
Melepas Ling Yi dan membiarkannya terguling di tanah, ia berjongkok di depan wanita itu dengan mata menyipit. "Katakan semua yang kau ketahui!"
"Aku sudah mengatakannya." Ling Yi terlalu lelah sampai tidak kuasa bergerak. Namun tatapannya terhadap Xie Ruo masih penuh penghinaan.
"Bagaimana kau bisa yakin kalau itu adalah Xie Ran sedangkan kau tidak pernah bertemu dengannya?"
"Apa semua perkataanku masih kurang? Atau, ada seseorang yang mengetahuinya selain Xie Ran?"
Selain Qu Xuanzi, tidak ada yang mengetahuinya. Tapi Qu Xuanzi berada di Dunia Bawah, juga tidak mungkin memiliki hubungan dengan Istana Lingyue. Apa benar Xie Ran? Tapi, bagaimana dia bisa mengetahuinya?
"Asal kau tahu, aku berhasil menyempurnakan kekuatanku berkat Xie Ran. Meski tidak memiliki keilahian sepertimu, aku bisa membunuhmu jika kau bukan keturunan Dewa Naga."
"Kenapa kau memberitahu dengan mudah?"
"Kau pikir aku berada di bawah Xie Ran dan merupakan suruhannya? Meski dia menginginkan kematianmu dengan menjadikanku alat, aku juga memanfaatkannya. Asal kamu dapat kuserahkan dalam keadaan utuh, aku akan mendapat semua keuntungan dan akan menjadi dewi lebih cepat."
"Sepertinya dia telah menipumu." Xie Ruo mencibir. Baik Xie Ran atau siapa pun itu, telah menipu Ling Yi agar wanita haus kekuatan ini mau membunuh Xie Ruo.
Menjadi dewa harus menerima warisan kekuatan ilahi, atau membunuh dewa itu sendiri untuk menggantikan posisi. Warisan kekuatan ilahi tidak bisa dicari melainkan dipilih oleh dewa sebelumnya melalui sebuah ujian. Xie Ruo mendapat kekuatan ilahi karena ia merupakan cucu Dewa Naga, itupun tidak bisa menjadi dewa sepenuhnya karena masih dalam tahap ujian.
Ujian dari manusia menjadi dewa bukan hal mudah. Untuk pemilik enegi murni tertinggi, itu hal biasa dan tidak perlu dikhawatirkan, apalagi jika sudah menyempurnakan ilmu hati sutra.
Sayangnya, Xie Ruo tidak lulus hal itu. Ujiannya hanya bisa berlaku jika ia berada di Dunia Atas. Jika berhasil meraih semua ujian, maka akan menjadi dewa tingkat pemula yang membutuhkan kultivasi ulang sebagai dewa. Tergantung keilahian apa yang dimiliki, juga kemampuan penguasaan keilahian untuk mengemban tugas sebagai dewa.
Konsepnya sama seperti sebuah pekerjaan, sedangkan Xie Ruo saat ini masih dalam tahap memasuki perguruan tinggi.
Untuk kasus Ling Yi, merebut banyak energi murni selama ribuan tahun dan menjadikannya kekuatan pribadi lalu menutup diri sampai energi murni selanjutnya lahir. Kultivasi seperti itu hanya akan menjadi manusia terkuat saja, bukan dewa. Jika bukan membunuh dewa, dewa manapun juga tidak akan mau mewariskan kekuatan pada wanita seperti itu.
Jadi Ling Yi benar-benar telah dibohongi oleh Xie Ran—atau siapa pun itu.
Tapi untuk saat ini, ada hal lain yang membuat Xie Ruo gelisah selain masalah keilahian. Jika yang dikatakan Ling Yi itu benar bahwa Xie Ran yang ada di balik rencana Ling Yi, kenapa Xie Ran melakukannya?
Pertanyaan ini, tidak mungkin Ling Yi bisa menjawabnya. Satu-satunya cara adalah memastikan hidup mati Xie Ran. Jika hidup, ia akan mencarinya.
"Kamu tahu di mana dia?" Xie Ruo mencoba mencaritahu hal ini lebih dahulu untuk memastikan bahwa Ling Yi tidak berbohong.
Ling Yi mencibir. "Jika aku tahu, akankah aku memberitahumu hal ini? Wanita itu selalu datang dan menghilang sesuka hatinya."
Xie Ruo diam sejenak, sepertinya memikirkan sesuatu. Sampai akhirnya ia merasakan kehadiran sekelompok orang di luar Istana Lingyue.
Orang-orang itu memiliki aura yang kuat dan gelap. Setidaknya beberapa profesional lanjutan, dan satu orang saint. Masing-masing membawa kuda yang mengartikan bahwa mereka adalah manusia. Entah siapa yang datang kali ini.
Ketika Xie Ruo sedang merenung, kilatan kebencian muncul di mata Ling Yi. Wanita itu mengerakkan tangannya, menggunakan beberapa kristal untuk menarik puing reruntuhan dan mengubur Xie Ruo.
Namun Xie Ruo langsung sadar dan menahannya. Ia memotong jari Ling Yi yang bergerak, kemudian menghamburkan semua reruntuhan hingga tersebar. Wanita itu mengerang kesakitan dengan jari yang mengeluarkan banyak darah di tanah.
Xie Ruo menatapnya tajam. "Aku anggap kamu beruntung, tidak merasakan api dinginku yang menyiksamu sampai mati. Karena kamu memberiku informasi, aku akan membuat kematianmu menjadi lebih mudah."
Xie Ruo menyunggingkan senyum jahat, lalu menunduk. Tangannya dengan cepat menembus kulit dan daging Ling Yi di bagian dada kiri, kemudian menarik bagian jantung sampai keluar sepenuhnya.
Darah hangat membasahi seluruh tangan kiri Xie Ruo, sedangkan tangan kanannya memegang pedang yang berlumuran darah hingga menetes di tanah, menyatu dengan darah yang mengalir dari dada Ling Yi.
Ling Yi lemas saat itu juga dan tak lagi bernapas, matanya masih terbuka dengan pandangan kosong. Mungkin ia tidak tahu bagaimana ia terbunuh saking cepatnya semua itu terjadi.
Mungkin karena terbiasa dengan darah, Xie Ruo sama sekali tidak merasa jijik atau mual akan bau darah yang menyengat. Ia hanya melihat mayat Ling Yi dengan pandangan datar. Itu adalah kematian yang lebih mudah baginya dibandingkan cara lain.
Beberapa meter dari Xie Ruo, beberapa penunggang kuda hitam berdatangan. Mereka tampak sangat terkejut melihat Istana Lingyue yang hancur berantakan, hanya menyisakan puing-puing reruntuhan dan kristal berserakan seperti kaca. Ada banyak mayat bertebaran, seolah baru saja terjadi pembantaian massal.
Pria berjubah hitam yang memimpin kelompok menuruni kuda, terkejut dengan sosok Xie Ruo yang memegang jantung di tangannya. Tampak seperti monster.
Ketika Xie Ruo menoleh dengan jantung yang masih digenggam, seketika semua orang merasa udara dingin menusuk tubuh mereka. Tanpa sadar, beberapa menyentuh dada kiri mereka, seolah mencoba melindungi.
Untuk pertama kalinya mereka melihat seorang gadis cantik yang terlihat sangat bersih dari noda, ternyata memegang sebuah jantung yang masih berdetak dan berdarah.
Pria berjubah yang merupakan pemimpin mereka membuka tudung, menampakkan wajah tampannya yang tampak sangat datar. Namun ada ekspresi bahagia di baliknya jika dilihat lebih dekat.
Xie Ruo melempar benda di tangannya begitu saja seolah itu adalah sampah kertas, lalu sedikit tersenyum mengenali siapa pria berjubah itu.
"Kakak Xi, kamu di sini." Xie Ruo berjalan menjauhi puing-puing, lalu berhenti di depan Pei Xi. Tangannya masih berdarah, tapi ia tidak mempedulikan hal itu.
"Apa mereka mengganggumu?" Pei Xi masih agak terkejut dengan perubahan Xie Ruo. Padahal ia ingat jelas rambut perak dan mata biru itu adalah yang ia ingat ketika di Benua Lava, hanya saja ia merasa Xie Ruo telah banyak berubah.
"Masalah ini sudah selesai. Lagipula, ini bukan kekaisaran, tidak akan ada yang menyalahkanku. Kamu tenang saja, Xiao Caihong sedang membereskan sisanya. Istana Lingyue akan bersih hari ini." Xie Ruo mengatakannya sambil tersenyum seolah sedang membicarakan cuaca.
Melihat ke arah mayat terakhir yang kehilangan jantungnya, Pei Xi nyaris menahan napas. Itu adalah pemimpin Istana Lingyue di atas Raja Istana Lingyue!
"Kamu yang membunuhnya?"
"Siapa lagi?" Xie Ruo melihat ke sekitar, membuktikan bahwa ia hanya sendiri. Ditambah Xiao Caihong yang masih 'sibuk'. "Kenapa kau di sini? Tidak mungkin sedang mengadakan aliansi dengan Istana yang sudah runtuh, 'kan?"
"Sepertinya ledakan itu adalah pertempuran kalian. Aku datang karena hal itu." Pei Xi langsung paham situasi.
"Ada sangat banyak ledakan. Ledakan yang mana?" Xie Ruo malah bertanya hal tidak penting.
"Tidak perlu membahasnya lagi." Pei Xi tersenyum kecut. Mana tahu ledakan yang mana dan buatan siapa. Ia hanya tahu, ledakan itu terlalu kuat hingga mengakibatkan gempa. Ia pikir ada ledakan nuklir di suatu tempat di Istana Lingyue.
Jika tahu seperti ini, ia tidak perlu membawa banyak pasukan. Ia pikir Istana Lingyue sedang membuat masalah, karena beberapa hari ini selalu berkeliling dalam jumlah banyak.
Xie Ruo tidak melanjutkan bertanya, kemudian membersihkan darah di tangannya menggunakan sihir. Selagi membersihkan, ia bicara, "Lama tidak bertemu, kau semakin tampan saja."
Pei Xi tidak tahu harus mengkondisikan wajahnya seperti apa. Ia hanya merasa senang Xie Ruo memujinya hingga tanpa sadar ia tersenyum. "Ternyata, Ruoruo sudah pandai memuji."
Pei Xi terkekeh, mengusap puncak kepala Xie Ruo dengan gemas. "Sebelumnya Rongrong ribut karena kau tidak membalas pesannya."
Xie Ruo menghela napas. "Aku tidak membalas karena sedang tidak bisa. Saat itu aku berpikir akan kembali ke Menara Suci, tidak tahu sampai kapan. Jadi tidak ingin berpisah lagi untuk kedua kalinya jika menemui kalian."
"Tapi kamu di sini."
Xie Ruo tersenyum kecil. "Seseorang mengatakan, aku tidak perlu berada di Menara Suci lagi. Awalnya aku akan pergi ke Menara Suci, tapi aku berubah pikiran. Ada beberapa hal yang belum terselesaikan. Kebetulan, Istana Lingyue menculikku dan ingin mengambil kekuatanku. Daripada meninggalkan dendam dan kebencian ketika aku pergi sampai terus diburu, aku bantai saja semuanya."
Pei Xi tertawa, tidak bisa menahan gelitik dalam hatinya melihat Xie Ruo bicara semudah itu dengan wajah yang seolah sedang membicarakan makanan.
"Ruoruo, sepertinya kamu benar-benar banyak belajar di Menara Suci."
"Aku memang banyak belajar." Xie Ruo tidak tahu bagian mana yang lucu. Tapi ia malas bertanya.
"Ingin ke Sekte Bayangan Malam?"
"Apa boleh?"
Pei Xi mengangguk, kemudian menarik lengan Xie Ruo untuk berdiri di dekat kudanya. "Naiklah."
Xie Ruo dengan senang hati menunggangi kuda milik Pei Xi. Sedangkan Pei Xi mengambil kuda lain, lalu memimpin jalan.
Xiao Caihong muncul dalam wujud kecil ketika mereka akan pergi. Xie Ruo langsung membiarkannya menggulung di lengan dan tidur.
Menoleh kembali ke arah reruntuhan, tiba-tiba suasana hati Xie Ruo menjadi suram. Instingnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang bahkan tidak bisa ia tangani.
Ia hanya berharap, semua ini tidak ada hubungannya dengan Xie Ran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak lama setelah kepergian kelompok Sekte Bayangan Malam dan Xie Ruo, dua cahaya emas dan hitam mendarat dari langit tepat di reruntuhan.
Hari sudah subuh, namun lokasi masih sangat sepi, bau darah masih terasa menyengat. Dua sosok berjubah hitam berjalan menelusuri reruntuhan.
Salah satunya berjalan lebih jauh ke arah mayat Ling Yi, meninggalkan sosok tinggi di belakangnya tanpa menoleh. Ia seperti melihat sesuatu dengan aura suram, bahkan tidak merespon ketika menginjak benda merah yang berceceran di tanah sampai hancur.
Ia menunduk, tangan seputih salju dari balik jubah meraih wajah Ling Yi dengan perlahan. Sinar emas redup muncul di tangannya, seolah sedang menarik sesuatu dari tubuh Ling Yi kemudian mengeluarkannya secara paksa.
Jari-jarinya menekuk, kemudian dikepalkan ketika sebuah bayangan keluar dari tubuh Ling Yi. Cahaya emas redup itu hilang, digantikan dengan sosok bayangan berwujudkan Ling Yi yang tampak linglung.
Itu adalah wujud roh Ling Yi. Ia bingung sesaat, tapi ketika melihat sosok berjubah hitam di depannya, ia nyaris melompat karena terkejut. Tubuhnya langsung bergetar, apalagi ia tidak bisa menggunakan kekuatannya. Ia menjadi wanita roh tak berguna dan dapat hancur kapan saja.
"Kamu ... kamu ...." Ling Yi tiba-tiba kehilangan kata-kata. Kabut hitam meluncur ke lututnya, membuatnya berlutut seketika. Ia ingat, bahwa ia telah mati dibunuh Xie Ruo.
Awalnya segalanya hanya gelap tanpa rasa sakit, tapi tiba-tiba ia dikeluarkan begitu saja dari kegelapan dan melihat dua sosok yang menjadi mimpi buruknya. Lupakan seberapa menyeramkannya Xie Ruo, itu tidak bisa dibandingkan dengan dua orang di depannya yang sudah seperti malaikat maut.
Yang tadinya berlutut, menjadi jatuh karena tidak kuat menopang tubuh. Ia terlalu bergetar dan takut sampai tanpa sadar merangkak mundur menjauhi sosok itu. Matanya dipenuhi rasa horor.
"Aku gagal ... jangan bunuh aku."
"Kau sudah mati, apa aku bisa membunuhmu?" Suara sosok di depannya seperti seorang wanita. Suara yang dipenuhi dengan aura dingin tanpa perasaan, disertai ancaman.
"Tapi dia bisa menghancurkanmu." Suara bass pria di belakang sosok wanita berjubah hitam itu terdengar. Suara itu jauh lebih mengerikan. Ling Yi tidak pernah bertemu dengannya.
Ling Yi semakin takut. Ia menatap wanita berjubah itu dengan ragu. Ia baru menyadari bahwa ia hanyalah sekadar roh. Tapi, bagaimana seorang manusia bisa menarik roh? "Kamu ... bagaimana bisa—"
"Karena kau telah mengungkapku, tidak salah bila aku menghancurkanmu. Kau pikir, dengan mati di tangannya akan terlepas dariku? Menurutmu, hukuman apa untuk seorang yang tidak bisa menjaga ucapannya?"
"Kau! Kau menyebut dirimu seorang dewi, tapi kau melakukan apa yang dilakukan iblis." Ling Yi merasa ia tidak akan memiliki akhir baik, jadi lebih baik melampiaskan segalanya. Tapi ketika melihat pria jakung berjubah di kejauhan sana, merasakan energinya, matanya terbelalak. "Kau ... kau ...."
"Apa sudah selesai melihat?" Wanita itu langsung mengeluarkan cahaya merah yang pekat. Ia melemparkannya ke arah Ling Yi. Begitu cahaya merah pekat mendarat di tubuh target, Ling Yi langsung berteriak histeris.
Rohnya terasa seperti tercabik-cabik, lebih buruk dari rasa sakit membentur puluhan dinding dan kulit yang terobek. Ia tidak pernah merasakan rasa sakit yang sulit digambarkan hingga rasanya ingin mati.
"Tenang saja, kau tidak akan mati." Wanita itu tersenyum di balik penutup kepala jubahnya.
Tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini, ia memberi tanda pada Ling Yi sehingga mempertahankan rohnya agar tidak pergi ketika mati. Ditambah, ia bisa mendapat banyak informasi melalui ingatan roh Ling Yi.
Karena beberapa alasan, ia tidak bisa muncul secara langsung.
"Apa kau harus membuang waktu dengan sampah itu?" Pria yang menemaninya bicara dengan nada malas. Melihat ke arah Ling Yi yang menangis kesakitan, ia mencibir dalam hati.
"Itu memang cara kerjanya." Wanita itu menghela napas. "Sepertinya, adik kecil tumbuh dengan baik. Jika saja cederaku tidak buruk, aku tidak perlu bersembunyi."
"Jika cederamu tidak buruk dan muncul sekarang, bukankah Asura akan membunuhmu?"
"Benar ...." Wanita itu mengepalkan tinju di balik jubah. Ia bergumam, "Xie Ruo, seharusnya kau tidak membuangku."
"Bukankah lebih bagus sekarang? Jika bocah itu tidak menuruti kata Asura untuk membentuk tubuh baru, kau yang akan menikah dengan Asura suatu hari. Apa kau akan meninggalkanku?" Pria itu bicara dengan nada tidak senang.
"Kau bicara apa? Asura adalah Kaisar Langit, jika aku berhasil membunuhnya, tidak akan ada lagi masalah yang menimpamu."
"Intinya, kondisi saat ini yang terbaik. Apa pun rencanamu, kau tidak boleh dekat dengan pria lain, bahkan Asura sekalipun. Untuk masalah ini, serahkan padaku. Akan lebih baik jika kau memulihkan diri."
Wanita itu menatap lawan bicaranya dengan tajam, kemudian berubah menjadi datar kembali. Ia pun menghela napas. "Kau yang urus. Sisakan bocah itu untukku."
Pria itu tersenyum lebar, merasa puas. "Apa pun perintahmu, dewiku."