The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
243. Hanya Mimpi



Beberapa jam sebelum perang berakhir ....


Sepasang bola mata emas terbuka lebar. Netranya bergerak, menelusuri ruangan yang kini ia tempati. Dinding putih dan segala furnitur putih dengan aksen klasik berukiran emas. Tampak mewah, namun mengandung kehampaan dan kesunyian.


Mengingat kembali apa yang baru saja terjadi; perang, ledakan, pengorbanan. Kepalanya terasa berdenyut sampai rautnya berubah, keningnya berkerut. Ia melihat kedua tangannya, kemudian pergi ke depan cermin untuk memastikan.


Rambut perak dan mata emas itu bukan hal baru, tapi ia merasa asing. Sepertinya ini adalah perubahan ketika melakukan penyatuan darah. Ia kembali menjadi Asura yang dulunya adalah dewa paling ditakuti di Dunia Atas, hanya saja dengan sedikit perbedaan.


Segalanya terasa seperti mimpi. Kepalanya terasa sakit sambil mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Perang ... ia ingat sebelumnya telah terjadi perang. Lalu ....


"Kau sudah bangun."


Ia berbalik untuk melihat sosok pria tua yang berdiri kokoh di ambang pintu. Pria berjanggut putih dengan pakaian mewah dan kekuatan luar biasa, jelas orang itu bukan orang sembarangan. Ketika mengenalinya, ia semakin terkejut.


"Kakek?"


Pria berjanggut itu terkekeh. Ia meletakkan kedua tangan di belakang, kemudian menghampiri. "Kau telah menyelesaikan pelatihanmu sebagai Dewa Utama, dan mengendalikan darah iblis yang ada dalam tubuhmu. Aku ucapkan selamat untukmu."


Qu Xuanzi mengerutkan kening lebih dalam, kemudian melihat sekitarnya. "Apa ini Dunia Dewa?"


Pria berjanggut tersenyum. "Benar. Aku menarik jiwamu ke sini setelah kematianmu."


"Apa mati bunuh diri juga masuk kualifikasi?"


"Kau tidak mati bunuh diri, tapi penyimpangan darah yang tak terkendali akibat kekurangan energi murni membuatmu tidak bisa menahannya. Di Tiga Dunia, kekuatanmu ditahan oleh hukum alam, tidak bisa menggunakannya secara penuh sebelum menjadi dewa di Dunia Dewa, itu sebabnya kau mati."


Qu Xuanzi menggeleng pelan. "Bukan seperti itu. Aku memberikan kekuatanku pada seseorang, itu yang benar."


"Itu hanya sebagian dari kekuatanmu, tidak bisa membuatmu terbunuh. Lagipula, itu tidak penting." Pria tua itu bicara tanpa ekspresi. Ia memandang lurus pemandangan di jendela belakang Qu Xuanzi. "Ini adalah kehidupan keempatmu, lupakan masa lalu."


Qu Xuanzi mengepalkan telapak tangannya dengan erat. Kepalanya terasa sangat sakit. Segala hal yang dilalui terasa samar seperti mimpi. Meski ia tahu apa saja yang dilalui, gambaran di kepalanya semakin tidak jelas membuatnya sulit mengingat beberapa detail.


Yang ia ingat hanyalah seseorang yang selalu melekat di pikirannya setiap saat. Bahkan sebelum kematiannya, sebuah nama terus terukir di kepalanya disertai gambaran samar yang tidak ingin dilepaskan.


Ia pergi menjauh dari kakeknya yang hanya diam memandang luar jendela. Ia selalu merasa gelisah sehingga terus berpikir apa saja yang ia lewatkan. Tapi untuk saat ini, semua detail itu tidak penting dibandingkan seseorang yang mengisi hatinya selama ini.


"Xie Ruo." Nama itu terus terlintas di pikirannya. Ia terus menguras otaknya untuk mencari apa saja yang ia lewatkan, apa saja yang terjadi sebelum perang itu terjadi dan menewaskannya.


Ia melihat ke arah tangan kirinya. Bayangan benang merah yang terkait di jarinya terlihat samar seperti helaian angin. Panjangnya tak diketahui, namun itu terus terjulur ke kejauhan tanpa ada ujungnya.


"Yang Mulia."


Qu Xuanzi menoleh ke belakang, melihat seorang pria asing berdiri tak jauh darinya berada. Ia melihat kembali ke arah jari-jarinya, benang merah itu telah hilang.


Pria asing itu membungkuk, kemudian berkata, "Tetua Dewa meminta Anda memulihkan diri untuk sementara waktu, sisanya akan diurus oleh Tetua Dewa."


Qu Xuanzi diam untuk beberapa saat. Ia melihat pria itu sekilas, kemudian mengangguk pelan. Setelah pria itu pergi, ia berjalan ke luar kediaman sambil mencoba menjernihkan pikiran. Ia selalu merasa bahwa ia harus segera ke Tiga Dunia.


Melihat ke arah langit, ia dapat melihat berbagai macam hewan langit melintas di malam hari. Langit saat ini dipenuhi bintang dan aurora, membuatnya merasa tidak asing.


Ia pernah berada di posisi yang sama, namun dengan suasana yang jauh berbeda. Di ingatan samar itu, ia berdiri di bawah pohon musim semi bersama seseorang, melihat ribuan bintang jatuh dan aurora di langit malam. Nama itu lagi-lagi terulang di pikirannya.


Semakin dalam ia berpikir dari awal sampai akhir, semakin jelas gambarannya. Aurora di langit seolah memberinya gambaran dengan jelas. Sosok wanita cantik dengan senyumnya yang menenangkan, perilaku manisnya selalu membuatnya tersenyum, serta perilaku aneh yang kadang begitu kacau namun membuatnya bahagia.


Hanya saja, ketika air mata wanita itu menetes, tiba-tiba ia merasa sakit di hatinya. Ketika wanita itu terpukul namun tetap memaksakan senyum untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja, ia menjadi semakin sakit. Gambaran itu membuatnya sangat gelisah dan kacau. Ia terus mencoba mengingat dalam diam, lalu menutup matanya.


Gambaran perang yang kacau dan penuh aura kematian terpatri. Cahaya emas tidak menghalangi pandangannya terhadap wanita yang kini terlihat datar dengan air mata tertahan. Tubuh kecilnya bergetar hebat penuh rasa takut. Ia tidak bisa melihatnya seperti ini.


Qu Xuanzi membuka matanya penuh kejutan. Setelah beberapa kali berpikir untuk mengingat, ia mengetahui segala yang terjadi sebelum kematiannya. Ia tidak boleh berlama-lama di sini.


Dengan kecepatan tinggi, Qu Xuanzi pergi dari kediaman tanpa mengatakan sepatah katapun. Selama ia masih hidup, ia tidak boleh meninggalkan wanitanya yang terpuruk sendirian di saat-saat berbahaya.


Tapi begitu ia keluar dari kediaman dan terbang di udara untuk pergi ke Tiga Dunia, beberapa sosok pria bermunculan seolah menghadangnya dan menutup jalan langit. Qu Xuanzi terpaksa mendarat ke tanah, kemudian memandang mereka dengan dingin.


"Anda baru saja datang, apa bagus bila meninggalkan Dunia Dewa sekarang?" Salah satu dari mereka bicara.


Qu Xuanzi menyahut dengan dingin. "Aku harus pergi."


"Kami tahu Anda ingin pergi ke Tiga Dunia. Tapi Anda harus tahu, kehidupan yang lalu dan sekarang berbeda, tidak saling berhubungan. Jadi, harap Anda bisa melupakannya."


"Apa pantas ikut campuri urusan orang lain?" Qu Xuanzi sudah sangat kesal. Ia harus cepat pergi karena rentang waktu Dunia Dewa dan Tiga Dunia sangat jauh.


"Kami berkata untuk menjaga kestabilan dunia."


"Qu Xuanzi, bila kau melangkah keluar Dunia Dewa untuk menemui masa lalumu, maka posisi Kaisar Dewa tidak akan diberikan padamu, meski kau adalah dewa terkuat sekalipun. Harap pertimbangkan sekali lagi."


Qu Xuanzi memandang mereka semua dengan dingin. Ia mengeluarkan tekanan dari tubuhnya yang menekan tiap dewa yang menghalanginya. Mereka semua nyaris terpental bila tidak sigap memasang pelindung.


"Kau tidak bisa mengabaikan semua ini!"


Qu Xuanzi menghentikan tekanannya begitu salah satu dewa nyaris memuntahkan darah. Ia berkata dengan nada dingin, "Itu bukan urusanku."


Mereka semua berlutut dalam keadaan lemas. Mereka hanya dewa biasa, berbeda dengan Dewa Utama seperti Qu Xuanzi. Apalagi Qu Xuanzi memiliki darah campuran yang bahkan Kaisar Dewa pendahulu belum tentu bisa melawannya.


Pada saat Qu Xuanzi akan melanjutkan perjalanan, Tetua Dewa—kakek Qu Xuanzi—muncul di depan para dewa yang terkulai. Tatapannya terhadap Qu Xuanzi tetap tenang, kemudian ia menghela napas. Cucunya itu masih saja keras kepala.


"Apa kamu sudah memutuskan?" Pria tua itu berkata dengan pasrah.


"Aku bukan seseorang yang membiarkan istrinya mati begitu saja. Aku juga tidak ingin, istriku mati di tangan orang yang sama." Qu Xuanzi memandang kakeknya sendiri dengan dingin.


Tetua Dewa agak terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Qu Xuanzi. Benar, dulu ia tidak terlalu peduli dengan istrinya sendiri sampai-sampai harus mati di tangan Dewi Cahaya. Ia menyesal, tapi tidak ada yang bisa mengubahnya.


"Qu Xuanzi, apa kau akan rela melepas posisimu hanya untuk seorang wanita? Itu tidak sepadan."


"Jika itu kau, memang akan terasa tidak sepadan. Tapi aku berbeda. Kau yang mengirimnya padaku tanpa pertimbanganku, jadi kau jangan membuangnya tanpa pertimbanganku." Qu Xuanzi membalas dengan nada tenang. Ia melanjutkan, "Aku harap kau mengerti dan belajar dari kesalahanmu."


Tetua Dewa nyaris tidak bisa berkata apa pun. Benar, ia telah gagal sebagai suami dan ayah di masa lalu hanya demi kekuasaan yang telah ia raih saat ini. Terasa menyedihkan dan penuh rasa bersalah. Ia nyaris saja menarik paksa cucunya ke posisi yang sama.


Qu Xuanzi tidak mengatakan apa pun lagi setelahnya. Ia pun pergi tanpa gangguan, sedangkan Tetua Dewa hanya diam membiarkan pria itu pergi.


Sedangkan para dewa di sekitar tampak tidak setuju. Mereka baru saja akan mengajukan protes, mengatakan bahwa Tetua Dewa terlalu memanjakan Qu Xuanzi, namun Tetua Dewa berkata terlebih dahulu.


"Dia benar, ini salahku." Ia memandang kepergian Qu Xuanzi dalam diam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa bulan setelah perang....


Sepasang mata bergerak, berkedip untuk melihat langit-langit putih di sebuah ruangan. Iris birunya terlihat kosong untuk sesaat, kemudian tersadar akan sesuatu hingga membuat tubuhnya nyaris melompat.


Ia mengambil posisi duduk terburu-buru, kemudian mengedarkan pandangan. Ruangan serba putih yang dilapisi warna keemasan dan terkesan elegan serta sederhana. Seluk-beluk posisi barang terlihat asing, membuatnya langsung sadar di mana ia berada, Istana Langit.


Xie Ruo memegang kepalanya yang tiba-tiba menjadi sangat sakit. Sakit seperti tertimpa palu besar hingga ia meringis. Ia menyibak selimut, beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar.


Ia bersandar di dinding sambil memegang kepalanya yang sakit. Tidak ada siapa pun di sekitarnya, membuatnya sangat gelisah. Gambaran perang dalam ingatannya sangat menyakitkan. Hingga akhirnya ia teringat pada seseorang.


"Xuanzi ...." Xie Ruo sadar bahwa Qu Xuanzi tidak ada di sekitar. Sebelumnya ia melihat Qu Xuanzi, tapi tidak tahu apa itu nyata atau tidak, ia juga berharap bahwa perang yang terjadi adalah mimpi sehingga semua ketakutannya dapat sirna.


Namun, suasana sepi ini menakutinya. Ia berjalan dengan perasaan gelisah. Ia tidak bisa merasakan emosi siapa pun atau napas siapa pun di sekitar membuatnya sangat ketakutan. Bila perang itu benar-benar terjadi dan semua orang pergi meninggalkannya, ia tidak akan sanggup menerima semua kenyataan.


Untuk saat ini, ia harus mencari Qu Xuanzi. Ia yakin pria itu masih hidup. Tidak mungkin seorang Dewa Utama mati begitu saja. Benar, itu semua pasti hanya mimpi.


"Xuanzi, jangan bercanda padaku." Xie Ruo masih dalam keadaan gelisah. Ia berputar dan pergi ke tiap sudut sambil memegang kepalanya yang sakit. Istana ini terlalu besar untuk ditelusuri seorang diri.


Semakin lama, hati Xie Ruo semakin kacau. Pikirannya mulai terganggu. Ia diam di tempat selagi rasa takut menjalar tak terkendali di sekujur tubuhnya. Ia mengalami trauma berat akan perang yang benar-benar menjatuhkan mentalnya.


Karena merasa kacau, Xie Ruo tidak lagi melanjutkan pencarian. Mentalnya telah runtuh dan dipenuhi kesedihan yang dalam. Ia berjongkok di tengah lorong, kemudian menumpahkan semua rasa gelisah, kacau, dan sedih dalam hatinya. Ia seperti seorang anak yang tersesat.


Isak tangis terdengar. Xie Ruo mencoba mengendalikan tangisannya dan menahannya, tapi itu percuma. Tubuhnya bergetar karena kesedihan mendalam selagi wajahnya menunduk dan ditutupi kedua tangannya.


"Ruoruo?"


Xie Ruo menghentikan tangis untuk sesaat. Suara itu terasa familiar, suara yang sangat ia rindukan. Ia mendongak ke atas, menunjukkan wajah sembabnya yang basah akan air mata.


Tampak sosok pria menunduk di depannya, kemudian menghapus air mata yang membasahi wajah Xie Ruo dengan lembut.


"Xuanzi ..." lirih Xie Ruo tanpa melepaskan pandangan. Ada rasa bahagia dan lega di hatinya.


Qu Xuanzi tersenyum, kemudian memeluk tubuh kecil Xie Ruo. "Aku di sini."


Xie Ruo membalas pelukan dengan erat. Ia kembali menangis, tapi kali ini ia menangis bahagia. Benar, 'kan? Semua itu hanya mimpi. Ia hanya mimpi. Semua orang masih hidup.


Qu Xuanzi mengangkat tubuh Xie Ruo dan membawanya ke kamar. Ia meletakkan wanita itu ke atas tempat tidur, kemudian menyelimutinya dan mengecup keningnya.


"Istirahatlah, kau baru saja pulih." Qu Xuanzi mengusap kepala Xie Ruo dengan lembut.


Setiap hari dalam beberapa bulan ini, ia selalu bersama Xie Ruo untuk menjaganya. Luka yang Xie Ruo terima terlalu berat membuatnya koma selama berbulan-bulan. Selama itu, Qu Xuanzi tidak pernah meninggalkannya.


Tapi kali ini, ia hanya pergi untuk menerima pesan dari Tetua Dewa sebentar. Ketika kembali, ia sudah melihat Xie Ruo seperti ini. Itu membuatnya sedih. Sepertinya perang itu benar-benar memukulnya sangat berat sampai trauma.


Xie Ruo yang termenung untuk beberapa saat tersadar kembali dan melihat Qu Xuanzi. Tatapannya penuh pertanyaan. Ia ingin bertanya apa semua ini hanyalah mimpi atau tidak, tapi sepertinya itu hanya akan membuatnya semakin gila. Apa lebih baik ia membohongi diri sendiri?


Namun bila dipikirkan, logika Xie Ruo menolaknya. Ia mencoba menenangkan diri untuk beberapa saat selagi Qu Xuanzi memberinya air minum.


"Katakan padaku, perang itu hanya mimpi." Xie Ruo meremas jemarinya dengan gelisah.


Qu Xuanzi paham kondisi Xie Ruo. Jika ia berkata bahwa perang itu bukan mimpi, Xie Ruo akan sulit menerimanya dan akan terus mengalami kesedihan mendalam. Xie Ruo sendiri juga tahu akan hal itu, itu sebabnya ia bertanya.


"Hanya mimpi." Qu Xuanzi tidak ingin melihat Xie Ruo sedih terlalu jauh.


Xie Ruo tersenyum. Itulah yang ingin ia dengar. "Baguslah."


"Dewa Iblis telah mati karena penyimpangan altar, menyebabkan Dewi Cahaya kehilangan kekuatannya dan mati. Itu yang terjadi. Semua sudah baik-baik saja." Qu Xuanzi memberi alasan masuk akal untuk kematian mereka agar Xie Ruo tidak gelisah.


Xie Ruo mengangguk dengan senyuman lega. "Ya, semua baik-baik saja. Semua sudah berakhir." Meski ia sadar apa yang sebenarnya terjadi, ia lebih suka membohongi diri sendiri. "Omong-omong, Ketua Klan sudah aman, aku tidak lagi khawatir."


Qu Xuanzi mengangguk tanpa melepaskan pandangannya. "Dia sangat aman."


Xie Ruo tetap dengan senyumnya, sebelum akhirnya air mata tidak lagi bisa tertahan di pelukan Qu Xuanzi. Meski tidak menangis dengan keras, air matanya tetap mentes. Kakeknya sudah sangat aman, ia tidak boleh sedih terlalu lama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xie Ruo menjalani pengobatan rutin selama beberapa hari. Ia telah mendengar cerita Qu Xuanzi mengenai Dunia Dewa. Kini ia paham mengapa Qu Xuanzi bisa kembali hidup. Hanya saja, entah kenapa Xie Ruo jadi memiliki dendam terselubung pada Tetua Dewa—meski bukan dendam berdarah.


Setelah pengobatan berakhir, Xie Ruo sudah diperkenankan menemui putra dan putrinya yang selama ini dijaga oleh Dewi Kehidupan.


Ia melihat dua tempat tidur bayi imut yang berdiri di tengah ruangan. Di dalamnya, terdapat Qu Fengxiu dan Qu Fengxiao yang sudah bisa terlungkup. Bahkan Qu Fengxiao mencoba berguling meski sulit.


Kehadiran Xie Ruo dan Qu Xuanzi yang mengikut membuat keduanya menoleh untuk melihat. Qu Fengxiao tersenyum, terlihat senang dan mencoba membuat suara untuk memanggil. Sedangkan Qu Fengxiu, hanya diam di tempatnya sambil membuat gelembung di mulut.


Xie Ruo yang melihatnya tidak bisa menahan rasa bahagia. Hanya saja, ia agak sedih berpikir bahwa ia tidak bisa menjadi ibu yang baik dalam menjaga mereka. Ia mengabaikan mereka terlalu lama. Bahkan ia tidak tahu, bahwa mereka sudah sebesar ini.


Qu Xuanzi menyentuh kedua bahu Xie Ruo dari belakang, kemudian berkata, "Mereka sudah merindukanmu."


"Aku tahu." Xie Ruo dapat merasakan emosi mereka berdua.


Ia menghampiri, kemudian mengangkat Qu Fengxiao yang terus mencari perhatian. Ia mengangkatnya dengan lembut dan menyandarkan ke pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu." Xie Ruo memberi kecupan singkat dan mencubit dengan lembut pipi tembam Qu Fengxiao. "Maafkan aku tidak datang melihat."


Qu Fengxiao menyahutnya dengan suara yang keluar dari mulutnya. Ia mengoceh dengan bahasa yang hanya diketahui olehnya seorang. Itu membuat Xie Ruo tertawa.


"Aku menyesal tidak melihat mereka tumbuh. Seharusnya aku bangun lebih cepat." Xie Ruo menghela napas.


"Bukan salahmu." Qu Xuanzi memeluknya dari belakang. "Kedepannya, kau akan sering melihatnya. Kita akan melihatnya tumbuh besar."


Xie Ruo seperti terpikirkan sesuatu, tapi ia menutupinya dengan senyuman. "Benar."


Xie Ruo memberikan Qu Fengxiao pada Qu Xuanzi, sedangkan ia mengambil Qu Fengxiu yang sejak tadi fokus bermain gelembung. Ketika Xie Ruo menggendongnya, ia menjadi senang. Di samping itu, Qu Fengxiao menjadi kalem ketika berada di gendongan Qu Xuanzi.


Ada kalanya Xie Ruo ingin tahu bagaimana bila Qu Fengxiu bersama Qu Xuanzi, mengingat saat ini Qu Fengxiu hanya mau bersamanya saja, berbeda dari Qu Fengxiao.


"Aku rasa dia sangat mirip denganmu." Xie Ruo berkata sambil melihat Qu Fengxiu yang masih memainkan gelembung meski sedang digendong. "Aku harap sikapnya tidak akan mirip denganmu ketika besar, Xiao Xiu akan sangat membosankan."


"Apa aku membosankan?" Qu Xuanzi tidak setuju.


Xie Ruo menyengir. "Benar, tiap tempat yang kau datangi, selalu menjadi sepi dan membosankan. Kalau seperti itu, mana ada yang ingin mendekatimu?"


"Bukankah bagus? Ruoruo tidak akan mudah cemburu."


"Aku tidak akan cemburu meski ada wanita mendekatimu." Xie Ruo berkata dengan sombong.


"Oh, ya?"


"Ya. Kalau bukan aku yang nekat dan tidak peduli nyawa, mana bisa aku mendapatkanmu."


"Ada sangat banyak wanita di Dunia Dewa, mereka lebih nekat dari Dewi Angin yang mengganggumu tempo hari."


"Apa urusannya denganku? Apa aku harus mengacungkan jempol untuk mengapresiasi seseorang yang menginginkan suami orang lain?" Raut Xie Ruo terlihat kesal. Jelas ia tidak suka pada wanita-wanita itu sampai pernah berpikir untuk membunuh mereka.


Xie Ruo tidak sadar, bahwa ia baru saja mengakui bahwa ia akan sangat cemburu, berbeda dari ucapan sebelumnya. Itu membuat Qu Xuanzi tertawa.


"Sudahlah, tidak ada yang bisa mendekatiku selainmu. Di hatiku, hanya ada satu wanita, yaitu kamu."


Xie Ruo menahan senyumnya dan memasang wajah angkuh. Ia berdeham, kemudian berkata, "Akan kupegang ucapanmu."


"Untuk aku yang membosankan, sepertinya aku harus mengubah malam yang membosankan menjadi menyenangkan." Qu Xuanzi sepertinya masih tidak terima.


Wajah Xie Ruo menjadi merah dan membelakangi Qu Xuanzi, tidak mau melihatnya. Tingkahnya itu membuat Qu Xuanzi diam-diam tertawa.


"Jangan sembarangan. Kau mengatakan hal itu di depan anak kecil." Xie Ruo berjalan ke tempat tidur bayi dan meletakkan Qu Fengxiu di sana kemudian memberinya sebotol susu yang sudah disiapkan. Sudah siang, waktunya makan.


"Memangnya aku mengatakan apa?" Qu Xuanzi pura-pura tidak tahu untuk menggoda.


Xie Ruo semakin memerah dan terus berpura-pura menyibukkan diri. "Kau pikir saja sendiri."


Qu Xuanzi tertawa, merasa geli melihat Xie Ruo yang menjadi malu. Terlihat sangat imut. "Lagi pula, anak kecil tidak akan mengerti."


Xie Ruo meliriknya sekilas, kemudian melihat ke arah Qu Fengxiu lagi. Sudahlah, kali ini ia mengalah.


Meski agak kesal karena Qu Xuanzi yang menggodanya, Xie Ruo merasa senang karena segalanya sudah kembali normal. Melihat suami dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja tanpa masalah, Xie Ruo sudah sangat senang. Ia harap waktu terus berhenti di kebahagiaan ini. Ia ingin terus bersama mereka.