dijadikan hewan pendamping. Ada banyak hewan buas di Hutan Bintang, tentu saja butuh banyak usaha untuk mendapatkan hewan pendamping yang akan membantu kegiatan manusia. Ditambah, hewan buas itu harus setuju membantu.


Tidak tahu siapa yang mencetuskan ide seperti itu. Para rakyat tentu bersemangat dan mencoba peruntungan. Banyak dari mereka yang gagal, beberapa yang berhasil dinaikkan pangkatnya. Kaisar Zhongbu tidak terlihat dalam beberapa tahun seolah telah menghilang sehingga tidak mungkin pria itu yang memberi ide. Meski begitu, istana tetap tenang.


Tapi, tenang bukan berarti tanpa konflik. Selalu ada konflik internal, terutama setelah pernikahan antara Putri Kesembilan dengan Tuan Muda Klan Yan. Karena beberapa alasan, ia tinggal di Istana, terpisah dari suaminya karena kesibukan masing-masing.


Ketika para putri kekaisaran telah sibuk mengurus keluarga masing-masing, si bungsu, Putri Kesembilan masih sibuk di kamarnya bersama beberapa gulungan yang ia borong dari arsip rahasia kekaisaran.


Ia tampak lebih cantik dan dewasa. Meski di wajahnya ada sedikit unsur kekanakan, ia tampak lebih tenang dari sebelumnya. Mungkin karena masalah yang harus dihadapi selama bertahun-tahun, temperamennya sedikit berbeda. Hanya sedikit.


Beberapa tahun yang lalu, ia mendapat gelar Putri Youmei karena telah membantu Kaisar mengurus kasus besar di pengadilan istana. Meski wanita, ia tidak kalah dari laki-laki terutama karena kekuatannya yang telah mengalahkan banyak pangeran dan putri di istana. Tidak ada yang berani memprovokasinya.


Karena ada beberapa hal yang menurutnya harus diselidiki, terutama kematian ibunya di antara konflik harem, ia harus memeriksa semua data dan banyak bukti dari pengurus istana. Alasan ia belum pergi ke Klan Yan tak lain karena ingin meneruskan penyelidikan kematian ibunya.


Tapi, sudah bertahun-tahun ia menyelidiki, masih belum menemukan akar masalahnya. Ia telah mencari sanksi, tapi semua itu telah dibersihkan tanpa noda. Semua orang berpikir bahwa kematian ibunya karena sakit, tapi ia yakin tidak hanya sekadar sakit.


Ketika menyelidiki sebuah kasus bersama Yan Yao beberapa tahun lalu, ia menemukan kematian korban mirip dengan ibunya yang memicu penyelidikan rahasia tersebut. Mei Liena bilang, korban telah diracuni dengan racun jangka panjang, tubuh akan mengering seolah kehabisan darah dan mengeluarkan bau busuk, sebelum akhirnya mati secara perlahan. Itu sebabnya ia terus berusaha mencari tahu siapa yang menyebabkan kematian menyedihkan itu.


Ia telah menemukan sumber racun, dan menangkap pengedarnya, tapi tidak menemukan pelaku pembunuhan ibunya. Ia melakukan penyelidikan tanpa diketahui siapa pun, karena tidak ingin membuat musuh waspada dan lari.


Karena sudah sangat lama tidak ditemukan solusi dari masalahnya, Zhong Xiaorong pikir harus meminta bantuan seseorang.


Di istana, tidak ada yang akrab dengannya. Kaisar sering menghilang dan sulit ditemukan, hanya tersisa Pangeran Kedua, Zhong Wenyue. Karena terlalu sibuk, ia jarang bertemu Zhong Wenyue. Kali ini, ia akan mengunjungi kakak keduanya.


Menutup semua berkas arsip rahasia, ia keluar dari kediaman menuju kediaman Pangeran Mingfeng. Ia pergi menunggangi kuda es yang ia ciptakan, menolak menggunakan kereta kuda karena terlalu lama. Kuda ciptaannya lebih cepat dari apa pun.


Ketika sampai di Kediaman Pangeran Mingfeng, ia diberitahu bahwa Pangeran sedang berada di ruang belajar. Kedatangannya diumumkan oleh suara pelayan yang sangat besar hingga Zhong Wenyue menoleh melihat kehadiran adiknya.


"Kakak, aku datang." Zhong Xiaorong tidak merubah sikap aslinya dari tahun ke tahun. Ia tetap semberono, arogan, dan memiliki reputasi buruk tanpa etika dan kedisiplinan. Ia masuk begitu saja dan duduk di depan meja belajar Zhong Wenyue tanpa permisi.


"Kamu baru ingat masih memiliki kakak?" Zhong Wenyue terkekeh. Adiknya ini sangat sibuk setiap saat, bahkan tidak pernah keluar dari kediaman selain membuat kekacauan.


Zhong Xiaorong menghela napas. "Itu semua karena aku sibuk, tidak ada alasan lain. Aku tidak memiliki asisten yang kompeten, semua pelayan hanya bisa membantu masalah sepele dan sehari-hari, mana bisa membantuku menyelesaikan masalah pengadilan istana? Kadang, aku berpikir untuk menjadi jenderal saja."


Zhong Wenyue mengetuk dahi Zhong Xiaorong. "Kamu ya, menjadi pejabat saja sudah cukup membuat para menteri bertengkar, sudah ingin menjadi jenderal di medan perang. Apa kamu melupakan dirimu sendiri?"


"Kak, apa kau juga meremehkanku hanya karena aku wanita?"


"Tidak, aku bangga padamu. Tapi, akan lebih baik tidak membuat masalah bagi para menteri, mereka bisa melakukan apa pun untuk mencelakaimu."


Zhong Xiaorong tersenyum meremehkan. "Mereka pikir bisa mencelakaiku? Kakak lihatlah, berapa penjaga yang kumiliki? Ada Klan Yan, Klan Xie, Sekte Bayangan Malam, Asosiasi Tangan Besi, Putra perdana menteri dan Master Racun juga memihakku."


"Baik, kamu yang terbaik." Zhong Wenyue tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Tapi masalahnya, mereka tidak bisa membantuku menyelesaikan masalah istana." Zhong Xiaorong menghela napas.


"Kamu ingin aku membantumu? Bagaimana aku bisa membantu?"


Zhong Xiaorong mulai serius. "Beberapa tahun yang lalu, ketika pembunuhan massal terjadi di Kabupaten Xia, aku menemukan para korban memiliki kematian yang mirip dengan kematian ibuku. Meski pelaku pembunuhan massal di sana sudah terungkap, aku tidak yakin dia adalah pembunuh ibuku. Jadi, aku memeriksa semuanya selama bertahun-tahun, tapi tidak menemukan apa pun seolah ibuku tidak pernah ada."


"Seingatku, bukankah pembunuhan massal terjadi karena racun? Siapa saja bisa menggunakan racun. Mungkin juga, orang yang kau tangkap itu adalah pelakunya. Dia berani meracuni banyak orang di Kabupaten Xia, juga bisa meracuni seseorang di istana."


"Aku justru berpikir orang yang meracuni adalah anggota istana. Orang biasa yang tidak memiliki hubungan dengan kekaisaran, mana mungkin meracuni seseorang tanpa ada yang memintanya. Sayangnya, kasus sudah ditutup, Kaisar juga tidak tahu di mana."


"Memang tidak seharusnya ditutup." Zhong Wenyue menatap Zhong Xiaorong dengan lekat. "Dia menutupnya dengan mudah, apa kamu tidak curiga?"


Zhong Xiaorong paham maksud Zhong Wenyue, ia segera menggeleng cepat. "Kakak kedua, meski kamu memiliki ketidaksenangan terhadap Kaisar, tetap tidak bisa menuduhnya. Untuk apa dia membunuh banyak orang di Kabupaten Xia dan memberiku gelar marena masalah itu?"


"Kamu membelanya terlalu berlebihan." Zhong Wenyue tersenyum kecut.


"Aku mengatakan fakta."


"Rongrong, jika aku membunuh Kaisar, apa kamu akan membenciku?"


Zhong Xiaorong diam untuk beberapa saat, mencerna ucapan Zhong Wenyue. Konflik di antara mereka memang rumit, tapi ia tidak pernah ikut andil di dalamnya sehingga tidak tahu seberapa besar kebencian mereka satu sama lain.


Pada akhirnya, jika mereka saling membunuh, Zhong Xiaorong juga tidak akan ikut campur. Karena ini, ia ingat perkataan Xie Ruo ketika pergi dari Benua Lava. "Aku tidak bisa menilai sekarang, karena tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang aku inginkan, tidak ada konflik di antara kalian."


"Dunia tidak akan terbentuk tanpa konflik. Meski hubunganmu dengan Zhong Guofeng cukup baik, atau karena dia temannya temanmu, kamu tidak bisa menempatkan diri dalam bahaya. Zhong Guofeng, bukan seseorang yang mudah."


"Aku tahu."


"Sekarang aku bertanya lagi, apa kamu akan membantuku merebut tahta?"


Zhong Xiaorong terkejut, menatapnya tidak percaya. Merebut tahta? Bukankah itu pemberontakan? Bagaimana hal seperti itu bisa terlintas begitu saja?


"Aku tidak akan membunuhnya sesuai permintaanmu, tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kamu tidak mengerti konflikku."


Zhong Xiaorong nyaris tidak bisa berkata-kata. Sebenarnya apa yang ada dipikirkan kakaknya? Zhong Guofeng pernah membantunya berkali-kali di istana, lalu dia juga teman Xie Ruo. Jika ia membantu pemberontakan, bukankah sama saja menghancurkan pertemanan mereka?


Tapi di sisi lain, Zhong Wenyue adalah kakak yang paling ia pedulikan. Sejak kecil, ia dirawat Zhong Wenyue tanpa pilih kasih. Ia tidak tahu harus memilih yang mana.


"Jika tidak mau, aku tidak masalah." Zhong Wenyue bersikap santai, seolah sudah mengantisipasinya.


"Aku tidak akan menghentikanmu, juga tidak akan ikut campur masalahmu. Apa pun yang terjadi, aku tetap adikmu."


Zhong Xiaorong tidak bisa membenci atau semacamnya. Entah kenapa, tiba-tiba merasakan hal yang sama seperti Pei Xi. Tapi ini adalah perebutan kekuasaan, merupakan hal biasa di antara anggota kekaisaran. Lebih baik mundur daripada membiarkan hubungan yang pecah.


"Aku sarankan untuk memasuki Klan Yan secepatnya. Istana tidak baik untukmu." Zhong Wenyue mengingatkan.


Zhong Xiaorong tidak menyahut apa pun, ia pergi dengan perasaan tercampur aduk. Tidak seharusnya ia mendengar kalimat mengerikan itu. Ia hanya ingin menemukan pembunuh ibunya, bagaimana bisa mendengarkan hal tidak menyenangkan itu? Sepertinya ia akan menggila.


Menyelidiki di luar memang akan sulit, tapi jika teman-temannya membantu, segalanya akan jauh lebih mudah. Konflik istana memang tidak seharusnya melibatkan orang luar, tapi masalah kali ini berbeda. Zhong Xiaorong pikir, semua tidak sesederhana itu. Mengenai ucapan Zhong Wenyue, biarlah untuk dirinya sendiri.


Ketika tengah membereskan semua barang untuk dimasukkan ke cincin spasial, seorang wanita yang sedikit lebih tua datang menghampiri. Perhiasannya begitu mencolok, dengan riasan tebal disertai senyum menyebalkan yang sangat ingin ditabok.


Jika Zhong Xiaorong melihatnya secara langsung, mungkin akan melemparinya dengan batu. Sayangnya, sebagian wajah wanita itu ditutupi cadar seolah sedang menutupi 'kecantikannya'.


Mendekati kediaman Zhong Xiaorong, wanita itu bersedekap dada melihat barang-barang yang dikemas.


"Jadi, adik kesembilan-ku akan pergi ke Klan Yan, aku ucapkan selamat." Ia bicara dengan nada lembut, namun ada ejekan di dalamnya.


Zhong Xiaorong mengabaikan. Di belakangnya adalah Putri Kelima yang menikah dengan seorang pejabat penting di istana. Ia selalu memamerkan prestasi suaminya kepada putri lain dan merendahkan Zhong Xiaorong yang dianggap tidak disayangi sampai harus tinggal terpisah.


"Adik tidak perlu cemas, Tetua di Klan Yan sangat baik, akan memperlakukanmu sebagai seorang putri ... maksudku, jika kamu mendukung mereka sepenuhnya. Aku dengar, Tetua Klan Yan bermusuhan dengan Klan Xie, sedangkan adik memiliki hubungan baik dengan Klan Xie. Takutnya ...."


Putri Kelima sengaja menggantung ucapannya untuk memanasi Zhong Xiaorong. Namun, Zhong Xiaorong justru melemparinya pakaian kotor seolah ia adalah keranjang pakaian.


"Kau ...."


"Oh, ada Kakak Kelima. Maaf, adik tidak tahu. Adik pikir, pelayan cuci sudah datang untuk mencuci pakaianku yang habis bermain di Hutan Bintang. Kebetulan, pakaian itu tanpa sengaja terkena darah anjing mati yang membuat hariku terus sial."


Mata Putri Kelima melotot tajam. Ia langsung bergidik geli lalu menendang pakaian Zhong Xiaorong, tidak mau ketularan sial. Darah anjing adalah tanda kesialan, itu tidak boleh menempel di tubuhnya.


"Aku lupa, darahnya masih basah. Mungkin sudah terkena pakaian Kakak Kelima. Aku sarankan untuk mandi dan melakukan ritual penangkal kesialan." Zhong Xiaorong memasang wajah prihatin.


"Kau! Awas saja nanti!" Putri Kelima lari terbirit-birit sambil bergidik jijik. Ia meneriaki pelayannya dan buru-buru mandi saat itu juga.


Sedangkan Zhong Xiaorong hanya menyinyir wanita tidak tahu malu itu. "Awas saja nanti, akan kuadukan pada suamiku tercintah~" Ia mengulangi dan melebih-lebihkan ucapan Putri Kelima yang sangat diingatnya. Jika bukan membawa bangsawan lain untuk memojokkannya dengan hinaan, maka mengerjainya seperti anak kecil. Menyebalkan.


Mengingat kembali perlakuan Tetua Klan Yan padanya, Zhong Xiaorong hanya bisa menghela napas. Alasan kedua ia pergi adalah ... karena si tua bangka itu. Meski Yan Yao sudah membela, Yan Yao juga dimusuhi setengah mati. Biasa, orang tua selalu benar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menyiapkan semuanya dengan rapi, Zhong Xiaorong keluar dari istana putri dan menghindari tiap putri, baik saudara tirinya maupun sepupu yang sedang bergosip ria.


Hingga akhirnya sampai di depan, Yan Yao ternyata masih belum datang. Jarak Klan Yan dari istana memang sangat jauh, wajar jika belum datang.


Selain itu, bukannya Yan Yao yang hadir di depan istana, melainkan pria lain. Pria itu biasa-biasa saja, merupakan akan pejabat pengadilan negara yang sering bertemu Zhong Xiaorong ketika sedang menangani kasus.


Hanya saja, Zhong Xiaorong tidak suka sifatnya yang agak gila. Pria itu ... selalu saja menempel jika ada kesempatan. Itu membuatnya jijik.


"Tuan Putri, aku dengar kamu akan ke Klan Yan. Jika tidak mau, aku akan membantumu bicara pada mereka." Pria itu memandangnya dengan senyuman, berharap Zhong Xiaorong setuju.


Zhong Xiaorong menatapnya dengan datar. Ia akan pergi ke tempat lain, tapi pria itu justru mengintili seperti semut yang melihat gula. Lagi dan lagi hingga Zhong Xiaorong kesal setengah mati. Benar-benar semut yang merepotkan.


"Jika masih mengikuti, aku tidak menjamin kepalamu akan utuh." Zhong Xiaorong mengancam, tapi pria itu malah terkekeh. Dia benar-benar sudah gila.


"Putri, aku memiliki berita penting untuk dikatakan." Pria itu sama sekali tidak peduli dengan penolakan Zhong Xiaorong.


"Tidak buang-buang waktu."


"Ketika di perjalanan tadi, aku mendengar orang-orang membicarakan Klan Xie yang lama hilang. Karena Putri memiliki hubungan baik dengan Klan Xie, maka aku mendengarkannya. Mereka mengatakan, alasan Klan Xie menghilang, ketua klan mereka telah meninggal."


Zhong Xiaorong terkejut. Ketua Klan meninggal ... bukankah Ketua Klan Xie adalah Xie Ran? Bagaimana bisa?


Ia menghadap pria itu dan menekan bahunya, memaka menjelaskan secara terperinci. "Katakan dengan jelas! Siapa yang kau maksud?"


Pria itu agak tertekan merasa bahunya diremas sangat kuat sampai ingin hancur. Tapi ia tidak kehilangan kata-kata. "Ketua Klan Xie yang baru, Xie Ran, sudah tiada empat tahun yang lalu."


Seolah petir menyambar, Zhong Xiaorong merasa lemas saat itu juga. Ia melepas cengkramannya dan tampak linglung, seolah dunia telah runtuh.


Bagaimana bisa? Temannya berada di Menara Suci, bagaimana bisa pergi begitu saja? Mereka sudah berjanji akan bertemu lagi dan mengunjungi pernikahannya, bagaimana bisa pergi begitu cepat?


Empat tahun ... kenapa tidak ada yang memberitahunya satu pun? Bagaimana bisa teman-temannya tidak memberitahu?


Tepat pada saat itu, seseorang yang ditunggu akhirnya sampai. Setelah bertahun-tahun lamanya, Yan Yao tampak lebih tampan dan dewasa. Ia lebih tenang dengan gaya khasnya yang elegan. Siapa pun akan meleleh dibuatnya.


Melihat Zhong Xiaorong diganggu pria tidak tahu malu, ia menjadi kesal setengah mati. Dengan segera ia turun dari kuda, kemudian menjauhkan pria itu sampai nyaris terlempar saking kuatnya.


"Kau! Kau tidak tahu siapa aku? Berani sekali mendorongku dan mendekati Tuan Putri! Pelayan, hajar orang yang ingin melecehi Tuan Putri!" Pria itu sangat marah dan menunjuk Yan Yao, menggunakan identitasnya sebagai anak pejabat pengadilan negeri untuk mengancam.


Namun Yan Yao hanya menatapnya dengan senyuman dingin. Ia tahu siapa pria ini, pria yang terus menempel dan mengikuti istrinya sejak kembali ke istana.


Para pelayan langsung berdatangan dan akan menuruti perintah pria itu demi melindungi Tuan Putri. Namun tiba-tiba mereka membeku di tempat seperti patung. Melihat senyuman dingin di wajah itu, mereka sama sekali tidak berani melangkah lebih jauh.


"Kenapa? Tidak ingin melindungi Tuan Putri?" Yan Yao menantang mereka, kemudian melirik ke arah pria tidak tahu malu itu. "Siapa seharusnya yang disingkirkan, kalian tahu jawabannya."


Para pelayan itu segera menoleh ke arah pria yang masih ngotot. Dalam sekejap, para pelayan menyeretnya keluar. Pria itu memberontak dan mengutuk, namun salah satu pelayan langsung membisikkan identitas tuan tertentu membuat pria itu terdiam seribu bahasa.


Setelah serangkaian pengganggu tidak penting, Yan Yao berbalik melihat Zhong Xiaorong yang tampak sangat suram. Perasannya tidak enak.


Zhong Xiaorong menatapnya, membuat Yan Yao terdiam. Tatapan itu, seperti tempo hari ketika Zhong Xiaorong hendak memukuli Yan Yao karena pedangnya belum diganti di akademi.


"Rongrong?" Yan Yao mencoba menyadarkannya dari lamunan. Masalahnya, tatapan itu membuatnya ngeri. Entah apa yang dikatakan pria sialan itu yang membuat Zhong Xiaorong seperti ini.


Ketika sadar dari lamunan, barulah Zhong Xiaorong benar-benar menarap Yan Yao yang bingung. Detik berikutnya, isak tangis terdengar disertai air mata yang keluar membasahi wajahnya.


Yan Yao semakin bingung. Apa pria itu melakukan sesuatu padanya? Tapi, kenapa harus menangis? Bukankah selama ini Zhong Xiaorong tidak pernah menangis? Kenapa sekarang ....


Kenapa wanita sangat sulit dimengerti?