The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
216. Krisis Besar (3)



Kerusakan pada protal membuat proses transfer antardunia terganggu. Seekor naga putih muncul dari udara, terhuyung ke bawah tepat di mana Hutan Bintang yang suram berada.


Ia terlihat seperti tali putus dan jatuh bebas dari langit, sampai akhirnya tiba di tanah disertai dentuman keras. Tanah berguncang, menerbangkan pasir di udara juga retakan di sekitar.


Cahaya perak membawa naga itu kembali ke bentuk aslinya. Xie Ruo terbaring penuh luka di atas tanah, tampak lemah dan setengah sadar.


Sebelumnya, ia tidak tahu proses teleportasi menggunakan portal akan selama itu menyebabkannya kehabisan waktu dan ikut terkena efek kerusakan portal. Padahal dia sudah menghitung bom waktu serta kerusakan yang akan terjadi setelah ia sampai, namun siapa sangka waktu yang diperlukan untuk sampai melebihi dari waktu yang ia perhitungkan.


Alhasil, kerusakan itu menyebabkan Xie Ruo di dalam portal terpengaruh. Akan ada dua hasil jika seseorang terjebak dalam portal rusak. Pertama, tersesat dalam kehampaan dan tidak dapat kembali. Kedua, terlempar di lokasi acak seperti yang terjadi pada Xie Ruo saat ini. Jika Xie Ruo tidak berhasil merobek wilayah portal secara paksa, ia akan tersesat.


Ini pertama kali Xie Ruo mengalami kerugian karena rencana gilanya sendiri. Jika tahu akan seperti ini, ia akan memasang bom waktu untuk memilih menjebak kloning itu agar tersesat dalam portal ketika masuk.


Sayangnya, tidak ada yang bisa memutar waktu saat ini. Xie Ruo merasakan rasa sakit luar biasa di seluruh tubuhnya, terutama pada kandungannya.


Roh Guntur muncul, melompat-lompat dengan khawatir melihat Xie Ruo yang tampak diam lemas. Ia semakin histeris dan bingung ketika melihat darah mengalir di sekitar Xie Ruo.


"Nyonya! Kamu berdarah!" Roh Guntur semakin panik tak karuan. Ia ingin melakukan sesuatu, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apa yang bisa dilakukan bola bulu kecil tanpa tangan dan kaki sepertinya?


"Aku tahu." Xie Ruo bicara dengan nada pelan, berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan. Ini lebih buruk dibanding ketika sekarat karena Huai Mao. Setidaknya, ia mati rasa ketika bertarung dengan Huai Mao.


"Apa yang harus aku lakukan? Tidak ada siapa pun di sini yang bisa menolong. Aku dapat merasakan aura iblis dan hewan buas di dekat sini. Bau darah dapat menarik perhatian mereka, kita dalam bahaya!" Roh Guntur mengoceh dengan panik sambil mondar-mandir melihat sekitar memastikan tidak ada yang datang.


Tapi Xie Ruo tidak terlihat panik atau gelisah, ia hanya sedang fokus pada rasa sakitnya yang mengalihkan semua perhatian. Tidak peduli apa ada hewan buas atau iblis yang datang, ia tidak bisa melawan sekarang.


"Nyonya—"


"Buat dirimu berguna!" sela Xie Ruo membuat Roh Guntur terdiam.


Apa nyonyanya sedang marah? Roh Guntur cemberut. Padahal ia mencemaskan wanita itu, tapi wanita itu malah mengejeknya tidak berguna. Ia tidak terima!


Xie Ruo memutar bola mata menyadari bahwa Roh Guntur sedang salah paham. Ia hanya bisa bicara singkat karena menahan sakit, apa bola itu sama sekali tidak mengerti maksudnya!


"Setrum aku, buat aku mati rasa." Xie Ruo bicara dengan sabar. Setidaknya jika ia mati rasa, ia bisa pergi mencari tempat yang lebih aman untuk bersembunyi sementara.


Butuh beberapa lama untuk Roh Guntur memahami ucapan Xie Ruo. Ia langsung mengangguk cepat dan melupakan 'ejekan' barusan.


Bulu-bulunya berdiri seperti landak, menajam dan mengeluarkan kilatan listrik. Ia menyuntikkannya ke bagian yang Xie Ruo beritahu. Dengan hati-hati, aliran listrik masuk mematikan saraf perasa Xie Ruo untuk sementara.


Xie Ruo kini kembali merasakan mati rasa, meski tidak seburuk ketika mendapat kutukan Huai Mao. Ia berdiri dengan perlahan dan hati-hati, lalu melihat pakaiannya yang berlumuran darah. Kondisinya sangat buruk.


Meski tegangan listrik telah membuatnya mati rasa, tapi itu tidak sepenuhnya dapat membuatnya benar-benar mati rasa. Ketika bergerak, ia masih dapat merasakan rasa nyeri meski masih bisa ditahan.


"Nyonya, apa kamu bisa berjalan? Ini ...." Meski Roh Guntur tidak mengerti tentang manusia, ia tetap tahun kondisi ini sangat buruk. Cedera yang dialami tidak ringan, kemungkinan besar juga mempengaruhi kandungannya.


Xie Ruo mengangguk pelan, kemudian meminta bantuan Roh Guntur menggunakan sihirnya untuk berjalan pelan-pelan. Jejak kakinya tampak berwarna merah ketika berjalan, memberinya jejak sepanjang jalan. Xie Ruo tidak memperhatikan, sedangkan Roh Guntur dengan inisiatif menghapus semua jejak itu agar tidak mengundang terlalu banyak musuh.


Semakin lama berjalan, rasa sakit berangsur kembali. Xie Ruo telah sampai di pinggir sungai dengan aman berkat aura Roh Guntur yang menahan para hewan buas datang. Hanya saja, efektivitas listrik yang membuat sarafnya lumpuh sementara kini sudah berakhir.


Xie Ruo duduk di atas tanah, kemudian bersandar di bebatuan besar. Air di bawah kakinya membawa semua darah mengikuti arus sungai, membersihkan jejak darah yang ditinggalkan sebelumnya.


Xie Ruo tahu, ia mengalami pendarahan. Tapi meski begitu, ia masih bisa merasakan bahwa energi murni berangsur membantunya melindungi kandungannya meski telah terbentur beberapa kali. Jika dipikirkan dengan logika, mustahil jika ia tidak keguguran. Namun, apa di dunia ini segala hal bisa dijelaskan secara logika keilmiahan?


"Nyonya, aku akan mencari tempat yang lebih aman untukmu beristirahat, sekalian berjaga-jaga bila ada yang mendekat. Aku akan kembali!" Roh Guntur langsung melesat mencari tempat perlindungan. Barang kali ada manusia atau peri baik hati yang mau membantu, atau tempat tertutup dan tersembunyi untuk nyonyanya memulihkan diri.


Sekarang, ia telah di Dunia Tengah. Xie Ruo bisa saja menghubungi teman-temannya, tapi sepertinya itu sia-sia. Sebelum mereka datang membantu, Dewa Iblis pasti sudah menemukannya. Apalagi ia berada dalam lingkup iblis yang kini merajalela.


"Nyonya, ada gua kosong di dekat sini. Meski tidak besar, bisa digunakan untuk bersembunyi sementara."


Xie Ruo tidak tahu itu hal bagus atau tidak, pikirannya sudah sulit untuk jernih. Ia membiarkan Roh Guntur membantunya menggunakan sihir untuk pergi ke gua tersebut.


Letakkan di dekat sungai, tidak terlalu jauh dan sepertinya tempat itu adalah bekas tempat tinggal seekor hewan buas untuk berlindung dari hewan buas lain yang lebih besar. Itu dibuktikan dengan tempat masuk yang tidak setinggi tubuh Xie Ruo.


Xie Ruo tidak peduli apa pun, ia menunduk untuk masuk dan duduk sambil bersandar pada dinding. Gua ini memang tidak besar, tapi cocok untuknya bermalam sebentar—selama tidak ada penyerang.


"Nyonya katakan jika menginginkan sesuatu, aku akan berjaga-jaga di depan." Roh Guntur berguling keluar untuk berjaga. Karena ini adalah Hutan Bintang yang penuh hewan buas dan iblis, ia tidak bisa melemahkan kewaspadaan meski situasi tampak damai.


Setelah membiarkan Roh Guntur pergi, Xie Ruo sendirian di dalam gua. Ia tidak lagi memasang wajah datar, dan dengan bebas mengeluarkan sisi lemahnya.


Rasa sakit di sekujur tubuhnya sangat terasa ketika pergi dari sungai, tapi tadi hanya bisa menahannya dengan menggunakan sedikit kejutan listrik yang tersisa agar tidak terlalu memcemaskan Roh Guntur. Sekarang, setelah listrik sepenuhnya dilepaskan, semua rasa sakit itu menjalar di pembuluh darah sampai tubuhnya bergetar.


Ia mencengkram pakaiannya dengan erat, membiarkan energi murni sepenuhnya mengambil kendali penyembuhan yang membuat rasa sakit itu semakin tak tertahankan.


Pendarahan hebat membuat warna kulitnya memutih tanpa ada semburat merah akan alirah darah sehingga terlihat pucat seolah tidak memiliki darah.


Ia memegang perutnya yang terasa seperti berputar dan tercabik-cabik. Ia menutup mata, menggunakan kekuatan psikis untuk membantu proses penyembuhan energi murni. Rasa sakit yang dialami lebih tidak bisa dibandingkan, membuat Xie Ruo merintih.


Rintihannya yang penuh kesakitan dalam gua bergema. Roh Guntur yang mendengarnya tidak bisa melakukan apa pun, hanya bisa diam dan menghela napas. Jika ia datang, bukankah wanita itu akan berkata bahwa ia baik-baik saja?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua senjata berdentangan, saling beradu dan memukul disertai sinar terang dan gelap yang menyebar. Langit gelap dipenuhi dua bagian sihir yang melesat dengan kecepatan tinggi, aura membunuh yang kental terus menekan bumi dan menakuti banyak makhluk di sekitar.


Sudah sangat lama sejak Dewa Iblis muncul dan menahan Qu Xuanzi yang akan pergi ke Dunia Atas. Qu Xuanzi yang akan mengambil celah untuk pergi dan menahan Dewa Iblis sekaligus tidak memiliki kesempatan ketika beberapa kloning muncul ikut menahannya.


Dipikir hanya Dewa Iblis yang memiliki kloning? Qu Xuanzi juga punya, dan menggunakannya untuk menahan Dewa Iblis selagi ia pergi. Namun, seperti yang telah dijelaskan, kloning Dewa Iblis ikut campur sehingga langit dipenuhi dengan pertempuran berbahaya yang menghancurkan segala bentuk wilayah.


Sialnya, hewan suci juga tidak bisa menahan para kloning dan iblis sekaligus. Qu Xuanzi sudah membunuh mereka sampai pedangnya penuh dengan darah hitam yang menetes, tapi mereka tidak ada habisnya.


Karena ini sudah menjadi wilayah Dewa Iblis, bukan wilayahnya, tentu kekuatan Dewa Iblis akan lebih mendominasi. Semakin ia terlibat dalam pertarungan dan pembunuhan panjang, ia akan semakin lama menemui Xie Ruo.


Dewa Iblis melihatnya dengan senyum miring, kemudian berkata, "Apa kau kekurangan pion? Apa itu berarti, pada akhirnya aku akan memenangkan permainan? Tenang saja, masih banyak putaran yang akan datang, kita akan bermain lebih seru."


Qu Xuanzi berpikir cepat bagaimana caranya agar dapat mengalihkan Dewa Iblis. Pada saat yang sama, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang mengganjal.


Di antara semua napas manusia di Dunia Tengah, hanya satu yang selalu melekat di pikirannya, bahkan sampai sekarang. Rautnya berubah menjadi terkejut ketika menyadari bahwa ia baru saja merasakan napas Xie Ruo di Dunia Tengah.


Napas yang sangat lemah dan samar, terasa seperti seseorang yang tengah sekarat. Hal itu menyebabkan Qu Xuanzi semakin khawatir dan sangat ingin pergi mencarinya sekarang.


Tidak hanya Qu Xuanzi yang merasakannya, Dewa Iblis juga sadar, bahwa Xie Ruo ada di Dunia Tengah. Itu membuatnya kesal berpikir bahwa para kloning itu tidak berhasil mendapatkan Xie Ruo dan membiarkannya kabur.


Dewa Iblis melihat para kloningnya, memberi isyarat untuk membuat mereka pergi mengejar Xie Ruo. Dalam sekejap, para kloning itu menghilang.


Qu Xuanzi mengarahkan para kloningnya untuk mencegah kloning Dewa Iblis. Ia paham apa yang baru saja terjadi dan akan pergi menemui Xie Ruo yang berada di Hutan Bintang.


Namun Dewa Iblis muncul di depannya, lalu mengaktifkan racun darah yang membuat semua kloning Qu Xuanzi menghilang, sedangkan Qu Xuanzi mengalami rasa sakit yang sama ketika racun darah aktif.


"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan membunuh wanitamu." Dewa Iblis tersenyum. Mempertahankan racun darah di tubuh Qu Xuanzi menguras terlalu banyak tenaga, ia tidak boleh sampai lengah membuat Qu Xuanzi mengambil keuntungan. Ia harus membuat pria itu cedera lebih dahulu.