
Derap langkah kaki kuda melintasi hutan dengan kecepatan tinggi dan berurutan. Enam kuda beserta penunggangnya berentetan di sekitar hutan untuk memasuki jalan memutar menuju garis finish.
Xie Ruo melanjutkan kuda hitamnya dengan lihai. Posisinya tidak di depan, juga tidak di belakang. Ia bersandingan dengan kuda teman-temannya yang menggunakan cara curang untuk melampaui kecepatannya.
Kadang, temannya yang cerewet itu menyapanya seperti orang bodoh, berniat membuat konsentrasi Xie Ruo pecah. Mengabaikan gangguan teman-teman tak bermoral, ia menyalip mereka yang mengejeknya secara brutal hingga kuda mereka meringkik karena terkejut.
"Ruoruo, kau curang!" Liu Chang berteriak merasa tidak mendapat keadilan. Ia, Mei Liena, dan Zhong Xiaorong telah tertinggal jauh. Mau tidak mau mereka harus mengejar sebisanya.
Xie Ruo akhirnya mendapat ketenangan setelah mengganggu mereka bertiga. Yan Yao yang tadinya ingin ikutan menatap Xie Ruo dengan horor, kemudian memilih diam. Untung saja ia tidak jadi ikutan.
Di tengah kuda yang berlari, Xie Ruo tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak membuatnya nyaman. Wilayah di sekitarnya tiba-tiba gelap hingga ia bingung sendiri, padahal si arang mengatakan bahwa tidak ada kegelapan seperti itu.
Melihat dirinya sendiri, ia telah berubah ke wujud aslinya, juga tidak lagi duduk di atas kuda. Xie Ruo bingung, siapa yang tiba-tiba menarik kesadarannya ke ruang kosong? Untung yang ia tunggangi si arang, kalau kuda lain sudah pasti akan tidak terkendali.
"Xie Ruo."
Xie Ruo berbalik untuk melihat seseorang yang memanggilnya. Suaranya familiar, tidak, ia sangat mengenalnya dengan baik.
Ketika melihat gadis yang berdiri di kegelapan, ia menyipitkan mata. "Xie Ran?"
Xie Ran tersenyum. "Lama tidak bertemu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xie Wang dan Su Liu'er pergi ke ruangan di mana tamu menunggu. Ketika memasuki ruangan yang dibiarkan terbuka, mereka mendapati sosok wanita cantik duduk dengan anggun dan menyesap tehnya. Pakaiannya seputih salju disertai beludru di jubahnya, penampilan yang anggun dan elegan, tampak masih berumur 20an.
Wanita itu menoleh, lalu tersenyum dengan lembut ke arah pasangan yang tampak membeku itu. Ia berdiri, lalu sedikit menekukkan lutut sebagai sopan santun.
"Qiong Lin, utusan Menara Suci, menyapa Ketua Klan Xie." Suaranya yang lembut sangat menenangkan. Pandangannya melihat langsung pasangan itu tanpa riak emosi, begitu tenang seperti air dengan bibir yang sedikit terangkat.
Xie Wang segera membungkuk untuk menerima kehormatannya, sedangkan Su Liu'er yang tanpak agak shock langsung menekukkan lutut untuk memberinya salam.
"Junior ini memberi salam pada Senior Qiong."
Siapa yang menyangka wanita cantik itu ternyata adalah senior Su Liu'er yang sudah tua? Parasnya jauh lebih muda dari Su Liu'er.
Qiong Lin tetap pada senyumnya, kemudian mengangkat Su Liu'er. "Tidak perlu formal. Bagaimanapun, kita pernah menjadi saudara seperguruan."
Su Liu'er tidak tahu harus berkata apa. Ketika masih muda, Qiong Lin adalah mentor pertamanya ketika memasuki Menara Suci. Setelah ratusan tahun, barulah posisi mereka sekadar junior dan senior. Bagaimana ia tidak shock?
"Nona Qiong, duduklah. Kita akan bicarakan perlahan." Xie Wang segera mempersilahkan Qiong Lin duduk, sedangkan ia dan Su Liu'er juga duduk di meja depan Qiong Lin.
"Kedatanganku hari ini atas perintah Yang Mulia Sheng Xian, Ratu Menara Suci saat ini. Kudengar, kalian memiliki dua cucu, satunya sudah tiada, satunya lagi dikirim ke dunia lain dan kini telah kembali. Masalah ini hanya diketahui olehku dan Yang Mulia, kalian bisa tenang."
"Jadi, Nona Qiong datang untuk menjemput Ruoruo?" Xie Wang agak berat hati. Meski begitu, ini memang harus dilakukan.
"Sebelumnya, Yang Mulia telah mengetahui keberadaan energi murni, dan berusaha mencarinya untuk dilindungi. Selain itu, keberadaan naga surgawi di Benua Lava juga menarik perhatian beliau, lalu mengutus seseorang untuk pergi ke Benua Lava. Sayangnya, Benua Lava saat itu mengalami kekacauan, kami tidak boleh ikut campur masalah Benua Lava sehingga tidak bisa melanjutkan pencarian. Tapi siapa sangka, beberapa waktu lalu kucing es berekor tiga memberitahu, bahwa ada seseorang yang penting di Klan Xie. Jadi secara khusus datang untuk melihat, siapa orang penting yang dimaksud. Sebuah keberuntungan, bisa menemukan dua kualifikasi yang selama ini dicari di Klan Xie secara bersamaan, dan itu adalah orang penting yang dimaksud."
Qiong Lin menjelaskan tujuan Menara Suci secara terperinci sesuai urutan waktu kejadian. Energi murni dan naga surgawi, ada pada satu orang yang sama, dan itu adalah orang yang dimaksud kucing es berekor tiga.
Jika saja tidak ada kekuatan yang menutup pelacakan mereka, mereka sudah menemukan Xie Ruo teelebih dahulu, tepat sebelum kekacauan di Benua Lava terjadi.
Siapa lagi yang bisa menutup kesempatan Menara Suci?
"Kami tidak memaksa, semua keputusan ada di tangan cucu kalian. Yang terpenting, aku sudah menunjukkan niatku dan Menara Suci untuk mengasuhnya."
Xie Wang dan Su Liu'er saling tukar pandang, kemudian Xie Wang berkata, "Kalau begitu, kita tunggu Ruoruo datang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sepertinya ada tamu yang datang tak diundang, kau penasaran siapa itu?" Xie Ran memandang Xie Ruo dengan senyuman yang tidak luntur sejak tadi.
"Kenapa kau menarikku?" Xie Ruo tidak ingin banyak basa-basi. Sudah tahu sedang balapan, malah menarik kesadarannya ke tempat lain.
Xie Ran menghanpiri Xie Ruo, langkahnya perlahan namun membuat Xie Ruo merasa tidak nyaman, mengingat tatapan Xie Ran terhadapnya saat itu.
"Ketika utusan Menara Suci datang, kau akan setuju pergi?" tanyanya. Sepertinya dia tidak ingin Xie Ruo terpisah dari tubuhnya.
"Bukankah itu bagus untukmu? Ketika tubuhmu dan aku terpisah, kau bisa beristirahat." Xie Ruo berkata dengan tenang.
"Kau sangat ingin berpisah dariku?" Xie Ran tersenyum kecut yang membuat Xie Ruo mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
"Bertahun-tahun kau menggunakan tubuh ini, apa semudah itu kau berpisah?"
"Aku menggunakan tubuh asliku hampir selama 30 tahun, lalu meninggalkannya dengan sengaja. Aku tidak tahu apa tujuanmu, jika bukan karena diriku sendiri atau karenamu, maka karena kakek dan nenek, aku harus melepasmu."
Xie Ruo tidak mau berlama-lama di sini. Ia baru saja akan kembali, tapi tiba-tiba Xie Ran menahan bahunya. Wajahnya tidak ada lagi senyum.
"Xie Ruo, kuperingatkan padamu, kau akan menyesal."
Xie Ruo mengabaikannya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tidak seharusnya Xie Ran berkata seperti itu. Apa yang ia temui benar Xie Ran? Sangat berbeda dari yang dibayangkan, juga sangat berbeda dari ingatannya.
Kembali ke kenyataan, Xie Ruo membuka mata, melihat pepohonan di depannya yang berdiri kokoh di bawah sinar rembulan. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, mengenai tujuan Xie Ran menahannya seperti itu.
"Ruoruo, kau baik-baik saja?" Pei Xi menatapnya khawatir. Tiba-tiba saja kuda Xie Ruo meringkuk, sedangkan pandangan Xie Ruo kosong seolah tanpa jiwa, bahkan nyaris jatuh dari kuda.
Menyadari posisinya yang terbaring di bawah pohon, Xie Ruo langsung bangun, melihat keenam temannya yang tampak khawatir. Ia menggeleng, tanda dia baik-baik saja kemudian berdiri.
"Kita sudahi perlombaan ini, sepertinya kondisi Ruoruo tidak baik." Pei Xi tidak ingin terjadi sesuatu lagi. Jika terulang dua kali, tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Ya, lebih baik seperti itu." Zhou Kui juga sempat sangat shock sebelumnya. Yan Yao juga sama sampai benar-benar panik.
Liu Chang dan dua gadis itu hanya datang ketika Xie Ruo sudah dibawa teman-teman mereka turun dari kuda. Mereka juga khawatir, takut terjadi sesuatu berpikir sebelumnya mereka berempat diserang hewan buas.
Pada akhirnya, mereka kembali ke klan bersama. Ketika tiba, mereka bertemu Qu Xuanzi yang menunggu dan memberitahu kondisi Xie Ruo yang tiba-tiba pingsan. Xie Ruo awalnya tidak ingin siapa pun tahu, tapi temannya sangat ember.
Karena khawatir, Qu Xuanzi memeriksa denyut nadi Xie Ruo, namun tidak terjadi masalah apa pun. Dengan kekuatan Xie Ruo, akan aneh jika ia pingsan tanpa sesuatu yang memaksanya kehilangan kesadaran.
Qu Xuanzi semakin mengerutkan kening. Kenapa menemui Xie Ruo sedangkan selama ini tidak pernah terlihat? Bahkan jiwanya tidak terlihat di mana pun, termasuk di Dunia Roh.
"Apa katanya?" tanya Qu Xuanzi.
"Dia tidak ingin aku membentuk tubuh baru. Apa menurutmu ada sesuatu?"
Qu Xuanzi berpikir sejenak. Jika jiwa lain datang menempati tubuh seseorang, maka jiwa tubuh yang ditempati jiwa lain itu tidak memiliki keuntungan apa pun, kecuali jika ada sesuatu yang harus dilakukan, seperti wasiat.
Tapi masalahnya, jiwa Xie Ran sama sekali tidak ditemukan. Tiba-tiba saja datang menarik kesadaran Xie Ruo dan melarangnya membentuk tubuh baru. Karena masalah Klan Xie sudah selesai, apa lagi yang diinginkan Xie Ran? Ia ingin menduga, tapi tidak memilki cukup bukti.
Di tengah tenggelam dalam pikiran, seorang murid datang memberitahu bahwa Xie Ruo harus datang atas panggilan Xie Wang. Mau tidak mau ia harus datang. Sedangkan Qu Xuanzi yang sudah tahu alasan Xie Wang memanggil, memilih mengikuti untuk menemani Xie Ruo.
Sampai di ruangan yang dituju, Xie Ruo melihat wanita lain di dalam sana yang tampak berbeda. Ia yakin, umurnya sudah ratusan tahun, namun wajahnya masih tampak sangat muda. Ditambah, dia adalah manusia.
"Jadi kamu Xie Ruo." Qiong Lin tersenyum lebar. Persis seperti dugaannya, temperamen Xie Ruo, bahkan auranya tidak biasa. Sebagai naga dengan tubuh manusia, ia satu-satunya yang ada di dunia ini.
Melihat kehadiran Qu Xuanzi, Qiong Lin langsung membungkuk untuk memberi penghormatan. Meski ia tidak tahu siapa pria di sisi Xie Ruo, auranya adalah aura milik dewa meski disamarkan. Mungkin Ratu Menara Suci mengetahuinya.
"Ruoruo, namanya adalah Qiong Lin, utusan Menara Suci. Selain itu, Nona Qiong juga senior nenekmu." Xie Wang memperkenalkan. Kenapa cucunya memasang wajah sedatar itu? Bisakah sedikit bersahabat?
Xie Ruo tampak tidak terkejut. Tapi ia hanya diam, tidak mengatakan apa pun selain memberinya salam untuk menunjukkan kesopanan. Karena pihak lain dekat dengan neneknya, ia tidak boleh kasar.
Qiong Lin tersenyum menerima salam Xie Ruo kemudian berkata, "Karena kamu sudah datang, aku tidak banyak banyak basa-basi lagi. Tujuanku—"
"Aku tahu," sela Xie Ruo, kemudian melirik kakek dan neneknya yang tampak sangat tegang. Ia baru saja menyela seseorang, sama sekali tidak menunjukkan kesopanan, tapi masalahnya ia tidak ingin terlalu banyak pengulangan yang membuat telinganya lumutan. "Kemarin, aku sudah membicarakannya. Karena kualifikasiku, Menara Suci juga pasti akan merekrutku, seseorang juga ingin membawaku ke sana. Aku akan pergi."
Qiong Lin tersenyum puas. "Kalau begitu, sudah diputuskan, kamu akan ikut denganku. Aku akan memberimu waktu seminggu untuk mempersiapkan diri, juga perpisahan."
Qiong Lin pergi dari ruangan, diantar oleh pelayan untuk pergi ke kamar tamu. Untuk sementara ia akan di sini, sampai segala persiapan selesai.
Setelah kepergian Qiong Lin, Xie Wang dan Su Liu'er menghampiri Xie Ruo dengan perasaan berat hati. Tapi keputusan itu memang yang terbaik, untuk kedua cucu mereka.
"Ruoruo, jika tidak mau, tidak perlu dipaksakan." Xie Wang agak khawatir. Xie Ruo tidak suka terkekang, masuk ke sana maka akan terikat tanpa bisa keluar, kecuali jika Ratu Menara Suci mengizinkan.
"Aku memiliki alasanku sendiri." Keputusan Xie Ruo sudah bulat. Awalnya ia memang berat hati, tapi setelah pertemuannya dengan Xie Ran, ia tidak lagi memiliki keraguan.
Entah kenapa Xie Ran menjadi belenggu hatinya. Ia tidak tahu apa tujuan Xie Ran ingin ia tinggal di tubuh yang jelas-jelas tidak dapat memberi keuntungan pada Xie Ran. Ia pikir Xie Ran akan senang, tapi tatapan itu, seolah sedang mengancamnya.
Ia telah memahami banyak tatapan yang dihubungkan ke dalam perasaan secara spesifik. Tatapan Xie Ran saat terakhir mereka bertemu, adalah tatapan kebencian.
Pada akhirnya, semua itu hanya bisa menjadi pertanyaan tanpa jawaban.
Seminggu tanpa terasa telah berakhir. Xie Ruo duduk dalam diam sambil menopang dagunya dengan tangan, memandangi enam box barang-barang yang belum dimasukan ke dalam cincin spasial.
Enam box setinggi meja dan terbuat dari kayu mahoni itu diberikan oleh teman-temannya ketika ulang tahun. Saat itu, baru saja ia masuk ke dalam kamar, sudah disuguhkan oleh enam box besar yang memenuhi ruangan.
Di dalam box berisi berbagai barang langka. Box milik Zhou Kui berisikan senjata dari gulungan yang pernah ia berikan, semua di dalam box adalah edisi yang dikombinasikan hingga meningkatkan kualitas tiga kali lipat dari seharusnya.
Mei Liena, berisi berbagai macam herbal, ramuan, dan pil unik yang belum pernah digunakan. Meski 70% adalah herbal langka dan masih mentahan sampai Xie Ruo tidak bisa mengenalinya, Mei Liena sudah memberi buku panduan untuk penggunaannya secara terperinci.
Box dari Liu Chang, Yan Yao, dan Zhong Xiaorong hampir mirip, intinya mereka memberikan banyak barang langka dan bermanfaat dari rumah mereka. Entah sejak kapan menyiapkannya.
Terakhir, box kecil dari Pei Xi. Berisikan lencana dan suar Sekte Bayangan Malam disertai surat yang menyatakan bahwa plat itu digunakan untuk mengendalikan pasukan sekte, sedangkan suar untuk memanggil pasukan. Jika ada sesuatu yang terjadi di masa depan, Xie Ruo diminta menggunakan itu.
Bukankah sama saja menyerahkan pasukannya ke tangan Xie Ruo? Padahal jelas-jelas tidak tahu kapan Xie Ruo akan kembali. Apalagi umurnya juga pendek, kurang dari 30 tahun.
Memasukkan semua box itu ke dalam cincin spasial, kemudian melihat Qu Xuanzi yang berdiri di depan halaman menunggunya karena akan berangkat hari ini.
Xie Ruo segera menghampirinya, lalu pergi ke luar klan. Belum sampai gerbang, Pei Xi dan yang lainnya sudah menemui Xie Ruo terlebih dahulu. Sejak mengetahui bahwa Xie Ruo akan pergi ke Menara Suci secepat itu, mereka sangat sedih, tapi tidak bisa melakukan apa pun.
Saat ini, waktunya Xie Ruo pergi. Mereka ingin mengantar Xie Ruo walau hanya sampai gerbang klan. Jika mereka bisa masuk ke sana, sudah pasti mereka akan ikut.
Selain berpamitan teman teman-temannya, Xie Ruo juga berpamitan dengan Xie Wang dan Su Liu'er. Tidak tahu kapan akan bertemu lagi, Xie Ruo yakin suatu saat mereka akan bertemu.
Setelah berpamitan, ia memasuki kereta yang ditarik oleh dua angsa besar milik Qiong Lin. Karena identitas istimewa Qu Xuanzi, pria itu juga ikut karena ingin membicarakan sesuatu dengan Ratu Menara Suci. Meski sebenarnya hanya alasan untuk lebih lama dengan Xie Ruo.
Mereka segera berangkat saat itu juga dengan kecepatan konstan. Dua angsa mengepakkan sayapnya dan melintasi langit cerah.
Mereka semua melambaikan tangan ke langit di mana angsa itu pergi, hingga akhirnya menghilang tertutup awan. Mereka hanya berharap, Xie Ruo bisa baik-baik saja dan kembali dengan selamat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kejauhan pegunungan terasingi dan tertutupi array penyamaran, terdapat sebuah dunia lain yang berbanding terbalik dengan lokasi seharusnya.
Hewan buas berkeliaran dengan damai dan berdampingan dengan makhluk lain. Manusia, peri, ular, naga, dan lainnya berkumpul di satu tempat saling berbagi suka maupun duka. Mereka semua hanya ada wanita, dengan penampilan cantik dan menarik, seolah dunia ini hanya milik mereka.
Semua dahan hijau yang luas dan sungai deras, terhubung dengan sebuah istana. Istana dengan menara tertinggi menembus langit, di ujung menara terdapat sebuah kilatan biru yang bercahaya seolah memberi kehidupan di kehidupan yang terasingi.
Di dalam istana yang begitu besar, terdapat pusat air terjun yang mengalir deras. Di bawahnya, beberapa peri bermain bersama ras lain, ada juga beberapan wanita berekor ikan bersenda gurau di bawah air terjun.
Beberapa cahaya kecil melintas dengan kecepatan tinggi di udara. Sangat kecil seolah itu adalah seekor burung pipit yang terbang menelusuri istana dalam bentuk cahaya. Melewati para wanita dengan kegiatan serius mereka dalam istana, tiga cahaya itu terbang ke atas menara melalui jalan pintas tangga melingkar.
Entah kecepatan seperti apa, mereka sampai di depan sebuah pintu besar di ujung menara. Wujud mereka dalam cahaya tampak lebih jelas, seperti loli kecil dengan penampilan polos layaknya anak kecil. Ukuran mereka hanya sebesar jari dengan sayap kupu-kupu, namun kecepatan mereka tidak diragukan lagi.
Pintu ganda di depan mereka terbuka, mereka segera berlutut begitu mendapati sosok wanita cantik di dalamnya. Rambut wanita itu perak, telinganya runcing dengan kulit seputih salju. Ia tampak pucat tanpa warna, namun ketika membuka mata, iris emasnya yang mencolok terlihat menambah keagungannya.
"Bangun."
Suara indahnya yang dipenuhi keagungan menggema dalam ruangan. Posisinya masih membelakangi pintu, sambil melihat pemandangan di atas menara melalui jendela. Tangannya memegang tongkat besar dengan erat.
Ketiga loli kecil itu langsung bangun, lalu masuk ke dalam untuk memberi laporan. Tidak ada yang berani ribut. Salah satunya segera terbang ke arah wanita itu, lalu membisikkan sesuatu.
Ketika mendengar laporan rahasia dari loli kecil itu, senyum terukir dengan lembut di wajah cantiknya. Ia berbalik, melihat ketiga loli kecil yang masih memandangnya dengan polos, seolah tidak mengerti apa isi laporan.
"Siapkan sambutan yang baik, sederhana namun terhormat. Kita akan menyambut Tuanku dan gadis kecilnya."