
Kemunculan Qu Xuanzi dalam bentuk Asura begitu mengguncang. Bahkan auranya telah sampai di akademi membuat para murid berkumpul di tepi danau untuk melihat awan gelap serta petir yang memenuhi pagoda.
Mereka tak terkecuali merasakan niat membunuh dan amarah yang dalam. Seolah Dewa Pembunuh dan Dewa Kematian ada di depan mata. Mereka bahkan bergetar meski tidak melihat langsung.
Kondisi pulau jauh lebih buruk. Semua orang ketakutan dan berkeringat dingin terutama para iblis yang merasa kehidupan mereka akan berakhir hari ini. Tak terkecuali Pei Xi dan yang lainnya meski mengenal Qu Xuanzi yang merupakan teman Xie Ran.
"Itu bukankah Tuan Muda Qu?" Zhong Xiaorong tidak msnyembunyikan betapa takutnya ia. Untung saja ia tidak menyinggung pria bahaya itu atau nyawanya akan berakhir hari ini.
"Ya, itu dia." Pei Xi memiliki raut rumit sekarang. Ia juga takut akan kekuatan Qu Xuanzi dan merasa seperti semut yang mudah dihancurkan. Ia bahkan lebih lemah dari sekedar semut.
"Aku takut ... dia akan menghancurkan tempat ini." Mei Liena menggenggam erat tangan Zhong Xiaorong saking takutnya. Biasanya seseorang yang penuh amarah dan niat membunuh seperti itu tidak mengenal kawan ataupun lawan.
Pemikiran Mei Liena benar adanya. Begitu Qu Xuanzi melihat para Iblis itu, hanya dengan satu tebasan tangannya, para Iblis terhempas begitu jauh dan terbelah begitu saja. Ratusan Iblis yang menyerang telah mati tanpa kecuali dan menjadi abu.
Iblis lainnya yang tersisa segera berhamburan pergi ke arah portal. Namun portal hancur berkeping-keping begitu Qu Xuanzi mengepalkan tangannya menyebabkan para Iblis di udara berhamburan jatuh dan terluka.
Suara menyedihkan terdengar bagai iringan lagu. Ratusan Iblis mati tanpa sisa, kelompok penyerbu itu juga terkena akibatnya bersamaan dengan Iblis walau sudah berusaha kabur dan bersembunyi.
Pulau dipenuhi darah merah dan hitam. Setelah portal hancur, para Iblis itu tidak memiliki kesempatan bangkit kembali di portal dan mati begitu saja bersimbah darah hitam.
Beberapa orang memasang formasi pertahanan, namun itu dengan mudahnya hancur seperti kaca rapuh. Beberapa formasi telah hancur juga orang-orang yang mati akibat serangan besar. Pulau itu menjadi tempat pemakaman ratusan Iblis dan Manusia serakah yang menginginkan tubuh murni.
Berpikir bahwa Qu Xuanzi akan membuat pengecualian untuk beberapa orang di pulau, itu salah besar. Bahkan dekan departemen tempa terluka berat akibat efek serangan Qu Xuanzi.
Xie Ran yang selalu memperhatikan orang-orang terdekatnya sejauh ini terkejut. Bahkan teman-temannya ikut terluka karena efek serangan sehingga membuatnya harus ikut campur.
Ann Rou ingin menghentikan Xie Ran karena Qu Xuanzi dalam mode berbahaya, namun Xie Ran langsung menekan titik akupunturnya hingga wanita itu tidak bisa bergerak. Ia tidak peduli pada nyawanya asal bisa menyelamatkan teman-temannya.
"Nona Xie, Yang Mulia dalam keadaan tidak terkendali, kamu jangan mendekatinya untuk saat ini! Di sana berbahaya!" Ann Rou berteriak dan wajahnya semakin pucat.
Bahkan ketiga Naga di bekakangnya tidak bisa melakukan apa pun, hanya melihat dengan tubuh gemetar. Ketika mereka ingin maju menghentikan Xie Ran, Xie Ran menatap mereka dingin penuh ancaman.
"Master ...."
"Jika kalian menghentikanku, selamanya aku akan menjadi musuh kalian." Xie Ran bukan sekedar mengancam. Ia bersungguh-sungguh mengatakannya, bahkan ia tidak akan ragu mengatakan itu pada Qu Xuanzi.
Amarah Qu Xuanzi tidak kian mereda. Ia justru tampak lebih mengerikan dan pedangnya dipenuhi darah. Tumpukan mayat-mayat di kakinya berserakan menambah aura kejamnya yang tak berperasaan. Sudah lama ia tidak marah seperti ini selama ribuan tahun lamanya. Bahkan ia tidak pernah semarah ini.
Melihat sisa manusia yang masih hidup seperti orang Istana Lingyue serta dekan dan keenam muridnya, ia seolah tidak mengenal mereka lagi dan menatap mereka sama seperti para korban lainnya. Tidak ada yang bisa lepas dari genggamannya selama ini. Jika tidak mati, maka hidup dengan tidak layak sampai berharap ingin mati.
Ia mengangkat pedang berdarahnya beserta kekuatannya yang gelap dan pekat membuat siapa pun pasrah akan kematian. Begitu tangannya akan berayun menggerakkan pedang untuk membunuh mereka semua, seseorang muncul merentangkan tangan di depannya seakan menghalanginya.
Qu Xuanzi otomatis berhenti, melihat Xie Ran yang menghalanginya dan terlihat cukup takut dan memaksakan diri untuk berani. Bahkan tubuh Xie Ran sudah bergetar dan tatapannya begitu tegas.
"Jika kau melanjutkannya, maka bunuh aku juga. Atau aku akan menjadi musuhmu selamanya." Xie Ran berkata dengan tegas meski sedikit gemetar.
"Xie Ran—"
"Bunuh aku!"
Qu Xuanzi terdiam dan kembali ke kesadarannya. Melihat Xie Ran begitu marah sampai mengancamnya, ia merasa bersalah dan menurunkan pedangnya. Niat membunuhnya mereda membuat semua orang menghela napas lega.
Xie Ran menurunkan tangannya dan mendekati Qu Xuanzi perlahan. Meski mereka yang melihatnya merasa gelisah ketika Xie Ran mendekati Qu Xuanzi, Xie Ran tidak merasa gelisah atau takut lagi dan memeluk Qu Xuanzi.
"Sudah berakhir ... dia sudah mati ... mereka sudah mati."
Qu Xuanzi memeluk Xie Ran lebih erat dan membisikinya, "Maaf."
"Jangan seperti itu lagi ... kau ... membuatku takut." Xie Ran sudah terlalu lelah hingga suaranya melemah.
Ia sudah menggunakan tenaga terakhir untuk berteleportasi dan menghentikan Qu Xuanzi. Ia senang dapat menyelamatkan teman-temannya. Andai ia juga bisa menyelamatkan keluarganya saat itu.
Qu Xuanzi mengangguk patuh. "Tidak ada yang kedua kalinya."
"Bagus ...." Xie Ran akhirnya bisa lega. Kejadian tadi membuatnya sangat terkejut dan takut. Ia begitu lelah sekarang. "Aku lelah ... aku ingin tidur dulu."
"Tidurlah." Ia mengecup puncak kepala Xie Ran yang telah menutup mata di pelukannya. Tatapannya penuh kasih sayang, namun ketika melihat ke arah teman-teman Xie Ran terutama Pei Xi, ia menjadi dingin.
"Cepat sekali berubahnya." Tanpa sadar Mei Liena bergumam membuat Zhong Xiaorong menyikutnya. Apa gadis ini sedang menyerahkan nyawa?
Sedangkan Pei Xi hanya diam melihat Qu Xuanzi yang menatapnya seolah mengatakan "Xie Ran hanya milikku, kau akan kehilangan kepala jika merebutnya". Jadi pria itu hanya bisa menghela napas. Yang penting Xie Ran bahagia, ia akan tenang.
Qu Xuanzi dan Xie Ran pergi begitu saja. Qu Xuanzi membawa Xie Ran yang sekarat dengan kecepatan tinggi di langit hingga tidak lagi terlihat hanya dalam beberapa detik.
Mereka yang awalnya termenung, tersadar kembali dan melihat ke arah tiga naga dan Ann Rou yang baru saja membuka titik akupunturnya. Keempat makhluk itu terbang begitu saja meninggalkan mereka tanpa berkata apa pun.
Sekarang hanya ada beberapa orang, dekan, dan keenam muridnya. Mereka saling pandang dan melihat pulau yang kacau dengan miris terutama ketiga dekan.
Pak tua dari Istana Lingyue dalam keadaan terluka berat mengepalkan tinjunya kesal. Anak dan keponakan di sisinya yang juga terluka hanya bisa diam tanpa mengatakan apa pun saking terkejutnya. Jika tidak ada Xie Ran, mereka tidak akan selamat hari ini. Tapi karena Xie Ran juga, mereka nyaris saja mati. Itulah yang ada dipikiran mereka sebelum akhirnya pergi menggunakan monster terbang yang tersisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bao Jun mati?"
Seorang pria menerima kabar dari bawahannya yang telah memeriksa kondisi Akademi Tianshang beberapa jam yang lalu.
Keberadaan mengenai tubuh murni menyebabkan kekacauan besar di berbagai wilayah. Kabar tentang serangan Iblis dan munculnya sosok pria misterius yang menyelamatkan pemilik tubuh murni sampai membunuh orang-orang yang ingin membawa pemilik tubuh murni tersebar begitu cepat.
Hanya berita itu yang mereka ketahui. Pemilik tubuh murni masih menjadi misteri, mereka hanya tahu orang itu adalah seorang gadis lulusan Akademi Tianshang. Detailnya terlalu disembunyikan terutama oleh pihak Istana Lingyue dan Akademi Tianshang. Tidak ada yang berani menanyai identitasnya lagi.
Karena mereka berpikir pemilik tubuh murni itu memiliki seseorang di belakangnya yang begitu kuat dan dapat membunuh ratusan iblis serta para penyerbu di Akademi Tianshang, mereka tidak berani mencari lagi walau hanya ingin merekrutnya menjadi murid.
Mereka berpikir bahwa gadis itu sudah berada di kelompok tertentu yang sangat kuat sehingga tidak boleh disinggung. Mereka harus belajar dari pengalaman para korban.
Pria itu mengenakan jubahnya dan berjalan ke arah pintu, melihat pemandangan kota yang begitu ramai dari balkon kediaman tuan kota. "Sepertinya 'dia' yang melakukannya. Bao Jun yang malang."
Ia menuliskan sesuatu di sebuah kertas kemudian memberikan itu pada bawahannya yang menunduk di belakang.
"Berikan itu pada Huai Mao. Dia akan sangat senang dan memberimu hadiah." Pria tampan itu tersenyum jahat.
"Baik, Tuan Kota Di."