The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
126. Benua Lava



"Benua Lava? Kau benar akan ke sana?" Pei Xi terkejut ketika Xie Ran mengumumkan kepergiannya di depan semua orang. Kini mereka menarik Xie Ran ke tempat yang lebih pribadi agar Xie Ran mau menjelaskan lebih detail.


"Ya." Xie Ran menjawab dengan santai seolah hanya pergi ke rumah tetangga.


"Apa terjadi masalah?" Pei Xi bertanya lagi. Bukankah Benua Lava telah lama hilang? Pasti ada alasan mengapa Xie Ran memiliki ide semacam itu.


"Tidak ada penjelasan." Xie Ran tidak mau menjelaskannya karena tidak ada hubungannya dengan mereka. Ia tidak ingin melibatkan mereka.


"Ranran, apa kau tidak percaya? Kita telah melalui banyak hal, jika ada masalah pasti kami akan membantu." Zhong Xiaorong mendesak, tidak peduli apa alasan Xie Ran, mereka akan ikut.


"Benua Lava telah hilang ratusan tahun lamanya, apa kau menemukan sesuatu mengenai hal ini?" Zhou Kui telah memikirkan alasan apa yang bisa membuat Xie Ran memiliki ide itu. Tapi semakin dipikirkan, ia merasa semakin tidak mengenal Xie Ran.


"Para naga di sisimu berasal dari Benua Lava, 'kan? Kau berniat mengembalikan mereka atau ... ada masalah lain?" Yan Yao memasang ekspresi berpikir.


Xie Ran memandangi mereka yang masih menunggu jawaban darinya. Sepertinya memang tidak bisa menghentikan mereka karena terlanjur memberitahu rencananya. Meski ia tidak memberitahu rencananya, mereka juga pasti akan tahu kalau ia akan pergi dalam waktu dekat. Intinya, keenam manusia itu sama sekali tidak bisa dihentikan dan akan terus mengikutinya.


Tak apa, semakin banyak orang semakin cepat tugasnya mencari tubuh fisik Long Long, ia juga tidak perlu pusing memikirkan masa hidupnya yang berkurang banyak.


"Sebenarnya, aku memiliki naga lain selain mereka bertiga ...."


Xie Ran bercerita tentang kehadiran Long Long sampai kepergiannya karena pengorbanan penerobosan aura naga. Tapi ia tidak mengatakan efek lain dari penerobosan paksa itu selain Long Long yang mengorbankan diri.


Mendengar penjelasan itu, mereka semua mencerna baik-baik tiap kata yang dilontarkan. Semakin lama, mereka semakin merasa Xie Ran benar-benar bukan manusia. Dia hanyalah monster!


Mereka akhirnya paham dari mana kekuatan tiba-tiba Xie Ran yang melonjak. Xie Ran nyaris saja mengorbankan nyawanya sendiri sehingga harus digantikan oleh Long Long yang secara sukarela berkorban, betapa sulitnya itu.


"Ranran, kau sudah bekerja keras, pasti bisa menyelamatkan Long Long." Pei Xi menepuk rambut Xie Ran dengan lembut. Dibandingkan perjuangan Xie Ran, ia bukan apa-apa.


Xie Ran mengangguk pelan. "Oleh karena itu, untuk mencari tubuh fisiknya di Benua Lava. Aku harus ke Makam Leluhur Naga."


"Ranran, kami akan ikut. Seperti yang kau ketahui, kau belum pulih sepenuhnya, harus membutuhkan bantuan kami untuk masalah sepele." Mei Liena langsung merangkul Xie Ran dengan senyuman bangga. Dalam keadaan seperti ini, Xie Ran sulit menangkap segala hal dengan mudah sampai sembuh sepenuhnya. Xie Ran masih membutuhkan mereka.


"Sebenarnya, Qu Xuanzi ikut denganku. Lalu ada Xiao Caihong, Long Yun, dan Long Ying, aku tidak merasa kekurangan." Xie Ran memberi alasan agar mereka tidak ikut, walau ia tahu hasilnya akan tetap sama.


"Tiga makhluk yang kau bawa bukan manusia, tidak paham hal sepele yang biasa dilakukan manusia apalagi Xiao Caihong. Kemudian, untuk Tuan Muda Qu, dia harus melindungimu dengan baik, tidak bisa melakukan hal sepele." Zhong Xiaorong mencari alasan secara asal.


Hal sepele yang dikatakan hanyalah apa yang biasa dilakukan sehari-hari seperti mencari makan, memasak, dan lain-lain. Belum lagi jika bertemu orang jahat di tengah jalan, mereka tidak ingin Xie Ran yang masih belum pulih terlibat dalam pertempuran. Meski ada Qu Xuanzi, tapi jangan sampai mengotori tangan 'Tuan Muda' itu.


"Liu Chang, Yan Yao, kenapa diam saja? Cepat persiapkan kuda dan barang-barang!" Zhong Xiaorong langsung memerintahkan kedua pemuda itu untuk bersiap-siap.


"Ranran, kapan kau akan pergi?" Mei Liena bertanya pada Xie Ran dengan semangat.


Xie Ran tersenyum kecut merasa tidak berdaya. Bukan hal buruk membawa mereka, mereka juga bisa diandalkan selama dalam perjalanan. Ia menghela napas dan menjawab dengan tenang. "Lusa."


"Baik, kami akan mempersiapkannya hari ini. Kamu istirahatlah dengan baik, pulihkan tubuhmu, kami akan melakukan pekerjaan dengan baik." Mei Liena bersorak, langsung pergi bersama Liu Chang dan Yan Yao untuk mengemas barang.


Xie Ran ingin mengatakan sesuatu, tapi mereka bertiga sudah pergi terlebih dahulu. Ia melirik Zhong Xiaorong, ketika ingin bicara, Zhong Xiaorong menyelanya tidak memberi kesempatan.


"Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan Liena? Jadilah anak baik," kata Zhong Xiaorong kemudian pergi menarik Zhou Kui.


Tersisa Xie Ran dan Pei Xi. Mereka sama-sama terdiam sebelum akhirnya Xie Ran melanjutkan kalimat yang ingin dikatakan.


"Sebenarnya aku menggunakan Long Yun sebagai kendaraan." Kemudian Xie Ran melirik Pei Xi dengan tidak berdaya. "Jangan seperti mereka."


Pei Xi hanya terkekeh. Betapa antusias anak-anak itu sampai tidak mendengarkan penjelasan Xie Ran yang membuat mereka melangkah ke jalan berbelok. Untung saja ia tidak terburu-buru mengejar, atau ia juga akan ikut berbelok.


Waktu berlalu begitu cepat. Long Yun telah siap di depan gerbang klan yang sepi dalam wujud aslinya. Xie Ran keluar dari gerbang bersama Qu Xuanzi dan Xiao Caihong, diantar oleh Xie Wang dan Su Liu'er. Pei Xi juga mengikut di belakang, membawa Long Ying di bahu karena diusir Xiao Caihong untuk tidak menempel pada ibunya.


Long Huo mendarat di sisi Long Yun. Ia masih cedera, tadi tidak seburuk sebelumnya dan hanya perlu memulihkan diri beberapa hari. Itu sebabnya ia tidak ikut dalam perjalanan dan memilih membantu Xie Wang memindahkan klan.


Xie Ran menghampiri Long Huo, mengusap kepalanya dengan lembut. "Aku percayakan mereka padamu."


Yan Yao dan yang lain datang bersamaan sambil berlari. Mereka agak terkejut ketika melihat seekor naga besar menjulang tinggi di hadapan mereka membuat mereka ingin teejungkal.


"Ranran ... apa ini ...." Yan Yao tidak tahu harus bicara bagaimana lagi. Ia benar-benar terpaku pada Long Yun yang gagah.


Ketika pertempuran di pagoda waktu itu, ia tidak melihat dengan jelas wujud asli Long Yun dan Long Huo karena fokus pada pertarungan. Mereka hanya tahu naga-naganya itu milik Xie Ran dan sangat patuh pada Xie Ran. Itu juga berlaku pada kelima lainnya.


"Tinggalkan kuda-kuda itu. Kita pergi dengan Long Yun, tidak perlu kuda." Ucapan Pei Xi membuat mereka tersadar dari lamunan.


Mereka membelalakkan mata bersamaan. Mereka telah membeli kuda yang mahal di kota kemarin, kenapa Pei Xi baru mengatakannya sekarang! Sia-sia uang mereka!


"Kenapa tidak bilang!" Mereka bersamaan berseru, kemudian menatap Xie Ran.


"Kalian terlalu semangat sampai tidak memberi kesempatan." Pei Xi menggedikkan bahu acuh tak acuh.


Zhou Kui terbatuk. "Pei Xi, sejak kapan kau pandai berbuat jahil? Ranran, kau juga sama. Kalian bisa memberitahu kemarin."


"Kalian tidak ada di klan." Pei Xi mengambil alasan lain. Sebenarnya, ia dan Xie Ran juga sudah sepakat tidak memberitahu untuk memberi mereka sedikit pelajaran.


"Sudahlah, bawa kudanya. Mungkin itu bisa berguna nanti." Xie Ran berkata dengan santai, lalu membiarkan kuda-kuda itu masuk ke dalam liontin.


Yang lain tidak banyak tanya meski agak terkejut. Berpikir Xie Ran telah menyembunyikan ketiga naga dan Xiao Caihong sangat baik, pasti karena liontin itu.


Mereka segera menaiki punggung Long Yun dan bersiap terbang. Xie Wang dan Su Liu'er melambaikan tangan pada Xie Ran dan yang lain dengan sedih. Entah kapan mereka akan bertemu kembali.


Long Yun mengepakkan sayapnya menyebabkan debu berterbangan menutupi pandangan. Dalam sekejap, naga itu telah di udara dan lepas landas ke langit.


Benua Lava memang sudah hilang, namun Qu Xuanzi tahu di mana Benua Lava yang tersembunyi itu. Ia hanya perlu mengarahkan Long Yun keluar dari Benua Zhongbu, menyebrangi lautan luas untuk pergi ke Benua Lava.


༺༻


"Benua Lava?" Seorang pria dengan surai perak terkekeh dalam ruangan gelap bercahayakan api yang berkobar di atas cawan penerang ruangan.


Ia duduk di atas kursi besar bernuansa gelap, matanya yang semerah darah melihat pria berjubah hitam berlutut di depannya baru saja memberi pesan.


"Ya, Yang Mulia. Apa perlu saya memberitahunya untuk segera kembali?" Pria itu bicara dengan tegas di balik topengnya tanpa menatap pria di atas kursi besar.


"Tidak perlu. Dia akan datang sendiri." Pria itu menjawab dengan tenang, senyum iblis terukir di bibirnya.


Pria beropeng itu tetap tidak bergerak, ia hanya diam seolah memikirkan sesuatu. Ia terpikirkan akan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada beberapa manusia yang akan pergi ke Benua Lava.


Pria di atas kursi besar itu sadar bawahannya ragu mengatakan sesuatu. Ia berdiri lalu berbalik sebelum akhirnya membiarkannya bicara. "Katakanlah."


Pria bertopeng agak terkejut, kemudian semakin menunduk ketika menjelaskannya. "Yang Mulia, kekuatan Anda belum pulih, beberapa dari mereka mulai bergerak dan berada di kekaisaran untuk mengambil keuntungan tersebut. Dunia Bawah dan Dunia Atas tidak stabil, takutnya akan menguntungkan pihak lain dengan memanfaatkan Dunia Tengah sebagai kekuatan utama."


"Oh?" Senyum pria itu semakin dalam, semakin mengerikan. "Apa 'dia' sudah tahu?"


"Ada banyak hewan suci di Dunia Tengah, kemungkinan besar 'dia' sudah tahu sejak awal."


Pria itu terkekeh. "Sudah kuduga, selalu selangkah lebih maju bahkan sebelum aku mengetahuinya."


"Yang Mulia, apa kita harus mengeluarkan para iblis untuk menginvasi mereka terlebih dahulu?" Pria bertopeng berkata ragu-ragu. Temperamen tuannya sangat sulit ditebak, selalu memiliki ekspresi sama meski memiliki suasana hati berbeda-beda. Kapan pun suasana hatinya berubah tanpa disadari yang membuatnya bergidik setiap saat.


Tapi sepertinya pria itu memiliki suasana hati yang sangat baik. "Tidak terburu-buru. Aku rasa, kesayangan kecilku akan menemuiku dalam waktu dekat. Kalian jangan membuatnya takut."


Pria bertopeng terdiam untuk beberapa saat. Kesayangan kecil? Ini kali pertama ia mendengarnya langsung julukan yang tidak pernah disebutkan dari tuannya langsung. Siapa sebenarnya yang tuannya maksud?


"Orang-orang itu mengincar energi murni sejak lama, kau jaga dia dengan baik. Jangan sampai ditemukan!" Nada pria itu menjadi dingin menyangkut keselamatan 'kesayangan kecil' yang berharga.


"Baik, Yang Mulia." Pria bertopeng itu hanya bisa pasrah. Sejak kapan tuannya menjadi seperti ini? Terakhir tuannya berada di sini, tuannya tampak sangat normal dan tirani seperti biasa. Sudah lama tidak kembali, sekali kembali menjadi seperti orang yang berbeda. Ini sulit diterima!