
Di dunia liontin, Xie Ran merenung di pinggir sungai mendengarkan derasan air terjun. Tidak ada ekspresi di wajahnya yang melihat pencerminan di air, hanya ada kekosongan.
Hatinya penuh keganjalan dan kegelisahan. Ia menggigit bawah bibirnya dan memejamkan mata kala mengingat beberapa memori yang sangat ingin ia lupakan.
"Kau sudah memenangkan pertandingan, kenapa harus murung?"
Sosok Pria tinggi muncul di pencerminan air berdiri di belakangnya. Xie Ran menoleh sekilas dan menggeleng sambil melihat kembali ke arah air. "Hanya mengingat satu hal," katanya.
Qu Xuanzi duduk di sebelahnya, melihat Xie Ran yang murung. "Katakan jika itu membuatmu membaik."
Xie Ran menoleh ke arah Qu Xuanzi. "Apa boleh?"
Qu Xuanzi mengangguk pelan. Dia merasa Xie Ran selalu kesepian dan membutuhkan seseorang untuk bersandar ketika terpuruk. Namun Xie Ran tidak pernah mempercayai siapa pun di dunia ini karena masa lalunya. Ia sangat paham perasaan itu.
Xie Ran menghela napas menenangkan hatinya dan menunduk kembali. "Saat kematian Kakak Yao dan Liu Ya, mereka bersama pelayan lain dibakar dalam tumpukan mayat dan memaksaku melihatnya. Aku hanya diam, bahkan tidak bisa menangis ... aku sudah melupakannya ... tapi bajingan itu membuatku mengingatnya," lirihnya kemudian terkekeh. "Untungnya ilusi mimpi buruk tidak mengulangnya."
Xie Ran benar-benar kosong saat melihat kobaran api yang melahap orang terdekatnya. Dia terlalu takut hal itu terulang pada teman-temanya dan mencoba mengeraskan hati.
Bisa dibilang, Liu Ya dan Xie Yao adalah kakak pertamanya yang benar-benar ia anggap kakak. Semuanya menghilang dalam satu malam. Awalnya Xie Ran ingin mengubur dua orang itu dan membuatkan papan kematian, tapi mereka terlalu kejam membakar keduanya tepat di depan mata Xie Ran dan menghancurkan segala tentang mereka.
"Bukan hal itu saja. Aku baru ingat bagaimana orang tua angkatku mati. Bodohnya, saat itu aku tidak mengenal mereka sebagai orang tua melainkan rekan kerja. Sang Yu, mati karena mengambil alih ledakan dan terbakar, bahkan mayatnya tidak ditemukan. Jane tertembak menggantikanku. Aku ... membuat mereka mati."
Xie Ran sudah bergetar mengingatnya. Pantas saja saat itu dia sempat menangis tapi tidak tahu alasannya. Sekarang dia mengerti, bahwa mereka orang tua yang membesarkannya tapi telah ia lupakan.
"Jane mengatakan bahwa aku harus bahagia sebelum kematiannya. Tapi tidak bisa. Aku memang ditakdirkan kesepian. Bahkan di kehidupan ini ... segalanya hilang." Xie Ran tidak ingin membayangkan siapa lagi yang akan pergi. Itu sebabnya dia selalu menolak kehadiran siapa pun di sisinya karena kehidupannya yang berbahaya. Dia tidak ingin membahayakan siapa pun. Dia tidak ingin segalanya terulang.
"Kamu tidak sendiri," ujar Qu Xuanzi membuat Xie Ran menoleh. "Ada aku. Meski teman-temanmu meninggalkanmu, aku tetap bersamamu."
"Apa itu sebuah janji?" Xie Ran ingin tertawa dalam hatinya. Mana ada seseorang yang akan tetap di sisinya dengan selamat? Untuk saat ini, Qu Xuanzi memang selalu di sisinya. Tapi sampai kapan? Setelah pria itu terbebas dari segel, Xie Ran juga akan sendiri lagi. Dua Naga dan Xiao Caihong juga akan pergi ke tempat asal mengambil posisi.
"Bisa dibilang begitu."
"Aku anggap begitu." Setidaknya untuk saat ini. Xie Ran tidak bisa berharap lebih. Meski dia ingin, tapi dia tidak bisa melakukannya. Meski dia selalu mengatakan menyukai kesepian dan kesunyian, itu hanya untuk menghibur dirinya sendiri.
"Jika ada sesuatu yang tidak bisa dikatakan pada orang lain, katakan padaku. Lampiaskan emosimu agar membaik. Jika menahannya dan membohongi dirimu sendiri, kau akan semakin terluka." Qu Xuanzi tidak ingin Xie Ran terus terkena tekanan mental seumur hidupnya.
Qu Xuanzi tahu, Xie Ran hanya menghibur diri sendiri dengan berbagai omong kosong itu. Ia tahu hal itu karena pernah merasakannya dulu. Sendirian dan kesepian, dia melampiaskannya dengan melakukan kegiatan lain atau bahkan membunuh. Tangannya penuh darah, terperangkap di sini adalah karma untuknya.
Sedangkan Xie Ran masih terdiam menatap aliran air dan pencerminannya dengan Qu Xuanzi. Apa dia boleh berharap lagi? Setidaknya untuk sekali saja. Berharap bahwa dia adalah manusia, bukan alat. Berharap bahwa dia bukan Isabella atau Sang Ran yang dipenuhi kegelapan dan kesuraman. Berharap dia tidak sendiri dan kesepian.
Tapi segala trauma itu bagai celah curam yang menghalanginya. Xie Ran gelisah, tapi tidak bisa mengatakannya. Meski Qu Xuanzi bersedia mendengarkan serta memberi bahu untuknya, Xie Ran tetap ragu.
Tiba-tiba tangannya terasa hangat akan sentuhan seseorang. Ia melihat Qu Xuanzi menggenggam tangannya dengan tatapan hangat. Apa itu benar dia? Qu Xuanzi?
"Kamu mengerti? Lampiaskan padaku." Qu Xuanzi mengulang kalimatnya meyakinkan Xie Ran untuk lebih mempercayainya.
Xie Ran hanya menatapnya. Mata jernihnya mengandung air yang tertahan sedangkan tangannya mencengkram roknya dan yang satunya menggenggam tangan Qu Xuanzi semakin erat.
Setidaknya sekali, Xie Ran tidak akan tertekan. Dia menginginkan satu kesempatan. Meski sulit mengatakannya dan hatinya terasa berat, dia bisa setidaknya untuk hari ini bertindak egois. Hanya hari ini.
Xie Ran memeluk Qu Xuanzi dan memendamkan wajahnya merasa malu. Tapi dia juga tidak bisa menahan air matanya lagi sehingga air mata membasahi pakaian Qu Xuanzi. Pelukannya semakin erat disertai tubuhnya yang bergetar karena isak tangisan.
Qu Xuanzi mengusap rambut Xie Ran dengan lembut. Gadis ini sudah sangat tersiksa selama lebih dari 30 tahun di dua kehidupan.
Melihat Xie Ran, membuatnya teringat pada seseorang ribuan tahun yang lalu ketika masih kecil. Seorang wanita yang berbeda dari yang lainnya, sangat kontras diantara ras di dunianya.
Ia tinggal di tempat yang ditakuti seluruh ras, namun baginya itu bukan hal yang harus ditakuti. Tempat bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan hati seseorang yang buta dan penuh kegelapan.
Sedangkan wanita itu berbeda. Terlihat keras hati namun sebenarnya rapuh. Wanita itu pernah menangis di depannya, namun segera wanita itu berubah menjadi lebih lembut ketika menyambutnya untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Padahal Qu Xuanzi yakin sering mendengar wanita itu menangis sendirian karena berbagai sebab, kemudian seorang pria menenangkannya.
Sedangkan Qu Xuanzi hanya bisa melihat dari jauh tidak mengetahui sebab wanita itu menangis.
Qu Xuanzi kecil mendongak dan menggeleng. "Ada sesuatu?"
"Raja Ye ingin bertemu dengan Anda. Beliau sudah menunggu sejak tadi."
Qu Xuanzi mengangguk singkat. "Aku tahu." Ia pun mengikuti arah pria itu pergi. Sesekali ia menoleh ke belakang di mana pintu besar itu berada.
Qu Xuanzi saat itu berbeda dengan ribuan tahu yang akan datang. Rambutnya perak dan ia tidak sedingin ribuan tahun yang akan datang. Sayangnya, tahun itu adalah tahun terakhir ia bersikap seperti seorang anak baik dengan keluarga yang lengkap.
Andai ia tahu penyebab wanita itu menangis. Ia tidak akan tetap bersantai sebagaimana seorang anak patuh yang terus dialihkan oleh banyak orang. Ia bahkan tidak sempat bertemu dengan wanita itu, dan hanya melihatnya sekilas ketika hendak tidur.
Namun ketika ia bangun, semuanya telah berakhir. Seseorang yang ia kenal berkhianat dan menikam wanita itu tepat di depan matanya. Sedangkan Sang Pria telah tiada lebih awal.
Wanita itu melihatnya dari kejauhan, disertai air mata yang menitik dan membisikkan sesuatu dari jauh.
"Lari ..." bisiknya dan tergeletak lemas bersimbah darah.
Qu Xuanzi jelas terkejut. Meski ia telah melihat banyak kematian, ia tetap terkejut melihat kematian orangtuanya sendiri. Ia marah, hampir bertindak implusif jika seseorang tidak menariknya, membawanya pergi secara paksa.
Qu Xuanzi melawan. Meski ia masih kecil kurang dari 10 tahun, ia masih bisa melakukan bela diri dasar dan cukup kuat karena konstitusi istimewanya. Ia bahkan sudah dapat menggunakan pedang untuk melawan orang yang menariknya.
"Yang Mulia, jangan gegabah. Hamba harus membawamu ke tempat aman, Anda harus bersembunyi."
"Tidak!"
Qu Xuanzi menolak, ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi saking terkejutnya. Ia terus menolak pergi, tidak ingin menjadi pengecut yang terus bersembunyi sedangkan rumahnya dihancurkan.
"Akan ada saatnya membalas. Untuk saat ini, Yang Mulia harus hidup dengan baik." Pria itu mencoba mendekati Qu Xuanzi yang masih menyodorkan pedang. Qu Xuanzi mundur, tahu tidak bisa melawan orang yang lebih dewasa karena perbedaan kekuatan, tapi dia tidak menyerah.
Ketika tengah mundur, seseorang memukul tengkuknya dari belakang hingga tubuhnya oleng. Ia melihat orang lain menangkapnya dan menggendong tubuhnya yang kecil.
"Maafkan kami, Yang Mulia."
Qu Xuanzi pingsan saat itu juga. Ia tidak tahu apa lagi yang terjadi setelah hari itu. Ketika bangun, segalanya sudah dipenuhi kegelapan. Ia sendirian, tinggal di kegelapan tanpa siapa pun.
Semua orang di sisinya mati melindunginya ketika ia tinggal dalam kegelapan tanpa seorang pun yang mengetahui apa dia masih hidup atau tidak. Ia tinggal dalam kesunyian, ketakutan, kebencian dan dendam. Ia bahkan tidak berinteraksi dengan apa pun hingga hampir melupakan bagaimana caranya bicara.
Sampai akhirnya seorang pria tua menjemputnya, membawanya ke tempat penuh cahaya. Namun meski penuh cahaya, ia tetap abu-abu. Tidak ada yang menerima identitasnya dengan mudah, seolah ia adalah momok besar yang harus disingkirkan.
"Xiao Zi, mulai sekarang, tempat ini adalah rumahmu. Tinggalkan masa lalu, hidup dengan baik. Perlahan, semua orang akan menerimamu dan membutuhkanmu. Aku dan mereka yang berkorban akan sangat senang, bila kamu juga senang."
Qu Xuanzi menatapnya tanpa ekspresi dan memandang tempat barunya yang jauh lebih indah dibandingkan rumahnya dulu. Meski jauh lebih indah dan nyaman, tidak ada perasaan apa pun di hatinya, hanya ada kekosongan.
Ia sendirian bagai dalam sangkar emas ditemani buku dan segala hal yang berguna baginya. Ia masih menyimpan dendam dalam hati yang selama ini terpendam. Ia tidak bisa melupakan masa lalu yang membuat iblis hatinya berkembang menjadi mengerikan.
Semua orang tahu siapa itu Qu Xuanzi. Namun ketika beranjak remaja, semua orang melupakan namanya, hanya mengetahui julukannya yang beragam. Kekuatannya dapat mengguncang dunia setelah membangkitkan kekuatan bawaannya berkat bantuan pria tua yang ia sebut Guru.
Karena emosi sesaat akan provokasi seseorang ketika mencegah penyusup, ia pergi ke kampung halamannya yang kini diduduki pengkhianat selama bertahun-tahun. Ia membunuh semuanya tanpa ampun, tidak peduli dengan peringatan gurunya dan membuatnya menjadi haus darah. Pada saat itu, semua orang takut padanya. Ia dikenal oleh seluruh ras dan menjadi sosok paling ditakuti di tiga dunia.
Bahkan ia tidak ragu membunuh siapa pun yang tidak ia sukai. Jika seseorang mencari masalah padanya, ia menghabisi orang itu sampai akar dan seluruh keturunannya agar tidak lagi mencari masalah padanya. Ia melakukannya tanpa berkedip.
Julukannya telah menyebar dengan cepat. Tidak ada yang berani mendekati, apalagi memprovokasinya. Selama ini, hanya gurunya saja yang berkunjung sampai ribuan tahun lamanya.
Tidak tahan akan emosi yang terus mengganggu, Qu Xuanzi memilih menutup diri bertahun-tahun. Meski ia kejam dan tidak berperasaan, kadang ia teringat sesuatu yang membuatnya merasa bersalah. Ribuan darah tidak bersalah berbekas di tangannya, ia menjadi semakin terganggu dan menjadi emosional setiap saat.
Gurunya memberi solusi agar Qu Xuanzi tidak terus terganggu, sekaligus mewarisi sesuatu. Qu Xuanzi mengasingkan diri bersama gurunya ke tempat terpencil, jauh dari lingkup orang-orang. Melalui beberapa penderitaan untuk melepas iblis hatinya. Sesudahnya ia menjadi Qu Xuanzi yang saat ini dikenal. Bukan Qu Xuanzi yang haus darah, melainkan Qu Xuanzi yang penyendiri.
Namun suatu hari ia membuat kesalahan fatal menyebabkan kerusakan dunia. Ia memperbaikinya, menebus segalanya dan menyegel diri sendiri di dalam liontin. Ia tertidur selama ratusan tahun lamanya .....