
"Sudahlah, aku tidak urus lagi." Mei Liena mengangkat tangan tanda menyerah. "Masih ada urusan lain yang sama pentingnya, aku sibuk dulu. Sampai jumpa!"
Wanita itu berlari begitu saja keluar ruangan. Kalau bisa, ia keluar sambil cari jodoh supaya tidak terus dilangkahi, meski pada kenyataannya ia menjadi satu-satunya yang belum menikah di antara yang termuda.
Masalahnya, para pria takut olehnya dan rata-rata sudah pada menikah, paling tidak hanya bisa mencari duda, atau sugar daddy kalau perlu. Itu penyebab mengapa ia menjadi jomblo permanen sampai umurnya akan menginjak 30 tahun.
"Omong-omong, kasihan Liena." Zhong Xiaorong menghela napas. Kemudian menatap Pei Xi, Zhou Kui, dan Liu Chang. "Kalian bertiga, apa tidak sedikitpun memiliki niat pada Liena? Daripada terus dikejar wanita-wanita manja dan bodoh, lebih baik seret Liena."
"Rongrong, jika aku melakukannya, aku tidak yakin hidupku akan tenang." Liu Chang tidak tahu harus tertawa atau menangis.
"Memangnya hidupmu tenang?" Zhong Xiaorong membalas dengan sinis, lalu melirik Pei Xi dan Zhou Kui.
Lupakan Pei Xi yang gagal move on, Zhou Kui malah lebih mencintai senjata dibanding manusia. Teman-temannya tidak ada yang normal.
"Ruoruo, apa kau sudah mempersiapkan banyak hal? Seperti gaun, tempat, barang-barang pesta, dan lainnya?"
"Apa itu perlu?" Xie Ruo menyahut sambil kembali mengunyah keripik, tampak acuh tak acuh.
Zhong Xiaorong merasa gemas. "Bukankah kau akan menikah? Yang menikah bukan kakek dan nenekmu, tapi kamu!"
"Biarlah mereka yang urus, aku tidak mengerti."
"Ruoruo, apa kamu tidak niat ingin menikah? Ketika aku menikah waktu itu, aku menggunakan gaun pernikahan yang digunakan ibuku lalu dimodifikasi, apa kamu memilikinya?"
Xie Ruo bahkan tidak pernah menanyakan apa yang disukai ibunya, apalagi masalah pernikahan ayah dan ibunya? Paling tidak hanya gaun merah kebesaran dan ribet sampai dapat menyapu tanah seperti dalam drama.
Sebagai jawaban, Xie Ruo menggeleng pelan. Ia merasa sangat ingin pergi ke tempat lain dan meneliti racun bersama Mei Liena dan Shi Yang.
"Ruoruo, ini masalah serius?"
"Apa begitu serius? Aku bisa menggunakan pakaian apa pun yang aku suka. Kenapa harus yang rumit?"
"Ini bukan untuk berperang tapi menikah!"
"Aku tahu. Bukankah sama saja?" Xie Ruo lebih suka konsep pernikahan modern. Gaunnya tidak perlu menyapu tanah sampai bersih dan ia hanya perlu menggunakan riasan sederhana.
"Sudahlah, biar tetua yang mengurus." Zhong Xiaorong menghela napas. Ia tidak mengerti bagaimana jalan pikir Xie Ruo.
Melihat Zhong Xiaorong yang begitu sibuk, Xie Ruo berbisik pada Yan Yao untuk menanjakan beberapa hal. "Apa dia seperti itu ketika pernikahan kalian?"
"Entahlah." Yan Yao menggedikkan bahu.
Xie Ruo mengerutkan kening. "Kau suaminya, bagaimana tidak tahu?"
"Kau tahu dia sangat pemilih, aku tidak ikut campur dalam pilihannya." Yan Yao menanggapi sambil tersenyum kecut. Bahkan sampai sekarang, temperamen Zhong Xiaorong masih sulit diatur dan suka membuat onar.
"Menurutmu, bagaimana perasaan setelah menikah?" Xie Ruo penasaran. Apa hubungannya akan berbeda? Bagaimana dengan cara berpikir dan keseharian?
Yan Yao diam untuk beberapa saat, sepertinya memikirkan sesuatu. Ia pun bicara dengan nada rendah. "Setelah menikah nanti, aku sarankan jangan banyak berulah. Aku tidak tahu bagaimana temperamen Tuan—siapa pun itu panggilannya—aku sarankan untuk bersikap tenang di malam pertama."
Xie Ruo mengerutkan kening, melihat Yan Yao dengan pandangan aneh. "Sepertinya kau salah paham. Aku menanyakan hal lain." Ia sungguh tidak pernah menanyakan masalah malam pertama.
Yan Yao nyaris tidak bisa berkata-kata. Benar, sepertinya ia salah paham. Tapi tidak ada salahnya sedikit mengingatkan agar tidak seperti Zhong Xiaorong yang mabuk dan tidur duluan di malam pertama.
Zhou Kui dan Liu Chang nyaris tertawa terbahak-bahak mendengarnya, sedangkan wajah Zhong Xiaorong merah padam dalam diam. Yan Yao hanya bisa menebalkan wajah.
Yan Yao menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Yaa, tidak banyak berubah. Kau tahu, aku dan Rongrong kadang masih tidak akur."
"Aku pikir, kalian sedikit lebih mengerti dibandingkan dulu. Jika tidak, mana mungkin Rongrong mau tinggal di Klan Yan?" Liu Chang melanjutkan penilaian.
"Apanya yang mengerti? Aku terpaksa saja." Zhong Xiaorong cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Intinya, bukankah hubungan kalian lebih baik daripada sebelumnya?" Zhou Kui menghela napas. Ia sudah tahu pasangan aneh itu tidak akan mengakui karena gengsi.
"Jadi begitu ...." Xie Ruo bergumam sambil menopang kepala dengan tangannya yang disangga di lutut.
Dari ucapan mereka, tidak ada bedanya dengan pacaran, hanya saja hubungan akan lebih jauh lagi. Pernikahan hanya sebutan secara resmi saja untuk diakui dan saling bertanggungjawab.
Pei Xi memperhatikan dalam diam. Pada akhirnya, ia kalah juga. Memang tidak ada gunanya memendam perasaan, tapi ia tidak berdaya di depan Xie Ruo. Ia hanya bisa menjadi kakak yang baik dan melihat kebahagiaan adiknya. Itu saja sudah cukup.
Sepertinya, ia juga harus mencari wanita lain agar tidak terpacu pada perasaan samar yang membuatnya sesak setiap saat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam dua minggu, Xie Wang membuat persiapan dibantu oleh Dou Dou untuk pergi ke Dunia Atas. Mereka akan pergi keesokannya untuk persiapan lanjutan. Xie Ruo tidak ikut campur masalah perisapan apa pun itu, ia hanya bertindak sebagai pengamat dari awal.
Seumur hidup, Xie Ruo tidak pernah menggelar pesta atau semacamnya, jadi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Satu-satunya hal yang tidak ia ketahui hanya itu. Menurutnya, itu semua membosankan.
Mei Liena sudah memulai penelitiannya bersama Shi Yang. Kadang Xie Ruo berkunjung untuk melepas rasa bosan, seperti saat ini, wanita itu duduk dalam diam sambil memeluk bantal dengan malas.
"Ruoruo, kau tidak bertemu Yang Mulia?" Mei Liena telah belajar untuk menyebut Qu Xuanzi dengan sebutan itu. Ia akan merasa canggung jika memanggilnya adik ipar atau kakak besar sekarang.
"Aku bahkan tidak tahu di mana dia berada," gumam Xie Ruo.
"Tak apa, Guru dan Yang Mulia bisa bersama lebih lama nanti." Shi Yang tersenyum lebar. Ia sangat senang mendengar berita tentang gurunya yang akan menikah, sayangnya ia tidak bisa melihat langsung. Pasti gurunya akan sangat cantik.
"Apanya?" Xie Ruo menggerutu. Mana ada lebih sering bertemu? Setelah pernikahan, ia akan kembali ke Menara Suci. Entah drama apa lagi yang akan terjadi di sana yang menambah tugasnya. Intinya, mereka itu sama-sama orang sibuk.
Mei Liena terkekeh di meja belajar, kemudian melanjutkan penelitian dengan darah Shi Yang dan membuat catatan. Memang sulit, itu sebabnya ia harus berlapang dada.
Hening sesaat. Tapi tiba-tiba insting Mei Liena berdering ketika seekor ular kecil mendekat di atas meja. Ular itu mendesis, Mei Liena mendengarkan mata-mata kecilnya itu.
Detik berikutnya, Mei Liena beranjak dari kursi hingga suata kursi yang bergeser membangunkan Xie Ruo. Shi Yang yang sedang memberi makan tikus uji coba bahkan terkejut.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu yang sangat penting. Yangyang, persepsimu lebih bagus dariku, bantu aku mencari giok yang susah payah aku curi dari sarang lebah darah."
Shi Yang tampak ragu. "Itu bukannya—"
"Aku terburu-buru. Jika tidak mengambilnya sekarang, aku harus mengambil darahmu lagi." Mei Liena menariknya sambil membawa botol porselen berisikan darah Shi Yang.
"Guru, aku pergi dulu." Shi Yang pamit pada Xie Ruo dan pergi mengikuti arah tarikan.
Xie Ruo mengibaskan tangan membebaskan mereka bertindak. Karena sekarang ruangan sudah sepi, ia bangkit dari kursi dan duduk di kursi Mei Liena untuk melihat racun apa saja yang dihasilkan Mei Liena sejauh ini.
Ia menggunakan tangan giok dan membuka satu per satu botol porselen yang terkumpul. Melihatnya dan mencium baunya. Rata-rata racun yang dibuat Mei Liena dibuat dari tanaman beracun yang diambil dari wilayah berbahaya. Rupanya anak itu memiliki kemampuan untuk mengambil semua bahan.
Dulu Xie Ruo bermain dengan bahan kimia, bahkan sampai meledakkan ruangan karena percobaan yang gagal. Seperti halnya di Menara Suci, ia meledakkan ruangan berkali-kali demi membuat senjata ledakan. Menara Suci mrmiliki mineral yang berlimpah, sayang jika tidak digunakan dengan baik.
Bicara tentang senjata, selama 10 tahun terakhir Xie Ruo telah membuat banyak senjata sendiri. Baik senjata tradisional maupun modern, yang dikombinasikan dengan sihir untuk bersanding dengan senjata dunia ini.
Tentunya, senjata itu untuk teman-temannya serta untuk dilelang dengan harga tinggi. Ia telah menjualnya ketika di Sekte Bayangan Malam, juga menyimpan sisa senjata yang lebih bagus untuk mainan dirinya sendiri.
Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas. Apa akibatnya jika pistol yang dapat membuat kepala seseorang meledak ditambahkan racun milik Mei Liena? Jika ledakan yang berasal dari peluru api dingin dapat menulari musuh lainnya dan menciptakan ledakan lain dengan satu tembakan, itu akan menjadi senjata massal mematikan!
Xie Ruo mencari racun yang sesuai dengan kriterianya kemudian mencampurkannya dengan racun lain untuk membuat racikan baru. Di dalam botol transparan, terdapat racun terbaru dengan campuran bahan yang menurutnya dapat membuat bencana, ditambahkan dengan cairan aluminium untuk menyatu dengan peluru lalu memanaskannya.
Ia telah membuat peluru terbaru dengan ledakan api dingin yang ekstrim. Prosesnya memang terlihat rumit, tapi menurutnya itu sangat mudah. Satu peluru kecil dengan ledakan beruntun, ia sangat ingin mencobanya.
"Jadi, Ruoruo sedang membuat senjata baru?"
Xie Ruo spontan berdiri dan menoleh ke belakang. Pinggangnya tertarik begitu saja ke dalam pelukan seseorang. Jika itu orang lain, Xie Ruo mungkin akan membuatnya merasakan peluru yang baru saja dibuat, mumpung tangannya memegang pistol beracun. Sayangnya, orang itu adalah Qu Xuanzi!
"Ternyata kamu. Nyaris saja aku melepaskan peluru." Tidak ada yang berani memeluknya secara tiba-tiba, kecuali Qu Xuanzi. Itu sebabnya ia berani melakukan kekerasan jika ada orang lain yang kurang ajar. Itu juga termasuk upaya penyelamatan dari botol cuka yang tiran.
"Sejak tadi kamu tidak ada, ternyata ada di sini."
"Kamu mencariku?"
"Aku tidak perlu mencarimu juga sudah tahu di mana kamu berada."
"Jadi kakek mencariku?" Xie Ruo menebak. Siapa lagi yang mencarinya tanpa mengunjungi langsung di kediaman ini? Sedangkan neneknya saja sibuk dengan Xiao Caihong.
Qu Xuanzi mengangguk pelan. "Besok kalian akan pergi ke Dunia Atas, tapi aku akan membawamu terlebih dahulu malam ini. Xie Wang mencarimu untuk meminta pendapat."
"Jika seperti itu, aku akan memilih pergi terlebih dahulu. Pada dasarnya, tidak ada yang perlu kusiapkan. Hanya mereka saja yang repot."
Xie Ruo masih tidak mengerti kenapa serepot itu. Belakangan ini klan selalu saja sibuk, padahal yang seharusnya repot adalah Dunia Atas.
Kemudian ia melihat pistol di tangan yang masih ia genggam. Sambil menyimpan pistol ke dalam cicin spasial, ia berkata, "Aku harus mencuci tanganku, ada sangat banyak racun."
Tapi Qu Xuanzi tidak membiarkannya pergi, malah mengeratkan tangannya yang melingkari pinggang Xie Ruo.
Xie Ruo menatapnya tidak setuju, kemudian menunjukkan kedua tangannya yang dilapisi tangan giok. "Meski tidak terlihat, ada banyak racun berbahaya di sini."
"Oh ya?" Qu Xuanzi meraih salah satu tangan Xie Ruo, kemudian mengecup punggung tangannya.
Hal itu membuat Xie Ruo terkejut. Apa otak Qu Xuanzi bermasalah belakangan ini? Ia buru-buru menarik tangannya dan menyembunyikannya di punggung.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika keracunan?" Meski Qu Xuanzi kuat, tapi bukankah tetap harus berhati-hati? Bagaimana bisa seceroboh itu?
Qu Xuanzi terkekeh. "Tidak ada racun yang bisa membunuhku, meski itu bisa membunuh dewa lainnya."
Xie Ruo mengerjap mata. Bagaimana ia bisa lupa kalau orang ini adalah monster di antara para dewa? Membuat panik saja.
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan." Xie Ruo mengalungkan kedua lengannya di leher Qu Xuanzi.
Xie Ruo tidak tahu apa yang ia pikirkan, tapi menatap mata sedalam itu membuat hatinya tergelitik. Sentuhan Qu Xuanzi membuatnya hangat, hangat sampai tanpa sadar merasa panas.
Salah satu tangan yang melingkari pinggang beralih ke tengkuk, mendekatkan wajahnya untuk mendapatkan bibir merah muda yang tampak dingin, membiarkan insting yang berjalan sesuai keinginan.
Tapi begitu celah terhapus, hanya satu langkah untuk mencapai hal dasar, tiba-tiba suara pintu yang terbuka menggakibatkan kesadaran mereka kembali ke dunia nyata.
"Ruoruo~" Zhong Xiaorong melongok di depan pintu yang terbuka, melambaikan tangan pada Xie Ruo.
Spontan Xie Ruo berlari ke arah Zhong Xiaorong yang tidak tahu waktu. Ketika wanita itu melihat Qu Xuanzi yang juga ada di dalam dengan raut gelap, Zhong Xiaorong tersenyum tanpa rasa bersalah. Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu kenapa wajah Qu Xuanzi menjadi gelap.
Zhong Xiaorong menyapa Qu Xuanzi. "Kakak Besar!" Kemudian berbisik pada Xie Ruo. "Kalian bertengkar?"
"Ada apa kau di sini?" Xie Ruo tidak peduli pada pemikiran Zhong Xiaorong dan langsung menanyakannya.
"Ketua Klan mengatakan kau akan pergi ke Dunia Atas malam ini, aku datang untuk memberitahu. Tapi sepertinya ...." Ia melirik Qu Xuanzi dengan hati-hati. Kemudian melanjutkan, "Kau sudah tahu terlebih dahulu."
"Aku sudah tahu."
"Bukankah berarti kedatanganku mengganggu?" Zhong Xiaorong cemberut. Tidak bisakah Xie Ruo sedikit lembut pada 'gadis kecil' sepertinya?
"Sebenarnya, kedatanganmu tidak sia-sia." Sebuah botol porselen melayang di udara dan jatuh ke tangannya. Ia memberikan botol itu pada Zhong Xiaorong. "Mei Liena sepertinya lupa membawa hal terpenting, kau antarkan padanya karena aku harus bertemu dengan Kakek."
"Apa ini?" Zhong Xiaorong ingin membuka, namun Xie Ruo langsung menahannya.
"Kau tidak ingin mati keracunan, 'kan?"
Zhong Xiaorong terkejut, lalu menggeleng cepat cepat. "Aku akan mengantarkan ini."
Xie Ruo tersenyum, kemudian berbalik melihat Qu Xuanzi yang bersandar di dinding. "Seperti yang kau katakan, Kakek memanggilku."
Qu Xuanzi menghela napas. Padahal tinggal sedikit lagi, tapi wanita berwajah tebal itu mengganggunya sehingga Xie Ruo memiliki alasan bertemu Xie Wang.
Mau tidak mau, Qu Xuanzi berjalan berdampingan dengan Xie Ruo ke arah ruangan Xie Wang. Zhong Xiaorong hanya melihat, agak terkejut dengan tatapan dingin Qu Xuanzi yang membuatnya membeku.
Zhong Xiaorong baru sadar, sepertinya ia melakukan kesalahan. Melihat lagi ke arah botol porselen berisikan racun, ia mulai berpikir, apa Xie Ruo sedang mengingatkannya? Bulu kuduknya berdiri semua selagi ia pergi menjauhi pasangan mengerikan itu.
Xie Ruo pergi menemui Xie Wang yang lagi-lagi bersikap heboh seolah ia akan pergi untuk selama-lamanya.
Sedangkan Su Liu'er, sepertinya wanita paruh baya itu lebih menyukai Xiao Caihong daripada cucunya sendiri. Ia merelakan Xie Ruo pergi karena hanya sementara, tapi menahan Xiao Caihong agar tidak ikut Xie Ruo dan membujuknya setengah mati. Bahkan Xie Wang mulai ikut-ikutan setelah merelakan Xie Ruo.
Xie Ruo jadi ragu. Apa sebenarnya Xiao Caihong adalah cucu mereka yang tidak diketahui keberadaannya? Bagaimana dengan Xie Ruo?
"Baik, aku dianaktirikan." Xie Ruo cemberut, melihat Xiao Caihong dengan iri.
"Sepertinya, nenek dan kakekmu terburu-buru memiliki cicit." Qu Xuanzi tersenyum menatap Xie Ruo.
Xie Ruo mencibir, melihat ke arah nenek dan kakeknya yang mulai mengabaikannya demi seorang bocah. "Kalau suka anak kecil kenapa tidak bikin saja sendiri? Kalau perlu pungut bocah di jalan lebih banyak."
Qu Xuanzi tidak tahu bagaimana menjelaskan maksudnya. Sepertinya suasana hati Xie Ruo benar-benar buruk sampai tidak bisa diajak bicara dengan benar. Semuanya dikaitkan dengan emosi.
"Sebelum pergi, apa kamu tidak ingin mengisi perut?"
"Kau ingin memasak?" Xie Ruo baru nyambung jika membicarakan makanan.
Qu Xuanzi tertawa dalam hatinya melihat reaksi Xie Ruo, kemudian mengangguk. "Aku yang masak."
"Pas sekali, aku masih sangat lapar. Pei Xi membawa makanan terlalu sedikit, tidak sesuai porsi setiap harinya." Mendadak suasana hati Xie Ruo membaik setelah memikirkan makanan. "Ayo kita ke dapur!"
Xie Ruo menarik Qu Xuanzi pergi ke arah dapur kediaman. Ia merasa sangat lapar sekarang, pantas saja selalu emosi dan tidak peka. Padahal baru saja ia menghabiskan camilan kering kesukaan Mei Liena sampai wanita itu harus meratapi kepergian sang camilan karena seorang teman yang rakus.
Sebenarnya, bukannya Xie Ruo benar-benar tidak peka. Ia hanya mengalihkan topik karena tidak ingin terjebak dalam jebakan licik Qu Xuanzi. Tidak semudah itu menjebaknya dalam kata-kata.
Setelah menikmati hidangan khas restoran bintang lima sendirian, mereka pergi ke Dunia Atas di malam hari.
Xie Ruo tidak menggunakan sedikit pun kekuatan, Qu Xuanzi yang mengangkatnya langsung dan terbang mencapai tujuan.