
Xie Ran membuka mata perlahan, melihat langit-langit putih polos dan udara hangat yang nyaman. Ia memegang kepala yang pusing. Mengusap mata mencoba menjernihkan pandangan yang buram sebelum akhirnya beranjak dari ranjang.
Xie Ran tidak tahu di mana ia berada. Ruangan ini begitu bersih dan rapi, ia yakin ini bukan dunia liontin ataupun kamarnya di paviliun bulan. Entah di mana ia berada.
Ia ingat bahwa ia terluka parah akibat pertarungan melawan Bao Jun, kemudian Qu Xuanzi datang mengakhiri pertarungan dengan membunuh semua orang. Ialah yang menghentikan pembantaian Qu Xuanzi agar tidak menyakiti temannya kemudian pingsan. Mengingatnya membuat Xie Ran frustrasi sekali lagi.
Ia keluar dari kamar, melihat pemandangan pegunungan yang sejuk di malam hari. Angin berhembus menerpa wajahnya serta rambut yang terurai berkibar. Xie Ran mengedarkan pandangan, melihat sosok pria berambut perak beberapa meter darinya memandang pegunungan dari ketinggian.
Qu Xuanzi masih dalam wujud Asura-nya. Mata merah, rambut perak, dan wajah pucat kontras dengan pakaian hitamnya. Auranya berbeda dari yang biasanya dikeluarkan dengan ketampanan yang juga berbeda namun tetap tak tertandingi.
"Apa kau takut?"
Xie Ran sedikit tersentak mendengar Qu Xuanzi bicara padanya. Pria itu menoleh sehingga Xie Ran tanpa sadar menghampiri tanpa melepaskan pandangan.
"Awalnya seperti itu. Tapi aku lebih takut jika terjadi sesuatu pada teman-temanku." Xie Ran jujur. Ia tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi pada pria di sebelahnya.
"Maaf."
"Kau sudah minta maaf," sahut Xie Ran. "Aku juga tidak marah. Aku tahu bagaimana rasanya dipenuhi niat membunuh dan hanya ingin membunuh. Jika itu aku, aku tidak yakin temanku bisa selamat atau tidak."
Qu Xuanzi tersenyum tipis. "Aku pikir kau akan marah."
"Aku tidak berpikiran dangkal," kata Xie Ran memandang Qu Xuanzi yang tampak berbeda dari biasanya. "Penampilanmu cocok untuk seorang pria berumur 10.000 tahun. Lihatlah rambut putih ini, seperti kakekku." Ia tertawa akan kalimatnya sendiri. Sebenarnya Qu Xuanzi sangat tidak terlihat sudah berumur ribuan tahun dan masih sangat tampan, hanya saja ia ingin memecah suasana.
"Apa aku kurang tampan? Apa yang harus aku lakukan agar terlihat menarik?"
"Oh, Guru besar, aku hanya becanda. Jangan dianggap serius. Jika kau meningkatkan kualitas penampilanmu, aku tidak yakin umurmu tidak akan lebih lama karena buruan wanita."
"Kau sangat pandai bicara."
Xie Ran tersenyum kecut dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal seperti orang serba salah. "Aku memang pandai bicara, namun tidak pandai memuji atau memotivasi. Jika kau butuh saran sesuatu selain cara menyelesaikan tugas, jangan tanya padaku."
"Apa kau selalu bertingkah seperti ini dulu?"
Xie Ran menatapnya bertanya-tanya. "Apa?"
"Sikapmu ... cukup menggemaskan." Qu Xuanzi mangatakannya ragu-ragu.
Xie Ran menatapnya kosong untuk beberapa saat dan tertawa. Apa ia memang selalu menggemaskan setiap saat? Dulu ia hanya tahu bahwa tiap kali ia datang, semua orang akan menunduk takut. Kecuali memang untuk satu orang ....
"Mungkin ... mereka menatapku seperti monster, namun ketika menyamar, beberapa menatapku seperti anak kucing. Tapi pada akhirnya mereka tahu, anak kucing itu sebenarnya adalah seekor harimau yang menyamar."
"Apa sekarang kau sedang menyamar?"
Xie Ran mencodongkan wajahnya hingga lebih dekat. "Bagaimana menurutmu?" Ia tersenyum miring dan mengalihkan pandangan melihat pegunungan di kejauhan. "Jangan khawatir, aku terlalu sibuk untuk menyamar." Setelah beberapa saat, ia baru teringat sesuatu. "Oh iya, bagaimana kabar teman-temanku?"
"Mereka baik-baik saja seharusnya." Pandangan Qu Xuanzi yang awalnya lurus menatap Xie Ran kini beralih.
"Jadi, seharusnya kau bisa menjelaskan sekarang bagaimana kau bisa sangat mirip dengan Kaisar Iblis."
Qu Xuanzi diam untuk beberapa saat dan bertanya, "Kau pernah melihatnya?"
"Tiap kali aku menggunakan sihir mimpi buruk pada Iblis, aku selalu melihat sosok yang mirip denganmu. Awalnya aku ragu, tapi setelah melihatmu hari ini, aku semakin yakin kalau kalian terlihat seperti orang yang sama." Xie Ran menjadi serius meski ucapannya terdengar santai. Ia bahkan tidak melirik Qu Xuanzi di sebelahhya yang mulai menatapnya.
Suaranya yang dalam terdengar, "Kau benar, secara teknis kami orang yang sama."
Xie Ran terlihat tidak terkejut, justru ia mengangguk membenarkan pemikirannya. "Kau yang membunuh Huli Dong'er karena dia akan mengungkap identitasmu?"
"Ya." Qu Xuanzi menjawab tanpa ragu. Ia tahu apa yang Xie Ran pikirkan saat ini berdasarkan cerita Ann Rou waktu itu. Ia tidak berniat menutupinya lagi.
"Jika kau Kaisar Iblis ... bagaimana dengan Kaisar Langit? Tidak mungkin kau memiliki dua profesi yang saling bertolak belakang dalam satu waktu. Tidak mungkin juga kau menjadi dua orang yang berbeda, tapi sebenarnya kalian sama."
"Sayangnya tebakanmu benar."
Xie Ran dibuat terdiam untuk kali ini. Ia kira bahwa dirinya berpikir terlalu jauh dan Qu Xuanzi akan memperbaiki teorinya, namun rupanya itu memang benar. Ia menatap Qu Xuanzi penuh tanda tanya. Bagaimana orang yang sama memiliki status dan sifat yang berbeda dan bertolak balakang bersamaan, apalagi jelas-jelas perbedaan itu begitu terlihat serta keduanya saling membenci.
"Ann Rou tanpa sengaja mengatakan padamu bahwa aku terlahir berbeda." Qu Xuanzi mengingatkan Xie Ran dan akan menjelaskan.
"Apa maksudnya?"
"Ibuku adalah Dewi Kehidupan, sedangkan ayahku tidak diberitahu identitasnya. Namun, hal yang mereka tidak banyak tahu seharusnya adalah hal penting yang harus diketahui ... ayahku adalah Kaisar Iblis terdahulu."
Xie Ran benar-benar terdiam sekarang. Pantas saja Qu Xuanzi begitu dijauhi dan berbahaya. Kekuatannya juga terlalu mengerikan sehingga dapat mengguncang dunia. Ternyata latar belakangnya lebih rumit dan penuh konflik. Apalagi ayah kandungnya adalah Kaisar Iblis terdahulu. Pantas saja ia menjadi Kaisar Iblis saat ini. Tapi yang masih tidak dimengerti, bagaimana dengan identitasnya sebagai Kaisar Langit?
"Aku dilahirkan di Dunia Bawah dan tinggal di sana selama 10 tahun. Seharusnya aku tetap berada di Dunia Bawah dan memimpin Dunia Bawah, tapi seseorang berkhianat membunuh seluruh pengikut Kaisar Iblis saat itu. Orangtuaku mati sedangkan aku dibawa oleh Kaisar Langit ke Istana Langit. Selanjutnya kau sudah tahu apa yang terjadi."
"Menjadi Dewa Pembunuh dan penerus Kaisar Langit? Tapi ... kau memiliki darah Kaisar Iblis sehingga menjadi sesuatu yang paling ditentang para Dewa. Bagaimana kau mengatasinya?" Xie Ran masih bingung bagaimana bisa ada dua Qu Xuanzi.
"Ada sebuah teknik rahasia dalam Istana Langit. Karena darahku didominasi oleh ras iblis, segalanya tentangku dipenuhi dengan aura iblis. Kaisar Langit membantuku membangkitkan darah dewa sepenuhnya dan melepas identitas ras iblis. Darah iblis menjadi tidak terkendali dan membentuk tubuh baru menyerupaiku karena sebuah kesalahan. Awalnya aku bisa mengontrolnya dengan kekuatanku, namun semakin lama darah iblis makin terlepas dari kendaliku yang membuatnya bertindak bebas walau tetap terhubung olehku."
Qu Xuanzi terlihat menyesal mengingat kejadian itu. Keberadaan Kaisar Iblis adalah kesalahan terbesarnya dalam hidup dan ia sangat ingin mengakhirinya. Itu sebabnya ia meledakkan diri dan menyegel jiwanya agar Kaisar Iblis ikut tersegel olehnya. Namun, itu semua tidak sesuai dengan rencana.
Tatapan Xie Ran yang awalnya mengeras menjadi melunak seketika. Garis darah yang ditekan dan berpisah dari tubuh harus mempertaruhkan nyawa bila ingin berhasil. Rasa sakit itu berlangsung lama dan sudah pasti terlalu menyiksa. Xie Ran tidak bisa membayangkan seberapa menderita Qu Xuanzi saat itu.
"Aku tidak tahu akan seburuk itu. Aku pikir ... dia adalah saudara kembarmu." Xie Ran merasa bersalah telah membuat Qu Xuanzi teringat kenangan buruk itu.
"Kau tidak membenciku karena Kaisar Iblis ada hubungannya denganku? Kehancuran keluargamu karena Iblis, semua Iblis yang datang berhubungan dengan rencana Kaisar Iblis. Aku ikut andil dalam masalah ini." Qu Xuanzi menatap Xie Ran dalam.
Xie Ran tersenyum kecut. "Sudah kukatakan sebelumnya, kau adalah kau. Aku tidak peduli makhluk apa atau apa identitasmu sebenarnya yang berarti aku juga tidak peduli jika kau benar-benar Kaisar Iblis atau Kaisar Langit atau roh gentayangan. Yang aku pedulikan hanyalah kau adalah Qu Xuanzi, bukan orang lain."
Qu Xuanzi tersenyum dan mengusap kepala Xie Ran dengan lembut. "Apa kau sedang menghibur?"
Xie Ran menggeleng cepat. "Aku sungguh berkata jujur. Aku tidak pandai menghibur, aku hanya tahu cara mengkritik dan menjatuhkan semangat seseorang. Yang kukatakan adalah kebenaran, bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya?" Ia tampak tidak terima.
"Kau sangat mempercayaiku. Apa tidak takut aku melakukan sesuatu yang merugikanmu? Kau juga menghadang seranganku sebelumnya, apa kau tidak takut aku kelepasan?"
"Aku percaya kau tidak akan membunuhku. Jika kau ingin membunuhku, kau bisa membunuhku dengan mudah sejak awal tanpa harus repot bersamaku sepanjang hari apalagi aku terus mengganggumu. Aku juga percaya, kau tidak akan merugikanku dan bicara omong kosong. Sebagai Kaisar, kau akan kehilangan wajah jika bicara omong kosong." Xie Ran bicara dengan percaya diri.
"Kenapa kau begitu percaya aku tidak akan membunuhmu?" Qu Xuanzi masih ingin tahu siapa dirinya bagi Xie Ran.
Xie Ran tersenyum menatapnya. "Karena kau membutuhkanku," katanya. "Kau ingin tahu kenapa? Karena aku adalah kunci segelmu, bukankah begitu?"
Suasana hati Qu Xuanzi yang awalnya baik menjadi rumit seketika. Sebenarnya apa yang Xie Ran pikirkan? Ia menatap Xie Ran heran dan menghela napas menyadari bahwa di mata Xie Ran ia hanyalah rekan atau atasan. Sepertinya yang dikatakan Ann Rou akan terjadi.
"Bagaimana jika kukatakan, aku membutuhkanmu karena hal lain. Apa kau percaya?"
Xie Ran tetap percaya diri. "Karena kita teman, maka aku percaya kau lebih membutuhkanku. Oh iya, apa kau sudah mengambil pecahan kekuatanmu yang aku simpan dari pagoda?"
Qu Xuanzi mengangguk singkat sedangkan Xie Ran kembali lega karena ia hampir melupakan hal itu.
"Jika kukatakan bahwa aku akan membawamu ke Istana Langit, apa kau percaya?"
"Ya. Aku bahkan percaya kau bisa membawaku berkeliling luar angkasa dengan kekuatanmu itu."
Qu Xuanzi tersenyum penuh arti. "Kau percaya aku akan menjadikanmu Permaisuri Langit?"
"Ya ...." Xie Ran tertegun sebentar dan menatap Qu Xuanzi penuh kejutan. "Membual!"
Qu Xuanzi tetap setia pada senyumnya."Kau sendiri yang mengatakan, aku akan kehilangan wajah jika bicara omong kosong."
Xie Ran termakan omongan sendiri dan mulai panik. Ia mencoba berpikir bagaimana bisa mengalihkan topik tentang 'Permaisuri Langit' yang baginya terlalu sensitif. "Karena aku memiliki pedang roh unsur, itu bukanlah sesuatu yang harus dikejutkan. Aku bisa dianggap seperti itu meski hanya manusia biasa karena pedang roh unsur memilihku. Tapi ... untuk identitas Permaisuri Langit sepenuhnya, bukankah harus melengserkanmu dari tahta? Kau tidak berniat menyerahkan tahtamu padaku, 'kan?"
Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman. Qu Xuanzi menghela napas nyaris tertawa karena pemikiran Xie Ran yang terlalu jauh. "Kau ingin tahta?"
"Tidak mau, itu merepotkan." Xie Ran bicara dengan enteng. "Meskipun kau memberikannya sebagai anugerah, aku akan menolaknya dengan keras."
"Bagaimana kalau menggunakan cara lain?" Qu Xuanzi tersenyum misterius.
"Cara lain?" Xie Ran menatapnya polos seperti orang bodoh. Mendadak perasaannya tidak enak membuat otaknya minus lebih cepat.
"Menikahlah denganku."
Xie Ran terdiam kali ini. Apa pria ini bercanda melamarnya? Sangat tidak romantis!
"Qu Xuanzi, apa kau sedang latihan? Caramu sangat tidak romantis. Pantas saja tidak ada wanita manapun di sisimu."
Ucapan Xie Ran membuat Qu Xuanzi sedikit terkejut. Bagaimana gadis ini bisa terlalu jujur mengatakannya?
Xie Ran yang awalnya santai, terkejut begitu Qu Xuanzi menarik pinggangnya dan menyatukan bibir mereka. Gerakan kecil terasa di bibirnya dengan lembut, namun Xie Ran hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa pun karena saat ini IQ-nya menurun drastis.
Setelah beberapa saat ciuman lembut itu terjadi, Qu Xuanzi melepasnya dan menatap mata Xie Ran yang masih kosong. Melihat iris merah Qu Xuanzi, Xie Ran langsung mengedipkan mata tersadar dari lamunan.
Xie Ran mengerjap mata. Ia tidak percaya ini nyata dan sangat tidak ingin percaya. Apa kepalanya terbentur sesuatu? Sepertinya ia belum bangun dari mimpinya.
"Tampar aku." Xie Ran ingin memastikan bahwa asumsinya tidak salah.
"Meski ini hanya mimpi, apa yang kukatakan bukan sekedar bualan." Qu Xuanzi tidak mau menampar Xie Ran meski Xie Ran yang memintanya. Ia jelas tahu apa yang ada di otak kecil Xie Ran hanya dengan dua kata yang terlontar.
Xie Ran nyaris kehabisan kata-kata. Apa begini rasanya dilamar seseorang? Benar-benar mengejutkan sampai tidak tahu harus berkata apa pun.
Pada saat ini, hati dan logika Xie Ran bergelut menentukan argumen mana yang benar. Setelah beberapa saat terdiam, pada akhirnya logikalah yang menang.
Saat Xie Ran akan menjawab dengan tegas, Qu Xuanzi langsung menyelanya terlebih dahulu. "Kau tidak diberi kesempatan menolak."
Xie Ran mematung untuk beberapa saat. Bagaimana Qu Xuanzi tahu ia akan menolak barusan? Tapi karena Qu Xuanzi sudah menegaskan seperti itu, meski Xie Ran bersikeras menolak, tetap saja akan kalah. Maka dari itu, ia hanya bisa menggunakan cara sampingan.
"Sesuatu seperti pernikahan atau sejenisnya, tidak bisa diputuskan hanya dalam waktu sehari. Juga ... tidak bisa dipaksakan hanya karena kasihan atau tanggung jawab. Kau tidak mencintaiku, untuk apa memaksakan diri?"
"Apa segalanya belum jelas? Aku mencintaimu—entah sejak kapan. Bisa sejak kau mengatakan bahwa kau mempercayaiku, bisa juga ketika di pagoda teratai atau ketika pertama kali bertemu. Yang aku tahu aku mencintaimu sejak lama. Bagaimanapun kau meragukanku, aku tidak akan berubah pikiran."
Xie Ran merasa jantungnya akan berhenti jika terus menatap Qu Xuanzi yang terlihat begitu serius. Ia tahu pria itu tidak omong kosong tapi ia takut tidak sanggup menerimanya. Seperti yang ia katakan pada Ann Rou, mereka terlalu berbeda.
"Tapi aku tidak mencintaimu." Xie Ran masih berusaha mencoba meyakinkan Qu Xuanzi yang keras kepala ini.
Qu Xuanzi tersenyum samar dan mengeratkan pelukannya. "Kau akan mencintaiku."
"Sebagai Kaisar Dewa, kau tahu aturan langit bahwa yang kau lakukan terlalu bertentangan dan melanggar hukum."
"Saat ini aku bukan Kaisar Dewa atau Dewa apa pun, aku adalah Qu Xuanzi. Aku bisa mengubah hukum itu kapan pun."
Xie Ran lagi-lagi nyaris kehabisan kata-kata. Ia tidak marah, tapi merasa tidak berdaya. Ia selalu melakukan sesuatu menurut logika. Bahkan jika ia disuruh memilih antara perasaannya atau logika seperti saat ini, ia lebih memilih logika dan tidak memiliki banyak alasan untuk menuruti perasaannya. Ia hanya mengambil pelajaran dari masa lalu.
"Qu Xuanzi, bagaimanapun kau adalah dewa. Kau bisa hidup ribuan tahun lagi, berbeda dariku. Jika aku mati, semua ini menjadi sia-sia." Xie Ran mengutarakan pemikirannya. Meski ia tidak takut akan menua karena dirinya sudah tidak bisa menua karena kebangkitan tubuh murni, tapi tetap saja umurnya masih seperti manusia awam.
"Apa itu yang selalu kau khawatirkan?"
Xie Ran menatapnya serius. "Bukan hanya itu. Karena aku manusia biasa, aku hanya akan menjadi beban. Kau memiliki tanggung jawab di Dunia Langit dan tidak bisa tetap di tempat ini, sedangkan aku tidak bisa ikut denganmu karena pembatas alam. Meskipun aku mencintaimu, itu semua sia-sia. Tidak akan ada yang berubah."
Qu Xuanzi menatap Xie Ran cukup lama membuat Xie Ran berpikir bahwa ia akan berhasil mengubah pikiran Qu Xuanzi kali ini. Namun, semua itu sirna lebih cepat dari yang diperkirakan.
"Jika aku sudah memutuskannya, maka aku memiliki solusinya. Lagi pula, jika kau tidak bisa ikut ke Dunia Langit, aku akan tetap di sini."
Xie Ran membulatkan matanya. Apa pria ini gila! Semakin lama dipikirkan, pria ini semakin gila dan di luar nalar!
"Mengenai umur manusia yang pendek, aku tidak yakin kau termasuk manusia berumur pendek," katanya membuat Xie Ran semakin tidak bisa berkata-kata. Kemudian ia melanjutkan, "Ranran, apa pun ucapanmu yang mencoba membuatku ragu dan mundur, itu semua sia-sia. Sudah terlambat untuk pergi. Meskipun kau pergi ke ujung dunia sekalipun, aku dapat menemukanmu."
Xie Ran tersenyum getir. "Kau bukan yang pertama yang mengatakannya. Juga bukan yang pertama yang melarangku menolak."
"Aku bukan orang yang kau maksud."
"Aku tahu," sahut Xie Ran sedikit menunduk. "Qu Xuanzi, ada banyak hal yang tidak kau ketahui. Meski kau bukan orang itu, tetap saja aku harus mengambil pelajaran dari masa lalu."
Qu Xuanzi pikir itu mungkin saja mantan Xie Ran di kehidupan lampau. Rupanya gadis ini pernah memiliki hubungan dengan seseorang, kenapa ia tidak tahu?
"Apa dia menyakitimu?" tanyanya.
"Bisa dibilang seperti itu."
"Kau menyukainya?"
Xie Ran diam sebentar dan menggeleng. "Seumur hidup, aku tidak memiliki perasaan khusus pada siapa pun, sampai saat ini."
Qu Xuanzi sedikit lega mendengar Xie Ran masih netral. "Apa yang dia lakukan padamu?"
"Bertunangan denganku hanya untuk sesuatu yang besar."
Xie Ran ingat ketika orang itu meminta padanya untuk menjadi sepasang kekasih di depan ayahnya sehingga Xie Ran tidak bisa menolak. Namun Xie Ran saat itu tetap saja sebagai orang asing yang harus serba sempurna. Tapi karena kekurangannya, ia hanya bisa menjadi pajangan indah di depan banyak orang dan digunakan ketika saatnya tiba. Pada akhirnya ia hanya dimanfaatkan untuk sebuah tujuan.
Xie Ran mendengus. "Lagi pula aku sudah membunuhnya sebagai korban terakhir di hari aku bunuh diri, tidak perlu membicarakan orang yang mati."
Meskipun Xie Ran mengatakan hal itu, Qu Xuanzi tetap tidak nyaman dengan kalimat sebelumnya. Apa Xie Ran masih ada sedikit keraguan padanya?
"Apa pun yang kau pikirkan tentangku, aku tidak akan melakukan hal buruk padamu, apalagi memperalatmu."
"Aku tahu." Xie Ran tetap menunduk tidak mau menatap Qu Xuanzi. Pikirannya masih bergelut sekarang.
"Jangan berpikir untuk melarikan diri lagi."
Xie Ran menghela napas dan memberanikan diri menatap Qu Xuanzi. "Aku tahu. Kau bersikeras dan tidak membiarkanku mengubah pikiranmu atau menolak, apa yang bisa kulakukan? Tapi ... aku memiliki satu syarat."
"Katakan."
Xie Ran mengambil napas untuk mengatakannya. Sudahlah, ia sudah tidak memiliki kesempatan, untuk apa bersikeras. Jalankan saja seperti biasa, lihat kedepannya akan seperti apa.
Ia pun bicara, "Orang-orang seperti kalian, terutama pria bangsawan, biasanya memiliki banyak kekasih di luar. Bahkan ayahku memiliki kekasih dan anak luar. Dewa juga termasuk, seperti Dewa Zeus dalam mitologi yunani memiliki sangat banyak wanita baik dewi atau makhluk lain seperti manusia meski sudah memiliki Dewi Hera, bahkan memiliki sangat banyak anak di luar sana—entah berapa jumlahnya."
Qu Xuanzi tersenyum nyaris tertawa mendengar penjelasan Xie Ran yang begitu panjang. Ia sudah tahu apa yang akan Xie Ran katakan di akhir kalimat nanti.
Xie Ran terus melanjutkan. "Bukan hanya Dewa, Kaisar manapun juga sama. Para wanita kuno itu menoleransi hal seperti itu, namun berbeda jika berada di era modern di mana para wanita akan langsung meminta cerai atau putus jika melihat perselingkuhan. Meski akan ada beberapa yang memiliki toleransi dan bertahan karena beberapa alasan, aku termasuk wanita yang tidak memiliki toleransi apa pun alasannya."
Qu Xuanzi mengangguk. "Aku paham."
"Paham? Aku pikir kau tidak akan paham sehingga aku harus membuat contoh." Xie Ran melipat kedua tangannya di dada.
"Meski kau tidak mengatakannya, aku juga tidak akan mengkhianatimu. Bagiku, kau satu-satunya." Ia mengusap wajah Xie Ran dengan lembut.
Xie Ran tidak tersentuh dan justru menatap Qu Xuanzi dengan serius. "Kenapa kau bisa menyukaiku?"
"Kau tahu, selama ribuan tahun aku selalu kesepian, tidak ada yang memperlakukanku dengan tulus sehingga tidak ada yang bisa dipercaya selain guruku dan hewan-hewan nakal itu. Meskipun aku tahu kau awalnya hanya ingin berlatih menjadi kuat dan mengalahkanku ...."
Xie Ran agak merinding ketika mendengar Qu Xuanzi mengatakan niat aslinya dulu. Lupakan, saat itu Xie Ran masih belum dewasa dan sangat tidak bisa diatur. Xie Ran masih berpikiran dangkal dan terlalu sombong bahwa ia bisa menaklukan dunia dengan kekuatan sekecil itu.
"Tapi, aku pikir kau berbeda dari yang lain," lanjut Qu Xuanzi.
"Bukan karena aku cantik?"
"Jika aku menambahkan karena kau cantik, maka kau akan berpikir aku seseorang yang memandang fisik dan hanya menyukai kau yang berwajah cantik."
"Jadi aku tidak cantik?" Xie Ran menatapnya penuh tuntutan.
"Kau sangat cantik." Qu Xuanzi masih tidak mengerti mengapa wanita sangat sulit diprediksi jika membicarakan hal penampilan.
"Jadi jika ada seseorang yang lebih cantik kemudian mewarnai hidup abu-abumu itu dan memberi 'pelayanan' tambahan padamu, kau akan langsung mencintainya, seperti itu?"
Qu Xuanzi mengerutkan kening. Kenapa Xie Ran bisa berpikir sejauh itu sedangkan dirinya tidak berpikir sampai sana? Rupanya pengalaman ribuan tahunnya masih belum apa-apa dibandingkan 40 tahun Xie Ran.
"Tidak ada yang sepertimu, ataupun melebihimu. Bagiku, Xie Ran tetaplah Xie Ran, tidak bisa digantikan."
"Walaupun aku percaya padamu, tapi mungkin saja ribuan tahun lagi akan berbeda. Seseorang akan mudah bosan seperti contohnya Dewa Zeus." Xie Ran berniat membuat Qu Xuanzi kesal.
Tapi Qu Xuanzi bukannya kesal malah merasa senang berpikir Xie Ran mulai menerimanya karena mengajukan pertanyaan seperti itu dan membuatnya berjanji untuk tidak melirik wanita lain. Walaupun ia tidak berjanji, ia juga tidak akan pernah melirik wanita lain selain Xie Ran.
Qu Xuanzi mengangkat tanyannya. Sebuah gumpalan cairan merah sebesar kelereng keluar dan melayang di udara. "Aku Qu Xuanzi, selamanya tidak akan mengkhianatimu. Jika aku melanggar, kau bisa membunuhku tanpa perlawanan dan jiwaku akan hancur."
Xie Ran terkejut mendengar sumpah itu dan melihat cairan merah yang melayang di atas tangan Qu Xuanzi. Itu darah darah. Sumpah darah bukan sesuatu yang dapat dianggap enteng. Baik dewa ataupun makhluk lainnya, jika sudah membuat sumpah darah, maka akan berlaku seumur hidup, jika melanggar, hukuman dalam sumpah akan berlaku saat itu juga tanpa bisa dicegah.
"Kau ...." Xie Ran menatapnya tidak percaya sedangkan yang ditatap menatapnya tanpa beban seolah tidak terjadi apa pun. "Apa kau tidak takut aku mengambil kesempatan dan membunuhmu?"
"Kau tidak bisa melakukannya. Itu hanya berlaku bila aku melanggar. Juga ... aku akan membunuh pria manapun yang mendekatimu."
Xie Ran menghela napas dan mengangguk. "Baik."
Ia juga mengangkat tangan dan menyayat sedikit telapak tangannya hingga berdarah. Ia menyatukan tangannya yang berdarah dengan tangan Qu Xuanzi hingga kedua sumpah saling berkaitan.
"Jika itu terjadi dan aku membunuhmu, aku juga akan mati serta jiwaku hancur," katanya tanpa keraguan. Ia kemudian menatap Qu Xuanzi yang sejak tadi menatapnya dalam. "Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin merasa bersalah. Lagi pula, aku tidak berniat berinkarnasi lagi."
"Aku tidak akan mengecewakanmu." Ia membisikkan kalimat itu di telinga Xie Ran.
Xie Ran tidak bereaksi dan hanya diam. Ia merasa geli ketika napas Qu Xuanzi menerpa lehernya sebelum sesuatu yang basah menyentuh bibirnya dan menyelinap ke mulutnya.
Xie Ran terdiam untuk beberapa saat berusaha beradaptasi dengan suasana seperti ini. Ia melingkarkan lengannya di leher Qu Xuanzi dan memejamkan mata mengikuti permainan sambil sesekali mengambil napas agar tidak mati karena cara Qu Xuanzi yang terlalu ganas.