The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
59. Kota Ye



Di bawah langit gelap dipenuhi bintang, Xie Ran berada di sisi api unggun dalam lamunan sambil memainkan percikan api melalui ranting kayu. Semua orang telah tertidur, hanya ia yang terjaga.


Kemudian, seekor kucing putih muncul dan melompat ke pangkuannya. Kucing seputih salju dengan tiga ekor yang indah.


"Kau tersesat?" Xie Ran mengangkat kucing tersebut dan melihat mata biru bundarnya. Mata jernihnya seperti Xiao Caihong.


Mengingat Xiao Caihong, ular itu masih di lengan Xie Ran sebagai gelang. Biasanya hewan manapun akan takut ketika merasakan kehadiran ular kecil satu itu. Tapi entah kenapa kucing ini berbeda.


"Apa kau hewan spiritual tingkat tinggi? Bahkan tidak takut dengan ular kecil di tubuhku." Xie Ran mengusap bulu kucing itu yang begitu lembut di tangannya.


Asik mengusap bulu putih tersebut, sampai tidak menyadari kehadiran Qu Xuanzi yang berdiri di belakangnya melihat kucing tersebut dengan mata menyipit.


"Kau sangat menyukai Ann Rou."


Xie Ran sedikit tersentak dan menoleh. "Ann Rou?" Ia mengedarkan pandangan ke segala arah berniat melihat wanita menyebalkan itu, tapi tidak ada siapapun di sini. "Di mana?"


"Di tanganmu."


Xie Ran baru menyadarinya. Ia melihat kucing lucu yang memiliki mata bundar berair dan sangat imut. Apa kucing ini benar-benar jelmaan wanita kasar itu? Mustahil!


Tapi setelah dipikirkan kembali, itu mungkin saja terjadi karena kucing itu sama sekali tidak takut pada Xiao Caihong.


Xie Ran berdiri dan mengangkatnya sejajar dengan kepala menatapnya dengan mata menyipit sinis. "Kau menipuku!"


Mata besar kucing itu semakin berkaca-kaca meminta belas kasihan, namun setelah menyadari Xie Ran tak tersentuh, ia menunduk menjadi kucing lemas yang menggantung di tangan Xie Ran.


"Aku akan pergi sekarang, kau jaga diri baik-baik."


Ucapan Qu Xuanzi membuat Xie Ran mengalihkan pandangan dari kucing lemas itu. Xie Ran hampir lupa kalau Qu Xuanzi akan pergi. Tapi bukankah besok? Lupakan, Xie Ran tidak masalah apa itu sekarang besok lusa atau bulan depan.


"Hanya mengikuti turnamen, tidak akan ada yang terjadi."


"Aku mungkin akan kembali setelah turnamen, atau bahkan lebih lama. Tentang pagoda...."


"Aku akan menanganinya. Ada Ann Rou, Long Huo, dan Long Yun, aku juga tidak lemah." Ia bersikukuh ingin menyelesaikan lebih cepat. Kemudian, ia menyadari sesuatu dan menatap Qu Xuanzi dengan mengejek. "Apa kau mengkhawatirkanku?"


Pria itu mengetuk dahi Xie Ran pelan. "Mengalihkan topik."


"Aku tidak mengalihkan topik," bela Xie Ran bersedekap dada kesal karena dahinya diketuk. "Menyebalkan, pergi sana! Jangan kembali!" usirnya mengibaskan tangan dengan kesal dan membuang wajah. Kaisar Langit apanya? Pria itu hanya pengganggu berkedok pria dingin dan agung.


Qu Xuanzi tetap terlihat datar, namun terdapat senyum yang nyaris tidak terlihat. Ia mengusap lembut kepala Xie Ran dan berkata, "Aku akan kembali."


Xie Ran hanya meliriknya sekilas dan acuh tak acuh lagi. Suasana hati pria itu sepertinya sedang baik. Xie Ran dapat melihatnya dengan jelas meski wajah itu tetap kaku.


Xie Ran tidak ingin peduli lagi selagi Qu Xuanzi pergi menjauh. Lagipula ia akan kembali lagi ke Dunia Liontin untuk memulihkan keadaan.


Setelah beberapa saat setelah Qu Xuanzi menghilang dalam cahaya emas samar, Xie Ran menoleh ke arah kepergiannya. Wajah kesalnya luntur dan menghela napas.


"Kau menang. Cepatlah kembali."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih sebulan sebelum acara resmi di mulai. Kota Ye berada di Kabupaten Tai Ah dan cukup jauh di Barat. Kota ini merupakan kota yang penuh dengan kultivator jenius, sama seperti Tianshang.


Lokasi turnamen selalu berubah tiap tahunnya berdasarkan kesepakatan Tuan Kota dan Kepala Akademi masing-masing. Tahun lalu Akademi Tianshang menjadi tuan rumah turnamen dan menjadi acara turnamen termeriah sepanjang masa.


Tahun ini berada di Kota Ye, kota apoteker yang maju dan sangat dipandang Kekaisaran Zhongbu. Mei Liena juga berasal dari kota ini, hanya saja berada di keluarga obat yang lebih rendah meski memiliki masa keemasan di zamannya.


Gerbang kota besar yang dikeliling beton dipenuhi oleh gerombolan kereta kuda dan lautan manusia yang berbondong-bondong memasuki kota. Mereka berbaris dan di data sampai antrian cukup panjang meski sudah melalui pintu lain. Kota Ye kali ini akan sangat padat.


Begitu giliran rombongan Akademi Tianshang masuk, mereka disambut baik oleh para rakyat dan pejabat daerah Kota Ye. Akademi Tianshang merupakan akademi terkuat dan terhormat, bahkan sampai Tuan Kota sendiri yang menyambutnya.


Xie Ran dan kawan-kawan hanya berdiri diam di tempat melihat sambutan Tuan Kota Ye pada 4 dekan.


Singkatnya, Akademi Tianshang mendapat perlakuan istimewa sebagai tamu terhormat sekaligus pemenang turnamen tahun lalu. Mereka menyediakan fasilitas terbaik dan penginapan terbaik untuk rombongan tersebut sebagai bentuk penghormatan.


Apalagi setelah mendengar bahwa Putri Kesembilan yang terkenal itu ikut menjadi peserta Turnamen. Mereka langsung berbondong-bondong menyapanya terutama para pria yang menginginkan gelar dari kekaisaran dengan menikahi Putri tertentu.


Ketujuh orang itu hanya tertegun melihatnya. Bukankah perlakuan ini terlalu istimewa? Andai mereka tahu bahwa Zhong Xiaorong telah ditunangkan sejak dalam kandungan. Entah bagaimana ekspresi mereka.


"Yan Yao, apa kau tidak merasakan sesuatu?" Zhou Kui berniat mengejek.


"Apa?"


Liu Chang berdecak sebal. "Dia tunanganmu tapi didekati banyak pria. Apa kau tidak kesal?"


Yan Yao menggedikkan bahu. "Dia bisa menanganinya sendiri." Ia tahu betul siapa itu Zhong Xiaorong. Putri itu selalu menghajar siapapun yang mengganggunya bahkan dirinya sendiri.


Sedangkan Xie Ran dan Mei Liena tidak bisa membantu, hanya bisa membantu menghabiskan makanan ringan di tangan Mei Liena selagi orang-orang itu mendekati sang putri. Sebenarnya bukan hanya mendekati sang putri, banyak wanita yang merasa terbang ketika melihat wajah tampan Pei Xi, Zhou Kui, Yan Yao, dan Liu Chang.


Pada akhrinya, Zhong Xiaorong yang awalnya berdiri di depan menyusut ke paling belakang di mana Xie Ran dan Mei Liena berada. Ia sesak melihat orang-orang aneh itu.


"Kalian sangat nyaman di sini." Zhong Xiaorong mengeluh. Ia merebut makanan di tangan Mei Liena dan memakannya sendiri mengabaikan protes Mei Liena.


"Akan lebih baik jika kita langsung ke penginapan daripada menunggu yang lain. Dekan juga tidak melarang," ujar Pei Xi membuat Zhong Xiaorong sangat berterima kasih.


"Baik." Mei Liena setuju-setuju saja lalu menarik dua gadis itu mengikuti arah Pei Xi pergi.


"Aku ada hal lain, kalian bisa pergi terlebih dahulu." Xie Ran menghentikan langkah dan berbalik pergi ke arah lain tanpa menunggu jawaban teman-temannya. Mereka hanya bisa melihat kepergian Xie Ran dan menghela napas sambil melanjutkan langkah ke penginapan.


Xie Ran bukan tanpa alasan pergi meninggalkan teman-temannya. Ia melihat pergerakan Bao Jun — Dekan Departemen Sihir — pergi dengan Tang Zhi ke suatu tempat.


Sepertinya memang benar, Tang Zhi salah satu dari mereka. Tapi kenapa Iblis rendah itu tidak menyebut namanya?


Semakin dipikirkan, semakin Xie Ran penasaran apa peran Tang Zhi diantara kaki tangan raja iblis. Ia berjalan di sekitar Kota Ye yang padat dan mengintai dari jauh.


Ia mengikuti diam-diam dan menyamar sebagai rakyat biasa yang lewat sehingga tidak disadari sama sekali. Begitu sampai di sebuah persimpangan yang cukup sepi, sialnya mereka menghilang bagai ditelan kabut hitam membuat Xie Ran menghentikan langkahnya.


Xie Ran berdecak sebal. Andai ia juga bisa menghilang seperti mereka dan melacak keberadaan mereka. Ia bisa mengetahui apa saja yang mereka rencanakan.


"Sepertinya akan terjadi sesuatu." Ia berpikir semikian dan berbalik pergi. Apapun yang terjadi, ia harus siap.


Tapi belum sempat Xie Ran keluar dari persimpangan, ia menemukan beberapa Iblis bergerombol mengepungnya. Ia tersenyum samar di wajah datarnya dan mendengus seraya berkata, "Aku terbiasa menjebak seseorang, tapi kini aku yang dijebak. Betapa memalukannya itu."


Darah hitam berciprat ke berbagai arah disertai erangan miris penuh penderitaan. Hanya dengan satu serangan, iblis rendah itu kehilangan jantung mereka. Jalan di penuhi noda darah hitam disertai asap yang di buat iblis untuk melumpuhkan Xie Ran, namun asap itu menjadi boomerang kematian mereka.


Xie Ran keluar dalam keadaan utuh. Tangannya penuh noda darah hitam yang menetes ke tanah membentuk jejak tetesan seperti tinta. Wajah dingin Xie Ran kembali menjadi tenang.


"Membuatku kesal saja," gumamnya melanjutkan jalan dengan tenang seolah semua mayat dan darah itu bukan ia penyebabnya dan tidak melihatnya.


Ann Rou dan dua naga di Liontin hanya bisa bergidik melihatnya. Jika niat membunuh Xie Ran keluar, tidak ada yang bisa menghentikannya selain guru besar tertentu. Sayangnya pria itu sedang tidak ada dan mereka hanya bisa menonton aksi pembantaian Xie Ran.


"Kusarankan untuk tidak mengganggu, aku tidak mentolelir kesalahan apapun." Xie Ran sedikit menoleh ke belakangnya dan pergi. Ia malas berhadapan dengan dua iblis yang memantaunya dalam kegelapan.


Baru saja ia akan pergi jauh, sebilah pisau penuh energi gelap meluncur dengan kecepatan mengerikan. Xie Ran merasakannya dengan pasti, berputar ke samping menghindari pisau dan menendang pisau itu agar berbalik ke arah kegelapan sedangkan sinar putih muncul membentuk kucing besar dengan suara kucing sangar yang mengerikan.


Ann Rou begitu marah setelah mengenali pemilik pisau yang ia kenal. Tapi Xie Ran menghentikan aksi penyerangannya membuat Ann Rou terduduk patuh dan menurunkan niat membunuhnya.


"Tidak perlu dikejar, mereka sudah pergi." Xie Ran kembali tenang setelah beberapa saat merasakan niat membunuh yang sedikit muncul. Untung ia bisa mengendalikannya dan menenangkan diri.


"Miao~" Ann Rou kembali menjadi kecil dan berlari ke lengan Xie Ran. Mengabaikan betapa menyebalkan Ann Rou dalam bentuk manusia, Xie Ran memaklumi bentuk anak kucing gemuk ini dan menggendongnya sambil mengusap bulu putihnya yang lembut.


"Kita kembali."


Xie Ran kembali setelah mencuci tangan dan mengganti pakaian yang terkontaminasi darah iblis yang hitam dan bau. Setelah itu, ia pergi ke penginapan bertemu dengan teman-temannya.


Selepas masuk ke penginapan serta mencari kamarnya, ketika akan masuk ke dalam kamar, ia bertemu dengan Mei Liena dan Zhong Xiaorong.


"Ada bau darah. Xiao Ran, kau baik-baik saja?" Mei Liena ketika mencium bau darah langsung khawatir berpikir Xie Ran diserang dan terluka parah.


"Aku tak apa." Xie Ran menggeleng pelan dengan wajah polosnya seolah tidak mengerti maksud Mei Liena.


"Liena, Xiao Ran mungkin saja habis berburu dan menemukan hewan yang cukup kuat. Waktunya juga pas jika Xiao Ran berburu untuk latihan. Bukankah begitu?" Zhong Xiaorong mendapar jawaban masuk akal atas bau darah di tubuh Xie Ran.


Xie Ran mengangguk pelan membuat Mei Liena percaya dengan ucapan Zhong Xiaorong. Sedangkan Zhong Xiaorong tersenyum kemenangan seolah mengatakan bahwa dia sangat pintar. Itu membuat Mei Liena memutar bola mata.


"Kalau ternyata masih bau, aku akan mandi lagi." Xie Ran segera masuk ke dalam sebelum mereka bertanya macam-macam. Ia berpikir bahwa Zhong Xiaorong tahu sesuatu dan sedang membantu menutupinya. Tapi meski begitu, ia tidak boleh membiarkan Zhong Xiaorong tahu banyak karena terlalu berbahaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada hari berikutnya, para pendatang diarahkan ke gedung arena dan memulai acara pembukaan sekaligus penyambutan. Banyak murid dari berbagai akademi datang dengan berbagai corak seragam yang terlihat indah dan keren masuk secara berkelompok ke dalam gedung arena di pusat Kota Ye.


Xie Ran dan teman-temannya berada di luar gedung arena menunggu para anggota cadangan. Pakaian mereka seragam warna hitam dengan corak biru langit dan ditambahkan beberapa aksesoris khas mereka bertujuh agar tidak terlalu terlihat sama.


Sebelumnya Xie Ran telah memberi mereka sebuah alat. Karena turnamen kali ini diperbolehkan menggunakan senjata apapun dalam pertarungan asal tidak bermain curang yang mengakibatkan bahaya, ia memberi teman-temannya sebuah jam dengan teknologi modern yang baru-baru ini dikembangkan.


Kebetulan ia memiliki tujuh di dalam peti sehingga hanya memberi itu pada teman-temannya dan memberitahu mereka cara mengaktifkannya.


Jam itu disebut dengan jam kontrol. Memiliki sistem beragam fungsi jika digunakan dengan baik karena terhubung dengan jaringan saraf yang dapat membuat reaksi seseorang menjadi lebih peka. Karena jam itu terhubung dengan seluruh anggota tubuh setelah di aktifkan, itu dapat membuat sebuah pelindung transparan yang keras seperti barrier mengelilingi tubuh mereka selama perrtarungan, benturan apapun tidak akan melukai mereka sampai lapisan pelindung itu hilang dalam hitungan waktu.


Selain itu, jam itu juga memiliki fungsi mempercepat pergerakan mereka. Xie Ran telah memberi sepatu yang sepasang dengan jam itu dan dapat mengontrol kecepatan sampai maksimal. Asal mereka bisa mengontrolnya dengan baik, mereka tidak akan kesulitan.


Ada banyak lagi fungsi jam hitam itu seperti telepon tanpa jaringan ke jam yang sama, memcari informasi detail, mendeteksi segala macam benda dan mengukurnya dengan cepat, dan lainnya.


Mereka terdiam seperti orang bodoh begitu suara sistem terdengar di benak mereka.


"Xiao Ran, apa ini sebuah roh pendukung seperti pada roh senjata?" Liu Chang masih terpana.


"Dari mana kau mendapatkan artefak langka ini? Ini terlalu hebat." Zhou Kui bertanya.


Xie Ran menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dari 'jalan pintas' ketika kabur dari rumah."


"Dari manapun itu, dengan ini kita bisa bertarung lebih baik." Zhong Xiaorong tidak ingin berpikir banyak dan terus menjelajah jam di tangannya yang memunculkan layar holo.


"Sebaiknya kita bertarung dengan adil tanpa bantuan sistem. Jam itu aku berikan untuk menambah keterampilan kalian, bukan pembimbing dalam pertempuran." Xie Ran mengingatkan.


"Aku tahu."


Xie Ran tidak percaya pada orang licik seperti Yan Yao dan Zhong Xiaorong. Jadi dia menekan jam miliknya yang terhubung dengan jam lain untuk memberi perintah mutlak.


"Jangan dengarkan perintah bimbingan bertarung."


"Baik, nona." Suara sistem yang terdengar seperti perempuan terdengar oleh mereka semua membuat Yan Yao dan Zhong Xiaorong terbelalak sedangkan yang lain menahan tawa.


"Xiao Ran, kau menyadap kami." Yan Yao protes.


"Aku tidak memberi secara gratis." Xie Ran bicara acuh tak acuh dan bersandar di dinding. Pria licik itu ingin bermain-main dengannya? Dia masih kalah licik dari Xie Ran.


Tepat setelahnya, tujuh peserta cadangan muncul menyapa mereka. Mereka — kecuali Xie Ran dan Pei Xi — menyahuti sapaan mereka dan berjalan bersama ke dalam gedung arena.


Tujuh peserta cadangan diantaranya: Li Ke, Jiang Jun, Meng Ziyi, Murong Yi, Qian Jue, Mu Change, dan Yu Yin. Terdiri dari empat gadis dan tiga lelaki. Lima diantaranya peringkat langit sedangkan dua lainnya peringkat bumi bernama Mu Change dan Murong Yi.


Tim Akademi Tianshang berkumpul di podium lantai atas yang telah dipersiapkan. Tiga dekan sudah duduk dengan tenang di tempatnya sedangkan murid yang baru masuk segera membungkuk sebagai salam dan duduk di tempat masing-masing.


Pandangan Xie Ran bertemu dengan Bao Jun dan tersenyum miring di balik wajah datarnya. Sepertinya Bao Jun memang sudah menyadari kekuatan Xie Ran sejak kemarin dan akan terus memperhatikannya. Xie Ran tetap tenang, di matanya yang teduh mengalihkan pandangan ke arena.


Podium menampung jutaan penonton dari berbagai daerah. Warna memenuhi podium disertai sorak riang para pendukung begitu melihat idola mereka memasuki podium dan duduk di bagian atas.


Di atas arena, terdapat seorang wanita cantik bersayap putih terbang di udara memberi kata sambutan. Arena di bawahnya berbentuk bundar dan besar, cukup menampung ribuan orang dalam satu waktu disertai barrier yang melindungi arena agar tidak terjadi kecelakaan.


Wanita itu memberi kata-kata sambutan yang manis dan meriah penuh semangat meningkatkan antusias penonton. Tribun semakin ramai kala pengumuman permainan akan segera dilaksanakan dengan aturan lama.


Terdapat 20 akademi besar yang hadir dan 100 akademi kecil. Semuanya akan di perlakukan sama dalam arena dimana pertandingan akan dilakukan secara pemilihan acak. Tuan Kota Ye akan mengacak token bertuliskan nama akademi dan memilihnya dengan kekuatan mental secara acak.


Pria berusia 40-an, Tuan Kota Ye, di kursinya langsung berdiri begitu pembawa acara mengumukan pengundian pertandingan kelompok.


120 token emas melayang di udara dan berputar secara bersamaan seperti angin dengan kecepatan yang tidak dapat diprediksi dengan mata telanjang. Token-token itu berputar seolah terbawa angin puyuh.


Tuan Kota Ye mengangkat tangannya. Menelusuri energi mentalnya dan menarik dua token secara acak ke tangannya. Dua token yang berputar mengalami pergerakan dan tertarik seperti magnet keluar dari pusaran. Itu berhenti di tangan besar Tuan Kota itu.


Pria muda di sebelahnya melihat kedua token tersebut tersenyum panuh arti dan mulai mengumumkan.


"Akademi Tianshang melawan Akademi Ouyang!"