
Xie Ruo membuka mata, terbangun di sebuah kamar asing. Sebelumnya, ia sengaja masuk ke dalam perangkap, lalu ketiduran di dalam pagoda kecil karena terlalu bosan.
Siapa sangka seseorang memperlakukannya cukup baik dengan membiarkannya tidur di atas tempat tidur mewah, mengingat posisinya saat ini adalah tahanan. Meski ia tidak bisa menggunakan kekuatannya karena tekanan pada gelang besi yang tidak bisa dilepas ini.
Sepertinya ia berada di tahanan rumah. Biarkanlah, ia hanya ingin tahu apa tujuan Istana Lingyue bersikeras membawanya. Mereka menenalinya dengan mudah sebagai Xie Ruo, padahal penampilannya sudah sedikit berubah dan tidak pernah ada yang melihatnya. Itu saja membuatnya penasaran.
Jika terus dibiarkan, kedepannya Istana Lingyue pasti akan mengirim orang lain untuk membuat masalah dengannya. Itu merepotkan.
Tiba-tiba Xie Ruo mendengar suara perbincangan pelayan yang mendekat ke arahnya. Meski suaranya tidak terlalu terdengar karena peredam suara, dengan telinga tajamnya, ia tetap bisa mendengar dengan jelas.
"Tidak disangka, Tuan Muda meminta tahanan yang jelas-jelas berumur pendek untuk dinikahi. Betapa beruntung Xie Ruo, bisa disukai oleh Tuan Muda. Jika bukan karena Tuan Muda, Xie Ruo pasti sudah mati."
"Apa semudah itu? Aku pikir, akan terjadi keributan nanti. Apa kamu tidak dengar? Xie Ran, saudara kembar Xie Ruo, memiliki temperamen buruk dan meledak-ledak juga sangat licik, siapa yang tahu kembarannya akan memiliki temperamen yang sama."
"Meski kembar, aku lihat dia jauh lebih terlihat seperti anak baik. Apa menurutmu, seseorang yang tumbuh di Menara Suci akan menjadi wanita tak bermoral?"
"Benar juga. Sayangnya, terlalu sedikit informasi mengenai Xie Ruo, tidak tahu bagaimana dia akan bertindak. Tapi, bisa membuat seekor phyton tujuh warna membunuh para profesional lanjutan dan membunuh sekelompok pasukan Istana Lingyue yang dilatih dengan teliti hanya dengan satu serangan, Xie Ruo ini tidak bisa diremehkan."
"Tapi, bukankah pada akhirnya dia akan tunduk pada Tuan Muda? Kekuatannya tidak bisa digunakan karena gelang pengunci roh, dia sama saja seperti wanita tidak berguna, bahkan lebih lemah dari kita." Pelayan itu tertawa, kebetulan ia sudah berada di depan pintu kamar dan membukanya.
Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat orang yang baru saja dibicarakan duduk santai sambil menopang kepala dengan tangan dan tersenyum pada mereka. Entah kenapa senyum itu membuat kedua pelayan gemetar. Bahkan nampan di tangan nyaris tumpah saking terkejutnya.
"Nona ... sudah bangun ...." Pelayan yang sejak tadi merendahkan seseorang langsung menghampiri dengan ragu. Apa Xie Ruo mendengar ucapannya?
Pelayan yang satunya lagi mematung, kemudian buru-buru memberitahu atasannya bahwa Xie Ruo sudah sadar. Tersisa pelayan bermulut tajam itu yang menunduk sambil meletakkan nampan makanan.
Makanan khas tahanan, roti kering dan air putih yang membuat Xie Ruo tidak berselera. Itu hanya akan mengingatkannya tentang penindasan Huai Mao.
Melihat ke arah pelayan yang akan pergi setelah meletakkan makanan, ia langsung menahan lengan pelayan itu dengan kuat hingga si pelayan ketakutan.
"Nona, saya masih ada hal yang harus dikerjakan." Pelayan itu mencoba melepaskan diri, namun cengkraman Xie Ruo terlalu kuat hingga membuat lengannya sakit dan meninggalkan memar.
"Aku hanya ingin bertanya, duduklah." Xie Ruo bicara dengan nada tenang, lalu melepas cengkeraman.
Pelayan itu menurut. Ternyata, meski kekuatannya ditahan oleh gelang pengunci roh, tetap saja kekuatan fisiknya sangat kuat. Ia terlalu meremehkan seseorang.
"Nona, silahkan bertanya apa pun." Toh, ia hanya pelayan biasa, pengetahuannya minim dan tidak akan membahayakan Istana Lingyue.
"Aku mendengar ucapanmu tadi, apa Tuan Muda itu adalah Luo Heng?"
Pelayan itu mengangguk takut-takut. Gadis di depannya terlalu menakutkan sampai ia tidak berani berbohong. "Ya."
"Ayahnya adalah Raja Istana Lingyue?"
"Ya."
Xie Ruo tiba-tiba teringat sesuatu. "Aku pernah dengar, pemilik energi murni pernah berada di Istana Lingyue sebelumnya. Apa kamu tahu itu?"
"Itu ... itu adalah Dewi Istana Lingyue. Semua orang tahu itu."
"Siapa dia? Apa masih hidup?"
"Saya ... saya tidak tahu."
Xie Ruo menaikkan alisnya. "Tidak tahu, atau tidak ingin memberitahu?"
"Itu adalah rahasia Isana Lingyue, orang luar dilarang mengetahuinya. Bahkan, saya juga tidak mengatahui banyak. Tolong biarkan saya pergi."
"Alasan kalian memaksaku kemari, tidak lain karena energi murni. Jika untuk menggantikan posisi dewi kalian, tidak mungkin kalian bersikap kasar dan menjadikanku tahanan. Berdasarkan ucapanmu tadi, sangat jelas mereka ingin membunuhku. Apa itu perintah Dewi kalian?"
Pelayan itu terkejut akan analisis Xie Ruo yang sangat tepat. Padahal baru saja menanyakan keberadaannya, sekarang sudah menebak semua itu dengan mudah.
"Kau bisa pergi."
Pelayan itu buru-buru pergi seolah lari dari monster mengerikan. Ia tidak lagi memandang Xie Ruo sebagai gadis cantik yang lembut dan tak berbahaya, tapi sebagai monster yang akan menghancurkan apa pun dengan mudah.
Xie Ruo menghela napas. Meski ia sudah tahu situasi Istana Lingyue secara mendasar dari pelayan tadi, ia masih belum menemukan jawaban yang pas. Dewi Istana Lingyue memiliki energi murni, kebetulan seperti ini tepat ketika ia sedang mencari pemilik energi murni lain yang menerobos dunia kecil untuk mencuri roh guntur. Jika bukan Xie Ran, itu adalah hal bagus, ia tidak perlu mencurigainya.
Setelah beberapa saat merenung, beberapa pria datang untuk membawa Xie Ruo ke aula. Xie Ruo berjalan di antara beberapa pria yang bersikap waspada terhadapnya, mengantisipasi bahwa Xie Ruo akan kabur.
Sampai di aula, salah satu pria memaksa Xie Ruo berlutut di hadapan pria tua yang pernah memimpin penyerbuan di Akademi Tianshang. Xie Ruo sangat mengingat wajahnya yang menjengkelkan itu.
Sayangnya, pria yang memaksa Xie Ruo gagal membuat Xie Ruo berlutut. Meski kakinya sudah dipukul, tetap saja Xie Ruo berdiri kokoh membuat mereka kesal setengah mati. Keras sekali gadis satu ini. Apa da benar manusia?
Hal yang mereka tidak tahu, Xie Ruo bukan manusia biasa, melainkan naga. Darahnya memiliki garis keturunan Dewa Naga, manusia mana yang bisa mengalahkan kekuatan fisiknya?
Karena tidak bisa membuat Xie Ruo berlutut, Raja Istana Lingyue membiarkan para pria itu menyingkir, membiarkan Xie Ruo berdiri sendirian. Melihat Xie Ruo, ia merasa telah melihat Xie Ran yang pernah merepotkannya dulu. Ketenangan itu sangat familiar.
"Murid Menara Suci, Xie Ruo, bukannya aku ingin menyinggung Menara Suci, namun ini adalah masalah kepentingan, tidak bisa ditunda. Beberapa tahun yang lalu, saudaramu menolak bergabung dengan Istana Lingyue, membuat masalah dan nyaris membunuh orang-orang penting. Kami mengundangmu ke Istana Lingyue, namun kau menolak dan membunuh orang-orangku dengan tidak masuk akal. Bagaimana kamu menjelaskan hal tersebut?"
Xie Ruo memandangnya sebentar. Sepertinya pihak lain sedang mencoba menyalahkannya atas kematian banyak anggota Istana Lingyue dan meminta pertanggungjawaban. Tapi, bukankah mereka yang berulah duluan?
Xie Ruo tersenyum miring. "Apa yang harus aku jelaskan? Menjelaskan cara mereka terbunuh atau alasan aku membunuh?"
"Xie Ruo, aku sudah sedikit meringankanmu. Jangan hanya karena kau dilindungi Menara Suci, baru bisa menggertak Istana Lingyue. Istana Lingyue tidak selemah itu!"
Dasar tua bangka aneh. Baru saja berkata ingin penjelasan dari Xie Ruo, tapi pria itu malah mengira Xie Ruo sedang menggertak. Memang, ucapan Xie Ruo terdengar seperti sedang menantang seseorang, tapi ia berkata tanpa makna lain seperti yang dipikirkan Raja Istana Lingyue.
"Pak tua, kau membuang waktuku. Kamu menarikku ke sini, bukan untuk meminta kompensasi, 'kan?" Xie Ruo sudah sangat malas bicara dengan pak tua emosian.
"Kamu tahu hal itu. Energi murni adalah hal terpenting bagi Istana Lingyue, kamu dan saudaramu memilikinya. Salahkan Xie Ran yang sudah mati itu, kenapa tidak menerima undanganku dengan baik sampai melibatkanmu."
"Tapi, bukankah Istana Lingyue sudah memiliki energi murni lain? Aku dengar Dewi Istana Lingyue yang misterius, memiliki energi murni yang menjadi pondasi Istana Lingyue, tidak perlu membuang waktu mencari energi murni lain."
"Ini adalah urusan Dewi Istana Lingyue. Sebaiknya kamu tenang tanpa membuat masalah, aku sudah bernegosiasi tidak akan membunuhmu—"
"Dan menikahkanku dengan putramu yang tidak berguna itu? Sepertinya posisi Keluarga Luo benar-benar terancam sampai harus menarikku ke dalamnya." Xie Ruo tertawa.
Berdasarkan apa yang ia lihat, para tetua di dalam Istana Lingyue tidak semuanya ramah satu sama lain. Mereka dari keluarga yang berbeda, menginginkan posisi Raja di bawah Dewi Istana Lingyue. Meski ia tidak tahu kriteria apa untuk bisa menjadi Raja, tapi dari perilaku Luo Heng, sepertinya seseorang yang berkontribusi untuk Dewi Istana Lingyue akan terpilih menjadi Raja.
Luo Heng menangkapnya, lalu ingin mengikatnya. Itu adalah keuntungan bagi Dewi Istana Lingyue yang membuatnya mendapat kepercayaan untuk menjadi raja selanjutnya. Waktu itu juga Keluarga Luo yang memburunya, yang berarti keluarga mereka menang sudah sangat dipercaya oleh Dewi Istana Lingyue. Namun, secara bersamaan juga membuat beberapa keluarga iri dan berniat menjatuhkan mereka.
Menikahi Xie Ruo akan mendapat dukungan tidak langsung dari Menara Suci. Keluarga Luo akan aman meski pergi dari Istana Lingyue setelah dijatuhkan oleh keluarga lain. Pada akhirnya, semua itu hanya akal-akalan dari Keluarga Luo dengan kedok membantu Dewi Istana Lingyue.
Tapi pertanyaannya, untuk apa Dewi Istana Lingyue menginginkannya?
"Xie Ruo, aku memanggilmu bukan untuk berdebat. Tapi untuk memperingatimu. Jika berani macam-macam, aku tidak akan melindungimu dari amarah Dewi!" Raja Istana Lingyue mengancam.
Sedangkan Xie Ruo tetap dengan senyumnya yang cantik, tanpa mengkhawatirkan apa pun. "Hanya itu? Sayangnya, aku tidak butuh perlindunganmu."
Tepat ketika selesai bicara, Xie Ruo menghancurkan gelang pengunci roh di tangannya hanya dengan satu ketukan pisau yang ia curi dari salah satu penjaga. Jika tidak terbiasa bermain dengan pisau, mungkin tangannya akan terbelah saat itu juga.
Semua orang terkejut, mereka mulai waspada dan mengacungkan senjata untuk berjaga-jaga. Raja Istana Lingyue menjadi pucat melihat harta berharga itu dihancurkan begitu saja seolah menghancurkan keripik.
"Kamu! Cepat tahan dia!" Raja Istana Lingyue ketakutan. Jika gelang itu hancur, sama saja membiarkan Xie Ruo menggunakan kekuatannya dan akan dengan mudah menghancurkan aula.
Beberapa orang mulai berdatangan dengan senjata yang diacungkan. Mereka akan menyerang Xie Ruo lalu menahannya, tapi gerakan Xie Ruo lebih gesit dan meruntuhkan mereka hanya dengan pukulan tangan tanpa sihir.
Semakin banyak yang ingin menangkapnya, Xie Ruo menggunakan pisau untuk membunuh. Pisau kecil di tangannya menembus beberapa tubuh dengan satu lemparan, kemudian kembali ke tangannya dalam keadaan berlumuran darah.
Penyerbu di dekatnya runtuh seketika sebelum menyentuh Xie Ruo. Sedangkan si pelaku hanya tersenyum seperti biasa. "Sudah lama aku tidak bertarung, tanganku sedikit kaku."
"Pemberontak! Apa kamu ingin membawa Menara Suci bersamamu untuk menentang Istana Lingyue!" Salah satu Tetua berteriak marah. Jika bukan karena permintaan Dewi Istana Lingyue, ia tidak akan diam saja menerima penghinaan Xie Ruo sejak tadi.
"Apa maumu sebenarnya?" Tetua lainnya bertanya, menahan niat membunuh untuk memberi pelajaran pada gadis itu.
Xie Ruo mendengus. Orang-orang bodoh ini, kenapa ia harus berhadapan dengan mereka? "Bukankah seharusnya aku yang bertanya demikian? Kenapa kalian membawaku ke tempat ini, kalian tahu jawabannya."
Omong-omong, banyak orang mengatakan Xie Ruo gadis yang lembut dan pengertian, selalu tenang dan berpikiran terbuka. Kini, mereka telah melihat seperti apa gadis yang 'lembut' itu.
"Xie Ruo, kamu lancang! Memang benar, seseorang yang tidak dididik orangtua, akan menjadi orang tidak tahu diri!"
Xie Ruo memandang tetua itu dengan tajam. Berani membawa orangtuanya dalam masalah ini? Mereka benar-benar bosan hidup.
Cahaya perak meluncur mengenai tetua yang baru saja bicara. Pria itu langsung terlempar dan membentur tiang-tiang sampai runtuh. Keluarganya langsung berteriak dan menghampiri untuk membantu, kemudian menatap Xie Ruo penuh permusuhan.
"Kakak, apa yang harus kita lakukan?" Luo Jin sejak tadi berdiri dengan cemas di samping Luo Heng.
Wanita itu kini tampak lebih dewasa, bahkan telah menikah dan sudah memiliki seorang anak. Ia tidak menyangka, saudara musuhnya akan sekuat itu. Ketika mendengar kematian Xie Ran, ia sangat senang dan berpesta. Tapi sekarang, ancaman itu bukan datang dari Xie Ran melainkan dari saudaranya.
"Sepertinya ada yang salah." Luo Heng merasa tidak beres. Melihat Xie Ruo dengan mudahnya menerbangkan seorang tetua yang memiliki kekuatan tingkat saint, ia merasa ragu bahwa yang ditangkapnya barusan benar-benar Xie Ruo.
Sebelumnya, Xie Ruo tampak benar-benar tertekan oleh profesional lanjutan dan dengan mudah tertangkap. Tapi ternyata, kekuatannya bahkan lebih dari sekadar peringkat saint. Sepertinya, ini adalah jebakan. Ia telah masuk perangkap!
"Jin'er, pergilah dari sini. Aku telah salah perhitungan." Luo Heng merasa sangat kesal telah ditipu.
Jika saja penangkapannya tidak semudah itu, ia tidak akan meremehkan Xie Ruo dan membuat pertahanan yang lebih kuat di Istana Lingyue. Ia berpikir bahwa Xie Ruo masih di tingkat profesional lanjutan, apalagi umurnya masih belum sampai 30 tahun. Ini benar-benar membuatnya frustrasi.
Luo Jin segera pergi bersama putranya. Ia melihat Xie Ruo dengan mata menyipit. Ketika pandangannya bertemu dengan mata Xie Ruo, ia agak terkejut.
Xie Ruo menarik sudut bibirnya hingga membuat Luo Jin bergidik. Mungkin karena mereka kembar, tatapan Xie Ruo membuatnya teringat pada Xie Ran.
Xie Ruo tidak menanggapi serangkaian makian dan kata-kata kasar yang ditujukan padanya. Ia pergi ke sisi membuat semua orang yang mengacungkan senjata mundur dan menyingkir dengan waspada.
Gadis itu duduk, lalu menyilangkan kaki dengan santai. "Istana Lingyue tidak ramah terhadap tamu, aku bahkan tidak disediakan tempat duduk."
"Xie Ruo, siapa yang menyuruhmu duduk!" Raja Istana Lingyue hampir muntah darah karena Xie Ruo. Betapa tidak tahu malunya!
"Aku." Xie Ruo menggedikkan bahu acuh tak acuh.
"Ketika Dewi Ling datang, aku ingin lihat seberapa besar sikap aroganmu dipertahankan. Xie Ruo, tunggu balasanku!" Salah satu tetua langsung pergi, tidak ada yang menahannya, termasuk Xie Ruo.
"Jadi marganya Ling. Kebetulan, aku sangat ingin bertemu dengannya. Seberapa kuat, wanita bermarga Ling ini?"
"Xie Ruo, jika kamu berani, lawan serangan gabungan kami para tetua! Waktumu sampai Dewi Ling datang, jika kamu menyerah, maka aku akan memberimu kesempatan." Raja Istana Lingyue bicara dengan nada arogan. Ia telah berdiri dari kursinya, bersisian dengan para tetua berwajah sangar.
Xie Ruo yang bermalasan di kursi hanya melirik sekilas. "Kalian berani?"
"Cepat serang bersama!"
Semua orang langsung menyerang begitu saja ke arah Xie Ruo yang masih duduk dengan tenang. Bahkan para tetua belum maju, para petarung sudah duluan maju untuk melumpuhkan Xie Ruo bersama-sama. Itu membuat raja dan tetua senang, berpikir Xie Ruo akan mati sekarang juga.
Ketika jarak penyerang sudah dekat, tiba-tiba saja terjadi sebuah ledakan cahaya perak yang menyebabkan para penyerang terhempas begitu saja dan menindih satu sama lain.
Para tetua dan raja terkejut. Cahaya perak melintas begitu cepat menembus tubuh tiap orang di dalam aula seperti duri yang mencuat tanpa menyisakan sisa orang yang hidup. Dalam sekejap, aula dipenuhi cahaya perak yang dibasahi oleh darah berbau amis.
Beberapa anggota keluarga penting segera diperintahkan pergi dari aula. Mereka lari ketakutan, sedangkan para tetua dan raja terdiam dengan tubuh bergetar melihat sang pelaku.
Xie Ruo masih duduk di tempatnya, tangannya bergerak dengan halus, menurunkan semua duri perak besar yang muncul dan terpendam ke bawah tanah. Di depannya, ada seekor phyton besar yang baru saja menciptakan ledakan dan kabut. Pemandangan itu menyebabkan semua orang merasa gila.
"Xie Ruo, kau keterlaluan!" Raja Istana Lingyue meraung marah. Ia dan para tetua langsung meluncur melakukan serangan besar-besaran hingga seluruh aula terguncang.
Jumlah tetua dari tiap keluarga ada tujuh orang. Ditambah Raja Istana Lingyue, total delapan. Namun karena tetua sebelumnya telah menerima serangan Xie Ruo dan sekarat, sisanya menjadj tujuh. Mereka semua adalah kultivator tingkat saint, dengan umur ratusan tahun dan telah mendedikasikan diri untuk berkultivasi. Menyerang Xie Ruo, mereka tentu memiliki kepercayaan diri tinggi.
Hanya seorang gadis berumur 20an, apa bisa menandingi mereka yang ratusan tahun? Meski begitu, mereka tetap membuat serangan terkuat agar tidak terjadi kesalahan.
Xiao Caihong yang sebelumnya berada di saku Luo Heng, kini berdiri gagah di depan Xie Ruo seolah melindunginya. Luo Heng sendiri terkejut dan tidak menyadari bahwa Xiao Caihong ikut dengannya.
Dengan segera, Luo Heng dan beberapa tuan muda lainnya mengerahkan seluruh kekuatan untuk melawan Xiao Caihong, ditambah para murid elit Istana Lingyue yang hadir.
Xiao Caihong tentu meladeni penyerangan, menggunakan kekuatan hewan suci untuk meruntuhkan mereka semua sampai ke luar aula. Karena tubuhnya terlalu besar, medan aula tidak cocok untuknya.
Xie Ruo berdiri, kemudian pergi keluar aula sambil bicara, "Terlalu sesak, tidak akan memuaskan."
"Hmph, omong kosong!" Salah satu tetua langsung meluncur. Cahaya hijau membentuk sulur panjang dan menembus lantai dari satu sisi ke sisi lain. Sulur itu menembak ke langit-langit seperti tentakel, membuka lebar langit-langit hingga tampak langit malam yang dingin.
Gedung aula kini tampak seperti monster bertentakel hijau, dengan sulur yang bergerak-gerak di langit.
Xie Ruo tidak bisa melanjutkan keluar pintu karena seluruh aula telah dipenuhi oleh sulur hijau. Bahkan pintu aula telah diblokir oleh sulur yang menumpuk tanpa memberinya celah.
Ia mendengus. "Bodoh."
"Nak, kamu tidak bisa lari ke mana pun sekarang. Jika tidak berlutut dan menyerah, maka bersiaplah menunggu kematianmu!" Raja Istana Lingyue tertawa keras. Aula dipenuhi sulur beracun, bahkan ia tidak berani bertindak sembarangan. Kecuali bisa terbang dan memiliki kecepatan tertinggi, akan sulit menghindari sulur beracun.
"Kenapa? Kehabisan cara? Xie Ruo, kau tidak memiliki kesempatan lain. Setelah Dewi Ling datang, kamu tidak akan memiliki kesempatan mundur!"
Para tetua itu tertawa melihat Xie Ruo yang hanya diam di tempat tanpa bergerak. Karena Xie Ruo sama sekali tidak merespon, mereka mulai meluncurkan serangan yang lebih besar.
Petir menyambar, merambat ke seluruh sulur beracun dalam jumlah yang cukup untuk meruntuhkan sebuah kota. Beberapa cahaya keluar bersamaan membentuk penggabungan kekuatan, meluncur ke arah Xie Ruo.
Xie Ruo menghindari dengan tepat tiap serangan yang diluncurkan. Aliran listrik di seluruh aula mengganggunya, hingga ia harus berteleportasi untuk menghindari serangan para tetua. Beberapa tetua menggunakan serangan senjata, sesekali meluncur ke arahnya baik menggunakan tombak maupun pedang.
Beberapa pedang dalam jumlah banyak menggujaninya, disertai kilatan petir dan hujan api yang bertubi-tubi. Xie Ruo akui, kecepatan serangan gabungan para tetua itu layak dibicarakan.
Tapi, di matanya, itu hanya permainan anak-anak.
Xie Ruo tampak menghindari serangan gabungan tetua, tapi tangannya memunculkan sinar putih tak dikenali yang membuat para tetua memasang sikap waspada. Bagaimanapun, Xie Ruo tidak boleh diremehkan.
Sinar putih itu adalah api dingin. Itu menyebar tiap kali Xie Ruo menghindar berdasarkan pola rumit yang tidak diketahui para tetua. Pola membentuk naga besar, kemudian membesarkan api untuk mementuk naga.
Para tetua itu panik. Mereka segera melesat bersamaan, melakukan serangan beruntun dari satu sisi ke sisi lain untuk menggagalkan rencana pemanggilan naga. Meski mereka tidak tahu akan seperti apa efeknya, tetap saja terlihat mengerikan. Tidak tahu apa saja rahasia dalam Menara Suci yang diturunkan pada Xie Ruo sebagai murid utama.
Raja Istana Lingyue segera membuat isyarat untuk membuat teknik gabungan lainnya. Mereka mengitari Xie Ruo dari berbagai arah dan jarak yang cukup jauh. Berbagai macam sihir dikerahkan dan memunculkan sebuah bola cahaya yang menyilaukan mata.
Bola cahaya di bawah langit gelap, ditambah denan kekuatan bulan yang ditarik oleh salah satu tetua. Cahaya berbentuk bola di atas aula tampak seperti matahari yang terbakar dan jatuh ke bawah.
Xie Ruo tetap tenang memandang cahaya berapi-api di atasnya. Tangannya berayun, menyelesaikan teknik sihir api dingin yang dikombinasikan dengan aura naga. Meski membutuhkan banyak waktu, itu cukup melahap sekelompok pengganggu dan tidak akan menyianyiakan tenaga.
Seekor naga muncuk dari tanah. Putih seperti salju, panas bagai api yang tidak dapat diukur tingkat kepanasannya. Sosok naga keluar begitu saja melahap cahaya berapi-api yang meluncur dari langit, lalu membawanya terbang dengan kecepatan tinggi sebelum dilemparan ke aula disertai semburan api dingin dari mulut naga.
"Keluar!"
Para tetua kalang kabut melihat serangan gabungan mereka akan menghancurkan seluruh aula. Xie Ruo sangat gila! Bukankah ini sama saja bunuh diri!
Cepat-cepat salah seorang menarik kembali petir dan sulur yang menjalar sampai terjadi kericuhan satu sama lain karena sulur tidak kunjung menghilang dari pintu.
Tepat ketika sulur akan sepenuhnya dibersihkan, bola api raksaksa yang merupakan gabungan kekuatan mereka sendiri telah meledak tepat ketika jatuh ke aula.
Aula semakin kacau, puing-puing berterbangan terbawa angin dan tekanan dahsyat. Para tuan muda dan nona di luar sana terkejut sampai tidak fokus dan hampir dimakan Xiao Caihong. Dalam sekejap, Istana Lingyue hanya terdiri dari puing runtuh.
Mereka semua berkumpul, melihat sosok yang berdiri kokoh tanpa menunjukkan emosi apa pun di wajahnya. Pakaian putihnya masih sangat bersih tanpa noda, seolah ledakan yang baru saja terjadi bukan berasal dari tempatnya berada.
Bukan hanya satu orang, melainkan dua wanita yang berdiri tanpa gangguan, melihat satu sama lain tanpa menunjukkan emosi.