The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
167. Cantik Yang Merepotkan



"Kau yakin tidak ingin menunggu sampai Liena datang?" Pei Xi mencoba meyakinkan.


Bukannya ia ingin menahan Xie Ruo, tapi watak Mei Liena yang keras sangat sulit diajak bicara. Mei Liena sudah sangat bersemangat datang, dia akan mengamuk jika tidak menemukan Xie Ruo.


Sayangnya, Xie Ruo tidak berpikiran seperti itu dan malah berkata, "Dia tidak akan masalah." Karena ia berpikir Mei Liena seharusnya lebih dewasa darinya.


Xie Ruo mengenalan topeng yang diberikan Qu Xuanzi, kemudian menaiki kuda yang telah disiapkan. Sayang sekali si arang—kuda Xie Ruo—tidak ada bersamanya dan bersantai di Klan Xie. Jika ada, ia tidak perlu khawatir perjalanan akan memakan banyak waktu sampai harus terburu-buru. Masalah yang harus ia hadapi tidak sedikit.


"Aku pergi." Xie Ruo tersenyum, kemudian memacu kudanya dengan cepat.


Li Ningzhi di sisi lain melihat kepergian Xie Ruo. Ia terdiam. Bagaimana dengan bocah itu?


Buru-buru Li Ningzhi mencari Xiao Caihong, tapi tidak ditemukan di mana pun. Meski ia tidak perlu khawatir, tapi Xie Ruo telah pergi seorang diri yang membuatnya harus sedikit memberi pelajaran pada bocah itu.


Tapi sepanjang ia mencari, bocah itu sama sekali tidak ditemukan. Tidak mungkin menghilang, 'kan? Pasti asa di suatu tempat.


Beberapa jam setelah kepergian Xie Ruo, Mei Liena sampai di klan. Ia memacu kudanya sangat cepat sampai menerobos gerbang begitu saja dan turun dari kuda ketika hewan hijau itu memasuki aula dan meringkik.


Pei Xi tidak terkejut, hanya menghela napas. Sedangkan Zhou Kui hanya menggelengkan kepala. Tiap kali datang, Mei Liena selalu saja menerobos gerbang dan aula menggunakan kuda jadi-jadiannya.


"Di mana Ruoruo?" Mei Liena langsung mendesak, menghampiri mereka berdua dengan penuh semangat.


Namun jawaban Zhou Kui memecahkan semangatnya. "Dia sudah pergi."


Senyum Mei Liena membeku. Ia memandang mereka berdua dengan sangat, kemudian menunjuk mereka bergantian. "Awas kalau bohong!"


Mei Liena pergi begitu saja setelah menghilangkan kuda hijau yang berasal dari sihirnya. Ia mencari di sekitar sekte, seluruh seluk beluk sekte sambil berteriak memanggilnya. Ia tidak percaya Xie Ruo pergi begitu saja tanpa menemuinya.


Selain Mei Liena, ada Li Ningzhi yang juga sedang mencari seorang bocat titipan. Melihat Mei Liena, Li Ningzhi nenghampiri berniat bertanya.


"Nona, apa Nona—"


Bukkk


Li Ningzhi nyaris saja jatuh karena senggolan Mei Liena yang mengabaikannya. Li Ningzhi yakin wanita itu sengaja mempersulitnya. Jika bukan karena Mei Liena dianggap sebagai adik oleh Pei Xi dan Zhou Kui, ia sudah memberinya pelajaran.


Karena kesal, Li Ningzhi memilih melupakan anak hilang itu. Ia tidak peduli lagi.


Ketika berniat pergi ke kamarnya untuk beristirahat, Mei Liena melintas lagi dan menubruknya hingga benar-benar jatuh.


Bukkk


Byurrr


Li Ningzhi tercebur kolam kecil di sampingnya karena tubrukan Xie Ruo. Ia merasa sangat ingin teriak sejadi-jadinya.


"Sialan!" Li Ningzhi mengerang kesal. Ia melihat Mei Liena yang berhenti sejenak, tanpa memikirkan sesuatu kemudian melanjutkan pencarian tanpa rasa bersalah. Itu persis membuat Li Ningzhi mengutuk wanita itu tujuh turunan!


Sampai di aula kembali, Mei Liena memandang dua pria yang tengah bermain catur itu dengan wajah menggelap. "Kenapa tidak menghentikannya sampai aku kembali?"


"Apa menurutmu ada yang bisa menghentikannya?" Pei Xi menyahut dengan tenang.


"Kalian!" Mei Liena sangat kesal. Ia mendengus kemudian pergi tanpa mau mendengar penjelasan. Pokoknya semua ini salah mereka berdua!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bila dipikirkan sebelumnya, Kota Canghai yang mudah dilupakan adalah wilayah yang membosankan meski kehidupan bangsawan di sana cukup glamor dipenuhi harta dan hiburan. Tapi sekarang, ketika Xie Ruo melihatnya secara langsung, Kota Canghai bisa disebut 'Las Vegas' dunia ini.


Bukan rahasia lagi Las Vegas merupakan kota perjudian dengan berbagai kasino mahal dan mewah berdiri dan beroperasi tanpa kekangan. Itu adalah kota favorit kebanyakan anak muda.


Sama seperti sekarang, Kota Canghai dipenuhi dengan hiburan. Ada banyak kasino dan rumah bordil dipenuhi oleh rakyat baik dari luar kota maupun rakyat asli. Kebanyakan dari mereka adalah pria. Menggandeng beberapa wanita cantik dan mabuk-mabukan. Para wanita cantik bekerja melayani para pria dengan sukarela, ada pula yang ikut berjudi dan berpesta.


Melihat hal seperti ini, Xie Ruo merasa hidupnya dipenuhi kebisingan. Ia tidak suka pesta, tidak suka keramaian, hanya menyukai kedamaian seperti di Kota Tianshang.


Karena kedatangannya untuk tugas, Xie Ruo tidak memiliki pilihan lain. Ia memasuki penginapan yang tidak mencolok.


Wajahnya yang ditutupi topeng tidak menyamarkan kecantikannya meski identitasnya tidak dikenali. Meski ia menggunakan pakaian polos dengan warna netral, tetap saja menjadi daya tarik para pria di penginapan.


Ia memesan satu kamar, kemudian membayarnya. Pelayan penginapan mengantarnya ke lantai dua, namun ketika ia akan pergi, seorang pria datang dari lantai dua dan melihatnya dengan tatapan mengganggu.


Xie Ruo tidak peduli. Ia baru saja melangkah ke anak tangga, pria itu menahan lengannya membuat langkah Xie Ruo terhenti. Baiklah, wajahnya membawa masalah.


"Nona cantik ini, bagaimana caraku menanggilmu?" Pria itu tersenyum memandang Xie Ruo. Pakaiannya terlihat mewah menunjukkan bahwa ia adalah seorang bangsawan.


Xie Ruo hanya menilai dalam diam tanpa mengatakan apa pun. Itu menyebabkan suasana menjadi canggung. Pria itu terkekeh, kemudian bicara dengan nada yang lebih santai.


"Sepertinya Nona tidak berasal dari sini. Jika ada sesuatu, bisa katakan padaku. Keluargaku adalah keluarga terkaya di Canghai, tidak ada yang tidak kami miliki, bahkan harta surgawi sekalipun. Jika ada waktu, Nona bisa ikut dan tinggal dalam Kediaman Keluarga Shi. Namaku Shi Wei, bagaimana dengan Nona?"


Shi Wei ... berdasarkan informasi yang didengarnya, Shi Wei adalah Tuan Muda Keluarga Shi, keluarga terkaya di tempat ini. Mereka membuka usaha kasino di berbagai tempat sebagai penghasilan mereka. Wajar jika memiliki banyak harta.


Tapi Xie Ruo tidak ingin berurusan dengan keluarga berpengaruh atau sejenisnya. Ia ingin menyelesaikannya sendiri, mencari sumber racun dan penyebarannya.


Tapi untuk saat ini, ia harus menyelesaikan satu masalah merepotkan.


"Jika Nona terlalu malu meminta, aku bisa membantu." Shi Wei mengangkat telapak tangan Xie Ruo, hendak mencium punggung tangan seputih salju itu.


Namun Xie Ruo menarik lengannya. Ia tersenyum, senyum yang membuat Shi Wei terpanas. Xie Ruo meraih bahu Shi Wei dengan gerakan lembut membuat pria itu bersemangat.


"Tidak perlu terburu-buru, karena aku lebih suka bermain tarik ulur." Tepat setelah mengatakannya, Xie Ruo mencengkram bahu Shi Wei sampai tulangnya bergeser.


Shi Wei terkejut kesakitan, ia melotot tajam pada Xie Ruo dan akan mengatakan sesuatu untuk mengancamnya, namun Xie Ruo tidak memberi kesempatan dan memutarnya ke belakang dan membantingnya ke lantai.


"Sepertinya tarik ulurku sedikit keterlaluan. Tuan Muda baik-baik saja, 'kan?" Xie Ruo melihat pria yang telah mencium lantai di belakangnya. Ia tersenyum sinis, kemudian pergi ke lantai dua.


Shi Wei mengerang kesal dan akan berdiri, tapi tubuhnya remuk karena bantingan sampai tidak bisa berdiri tegak. Orang-orangnya segera memapah, Shi Wei memandang kepergian Xie Ruo dengan penuh amarah.


"Dasar jal*ng! Kau tidak tahu apa yang baik untukmu! Keluarga Shi tidak akan membiarkanmu!"


Xie Ruo mengabaikan teriakan tidak penting itu. Siapa suruh mengganggu perjalanannya? Sepertinya, penyamarannya kali ini harus diperdalam, termasuk menyamarkan kecantikannya.


Menutup pintu kamar, Xie Ruo menghela napas. "Jadi cantik ternyata merepotkan."


Xie Ruo berjalan ke arah meja rias, memandang dirinya sendiri dalam cermin dengan teliti. Ia melepas topeng, kemudian menghela napas lagi.


Ia mengambil semua alat rias dari dalam cincin ruang. Meski ia tidak pernah berias—karena malas, ia tetap memiliki alat rias yang diberikan teman kecilnya di Menara Suci. Kali ini, ia menggunakannya untuk pertama kali.


Baiklah, sekarang waktunya 'merusak wajah' dengan baik. Ia mengoleskan secara acak agar terlihat jelek, lalu membuat kulitnya menjadi matang dan dekil agar terlihat seperti tunawisma yang sering berjemur di bawah sinar matahari. Ditambah, riasan jerawat di mana-mana hingga wajahnya semakin jelek.


Memandang cermin, ia mengerutkan kening. "Aku seperti kembali ke masa lalu." Perasaan ini terasa sangat persis ketika ia membut wajahnya menjadi jelek menggunakan riasan pelayan untuk sembunyi dari perhatian Huai Mao.


Sekarang, ia benar-benar menjadi jelek karna riasan aneh. Tinggal pakai topeng untuk menyamarkan aura.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bulan bersinar terang ditemani bintang-bintang di malam hari. Cahaya perak melintas dalam kegelapan, terlihat seperti bayangan yang menyatu dengan api penerangan malam yang dipasang di tengah jalan.


Ia sampai di depan sebuah rumah bobrok tanpa penerangan. Menurut informasi yang ia dapat ketika sedang menguping di rumah makan, korban 'penyakit' yang sebenarnya adalah racun ada di tempat ini. Dia adalah seorang wanita, Nyonya dari Keluarga Shi dan merupakan ibu tiri pria yang ia banting tadi.


Xie Ruo tidak peduli apa hubungan mereka. Ia hanya ingin memeriksa mayatnya saat ini.


Mayat wanita yang bernama Lan Xuanyi itu tidak dikuburkan karena tidak ada yang berani, takut jika penyakitnya menular. Karena rumornya Lan Xuanyi menderita penyakit menular yang tidak bisa disembuhkan, bahkan putrinya sendiri harus berpisah dengannya. Kondisi ini sama seperti ibu Zhong Xiaorong.


Ia menendang pintu depan rumah tersebut smpai hancur. Itu karena pintu depan tidak bisa dibuka, dan ia tidak bisa membuang waktu hanya untuk mendorong pintu yang macat. Lagipula, ia akan membawa mayat Lan Xuanyi untuk diteliti.


Memasuki rumah bobrok, ia menemukan sebuah peti mati yang tampak bersih di tengah ruangan utama. Ada seorang gadis di samping peti mati itu, Xue Ruo pikir itu seharusnya adalah putri Lan Xuanyi, Shi Yang.


Gadis itu tampak berusia 18 tahun, pakaiannya kumuh dan berpandangan kosong sambil membersihkan peti mati ibunya. Ketika mendengar suara seseorang yang datang, ia langsung menghentikan kegiatan dan duduk di samping peti menghadap orang yang datang.


"Kau pasti datang untuk menguburnya, 'kan? Aku mohon, lakukan dengan cepat. Aku tidak bisa melakukannya sendiri, kumohon bantu aku." Shi Yang bicara dengan nada serak. Sudah berhari-hari ibunya meninggal, tapi tidak diberi pemakaman yang layak. Bahkan mayatnya sudah membusuk karena tidak diurus. Ia dapat merasakannya.


Xie Ruo mengerutkan kening. Ia berjongkok di hadapan Shi Yang, dan melihat pandangan kosong itu. Yang benar saja, tidak ada yang mengatakan bahwa putri Lan Xuanyi buta. Tapi, bagaimana dia bisa masuk ke sini? Apa ada yang membantunya melalui jalan lain?


"Nona, tuan, atau siapa pun itu ... aku akan melakukan apa pun apa yang kau minta sebagai bayarannya!"


Xie Ruo tersenyum. "Benarkah? Apa yang bisa kau lakukan?"


Shi Yang menjadi tenang setelah menyadari yang ada di hadapannya adalah seorang wanita. Namun, itu masih jauh dari kata bebas. Siapa yang tahu wanita di depannya sebenarnya adalah antek kediaman Shi?


"Katakan saja apa yang kau butuhkan, uang atau apa pun itu, aku akan memberikannya."


"Sayangnya, aku tidak kekurangan uang."


"Lalu, apa yang diinginkan Nona?"


Xie Ruo melihat ke arah peti kayu itu, kemudian berkata, "Apa yang ada pada ibumu, apa kamu akan mengizinkan?"


"Ibuku ... apa yang dia miliki?" Shi Yang mengerutkan kening. Tidak ada yang berani mendekati ibunya, kenapa wanita ini begitu terang-terangan?


"Sesuatu yang penting. Jika kau membiarkanku membawa dan memeriksanya, aku akan menguburannya dengan layak dan membuatkan altar doa. Tentu, ini adalah kesepakatan. Karena dia adalah ibumu, aku perlu izin. Jika tidak, aku hanya bisa mengambilnya dengan paksa dan melupakanmu."


Shi Yang terkejut. Memeriksa seseorang yang sudah mati adalah penghinaan, ia tidak bisa membiarkannya. Apalagi, ibunya pasti akan lebih tersiksa. Ia juga tidak tahu apa motif wanita itu.


Kesan pertamanya terhadap wanita ini menjadi buruk. Meski ia buta, ia tidak bodoh. Ia baru saja kehilangan ibunya, tapi wanita ini sudah memintanya untuk diperiksa. Apa ibunya ingin dijadikan bahan eksperimen?


"Itu ... aku tidak bisa." Shi Yang langsung pada intinya.


"Kamu berani?" Xie Ruo bicara dengan nada menantang.


"Ibuku baru meninggal, aku tidak bisa membiarkannya dinodai. Meski kamu adalah wanita, tetap saja, memeriksa mayat yang baru meninggal adalah sebuah penghinaan."


Xie Ruo mendengus. "Jadi, bagaimana jika dia sudah meninggal? Aku hanya memeriksa, tidak ada niat lain."


"Apa Nona tidak takut tertular?" Shi Yang mencoba mencari cara lain.


"Tertular?" Xie Ruo terkekeh, kemudian mendekati peti mati yang tertutup. "Bagaimana sebuah racun bisa menular seseorang? Kecuali jika tubuhnya atau darahnya mengandung racun, mungkin aku bisa terkena 'penyakit' yang sama."


"Racun?" Shi Yang terkejut. Meski ia sudah memikirkan hal ini, tetap saja sulit dipercaya. Racun apa yang bisa menyebabkan seseorang meninggal seperti itu?


"Dunia ini sangat luas. Aku lihat kamu cukup waspada, tapi kemampuanmu terbatas karena terlalu menutup diri. Aku maklumkan karena kau tidak bisa melihat, tapi bukan berarti kau hanya bisa terkurung di satu tempat tanpa tujuan. Itu menyebalkan."


Pandangan Xie Ruo meredup. Kondisi Shi Yang sangat mirip dengannya di masa lalu. Ia pernah terkurung, diperlihatkan kematian orang tersayang dan dibuang secara tidak layak, juga mengalami kekosongan dalam waktu lama karena kelima indera yang mati.


"Itu bukan urusanmu." Shi Yang bicara dengan nada rendah.


"Memang kau bukan urusanku. Tapi penyebab kematian ibumu adalah urusanku. Aku bisa berjanji padamu, untuk menjaganya agar tetap utuh dan dikubur dengan layak. Aku bukan seseorang yang inkar janji."


Shi Yang mengepalkan tinjunya. Meski ia tidak suka, bagaimana jika yang dikatakan wanita itu benar? Tapi bagaimana jika salah? Ia tidak ingin mempercayai seseorang yang baru dikenal.


Setelah memantabkan hati beberapa saat, ia akhirnya menghela napas pasrah. Jika dipikirkan, sepertinya kekuatan wanita itu jauh di atasnya meski tidak terasa.


Seseorang yang berani bicara seperti itu, tidak mungkin lemah. Pasti wanita itu menyembunyikan kekuatannya, sengaja membuat diri sendiri terkesan lemah. Shi Yang tidak ingin mencari masalah dengan orang seperti itu dan hanya bisa mengangguk.


"Baik, tapi kau harus menepati janji, atau aku sendiri yang akan melawanmu." Ada rasa dingin di dalam nada suara Shi Yang, namun itu membuat senyum Xie Ruo mekar.


"Aku akan pastikan."


"Juga, kau harus melakukannya dengan sembunyi. Besok ayahku akan datang memeriksa, jika Ibu menghilang, dia akan curiga."


"Aku sudah memikirkannya, menggantikan ibumu dengan ilusi bukan masalah besar." Xie Ruo sudah menyiapkannya sejak awal. Kalau tidak, tidak mungkin ia dengan ceroboh menghancurkan pintu utama.


"Lalu, aku ingin meminta sesuatu, apa keberatan?" Shi Yang agak ragu. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain.


"Katakan!" Xie Ruo bersandar dengan tenang mendengarkan apa yang akan dikatakan gadis malang itu.


"Jika kamu bisa memberi pelajaran pada pelakunya dan Keluarga Shi, aku akan berhutang budi dan menuruti semua keinginanmu."


Xie Ruo memandang Shi Yang sebentar membuat gadis itu agak ragu, berpikir wanita yang masih tidak ia kenal itu tidak setuju.


Xie Ruo menghampiri, kemudian bicara dengan nada rendah namun dipenuhi tekanan. "Aku lebih suka jika kamu tidak menggunakan tanganku untuk membalas dendam."


"Apa aku bisa? Dengan keadaanku yang seperti ini?" Shi Yang tidak percaya diri. Ia buta, apa yang bisa dilakukan?


Xie Ruo menyipitkan mata, tersenyum melihat aura merah muda yang berkeliaran di sekitar Shi Yang seolah menyelimutinya. "Kamu bisa. Asal kamu tahu, buta tidak sepenuhnya merepotkan."