
Dalam kegelapan yang dipenuhi roh jahat berterbangan, cahaya perak yang semula redup kini bersinar terang menembus balutan kegelapan yang menjerat. Cahaya perak membuka tiap celah roh dan merobek mereka dengan cahaya yang membesar ke segala arah.
Xie Ruo muncul di permukaan, menggunakan kekuatan psikisnya untuk menahan tiap roh yang menyerang.
Dewa Iblis menciptakan badai roh di mana berbagai macam roh berkeliaran di udara dan menggulung seperti pusaran angin. Xie Ruo nyaris tidak bisa menyeimbangkan antara badai dan roh-roh yang ia tahan dengan kekuatannya. Kakinya nyaris tidak bisa menopang tubuhnya lebih lama.
Xie Ruo terbang lebih tinggi membiarkan roh-roh itu berkerumun mengikutinya di belakang, lebih tepatnya mengejar. Badai yang diciptakan menghalangi jalan Xie Ruo sehingga perjalanannya berkelok dengan tajam karena harus menghindari serangan.
Sebisa mungkin Xie Ruo tetap waras untuk tidak dipenuhi amarah di saat kritis. Namun wujud Dewa Iblis yang tersenyum penuh kemenangan padanga memicu timbulnya amarah yang lebih dalam.
Cahaya perak keluar dari tubuh Xie Ruo, membentuk dua rupa dengan tekanan dahsyat sampai menghempaskan roh-roh yang menyerang. Sosok wanita cantik dengan wajah yang sangat mirip dengan Xie Ruo, namun matanya abu-abu penuh dengan tampang pucat dan transparan seperti hantu. Sedangkan di sisi lainnya, tampak seekor naga putih dan besar disertai iris biru yang menyala.
"Tangani mereka." Xie Ruo memberi perintah. Mereka berdua adalah dua wujud yang terpisah darinya, Naga dan Dewi Memori. Sama seperti ketika para kloning menyerangnya, ia menggunakan teknik yang sama namun dengan cara berbeda.
Kedua sosok itu melesat dengan kecepatan tinggi, menangani badai roh yang menjerat serta serangan roh yang menjengkelkan. Suara roh-roh itu sangat berisik.
Naga putih itu mengaum sangat keras sehingga menciptakan gelombang yang menyebabkan badai dihembuskan angin. Roh-roh itu sempat terpental, namun sisanya menyerang lebih ganas dan menempel di tiap tubuh besar naga sambil menariknya untuk jatuh ke bawah. Ia pun menggulung tubuhnya dan mengeluarkan tekanan yang menyebabkan para roh terhempas.
Sedangkan di sisi lain, sosok yang terlihat seperti hantu itu menembus tiap roh dan menahan mereka dengan sinar abu-abu. Beberapa roh hancur berkeping-keping. Meski tidak bisa menghentikan badai, ia bisa menghindari dan menahan serangan roh beberapa kali.
Xie Ruo meninggalkan mereka di dalam badai dan langsung menyerbu Dewa Iblis. Sambil menghancurkan beberapa roh, ia menghunuskan pedangnya ke arah Dewa Iblis.
Gerakan Dewa Iblis sangat cepat. Ia menghindari tiap teknik gerakan Xie Ruo, kemudian menggunakan tombaknya untuk membentuk serangan beberapa roh yang meluncur.
Xie Ruo dapat menghindar beberapa kali dan menghancurkannya, tapi tiba-tiba roh yang lebih kecil menangkapnya dan mengikat tubuhnya dengan kegelapan yang menjalar. Ikatan itu sangat kuat dan tajam, menembus kulitnya hingga Xie Ruo berteriak kesakitan.
"Xie Ruo, tidak ada lagi yang bisa melindungimu." Dewa Iblis tersenyum miring.
Roh lainnya mulai bermunculan dan menerkam Xie Ruo dengan lilitan di berbagai anggota tubuhnya. Kedua tangan dan kakinya dililit di kedua sisi dengan keras dan dalam, hingga menimbulkan bercak darah yang mengalir ke tanah. Xie Ruo menggertakkan gigi, menahan semua rasa sakit yang menyiksa.
"Awalnya aku berpikir untuk tidak membunuhmu. Sayangnya, kau memaksaku." Dewa Iblis mengusap dagunya sendiri sambil melihat betapa menyedihkannya Xie Ruo.
Xie Ruo diam untuk beberapa saat, kemudian terkekeh. Seolah semua rasa sakit di tubuhnya bukan apa-apa, ia mendongak melihat Dewa Iblis. Wajahnya terlihat sangat pucat. "Kau memang ingin membunuhku sejak awal. Bunuh saja aku."
"Aku rasa kau sudah terlalu pasrah." Dewa Iblis tak menyangka Xie Ruo akan menyerah.
Sambil menahan rasa sakit, Xie Ruo berkata, "Aku tidak berpikir untuk menyerah. Aku hanya merasa ... semuanya sia-sia. Begitu aku mati, mungkin kau akan menjadi target kebencian orang di belakangmu, tapi aku tidak peduli. Bunuh aku dan akhiri segalanya."
Dewa Iblis tahu maksud Xie Ruo. Jika ia membunuh Xie Ruo secara langsung saat ini, Shu Xin akan marah padanya. Bagaimanapun, Shu Xin ingin Xie Ruo hidup-hidup untuk dibunuh olehnya sendiri. Meski harus terluka cukup parah, wanita itu tetap harus diserahkan.
Hanya saja, kenapa Xie Ruo yang semula sangat ambisius kini menjadi putus asa? Apa kematian Asura begitu membuatnya terpukul begitu dalam? Apa ini ujian untuknya?
"Apa rencanamu?" Dewa Iblis tidak bisa meringankan kewaspadaannya terhadap wanita licik itu.
"Apa menurutmu, di saat seperti ini aku bisa merencanakan sesuatu? Aku tidak punya apa-apa, hanya seseorang yang akan disudutkan Tiga Dunia. Pada akhirnya, aku benar-benar kehilangan segalanya. Tidak ada yang lebih baik dari kematian. Lebih baik selesaikan sekarang."
"Lalu kenapa kau bersikeras melawan? Aku bukan seseorang yang mudah ditipu." Dewa Iblis tetap tidak percaya. Berdasarkan sifat Xie Ruo, mustahil baginya untuk memilih mati daripada hidup.
"Kau tidak mengenalku dengan baik, untuk apa sok kenal seperti itu?" Xie Ruo mulai kesal. Ia merasa darahnya hampir habis hingga tubuhnya sangat lemas. "Lagipula ... mati juga tidak buruk. Bukankah ... kematianku akan menjadi alasan untuk mereka semua? Tidak akan ada lagi perang dingin."
Dewa Iblis bingung. Ini kali pertama melihat lawan yang keras kepala ingin mati di tangannya, sedangkan ia tidak boleh membunuhnya sekarang. Sepertinya ia harus membawa wanita itu terlebih dahulu ke hadapan Shu Xin, biarlah ia yang memutuskan.
Dewa Iblis mendengus kesal. Bisa-bisanya ia ikut gila karena wanita gila ini. Ia pun melepas jeratan roh hingga membut tubuh Xie Ruo ambruk dalam keadaan penuh luka.
"Anggap kau beruntung karena merupakan saudara dewiku." Dewa Iblis memalingkan wajah dengan kesal. Ia sebenarnya sangat ingin memhunuh wanita itu, tapi Xie Ruo malah mengingatkannya pada janjinya dengan Shu Xin.
"Kau tidak takut aku berubah pikiran?" Xie Ruo di tanah melihat Dewa Iblis dengan pandangan sayup.
"Apa menurutmu, dengan keadaanmu yang seperti ini bisa melawanku?" Dewa Iblis terkekeh, kemudian melambaikan tangannya. "Kau bahkan tidak sebanding dengan dewiku."
"Jelas tidak sebanding, aku bukan nenek-nenek yang bahkan tidak mampu memanggil anak buahnya sendiri." Xie Ruo tidak peduli apa ia akan dipukul karena lidahnya yang yajam.
Namun Dewa Iblis hanya menatapnya dengan tajam. Jika ia memukul, takutnya Xie Ruo yang penuh luka akan koma mendadak, lebih buruknya akan mati. Ia bisa kena marah.
"Aku tidak berjanji tidak akan membunuhmu jika ketahuan menipu." Dewa Iblis masih waspada. Xie Ruo sulit ditebak, ia tidak boleh meremehkan otak kecilnya itu meski sedang sekarat.
Xie Ruo memalingkan wajah, lalu menutup matanya. Dewa Iblis masih tidak mempercayainya. "Lebih baik bunuh aku lebih cepat. Rasanya terlalu sakit."
Dewa Iblis merasa akan frustrasi. "Bunuh dirimu sendiri kalau bisa."
"Kau tidak ingin melakukannya? Padahal belum tentu Shu Xin bisa membunuhku. Bisa saja, ketika bertemu dengannya, malah aku yang membunuhnya." Xie Ruo menampilkan senyum miring.
"Kalau kau berani, aku akan membunuhmu." Dewa Iblis mengancam.
"Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kekuatan Shu Xin saat ini belum pulih, aku bisa membunuhnya dengan mudah sebelum kau menyadarinya. Atau ... aku bisa memanfaatkan seranganmu untuk membunuhnya."
Ucapan Xie Ruo membuat Dewa Iblis marah. Ia menunduk, menekan rahang Xie Ruo dengan satu tangannya sampai Xie Ruo meringis kesakitan. Pegangannya sangat kuat.
"Kau pikir bisa menipuku?"
Xie Ruo menggeleng pelan sambil menahan rasa sakit. Ia menekan tinjunya keras-keras. "Aku tidak menipu. Jika tidak mengambil kesempatan, aku mudah berubah pikiran."
Dewa Iblis melepas cengkramannya dengan kasar. Xie Ruo memegang rahangnya yang sakit, kemudian melirik Dewa Iblis yang tampak kesal. Ia pun menyipitkan matanya.
Cahaya emas yang mengalir di tubuhnya menutup semua luka dengan cepat. Xie Ruo hanya diam menunduk menyembunyikannya, sekaligus menekan rasa sakit selama regenerasi tanpa diketahui Dewa Iblis.
"Bagaimana?" Xie Ruo masih menunduk sampai wajahnya tertutupi oleh helaian rambut.
Dewa Iblis menghadap Xie Ruo yang masih di tanah. Wajahnya tampak serius. "Sepertinya kau benar. Pada akhirnya kau akan mati juga." Ia hanya perlu sedikit menjelaskan pada Shu Xin bahwa ia tidak sengaja membunuh Xie Ruo. Lagipula, ini saatnya yang tepat untuk menyingkirkan naga kecil itu yang dapat menghalangi jalannya di masa depan.
Dewa Iblis mengangkat tombaknya, lalu mengayunkannya dengan keras untuk menyayat leher wanita itu dengan dalam. Kekuatan kegelapan sudah tertanah dalam tombak sehingga kegelapan memancar di sekitarnya.
Xie Ruo menutup mata dalam diam. Tubuhnya bergetar selama cahaya emas meliputi tubuhnya ketika tombak Dewa Iblis terangkat. Jika proses regenerasi tidak berlangsung lebih cepat, ia bisa mati di tangan Dewa Iblis.
Ucapan sebelumnya hanya pengalihkan agar Dewa Iblis dapat menurunkan kewaspadaannya dan mengulur waktu sampai regenerasi selesai dengan cara membuat pria itu ragu. Ia tidak boleh terlambat!
"Ini adalah pilihanmu." Dewa Iblis tersenyum miring. Ia mengayunkan tombak beratnya dengan cepat ke arah Xie Ruo disertai kegelapan yang menyambar.
Xie Ruo semakin menunduk sambil berusaha menarik kekuatannya ke seluruh tubuh untuk berteleportasi. Detik berikutnya, hal tak terduga terjadi membuatnya mematung di tempat.
Tombak yang diayunkan tiba-tiba terpantul seolah ada yang menghalangi. Cahaya emas di sekitar Xie Ruo muncul, pecah seperti kaca rapuh begitu menyentuh tombak Dewa Iblis yang kini berbalik ke udara.
Dewa Iblis termundur dengan wajah memerah karena marah. Bisa-bisanya ia baru tahu bahwa masih ada sihir pelindung di sekitar Xie Ruo yang aktif ketika Xie Ruo dalam keadaan waspada.
Sedangkan Xie Ruo terdiam seribu bahasa. Ia melihat serpihan perisai emas yang berserakan di tanah dan menghilang. Tiba-tiba hatinya merasa sakit.
"Xuanzi ..." lirihnya dengan gemetar. Ia sampai nyaris lupa bahwa proses regenerasi baru saja selesai dan baru bisa menggerakkan tubuh.
Ia mendongak melihat Dewa Iblis. Tatapannya menjadi tajam. "Waktu habis, aku berubah pikiran."
Dewa Iblis menghentakkan tombaknya dengan kesal. Benar saja, semua ini hanya tipuan Xie Ruo!
"Omong-omong, aku tidak menipu," kata Xie Ruo sambil berdiri. Pakaiannya sangat kacau dan kotor akan darah, bahkan sebagian telah robek, tapi ia tidak peduli. Ia melanjutkan, "sudah kukatakan berulang kali, jika terlalu lama mengulur, aku akan berubah pikiran. Untung saja kau tidak membawaku pada Shu Xin."
Dewa Iblis mengangkat dagunya untuk menahan rasa kesal. "Xie Ruo, kali ini aku tidak akan berbelas kasih. Asura sudah tidak lagi melindungimu, perisainya hancur, kau tidak akan memiliki kesempatan lain untuk hidup!"
"Kau akan lihat siapa yang akan memiliki kesempatan itu." Ia terlihat tenang, namun pikirannya penuh kekacauan.
Dewa Iblis kembali mengarahkan roh-roh untuk menghancurkan Xie Ruo. Kali ini ia tidak akan hanya menahannya, tapi juga menghancurkannya berkeping-keping tanpa sisa!
Xie Ruo bergerak dengan cepat menghindari tiap roh yang menyerang. Ia memanggil kedua 'rekannya' untuk membantu, kemudian mengalirkan kekuatan mentalnya untuk menyembuhkan dua makhluk itu.
Dewa Iblis sangat kuat sampai bisa menghancurkan dua sosok itu. Xie Ruo termundur dan mengalami serangan balik atas bagian darinya yang telah mati. Dewa Iblis kali ini benar-benar bermain serius.
Tanah retak dalam radius besar ketika tombak dihentakkan. Gempat terjadi, membuat Xie Ruo harus terbang ke udara dan menggunakan api dingin untuk melapisi sekitarnya dan menahan roh yang menyerang.
"Inti kehidupan ada di sebelah kanan. Kau akan tahu setelah meraihnya."
"Inti kehidupan ...." Xie Ruo berpikir. Apa itu mengacu pada kelemahan Dewa Iblis?
Tiba-tiba saja Dewa Iblis menyerang ketika Xie Ruo tengah berpikir. Xie Ruo menghindar, menjaga jarak agar dapat terus berpikir apa yang dimaksud.
Apa yang ada di sebelah kanan? Apa jantung? Tapi ... jantung ada di sebelah kiri, ia dapat merasakan detak jantung itu dari dada kiri Dewa Iblis.
Xie Ruo tidak pernah mengetahui tentang inti kehidupan. Menurutnya, inti kehidupan adalah pusat dari kehidupan seseorang, yakni jantung. Tapi, ia yakin inti kehidupan yang dimaksud di dunia ini bukanlah jantung, tapi hal lain.
Arghh, kenapa tidak ada yang memberitahu sebelumnya? Kenapa tidak ada di dalam perpustakaan Menara Suci!
Dewa Iblis kesal karena Xie Ruo terus menghidar tanpa menyerang. Ia dapat melihat tatapan wanita itu terlihat bingung, namun gerakannya ketika menghindar sangat tepat ketika ia menyerang. Ini membuatnya semakin kesal!
"Apa kau akan terus menjadi pengecut?" Dewa Iblis kembali menyerang, namun Xie Ruo lagi-lagi menghilang lebih jauh.
"Inti kehidupan ...." Xie Ruo masih berpikir. Ia menyentuh dada kanannya, sayangnya tidak merasakan apa pun selain luka dalam yang berdenyut.
"Xie Ruo, apa pun yang kau pikirkan, semua itu akan sia-sia. Kau tidak bisa pergi dengan selamat!" seru Dewa Iblis dengan senyuman sumringah. "Apa kau tidak berpikir untuk bertemu dengan Asura? Jika aku menjadi kamu, aku akan bunuh diri untuk bersatu kembali dengannya."
Xie Ruo tetap tenggelam dalam pikirannya. Hal itu membuat Dewa Iblis gemas, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ia tidak akan memprovokasi emosi Xie Ruo yang tidak stabil. Ia ingin menjatuhkan mental Xie Ruo sekali lagi.
"Kau tenang saja. Untuk menunjukkan niat baikku, aku dan Shu Xin akan merawat putra dan putrimu untuk menjadi anak yang 'baik'. Kau akan berterimakasih untuk itu. Bagaimanapun, mereka adalah keponakanku juga."
Xie Ruo masih diam. Hal itu membuat Dewa Iblis semakin kesal.
"Xie Ruo, aku sudah sangat sabar menghadapimu. Mengapa kau lebih keras kepala dibandingkan Asura? Apa kau lebih memilih disudutkan para dewa sialan itu karena telah membunuh Asura secara tidak langsung? Meski kau memegang kunci Dunia Dewa dalam tubuhmu dan mereka sangat mementingkannya, tetap saja kau akan dikucilkan."
"Kunci dunia dewa?" Xie Ruo tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menyentuh dada kanannya, lalu menutup mata untuk merasakannya.
Tindakan Xie Ruo membuat Dewa Iblis semakin heran. Ia tidak mau banyak bicara lagi karena telah diabaikan berkali-kali. Dengan cepat, ia menyerang.
Xie Ruo telah membuat pelindung di sekitarnya ketika sedang menelusuri kekuatan Roh Guntur dalam tubuhnya. Itu membuat Dewa Iblis harus berusaha menghancurkannya.
Dalam kegelapan, Xie Ruo dapat melihat aliran ungu yang menyebar dalam meridiannya. Pusat kekuatan Roh Guntur berada terletak di dada bagian kanan, di mana terdapat sebuah cahaya yang bersinar terang dan nyaris tidak bisa dirasakan. Xie Ruo yakin, itu ada kaitannya dengan perubahan menjadi dewi, karena sebelumnya ia tidak melihat hal seperti itu.
Cahaya itu berbentuk sebuah kelereng kecil dan seputih susu, mengambang di antara dua kekuatan ilahi dan sihir ungu yang melingkarinya. Apa itu inti kehidupan yang dimaksud? Lalu, apa ras dewa menggunakan inti kehidupan sebagai kelemahan untuk membuatnya mati seketika?
Untuk saat ini, Xie Ruo hanya bisa bertaruh. Ketika ia akan kembali ke dunia nyata, tiba-tiba saja ia tertarik ke dalam dunia memori. Selain itu, ia masih dapat mengetahui apa yang terjadi di luar dan dapat menggerakkan tubuhnya dengan bebas. Kesadarannya terbagi menjadi dua, membuatnya bingung sekaligus.
Mata Xie Ruo di dunia nyata terbuka, melihat perisainya yang dihancurkan. Ia langsung berteleportasi menjauh, kemudian menghunuskan pedangnya untuk berpusat pada inti kehidupan. Ia bertaruh untuk menghancurkan inti kehidupan Dewa Iblis. Jika benar bisa membunuhnya, ia akan selamat. Jika tidak, ia akan mati.
Tapi sepertinya Dewa Iblis menyadari arah serangan Xie Ruo sehingga ia dapat menjebak Xie Ruo menggunakan roh yang berterbangan. Pedang Xie Ruo direbut roh-roh itu, lalu terlepas dari genggamannya.
"Tidak ...." Xie Ruo baru saja akan meraihnya, tapi Dewa Iblis memberi serangan yang mengharuskan Xie Ruo menjauhi pedangnya.
"Bukankah itu pedang roh unsur pemberian Asura? Apa tidak masalah jika aku merebutnya untuk dijadikan koleksi?"
"Kau ...."
"Kau sangat menyayanginya, ya. Tapi sayangnya, sepertinya roh-roh itu kelaparan." Dewa Iblis tersenyum jahat. Roh dapat melahap apa pun yang memiliki kekuatan sihir. Pedang itu tak terkecuali.
Xie Ruo semakin bingung. Dalam dunia memori, ia melihat masa lalu yang membuat emosinya tercampur aduk. Bukan hal menyedihkan atau sesuatu yang menjadi ketakutannya, tapi itu seharusnya adalah momen penting yang tidak boleh dipisahkan dari hidupnya.
Apa yang dilakukan dunia memori terhadapnya? Ia ingin bertanya, tapi tidak bisa bicara. Ia hanya bisa menyaksikan memori tersebut dalam diam, sedangkan tubuhnya bertarung dengan Dewa Iblis.
"Perang sudah di depan mata. Sayangnya, aku yang sekarang sangat tidak menyukai perang." Xie Ruo di dalam memori masa lalu itu duduk di tepi kolam sambil melamun. Qu Xuanzi di sebelahnya terkekeh, kemudian menarik bahunya untuk bersandar sambil mengusap kepalanya seperti mengusap anak kecil. Xie Ruo hanya menurut.
"Ini adalah perang dalam periode ini. Kedepannya, kau tidak harus ikut perang." Karena perang tidak akan pernah berakhir dalam kehidupan semua makhluk. Jika mau, Xie Ruo tidak perlu ikut.
"Tapi kamu harus ikut. Merepotkan sekali menjadi penguasa, tidak bisa duduk santai dan makan dengan bebas. Itu sebabnya, aku tidak mau jadi ratu." Xie Ruo menggerutu.
"Bagiku, kamu adalah seorang ratu."
"Siapa yang mengajarimu?" Xie Ruo tertawa geli merasa perutnya diterbangi kupu-kupu. Sejak kapan Qu Xuanzi bisa bicara manis?
"Bukankah kamu?" Qu Xuanzi menarik pipi Xie Ruo dengan gemas. Itu membuat Xie Ruo cemberut seketika dan menarik pipi Qu Xuanzi lebih keras.
Xie Ruo dalam medan tempur terdiam untuk beberapa saat. Ia tidak tahu apa yang sedang diinginkan dunia memori, ia tidak bisa masuk ke dalam sana untuk menghapus semua itu. Ia hanya bisa melawan Dewa Iblis secara maksimal dan menargetkan inti kehidupannya.
Dewa Iblis sadar akan hal itu dan mengambil kesempatan. Sayangnya, reaksi Xie Ruo jauh lebih cepat dari dugaannya.
Di dalam memori, Xie Ruo yang menarik pipi Qu Xuanzi perlahan meregangkan cubitannya. Ia mengubah cubitan itu menjadi sentuhan lembut, lalu tersenyum.
"Xuanzi, kita akan memenangkan perang bersama-sama." Tatapannya menjadi sendu tanpa melepaskan perhatian dari iris cokelat tersebut.
Qu Xuanzi menangkup tangan Xie Ruo yang menyentuh rahangnya, kemudian mengecupnya sekilas. "Kita akan menang, dan kembali bersama."
"Setelah itu, kita akan merawat Xiao Xiu dan Xiao Xiao bersama. Meski tidak akan menua, kita akan bersama ribuan tahun lagi."
Qu Xuanzi memandang Xie Ruo penuh arti, kemudian tersenyum. "Baik."
Xie Ruo yang bertarung dengan Dewa Iblis merasa sesak sesaat. Ia diam dalam keadaan tidak fokus, kemudian memukul kepalanya sendiri dengan frustrasi.
"Kenapa ... dunia memori sialan! Jika ingin berulah, bukan sekarang waktunya!" Xie Ruo memukul kepalanya berkali-kali sambil menutup mata, tidak ingin dunia memori terus mempengaruhi emosinya yang kacau. Ia tidak boleh runtuh dengan cepat. Maka dari itu, ia harus menyelesaikan masalah lebih cepat.
Serangan demi serangan dilancarkan. Xie Ruo mengabaikan gambaran memori di kepalanya yang terus mengganggu dan meningkatkan emosinya. Hal itu membuat kekuatannya jauh lebih terasa emosional dan kuat.
Aura pembunuh terpancar. Xie Ruo mencoba meraih pedangnya kembali dengan berteleportasi. Begitu mendapatkan pedang, roh-roh itu kembali mengitarinya dan menelannya.
"Xuanzi ... apa pun yang terjadi, kau tidak boleh pergi." Xie Ruo berkata dengan nada serius, namun tatapannya penuh kegelisahan.
Qu Xuanzi menundukkan kepalanya sampai dahinya menyentuh dahi Xie Ruo. "Di mana pun kau berada, di situ rumahku. Aku tidak akan pergi." Ia berkata dengan bersungguh-sungguh.
Xie Ruo memaksakan diri merobek roh-roh yang menghalanginya. Tidak peduli apa itu akan melukainya secara eksternal maupun internal sampai jatuh ke tanah, ia hanya tahu bahwa ia harus bangkit untuk mengakhiri semua ini. Ia merasa mentalnya akan runtuh, tapi Dewa Iblis tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Pedangnya dihunuskan sepenuh tenaga disertai cahaya perak yang menyebar. Bola cahaya muncul di tangannya, menyerbu Dewa Iblis secara bertubi-tubi. Dewa Iblis menggunakan perisai kegelapan untuk menghadangnya, namun sepertinya perisai kegelapan tidak cukup untuk menahan fluktuasi kekuatan Xie Ruo yang terlalu tinggi.
Menggunakan seluruh tenaganya yang dipusatkan pada satu serangan, itu sama saja cari mati! Dewa Iblis pikir, saat ini Xie Ruo benar-benar telah gila.
"Kamu juga tidak boleh pergi. Aku melarang." Qu Xuanzi berkata dengan penuh arti.
Xie Ruo mengangguk pelan. "Di mana pun kau berada, aku akan ikut. Kali ini jangan melarang, aku tidak lemah seperti dulu."
Qu Xuanzi tidak menjawab apa pun. Ia memandang Xie Ruo dengan teduh, kemudian memiringkan kepalanya dan menyatukan kedua bibir mereka dengan lembut.
Kilatah cahaya perak menyambar dengan ganas. Perisai yang dibuat Dewa Iblis hancur menjadi serpihan serta roh-roh yang berkeliaran. Di saat yang bersamaan, pedang Xie Ruo diayunkan dengan cepat dan tubuhnya melesat menembus Dewa Iblis.
Dewa Iblis diam untuk beberapa saat, sedangkan Xie Ruo di belakangnya dengan pedang yang masih digenggam erat. Perlahan, darah hitam mengalir dari pedang perak dan menetes di tanah.
Dewa Iblis melihat ke bawah. Tampak sebuah benda sebesar kelereng berwarna hitam keluar dari dada kanan yang berlubang, lalu meledak melepaskan energi gelap yang berkeliaran.
Iris merah pria itu tampak terkejut. Ia berbalik melihat Xie Ruo yang tampak diam tanpa berkutik. Hanya dalam sekejap, tubuhnya ambruk dan menyebar bagai kabut yang meresap ke tanah bersama roh-roh yang berterbangan.
Xie Ruo diam memandang kabut yang menghilang. Tatapannya kembali kosong. Detik berikutnya, tetesan air mata yang membendung menetes di wajah cantiknya.
"Xuanzi, kau berbohong."
Memori yang ia lihat dalam dunia memori, menghilang begitu saja bagai terlalap kabut. Xie Ruo tidak bisa lagi menahan gejolak emosi dalam dirinya. Air matanya semakin banyak, kakinya semakin lemah dan akhirnya berjongkok sambil menangkup wajahnya yang menunduk dengan kedua lengan.
Isak tangis terdengar. Tubuhnya bergetar hebat di tengah medan perang yang sepi dan sunyi. Ia menangis sendirian, melampiaskan semua emosi yang semula tertahan.
Di kejauhan, tepatnya di menara istana, cahaya emas melesat dengan kecepatan tinggi dari ketinggian langit seperti bintang jatuh di malam hari.