
Malam hari tiba. Bagi semua orang, semua itu terasa sangat cepat. Namun bagi Xie Ruo yang kesehariannya mendengarkan ceramah tetua dari generasi sebelumnya, satu jam itu terasa seperti 100 tahun.
Pada akhirnya, Xie Ruo berhasil kabur dari jeratan neneknya yang bawel serta Dewi Kehidupan yang terus mengatakan hal aneh dan ambigu. Memikirkan itu membuatnya merinding.
Berjalan sendirian ke kamar yang sudah disiapkan, Xie Ruo bersyukur rok kepanjangannya sudah dilepas dan menyisakan rok yang memang seharusnya ia pakai sejak awal. Ia bisa berlari bebas ....
Xie Ruo telah meminta Shi Yang memasakkan makanan dan dikirmkan ke kamar. Tidak tahu apa gadis itu sudah menyiapkannya sesuai pesanan.
Ia membuka pintu ganda kamarnya yang besar, pada saat yang sama, kamar super besar menyambutnya. Sungguh, kali ini lebih besar dari kamar di Istana Dunia Bawah dan kamar yang ia tempati sebelumnya baik di Menara Suci maupun di kamar yang ia tempati kemarin.
Tempat tidur ganda di ujung menjadi pusat ruangan, dikelilingi oleh rak buku dan berbagai macam barang tambahan yang menambah kesan elegan dan luas.
Ada ruang ganti di satu sudut yang lengkap dengan set pakaian dan riasan di atas meja rias panjang. Ada pula kamar mandi besar disertai kolam bundar yang luas, seperti kolam ikan.
Kalau seperti ini, bukankah Xie Ruo yang tidak suka keramaian akan lebih betah di dalam kamar tanpa melakukan apa pun? Ia hanya perlu rebahan dan berkultivasi semaunya. Satu lagi, bagian balkon sangat cocok untuk uji coba senjata. Ia lihat dindingnya sangat tebal dan kuat, pasti kedap suara dan tahan ledakan. Tidak seperti kamarnya di Menara Suci.
Lalu, satu hal yang menjadi pusat perhatian Xie Ruo selanjutnya. Ada makanan dihidangkan di atas meja!
Suasana hati Xie Ruo mendadak melonjak menjadi bahagia. Ia berlari ke arah meja, kemudian duduk dan mengambil makanan. Rasanya ... persis seperti masakan Shi Yang. Muridnya yang lucu itu ternyata sangat perhatian. Berbeda dengan murid keduanya yang cuek.
Selagi asik makan, seorang pelayan mengetuk pintu. Xie Ruo agak kesal telah diganggu dan terpaksa menghentikan makan.
"Masuk!"
Pintu sedikit terbuka, seorang pelayan masuk dan memberikan sebuah nampan berisikan kain putih ke arah Xie Ruo. Xie Ruo menatapnya bingung.
"Apa ini?"
"Yang Mulia, ini adalah kain untuk menutupi kepala. Upacara terakhir dilakukan di malam hari. Selain Yang Mulia Kaisar, tidak ada yang boleh membuka kain."
Sudut mata Xie Ruo berkedut. Apa ia harus melakukan hal seperti ini? Ayolah, ia hanya ingin makan sedikit saja. Ia sudah merasa dagingnya menyusut sekarang.
"Apa tidak bisa dilewatkan?" Sebelumnya ia tidak menggunakan penutup kepala, kenapa sekarang masih harus menggunakannya? Merepotkan saja.
Pelayan itu agak terkejut, kemudian bicara dengan hati-hati. "Ini adalah tradisi yang bertahan selama ribuan tahun. Selain membuka kain, akan meminum arak yang disediakan. Setelah itu, Yang Mulia boleh makan makanan ini."
Xie Ruo merasa ingin menangis. Perutnya keroncongan sangat besar setelah pelayan itu mengatakan hal menyakitkan. Ia malu karena perutnya sendiri, sekaligus merasa kesal.
Sudahlah, ia hanya berharap Qu Xuanzi datang lebih cepat dan menyelesaikan upacara. Setelah itu, ia bisa makan sepuasnya.
"Aku sudah tahu." Xie Ruo mengambil kain itu, kemudian berdiri menjauhi makanan dengan setengah mati.
Pelayan itu membantu Xie Ruo mengenakan penutup kepala, lalu mengarahkannya duduk di atas tempat tidur. Hal ini membuat Xie Ruo semakin malas.
Sabar ... hanya sebentar lagi ... perutnya yang keroncongan setengah mati dan terus berbunyi itu akan berhenti dengan lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengurusi para dewa yang ia paksa untuk pergi, Qu Xuanzi akhirnya menghela napas lega. Ia seharusnya tidak melakukan pekerjaan menyebalkan ini, tapi para dewa itu sangat membuatnya jengkel ingin betemu dengannya dengan berbagai macam urusan. Alhasil, ia mengusir mereka secara tidak langsung, mengatakan pesta sudah selesai dan mengabaikan protes Dewi Kehidupan.
Qu Xuanzi pergi dari aula. Kira-kira, sedang apa Xie Ruo? Sejak dibawa Dewi Kehidupan, ia belum bertemu wanita itu dan tidak tahu apa yang sedang dilakukan dan bagaimana suasana hatinya.
"Yang Mulia, Pewaris Dewi Naga sudah menunggu." Seorang pelayan memberi kabar. Di belakangnya sudah ada dua pelayan yang membawa masing-masing nampan. Yang satu berisikan dua arak, dan yang satu berisikan tongkat perak yang digunakan untuk membuka kain penutup.
Qu Xuanzi baru ingat upacara lain yang dilakukan di malam hari. Jika seperti itu, apa Xie Ruo sudah menunggu terlalu lama?
Tanpa mengatakan apa pun, ia melangkahkan kaki ke arah kamar diikuti oleh tiga pelayan itu. Tidak butuh waktu terlalu lama untuk sampai, salah satu pelayan membukakan pintu kamar lebar-lebar.
Qu Xuanzi masuk, melihat sosok wanita dengan penutup kepala, duduk dengan tegak di tepi tempat tidur tanpa bergerak seinci pun. Napasnya sangat tenang seolah ... tertidur.
"Kalian bisa pergi."
Ketiga pelayan itu pergi dan menutup pintu setelah meletakkan dua nampan di atas meja. Qu Xuanzi berjalan ke arah Xie Ruo, kemudian mengambil tongkat untuk membuka kain penutup kepala.
Seperti yang ia duga, Xie Ruo tertidur dalam keadaan duduk. Sepertinya ia terlalu lama berada di aula dan membuat Xie Ruo menunggu sampai tertidur. Ia terlihat seperti boneka.
Qu Xuanzi duduk di sebelahnya untuk melihat, namun aksi itu membuat Xie Ruo terkejut dan terbangun. Secara spontan dan aksi kewaspadaan yang biasa ia latih, tangannya melayang dan mengeluarkan pisau kecil di ujung jari dan mengarah ke Qu Xuanzi.
Qu Xuanzi menahan serangan Xie Ruo dengan tongkat perak di tangannya tepat waktu, sebelum pisau itu menyayat lehernya. Rupanya, Xie Ruo masih berwaspada setiap saat.
Xie Ruo yang sadar siapa yang ia serang langsung menarik pisaunya dan menurunkan tangan karena terkejut. Kebiasaannya membawa senjata tersembunyi tidak berubah. Di tiap inci pakaiannya selalu ada senjata tajam dan kecil.
"Xuanzi? Kenapa tidak memberitahu? Bagaimana jika aku benar-benar menebasmu?" Xie Ruo menghela napas lega. Reaksi spontannya selalu membahayakan orang.
Qu Xuanzi tersenyum. "Tidak akan terjadi."
"Kau datang untuk membuka ini, 'kan? Kain ini menghalangi pandangan, membuatku mengantuk." Xie Ruo meniup-niup kain yang menghalangi pandangannya dengan bosan.
Qu Xuanzi membuka penutup kepala dengan cepat sehingga pandangan Xie Ruo tidak terhalangi lagi. Wajah cantiknya terungkap. Kali ini, sangat terlihat Xie Ruo menghapus sedikit riasan—mungkin karena tidak nyaman—sehingga wajahnya terlihat lebih murni.
"Sudah jelas, istriku?"
Xie Ruo menatap Qu Xuanzi agak malu. Kenapa harus ada panggilan itu? Ia tidak biasa! Ia ingin protes, tapi perutnya protes duluan hingga ia buru-buru mengambil dua arak dan salah satunya diserahkan pada Qu Xuanzi.
"Pelayan bilang harus minum arak. Sejak tadi araknya selalu rendah alkohol, aku jadi tidak bisa mabuk." Xie Ruo menggerutu.
"Jika tinggi alkohol, kau sudah tidur di aula sejak tadi." Lagi pula berbahaya jika membiarkan Xie Ruo mabuk di depan umum.
"Kalau begitu, apa kau akan mabuk jika meminum arak di Dunia Atas?" Xie Ruo ingat bahwa seharusnya arak Dunia Atas memiliki tingkat alkohol lebih tinggi, ditambah memiliki kekuatan spiritual yang baik untuk tubuh.
"Tidak." Qu Xuanzi tidak ingat pernah mabuk.
"Maka dari itu, tidak perlu khawatir jika aku mengambil arak lain. Aku tidak akan mabuk lagi." Selama ini, Xie Ruo sudah berlatih untuk kebal terhadap arak di Menara Suci. Oleh sebab itu, ia sudah meminta Shi Yang menyiapkan arak bersama makanannya.
Xie Ruo meminum arak rendah alkohol di tangannya, begitu pula Qu Xuanzi. Setelah meminumnya, Xie Ruo langsung beranjak dan berlari ke arah makanan untuk bersenang-senang. Ia bisa minum arak bagus dari Dunia Atas, betapa bagusnya itu. Toh, ia bukan anak kecil lagi seperti kala itu.
Xie Ruo makan dengan lahap. Masakan Shi Yang sangat enak meski sudah dingin karena terlalu lama menunggu. Tak apa, ia bisa memanaskannya menggunakan api dingin ketika sedang makan.
Qu Xuanzi hanya melihat. Ia beranjak dari tempat tidur, kemudian bersandar di dinding sambil melihat Xie Ruo yang asik sendiri. Perubahan suasana hati yang sangat mendadak itu terlihat lucu.
Xie Ruo melihat ke arah Qu Xuanzi, kemudian berkata. "Kau tidak ikut?"
Qu Xuanzi terkekeh kecil, kemudian menunduk menghapus sisa makanan di bibir Xie Ruo kemudian berkata, "Kamu saja."
Xie Ruo menggedikkan bahu acuh tak acuh. Ia lebih senang karena semua makanan ini miliknya, tidak dibagi-bagi. Rakus memang, tapi mau bagaimana lagi?
Energi murni dalam tubuhnya menyebabkan makanan yang masuk langsung tercerna. Perutnya dengan cepat kosong meski sudah makan banyak. Itu sebabnya, Xie Ruo merasa bahwa ia akan menjadi tulang belulang jika tidak makan.
Tapi, ada kalanya jika ia kebanyakan makan, semua makanan itu tertumpuk sehingga energi murni sulit mencerna dengan cepat. Akibatnya, Xie Ruo akan sakit perut dan harus mencerna semuanya dengan mengatur energi dalam tubuh.
Selain itu, jika ia terlalu banyak makan setelah lama tidak makan, ia juga bisa sakit perut karena mengalami kejutan dalam usus. Itu tidak bisa hanya mengatur energi untuk memecahkan masalah, melainkan harus pergi ke kamar kecil membuang semuanya.
Tapi akibatnya ia akan lapar lagi, meski tidak semenderita sebelumnya.
Inilah yang terjadi pada Xie Ruo. Setelah semua dilahap habis oleh foodie rakus, sesi selanjutnya adalah sesi sakit perut.
Xie Ruo memegangi perutnya yang sakit, kemudian berdiri untuk pergi ke kamar kecil. Ini bukan hal baru baginya, tapi Qu Xuanzi sepertinya khawatir.
"Ruoruo?" Qu Xuanzi jelas tidak tahu kondisi khusus Xie Ruo yang satu ini. Ia justru berpikir, makanannya telah diracuni.
"Bukan masalah besar, tidak ada masalah sama sekali. Aku hanya ... ingin ke toilet ...." Xie Ruo mengabaikan rasa malunya dan bergegas langsung ke arah kamar kecil.
Tapi begitu ia melintasi pintu depan, ia merasakan kehadiran beberapa orang yang membuatnya jengkel setengah mati. Ia membuka pintu utama agak kasar hingga beberapa sosok di baliknya berjatuhan ke lantai tepat di depan kaki Xie Ruo.
"Dasar ...." Mendadak Xie Ruo kesal.
Mei Liena dan Zhong Xiaorong bangkit dari lantai. Dewi Kehidupan yang tidak jatuh hanya memasang wajah tak bersalah dan berpura-pura tak melihat. Rupanya, kondisi ini di luar perkiraannya. Padahal ia sudah merencanakannya dengan sangat baik.
Xie Ruo tidak mau tahu apa yang sedang mereka pikirkan ketika berpura-pura tidak melihatnya. Xie Ruo mendengus, pergi begitu saja ke kamar kecil.
Dewi Kehidupan mengintip ke arah Qu Xuanzi yang berdiri dengan kedua tangan yang dilipat. Pandangan mereka bertemu, tiba-tiba Dewi Kehidupan menjadi ciut.
"Pergi!"
Suara Qu Xuanzi yang sangat dingin menusuk telinga mereka. Rencana gagal total, mereka hanya bisa pergi dengan raut tanpa rasa bersalah. Mereka hanya ingin menguping apa yang terjadi di dalam, siapa sangka Xie Ruo membuat segalanya kacau dengan makanan kesayangannya.
Mei Liena hanya bisa menghela napas. "Aku tidak akan mengulanginya, kepalaku nyaris menghilang."
"Sudah kukatakan berulang kali." Zhong Xiaorong bergidik ngeri mengingat tatapan dingin itu. Ia jadi teringat bagaimana Qu Xuanzi membantai seluruh orang di Pagoda Kaca.
"Sebenarnya, Xiao Zi tidak seburuk itu. Dia hanya sedikit kaku." Dewi Kehidupan masih berkonspirasi sendiri. Ialah yang mengusulkan semua rencana untuk menguping kegiatan pasturi itu.
"Dewi, kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika Kaisar Langit telah mengangkat pedangnya." Sejujurnya, Mei Liena masih agak trauma meski kadang ia melupakannya. Ketika melihat tatapan dingin itu, ia langsung mengingat hal tidak menyenangkan yang akan merenggut nyawanya bila tidak ada Xie Ruo.
Ketika pertama kali datang dan menceritakan janjinya dengan Dewi Kehidupan terdahulu serta mengatakan bahwa Qu Xuanzi harus memanggilnya ibu, pria itu menghunuskan pedang akan menghilangkan kepalanya.
Meski masih muda, tetap saja itu adalah Qu Xuanzi. Untung saja Kaisar Langit terdahulu langsung menengahi, ia mendapat dukungan Kaisar Langit terdahulu sehingga masih bisa hidup sampai sekarang.
Di sisi lain, Xie Ruo berada di kamar kecil memutuskan mandi untuk menenangkan pikiran. Ia agak mabuk karena arak yang dibawa, jadi harus menenangkan pikiran. Jika mabuk, ia akan membuat keributan besar lagi.
Sekarang, apa yang harus ia lakukan?
"Tentu saja, melakukan rutinitas malam pertama!" Long Long tiba-tiba bicara dalam pikiran Xie Ruo hingga wanita itu agak terkejut.
"Long Long, bagaimana kau bisa muncul secara tiba-tiba? Mengagetkan saja." Xie Ruo menggerutu.
"Nona ... Oh, haruskah aku memanggilmu Nyonya atau Istri Kaisar?"
"Nona saja, aku belum setua itu."
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu Nyonya."
Perasaan Xie Ruo memintanya tetap memanggil 'Nona'. Sudahlah, panggilan sama sekali tidak penting.
"Nyonya, sebaiknya kamu tidak terlalu lama di sini. Yang Mulia pasti sedang menunggu. Jika tidak, dia akan menerobos dan menerkammu sekarang."
Xie Ruo mengerutkan kening. "Gunakan bahasa manusia." Xie Ruo tidak ingin ada ucapan ambigu dan aneh masuk ke dalam telinganya. Ia terlalu malas berpikir.
"Apa kamu masih tidak paham? Hal yang harus dilakukan pengantin di saat malam pertama, apa kamu tidak tahu?" Long Long tidak yakin nyonyanya yang sudah sangat dewasa tidak tahu.
"Tentu saja tahu." Xie Ruo menanggapi dengan enteng.
"Nyonya, kau sangat tenang sampai aku berpikir kau tidak tahu apa pun."
"Apa harus berperilaku aneh dan kabur karena takut? Aku bukan Rongrong yang mabuk berlebihan."
"Kau juga mabuk."
"Aku tidak mabuk." Xie Ruo menghela napas. "Sudahlah, aku lebih suka membicarakan hal serius. Aku bertanya-tanya, kapan Liena akan menyelesaikan pembuatan penawar. Kasihan koki kecilku harus menderita."
"Nyonya, semua akan baik-baik saja."
"Manusia sangat lemah, hanya racun saja sudah menderita seperti itu." Roh Guntur mencibir.
"Kau adalah roh tanpa tubuh fisik, berbeda dengan makhluk dengan tubuh fisik!" Long Long menggertak Roh Guntur sekali lagi.
"Dasar naga tua besar mulut! Jangan karena aku kecil, kau dengan mudah menggertakku. Aku hanya mengatakan kenyataan!"
"Tapi kau sedang meremehkan nyawa banyak orang!"
"Hanya nyawa, bukan jiwa. Jika mati, mereka masih bisa berinkarnasi."
"Palamu inkarnasi! Dunia Roh disegel, bagaimana seseorang bisa berinkarnasi?"
"Maka dari itu, setelah semua ini selesai, mereka bisa berinkarnasi dan menjalani hidup dengan baik. Dasar berpikiran dangkal!"
"Kau yang dangkal! Jika semua orang berpikiran sepertimu, hanya ada pembunuh di dunia ini!"
"Dasar naga tua lemah!"
"Kau ...."
"Cukup!" Xie Ruo menarik mereka semua keluar dan melemparnya ke sudut. Bola bulu itu berguling bersama naga putih dan terpojok dengan menyedihkan. Siapa suruh bertengkar dan membuat Xie Ruo pusing?
"Nyonya, dia menindasku, huaaa." Bola bulu itu merengek, sedangkan Xie Ruo hanya melihatnya dengan tatapan dingin. Benar-benar menyebalkan.
Selagi Long Long dan Roh Guntur di luar kesadarannya, tak apa jika Xie Ruo mengeluarkan isi pikiran yang sebenarnya.
Sebenarnya, Xie Ruo agak gugup sampai berlama-lama di dalam air.
Setelah acara mandi selesai dan mengenakan pakaian, Xie Ruo membuka pintu kamar kecil. Ia mengintip, memastikan tidak ada siapa pun. Benar saja, Qu Xuanzi tidak ada.
Xie Ruo bersuka cita dan langsung melesat dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Masa bodo dengan Long Long dan Roh Guntur yang masih dipojokan karena dihukum.
"Ah, aku sangat lelah ...." Xie Ruo berguling-guling di atas tempat tidur kemudian berguling ke sisi kiri, barulah ia menutup mata. Tidak sampai semenit, ia sudah tertidur.
Qu Xuanzi datang tak lama setelah Xie Ruo tertidur. Sebelumnya, ia keluar untuk berganti pakaian karena Xie Ruo terlalu lama di kamar kecil.
Ia menghampiri wanita itu, melihatnya sudah tidur. Hari ini memang melelahkan, ditambah entah apa yang membuat Xie Ruo lesu sejak kembali dari jeratan nenek dan kerabatnya sendiri. Belum lagi ocehan Dewi Kehidupan.
Menyadari Xie Ruo yang tidak menggunakan selimut, ia hanya bisa terkekeh. Wanita ini selalu saja ceroboh di saat-saat tertentu.
Dengan pakaian tipis dan tanpa selimut, bagaimana jika ia kelepasan? Qu Xuanzi menarik selimut menutupi tubuh Xie Ruo, tapi ia berhenti beberapa saat.
Bukankah tidak perlu seperti dulu lagi? Mereka sudah suami-istri, ia tidak perlu menahan lagi seperti sebelumnya. Itu adalah fakta.
Tapi, melihat Xie Ruo yang sudah tidur, lebih baik tunda saja. Ia tidak ingin membangunkan Xie Ruo.
Ia memberi kecupan singkat di kening, lalu berniat pergi ke sisi Xie Ruo untuk tidur. Tapi baru saja ia memikirkan hal tersebut, ia melihat mata Xie Ruo yang terbuka lebar.
Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Xie Ruo menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Sepertinya wanita itu mengumpat menggunakan bahasa barat.
"Aku tidak tahu kau akan bangun semudah itu."
Xie Ruo termenung untuk beberapa saat, kemudian bicara. "Ya, aku sedikit bermimpi."
"Mimpi buruk?"
"Tidak juga." Xie Ruo ingat, mimpinya itu adalah hal aneh ketika ia melakukan terjun lepas dari tebing lalu berakhir ketika ia membuka mata barusan. Itu sebabnya ia mengumpat.
Memang aneh, juga tidak termasuk buruk. Ini disebut hypnagogic yang merupakan hal biasa ketika tidur.
Qu Xuanzi mengusap kepala Xie Ruo, kemudian memberi kecupan di bibirnya secara singkat. "Tidurlah."
Xie Ruo terdiam selagi Qu Xuanzi pergi ke bagian tempat tidur di sisinya. Xie Ruo berbalik, pandangan mereka bertemu bersamaan dengan jarak yang cukup dekat.
"Apa kamu menahannya sejak tadi?" Xie Ruo ingat perkataan Long Long.
Qu Xuanzi tersenyum. "Aku tidak akan memaksa jika kau belum siap."
Terlihat seperti bukan gaya Qu Xuanzi, Xie Ruo merasa agak aneh. Tapi itu bukan sepenuhnya buruk.
Karena mereka sudah menikah, jadi tidak apa, 'kan?
Xie Ruo mendekatkan wajahnya, kemudian menempelkan bibir mereka dan bergerak sesuai naluri berdasarkan inisiatif sendiri. Ia memang tidak sepandai Qu Xuanzi, tapi itu saja sudah cukup.
Aksi Xie Ruo yang cukup berani membuat Qu Xuanzi agak terkejut. Tapi ia tidak sepenuhnya membeku, dan mengikuti permainan dengan lebih mendominasi. Ia menekan tengkuk Xie Ruo, memperdalam ciuman hingga ia membalikkan posisi di mana Xie Ruo berada di bawahnya.
"Aku sudah pernah mengatakan, jika kamu melakukannya duluan, aku tidak akan menahan lagi."
Xie Ruo tersenyum tipis, kemudian menyentuh wajah Qu Xuanzi. "Aku tahu."
"Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia."
Pria itu menanggalkan pakaian atasnya, menyebabkan wajah Xie Ruo benar-benar merah padam. Apa yang baru saja ia lihat?
Meski bukan pertama kali tapi posisi ini ... Xie Ruo tidak berani memikirkannya. Tiba-tiba seluruh tubuhnya meremang dan merasakan hawa panas ketika hembusan napas menerpa lehernya.
"Ruoruo, tenang saja, aku tidak akan menyakitimu." Suara Qu Xuanzi berbisik di telinganya.
"Baik." Xie Ruo tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tiba-tiba pikirannya kosong tanpa bisa berpikir dengan jernih.
Tali pakaiannya dilepas, dengan mudahnya melepas gaun tidurnya dan menjatuhkannya dari tempat tidur. Gaun tidurnya hanya terdiri dari satu lapis dibandingkan pakaian sehari-hari, itu sebabnya sangat mudah dilepas.
Xie Ruo menggigit bibir bawahnya, menahan semua sensasi sentuhan di tubuhnya yang tak tertutupi pakaian. Ia merasa agak dingin, tapi panas yang mendera tubuhnya semakin tidak terkendali hingga ia bergerak secara alami.
"Maaf, jika tidak bisa mengendalikannya." Qu Xuanzi berbisik sekali lagi.
"Xuanzi ... uh ...."
Sentuhan liar membawa mereka ke dunia yang berbeda. Hawa panas yang kian meningkat menambah gairah dan keliaran yang tak terkendali.
Gerakan alami yang didasarkan naluri, menari berdasarkan insting yang menciptakan gairah tinggi. Ketika apa yang dibutuhkan energi murni tercapai, itu langsung bekerja dalam jiwa dan berkembang secara pesat tanpa disadari.
Malam itu adalah malam yang berkesan, baik bagi Xie Ruo maupun Qu Xuanzi.